← Daftar isi Yohanes (2) · bab 3/18

PENDAHULUAN UNTUK HAYAT DAN PEMBANGUNAN (2)

Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa Kristus yang adalah Firman, telah datang sebagai hayat dan terang dengan tujuan melahirkan banyak anak bagi perluasan Allah dan ekspresi Allah secara korporat. Inilah yang diperlihatkan oleh Yohanes 1:1-13. Semoga ini tersirat dalam-dalam di batin kita. Dalam berita ini kita memasuki bagian kedua dari Yohanes 1, yang terdiri atas ayat 14-18. Bagian ini memberi tahu kita bahwa Kristus yang adalah Firman dan yang telah datang sebagai hayat dan terang, yang melahirkan banyak anak bagi perluasan Allah dan ekspresi Allah, telah berinkarnasi (menjadi daging) bagi kenikmatan kita. Yohanes 1:1-13 memberi tahu kita bahwa Kristus datang untuk melahirkan anak-anak Allah; ayat 14-18 menunjukkan bahwa semua anak Allah memerlukan kenikmatan akan Kristus.

Bagaimana kita bisa menikmati Kristus? Melalui inkarnasi-Nya. Berinkarnasi berarti menjadi konkret. Sebagai Firman yang belum berinkarnasi, Kristus itu misterius. Akan tetapi, setelah Ia berinkarnasi, Ia menjadi sangat riil bagi kita. Sebelum inkarnasi-Nya, Ia tidak dapat diraba, dilihat, atau dipegang. Setelah menjadi daging, Ia menjadi konkret, riil, kasat mata, dan dapat diraba. Ayat 14 mengatakan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita.” Inilah sesuatu yang konkret. Dengan menjadi daging dan tinggal di antara manusia, Ia menjadi bisa disentuh. Orang-orang tidak hanya dapat melihat Dia, bahkan dapat menjamah-Nya. Karena itu Yohanes berkata, “Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa.” Dalam Surat 1 Yohanes, Yohanes mengatakan bahwa mereka telah menjamah Dia (1Yoh. 1:1). Jadi, dalam inkarnasi-Nya, Kristus bisa dijamah.

Meskipun melalui inkarnasi-Nya Ia menjadi dapat dijamah, kita masih memerlukan sesuatu yang lebih banyak sebelum kita menikmati Dia. Karena itu Yohanes 1:14 menuliskan bahwa Ia “penuh anugerah dan kebenaran”. Tidak dikatakan bahwa Ia penuh doktrin dan karunia. Saat Ia dapat dilihat dan dijamah, Ia penuh anugerah (kasih karunia) dan kebenaran (realitas). Ketika Kristus dalam daging, bersama-sama dengan murid-Nya, mereka tidak hanya memandang dan menjamah Dia, mereka pun dapat menikmati Dia. Seandainya Anda dapat bertanya kepada Petrus dan Maria, mengapa mereka sangat mengasihi Dia dan mengapa mereka suka berada dalam hadirat-Nya, mereka pasti akan berkata, “Kami tidak dapat mengutarakannya dengan kata-kata. Selama kami tinggal dengan-Nya, kami mempunyai kenikmatan tertentu. Tidak ada kata-kata yang mampu menjelaskan ini. Tetapi kami semua dapat bersaksi bahwa duduk di hadapan-Nya itu sungguh manis. Di sana ada kenikmatan dan realitas seperti ini. Entah bagaimana kami dapat menerangkannya atau menjelaskannya, namun kami tahu dengan pasti bahwa kami menikmatinya.” Apa yang mereka nikmati? Tak lain Firman dalam daging, penuh anugerah dan realitas.

II. FIRMAN MENJADI DAGING UNTUK MENYATAKAN ALLAH

A. Menjadi Daging

Kita baru saja membahas bahwa Firman menjadi daging untuk kita nikmati. Sekarang kita harus melihat bahwa Ia berinkarnasi agar dapat menyatakan Allah (ayat 18). “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia (daging)” (1Tim. 3:16). Bagaimanakah Ia menyatakan Allah? Ia menyatakan Allah dalam daging dengan menyajikan diri-Nya kepada kita sebagai kenikmatan kita. Terha-dap murid-murid-Nya yang semula, Ia tidak mengatakan, “Anak-anak-Ku yang kecil, Aku ingin kalian mengetahui bahwa Aku adalah Anak Allah dan Aku telah datang dalam daging (rupa manusia) untuk menyatakan Allah kepada kalian. Kalian semua harus mengenal Allah. Pandanglah wajah-Ku. Kalian harus mengenal siapakah Aku ini. Jika kalian mengenal Aku, kalian akan mengenal Allah Bapa.” Jika Ia menyatakan Allah dengan demikian, semua murid-Nya pasti akan mundur meninggalkan Dia. Boleh jadi Petrus akan berkata, “Aku akan kembali ke Galilea menangkap ikan.” Mungkin pula Marta berkata, “Tuhan, aku mau pulang ke rumah dan mengatur urusan-urusan keluargaku sendiri.” Tidak, Kristus datang dalam daging tidak menyatakan Allah melalui pengajaran seperti itu, melainkan dengan cara yang penuh anugerah dan realitas. Ia tidak mengatakan, “Anak-anak kecil, kalian harus mencari Allah dalam-Ku. Kalian harus belajar mengetahui bahwa Aku di sini menyatakan Allah.” Ia menyatakan Allah dengan cara kenikmatan, menampilkan diri-Nya sebagai anugerah dan realitas. Itulah sebabnya Petrus dapat berkata, “Aku tidak akan pernah kembali menjadi nelayan. Aku akan tinggal selamanya bersama Orang ini. Meskipun aku tidak tahu siapa Dia, apakah Dia itu Anak Allah, Bapa, Firman, atau Pencipta, tetapi yang kuketahui ialah tinggal bersama Dia itu sangat manis.” Inilah cara Yesus, Anak Allah dalam rupa manusia, menyatakan Allah. Bukannya melalui pengajaran Ia menyatakan Allah kepada murid-murid-Nya, melainkan melalui memberikan diri-Nya kepada mereka sebagai kenikmatan yang manis dan mesra. Dengan hanya memandangi orang-orang, Ia bisa mendapatkan mereka. Sungguh nikmat hadirat-Nya! Alangkah mempesona hadirat-Nya, sehingga banyak murid sebermula terpikat oleh-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengelak dari pesona hadirat-Nya. Itulah cara Ia menyatakan Allah.

Allah bukan Allah pengajaran, doktrin, peraturan-peraturan, hukum-hukum, atau karunia. Allah itu Allah kenikmatan. Bagi kita, Allah itu anugerah dan realitas. Allah adalah kenikmatan kita yang sepenuhnya dan Yesus, Anak Allah, adalah perwujudan dari semua kenikmatan akan Allah. Sewaktu Ia tinggal bersama Anda, Anda menikmati Allah. Anda merasakan Allah sebagai yang manis, tersayang, dan mustika. Akhirnya, Anda memperoleh realitas-Nya. Kita tidak mempunyai perbendaharaan kata-kata manusia yang bisa menerangkan hal ini. Walaupun demikian, hari ini kita bisa menikmati-Nya. Ketika kita tinggal bersama Tuhan beberapa saat, dan berseru kepada-Nya, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” kita merasakan kemanisan, penghiburan, perhentian, kesegaran, dan kekuatan. Bukan hanya itu, kita juga mempunyai realitas-Nya. Orang-orang mungkin akan bertanya kepada Anda, “Realitas macam apakah yang Anda miliki?” Meskipun saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya, saya benar-benar mempunyai realitas. Sebelum meluangkan waktu di hadapan Tuhan, saya merasa hampa, tetapi sekarang saya penuh. Saya mempunyai realitas. Saya dipuaskan dan diisi hingga penuh.

Firman berinkarnasi untuk menyatakan Allah, menjadi daging untuk kita nikmati. Anak Allah menyatakan Allah kepada manusia dengan jalan kenikmatan. Ini sungguh ajaib. Ketika Firman menjadi daging, Ia “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Rm. 8:3). Dalam Alkitab, istilah “daging” bukanlah istilah yang baik. Istilah ini mengacu pada sesuatu yang telah jatuh dan berdosa. Roma 7:18 mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang baik dalam daging kita. Ketika firman mengatakan bahwa Kristus menjadi daging, apakah ini berarti bahwa Ia menjadi berdosa? Sekali-kali tidak. Ia menjadi daging hanya “serupa dengan daging yang dikuasai dosa”. Ular tembaga yang diangkat oleh Musa pada sebuah tiang (Bil. 21:4-9) melambangkan Kristus yang dijadikan serupa dengan daging yang berdosa. Sekalipun ular tembaga itu berbentuk ular, namun tidak mengandung racun ular. Sifatnya murni, bersih, dan bagus. Ular tembaga dibuat dalam bentuk ular dengan maksud menjadi pengganti. Kita akan melihat hal ini lebih lanjut bila kita sampai pada Yohanes 3:14. Untuk sementara, cukuplah bila kita memahami bahwa ketika Kristus menjadi daging, Ia tidak mengandung sifat dosa dari daging, melainkan hanya serupa dengan daging yang berdosa. Melalui menjadi daging seperti itu, manusia dapat menjamah-Nya, berbagian dalam-Nya, dan menikmati kepenuhan Allah yang ada di dalam Dia. Ketika menjadi daging, Ia kelihatannya menjadi berdosa, karena 2Korintus 5:21 mengatakan bahwa Allah telah membuat-Nya menjadi dosa. Sebenarnya, Ia tidak memiliki sifat dosa, hanya memiliki bentuk dan rupa daging yang berdosa.

Dalam 2Korintus 5:21 juga dikatakan bahwa Ia “tidak mengenal dosa”. Bahasa kita tidak sanggup menerangkan hal ini. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak mengenal dosa, sedangkan Ia justru mengenal segala sesuatu? Jika Ia mengenal segala sesuatu, tentu Ia tahu sepenuhnya tentang dosa. Tetapi 2Korintus 5:21 mengatakan bahwa Ia tidak mengenal dosa. Apakah maknanya? Menurut pengertian saya, ini berarti Yesus tidak mempunyai dosa dan tidak ada sangkut-pautnya dengan dosa. Dalam hakiki dan substansi-Nya tidak ada sesuatu yang disebut dosa. Walaupun Ia dijadikan dosa, di dalam Dia tidak ada hakiki dosa. Kita hanya dapat mengatakan bahwa Ia dalam bentuk dan rupa daging yang berdosa.

B. Berkemah di Antara Manusia

Ketika dalam daging, Dia merupakan kemah Allah di antara manusia. Melalui inkarnasi, Firman bukan hanya membawa Allah kepada manusia, tetapi juga menjadi kemah sebagai pemukiman Allah di bumi di antara manusia. Menurut sejarah dalam Perjanjian Lama, di antara manusia di bumi, terdapat sebuah kemah di mana Allah hadir. Yesus dalam daging adalah kemah yang sejati. Kemah Pertemuan Perjanjian Lama adalah suatu ibarat, bayang-bayang, dan rancangan dari kemah yang sejati, yang tak lain ialah Kristus itu sendiri dalam daging. Allah ada di dalam Kemah Pertemuan, karena Kemah Pertemuan itu membawa Allah kepada bani Israel. Dalam Perjanjian Baru, Yesus dalam daging membawa Allah kepada manusia sehingga manusia dapat menikmati hadir Allah. Ketika Ia dalam daging sebagai kemah Allah di antara manusia, Allah telah dinyatakan dalam Dia (Kol. 2:9). Semua apa adanya Allah dan semua milik Allah dinyatakan oleh Yesus. Apakah tujuan Allah dinyatakan dalam daging di dalam Yesus? Agar manusia yang berdosa bisa mengambil bagian atas Allah dalam Kristus. Dengan kata lain, Allah dinyatakan dalam Kristus untuk kenikmatan kita.

Sewaktu Ia dalam daging, Kristus adalah tempat kediaman Allah di bumi. Pada suatu hari, ketika Ia di atas gunung dengan ketiga murid-Nya, Ia berubah rupa (bertransfigurasi) di depan mereka (Mat. 17:2; 2Ptr. 1:17-18). Ini berarti Allah yang mulia yang berhuni di dalam-Nya keluar dari kemah. Allah yang mulia yang tersembunyi dalam tubuh daging Yesus itu dinyatakan di atas gunung. Itulah transfigurasi Yesus. Kemuliaan, yang adalah Allah itu sendiri, keluar dari kemah. Bahkan pada zaman kuno, bani Israel nampak sinar kemuliaan yang tersembunyi dalam Kemah Pertemuan (Kel. 40:34). Hal yang sama terjadi di gunung pengubahan. Tiba-tiba, ketika Ia berdiri di depan ketiga murid-Nya, sinar kemuliaan yang ada dalam Yesus ternyata keluar, menyinari Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka terpukau, sehingga pada saat itu tidak dapat menikmati kemuliaan yang amat sangat. Mereka tentunya telah mengalami sedikit kenikmatan pada saat itu. Akan tetapi, ketika teringat kembali akan peristiwa itu, mereka pasti berpikir betapa ajaibnya hal itu.

C. Penuh Anugerah

Yohanes memberi tahu kita bahwa Kristus Sang Firman menjadi daging dan berdiam di antara kita, penuh anugerah. Pada Kristus ada sesuatu yang oleh Alkitab disebut anugerah. Apakah anugerah (kasih karunia) itu? Memang sulit untuk didefinisikan. Boleh dikatakan bahwa anugerah itu ialah Allah di dalam Kristus dengan semua ada-Nya sebagai kepenuhan bagi kenikmatan kita. Ini meliputi perhentian, penghiburan, kekuatan, tenaga, terang, hayat, kebenaran, kekudusan, dan semua atribut ilahi. Inilah anugerah untuk kita nikmati. Kita mungkin hanya bisa menikmati Allah di dalam Kristus sebagai segala sesuatu. Ketika kita ada di hadirat Allah, pasti kita menikmati kepenuhan dari segala apa adanya Dia. Maka, ayat 16 mengatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Kepenuhan dari ke-Allahan, yakni semua adanya Allah, berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah untuk kita nikmati.

Kita telah melihat bahwa anugerah tak lain adalah Allah dalam Putra sebagai kenikmatan kita. Jika Galatia 2:20 dibandingkan dengan 1Korintus 15:10, Kristus akan jelas tertampak sebagai anugerah yaitu, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” dan “bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Anugerah bukan pemberian benda-benda materiil, bukan pula pemberian barang-barang rohani, melainkan pemberian diri Allah dalam Kristus sebagai kenikmatan kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu yang di luar Kristus adalah sampah (Flp. 3:8). Selain Kristus, selain Allah, perkara-perkara yang paling baik pun di mata rasul tak lain adalah sampah. Dalam bahasa Yunaninya berarti makanan anjing, yakni barang buangan, yang pada zaman kuno dilemparkan kepada anjing-anjing. Apabila seseorang mencari sesuatu selain Allah dalam Kristus, berarti ia mencari sampah. Segala sesuatu selain Allah dalam Kristus adalah barang buangan. Namun Allah dalam Kristus adalah anugerah bagi kita, dan anugerah ini melimpah melalui inkarnasi. Anugerah adalah Allah sendiri yang kita nikmati dalam Kristus sebagai satu-satunya kenikmatan kita yang penuh.

Ketika kita menikmati Allah dan berbagian dalam-Nya, itulah anugerah. Sekali lagi, anugerah adalah Allah dalam Putra untuk kita nikmati. Anugerah ialah Allah dalam pengalaman kita, bukan dalam doktrin. Sewaktu Anda mengalami Allah sebagai kekuatan, hayat, penghiburan, perhentian, kuasa, kebenaran, dan kekudusan Anda, itulah anugerah. Kristus menyatakan Allah Bapa dengan jalan kenikmatan, hari demi hari menyuguhkan kita bagian kenikmatan atas Allah.

Semakin kita menikmati Allah, semakin kita mengenal Dia. Cara satu-satunya untuk mengenal makanan tertentu adalah memakannya. Boleh saja Anda memberi tahu saya bahwa suatu makanan itu lezat, namun saya tidak mungkin mengetahuinya tanpa mencicipinya. Bila saya memakan makanan itu, maka hal itu akan dinyatakan melalui kenikamatan saya terhadapnya. Sekarang saya telah mengenalnya, tetapi saya tetap tidak dapat menerangkannya kepada Anda. Jika Anda ingin mengenalnya, Anda harus makan juga. Jadi, Allah akan dinyatakan kepada kita melalui pengecapan kita terhadap Dia. Kita perlu mengecap Allah. Kita perlu menikmati Allah sebagai anugerah kita, karena inilah jalan di mana Kristus menyatakan Allah kepada kita. Perkara ini melampaui perbendaharaan kata-kata manusia. Kita telah mempunyai kenikmatan, tetapi sulit sekali untuk menceritakan kepada orang lain tentang ini. Misalnya, Anda telah mencicipi sepotong kue, lalu berkata, “Kue ini lezat.” Bila saya minta Anda menerangkan bagaimana kelezatan kue itu, Anda mungkin akan menjawab, “Aku tak dapat menerangkannya. Anda harus mencicipinya sendiri.” Kita perlu mengecap Allah. Kristus datang dengan kepenuhan anugerah Allah. Kita perlu menikmati hadir-Nya dan tetap tinggal bersama Dia. Kemudian kita akan mengambil bagian dalam apa adanya Allah. Dengan jalan ini, Allah ternyata kepada kita, dan kita akan mengenal Dia.

D. Penuh Realitas

Bila kita menikmati Allah, kita bukan hanya mempunyai anugerah, melainkan juga realitas. Ketika Allah kita nikmati, kita akan mempunyai kenikmatan, yaitu anugerah. Ketika kita mempunyai kenikmatan ini, kita akan mengetahui realitas Allah. Hal terakhir yang berhubungan dengan inkarnasi Allah adalah realitas. Kebenaran dalam Injil Yohanes sesungguhnya berarti realitas. Ini berarti realisasi Allah dan realitas Allah. Dalam Perjanjian Baru, Paulus pernah mengatakan bahwa semua perkara adalah sampah (Flp. 3:8); dan Salomo pernah berkata bahwa segala sesuatu sia-sia belaka (Pkh. 1:2), tanpa realitas. Tidak ada satu pun yang adalah realitas, segala sesuatu adalah sia-sia. Segala sesuatu dalam pandangan rasul adalah sampah, dan segala sesuatu dalam pandangan Raja Salomo adalah kesia-siaan. Hanya Allah yang adalah realitas. Mempunyai Allah berarti mempunyai realitas. Semakin kita mengalami Allah, kita semakin menikmati anugerah dan memahami realitas.

Anugerah ialah Allah kita nikmati dalam Anak, realitas ialah Allah kita realisasikan dalam Anak. Anugerah itulah realitasnya. Mengatakan “Allah itu terang” mungkin masih merupakan doktrin, tanpa realisasi. Tetapi apabila Anda mengambil bagian dalam Allah, mengalami Allah sebagai terang Anda, Anda pasti mempunyai realisasi akan Allah sebagai terang. Demikian juga, mengatakan “Allah itu hayat” mungkin masih merupakan istilah. Tetapi ketika Anda menikmati Kristus sebagai bagian Anda, Anda sudah mempunyai realisasi bahwa Allah itulah hayat di dalam Anda. Jadi, anugerah adalah Allah dinikmati oleh Anda, dan realitas adalah Allah direalisasikan oleh Anda dalam kenikmatan itu.

Baik anugerah maupun realitas datangnya bersama dengan Kristus. Ayat 17 mengatakan, “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Hukum Taurat menuntut manusia menurut apa adanya Allah, tetapi anugerah menyuplai manusia dengan apa adanya Allah guna memenuhi tuntutan-tuntutan Allah. Hukum Taurat, paling banyak hanyalah sebuah kesaksian mengenai apa adanya Allah (Kel. 25:21), sedang realitas adalah pernyataan akan apa adanya Allah. Tak seorang pun bisa berbagian akan Allah melalui hukum Taurat, tetapi anugerah memungkinkan manusia menikmati Allah dan realitas adalah realisasi Allah terhadap manusia. Akhirnya, anugerah adalah Allah dinikmati oleh manusia, dan realitas adalah Allah direalisasikan oleh manusia. Berhubung anugerah maupun realitas datang bersama Yesus, maka ketika Yesus ada bersama kita, kita akan mempunyai anugerah dan realitas. Kita memang tidak mempunyai bahasa yang cukup untuk menggambarkan hal ini, akan tetapi kita bisa mengenalnya sejauh yang kita alami. Sering kali kita menikmati Allah dalam Kristus sebagai anugerah kita, dan sering kali pula kita merealisasikan Allah dalam Kristus sebagai hayat, terang, kenikmatan, perhentian, kesabaran, kerendahan hati yang sejati dan banyak lagi hal lainnya. Inilah realisasi Allah.

Sewaktu kita menikmati Allah dalam Kristus sebagai anugerah serta memahami-Nya dalam Kristus sebagai realitas, kita akan menemukan betapa tak terduganya kekayaan Kristus. Dari kepenuhan-Nya kita telah menerima anugerah demi anugerah. Dalam Kristus yang berinkarnasi ada kepenuhan yang limpah ruah, karena kepenuhan Allah berhuni di dalam Dia (Kol. 2:9). Melalui inkarnasi Allah dalam Kristus, kita dapat menerima kekayaan anugerah dan realitas yang berasal dari kepenuhan ilahi-Nya.

Anugerah dan realitas tidak ada batasnya, selalu meluap. Segala sesuatu yang kita nikmati kecuali Allah dalam Kristus mempunyai batas; akan tetapi bila kita menikmati Allah dalam Kristus sebagai anugerah dan realitas, kita akan menemukan bahwa pada-Nya tidak ada batas kecuali keluapan. Keluapan ini tidak terbatas. Semakin Anda menikmati keluapan ini, Anda akan semakin mengenal betapa ini tak terbatas. Anugerah tak pernah akan asat dinikmati oleh Anda, realitas juga tidak akan habis Anda alami. Semakin Anda mengalami, semakin ada; dia akan bertambah menurut kapasitas pengalaman Anda. Kapasitas kita menentukan ukuran kita terhadap keluapan ke-Allahan ini. Berapakah keluapan Allah terhadap Anda? Jika kapasitas Anda sebesar 8 ons, maka keluapan Allah terhadap Anda juga 8 ons. Jika kapasitas Anda diperluas hingga 800 gallon, maka keluapan Allah akan diisi ke dalam ukuran itu hingga penuh. Jika keluapan Anda sebesar Lautan Pasifik, maka Anda akan mengetahui bahwa keluapan Allah juga seluas itu. Pada hakikatnya, kapasitas sebesar Lautan Pasifik pun belum cukup besar. Kita memerlukan kapasitas lautan yang tak terbatas. Sekalipun kapasitas kita bertambah sampai setingkat itu, Allah pun akan mengisinya hingga penuh. Jadi kenikmatan Allah dalam Kristus tidaklah terbatas. Berapa banyak kita menikmati keluapan-Nya tergantung pada kapasitas kita.

E. Di Dalam Anak Tunggal Allah

Penyertaan Allah ada dalam Anak Tunggal Allah. Sejak azali Ia sudah berada di pangkuan Bapa, dan setelah berinkarnasi, tetap ada di pangkuan Bapa. Ayat 18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Anak Tunggal ada bersama-sama dengan Allah Bapa. Dulu, sekarang, dan sampai kekal ada di pangkuan Bapa. Kalimat dalam ayat 18 memang sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Dapatkah Anda mengatakan apakah makna di pangkuan Bapa? Saya tidak pernah mendengar suatu definisi yang memuaskan saya. Perkara ini terlalu dalam. Saya benar-benar tidak dapat memberi tahu apa maknanya, karena saya kurang mengerti dan kurang pengutaraan. Namun, bagaimanapun juga kita mengetahui bahwa Anak Tunggal Bapa ini terus-menerus ada di pangkuan Bapa serta menyatakan Bapa. Inilah cara Dia menyatakan Bapa sambil membawa kita ke dalam kenikmatan Bapa.

Allah terekspresi dalam Kristus, dan pada Kristus kita mempunyai anugerah dan realitas. Jadi ketika kita datang kepada Kristus, kita menikmati anugerah serta mempunyai bagian dalam realitas. Ayat 18 memberi tahu kita bahwa Kristus, sebagai Anak Tunggal Allah, ada di pangkuan Allah Bapa. Jadi jika kita menikmati Kristus dengan cara yang intim seperti ini, pasti kenikmatan yang mesra terhadap-Nya ini akan membawa kita kepada Allah Bapa. Dengan kata lain, kenikmatan terhadap Kristus ini membawa kita ke dalam pangkuan Bapa. Dengan Bapa, kita mempunyai kasih dan terang. Kristus adalah ekspresi Allah, begitu pula anugerah adalah ekspresi kasih, dan realitas adalah ekspresi terang. Ketika kita menikmati Kristus sebagai anugerah dan realitas, kenikmatan ini membawa kita ke pangkuan Bapa di mana kita menikmati kasih dan terang. Kasih adalah sumber realitas yang tersembunyi. Inilah sebabnya dalam Injil Yohanes kita menjumpai anugerah dan realitas, tetapi dalam Surat 1Yohanes kita mempunyai kasih dan terang (1Yoh. 1:5; 4:7-8). Injil Yohanes membawa Allah kepada kita, lalu kita menikmati-Nya sebagai anugerah dan realitas. Surat 1Yohanes membawa kita kepada Allah, lalu kita menikmati-Nya sebagai kasih dan terang. Jika kita hanya menikmati anugerah saja, maka kenikmatan ini belum cukup dalam. Ketika anugerah membawa kita ke dalam kasih, berarti kita telah mencapai sumber dari mana anugerah itu mengalir keluar. Bila kita menelusuri kembali anugerah kepada sumbernya, pastilah anugerah menjadi kasih. Demikian pula, terang adalah sumber dari mana realitas mengalir keluar. Jika Anda menelusuri kembali realitas kepada sumbernya, Anda akan tiba pada terang, karena terang itulah pengalaman yang terdalam dari realitas.

F. Menyatakan Allah

Kita telah melihat bahwa Firman berinkarnasi untuk menyatakan Allah, mengekspresikan Allah (Ibr. 1:3), menjelaskan Allah, dan menerangkan Allah. Anak Tunggal Bapa menyatakan Allah melalui Firman, hayat, terang, anugerah, dan realitas. Kita telah melihat bahwa kelima hal ini berhubungan dengan inkarnasi Allah. Semuanya ini ditemukan dan digenapi dalam diri Allah. Firman adalah Allah diekspresikan, hayat adalah Allah disalurkan, terang adalah Allah dipancarkan, anugerah adalah Allah dinikmati, dan realitas adalah Allah direalisasikan, dipahami. Allah sepenuhnya dinyatakan dalam Putra melalui kelima perkara ini. Inti atau pokok dari semuanya ini adalah diri Allah sendiri. Melalui hal-hal itu Allah dinyatakan. Meskipun tak seorang pun pernah melihat Allah, namun Putra Allah telah menyatakan-Nya melalui Firman, hayat, terang, anugerah, dan realitas. Semakin kita menerima Firman, memiliki Allah sebagai hayat kita, membiarkan terang hayat ini bercahaya dalam kita, dan semakin banyak kita menikmati Allah sebagai anugerah, dan memahami Dia sebagai realitas, Allah semakin dinyatakan kepada kita. Menyatakan Allah berarti mengekspresikan, menjelaskan, dan menerangkan Allah. Melalui Dia berinkarnasi sebagai Firman, hayat, terang, anugerah, dan realitas, Kristus telah menyatakan, mengekspresikan, menjelaskan, dan menerangkan Allah.

Delapan belas ayat pertama dari Yohanes 1 boleh diringkas ke dalam beberapa kata yang sederhana: Firman, Allah, hayat, terang, anugerah, dan realitas. Yohanes 1:1-18 memberi tahu kita betapa melalui Firman, semua hal itu terbit; dan Firman sebagai Allah sendiri berinkarnasi membawa anugerah dan realitas kepada manusia. Di dalam-Nya ada hayat, yang tak lain adalah terang manusia. Siapa saja yang menerima Dia secara demikian, ia adalah yang dilahirkan oleh-Nya, dan memiliki-Nya sebagai hayat dan terang. Kemudian mereka membagi nikmat atas Dia sebagai anugerah dan realitas. Dengan jalan inilah Allah dalam Putra dinyatakan kepada manusia. Melalui Firman, hayat, terang, anugerah, dan realitas, Kristus menyatakan, menjelaskan, dan menerangkan Allah kepada kita.