← Daftar isi Yohanes (2) · bab 1/18

PENDAHULUAN

Berita ini merupakan kata pendahuluan dari Pelajaran Hayat Injil Yohanes. Kita perlu memiliki pandangan yang menyeluruh atas Alkitab. Berulang-ulang pada waktu yang lampau telah kita tegaskan bahwa Alkitab meliputi dua hal yang pokok: Kristus dan gereja. Atau ditinjau dari sudut lain, Alkitab adalah kitab hayat dan pembangunan. Kristus itu hayat, sedang gereja itu pembangunan. Sewaktu membicarakan Kristus dan gereja, kita harus menyadari bahwa Kristus itu hayat dan gereja itu pembangunan. Tanpa mengenal Kristus itu hayat dan gereja itu pembangunan, ungkapan ini tak lebih dari istilah-istilah doktrinal. Apakah Kristus? Kristus itulah hayat kita (Kol. 3:4). Apakah gereja? Gereja itulah pembangunan Allah.

Alkitab itu sangatlah selaras. Jika Anda membacanya dengan pandangan yang menembus ke dalam dan dengan visi surgawi, Anda akan menemukan bahwa Alkitab dimulai dari hayat dan pembangunan. Dalam Kejadian 2 kita nampak hayat dan pembangunan. Segera setelah penciptaan manusia, hayat ditampilkan. Setelah TUHAN Allah menciptakan manusia, Dia menempatkan manusia dalam sebuah taman di depan pohon hayat (Kej. 2:7-9). Setelah pohon hayat disebut, menyusullah sungai yang mengalir dan tiga benda yang berharga: emas, damar bedolah (mutiara), dan batu krisopras (sejenis batu permata). Menurut wahyu Alkitab yang lebih lanjut, khususnya Wahyu 21, benda-benda yang berharga ini adalah untuk pembangunan Allah. Dalam Kejadian 2:22 kita menjumpai sebutan yang khas mengenai pembangunan, “Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, di bangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu”. Allah mengambil sebuah tulang rusuk Adam dan memakainya untuk membangun seorang istri bagi Adam. Jadi, laki-laki diciptakan, sedang perempuan dibangun. Dalam Kejadian 2, kita mendapatkan hayat, benda-benda yang dihasilkan oleh aliran hayat, dan pembangunan seorang istri. Jadi, dalam Kejadian 2 terkandung hayat dan pembangunan.

Kitab Wahyu juga membicarakan hayat. Wahyu 2:7 mengatakan, “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan (hayat) yang ada di Taman Firdaus Allah.” Ini pasti mengacu kepada pohon hayat dalam Kejadian 2. Wahyu 2:17 mengatakan, “Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih . . .” Ayat ini menyinggung sebuah batu, yang menurut Alkitab bukan untuk tujuan lain kecuali pembangunan. Dalam dua pasal terakhir dari Kitab Wahyu, yakni dua pasal yang terakhir dari Alkitab, kita nampak pembangunan Yerusalem Baru. Di Yerusalem Baru, sungai hayat mengalir dan pohon hayat bertumbuh di sungai itu (Why. 22:1-2). Jelaslah bahwa Alkitab berakhir seperti permulaannya, yakni dengan hayat dan pembangunan.

Antara Kitab Kejadian dan Kitab Wahyu, dua ujung dari Alkitab, ada celah yang lebar dan jarak yang besar. Apakah yang menjembatani celah ini? Injil Yohanes! Kitab Yohanes dimulai dengan kata, “Pada mulanya”. Namun, kalau Anda membaca kitab Injil ini dengan cermat, Anda akan mengetahui bahwa sejarah yang tercatat dalam kitab ini tidak ada akhirnya. Kitab ini dimulai dari kekekalan yang lampau (azali) dan diteruskan sampai kekekalan yang akan datang (abadi) yang tanpa batas. Jadi kitab ini menjembatani jarak antara Kitab Kejadian dan Kitab Wahyu.

Kita telah melihat bahwa Alkitab berawal dari dan berakhir dengan hayat dan pembangunan. Injil Yohanes sebagai jembatan antara dua ujung Alkitab juga merupakan kitab hayat dan pembangunan. Beberapa kalimat pada Yohanes 1 akan meyakinkan kita dengan fakta. “Pada mulanya ada Firman . . . Dalam Dia ada hidup (hayat)” (Yoh. 1:1, 4). Injil Yohanes tidak mengatakan, “Pada mulanya ada doktrin . . . dan dalam doktrin ada pengetahuan.” Tidak, kitab ini mencantumkan bahwa pada mulanya ada Firman, Firman itulah Allah, dalam persona ini Firman yang adalah Allah ada hayat. Jadi, dalam pasal 1 kita telah menjumpai hayat. Selanjutnya Yohanes 1:42 membicarakan sebuah batu. Ketika Simon dibawa oleh Andreas, saudaranya, ke hadapan Tuhan, Tuhan memberi Simon nama baru: Kefas (yang berarti batu). Dalam pasal yang sama kita diberi tahu bahwa di dalam Tuhan ada hayat dan seorang dari murid-murid-Nya telah menjadi batu. Apa artinya? Ini berarti selain menghidupkan, mengaktifkan, dan melahirkan kembali, hayat juga akan mengubah. Hayat akan mengubah setiap orang yang percaya menjadi batubatu.

Tujuan dan fungsi batu ini terwahyukan dalam Yohanes 1:51. Tuhan berkata kepada Natanael, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” Orang-orang Yahudi pada saat itu mengetahui maksud perkataan ini. Karena ini justru penggenapan dari mimpi Yakub yang tercantum dalam Kejadian 28:10-22. Dalam mimpinya, Yakub melihat sebuah tangga didirikan di bumi, ujungnya sampai di langit, dan malaikat-malaikat Allah naik turun di atasnya (Kej. 28:12). Yakub menamai tempat di mana ia bermimpi itu “Betel” (Kej. 28:19) yang artinya “rumah Allah”. Yakub tidur semalaman berbantal batu. Pagi-pagi dia bangun dan menuangkan minyak ke atas batu tersebut serta menamai tempat itu Betel. Tuhan Yesus menyinggung mimpi Yakub sewaktu berkata kepada Natanael. Jadi, dalam terang ayat-ayat ini (Yoh. 1), kita bisa nampak bahwa Injil Yohanes berkaitan dengan hayat dan pembangunan.

Kita telah nampak bahwa Kejadian 2:22 membicarakan pembangunan seorang istri, mempelai perempuan Adam. Injil Yohanes pun menyinggung mempelai perempuan. “Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki” (Yoh. 3:29). Siapakah mempelai perempuan? Menurut Yohanes 3, semua orang yang dilahirkan kembali, disusun menjadi mempelai perempuan itu.

Selain itu, Yohanes 14:2 mengatakan, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Ayat ini memberi tahu kita bahwa Tuhan pergi untuk menyediakan banyak tempat tinggal di rumah Bapa. Dan jika kita mengasihi Tuhan, Dia akan datang dengan Bapa dan tinggal bersama kita (Yoh. 14:23). Bila kita mempelajari Yohanes 14, kita akan jelas bahwa ini ditujukan pada pembangunan kediaman Allah yang kekal, sebuah bangunan yang berisi banyak kediaman. Karena itu, Injil Yohanes seluruhnya adalah tentang hayat dan pembangunan. Jika Anda ingin memahami maksud Alkitab, maka Injil Yohanes tidak boleh Anda kesampingkan. Justru kitab inilah yang merupakan kunci untuk membuka seluruh Alkitab.

Kita telah melihat bahwa Kristus adalah hayat dan gereja adalah pembangunan. Tetapi apakah hayat? Memang benar mengatakan hayat itulah Kristus dan Kristus itulah hayat. Namun, kita harus mengenal bahwa hayat adalah Kristus Sang Allah yang disalurkan ke dalam kita. Banyak orang Kristen mengatakan bahwa Kristus itulah hayat, namun tidak semuanya mempunyai pengalaman ini. Pengalaman yang sejati ialah mengenal Kristus sebagai Allah sendiri yang disalurkan ke dalam kita. Inilah hayat. Tanpa memiliki pengenalan ini, kata “hayat” akan hanya berupa istilah bagi Anda. Hayat itulah Allah Tritunggal yang disalurkan dan digarapkan ke dalam diri kita.

Saya sendiri tidak minum minuman yang mengandung alkohol, tetapi kita boleh mengambil perihal minum segelas arak sebagai perumpamaan. Andaikan saya minum satu gelas besar arak, beberapa saat kemudian wajah saya pasti menjadi merah karena reaksi dari arak. Saya akan menjadi berani, bergejolak, dan tak menguasai diri. Itu karena arak telah menjadi hayat saya. Namun, apabila saya hanya mempelajari arti kata “arak”, membahasnya siang malam sehingga memperoleh sedikit pengetahuan tentang arak, saya tetap tidak mengalami apa-apa. Arak itu tidak ada sangkutpautnya dengan saya. Sebaliknya, jika Anda melupakan pembahasan mengenai arak, setiap hari hanya tahu minum segelas besar arak, Anda tahu apa itu arak, karena arak itu akan tersalur ke dalam Anda, membuat Anda riang bergejolak. Contoh ini memang kurang baik, namun cukup jelas untuk menjelaskan perbedaan antara pengetahuan dengan pengalaman.

Janganlah membicarakan hayat tanpa memahami hayat. Apakah pemahaman akan hayat? Yaitu Allah Tritunggal yang hidup digarapkan ke dalam kita. Tuhan Yesus tidak pernah menyuruh kita membicarakan hayat. Dia malah menegaskan bahwa Dia itulah Roti hayat dan kita perlu makan Dia (Yoh. 6:57). Dia pun menegaskan pula bahwa Dia memberikan air hayat dan kita perlu meminum air ini (Yoh. 4:10, 14). Bila Anda makan roti ini, pasti roti ini akan tergarap ke dalam Anda. Bila Anda minum air ini, air ini akan meresap ke dalam Anda. Anda tidak hanya ada roti dan air, Anda bahkan memiliki hayat. Anda akan memiliki Kristus sebagai Allah Tritunggal yang tersalur dan tergarap ke dalam Anda. Jangan mewarnai wajah Anda. Minum saja arak surgawi, maka wajah Anda akan kelihatan merah. Jangan berpura-pura gembira, sedang batin Anda dirundung dukacita. Asal Anda menyadari bahwa Allah Tritunggal sudah masuk ke dalam Anda, dengan sendirinya Anda akan gembira dan sukacita Anda akan penuh. Inilah hayat.

Apakah pembangunan? Sebagian besar dari Anda sudah biasa dengan istilah pembangunan ini. Beberapa waktu yang lalu beberapa pemuda berkata kepada saya, “Saudara, di Perumahan Saudara, kami hanya mengalami sedikit pembangunan.” Kadang-kadang saya bertanya kepada mereka, “Apa maksud perkataanmu ini?” Jawab mereka, “Kami masing-masing terlalu berdiri sendiri, sehingga kurang terbangun.” Saya ingin bertanya kepada Anda, apakah arti pembangunan? Mungkin sebelum membaca berita ini tidak ada orang yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Menurut pengertian Anda, apa arti kata “pembangunan” ini? Mungkin secara doktrinal ada yang bisa menjawab dengan mudah, mungkin dengan mengutip dari Kitab Efesus, atau kitab-kitab lain dalam Alkitab, tetapi menjawab secara riil tidaklah mudah.

Sebenarnya pembangunan ialah perluasan Allah. Pembangunan adalah mengekspresikan Allah secara korporat. Kita telah nampak bahwa hayat adalah Allah sendiri yang tergarap ke dalam kita. Jika Allah Tritunggal benar-benar telah tergarap ke dalam kita, pastilah terjadi perkembangan dan perluasan Allah. Seperti yang telah saya sebut dulu, Allah tidak menciptakan sepasang manusia; Dia hanya menciptakan laki-laki. Istri berasal dari suami, yaitu perluasan dari suaminya. Itulah pembangunan. Hawa sebagai istri Adam merupakan pembangunan Allah dan pembangunan ini adalah perluasan Adam. Adam ialah gambar dan lambang Allah menjadi manusia, dan Hawa adalah gambar dan lambang dari pembangunan Allah. Berhubung pembangunan ini merupakan bagian dari Adam, maka tidak dapat disangkal lagi bahwa inilah perkembangan dan perluasan Adam.

Kita perlu membaca Alkitab dengan cermat. Dalam Kejadian 1, Allah itu sendirian. Pada akhir Kitab Wahyu, Allah berada di pusat Kota Suci, Yerusalem Baru, yang adalah perluasan-Nya. Pada mulanya kita menemukan Allah sendirian tanpa perluasan atau perkembangan apa pun. Tetapi zaman demi zaman, generasi demi generasi, Allah telah menggarapkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Akhirnya kita akan menjadi bangunan-Nya. Suatu bangunan yang merupakan perluasan Allah. Karena itu, pembangunan ini akan menjadi perkembangan Allah, dan perkembangan ini akan mengekspresikan Allah secara korporat. Inilah pembangunan Allah. Pembangunan bukanlah sekadar saya ber-sandar pada Anda, dan Anda bersandar pada saya, atau saudara saling bersandar satu sama lain. Pengertian ini tidaklah cukup. Pembangunan yang wajar dan tepat ialah perkembangan Allah, perluasan Allah Tritunggal, yang memungkinkan Allah mengekspresikan diri-Nya secara korporat. Inilah wahyu Injil Yohanes yang tepat. Injil Yohanes mewahyukan bahwa Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam kaum beriman-Nya agar kaum beriman menjadi perluasan Allah akibat transfusi dan infusi Allah Tritunggal ke dalam mereka. Perluasan Allah Tritunggal ini adalah perkembangan, pembangunan, dan pengekspresian Allah. Inilah wahyu dalam Injil Yohanes. Jadi, ketika kita membicarakan pembangunan Allah, yang kita maksudkan adalah Allah Tritunggal sebagai hayat terus-menerus digarapkan ke dalam kita, dan melalui transfusi serta infusi-Nya kita menjadi ekspresi-Nya yang esa. Ekspresi ini ialah perkembangan dan perluasan-Nya. Semoga pemikiran ini tersirat di hati kita.

I. POKOK PIKIRAN ALKITAB —

HAYAT DAN PEMBANGUNAN

A. Hayat

Ciptaan Allah berpusat pada hayat. Ini terungkap dalam Kejadian 1. Jika Anda membaca Pelajaran Hayat Kejadian 1, pasti akan nampak bahwa ciptaan Allah berpusat pada hayat.

Setelah menciptakan manusia, Allah menempatkannya di depan pohon hayat. Hal ini membuktikan bahwa Allah menghendaki manusia menerima Dia ke dalam dirinya sebagai hayat. Ini terlihat dalam Kejadian 2:8-9.

Kaum beriman Perjanjian Lama menikmati Allah sebagai hayat mereka. Bahkan penulis-penulis Kitab Mazmur menikmati Allah dengan cara yang demikian pula. Mazmur 36:9-10 mengatakan, “Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.”

Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah datang dalam Anak untuk menjadi hayat manusia. Ini telah sepenuhnya diwahyukan oleh Injil Yohanes, khususnya seperti yang telah kita lihat dalam 1:4, dan juga 10:10 yang mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup (hayat), dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Akhirnya, Kristus menjadi hayat bagi semua orang beriman Perjanjian Baru (Kol. 3:4). Kita semua memiliki Kristus sebagai hayat kita.

Dalam kekekalan, pohon hayat dan sungai hayat akan berada di Yerusalem Baru, menandakan bahwa Allah Tritunggal akan menjadi suplai hayat bagi umat-Nya yang tertebus selama-lamanya (Why. 22:1-2, 14, 17).

B. Pembangunan

Seperti yang telah kita lihat, aliran sungai dari Eden menghasilkan emas, damar bedolah (mutiara), dan krisopras sebagai bahan-bahan bangunan Allah (Kej. 2:10-12).

Dengan rusuk Adam, Allah membangun seorang mempelai perempuan baginya (Kej. 2:22), yang melambangkan pembangunan gereja dan akhirnya Yerusalem Baru.

Maksud Allah ialah ingin manusia menjadi mempelai perempuan-Nya. Mempelai perempuan ini dilambangkan sebagai sebuah kota, karena dalam Alkitab kota selalu digambarkan sebagai perempuan. Jadi, kota ialah lambang dari istri yang korporat.

1. Pembangunan Kota Henokh

Namun, sebelum Allah membangun istri-Nya yang korporat ini di bumi, Iblis (Satan) telah mendirikan tiruannya yang pertama, yakni Kota Henokh, yang dinamai menurut anak Kain (Kej. 4:16-24). Kota Henokh adalah tiruan jahat yang dirancang oleh Iblis dengan maksud menggagalkan tujuan Allah.

2. Pembangunan Bahtera Nuh

Kota Henokh menghasilkan sebuah kebudayaan yang merusak seluruh umat manusia dan kerusakan itu mendatangkan hukuman air bah. Sebelum air bah tiba, Allah memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera (Kej. 6:11-21). Menurut 1Petrus 3:20-21, bahtera melambangkan Kristus. Pembangunan bahtera berlawanan dengan barang tiruan Iblis, Kota Henokh. Seluruh orang duniawi zaman itu tercakup di dalam Kota Henokh, tetapi Nuh berdiri jauh di luarnya sambil membangun sebuah bahtera bagi karunia keselamatan Allah.

3. Pembangunan Mezbah dan Kemah Nuh

Sesudah air bah, Nuh membangun sebuah mezbah dan mendirikan sebuah kemah (Kej. 8:20; 9:21). Mezbah untuk menyembah Allah, sedang kemah untuk kehidupannya. Kedua hal ini adalah pembangunan Nuh. Kemah dan mezbahnya merupakan miniatur dari kemah dan mezbah yang kelak dibangun oleh bani Israel untuk penyembahan mereka kepada Allah.

4. Pembangunan Menara dan Kota Babel

Keturunan Nuh membangun Kota dan Menara Babel (Kej. 11:1-9). Menara bertentangan dengan mezbah Nuh, dan kota bertentangan dengan kemahnya. Pembangunan ini adalah barang kedua tiruan Iblis, berlawanan dengan pembangunan Allah.

5. Pembangunan Mezbah dan Kemah Abraham

Dari antara keturunan Nuh yang memberontak, Allah memanggil Abraham. Abraham membangun sebuah mezbah dan kemah yang berlawanan dengan Menara dan Kota Babel (Kej. 12:7-8, 18:1, 6, 9). Mezbah dan kemah Nuh bertentangan dengan Kota Henokh: mezbah dan kemah Abraham berlawanan dengan Menara dan Kota Babel. Di Babel ada menara, sedang di pihak Abraham ada kemah. Sejak saat itu, pembangunan Allah melalui Abraham bertentangan dengan pembangunan tiruan Iblis di Babel.

6. Pembangunan Sodom

Ketika Abraham tinggal di kemah, kemenakannya terjerumus ke dalam Kota Sodom yang merupakan pembangunan tiruan yang lain dari Iblis (Kej. 13:12-13; 18:20; 19:1). Menurut sejarah, Babel itu kota berhala, dan Sodom itu kota dosa.

7. Pembangunan di Dalam Mimpi Yakub — Betel

Dengan latar belakang Babel dan Sodom, Allah mengunjungi Yakub, seorang “perebut”, sesuai dengan pilihan-Nya. Yakub tidak tahu apa-apa tentang pilihan Allah; ia hanya tahu bagaimana bertindak dengan muslihat. Walaupun demikian, Allah tetap menguasai segala sesuatu, memaksa Yakub untuk meninggalkan rumah orang tuanya. Di tengah perjalanan pengembaraannya, suatu malam ia tertidur di satu tempat yang terbuka. Malam itu, dia bermimpi, dan dalam mimpinya itu ia melihat sebuah tangga yang didirikan di bumi dan sampai ke langit (Kej. 28:10-22). Malaikat-malaikat Allah naik turun di atas tangga itu. Ketika Yakub bangun dari tidurnya, ia berkata, “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga.” Seperti yang sudah kita tunjukkan, Betel berarti rumah Allah. Kejadian 28:18 mengisahkan Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai bantal itu untuk didirikan sebagai tiang (tugu) serta menuang minyak ke atasnya. Lalu tempat itu dinamainya Betel. Menurut Alkitab, batu itu melambangkan orang yang telah diubah. Dan minyak melambangkan Roh Kudus, persona ketiga dari ke-Allahan, mencapai umat manusia. Kapan kala Allah Tritunggal mencapai manusia (seseorang) melalui Roh Kudus, orang itu pasti akan menjadi sebagian dari Betel, rumah Allah. Kita semua adalah batu-batu yang sudah diurapi dengan minyak. Jadi, kita adalah Betel. Saya tidak tahu dari mana Yakub mendapatkan minyak itu, tetapi ia telah mengurapi batu itu dengan minyak sambil menyebutnya Betel.

8. Pembangunan Kota-kota Perbekalan Firaun

Tetapi keturunan Yakub tidak menetap di tanah perjanjian, melainkan turun ke Mesir. Di sana mereka dipaksa membangun kota-kota perbekalan Firaun (Kel. 1:11-14), yang merupakan tiruan Iblis yang lebih lanjut. Sudahkah Anda memperhatikan pergantian antara positif dan negatif, antara pembangunan Allah dengan tiruan Iblis? Ini mirip dengan pergantian antara malam dan siang. Setelah malam datanglah siang dan setelah siang tibalah malam. Setelah mimpi Yakub yang positif, tibalah pembangunan kota-kota perbekalan Firaun, kota-kota kenikmatan duniawi.

9. Pembangunan Kemah Pertemuan

Setelah “malam” pembangunan kota-kota perbekalan Firaun, datanglah “siang” pembangunan Kemah Pertemuan (Kel. 25:1-9). Di antara kota-kota di pihak negatif, ada pembangunan Kemah Pertemuan Allah di pihak positif. Keturunan Yakub diselamatkan dari Mesir dan dibawa ke Gunung Sinai. Setelah dibebaskan dari perbudakan Firaun, mereka lalu menjadi umat yang merdeka dan milik Allah, serta dijadikan “kerajaan imamat” oleh rahmat (belas kasihan) dan anugerah Allah (Kel. 19:6). Kemudian Allah berpesan agar mereka membangun sebuah Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman-Nya di tengah-tengah mereka di bumi. Dia pun menunjukkan pola surgawi agar mereka membangunnya seturut rencana dan gambar Allah. Mereka berbuat seturut itu. Sejak saat itu, di bumi terdapat bangunan yang sesungguhnya riil sebagai tempat kediaman Allah. Kemah Pertemuan dengan mezbah itu adalah perkembangan dari kemah-kemah dan mezbah-mezbah Nuh dan Abraham. Itu bukan tempat kediaman Allah semata, tetapi juga tempat untuk imam-imam Allah yang tinggal di hadapan Allah. Ini bukan sekadar melambangkan Kristus dengan sepenuhnya, tetapi juga melambangkan gereja sebagai perluasan Kristus. Semua perabot atau perkakas yang ada di dalamnya merupakan lambang dari berbagai aspek Kristus sebagai isi gereja. Secara lambang, ini telah memenuhi kehendak Allah, menyatakan keinginan hati Allah, dan memuas-kan Allah. Karena itu, sesudah Kemah Pertemuan dibangun dan didirikan, kemuliaan Allah memenuhinya (Kel. 40:17, 34).

10. Pembangunan Bait Suci

Setelah dibangun, Kemah Pertemuan dibawa melintasi padang gurun dan dibawa ke tanah yang dijanjikan Allah, menetap di sana sebagai tempat kediaman Allah di bumi sampai Bait Suci didirikan (1Raj. 6:1-10). Sejarahnya berlangsung kurang lebih lima ratus tahun, sejak sekitar tahun 1.500 SM sampai sekitar 1.000 SM, dan tercantum dari Kitab Keluaran sampai Kitab 1Raja-raja. Bait Suci lebih besar dan lebih mantap daripada Kemah Pertemuan, tetapi maksud dan fungsinya sama. Ini sepenuhnya melambangkan Kristus dan gereja. Dengan pembangunan Bait Suci, paling sedikit mimpi Yakub sudah tergenap sebagian. Di bumi ada sebuah rumah Allah, yang dibangun di atas dasar yang kukuh. Jauh lebih kukuh daripada dasar Kemah Pertemuan. Sejarahnya berlangsung selama kira-kira empat ratus tahun, kira-kira dari tahun 1.000 SM sampai saat dihancurkan oleh orang-orang Babel sekitar tahun 600 SM dan dicatat dari Kitab 1Raja-raja sampai Kitab Ezra.

11. Pembangunan Kota Babel

Untuk menyaingi Bait Suci dan kotanya, Yerusalem, Iblis telah membangun Kota Babel (Dan. 4:28-30) yang merupakan barang tiruan yang lebih besar. Nebukadnezar, Raja Babel, bersama pasukannya menghancurkan Bait Suci Allah dan membawa peralatannya ke Babel, lalu menaruhnya di dalam kuil berhalanya (2Taw. 36:7, 18-19). Dari sini kita bisa memahami betapa Iblis terus-menerus merusak dan menghancurkan pembangunan Allah sebagai tempat kediaman-Nya di bumi.

12. Pembangunan Kembali Bait Suci dan Kota Yerusalem

Tujuh puluh tahun setelah penghancuran Bait Suci, sejumlah orang Yahudi kembali dari pembuangannya dan membangun kembali Bait Suci (Ezr. 1:2-5). Pembangunan kembali Bait Suci adalah pemulihan pembangunan Allah. Sesudah pembangunan kembali Bait Suci menyusullah pembangunan kembali Yerusalem (Neh. 2:17-18). Kota ini akan tetap ada sampai Tuhan Yesus datang.

13. Pembangunan Gereja

Dalam Matius 16:18, Tuhan menubuatkan bahwa Dia akan membangun gereja, yang merupakan penggenapan dari Kemah Pertemuan maupun Bait Suci sebagai tempat kediaman Allah di bumi. Sesudah Tuhan Yesus menggenapkan penebusan, bangkit dari maut, dan naik ke surga untuk menurunkan Roh itu, dimulailah pembangunan gereja. Pembangunan ini berlangsung sembilan belas abad lebih dan akan berakhir sampai kedatangan Tuhan kali kedua.

14. Pembangunan Gereja-gereja Lokal

Untuk merampungkan pembangunan gereja, Tuhan telah membangun gereja-gereja lokal (Kis. 14:23; Tit. 1:5). Perwujudan pembangunan gereja sebenarnya melalui pembangunan gereja-gereja lokal. Pembangunan gereja-gereja lokal adalah yang praktikal. Gereja universal memang hanya satu, tetapi gereja-gereja lokal sebagai ekspresi dari gereja universal yang satu itu banyak. Pembangunan gereja yang universal dimulai dari pembangunan gereja-gereja lokal. Ini telah berlangsung dan akan berlangsung terus dengan cara demikian sampai kesempurnaannya.

15. Pembangunan Babel yang Agamawi dan Politis

Untuk melawan dan merongrong pembangunan Allah atas gereja, Iblis membangun Babel besar baik secara agamawi maupun politis (Why. 17:5; 18:2, 21), yang merupakan tiruan yang terakhir. Babel yang agamawi tersingkap dalam Wahyu 17, dan Babel yang politis tersingkap dalam Wahyu 18. Dua segi pada Babel ini adalah tiruan Iblis yang paling besar, total, dan yang terakhir untuk merusak pembangunan Allah. Ini berlawanan dengan Yerusalem Baru, pembangunan Allah yang terakhir.

16. Pembangunan Yerusalem Baru

Pembangunan Allah terutama pembangunan gereja akan mencapai kesempurnaannya dalam Yerusalem Baru, yang merupakan pembangunan-Nya yang terakhir (Ibr.11:10, 16; 12:22; Why. 21:2, 10-22:2). Pembangunan Iblis akan rampung di Babel besar; pembangunan Allah akan rampung di Yerusalem Baru, yang akhirnya menggenapkan tujuan Allah yang kekal, mengekspresikan Allah, dan memu-askan Dia hingga abadi. Jadi, kita mempunyai sketsa ringkas dari seluruh Alkitab yang memperlihatkan dua jalur, yakni pembangunan dan hayat.

II. KEDUDUKAN TULISAN YOHANES DALAM KITAB SUCI

A. Ministri Yohanes, Ministri Penambalan Hayat

Ministri Yohanes adalah ministri penambalan. Ketika Petrus dipanggil oleh Tuhan, dia sedang menjala ikan, sedangkan Yohanes dipanggil Tuhan ketika ia sedang membereskan jala (Mat. 4:21). Petrus banyak menjala ikan, yakni menarik masuk banyak orang. Tetapi Yohanes memperbaiki (menambal) jala rohani, karena ministri penambalannya adalah ministri penambalan hayat. Hanya hayat yang dapat memperbaiki atau membetulkan, yakni menutup semua lubang pada jala rohani. Betapa perlunya hal ini pada zaman sekarang. Banyak sekali lubang pada jala kekristenan. Apa yang dapat menambalnya? Tak lain hayat. Inilah alasannya kita senantiasa berbeban dengan hal hayat ini. Ada orang menertawai kita, katanya, “Apakah kalian tidak mengetahui yang lainnya, kecuali kata ‘hayat’?” Ya, di satu pihak kita hanya tahu hayat, tidak tahu yang lain. Kita tidak tahu yang lain karena kita tidak memerlukan hal yang lain. Hayat adalah satu-satunya keperluan kita. Saudara saudari, Anda perlu hayat. Hal-hal yang lain dapat memperbesar lubang; hayat akan menutup setiap celah. Kita perlu ministri Yohanes. Ministri Yohanes, ministri yang terakhir dalam Alkitab, dan ministri penambalan hayat adalah ministri yang mengakhiri Alkitab.

B. Tulisan Yohanes, Kata-kata yang Terakhir dari

Wahyu Ilahi

Seluruh tulisan Yohanes merupakan kata-kata yang terakhir dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci. Kata-kata yang terakhir selalu berupa kata-kata yang menentukan. Banyak kata yang diucapkan, tetapi keputusan selalu berdasar pada kata-kata yang terakhir. Injil Yohanes adalah Injil yang terakhir dari keempat kitab Injil, Surat-surat Kiriman Yohanes adalah Surat-surat Kiriman yang terakhir, dan Kitab Wahyunya adalah kitab yang terakhir dari Perjanjian Baru maupun seluruh Alkitab. Jadi, tulisan-tulisan Yohanes merupakan kata-kata yang terakhir dari wahyu ilahi.

III. ISI INJIL YOHANES

A. Intisari Seluruh Alkitab

Kita telah melihat bahwa Alkitab adalah kitab hayat dan pembangunan, Injil Yohanes juga berpusat pada hayat dan pembangunan.

1. Hayat

Injil Yohanes mewahyukan bahwa hayat ada di dalam Kristus, Firman Allah itu (1:4). Dia datang agar manusia memiliki hayat (10:10b); dan Ia sendiri adalah hayat (11:25; 14:6). Lagi pula, Injil ini menunjukkan kepada kita bahwa Kristus adalah roti hayat (6:35); Dia mempunyai air hayat (4:14); Dia mengaruniakan hayat kepada manusia (5:21); bahkan tinggal dalam manusia sebagai hayat (14:19).

2. Pembangunan

Injil Yohanes menyingkapkan pembangunan. Dalam 1:14 kita nampak bahwa Kristus dalam tubuh daging adalah kemah sebagai tempat kediaman Allah di antara manusia di bumi. “Firman itu telah menjadi manusia, dan ting-gal (mendirikan kemah) di antara kita.” Lagi pula, tubuh Kristus adalah Bait Suci sebelum kematian-Nya maupun kebangkitan-Nya (2:19-22). Sebelum kematian-Nya, tubuh-Nya dalam daging adalah Bait Suci, dan sesudah kebangkitan, tubuh-Nya yang dibangkitkan tetap adalah Bait Suci Allah. Inilah pembangunan. Selanjutnya, Injil ini mewahyukan bahwa kaum beriman akan dibangun menjadi tempat tinggal Allah Tritunggal (14:2, 23). Ini disingkapkan dengan sempurna dan lengkap dalam Yohanes 14. Menurut pasal itu, semua orang beriman akan dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah yang kekal dengan banyak tempat tinggal. Karena itu, doa Tuhan yang terakhir yang terdapat dalam Yohanes 17 menunjukkan bahwa semua orang beriman wajib dibangun ke dalam keesaan (ayat 11, 21-23).

B. Dua Bagian

1. Bagian Pertama: Kedatangan Tuhan

Bagian pertama dari Injil Yohanes terdiri atas 13 pasal yang pertama, yaitu mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang membawa Allah ke dalam manusia dan menyatakan Allah kepada manusia. Bagian ini menceritakan betapa Tuhan itu Firman Allah, bahkan diri Allah, datang melalui inkarnasi-Nya untuk membawa Allah ke dalam manusia serta menyatakan Allah kepada manusia. Sebelum berinkarnasi, Dia terpisah dengan manusia. Allah itu Allah, manusia itu manusia. Tetapi melalui inkarnasi-Nya, Dia telah membawa Allah kepada manusia. Allah telah menjadi satu dengan manusia yang bernama Yesus, manusia yang adalah Allah juga manusia. Walau tak seorang pun yang pernah melihat Allah, namun melalui inkarnasi, Anak tunggal Allah telah menyatakan Allah kepada manusia dalam hayat, terang, anugerah, dan realitas. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada berita-berita berikutnya. Sementara ini cukuplah untuk mengingat bahwa dalam bagian pertama Injil Yohanes kita telah nampak betapa Allah dibawa ke dalam manusia dan dinyatakan kepada manusia.

2. Bagian Kedua: Tuhan Pergi dalam Kematian dan Kembali dalam Kebangkitan

Bagian kedua, terdiri atas 8 pasal yang terakhir, yaitu tentang kepergian Tuhan dalam kematian dan kembali-Nya dalam kebangkitan untuk membawa manusia ke dalam Allah dan tinggal bersama manusia bagi pembangunan Allah. Dalam bagian pertama Dia membawa Allah ke dalam manusia; dalam bagian kedua, melalui kematian dan kebangkitan, Ia dapat masuk ke dalam manusia, tinggal di dalam dan tinggal bersama manusia bagi pembangunan Allah.

Walaupun Injil Yohanes menggunakan bahasa yang sederhana dan ringkas, namun kitab ini sangat dalam dan tak mudah dimengerti. Bahasanya begitu dangkal, sehingga anak SD kelas 1 pun dapat membaca sebagian besar kitab ini. “Pada mulanya ada Firman”; “Akulah terang”; “Akulah hayat” pernyataan yang demikian sangat sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Apakah arti Firman? Cobalah definisikan itu. Apakah maksudnya “di dalam Dia ada hayat? Siapakah yang dapat mengatakan apa hayat itu? Ini sangat dalam, jauh melampaui pengertian kita. Sebab itu, dalam bentuknya yang singkat dan sederhana, Injil ini memakai banyak perumpamaan dan gambaran. Dalam Yohanes 1 kita menjumpai Firman. Kita tahu bahwa Firman ini adalah Kristus. Tetapi janganlah menganggap Kristus itu sebagai Firman yang terdiri atas enam huruf. Firman di sini adalah suatu perumpamaan, gambaran yang melukiskan arti Kristus terhadap Allah. Dalam Yohanes 1:14 kita menjumpai kemah, yang adalah Kristus juga. Selanjutnya, dalam Yohanes 1:29 Kristus disebut Anak Domba Allah, padahal Dia bukanlah seekor anak domba yang berkaki empat. Kita telah melihat bahwa Kristus menyebut Petrus batu (Yoh. 1:42), tetapi “batu” ini mempunyai makna rohani. Sebab itu, jangan mencoba memahami Injil Yohanes hanya secara harfiah; kita perlu mengiaskannya dengan tepat menurut wahyu seluruh Alkitab.

Hampir setiap pasal dari Injil Yohanes mengandung beberapa gambaran. Dalam Yohanes 1, kita menjumpai Firman, terang, kemah, Anak Domba, batu, dan tangga surgawi; dalam Yohanes 2, enam tempayan, anggur, Bait Suci, dan Rumah Bapa; dalam Yohanes 3, ular di atas tongkat; dalam Yohanes 4, sumur Yakub dan air hidup; dalam Yohanes 6, roti hidup; dalam Yohanes 7, sungai air hidup; dalam Yohanes 9, air ludah dan tanah liat; dalam Yohanes 10, pintu, kandang domba, kawanan domba, padang rumput, dan gembala; dalam Yohanes 12, biji gandum; dalam Yohanes 13, pembasuhan kaki; dalam Yohanes 15, pokok anggur dan ranting-rantingnya; dalam Yohanes 16, perempuan dan anak; dalam Yohanes 19, tulang, darah, dan air; dalam Yohanes 20, hembusan; dan Yohanes 21, domba dan anak domba. Kita tidak dapat memahami Injil ini dengan tepat tanpa mengiaskan semua gambaran ini.

Berhubung hayat itu abstrak, dalam, dan melampaui pemahaman kita, maka hal ini sangat sulit untuk digambarkan dan dinyatakan dengan bahasa manusia biasa. Sebab itu, Injil ini harus memakai macam-macam gambar untuk menerangkan hal-hal rohani, hal-hal yang terlalu dalam tentang hayat dan pembangunan. Kita perlu membaca Injil Yohanes dengan teliti, berdoa agar beroleh pengertian yang tepat terhadap perumpamaan-perumpamaan itu. Untuk lebih membantu Anda dalam hal ini, saya menyarankan Anda untuk membaca Injil Yohanes Versi Pemulihan sambil memperhatikan semua catatannya. Jika Anda membaca teks dan catatan itu, Anda akan mendapat bantuan.