PENDAHULUAN UNTUK HAYAT DAN PEMBANGUNAN (1)
I. FIRMAN, YANG ADALAH ALLAH, DATANG
SEBAGAI HAYAT DAN TERANG UNTUK
MENGHASILKAN ANAK-ANAK ALLAH
A. Pada Mulanya Ada Firman
Meskipun bahasa yang digunakan Injil Yohanes mudah dan sederhana, namun dalam Alkitab, kitab ini sebenarnya merupakan kitab yang paling dalam. Sebagai contoh, kalimat pertama dari kitab ini mengatakan, “Pada mulanya ada Firman.” Kalimat ini sangat sederhana, tetapi kedalaman maknanya tidak terukur. Apakah pada mulanya itu? Mengertikah Anda, apakah pada mulanya itu? Sungguh sulit sekali menjawabnya. Lagi pula, apakah Firman itu? Jika Anda mengatakan Firman itu adalah Kristus, saya akan bertanya kepada Anda, mengapa dalam ayat ini Kristus ditunjuk sebagai Firman? Mengapa Ia tidak ditunjuk sebagai yang lainnya? Istilah “Firman” yang dipakai untuk menun-jukkan Kristus ini sangat bermakna. Walaupun kalimat ini mengandung arti yang sangat dalam, tetapi kita akan mencoba menggalinya.
1. Pada Mulanya — Zaman Azali
Alkitab dimulai dengan kata-kata, “Pada mulanya.” Akan tetapi yang dimaksud dalam Kejadian 1:1 berlainan dengan Yohanes 1:1. Kejadian 1:1 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Dua kitab ini, Kitab Kejadian dan Kitab Yohanes, memang dimulai dengan kalimat yang sama, tetapi arti masing-masing kalimat mutlak berbeda. Ungkapan “pada mulanya” dalam Kitab Kejadian menyatakan permulaan waktu, karena ditujukan pada penciptaan Allah. Jadi, Kejadian 1:1 menyatakan permulaan waktu di mana Allah menciptakan segala sesuatu. Ungkapan ini berbeda artinya dengan yang terdapat dalam Yohanes 1:1, karena “pada mulanya” dalam Yohanes 1:1 ditujukan pada kekekalan yang lampau, tanpa awal. “Pada mulanya” dalam Kejadian 1, dimulai dari waktu penciptaan, sedangkan dalam Yohanes 1 adalah permulaan sebelum waktu penciptaan. Dengan kata lain, “pada mulanya” dalam Kitab Kejadian merupakan permulaan waktu, dan “pada mulanya” dalam Injil Yohanes merupakan permulaan sebelum ada waktu; itu ditujukan pada zaman azali (kekekalan yang lampau) yang tanpa permulaan.
Seperti yang telah kita bahas pada berita yang lalu, ministri Yohanes adalah ministri penambalan. Penambalan artinya ada sesuatu yang sudah ada sejangka waktu, namun mengalami kerusakan, pecah atau terluka, dan kini perlu ditambal. Penambalan selalu memulihkan situasi kepada keadaan yang semula. Misalnya, saya mempunyai sebuah jaket yang telah saya pakai selama tujuh tahun. Suatu ketika bagian jaket tersebut ada yang robek atau berlubang, dan istri saya memperbaikinya untuk saya. Sesudah ia memperbaiki bagian yang rusak itu, jaket itu telah dipulihkan ke dalam keadaan yang semula yaitu keadaan sebelum rusak. Demikian juga, gereja telah ada sejak hari Pentakosta. Tetapi, tidak lama setelah adanya gereja, gereja dirusak dan dilukai oleh berbagai paham, opini, konsepsi, filsafat, ide, pengajaran, dan doktrin. Bila Anda meneliti Perjanjian Baru bersama sejarah gereja, Anda pasti nampak bahwa banyak konsepsi yang merusak telah menyelinap sedikit demi sedikit ke dalam gereja melalui Yudaisme. Konsepsi-konsepsi ini telah merusak gereja yang sebermula. Selain itu, pada awalnya, bahkan pada abad pertama, Gnostikisme (percampuran filsafat orang Yunani, Mesir, dan Babel) menyusup juga ke dalam gereja, sehingga mengakibatkan luka-luka yang cukup besar. Jadi gereja yang sebermula telah dirusak oleh konsepsi-konsepsi agamawi orang Yahudi dan konsepsi-konsepsi filsafat orang Yunani. Semuanya itu memunculkan berbagai doktrin dan pengajaran yang melukai gereja, membuat lubang-lubang pada jala rohani.
Lubang terbesar pada jala gereja adalah karena beberapa orang yang mengaku sebagai orang Kristen, namun dengan konsepsi filsafat mereka, telah menyangkal bahwa Kristus itulah Allah yang berinkarnasi sebagai manusia. Mereka menyebut dirinya orang Kristen, tetapi tidak percaya bahwa Kristus, Anak Allah, telah datang dalam rupa tubuh daging. Mereka inilah yang disebut antikristus oleh Yohanes (1Yoh. 2:18, 22). Karena itu, 1Yohanes 4:1-3 menuliskan bahwa kita dapat menguji keaslian roh dengan pertanyaan mengaku atau tidakkah ia bahwa Kristus telah datang sebagai manusia, karena “setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah.” Kemudian, dalam Surat Kirimannya yang kedua, Yohanes memperingatkan kaum beriman terhadap antikristus, orang yang menyatakan diri sebagai orang Kristen, tetapi tidak mengaku Yesus Kristus telah datang dalam tubuh daging (ayat 7). Mereka yang berkhotbah tentang kekristenan tanpa mengakui Kristus adalah Allah yang berinkarnasi sebagai manusia, menyebabkan lubang besar pada jala ini. Karena itu, melalui kedaulatan-Nya, Allah menyediakan ministri penambalan untuk menambal semua lubang itu. Ministri Yohanes telah menunaikan tugas ini, telah membuktikan dan memberi kesaksian bahwa Kristus adalah Allah sendiri yang berinkarnasi, telah datang dalam tubuh daging (Yoh. 1:1, 14).
Dalam prinsipnya, situasi yang kita hadapi hari ini sama dengan situasi yang dihadapi oleh Yohanes pada abad pertama. Jala-jala rohani telah koyak dan berlubang-lubang besar karena banyak doktrin, pengajaran, konsepsi, dan ide. Kita perlu dibawa kembali kepada keadaan yang semula. Apakah yang ada pada mulanya itu? Pada mulanya hanya ada satu hayat. “Pada mulanya ada Firman ... dan Firman itu adalah Allah ... Dalam Dia ada hidup (hayat).” Injil Yohanes tidak menuliskan, “Dalam Dia ada banyak doktrin.” Cara menambal lubang-lubang pada jala rohani adalah dengan hayat. Kita tidak seharusnya membicarakan doktrin, kita seharusnya menikmati hayat. Jika Anda datang kepada saya dengan maksud ingin memperbincangkan doktrin, saya akan berkata, Oh, Tuhan Yesus! Kristus sungguh intim, elok, dan manis. Saudara yang terkasih, marilah kita berseru pada-Nya! Menikmati-Nya! Asal kita mempunyai Kristus sebagai kenikmatan kita, segalanya akan baik dan indah. Marilah kita melupakan doktrin. Nikmati saja Dia!” Ministri penambalan dirampungkan melalui hayat, karena hayatlah yang memulihkan kita ke dalam keadaan semula. Pada mulanya tidak ada apa-apa, kecuali hayat.
2. Firman — Definisi, Penjelasan, dan Ekspresi Allah
Firman adalah definisi, penjelasan, dan ekspresi Allah; berarti, Allah didefinisikan, dijelaskan, dan diekspresikan. Allah itu misterius. Ia memerlukan Firman untuk mengekspresikan diri-Nya. Jika Anda ingin terlihat misterius, jalan yang terbaik ialah membungkam diri, karena semakin Anda diam seribu bahasa, semakinlah kelihatan misterius. Sebaliknya, semakin banyak Anda berbicara, semakin banyak pula Anda menyingkapkan diri Anda, sehingga semua yang tersembunyi dalam diri Anda akan terbongkar melalui perkataan Anda. Inilah artinya Firman itu. Walaupun Allah itu misterius, namun Kristus sebagai Firman Allah, telah mendefinisikan, menjelaskan, dan mengekspresikan Allah. Jadi Firman itu merupakan definisi, penjelasan, dan ekspresi Allah. Akhirnya, Firman itu adalah Allah sendiri, bukan Allah yang tersembunyi, rahasia, dan misterius, tetapi Allah yang didefinisikan, dijelaskan, dan diekspresikan. Firman itu bukanlah Allah yang tidak dapat dilihat, melainkan Allah yang dapat dilihat. Pada mulanya Firman itu bersama-sama dengan Allah, Ia tidak terpisah dari Allah, melainkan selalu mempunyai Allah di dalam-Nya.
B. Firman Itu Bersama-sama dengan Allah
Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan ayat 2 mengatakan, “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” Firman itu selalu bersama-sama dengan Allah, dan selalu mengandung Allah di dalam-Nya. Ia tidak pernah terpisah dari Allah. Kapan kala anak-anak muda jauh dari rumahnya, mereka akan selalu menerima surat dari orang tua mereka. Surat tersebut adalah perkataan dari ibu atau ayah mereka. Andaikata, Anda menerima sebuah surat dari ayah Anda, maka surat tersebut adalah perkataan ayah Anda yang datang kepada Anda. Tetapi ketika perkataan itu datang, mustahil merupakan perkataan yang bersama-sama dengan ayah Anda. Meskipun surat tersebut adalah perkataan ayah Anda, namun bukanlah perkataan yang bersama-sama dengan ayah Anda, karena Anda dan ayah Anda saling berjauhan. Ini berarti perkataan ayah Anda terpisah dari pribadi ayah Anda. Berbeda sekali dengan Kristus sebagai perkataan Allah. Janganlah sekali-kali mengira firman atau perkataan itu terpisah dari Allah. Tidak, perkataan itu ada dan selalu bersama-sama dengan Allah. Kapan perkataan itu datang, Allah pun datang. Kapan perkataan itu hadir, Allah pun hadir. Perkataan itu bersama-sama dengan Allah. Jadi, kita mempunyai kalimat yang lain lagi dalam Yohanes 1:1 yang memberi tahu kita bahwa perkataan itu bersama-sama dengan Allah.
C. Firman Itu Adalah Allah
Kalimat terakhir dari Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah.” Janganlah memahami Alkitab hanya berdasarkan hitam di atas putih. Ayat ini mengatakan bahwa sebagai Firman (perkataan), Kristus bersama-sama dengan Allah dan juga adalah Allah. Kristus dan Allah itu satu atau dua? Jika Ia dan Allah adalah satu, mengapa Alkitab menerangkan bahwa Ia bersama-sama dengan Allah? Mungkinkah dua pernyataan ini serasi? Kita tidak mungkin menyerasikannya. Dalam ayat ini kita menemukan rahasia untuk memahami seluruh isi Injil Yohanes. Dalam berita selanjutnya kita akan menemukan banyak butir yang sejalan dengan masalah ini. Sebagai contoh, Tuhan berkata kepada Nikodemus, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia yang tetap ada di surga” (Tl.). Di manakah Dia? Di surga atau di bumi? Kita wajib menjawab, “Haleluya, Ia berada di sini, juga berada di sana.” Ia dapat berada di sini sekaligus di sana, sebab Ia itu hadir di mana-mana. Walaupun kita tidak dapat menjelaskannya, tetapi kita mempunyai perkataan yang jelas. Terima saja perkataan ini: “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Sekalipun kita tidak dapat menyerasikan semua kalimat dalam ayat ini, tetapi kita harus dengan sederhana menerima ayat ini sebagai firman Allah.
Penulisan Yohanes memang singkat, tetapi ia sangat berhati-hati dan teliti. Ia menyadari kemungkinan adanya orang yang akan membantah dan berkata, “Ia itu bersama-sama dengan Allah, dan Ia itulah Allah, tetapi pada mulanya Ia mungkin tidak bersama-sama dengan Allah. Pada mulanya Ia adalah Firman, tetapi Ia tidak bersama-sama dengan Allah, melainkan setelah suatu saat kemudian, Firman baru bersama-sama dengan Allah dan akhirnya menjadi Allah.” Bila Anda membaca sejarah gereja, Anda akan menemukan bahwa bahkan pada abad pertama sudah ada segolongan ahli pemikir yang menyebarkan bahwa Kristus bukanlah Allah pada mulanya, hanya pada saat tertentu Ia menjadi Allah. Jadi Yohanes menambahkan ayat 2 bukan hanya mengulangi sebagian ayat pertama tetapi juga bermaksud menegaskan, “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” Kristus bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah sejak semula. Pada mulanya, berarti pada kekekalan yang lampau; Firman itu bersama-sama dengan Allah. Ini bertentangan dengan anggapan beberapa orang yang mengatakan bahwa Kristus tidak bersama-sama dengan Allah dan bukan Allah di dalam kekekalan yang lampau, baru pada suatu waktu tertentu, Kristus menjadi Allah dan bersama-sama dengan Allah. Keilahian Kristus adalah kekal dan mutlak. Dari kekekalan yang lampau sampai kekekalan yang akan datang, Ia senantiasa bersama-sama dengan Allah, dan Ia adalah Allah. Itulah sebabnya dalam kitab Injil ini tidak tercantum silsilah Kristus seperti dalam Matius 1 dan Lukas 3. Dalam Injil ini Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tak berawal dan hidupnya tak berkesudahan (Ibr. 7:3). Kita semua harus tahu dengan jelas bahwa Kristus kita bersama-sama dengan Allah, juga adalah Allah sejak mulanya. Ia adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah pada mulanya.
D. Penciptaan Melalui Firman
Penciptaan terjadi melalui Firman. Saya menyukai Yohanes 1:3 yang mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Apakah artinya, segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah dijadikan? Artinya, tanpa Dia tidak satu pun yang terjadi. Pada suatu hari, melalui Firman, sekian banyak benda telah dijadikan. Di satu pihak, kita dapat mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan apa-apa karena Ia tidak perlu berbuat apa-apa. Bagi-Nya cukup mengatakan, “Jadilah,” maka terjadilah segala sesuatu. Menurut konsepsi manusia, semua penciptaan memerlukan tenaga. Tetapi dalam penciptaan, Allah hanya memakai Firman, bukan tenaga. Ketika Allah berfirman, “Jadilah terang,” terang pun jadi. Ketika Ia berfirman “Jadilah cakrawala,” maka cakrawala pun jadi. Ketika Ia berfirman, “Muncullah daratan yang kering,” maka daratan itu pun muncul. Aliran atheis mengatakan itu omong kosong, karena mereka tidak percaya akan Allah. Kita ini percaya kepada Allah, juga percaya kepada Kristus yang almuhit. Melalui Dia sebagai Firman terjadilah segala sesuatu.
Sama prinsipnya dengan ciptaan yang baru. Meskipun kita ini manusia ciptaan lama, Alkitab memberi tahu kita bahwa kita harus menjadi manusia ciptaan baru. Menurut konsepsi manusia, perubahan ini memerlukan banyak pekerjaan. Padahal sama sekali tidaklah demikian. Semuanya itu tergenapi melalui Firman yang adalah Kristus. Jika seseorang mau mengatakan, “Tuhan Yesus,” maka ia akan menjadi manusia baru, bahkan sebelum perkataan itu selesai meluncur dari bibirnya. Hanya mengucapkan kata “Tuhan” yang singkat ini saja, maka sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Abraham percaya kepada Allah “yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm. 4:17). Allah tidak berbuat apa-apa, Ia hanya berkata atau menyebutkan. Awalnya tidak ada barang yang disebut terang, tetapi ketika Allah mengucapkan, “Terang,” maka muncullah terang. Inilah penciptaan Allah. Jika Ia tidak menciptakan dengan cara ini, Ia pasti sama seperti kita. Allah tidaklah seperti kita, Allah itu Allah. Segala sesuatu terjadi melalui Firman. Asalkan Anda memiliki Firman, Anda sudah memiliki segalanya.
Hal ini seharusnya menguatkan serta memantapkan iman kita. Setiap saat Anda menerima Firman itu, pasti sesuatu yang tidak ada akan menjadi ada. Sungguh ajaib! Jangan berkata bahwa Anda ini lemah, karena semakin Anda berkata Anda lemah, Anda akan semakin lemah. Sebaliknya, jika Anda menerima Firman sambil berkata, “Aku kuat,” pasti kuat itu menjadi ada. Janganlah berkata, “Aku tidak memiliki kekuatan.” Semakin Anda mengatakan tidak memiliki kekuatan, semakin tidak kuatlah Anda. Akan tetapi jika Anda berkata, “Puji Tuhan, melalui Firman, aku memiliki kekuatan,” pasti Anda akan memiliki kekuatan, kekuatan yang tadinya tidak ada menjadi ada melalui Firman. Jika Anda terganggu oleh penyakit tertentu, jangan terlalu memikirkan penyakit itu, tetapi berkatalah, “Melalui Firman, aku sehat.” Jika Anda berkata demikian, maka kesehatan yang tidak ada itu menjadi ada. Para saudari sering datang kepada saya dan berkata, “Saudara, kami sebagai saudari tidak memiliki hikmat. Kami datang kepada Anda karena Anda memiliki hikmat.” Saudari-saudari, semakin kalian mengatakan kalian tidak berhikmat, semakin sedikit hikmat yang kalian peroleh. Jangan percaya akan kebohongan yang mengatakan kalian tidak mempunyai hikmat. Bukankah kalian mempunyai Firman? Asal-kan Anda mempunyai Firman, Anda seharusnya menegaskan, “Aku mempunyai hikmat melalui Firman.” Jika Anda menegaskan demikian, pasti Anda mempunyai hikmat. Kita tidak mempunyai apa-apa atas diri kita sendiri, namun kita mempunyai segala sesuatu melalui Firman.
Apakah penciptaan? Penciptaan ialah melalui Firman menyebut sesuatu yang tidak ada sebagai yang ada. Firman itu sarana sekaligus ruang lingkupnya. Kapan kala Anda mempunyai Firman, Anda sudah mempunyai sarana dan ruang lingkup sehingga Anda dapat berkata, “Karena aku mempunyai Firman sebagai sarana dan ruang lingkup, maka barang yang tidak ada menjadi ada.” Belajarlah berkata, “Melalui Firman, yang tidak ada menjadi ada.” Saya tidak lagi terpisah dari Firman. Saya dalam Firman dan bersama-sama dengan Firman. Jadi, melalui Firman, yang tidak ada menjadi ada.
E. Hayat di Dalam Firman
Sekarang kita sampai pada masalah yang terpenting: Hayat di dalam Firman. “Dalam Dia ada hidup (hayat)” (1:4). “Dia” dalam Yohanes 1:4 menunjukkan bahwa Firman adalah Allah dan melalui Dia segala sesuatu telah dijadikan. Di dalam Dia ada hayat. Mengapa Dia menciptakan segala sesuatu sebelum Dia datang sebagai hayat? Karena agar Dia dapat diterima sebagai hayat, terlebih dulu Ia memerlukan wadah penampung. Misalkan sebelum menciptakan segala sesuatu, Ia sudah datang sebagai hayat, maka kepada siapakah Ia menjadi hayat? Memang Ia itu hayat, tetapi Ia tidak akan menemukan wadah yang menerima-Nya sebagai hayat. Jadi, sebelum Ia datang sebagai hayat, Ia terlebih dulu menciptakan langit, bumi, dan manusia yang mempunyai roh untuk menerima Dia. Zakharia 12:1 mengatakan bahwa Allah membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi dan menciptakan roh dalam diri manusia. Jadi, langit untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia diciptakan dan dilengkapi dengan roh untuk menerima Allah. Demikian baru Firman itu bisa menjadi hayat dan diterima oleh manusia. Penciptaan menghasilkan wadah penampung hayat.
Kita telah nampak bahwa hayat di dalam Firman. Hayat hanya dapat dijumpai dalam ekspresi Allah. Firman yang adalah ekspresi dan penjelasan Allah, mengandung Allah sebagai hayat kita. Ketika kita menerima Firman, kita pun menerima hayat yang terkandung di dalamnya. Baik Firman maupun hayat, keduanya adalah Allah sen-diri. Firman itu ekspresi Allah, dan hayat itu isi Allah. Ketika kita mendengarkan Firman, kita tahu bahwa Allah diekspresikan dan dijelaskan; ketika kita menerima Firman, kita menerima isi Allah sebagai hayat, sehingga kita dilahirkan oleh Allah, serta menjadi anak-anak Allah. Hayat di dalam Firman adalah isi Allah.
Karena ayat 2 mengacu kepada penciptaan dalam Kejadian 1, maka hayat dalam ayat 4 seharusnya mengacu kepada hayat yang ditunjukkan oleh pohon hayat dalam Kejadian 2. Ini dipertegas dengan fakta bahwa di dalam Wahyu 22, Yohanes menyinggung pohon hayat. Karena hayat ada di dalam Dia, maka Dia adalah hayat (Yoh. 11:25; 14:6), dan Ia datang supaya manusia bisa mempunyai hayat (Yoh. 10:10).
Manusia diciptakan menjadi wadah untuk menampung Allah sebagai hayat. Dalam penciptaan, manusia hanya sebuah wadah yang kosong; ia tidak mempunyai hayat sejati. Hayat yang tercipta dalam manusia bukanlah hayat yang sejati. Hayat sejati adalah hayat ilahi, yang terdapat dalam Kristus. Hayat apakah yang Anda miliki sebelum Anda menerima Kristus? Itu hanya hayat sementara, bukan hayat permanen atau hayat kekal; hayat yang instan, bukan yang konstan. Sebelum kita menerima Kristus, kita tidak tahu pasti berapa lama hayat sementara kita ini dapat bertahan. Jadi, dalam satu arti, dapat dikatakan bahwa sebelum kita diselamatkan, kita tidak memiliki hayat. Hayat di dalam Kristus itu kekal, konstan, dan permanen. Setiap orang memerlukan hayat ini. Hayat di dalam Kristus adalah hayat yang ilahi, bukan ciptaan. Hayat ini bagi manusia, dan manusia adalah penerima hayat ini.
F. Hayat Adalah Terang Manusia
Yohanes 1:4 mengatakan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Sungguh benar, hayat ini adalah terang manusia. Ketika kita menyeru nama Tuhan Yesus, menerima Dia ke dalam kita, pasti hayat kekal itu masuk ke dalam diri kita. Segera kita merasakan ada sesuatu yang bercahaya di dalam kita. Akan tetapi, mungkin pada waktu itu kita tidak bisa mengutarakan atau menggambarkan dengan bahasa manusia. Itulah terang hayat. Karena hayat menyorot, maka hayat itulah terang manusia. Penyorotan ini adalah penegasan yang paling kuat bahwa kita telah dilahirkan oleh Allah.
Kapan kala Firman itu kita dengar dan hayat itu kita terima, pasti hayat itu menjadi terang yang menyoroti di dalam untuk menerangi kita. Ketika Allah, hayat kekal itu, menerangi di dalam kita sebagai terang hayat, kita pasti berada di bawah penyorotan-Nya. Ketika dilahirkan oleh Allah melalui menerima Firman-Nya, kita akan mempunyai Allah sebagai hayat kita, dan hayat ini menjadi terang di dalam kita yang memancarkan terang setiap saat. Tuhan itu Firman Allah, ekspresi Allah yang dari-Nya kita dapat mengenal Allah. Saat kita menerima-Nya sebagai ekspresi Allah, Ia menjadi hayat kita, dan hayat ini menjadi terang yang menyorot di dalam kita.
Ayat 5 mengatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Kegelapan tidak pernah menguasai atau memadamkan terang, teranglah yang mengusir kegelapan. Ketika terang hayat bercahaya di dalam kita, kegelapan mustahil menguasainya. Selain itu, terang ini adalah terang sejati yang menerangi setiap manusia. Kata “bercahaya” di sini dalam bahasa Yunani adalah kata yang sama penggunaannya dengan terang (Ef. 1:18), membuat...melihat (Ef. 3:9), diterangi (Ibr. 6:4), terang (Ibr. 10:32), mengacu kepada menerangi dalam batin yang membawakan hayat kepada orang-orang yang menerima Firman-Nya. Bagi ciptaan lama, ini adalah terang jasmaniah (Kej. 1:3-5, 14-18). Bagi ciptaan baru, ini adalah terang hayat.
Hayat juga merupakan hak atau kuasa bagi orang yang percaya untuk menjadi anak-anak Allah. “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (1:12-13). Kelahiran yang diungkapkan dalam ayat ini bukanlah kelahiran dari orang tua kita, melainkan kelahiran yang kedua, yang terjadi pada saat kita percaya dalam nama Tuhan Yesus.
Percaya kepada Tuhan sama dengan menerima Dia. Bila dikatakan menerima Tuhan Yesus, mungkin Anda akan berkata bahwa Anda belum pernah melakukan hal itu. Namun saya ingin mengajukan satu pertanyaan kepada Anda, “Sudahkah Anda percaya Tuhan Yesus? Sewaktu Anda mendengar suara-Nya, bukankah Anda percaya kepada-Nya?” Asalkan seseorang sungguh-sungguh percaya kepada nama yang tersayang itu, saya yakin, ia pasti akan mengucapkan, “Tuhan Yesus.” Asal saja Anda menyebut nama-Nya dari lubuk batin Anda, itu berarti Anda percaya kepada Dia. Jika Anda percaya kepada Dia dengan menyeru nama-Nya, itu sudah membuktikan bahwa Anda telah menerima Dia, sehingga Anda beroleh hak menjadi anak Allah. Apakah kuasa atau hak itu? Yaitu Kristus sendiri menjadi hayat Anda. Kristus sebagai hayat ini adalah Roh keputraan, dan Roh keputraan inilah yang membuat Anda menjadi anak Allah. Anda bisa mengetahui bahwa Anda adalah anak Allah melalui dua perkara: Melalui fakta bahwa Anda percaya kepada-Nya dan menyeru nama-Nya, dan melalui fakta bahwa Anda sering kali secara spontan dan mesra menyeru, “Abba, Bapa.” Jika Anda dapat memanggil Allah “Abba, Bapa” semesra itu, hal itu membuktikan bahwa Anda adalah anak-Nya.
Seperti yang ditegaskan oleh ayat 13, “dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki.” “Darah” di sini dalam bahasa aslinya berbentuk jamak, berarti hayat jasmani; “keinginan jasmani” (daging) mengacu kepada keinginan manusia yang telah jatuh dan menjadi daging; “keinginan seorang laki-laki” mengacu kepada keinginan manusia yang diciptakan oleh Allah. Kita menjadi anak-anak Allah, bukan dilahirkan dari hayat alamiah kita hayat kita yang telah jatuh atau hayat kita yang tercipta kita dilahirkan oleh Allah, hayat yang bukan ciptaan. Manusia menjadi anak Allah berarti memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi.
Mengapa Allah melahirkan anak-anak sebanyak itu? Bukan semata-mata karena Ia mengasihi kita atau kasihan kepada kita. Meskipun Ia mengasihi kita, namun tujuan-Nya dalam melahirkan anak sebanyak itu adalah untuk “perkembangbiakan-Nya”. Allah senang “berkembang biak”. Setiap ayah mempunyai perkembangbiakan masing-masing. Sebelum Allah melahirkan kita, Ia adalah Allah yang sendirian. Ia hanya bisa memandang kepada diri-Nya sambil berkata, “Di sini Aku sendirian, Aku ini mahakuasa, mahatahu, hadir di mana-mana, Aku ini segala-galanya, tetapi Aku kesepian.” Kini setelah melahirkan banyak anak, Allah dapat berkata, “Tengoklah perkembangbiakan-Ku!” Melalui setiap abad dan generasi, Allah terus mengembangbiakkan diri-Nya.
Pada mulanya ada Firman dan di dalam-Nya ada hayat. Melalui penciptaan Ia menyediakan banyak wadah penampung. Hari ini wadah-wadah ini telah menjadi perkembangbiakan dari Allah, dan perkembangbiakan ini telah menjadi pertambahan dan ekspresi korporat Allah. Allah terekspresi sepenuhnya melalui anak-anak-Nya sebagai pertambahan dan ekspresi korporat-Nya.
Tadinya Allah hanya mempunyai seorang Anak, yaitu Anak Tunggal sebagai ekspresi-Nya. Ekspresi ini boleh disebut sebagai ekspresi individual. Sekarang Allah melalui perkembangbiakan hayat-Nya, telah memiliki banyak anak sebagai ekspresi-Nya. Ekspresi ini boleh disebut ekspresi korporat yang terdiri atas Anak-Nya yang sekarang menjadi Anak sulung-Nya ditambah saudara-saudara-Nya yang ba-nyak itu. Inilah salah satu aspek utama yang diwahyukan kitab ini.