← Daftar isi Yohanes (2) · bab 5/18

PENDAHULUAN UNTUK HAYAT DAN PEMBANGUNAN (4)

Dalam berita ini kita akan melihat Yohanes 1 secara keseluruhan, meninjau kembali beberapa hal yang telah kita bahas sebelumnya sambil menyinggung hal-hal lainnya yang belum kita bicarakan.

IV. DUA BAGIAN KEKEKALAN

SERTA JEMBATAN WAKTUNYA

Yohanes 1 mewahyukan dua bagian kekekalan. Yohanes 1:1 menunjuk pada kekekalan yang lampau (azali). Kata-kata “pada mulanya” jelas menunjukkan waktu pada kekekalan yang lampau ini, sedang ayat 51 menunjukkan kekekalan yang akan datang (abadi), karena pada waktu Tuhan mengatakan kepada Natanael bahwa ia akan nampak langit terbuka dan malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia, jelas Ia tidak berbicara mengenai waktu sekarang, tetapi tentang kekekalan yang akan datang. Bila kita menggabungkan kedua bagian kekekalan ini, kita akan memperoleh kekekalan yang utuh.

A. Dalam Bagian Kekekalan yang Pertama — Kekekalan yang Lampau (Azali)

Dalam kekekalan yang lampau, Kristus, Firman bersama-sama dengan Allah, dan adalah Allah sendiri. Dalam kekekalan yang lampau, Dia hanya Allah yang ilahi. Sebelum Firman itu berinkarnasi, Dia bukanlah manusia dan tidak memiliki keinsanian.

B. Dalam Bagian Kekekalan yang Kedua — Kekekalan yang Akan Datang (Abadi)

Dalam kekekalan yang akan datang, Kristus bukan hanya Allah, tetapi juga manusia. Dia bukan hanya Anak Allah, tetapi juga Anak Manusia. Karena Firman itu telah berinkarnasi dalam tubuh daging (Yoh. 1:14), Dia adalah seorang manusia, seorang Anak Manusia yang selama-lamanya memiliki sifat insani. Setelah berinkarnasi, memang Dia tetap Allah, tetapi Allah juga manusia. Dia memang tetap Anak Allah, tetapi Anak Allah dan Anak Manusia. Dalam kekekalan yang akan datang, Dia bukan hanya Anak Allah, tetapi juga Anak Manusia. Dalam kekekalan yang lampau, Dia adalah Allah, yang mutlak ilahi, tanpa keinsanian. Tetapi dalam kekekalan yang akan datang, Dia bukan hanya Allah, juga manusia; bukan hanya Anak Allah, juga Anak Manusia; ilahi pun insani, mempunyai sifat Allah juga mempunyai sifat manusia. Dia akan memiliki dua sifat, dua esens, dan dua hakiki ilahi dan insani.

Ketika Natanael berkata kepada Tuhan, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (ayat 49), Yesus berkata kepadanya bahwa ia akan melihat “malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” Siapakah yang lebih besar Anak Allah ataukah Anak Manusia? Logikanya, setiap orang akan mengatakan bahwa Anak Allah lebih besar daripada Anak Manusia. Baiklah saya bertanya kepada kalian, kalian lebih suka menjadi anak-anak manusia ataukah menjadi anak-anak Allah. Sudah tentu kalian akan menjawab bahwa kalian lebih suka menjadi anak-anak Allah. Setiap orang ingin menjadi anak Allah. Memang menakjubkan bahwa Natanael tahu kalau Yesus, orang kecil dari Nazaret adalah Anak Allah. Akan tetapi, bagaimanapun juga Yesus segera menjawab bahwa Ia adalah Anak Manusia. Sekalipun manusia berupaya menjadikan Dia besar, Ia lebih senang tetap menjadi kecil.

Manakah yang lebih penting, Yesus menjadi Anak Allah atau menjadi Anak Manusia? Jika kalian tidak berhati-hati dalam memberikan jawaban, kalian akan terjerumus ke dalam bidah. Betapa sulitnya menjawab pertanyaan seperti ini! Tuhan adalah Anak Allah juga Anak Manusia. Jika Ia bukan Anak Manusia, Ia tidak akan menjadi inti pembangunan Allah. Anak Allah untuk hayat, sedangkan Anak Manusia untuk pembangunan. Alkitab tidak pernah menuntut kita supaya kita percaya bahwa Yesus adalah Anak Manusia sebelum kita memiliki hayat. Untuk memiliki hayat, kita harus percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Kita semua harus percaya bahwa Yesus, orang Nazaret yang kecil, adalah Anak Allah. Jika kita percaya ini, kita memiliki hidup yang kekal. Setelah kita memiliki hidup yang kekal, kita harus mengenal lebih lanjut bahwa Yesus yang adalah Anak Allah ini juga Anak Manusia. Keilahian-Nya adalah hayat bagi kita, tetapi keinsanian-Nya adalah untuk pembangunan Allah. Pembangunan Allah memerlukan keinsanian-Nya. Kita memerlukan Yesus sebagai Anak Allah, tetapi Allah memerlukan Dia sebagai Anak Manusia.

Bagi kita, Yesus adalah Anak Allah, tetapi bagi Allah, Iblis, dan setan, Yesus adalah Anak Manusia. Iblis tidak takut Yesus adalah Anak Allah. Ia takut Yesus adalah Anak Manusia. Banyak kali ketika Yesus mengusir setan-setan keluar dari orang-orang dan setan-setan itu memanggil-Nya Anak Allah, Yesus menyuruh mereka diam (Mat.8:29; Mrk. 3:11-12), karena di depan mereka, Ia bertindak sebagai Anak Manusia. Ketika Iblis mencobai Yesus di padang belantara dan berkata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (Mat. 4:3), Yesus menentang pencobaan yang meminta-Nya meninggalkan status-Nya sebagai Anak Manusia dan berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Mat. 4:4). Yesus mempertahankan status-Nya sebagai manusia. Iblis tidak takut kepada Anak Allah; ia takut kepada manusia. Mengapa Iblis takut kepada manusia? Karena dalam ekonomi-Nya, Allah telah menetapkan bahwa Iblis harus dikalahkan oleh manusia.

Allah tidak bermaksud untuk tinggal dalam diriNya sendiri. Keilahian tidak dapat menjadi tempat kediaman Allah. Kehendak-Nya dalam ekonomi-Nya adalah tinggal di dalam manusia. Kehendak Allah adalah mengalahkan musuh-Nya, yaitu Iblis, melalui manusia, dan menjadikan manusia tempat kediaman-Nya. Jadi, baik untuk mengalahkan Iblis maupun untuk tempat kediaman, Allah memerlukan manusia. Jika Tuhan Yesus hanya Anak Allah, Ia akan hanya memenuhi syarat untuk memberikan hayat ke dalam manusia. Ia tidak mempunyai hakiki untuk mengalahkan musuh atau menjadi tempat kediaman Allah. Puji Tuhan! Dia adalah Anak Allah agar kita memiliki hayat, dan Dia juga adalah Anak Manusia agar Allah mempunyai tempat kediaman.

Sudahkah Allah mempunyai tempat kediaman yang bersifat insani dalam kekekalan yang lampau? Sudah tentu jawabannya adalah belum. Dalam Yesaya 66:1, Allah berfirman, “Langit adalah takhta-Ku, dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; . . . dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?” Surga dipandang sebagai tempat kediaman Allah (Ul. 26:15; 1Raj. 8:49; Mzm. 33:13-14; Yes. 63:15); namun Allah berkata, “Tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?” Tempat kediaman Allah adalah manusia yang diperoleh-Nya (Yes. 57:15; 66:2). Hari ini, Allah tinggal di surga, tetapi surga tidak akan menjadi tempat kediaman-Nya yang kekal dalam langit baru dan bumi baru. Dalam langit baru dan bumi baru, tempat kediaman Allah yang kekal adalah Yerusalem Baru, yang tersusun dari semua orang beriman tebusan-Nya dan yang akan turun dari surga (Why. 21:1-3). Apa yang akan menjadi tempat kediaman Allah yang kekal? Keinsanian yang telah dilahirkan kembali, diubah, ditinggikan, dan dibangun, akhirnya akan menjadi tempat kediaman Allah. Allah tidak akan tinggal dengan manusia alamiah, melainkan dengan manusia yang telah dilahirkan kembali, diubah, ditinggikan, dan dibangun. Orang-orang ini adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali, diubah, disatukan, dan dibangunkan bersama-sama dengan hayat ilahi. Hayat ilahi akan meninggikan keinsanian kita hingga standar tertentu, supaya kita bisa menjadi tempat kediaman Allah.

Yohanes 1 mewahyukan Kristus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia. Dia adalah Anak Allah untuk menyalurkan Allah ke dalam kita sebagai hayat, dan Dia adalah Anak Manusia untuk menjadi esens pembangunan rumah Allah. Dalam kekekalan yang lampau tidak ada keinsanian, dan tidak ada tempat tinggal untuk Allah. Dalam kekekal-an yang akan datang akan ada keinsanian, dan Allah akan memiliki tempat tinggal.

C. Jembatan Waktu

Yohanes 1 mewahyukan dua bagian kekekalan. Bagaimana mungkin Allah yang tidak mempunyai keinsanian dalam kekekalan yang lampau bisa mempunyai tempat kediaman-Nya? Hal ini bukan terjadi hanya dalam waktu semalam saja. Di antara kedua bagian kekekalan ini ada jembatan waktu. Dalam kekekalan yang lampau, Allah telah merencanakan dan mempunyai maksud itu, tetapi Ia tidak melakukan sesuatu. Dalam kekekalan yang akan datang, Allah juga tidak mengerjakan sesuatu pun, karena pada masa itu segala sesuatunya telah digenapi. Dalam kekekalan yang akan datang Dia hanya akan menikmati pekerjaan yang telah Dia selesaikan. Dalam kekekalan yang lampau, Dia merencanakan; dalam kekekalan yang akan datang, Dia akan menikmati. Segala sesuatu yang perlu Allah genapkan telah diselesaikan-Nya dalam jembatan waktu. Allah mengemudikan mobil ekonomi-Nya dari bagian kekekalan yang pertama, melalui jembatan waktu, ke dalam bagian kekekalan yang terakhir. Melalui mengendarai mobil-Nya melintasi jembatan waktu, semua pekerjaan penting telah Allah selesaikan. Segera setelah Allah menempuh perjalanan dari kekekalan yang lampau, melalui jembatan waktu, dan memasuki kekekalan yang akan datang, Dia akan mengumumkan, “Sudah selesai!” Dalam kekekalan yang akan datang Allah akan menikmati pekerjaan yang telah Dia selesaikan. Berapa lamakah jembatan waktu ini? Boleh jadi sekitar enam ribu tahun lamanya. Dalam jembatan waktu ini Allah menyelesaikan lima hal, dan kita perlu memperhatikan tiap-tiap hal ini secara berurutan. Kita mulai dengan penciptaan.

1. Penciptaan

Ayat 3 mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Penciptaan mendatangkan segala sesuatu. Makna penciptaan adalah menjadikan sesuatu yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17). Tujuan dari penciptaan ini adalah menghasilkan wadah untuk menerima Allah sebagai hayat. Perhatikanlah butir-butir dalam penciptaan: langit, bumi, milyaran benda alam, dan manusia. Manakah yang paling penting dalam penciptaan ini? Tak ada sesuatu pun yang lebih penting daripada manusia. Manusia adalah tokoh yang sangat penting. Menurut Alkitab, langit adalah untuk bumi, dan bumi untuk manusia (Za. 12:1). Segala sesuatu adalah untuk manusia. Barang-barang mineral, hayat nabati (tumbuh-tumbuhan), dan hayat hewan (binatang), semuanya adalah untuk manusia. Udara, sinar matahari, dan hujan menyuplaikan hayat kepada tumbuh-tumbuhan; hayat tumbuh-tumbuhan untuk hewan; kemudian baik hayat nabati maupun hayat hewani adalah untuk manusia. Semua makhluk hidup di bumi adalah untuk manusia. Manusia, yang kepadanya disediakan segala sesuatu adalah untuk Allah, menerima Allah, dan menggenapkan kehendak-Nya. Ada roh di dalam manusia sebagai penerima Allah. Melalui penciptaan-Nya, Allah menciptakan langit untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia dengan roh sebagai penerima untuk menerima Allah sebagai hayat.

Manusia adalah inti alam semesta. Manusia sebagai inti alam semesta ini, mempunyai mulut untuk makan dan untuk berbicara. Makan merupakan aktivitas setiap hari yang paling penting. Tak peduli bagaimanapun repotnya seseorang, setiap hari ia harus meluangkan waktu untuk makan. Kebanyakan orang makan beberapa kali setiap sehari. Janganlah malu mengatakan bahwa aktivitas Anda yang paling penting setiap hari adalah makan. Saya adalah seorang tukang makan. Saya makan makanan jasmani, juga makan makanan rohani, yaitu Kristus. Saya makan melalui menyeru, “Oh Tuhan Yesus.” Makan Tuhan merupakan perkara penting. Semua orang Kristen yang bungkam akan mati kelaparan. Telah bertahun-tahun saya menjadi orang Kristen yang bisu, diam, dan saya hampir mati. Tetapi hari ini saya adalah orang Kristen yang suka makan. Saya makan dengan cara menyeru nama Tuhan. Allah menciptakan bagi kita sebuah roh dan sebuah mulut agar kita bisa menerima Dia sebagai hayat kita.

Pernahkah Anda bersyukur kepada Allah karena penciptaan-Nya? Kalian perlu berkata, “Ya Allah, Penciptaku, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu di dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menciptakan aku. Aku bersyukur, ya Tuhan, karena Engkau menciptakan bagiku sebuah roh dan sebuah mulut.” Banyak orang Kristen yang tidak pernah bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan bagi mereka sebuah roh dan sebuah mulut.

Roma 8:16 menunjukkan pentingnya roh kita, dan Roma 10:9-10 menunjukkan pentingnya mulut kita. Pembenaran berhubungan dengan hati kita, dan penyelamatan berhubungan dengan mulut kita. Meskipun banyak orang Kristen mengatakan bahwa sudahlah cukup mempunyai hati yang percaya, namun Roma 10 menjelaskan bahwa kita juga perlu mempunyai sebuah mulut. Kita perlu dengan hati percaya dan dengan mulut menyeru Tuhan. Semakin Anda mengatakan, “Oh Tuhan Yesus,” Anda akan semakin diselamatkan. Mengapa Anda begitu lemah? Karena Anda tidak menyeru nama Tuhan Yesus. Jika Anda menyeru nama-Nya, Anda akan kuat. Banyak orang Kristen hanya mengetahui bagaimana berbicara tentang kelemahan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa penyebab mereka demikian lemah, tidak lain ialah mereka tidak menggunakan bibir mereka dan lidah mereka untuk mengaku nama Tuhan. “Dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’” (Flp. 2:11). Jika setiap orang Kristen mengucapkan “Tuhan Yesus” secara berkesinambungan, Iblis akan segera dilempar ke dalam lautan api. Haleluya untuk roh kita dan mulut kita! Kita mempunyai roh di dalam dan mulut di luar. Roh kita, mulut kita, dan keseluruhan manusia kita berasal dari penciptaan Allah. Oh, betapa kita perlu menyembah Allah untuk penciptaan-Nya. Kita sungguh berhutang dalam hal bersyukur kepada-Nya atas penciptaan diri kita ini. Bahkan di depan meja Tuhan pun kita perlu bersyukur kepada Tuhan untuk penciptaan-Nya. Penciptaan adalah butir pertama dalam jembatan waktu.

2. Inkarnasi

a. Membawa Allah ke Dalam Ciptaan-Nya — Manusia

Butir kedua adalah inkarnasi. Tanpa penciptaan tidak akan ada jalan bagi Allah untuk berinkarnasi. Penciptaan menyediakan sarana dan memberi-Nya jalan untuk berinkarnasi. Penciptaan menciptakan segala sesuatu dan inkarnasi membawa Allah ke dalam ciptaan-Nya. Sebelum berinkarnasi, Allah telah menunggu kira-kira empat ribu tahun setelah penciptaan Adam. Sampai suatu hari, Ia berinkar-nasi, dan di bumi ada seorang laki-laki kecil Yesus yang mempunyai Allah dalam diri-Nya. Allah dibawa masuk ke dalam manusia dan menjadi satu dengan manusia. Keilahian dan keinsanian menjadi satu kesatuan.

Di antara kekekalan yang lampau dan kekekalan yang akan datang terdapat sebuah jurang pemisah, dengan waktu sebagai jembatan yang merentang sebagai penghubung. Pada jembatan yang disebut waktu ini, Kristus sebagai Firman Allah, yang melalui Dia segala sesuatu diciptakan, telah berinkarnasi menjadi manusia. Penciptaan merupakan peristiwa pertama dalam jembatan waktu ini, dan inkarnasi adalah peristiwa kedua. Penciptaan berarti segala sesuatu yang tidak ada, melalui Firman, diciptakan menjadi ada. Sebelum penciptaan, tidak ada sesuatu, tetapi melalui penciptaan oleh Kristus segala sesuatu menjadi ada. Inkarnasi adalah Allah yang masuk ke dalam ciptaan-Nya. Meskipun segala sesuatu yang diciptakan Allah itu sempurna dan bagus, namun tak ada suatu ciptaan pun yang bersatu dengan Allah. Penciptaan merupakan langkah persiapan untuk inkarnasi. Pertama-tama Allah menciptakan segala ciptaan menjadi ada, sehingga Ia kelak dapat bersatu dengan ciptaan-Nya. Inilah alasannya mengapa Allah menciptakan langit, bumi, dan manusia sebagai inti alam semesta. Inilah tujuan-Nya menyiapkan penciptaan sehingga Ia dapat bersatu dengannya. “Firman menjadi manusia” berarti dengan inkarnasi-Nya, Allah mempersatukan diri-Nya ke dalam ciptaan-Nya. Dalam inkarnasi, Allah mengenakan tubuh daging sebagai kemah-Nya (1:14, Tl.). Kemah ini merupakan bangunan Allah dalam skala kecil dan bentuk miniatur Yerusalem Baru, kemah Allah yang kekal (Why. 21:2-3). Dengan penciptaan, Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini menjadi ada; dengan inkarnasi, Ia membaurkan diri-Nya dengan manusia, yang merupakan inti ciptaan-Nya. Tujuan Allah dalam penciptaan dan inkarnasi ialah menggenapkan keinginan-Nya, yaitu membaurkan diri-Nya dengan sifat manusia dan menjadikan sifat insani sebagai tempat kediaman yang hidup bagi diri-Nya. Ia tidak merasa puas dengan surga sebagai tempat kediaman-Nya. Keinginan-Nya adalah membangun sebuah tempat kediam-an yang hidup dengan orang-orang yang hidup. Jadi, Ia menciptakan manusia sebagai inti ciptaan-Nya dan melalui inkarnasi membaurkan diri-Nya dengan manusia sehingga Ia dapat menjadikan manusia tempat kediaman-Nya yang hidup di alam semesta ini.

b. Untuk Menyatakan Allah

Inkarnasi bukan hanya membawa Allah ke dalam ciptaan-Nya, tetapi juga menyatakan Allah kepada manusia dalam Firman, hayat, terang, anugerah, dan kebenaran. Dalam inkarnasi, Firman yang adalah Kristus sebagai Allah, menjadi daging. Firman adalah Allah yang diekspresikan, diterangkan, dijelaskan, sehingga manusia bisa memahami Allah. Hayat adalah Allah yang disalurkan sehingga manusia bisa menerima-Nya. Terang adalah Allah yang bersinar sehingga manusia bisa melihat Allah. Anugerah adalah Allah yang dinikmati sehingga manusia boleh berbagian dalam kelimpahan-Nya. Kebenaran adalah Allah yang direalisasikan sehingga manusia bisa memiliki-Nya sebagai realitas. Melalui kelima hal ini, Allah sepenuhnya dinyatakan kepada manusia agar manusia bisa berbagian dalam diri-Nya dan menikmati-Nya sebagai segala sesuatu.

3. Penebusan

Butir ketiga dalam jembatan waktu adalah penebusan. Setelah hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, Tuhan naik ke atas salib sebagai Anak Domba Allah. Anak Domba Allah adalah untuk penebusan. Melalui penebusan, Tuhan memulihkan manusia yang telah jatuh dan memisahkan manusia dari dosa. Dengan penebusan, Allah bukan hanya menyingkirkan dosa, tetapi juga mengakhiri seluruh ciptaan lama. Yesus yang tersalib di atas salib membawa ciptaan lama bersama-Nya masuk ke dalam kubur. Ketika Ia bangkit dari kematian, Ia meninggalkan ciptaan lama di dalam kubur, dan keluar dalam kebangkitan sebagai Kepala ciptaan baru.

4. Pengurapan

Pengurapan mengikuti penebusan. Pengurapan datang melalui merpati, Roh, yang merupakan kelanjutan Anak Domba. Anak Domba menyingkirkan dosa dan mengakhiri ciptaan lama, sedang merpati, Roh, telah datang untuk melahirkan kembali, menyalurkan hayat, mengubah, mempersatukan, dan membangun. Merpati, Roh itu, melahirkan kembali manusia tercipta, mengubah manusia alamiah, dan mempersatukan manusia yang telah diubah tersebut. Boleh jadi kita ada dalam salah satu dari ketiga situasi ini. Mungkin kita adalah manusia tercipta, yang memerlukan kelahiran kembali. Mungkin kita adalah orang yang telah dilahirkan kembali yang masih sangat alamiah dan yang memerlukan pengubahan. Mungkin pula kita adalah orang yang telah diubah yang masih menyendiri dan hidup terpisah, bersifat individu, yang memerlukan penyatuan dengan yang lain. Jika kita diubah dengan tepat, kita pasti akan rela disatukan dengan yang lain. Jadi, pertama-tama kita perlu dilahirkan kembali; kedua, kita perlu diubah; dan ketiga, kita perlu disatukan untuk pembangunan. Merpati dan Roh itu melahirkan kembali, mengubah, dan mempersatukan. Kita semua berada di bawah pengurapan merpati, Roh itu. Meskipun boleh jadi kita tidak menyadari hal ini atau tidak mengetahui hal ini, Tuhan sedang mengubah kita.

Saya mempunyai keyakinan penuh bahwa seluruh umat Tuhan akhirnya akan diubah. Cepat atau lambat, kita semua akan diubah. Pengubahan bukan tergantung pada kita, melainkan tergantung pada-Nya. Ia telah memilih kita dan menentukan kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari Dia. Jika kita mencoba melarikan diri, kita hanya akan membuang-buang waktu kita saja dan mendatangkan sedikit kesulitan bagi-Nya. Janganlah berkata bahwa Anda bisa menunda-Nya, karena bagi-Nya 1.000 tahun sama dengan satu hari. Mudah saja bagi-Nya untuk bersabar terhadap Anda. Akhirnya, setiap saudara dan saudari akan diubah. Ketika kita memasuki Yerusalem Baru, kita akan melihat bahwa setiap orang adalah permata yaspis, batu permata yang indah (Why. 21:11).

Tuhan benar-benar melakukan pekerjaan pengubahan di dalam kita. Ia bukanlah elang yang besar, melainkan merpati yang kecil Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45, Tl.). Merpati yang kecil ini merupakan kelanjutan Anak Domba yang kecil. Setelah Anak Domba mati di atas salib, tibalah giliran merpati bekerja dalam kebangkitan. Hari demi hari, merpati kecil sebagai Roh pemberi hayat berkata-kata di dalam Anda, menasihati Anda, dan mengajar dalam hati nurani Anda. Sering kali, ketika Anda berada di “toserba”, merpati kecil mengganggu batin Anda. Janganlah mengharapkan suatu pengalaman besar maupun perubahan secara tiba-tiba. Harapkanlah merpati kecil bergerak dan bekerja di dalam Anda setiap waktu. Kita telah terlibat dalam suatu proses yang di dalamnya kita tidak dapat melarikan diri. Keterlibatan ini berkesinambungan dan permanen. Di satu pihak, kita mempunyai perhentian yang dalam; di pihak lain, merpati kecil senantiasa mengusik kita. Pekerjaan dalam batin yang dikerjakan oleh merpati kecil ini adalah pengurapan.

Kita semua berada di bawah proses pengubahan. Saya telah mengamati bahwa saudara-saudara dan saudari-saudari tertentu mempunyai pengalaman pengubahan berarti yang disebabkan oleh pekerjaan pengubahan merpati. Jika Anda berkata bahwa Anda tidak menyukai hidup gereja dan memutuskan ingin meninggalkannya, Anda akan menemukan bahwa Anda tidak dapat melarikan diri dari pekerjaan pengubahan merpati yang telah tinggal di dalam Anda. Jika Anda ingin benar-benar berada dalam perhentian, cukuplah Anda berlaku sebagai “anak yang baik” dalam hidup gereja. Jika Anda tidak berlaku dengan baik, melainkan menjadi “anak yang nakal”, Anda akan menderita. Tetapi penderitaan ini akan membantu Anda untuk diubah. Siapa yang dapat melarikan diri dari jalan Tuhan? Sekali kita ditangkap, tidak ada jalan keluar. Kita mungkin berkata, “Aku tak suka ini,” tetapi Ia menjawab, “Aku menyukai kamu. Kamu tidak suka kepada-Ku, tetapi Aku menyukai kamu. Semakin kamu tidak suka kepada-Ku, Aku akan semakin menyukai kamu.” Apa yang akan kita perbuat? Apa yang akan kita katakan? Kita seharusnya tidak melakukan apa pun, kita hanya berkata, “Oh, Tuhan Yesus.” Sekali ditangkap oleh Tuhan untuk menempuh hidup gereja, Anda “terkait” untuk pengubahan, dan tidak akan ada sesuatu pun yang memungkinkan Anda melarikan diri. Anda mungkin tidak menyukainya, tetapi apa yang dapat Anda lakukan? Ke mana Anda akan pergi? Tidak ada tempat yang dapat Anda tuju. Inilah nasib kita. Allah menentukan kita untuk diubah bagi pembangunan-Nya.

5. Pembangunan

Setelah penciptaan, inkarnasi, penebusan, dan pengurapan, kita mempunyai pembangunan. Pembangunan ini adalah untuk rumah Allah. Allah membangun tempat kediaman bagi diri-Nya, dan Ia menggunakan orang-orang yang telah diubah menjadi batu-batu (1:42). Puji Tuhan bahwa kita bukan hanya mengalami pekerjaan pengubahan, tetapi juga dalam proses pembangunan. Apa yang Allah perlukan bukanlah sejumlah besar batu, melainkan sebuah rumah. Untuk kekekalan, Allah memerlukan rumah yang terbangun, Betel, sebagai tempat kediaman-Nya.

Untuk kembalinya Tuhan, Ia memerlukan siapnya bangsa Israel dan terbangunnya gereja. Tengoklah Israel: ia telah hampir siap. Tetapi Israel memerlukan gereja untuk mengimbanginya. Sekalipun Israel telah hampir siap, namun gereja masih belum dipersiapkan. Tuhan tak peduli jumlah orangnya, walaupun jumlah orangnya sedikit, namun jumlah orang-orang itu sudah benar-benar diproses dengan sempurna, dipenuhi, diubah, dan dibangun oleh-Nya serta dibangun serta-Nya, itu sudah cukup. Saya bukannya berbicara secara ringan.

Kedatangan Tuhan bukan menurut konsepsi alamiah kita. Para agamawan tidak memahami kedatangan Tuhan kali pertama, juga tidak akan memahami kedatangan-Nya kali kedua. Jangan mengikuti jalan agama untuk memahami kedatangan Tuhan. Anda harus mengambil jalan hayat. Jika Anda berada di jalan hayat, Anda akan mengerti cara kedatangan-Nya. Cara-Nya adalah “secara rahasia (tersembunyi)”. Alkitab memberi tahu kita bahwa Tuhan akan datang kembali seperti seorang pencuri (Why. 3:3; 16:15). Ia bukannya datang sebagai seorang tamu yang mengetuk pintu Anda. Ia akan datang dengan cara sembunyi-sembunyi seperti seorang pencuri. Boleh jadi Anda akan melewatkan Dia. Jika Anda menjaga diri Anda dalam jalan hayat, Anda akan mengetahui bahwa Tuhan akan datang dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia akan datang dengan cara yang rahasia, dalam jalan hayat. Puji Dia, kita berada di atas jalan rahasia hayat.

Kedatangan Tuhan kembali memerlukan penbangunan yang kukuh dari para pencari-Nya. Pembangunan ini akan menjadi “batu tumpuan”, “benteng pantai” bagi-Nya untuk mendapatkan bumi; pembangunan ini adalah tempat tinggal bersama untuk Allah dan manusia. Pembangunan ini akan menjadi perbauran antara keilahian dengan keinsanian dan antara keinsanian dengan keilahian sampai selama-lamanya. Kristus pernah hanya bersifat ilahi. Agar Ia menjadi Anak Manusia, Ia harus mempunyai hayat manusia dan sifat manusia. Kita adalah manusia, tetapi kita dapat dilahirkan dari Allah dan menjadi anak-anak Allah (1:12-13). Agar kita menjadi anak-anak Allah, kita harus mempunyai hayat ilahi dan sifat ilahi. Jadi, Ia dan kita, kita dan Dia, akan persis dan sama. Inilah perbauran keilahian dengan keinsanian, dan ini merupakan tempat tinggal bersama dari bangunan Allah. Bangunan ini akan merupakan penggenapan terakhir bukan hanya terhadap mimpi Yakub, tetapi juga terhadap rencana Allah. Bangunan ini akan mengakhiri jembatan waktu dan mengantar kita dengan selamat kepada kekekalan yang akan datang. Kita harus untuk bangunan dan kita harus menjadi bangunan itu!

Setelah melewati kelima butir ini, kita akan memasuki kekekalan yang akan datang bersama Tuhan. Pada waktu itu, Ia akan menjadi Anak Allah pun Anak Manusia. Sebagai Anak Allah, Ia akan menjadi hayat kita dan sebagai Anak Manusia, Ia akan menjadi tempat kediaman Allah. Kita akan disatukan bahkan berbaur dengan-Nya, dan kita akan menikmati kekekalan bersama-sama dengan Dia selama-lamanya. Natanael dan kita semua bersama-sama akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia. Inilah wahyu yang terdapat dalam Yohanes 1.