← Daftar isi Yohanes (2) · bab 4/18

PENDAHULUAN UNTUK HAYAT DAN PEMBANGUNAN (3)

III. YESUS SEBAGAI ANAK DOMBA ALLAH,

DENGAN ROH KUDUS SEPERTI BURUNG MERPATI,

MENGHASILKAN BATU-BATU UNTUK PEMBANGUNAN ALLAH

Dalam berita ini sampailah kita pada bagian terakhir (Yohanes 1ayat 19-51). Subyek pasal ini adalah Yesus sebagai Anak Domba Allah, dengan Roh Kudus seperti burung merpati, menjadikan kaum beriman batu-batu untuk bangunan rumah Allah bersama dengan Anak Manusia. Subyek ini terdiri atas lima butir utama: Anak Domba Allah, burung merpati, batu, pembangunan rumah Allah, dan Anak Manusia. Anak Domba adalah untuk penebusan; burung merpati adalah untuk menyalurkan hayat, transformasi, dan pembangunan; batu adalah untuk bahan; rumah adalah untuk pembangunan; dan unsur hakiki bangunan Allah adalah manusia. Pertama, manusia ditebus oleh Anak Domba, kemudian dilahirkan kembali dan diubah oleh burung merpati. Demikian, manusia menjadi batu, dan batu ini kemudian dibangun oleh burung merpati. Burung merpati bukan hanya untuk kelahiran kembali, tetapi juga untuk transformasi (pengubahan) dan penyatuan; akhirnya menghasilkan bangunan rumah Allah. Esens dan unsur hakiki rumah Allah bukanlah keilahian, melainkan keinsanian. Keilahian adalah penghuninya, sedang tempat tinggalnya ialah keinsanian. Karena rumah ini merupakan tempat kediaman dan bukan penghuninya, maka tempat kediaman ini insani, sedang penghuninya bersifat ilahi. Akan tetapi keinsanian ini bukanlah keinsanian yang alamiah atau yang tercipta, melainkan keinsanian yang telah dilahirkan kembali, diubah, dan ditinggikan, keinsanian yang telah melalui proses penciptaan, inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Keinsanian yang telah melalui proses yang mengagumkan seperti ini menjadi unsur hakiki bangunan Allah. Keinsanian seperti ini adalah tempat kediaman Allah. Dalam kitab-kitab lain persoalan ini tidak diungkapkan sejelas dalam kitab Injil, Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyu yang ditulis oleh Yohanes. Karena itu, kita harus mencurahkan waktu yang banyak dalam tulisan-tulisan Yohanes ini.

Yohanes 1:19-51 merupakan bagian panjang yang terdiri atas 33 ayat. Mengapa bagian ini demikian panjang? Bertahun-tahun saya merasa dipersulit dengan panjangnya bagian Injil Yohanes ini. Saya berkata, “Dalam delapan belas ayat yang terdahulu, setiap kata dipakai secara ekonomis. Tak ada satu kata pun yang terbuang. Mengapa dalam bagian pasal ini Yohanes memakai demikian banyak kata?” Saya tidak mengerti mengapa Yohanes, penulis uraian ringkas dan sederhana, menggunakan demikian banyak ayat. Jika saya yang menulis bagian ayat firman ini, saya akan menggunakan tujuh atau delapan ayat saja untuk memberitahukan bagaimana orang-orang Farisi menanyai Yohanes, apakah ia itu Mesias, Elia, atau nabi; bagaimana Yohanes membaptis orang-orang ke dalam air, bagaimana ia memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah dengan burung merpati yang turun dan tinggal di atas-Nya; bagaimana lima orang murid ditarik kepada Tuhan dan mulai mengikuti Dia; dan bagaimana salah seorang di antara mereka diubah namanya. Akan tetapi di sini Yohanes menggunakan lebih banyak ayat daripada ini. Apa tujuannya melakukan hal ini? Sangat sedikit orang Kristen yang mengetahui tujuan dalam ayat 19-51 ini. Jadi, kita harus meluangkan waktu untuk memikirkan hal ini.

A. Agamawan Mencari Seorang Pemimpin Besar

Ketika Anda membaca seluruh Injil Yohanes, Anda akan menemukan bahwa penentang terbesar yang melawan Kristus berasal dari agama. Tak ada yang lebih menyusahkan atau menghalangi-Nya daripada agama Yahudi. Agama adalah musuh Kristus. Agama menghalangi Kristus sebagai hayat. Akhirnya agama menghukum mati Kristus. Bukan politik Romawi yang menjatuhkan hukuman mati kepada Tuhan Yesus, karena politik Romawi di bawah Pilatus terlalu lemah untuk melakukan hal itu. Kristus dihukum mati oleh agama Yahudi yang memperalat politik Romawi yang lemah itu. Jadi dalam Injilnya, Yohanes menunjukkan kepada kita bahwa penentang terkuat terhadap Kristus sebagai hayat berasal dari agama. Karena itu ia merasa perlu memakai banyak ayat dalam Yohanes 1 ini untuk menggambarkan bagaimana situasi agama yang kasihan. Tujuan Yohanes adalah menggambarkan suasana agama yang menyedihkan.

Ayat 19-25 mewahyukan bahwa konsepsi para agamawan secara keseluruhan bertentangan dengan pikiran ilahi. Berdasarkan Alkitab, para agamawan mencari seorang pemimpin besar seperti Mesias, Elia, atau nabi-nabi (Dan. 9:26; Mal. 4:5; Ul. 18:15, 18). Konsepsi agama adalah mencari orang besar seperti Mesias atau nabi besar seperti Elia. Para agamawan selalu memikirkan ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin besar yang melakukan perkara-perkara yang mengherankan dan yang melakukan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan untuk menyelamatkan dan membebaskan mereka. Karena itu, pemimpin-pemimpin Yahudi mengutus orang-orang untuk menanyai Yohanes Pembaptis apakah ia Mesias itu. Sudah tentu Yohanes menjawab, “Bukan aku.” Kemudian mereka bertanya juga apakah ia Elia, sekali lagi ia menjawab, “Bukan.” Dalam Kitab Ulangan 18, Musa menjanjikan kepada orang-orang Israel bahwa akan datang seorang nabi besar. Jadi mulai hari itu orang-orang Israel terus-menerus mencari nabi yang akan datang itu; ketika Yohanes Pembaptis datang ke antara mereka, mereka menanyainya apakah ia nabi itu. Akan tetapi, Yohanes berkata bahwa ia bukan nabi itu. Prinsip yang sama masih tetap ada dalam situasi agama hari ini. Di mana pun orang-orang berharap mempunyai seorang pengkhotbah hebat dan terkenal di dunia. Para agamawan hari ini seperti orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan imam-imam kepala, bukan untuk hayat; mereka adalah untuk suatu pergerakan besar, seorang pemimpin besar. Sekalipun mereka menantikan seorang pemimpin agamawan besar yang akan membangkitkan mereka, namun setelah pemimpin seperti itu datang dan pergi, mereka masih tetap dalam keadaan mereka yang mati.

Kontras dalam bagian Injil Yohanes ini sangat mengesankan. Kita telah melihat bahwa para agamawan mengharapkan seorang pemimpin besar dan mereka menanyai Yohanes Pembaptis apakah ia itu Mesias, Elia, atau seorang nabi. Ketika Yohanes berulang-ulang menjawab, “Tidak,” akhirnya mereka bertanya, “Siapakah engkau? . . . Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Yohanes menjawab, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun.” Apakah suara itu? Suara bukanlah apa-apa. Anda mendengarnya dan suara itu pun berlalu. Anda tidak dapat menjamahnya. Seolah-olah Yohanes berkata, “Aku bukanlah apa-apa. Aku seorang yang tak berarti. Aku tak lain hanyalah suara belaka. Aku bukanlah Mesias, Elia, maupun seorang nabi.” Kaum agamawan merasa kecewa terhadapnya. Bagaimana mereka dapat memberi jawaban kepada orang-orang yang mengutus mereka. Boleh jadi mereka berkata kepada Yohanes, “Haruskah kami kembali kepada orang-orang yang mengutus kami dan memberi tahu mereka bahwa engkau mengatakan dirimu tak lain hanyalah suara belaka? Apakah ini? Tak ada artinya.” Ya, selama menyangkut agama, hayat itu tak ada artinya.

B. Yesus Diperkenalkan sebagai Anak Domba dengan Merpati

1. Anak Domba Menghapus Dosa Manusia

Ketika Yohanes melihat Yesus datang, apakah yang dikatakannya? Ia tidak berkata, “Lihat Doktor Yesus Kristus.” Ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Jika saya menjadi Yohanes Pembaptis, saya akan berkata, “Lihatlah, Singa suku Yehuda.” Anda lebih suka memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba atau sebagai Singa yang kuat? Jika Anda memperkenalkan Kristus sebagai Singa kepada saya, saya akan melarikan diri karena saya takut kepada singa. Akan tetapi Yesus diperkenalkan sebagai Anak Domba. Sementara para agamawan mengharapkan seorang pemimpin besar, Yesus diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai Anak Domba Allah yang kecil. Yesus tidak datang sebagai pemimpin yang besar dari pergerakan keagamaan, Ia datang sebagai Anak Domba Allah yang kecil, yang menghapus dosa dunia. Jadi bukanlah perkara pergerakan; melainkan perkara penebusan, membereskan masalah dosa manusia. Untuk menghapus dosa, kita tidak memerlukan doktor teologi atau pemimpin agama kita memerlukan Anak Domba yang kecil. Kita memerlukan Yesus sebagai Anak Domba Allah mati bagi kita dan menumpahkan darah-Nya untuk penebusan kita. Situasi hari ini sama seperti waktu Yohanes Pembaptis. Agama masih menantikan seorang pemimpin besar untuk pergerakan yang besar. Akan tetapi dalam ekonomi Allah, Yesus bukan menjadi pemimpin seperti itu. Ia tak lain hanyalah Anak Domba Allah. Ketika Anda membaca berita ini, Anda perlu berkata, “Tuhan Yesus, bagiku Engkau bukanlah pemimpin besar. Engkau adalah Anak Domba Allah yang mati di atas salib bagi dosa-dosaku. Terima kasih untuk kematian-Mu, ya Tuhan. Terima kasih untuk darah-Mu. Terima kasih untuk penebusan-Mu. Aku tidak mau pemimpin besar, aku hanya mau Anak Domba kecil ini yang telah menggenapkan penebusan untukku.” Konsepsi agama adalah pemimpin besar akan datang, tetapi ekonomi ilahi adalah Anak Domba mati untuk menebus manusia terlepas dari dosa. Karena masalah dosa menuntut pemberesan, maka haruslah ada penebusan. Kita memerlukan Anak Domba Allah untuk menghapus dosa-dosa kita.

2. Merpati Membawa Allah kepada Manusia

Yohanes bukan hanya memperkenalkan Kristus sebagai Anak Domba Allah, tetapi juga sebagai Anak Domba dengan burung merpati (1:32-33). Anak Domba menghapus dosa manusia, sedangkan merpati membawa Allah sebagai hayat kepada manusia. Anak Domba sebagai penebusan, menebus kembali manusia yang telah jatuh kepada Allah, dan burung merpati adalah untuk memberi hayat, mengurapi; mengurapi manusia dengan apa adanya Allah, membawa Allah ke dalam manusia dan manusia ke dalam Allah, dan untuk mempersatukan kaum beriman di dalam Allah. Keduanya diperlukan manusia untuk mengambil bagian di dalam Allah. Merpati merupakan lambang dari Roh Kudus, yang tugasnya adalah membawa Allah dan menyatukan Allah dengan manusia. Di pihak negatifnya, Anak Domba membereskan masalah dosa manusia; di pihak positifnya, merpati membawa Allah kepada manusia. Anak Domba memisahkan manusia dari dosa, dan merpati mempersatukan Allah dengan manusia.

Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba dengan merpati, bukan dengan burung rajawali. Nampaknya beberapa orang Kristen mempunyai elang sebagai pengganti merpati. Merpati tidak besar dan tidak buas. Burung merpati itu kecil dan lemah lembut. Merpati di sini menyatakan Roh Kudus dan untuk memberi hayat, melahirkan kembali, mengurapi, mengubah, mempersatukan, dan membangun. Merpati bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk hayat. Merpati tidak mempunyai kekuatan, melainkan penuh hayat dan pengertian. Alkitab menghargai mata burung merpati, karena bagian yang paling cantik dari merpati adalah matanya. Dalam Kitab Kidung Agung, Tuhan memuji orang yang mencari-Nya karena mata burung merpatinya (1:15). Burung merpati bukan lambang kekuatan, melainkan hayat. Merpati adalah burung yang menyenangkan, kecil, dan penuh hayat.

Jika kita sampai pada Yohanes 12, kita akan melihat bahwa Tuhan Yesus menyamakan diri-Nya dengan sesuatu yang malahan lebih kecil daripada burung merpati biji gandum (12:24). Biji gandum bukan untuk penampilan yang di luar, bukan pula untuk kekuasaan. Biji gandum yang penuh hayat adalah untuk reproduksi dan perkembangbiakan hayat, untuk pelipatgandaan dalam hayat. Jadi, Injil Yohanes adalah kitab hayat, bukan kitab kekuasaan. Anak Domba bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk penebusan. Jika Yesus datang sebagai Singa, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat menaruh-Nya di atas salib. Akan tetapi, Ia datang sebagai Anak Domba yang kecil yang dibawa ke pembantaian dan dibunuh untuk penebusan kita (Yes. 53:7). Betapa berbedanya hayat dengan agama! Agama adalah untuk kekuasaan, untuk pergerakan, dan pemimpin-pemimpin besar. Hayat memerlukan Anak Domba bagi penebusan untuk menyingkirkan semua perkara dosa; juga perlu merpati yang penuh hayat untuk menyalurkan hayat, melahirkan kembali, mengurapi, mengubah, mempersatukan, dan membangun. Kemudian Allah akan memiliki sebuah rumah, yaitu Betel. Kita semua harus nampak hal ini.

Saya harap Anda mempunyai kesan yang mendalam bahwa kita harus secara mutlak meninggalkan agama dengan segala pengertiannya. Akan tetapi, saya khawatir beberapa pembaca berita ini masih memegang konsepsi bahwa kita memerlukan kuasa untuk menghasilkan suatu pergerakan yang besar. Ekonomi Allah bukanlah mengutus seorang pemimpin yang penuh kuasa untuk memulai pergerakan. Ekonomi Allah adalah mengutus Anak-Nya untuk menjadi Anak Domba dengan Roh-Nya sebagai merpati untuk menggenapkan penebusan dan menyalurkan hayat kepada manusia. Ekonomi Allah adalah untuk sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati sehingga memungkinkannya menghasilkan banyak gandum yang akan dibaurkan menjadi satu roti, Tubuh, gereja, untuk mengekspresikan Kristus. Ekonomi Allah bukanlah persoalan pergerakan, kekuasaan, atau pemimpin besar, melainkan perkara Anak Domba dengan merpati. Keperluan kita adalah penebusan dengan hayat.

C. Menghasilkan Batu-batu untuk Pembangunan Allah

1. Pengikut-pengikut Yesus Diubah Menjadi Batu-batu

Anak Domba dengan merpati ini menarik perhatian banyak orang untuk mengikuti-Nya. Ketika Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah,” kedua muridnya ditarik kepada-Nya, dan Yohanes merasa senang akan hal ini. Siapakah nama kedua murid ini? Yang pertama Andreas dan yang kedua boleh jadi Yohanes, penulis Injil ini; ia adalah orang yang merendahkan diri, ia tidak menyebut namanya sendiri. Segera setelah Andreas ditarik, ia menemui saudaranya, Simon, dan memimpinnya kepada Yesus (1:41-42). Ketika Tuhan memandang Simon, Ia mengubah namanya menjadi Kefas, atau Petrus, yang berarti batu. Tuhan mengucapkan perkataan-Nya ini ketika Ia berbicara kepada Petrus dalam Matius 16:18 tentang pembangunan gereja. Pasti mulai saat itu Petrus telah diisi dengan pengertian tentang batu-batu untuk pembangunan rumah rohani (1Ptr. 2:5), yaitu gereja. Arti dari batu adalah mengacu kepada pekerjaan pengubahan untuk menghasilkan bahan bagi bangunan Allah (1Kor. 3:12).

Dalam pasal 1 kita mempunyai Anak Domba, merpati, dan batu, yang kesemuanya merupakan gambaran-gambaran. Apakah makna gambaran-gambaran ini? Maknanya adalah Anak Domba ditambah merpati menghasilkan batu-batu. Penebusan ditambah dengan kelahiran kembali serta pengubahan menghasilkan batu-batu. Sekali lagi saya katakan, jangan coba-coba memahami Injil Yohanes menurut huruf-huruf hitam di atas putih. Anda harus menyelidiki makna yang sebenarnya atas kiasan-kiasan ini. Apakah Anak Domba? Menurut Keluaran 12, Domba Paskah dibunuh untuk orang-orang berdosa dan dagingnya untuk kepuasan mereka. Apakah merpati? Dari Perjanjian Lama kita tahu bahwa merpati adalah ciptaan yang penuh dengan hayat yang indah. Jadi merpati mewakili Persona ketiga dari Allah untuk mencapai manusia atau berhubungan dengan manusia dan menyalurkan hayat kepada manusia. Merpati yang turun ke atas manusia ini mengimbangi penebusan untuk menghasilkan batu-batu. Jadi, bukan untuk menghasilkan pengkhotbah-pengkhotbah, pelayan-pelayan, atau doktor-doktor teologi, melainkan untuk menghasilkan batu-batu. Seperti yang akan kita lihat, batu-batu ini adalah untuk pembangunan Betel, rumah Allah.

Meskipun Andreas menemukan Tuhan lebih dulu daripada Petrus, tetapi Yesus tidak mengubah nama Andreas. Apa alasannya? Jika Anda dan saya yang menjadi Tuhan Yesus, mungkin kita akan mengubah nama Andreas menjadi batu dan Yohanes menjadi intan. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak tergesa-gesa, Ia bertindak dengan hati-hati. Ia mengubah nama Simon, bukan Andreas. Jika saya ini Andreas, pasti saya akan berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tidak mengubah namaku? Ini tidak adil. Aku yang pertama datang kepada-Mu. Mengapa Engkau memberi nama baru kepada Simon dan tidak kepadaku? Tuhan, Engkau juga harus memberi nama baru kepadaku.” Tetapi Tuhan tidak mengubah nama Andreas. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu tergantung pada-Nya. Tuhan tidak akan pernah bertindak dengan terburu-buru.

Filipus merupakan orang berikutnya yang ditarik kepada Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan tidak berbuat sesuatu pun atas Filipus. Kemudian Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” (ayat 45). Penjelasan ini sama sekali tidak tepat. Yesus bukan dilahirkan dari Yusuf, tetapi dari Maria (Mat. 1:16), dan bukan lahir di Nazaret, tetapi di Betlehem (Luk. 2:4-7). Kemudian Natanael berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Jawab Filipus, “Mari dan lihatlah!” Adalah benar bahwa Filipus tidak berdebat dengan Natanael. Ia sadar bahwa ia kekurangan pengenalan, karena itu ia hanya berkata kepada Natanael, “Mari dan lihatlah!” Dari perkataan ini kita semua mendapat sebuah pelajaran untuk kita pelajari. Di sini, di antara kita ada banyak Filipus muda, yang setelah melihat segala sesuatu pada Tuhan lalu pergi dan memberi tahu orang-orang dengan cara yang salah, memberikan informasi yang salah kepada orang. Jadi janganlah kita berdebat dengan orang banyak, melainkan beri tahu mereka supaya mereka datang dan melihat. Natanael datang, sekalipun Tuhan tidak melakukan apa pun terhadap Filipus, namun Ia berbuat sesuatu dengan Natanael, yaitu membicarakan perihal mimpi Yakub dengannya (1:51).

Mengapa Tuhan melakukan sesuatu dengan Simon dan Natanael, namun tidak terhadap Andreas dan Filipus? Di sini ada sebuah prinsip, dan prinsip ini adalah Tuhan tidak berurusan dengan yang pertama, tetapi selalu dengan yang kedua. Yang pertama adalah dari ciptaan yang lama. Selama perayaan Paskah di Mesir, semua anak sulung Mesir dibunuh. Jangan menjadi yang pertama, karena jika Anda senang menjadi yang pertama, Anda akan habis di dalam Tuhan. Meskipun memang baik menjadi juara pertama di sekolah, tetapi tidak demikian dalam gereja. Jangan coba-coba menjadi yang pertama dengan Tuhan Yesus; belajarlah menjadi yang kedua. Jika Anda berusaha menjadi yang pertama, Anda akan kehilangan sasaran. Setiap orang suka menjadi yang pertama. Tetapi jika Anda mau menjadi yang kedua, Tuhan akan berbuat sesuatu kepada Anda. Simon adalah yang kedua, maka Tuhan menyatakan perihal dia akan menjadi batu. Natanael juga adalah yang kedua dan Tuhan mengungkapkan kepadanya perihal rumah.

2. Untuk Pembangunan Rumah Allah

Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (ayat 51). Orang-orang Yahudi kuno tahu bahwa ini adalah keterangan atas mimpi Yakub (Kej. 28:10-22). Ketika Yakub melarikan diri dari kakaknya, pada suatu malam ia tidur di tempat terbuka dan menggunakan batu sebagai bantal. Ia bermimpi melihat langit terbuka dan sebuah tangga didirikan di bumi yang ujungnya mencapai langit di mana malaikat-malaikat naik turun. Ketika Yakub terjaga dari tidurnya, ia berkata, “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga” (Kej. 28:17). Kemudian ia menuangkan minyak ke atas batu yang telah dipakainya sebagai bantal dan menamainya Betel. Perkataan Tuhan kepada Natanael adalah penggenapan mimpi Yakub. Kristus, sebagai Anak Manusia dengan keinsanian-Nya adalah tangga yang didirikan di bumi dan mencapai ke langit, supaya langit terbuka kepada bumi dan mempersatukan bumi dengan langit untuk rumah Allah. Yakub menuangkan minyak (lambang dari Roh Kudus, Persona terakhir dari Allah Tritunggal untuk mencapai manusia) ke atas batu (lambang manusia yang telah diubah) yang akan menjadi rumah Allah. Dalam Yohanes 1, untuk rumah Allah ada Roh itu (ayat 32) dan batu (ayat 42) dengan Kristus dan keinsanian-Nya. Di mana ada hal-hal ini, di sana ada langit terbuka. Jadi, Kristus yang sebagai manusia adalah tangga yang membuka langit (surga) dan menyatukan bumi dengan surga, juga membawa surga ke bumi. Di mana pun ada Kristus dalam keinsanian-Nya, di sana ada pintu gerbang surga, ada Betel, rumah Allah yang dibangun dengan batu-batu, yaitu orang-orang yang telah diubah.

Sebagai kata pendahuluan Injil Yohanes, Yohanes 1 memperkenalkan Kristus sebagai Anak Allah (ayat 34, 49) dan Anak Manusia. Natanael mengakui Kristus sebagai Anak Allah dan memanggil-Nya seperti itu juga (ayat 49), tetapi Kristus berkata kepada Natanael bahwa Ia adalah Anak Manusia. Anak Allah ialah Allah dengan sifat ilahi; Anak Manusia adalah manusia dengan sifat insani. Untuk menyatakan Allah (ayat 18) dan untuk membawa Allah kepada manusia dan manusia kepada Allah, Ia adalah Anak Tunggal Allah. Tetapi untuk pembangunan tempat kediaman Allah di bumi di antara manusia, Ia adalah Anak Manusia. Pembangunan Allah memerlukan keinsanian-Nya. Dalam kekekalan lampau, Kristus hanyalah Allah, mempunyai sifat Allah; tetapi dalam kekekalan yang akan datang, Kristus adalah Allah juga manusia, adalah Anak Allah juga Anak Manusia, mempunyai sifat ilahi maupun sifat insani untuk selama-lamanya.

Yohanes 1 dengan jelas terbagi menjadi tiga bagian. Bagian yang pertama terdiri atas 13 ayat yang pertama, berakhir dengan anak-anak Allah. Bagian kedua, terdiri atas ayat 14-18, berakhir dengan Anak Tunggal Allah. Bagian ketiga, terdiri atas 33 ayat berikutnya, yang berakhir dengan Anak Manusia. Anak-anak Allah merupakan perluasan dan perbesaran Allah sebagai ekspresi korporat-Nya. Anak Tunggal Allah adalah pernyataan Allah, supaya Ia dikenal oleh semua orang yang menikmati kepenuhan Allah sebagai anugerah dan realitas. Anak Manusia adalah untuk pembangunan rumah Allah. Jadi, ada banyak anak Allah yang merupakan ekspresi Allah, mengekspresikan Dia secara korporat. Anak Tunggal Allah adalah yang unik, untuk menyatakan Allah, agar Dia dikenal oleh semua orang yang menikmati-Nya sebagai anugerah dan realitas. Anak Manusia adalah untuk pembangunan rumah Allah. Untuk eks-presi Allah secara korporat, diperlukan banyak anak Allah; untuk pernyataan Allah, diperlukan Anak Tunggal Allah yang satu-satunya ini; dan untuk rumah Allah, diperlukan Anak Manusia.

Yohanes 1 diawali dengan Firman dan diakhiri dengan Betel, rumah Allah. Terdapat jarak yang panjang sekali antara ayat 1 dan 51. Sepanjang jarak ini kita menemukan banyak hal: Allah, penciptaan, hayat, terang, tubuh daging, kemah, anugerah, realitas, ekspresi Allah, Anak Domba, merpati, batu, tangga, keinsanian Yesus, dan akhirnya rumah Allah. Inilah hayat dan pembangunan. Dalam satu pasal ini, kita dapat melihat pada mulanya, Firman, penciptaan, hayat, terang, banyak anak Allah yang dihasilkan dalam hayat, tubuh daging, kemah, anugerah, realitas, pernyataan Allah yang sempurna, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, masih ada merpati yang melahirkan kembali, mengurapi, mengubah, menyatukan, dan membangun; kita bisa melihat batu, tangga, langit yang terbuka, dan rumah Allah. Kita adalah bagian dari rumah Allah ini. Haleluya!

Injil Yohanes sungguh menakjubkan dan sangat dalam. Dalam Injil ini kita tidak mempunyai pemimpin-pemimpin agama yang hebat, tetapi kita mempunyai Anak Domba yang kecil dengan merpati yang lebih kecil. Anak Domba dan merpati menjadikan kita batu-batu untuk bangunan Allah. Kita bukanlah doktor-doktor teologi, melainkan batubatu untuk pembangunan. Kita bukanlah organisasi agama, tetapi Betel, rumah Allah.

Setelah Yesus diperkenalkan sebagai Anak Domba dengan merpati, orang-orang mulai mengikuti Dia. Anak Domba dengan merpati penting untuk menggenapkan kehendak Allah. Ada satu masalah antara Allah dengan manusia, yaitu masalah dosa. Manusia juga mempunyai kekurangan, yaitu kekurangan hayat. Allah menghendaki manusia mempunyai hayat. Tetapi dosalah yang ada, sedang hayat tidak ada. Jadi, Anak Domba datang untuk menghapus dosa. Sekalipun Anak Domba telah menyingkirkan dosa dan menyelesaikan masalah dosa, tetapi bagaimana dengan hayat? Merpati datang memberikan hayat. Haleluya, dosa telah disingkirkan dan hayat telah diberikan! Dosa lenyap, hayat datang!

Inilah penebusan ditambah pengurapan. Penebusan menyingkirkan dosa kita, sedangkan pengurapan membawa masuk hayat dan suplai hayat. Karena kita telah ditebus dan berada di bawah pengurapan Roh, maka kita tidak lagi mempunyai masalah dengan dosa dan tidak kekurangan hayat. Akibat dari penyingkiran dosa dan penyaluran hayat, kita berada dalam proses pengubahan (transformasi). Pengubahan adalah pekerjaan dari pengurapan Roh. Setelah melahirkan kita kembali, Roh bekerja di dalam kita untuk mengubah kita menjadi batu-batu. Kita bukanlah batu-batu sejak kelahiran alamiah kita, kita tidak lain adalah tanah liat. Setelah dilahirkan kembali, kita ada di bawah proses pengubahan, karena Roh yang melahirkan kembali ini sekarang adalah Roh pengubah.

Batu-batu yang merupakan pengubahan manusia kita adalah untuk pembangunan rumah Allah. Tidak banyak orang Kristen yang nampak pembangunan rumah Allah seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 1. Meskipun banyak guru Kristen telah menunjukkan perihal hayat dalam pasal ini, namun hampir semua dari mereka tidak mencapai sasaran. Bangunan itulah sasarannya. Hayat bukanlah sasarannya; hayat adalah prosedur di mana Allah memper-oleh bangunan. Jadi, hayat adalah untuk bangunan dan memelihara bangunan, tetapi hayat bukanlah sasaran itu. Pembangunan rumah Allah itulah sasaran Allah.

Tuhan sudah mempunyai sasaran ini ketika orang-orang mulai tertarik kepada-Nya serta mengikuti Dia. Menurut Yohanes 1, sejumlah besar khalayak ramai itu tidak mengikuti Tuhan. Hanya lima orang murid yang mengikuti-Nya. Boleh jadi Yohanes Pembaptis merasa kecewa dengan keadaan ini. Ia telah menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah” dan sebagai hasil dari pernyataan ini, hanya dua orang murid saja yang mengikuti Tuhan Yesus. Jika Anda berpikir bahwa pemulihan Tuhan bergerak terlalu lambat, saya akan meminta Anda menengok pengikut-pengikut yang dimiliki Tuhan Yesus. Kisah Para Rasul 1 memberi tahu kita bahwa pada akhir dari tiga setengah tahun ministri-Nya, Tuhan hanya memperoleh 120 orang. Tuhan tidak mencari suatu pergerakan. Dalam suatu pergerakan, pertumbuhannya seperti jamur karena begitu pergerakan dimulai, jumlahnya akan bertambah dalam waktu semalam saja. Akan tetapi jalan Tuhan bukanlah seperti pertumbuhan jamur itu, melainkan seperti sebuah benih yang ditabur ke dalam tanah yang memerlukan waktu untuk bertumbuh. Jadi Yohanes 1 tidak memberi kita catatan perihal suatu pergerakan yang besar, melainkan jalan hayat yang terbatas. Pada mulanya hanya dua orang yang mengikuti-Nya. Kemudian datanglah Simon, Filipus, dan Natanael. Sekalipun jumlahnya sedikit, namun di sana ada batu-batu, juga ada rumah Allah. Karena itu, bukan soal jumlah orang yang mengikuti Yesus; melainkan soal batu-batu untuk pembangunan. Asal ada batu-batu, ada kemungkinan ru-mah Allah dapat dibangun. Allah tidak memperhatikan jumlah orang. Ia lebih memperhatikan batu-batu dan pembangunan. Inilah keperluan Allah hari ini. Allah menginginkan orang-orang yang akan diubah menjadi batu-batu untuk pembangunan rumah-Nya.

Tuhan berbicara kepada Natanael perihal mimpi Yakub. Di manakah rumah Allah yang dimimpikan oleh Yakub? Ketika mimpi ini dinyatakan kepada Yakub, ia adalah seorang tunawisma dan seorang pengembara. Ketika manusia merupakan seorang tunawisma, maka Allah pun tunawisma. Pada waktu itu Yakub memerlukan sebuah rumah, Allah juga memerlukan sebuah rumah. Karena itu, dengan memberikan mimpi kepada Yakub, Allah membukakan wahyu ini kepada Yakub. Rumah Allah bisa didapat bila ada batu yang di atasnya telah dituangi oleh minyak. Kita telah menunjukkan bahwa batu mewakili umat Allah yang telah dilahirkan kembali dan diubah, sedangkan minyak mewakili Allah yang datang sebagai Roh ke dalam manusia. Ketika akhirnya Allah bersatu dengan orang-orang yang telah diubah, barulah Allah mempunyai rumah. Ini digenapi oleh kedatangan Kristus sebagai Anak Domba dengan merpati yang menebus kita dari dosa-dosa kita dan mempersatukan kita dengan Allah. Melalui penggenapan ini, kita semua dapat menjadi batu-batu yang telah diubah untuk rumah Allah. Demikian, Anak Manusia yang sebagai tangga surgawi dapat mempersatukan bumi dengan surga dan menjadikan Allah berbaur dengan manusia. Sampai di sini, kita paham bahwa maksud Allah yang terakhir adalah mempunyai sebuah ru-mah yang dibangun dengan orang-orang yang telah dilahirkan kembali, diubah, dan yang disatukan dengan Allah di dalam Anak Manusia oleh Roh Kudus. Inilah gambaran Yerusalem Baru, yang dibangun dari batu-batu hidup dengan kemuliaan Allah. Penggenapan terakhir pekerjaan Allah dalam kekekalan yang akan datang ialah adanya tempat kediaman Allah yang sesungguhnya.

Kita harus meninggalkan semua konsepsi agama dan menerima konsepsi ilahi, yaitu Kristus sebagai Anak Domba dengan merpati, Tuhan Penebus dengan Roh. Kristus adalah Tuhan Penebus dengan Roh yang berkuasa untuk melahirkan kembali, mengubah, dan mempersatukan. Roh Kristus akan melahirkan kembali, mengubah, dan mempersatukan kita dengan Allah dan Allah dengan kita. Kita harus melupakan konsepsi agama yang ingin berbuat baik untuk menyenangkan Allah dan berupaya melakukan banyak hal untuk Allah. Kita harus tahu bahwa maksud Allah adalah melahirkan kita kembali serta mengubah kita menjadi batu-batu, yakni mengubah kita dari Simon menjadi Kefas. Semua orang yang ditarik kepada Anak Domba Allah dengan merpati akan diubah menjadi batu-batu untuk rumah Allah. Kita semua harus mempunyai visi ini, nampak yang kita perlukan adalah diubah dan dibangun bersama-sama menjadi rumah yang Allah inginkan. Allah menuntut hal ini dan akan menggenapinya melalui Anak-Nya, yang menjadi Anak Manusia sebagai tangga surgawi yang mempersatukan bumi dengan surga. Hasil terakhir adalah Allah berbaur dengan manusia sehingga Allah dan manusia saling menjadi tempat kediaman. Manusia akan menjadi tempat kediaman-Nya dan Ia akan menjadi tempat kediaman manusia. Inilah tempat kediaman Allah yang kekal menurut rencana-Nya yang kekal.