← Daftar isi Yohanes (2) · bab 6/18

PRINSIP HAYAT

Injil Yohanes tidak sesederhana seperti yang diperkirakan orang. Ketika Yohanes menulis Injilnya, ia mutlak berada di bawah pengurapan merpati (Roh itu). Karena itu susunan Injil ini sangat menakjubkan. Kita telah nampak bahwa Yohanes 1 adalah pendahuluan seluruh kitab. Walaupun ada sebagian pembahas Injil Yohanes yang mengatakan bahwa pendahuluan itu hanya mencakup delapan belas ayat pertama dari Yohanes 1, namun Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa seluruh pasal 1 adalah pendahuluan. Pendahuluan yang dimulai dengan kekekalan yang lampau berakhir dengan kekekalan yang akan datang. Di antara kekekalan yang lampau dengan kekekalan yang akan datang terdapat lima peristiwa besar sebagai jembatan untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Kita telah jelas mengenai hal ini dalam berita terdahulu bahwa Yohanes 1 bukan hanya merupakan intisari seluruh Injil Yohanes, bahkan sebenarnya juga sebagai intisari seluruh Alkitab.

Setelah Yohanes memberikan pendahuluan yang sedemikian almuhit kepada kita, ia kemudian menampilkan beberapa peristiwa untuk menyatakan perkara hayat.

Walaupun Yesus melakukan banyak mukjizat di depan murid-murid-Nya (Yoh. 20:30-31), namun Yohanes hanya memilih dua belas dari antara tanda-tanda mukjizat itu untuk menyatakan perkara hayat. Dimulai dengan peristiwa Nikodemus dalam Yohanes 3 dan berakhir dengan kebangkitan Lazarus dalam Yohanes 11, Yohanes menampilkan sembilan peristiwa. Jika kita menambahkan peristiwa tentang diubah-Nya air menjadi anggur, dibersihkan-Nya Bait Suci, serta dibasuh-Nya kaki-kaki murid-murid-Nya, semuanya ada dua belas peristiwa. Bila Anda membandingkan catatan Injil Yohanes dengan Injil-Injil lainnya, Anda akan menemukan bahwa Injil-Injil lain mencakup banyak perkara yang tidak dituliskan Yohanes, dan bahwa Yohanes menulis banyak perkara yang tidak ditulis oleh Injil-Injil lain. Contohnya, Matius, Markus, dan Lukas tidak mengatakan tentang diubah-Nya air menjadi air anggur, bahkan mereka pun tidak mengetengahkan percakapan antara Tuhan dengan Nikodemus mengenai kelahiran kembali. Jangan mengira perbedaan ini adalah kebetulan. Tidak, tiap-tiap Injil telah direncanakan dengan saksama oleh Penulis ilahi itu. Matius menulis Injilnya dengan tujuan yang khusus untuk membuktikan bahwa Yesus itulah Raja dan Kristus. Untuk itu Matius memilih beberapa kejadian dan peristiwa dalam kehidupan Kristus yang menunjukkan bahwa Yesus itu Raja Israel dan Kristus Allah. Karena tujuan Lukas ialah menyatakan bahwa Yesus itu Juruselamat umat manusia, maka ia memilih peristiwa-peristiwa yang membuktikan bahwa Yesus itu Juruselamat. Misalnya, kisah anak yang hilang tercatat dalam Injil Lukas, tetapi tidak dalam Injil Matius, Markus, atau Yohanes. Apa sebabnya kisah ini ditulis dalam Injil Lukas? Karena kisah ini membuktikan bahwa Yesus itu Juruselamat. Peristiwa lain yang hanya tercatat dalam Injil Lukas ialah kisah penyamun yang disalib bersama Tuhan yang memohon agar Tuhan ingat akan dia, apabila Ia datang sebagai Raja (Luk. 23:39-43). Lukas memberi tahu kita pula, jawaban Tuhan kepada penyamun yang menghadapi ajalnya itu adalah “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Baik Matius, Markus, maupun Yohanes tidak memberitakan peristiwa ini. Dalam prinsip yang sama, semua peristiwa yang dicatat oleh Yohanes itu membuktikan bahwa Kristus itu hayat untuk memenuhi keperluan kita. Berdasarkan prinsip ini, kita harus tahu bahwa peristiwa diubahnya air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11) bukan sekadar sebuah cerita, melainkan mempunyai arti rohani yang mengandung makna khusus. Sekarang kita perlu mencari dan menemukan makna rohani peristiwa ini.

I. PRINSIP HAYAT —

MENGUBAH MAUT MENJADI HAYAT

Kali pertama saya mendengar cerita Yesus mengubah air menjadi anggur, saya tidak mengerti arti di balik peristiwa ini; selang beberapa waktu barulah saya paham ini bukan hanya cerita, melainkan suatu kejadian yang Tuhan Yesus lakukan untuk mengetengahkan prinsip hayat. Apakah prinsip hayat itu? Prinsip hayat ialah mengubah maut (kematian) menjadi hayat. Dalam kesembilan peristiwa yang tercatat dalam Yohanes 3-11, prinsipnya ialah mengubah maut menjadi hayat; hal ini lebih jelas tampak dalam peristiwa Lazarus. Lazarus mati dan telah dikuburkan empat hari lamanya, bahkan sudah berbau. Sekujur tubuh Lazarus sampai ke dalamnya pun sudah mati. Dalam setiap jaringan dan sel-sel pada tubuhnya hanya ada kematian. Catatan Yohanes 11 memberi tahu kita, ketika Tuhan Yesus mendengar Lazarus sakit, Ia tidak segera pergi menjenguknya. Tuhan menunggu sampai Lazarus mati dan dikubur, barulah Tuhan datang membangkitkan Lazarus dari kematian. Jika kita menerapkan prinsip hayat pada peristiwa ini, kita akan nampak bahwa Yesus mengubah maut menjadi hayat.

Prinsip ini bukan hanya diterapkan pada peristiwa akhir yaitu peristiwa Lazarus, tetapi juga pada peristiwa yang pertama yaitu tentang Nikodemus. Tidakkah Anda mengira Nikodemus seorang yang penuh kematian? Karena ia penuh kematian, maka Tuhan memberi tahu dia bahwa dia perlu dilahirkan kembali supaya dia dapat mempunyai hayat yang kekal, yaitu Allah sendiri (Yoh. 3:3, 5-6). Di satu pihak, Nikodemus hidup, namun dalam pandangan Allah ia adalah orang mati yang hidup. Dalam pandangan Allah, Nikodemus mati. Ia perlu mengubah kematiannya menjadi hayat. Nikodemus tidak menyadari dirinya berdosa, apalagi menyadari ia itu mati. Tetapi bagaimanapun, dalam pandangan Allah, ia bukan hanya jahat, penuh dosa seperti ular beludak, bahkan mati. Orang sedemikian memerlukan pengubahan dari maut menjadi hayat.

Demikian pula halnya dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4. Perempuan ini merasa dahaga. Dahaga adalah tanda-tanda kematian. Apabila Anda dahaga berarti Anda akan mati. Fakta dahaga Anda itu menunjukkan adanya unsur kematian di dalam Anda. Hanya Tuhan Yesuslah yang dapat meleraikan dahaga itu. Meleraikan dahaga berarti mengubah kematian menjadi hayat. Hal ini berlaku bagi setiap peristiwa yang dicatat oleh Yohanes, yang pada prinsipnya semakna dengan kejadian diubah-Nya air menjadi anggur, yakni prinsip mengubah maut menjadi hayat.

A. Yesus dalam Kebangkitan Datang kepada

Manusia yang Lemah dan Rapuh bagi Kenikmatan Hidup Insani Mereka

Sekarang kita lihat Yesus dalam kebangkitan datang kepada orang yang lemah dan rapuh. Mungkin ada yang akan bertanya, “Bagaimana Yesus dapat datang dalam kebangkitan, sedangkan Ia belum disalibkan. Pernyataan semacam itu terlalu mengiaskan.” Memang, cerita diubahnya air menjadi anggur itu sebuah kiasan, dan kita perlu mengiaskan setiap bagiannya.

1. “Hari Ketiga” Menunjukkan dalam Kebangkitan

Hari tanda mukjizat itu dilaksanakan adalah “hari ketiga” (Yoh. 2:1). “Hari ketiga” menunjukkan hari kebangkitan. Dalam Yohanes 1, kata “keesokan harinya” digunakan tiga kali, dalam ayat 29, 35, dan 43. Mengapa “keesokan harinya” dikatakan tiga kali dalam pasal 1, dan kemudian dikatakan “hari ketiga” pada pasal 2:1? “Hari ketiga” pada pasal 2 sebenarnya bukan disebut hari ketiga, melainkan hari kelima. Anda mungkin akan menjumpai Yohanes untuk berdebat dengannya, “Saudara Yohanes, engkau keliru. Karena ada tiga ‘keesokan harinya’, maka hari yang disebutkan dalam pasal 2:1 itu seharusnya hari kelima.” Yohanes akan menjawab, “Saudara yang terkasih, itulah sebabnya aku tidak mengatakan ‘hari yang kedua’, ‘ketiga’ dan ‘keempat’ dalam pasal 1, tetapi menyebut setiap hari itu ‘keesokan harinya’, dalam pasal 1 tidak ada satu pun yang ada dalam kebangkitan.

Marilah kita lihat tiga “keesokan harinya” yang tercantum dalam Yohanes 1. “Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, ‘Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (ayat 29). Apakah ini dalam kebangkitan? Tentu tidak! Mengapa Anda mengatakan dalam kebangkitan? “Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang murid-Nya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, ‘Lihatlah Anak Domba Allah!’” (ayat 35-36). Walaupun ini terjadi pada “keesokan harinya” yang kedua, namun tidak terjadi pada “hari yang ketiga”. “Keesokan harinya” yang ketiga terdapat dalam ayat 43 “Keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya, ‘Ikutlah Aku!’”. Ini tidak terjadi pada hari ketiga, karena “pada hari yang ketiga” itulah “hari kebangkitan”. Jadi tidak ada satu peristiwa pun dalam pasal 1 ini yang terjadi “pada hari yang ketiga”, karena “pada hari yang ketiga” itulah dalam kebangkitan. Ketika kita sampai pada peristiwa “diubah-Nya air menjadi anggur” dalam Yohanes 2, barulah kita menemukan keterangan yang menunjukkan “hari yang ketiga”.

2. “Kana”, Tanah Buluh, Menunjukkan Tempat Orang yang Lemah dan Rapuh

Bagaimana kita tahu bahwa dalam Yohanes 2 Yesus datang kepada orang-orang yang lemah dan rapuh? Kita tahu dari fakta kepergian-Nya ke Kana. “Kana” dalam bahasa Ibrani berarti “buluh”, sedangkan buluh dalam Alkitab melambangkan manusia yang lemah dan rapuh. Baik Kitab Yesaya maupun Kitab Matius mengatakan bahwa kita, orang-orang lemah ini, adalah buluh yang patah terkulai yang tidak akan Tuhan patahkan (Yes. 42:3; Mat. 12:20). Dalam Matius 11:7, ketika Tuhan membicarakan tentang Yohanes Pembaptis, Ia bertanya kepada kaum Yahudi, apakah mereka pergi ke padang gurun untuk melihat buluh yang digoyangkan angin kian kemari. Sudah tentu Yohanes Pembaptis bukan orang yang demikian lemah, rapuh, yang dapat digoyangkan oleh angin. Maka, Kana sebagai tanah buluh melambangkan bumi. Walaupun seluruh bumi itu Kana, penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh, Tuhan justru datang kepada mereka. Kedatangan Tuhan di Kana melambangkan kedatangan-Nya di dunia yang penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh. Walaupun orang-orang di bumi ini seperti buluh, lemah, dan rapuh, tetapi Tuhan datang kepada mereka dalam kebangkitan.

3. “Galilea” Tempat yang Diremehkan

Pesta pernikahan dalam Yohanes 2 yang Yesus hadiri berlangsung di Kana, daerah Galilea. Galilea adalah tempat yang diremehkan. Galilea melambangkan kondisi dunia yang rendah dan hina.

4. Pernikahan Melambangkan Kelangsungan Hidup Manusia, Pesta Pernikahan Melambangkan Kenikmatan Hidup Manusia

Kita harus mengiaskan pernikahan dan pesta pernikahan. Pernikahan sangat penting dan bermakna dalam hidup manusia, tanpa itu, hidup manusia akan terhalang. Apabila Anda melenyapkan pernikahan, berarti Anda mengakhiri hidup manusia. Pernikahan melambangkan kelangsungan hidup manusia. Pesta pernikahan melambangkan apa? Melambangkan kenikmatan dan kesenangan hidup manusia. Di bumi tidak ada suasana yang lebih gembira daripada suatu pernikahan. Pernahkah Anda melihat orang meratap tangis pada saat pernikahan? Jika Anda menangis sedemikian dalam suatu pernikahan, itu menunjukkan bahwa Anda tidak sopan dan tidak beradab. Tetapi pada saat Anda menghadiri pemakaman, tidak seharusnya Anda bersukaria. Dalam pernikahan, bagaimanapun kondisi Anda, Anda harus bersukaria. Menurut kebudayaan manusia, pernikahan adalah suatu kesempatan yang sangat bahagia.

5. Anggur Mengacu kepada Hayat Manusia, Melambangkan Faktor Utama Kenikmatan Ini

Pesta pernikahan pada zaman dulu maupun sekarang, baik di Timur maupun di Barat, terutama tergantung pada arak anggur; ini melambangkan bahwa segala kesenangan manusia tergantung pada hayat. Arak anggur berbeda dengan air, karena arak anggur berasal dari anggur, sesuatu yang hidup. Arak melambangkan hayat, sebab arak anggur itu hayat anggur. Karena itu, kenikmatan manusia tergantung pada hayat manusia. Ketika hayat itu tamat, semua kenikmatan pun habis.

B. Hayat Manusia Mereka Habis,

Dipenuhi dengan Kematian

Meskipun pesta pernikahan itu merupakan satu suasana yang sangat menyenangkan, tetapi kesenangan itu hanya sementara. Tidak ada pesta pernikahan yang berlangsung lama. Baru-baru ini saya menghadiri pesta pernikahan yang berlangsung setengah jam lebih sedikit. Kami bersukacita di sana hanya selama setengah jam. Inilah pesta pernikahan manusia, kenikmatan hidup manusia.

1. “Anggur Telah Habis”

Anggur yang merupakan pokok kenikmatan pesta pernikahan telah habis (Yoh. 2:3). Ini melambangkan bahwa kenikmatan hidup manusia akan tamat saat hayat manusia berakhir. Ketika anggur habis, sukaria pesta pernikahan pun tamat. Ini bukan hanya menunjukkan bahwa kenikmatan hidup telah berlalu, bahkan hayat manusia pun berakhir. Betapapun banyaknya kenikmatan Anda dalam kesenangan, ketika hayat manusia Anda tamat, semua kenikmatan manusia Anda pun tamat. Betapapun baiknya istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak-anak Anda, atau pekerjaan Anda, kesenangan Anda tetap akan tamat saat hayat Anda berakhir. Ketika anggur habis, perjamuan pun akan usai, karena perjamuan tergantung pada anggur. Semua kenikmatan Anda tergantung pada hayat Anda. Bila hayat Anda tamat, kenikmatan Anda pun berakhir. Tak peduli Anda dalam pesta pernikahan yang mana pun, apabila hayat Anda habis, berakhirlah pesta pernikahan Anda dan kenikmatan Anda pun tamat. Itulah yang terjadi pada hari itu di Kana, Galilea.

Percayakah Anda bahwa sebelum Tuhan Yesus pergi ke Kana, Ia telah tahu terlebih dulu bahwa anggurnya akan habis? Tentu Ia telah mengetahui sebelumnya, sebab justru untuk itulah Ia pergi ke Kana. Anggur itu bukanlah habis secara kebetulan. Karena Tuhan Yesus telah tahu sebelumnya bahwa anggurnya akan habis, maka Ia pergi ke Kana untuk menegakkan prinsip hayat, yaitu mengubah maut (kematian) menjadi hayat. Dengan datangnya Tuhan ke perjamuan, Ia menanggulangi dan menyingkirkan keadaan itu. Tuhan Yesus menyingkirkan maut dari situasi manusia dengan mengubahnya menjadi hayat, seperti Elisa mengubah air yang asin menjadi manis (2Raj. 2:19-22).

Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Ia menjumpai keadaan manusia yang penuh kenikmatan, namun tidak bertahan lama. Ia datang pada saat kematian hayat manusia mengakhiri semua kenikmatan manusia. Pengubahan air menjadi anggur adalah suatu lambang yang harus dipahami secara kiasan. Misalnya, jika usia kita sudah 60 tahun lebih, berarti kita telah mendekati waktu habisnya anggur. Ketika anggur kita hampir habis, kita sadar bahwa perjamuan nikah kita akan segera berlalu. Namun puji Tuhan, pada saat itulah Tuhan datang ke dalam situasi kita. Dalam perjamuan nikah kita ada Tuhan! Kita tidak perlu khawatir, Ia dapat mengubah air menjadi anggur.

2. “Enam Tempayan”

Sebelum melakukan mukjizat, Tuhan menyuruh orang mengisi tempayan dengan air (Yoh. 2:6-7). Tempayan itu terbuat dari batu, semuanya ada enam. Angka enam mewakili manusia yang tercipta, karena manusia diciptakan pada hari keenam (Kej. 1:27, 31). Jadi, keenam tempayan itu melambangkan manusia alamiah yang diciptakan pada hari keenam. Dikatakan secara alamiah, kita tak lain hanyalah “tempayan”, bejana untuk memuat sesuatu. Kita ini “tempayan” yang terletak di Kana, tanah buluh, penuh dengan orang-orang yang lemah dan rapuh. Kita adalah tempayan di Kana, lemah dan rapuh.

3. “Pembasuhan dengan Air Menurut Adat Orang Yahudi”

Tempayan air digunakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi (Yoh. 2:6), ini suatu pelaksanaan agama Yahudi. Pembasuhan dengan air menurut adat orang Yahudi melambangkan usaha agama untuk membersihkan manusia dengan praktek-praktek tertentu yang mati. Orang-orang Yahudi kuno memperhatikan pembasuhan dan pengudusan diri mereka dalam menyembah Allah. Sebaliknya Tuhan mengubah maut menjadi hayat. Tata cara pengudusan dengan air adalah secara lahiriah, tidak ada hayat; namun Tuhan mengubah maut menjadi hayat adalah dari dalam dan penuh dengan hayat.

4. “Mengisi Tempayan dengan Air”

Tuhan menyuruh pelayan mengisi tempayan-tempayan dengan air. Dan mereka mengisinya sampai penuh (Yoh. 2:7). Apa artinya ini? Kita akan nampak, ini melambangkan bahwa manusia penuh dengan kematian. Tempayan adalah manusia yang diciptakan pada hari keenam, penuh dengan air kematian.

C. Yesus Mengubah Kematian Mereka

Menjadi Hayat yang Kekal

1. Air Melambangkan Kematian

Tuhan menyuruh orang mengisi enam tempayan dengan air, menunjukkan bahwa manusia alamiah penuh dengan kematian. Air mempunyai dua arti kiasan dalam Alkitab. Ada yang mewakili hayat (Yoh. 4:14; 7:38), ada pula yang mewakili maut (Kej. 1:2, 6; Kel. 14:21; Mat. 3:16). Air dalam Kejadian 1 dan air baptisan melambangkan kematian. Air di sini juga melambangkan maut. Semua bejana batu penuh dengan air berarti seluruh umat manusia secara alamiah penuh dengan maut. Seperti tempayan diisi air hingga penuh, kita pun dulu penuh dengan kematian.

2. Arak Anggur ialah Sari Hayat Anggur yang Melambangkan Hayat

Tuhan Yesus dengan ajaib mengubah air kematian ini menjadi anggur (Yoh. 2:8-9). Tanda mukjizat ini bukan ha-nya menunjukkan bahwa Tuhan Yesus dapat menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17), bahkan Ia pun dapat mengubah maut menjadi hayat.

Dengan sangat ajaibnya Tuhan mengubah air menjadi anggur. Ini melambangkan bahwa Ia mengubah kematian kita menjadi hayat. Air melambangkan maut, sedangkan arak anggur melambangkan hayat. Ketika Tuhan mengubah air kita menjadi anggur, maka anggur dalam perjamuan nikah kita itu tidak akan habis. Karena kita telah dilahirkan kembali, hayat dan kenikmatan rohani akan berlangsung selamanya. Kita akan mempunyai perjamuan nikah yang kekal, yang tidak akan tamat. Perjamuan ini bukan dalam hayat asal kita, melainkan dalam hayat baru yang kita terima melalui kelahiran kembali. Bahkan pemimpin pesta merasakan bahwa arak yang baru itu lebih baik daripada yang sebelumnya (Yoh. 2:9-10), demikian kita pun akan merasakan bahwa hayat yang kita terima melalui kelahiran kembali jauh lebih baik daripada hayat alamiah kita. Hayat kita yang dulu dilambangkan oleh anggur yang jelek, sangat banyak kurangnya. Tuhan tidak memberi kita yang baik lebih dulu, tetapi yang baik belakangan. Hayat yang pertama, hayat manusia yang tercipta adalah hayat yang kurang baik, hayat kedualah yang paling baik, kudus, dan kekal. Hayat ini yang paling baik, sebab ini adalah hayat Allah sendiri dalam Kristus. Dengan demikian, sukacita kita akan bertahan sampai selama-lamanya. Kita memiliki kenikmatan kekal, sebab Kristus telah memindahkan kita dari maut ke dalam hayat. Ia, sebagai hayat kekal kita, dapat mempertahankan kesenangan dan kenikmatan kita sampai selama-lamanya. Suatu perjamuan nikah baru dimulai ketika kita diselamatkan dan tidak akan tamat. Selalu terdapat sukacita dan perjamuan nikah di dalam kita, sebab kita mempunyai anggur ilahi, yakni hayat ilahi Tuhan sendiri.

Kita semua memiliki pengalaman sedemikian ini. Sebelum kita diselamatkan, kita adalah tempayan yang penuh dengan air maut. Pada suatu hari kita berkata, “Tuhan Yesus.” Tuhan datang dan mengubah air maut kita menjadi hayat. Tak peduli kita dalam situasi maut apa pun, bila kita menyerahkan keadaan kita kepada Tuhan Yesus, Ia akan mengubah maut itu menjadi hayat. Misalnya, bahkan suami istri orang Kristen pun bisa mencapai suatu titik kehabisan hayat kehidupan pernikahan mereka. Seolah-olah mereka tidak dapat meneruskan kehidupan perni-kahan mereka. Tetapi, jika mereka terbuka terhadap Tuhan Yesus, Ia akan mengubah maut itu menjadi hayat. Dalam banyak pernikahan, Tuhan telah mengubah air maut menjadi anggur hayat.

D. Mukjizat yang Pertama

1. Semua Mukjizat dalam Injil Ini Disebut Tanda

Dalam kitab ini, semua mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan, dalam bahasa aslinya disebut tanda (Yoh. 2:23; 3:2; 4:54; 6:2, 14, 26, 30; 7:31; 9:16; 10:41; 11:47; 12:18, 37; 20:30). Semua ini adalah mukjizat, tetapi digunakan sebagai tanda untuk melambangkan perkara hayat. Suatu tanda melambangkan sesuatu. Misalnya, lampu merah adalah tanda yang memberi tahu kita harus berhenti. Semua mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan yang tercantum dalam Injil Yohanes bukan hanya sekadar mukjizat, lebih-lebih adalah suatu tanda.

2. Prinsip Perkara yang Disebut Pertama Kali

Perkara apa pun yang disebut pertama kali dalam Alkitab, selalu menjadi (menentukan) prinsip perkara itu. Karena itu, tanda ajaib pertama di sini menjadi prinsip dari semua tanda ajaib berikutnya, yaitu mengubah maut menjadi hayat. Tuhan mengubah air menjadi anggur, menegakkan prinsip hayat, yakni mengubah maut menjadi hayat. Karena ini merupakan tanda yang pertama, maka prinsip hayat yang ditegakkan di dalamnya dapat diterapkan pada perkara lain. Seperti dalam kisah Nikodemus, seorang yang penuh maut, perlu dilahirkan kembali, supaya ia dapat memiliki hidup yang kekal, yaitu Allah sendiri.

Kita juga dapat menerapkan prinsip ini pada peristiwa perempuan Samaria dalam Yohanes 4. Apakah Anda mengira bahwa perempuan Samaria ini hidup dengan penuh sukacita dan kenikmatan? Tidak. Tetapi Tuhan masuk ke dalam kehidupannya dan mengubah dia. Perempuan itu hanyalah sebuah bejana yang anggur kenikmatan manusianya telah habis. Ia telah mencoba dengan lima orang suami, namun akhirnya kenikmatan manusianya berakhir, tak bersisa sedikit pun. Ia telah berusaha sebisanya untuk menikmati anggur kesenangan manusia, tetapi akhirnya ia hanya merasakan kekosongan dan maut. Kemudian Tuhan mengubah maut itu menjadi hayat dan memenuhinya dengan anggur ilahi, hayat kekal-Nya.

Yohanes 5 menampakkan kepada kita seorang yang sakit selama 38 tahun. Sakitnya menunjukkan bahwa anggurnya telah habis, namun Tuhan datang mengubah kematiannya menjadi hayat. Dalam pandangan Tuhan, ia bukan hanya sakit, bahkan mati; sebab dalam ayat 25 Tuhan mengatakan bahwa orang mati yang mendengar suara-Nya akan hidup. Ia bukan hanya orang sakit yang disembuhkan oleh Tuhan, tetapi juga orang mati yang dibangkitkan oleh Tuhan. Ia bahkan lemah dan mati dalam agama. Boleh jadi agama itu sangat baik, namun menuntut kekuatan. Bagaimana mungkin orang yang mati mempunyai kekuatan? Alhasil, jika bersandar pada agama, ia tidak dapat berbuat apa pun, sebab anggurnya telah habis. Namun Tuhan datang menegakkan prinsip mengubah maut menjadi hayat, seperti yang telah kita lihat pada tanda yang pertama.

Kita pun dapat menerapkan prinsip ini pada peristiwa-peristiwa lain. Orang banyak yang kelaparan dalam Yohanes 6, menunjukkan bahwa kenikmatan manusia mereka telah habis, tetapi Tuhan datang kepada mereka sebagai roti hayat. Perempuan yang berdosa dalam Yohanes 8 juga adalah orang yang anggur kenikmatannya telah habis. Orang buta dalam Yohanes 9 juga tidak mempunyai kenikmatan hidup manusia. Lebih-lebih peristiwa Lazarus dalam Yohanes 11. Butir-butir penting peristiwa Lazarus prinsipnya sama dengan peristiwa yang pertama, yaitu perjamuan nikah di Kana. Pada peristiwa yang pertama terdapat kenikmatan perjamuan nikah. Dalam peristiwa Lazarus terdapat sukacita kasih keluarga antara Lazarus dan kedua saudara perempuannya. Dalam perjamuan nikah, anggur telah habis. Pada peristiwa Lazarus, hayat manusia telah habis. Lazarus mati, menunjukkan bahwa anggur hayat manusia telah habis. Prinsip hayat dalam kedua peristiwa ini mutlak sama, Tuhan datang ke kedua situasi ini dan mengubah maut menjadi hayat. Karena itu, prinsip hayat yang ditegakkan dalam peristiwa pengubahan air menjadi anggur dapat diterapkan pada setiap peristiwa dalam Injil Yohanes.

Dalam Alkitab, dikatakan secara tanda, pohon hayat adalah sumber hayat, dan pohon pengetahuan adalah sumber maut, seperti yang diwahyukan dalam Kejadian 2:9, 17. Makna semua peristiwa yang tercatat dalam Injil Yohanes, pada prinsipnya selalu berkaitan dengan pohon hayat yang menghasilkan hayat dan pohon pengetahuan yang mengakibatkan maut.

3. Menyatakan Kemuliaan-Nya

Ayat 11 mengatakan bahwa dalam mukjizat yang pertama yang dilakukan Yesus di Kana, Galilea, menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Keilahian Tuhan telah dinyatakan melalui pengubahan maut menjadi hayat.

E. Ibu Yesus Melambangkan Manusia Alamiah

Maria, ibu Yesus, di sini melambangkan manusia alamiah, yang tidak bersangkut-paut dengan hayat dan harus ditaklukkan oleh hayat ilahi (ayat 3-5). Ketika kehabisan anggur, manusia alamiah muncul dan bahkan berdoa kepada Tuhan. Ketika Maria memberi tahu Tuhan, “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? SaatKu belum tiba” (ayat 3-4). Sering kali kita sama seperti ibu Yesus. Kita adalah Maria hari ini, berdoa seperti manusia alamiah, menurut hayat alamiah kita. Sering kali Tuhan membiarkan anggur kita habis sampai suatu tahap, sehingga Ia berkesempatan mengubah maut menjadi hayat. Bahkan di suatu gereja lokal, Tuhan pun mungkin membiarkan keadaannya mati. Dalam keadaan itu, manusia alamiah akan berdoa, “Ya Tuhan, berbuatlah sesuatu untuk menolong situasi ini.” Jika Anda berdoa demikian, Tuhan akan berpaling kepada Anda dan berkata, “Mau apakah engkau daripada-Ku? Engkau tidak ada sangkut-pautnya dengan Aku dalam hal ini.” Hampir semua dari kita akan berbuat sama seperti Maria. Kemudian apa yang harus kita lakukan? Kita tidak perlu berbuat apa-apa. Biarlah kematian muncul sampai ke permukaan, barulah Tuhan Yesus akan masuk.

Kita semua harus mengakui bahwa ada banyak doa kita yang tak terjawab. Misalnya, banyak saudara yang telah menikah berdoa bagi istri mereka, “Ya Tuhan, Engkau tahu istriku. Tuhan, Engkau harus mengubahnya.” Doa macam apakah ini? Inilah doa Maria, doa manusia alamiah. Janganlah berdoa seperti itu. Biarlah kematian dalam istri Anda muncul sampai ke permukaan. Biarlah Lazarus mati dan dikuburkan, barulah Tuhan Yesus datang membangkitkannya dari kematian. Biarlah istri Anda seperti Lazarus, mati, dikuburkan, dan mulai membusuk. Bila Anda demikian, Tuhan Yesus akan datang dan mengubah maut menjadi hayat.

Saya sering menerima surat dari perorangan atau gereja yang meminta bantuan, katanya, “Saudara, kami begitu lemah. Datanglah membantu kami.” Bila saya menerima surat semacam ini, saya berkata, “Anda lemah, namun Anda belum mati. Bahkan jika Anda mati, Anda pun belum mulai berbau.” Kita perlu menunggu hingga keadaan maut itu sampai ke permukaan, barulah Tuhan Yesus akan masuk mengubah kematian menjadi hayat. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan selalu menurut prinsip ini, yakni mengubah maut menjadi hayat.