KEPERLUAN ORANG YANG HAUS — PELERAIAN HAYAT (1)
Kita telah melihat lima peristiwa dari antara sembilan peristiwa dalam kitab Injil ini. Dalam peristiwa yang pertama, Tuhan membicarakan kelahiran kembali dengan seorang tua yang luhur dan bermoral. Melalui kelahiran kembali, Tuhan menjadi hayat kita yang kedua, yaitu hayat ilahi. Dalam peristiwa yang kedua, Tuhan membicarakan pemuasan hayat dengan seorang perempuan yang hina dan amoral. Tuhan sendiri adalah air hayat yang memuaskan hati yang tidak puas. Dalam peristiwa yang ketiga, Tuhan menyembuhkan orang yang hampir mati. Tuhan menyembuhkan orang yang hampir mati dengan firman pemberi hayat-Nya melalui iman manusia. Dalam peristiwa yang keempat, Tuhan menghidupkan orang yang telah kehilangan tenaga karena menderita sakit 38 tahun lamanya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menghidupkan orang yang kehilangan tenaga melalui hayat. Dalam peristiwa yang kelima, Tuhan memberi makan lima ribu orang dengan roti hayat. Ini menandakan bahwa Tuhan adalah roti hayat surgawi yang dapat mengenyangkan khalayak yang lapar. Jadi, singkatnya ialah, Tuhan melahirkan kembali dengan hayat ilahi-Nya dalam peristiwa pertama; mengaruniakan air hayat dalam peristiwa kedua; menyembuhkan orang yang hampir mati dengan firman pemberi hayat dalam peristiwa ketiga; menghidupkan orang yang lemah dalam peristiwa keempat; dan memberi makanan kepada orang banyak dengan roti hayat dalam peristiwa kelima.
Dalam Yohanes 7, kita tiba pada perkara yang keenam keperluan orang yang haus. Peristiwa ini berbeda dengan peristiwa yang kelima, yakni keperluan orang yang lapar. Dalam peristiwa yang lalu, jelas mewahyukan bahwa Tuhan adalah roti hayat, mengenyangkan kelaparan kita. Sedangkan dalam peristiwa ini, Tuhan membawakan aliran air hayat yang meleraikan haus kita. Dalam peristiwa yang kelima, orang-orang sedang lapar dan dalam peristiwa keenam, orang-orang sedang haus. Peristiwa kelima menyuguhkan roti hayat kepada kita, sedangkan peristiwa keenam memperkenalkan air hayat. Roti hayat bagi orang yang lapar, sungai air hayat bagi orang yang haus. Terhadap yang haus, Kristus adalah hayat pelerai haus, Dia adalah hayat yang mampu meleraikan haus orang.
Pemikiran tentang Tuhan sebagai makanan dan air kita terdapat dalam seluruh Alkitab. Misalnya, dalam Kejadian 2, pohon hayat merupakan sebuah lukisan mengenai Tuhan sebagai makanan yang menyuplaikan hayat kepada kita. Di sebelah pohon hayat dalam Kejadian 2, terdapat aliran air sungai yang menggambarkan Tuhan membawakan sungai air hidup kepada kita. Dengan kata lain, ini menerangkan maksud tujuan Tuhan dalam menciptakan manusia manusia harus makan dan minum. Jika ia tidak makan, pasti akan kelaparan; dan jika ia tidak minum, pasti akan kehausan. Tuhan adalah makanan yang mengenyangkan kelaparan kita, dan Ia mempunyai air hidup yang meleraikan kehausan kita.
Kemudian, ketika bani Israel berjalan di padang gurun, mereka juga mendapat makanan dan air. Di satu pihak, mereka beroleh manna yang turun dari surga sebagai makanan mereka sehari-hari (Kel. 16:14-15). Di pihak lain, mereka mendapat air hidup yang terpancar dari batu karang yang terpukul, untuk meleraikan kehausan mereka (Kel. 17:6).
Dalam Injil Yohanes, Tuhan juga merupakan roti hidup, Ia pun air hidup, yang memuaskan orang yang lapar dan haus. Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh ketiga persona ini sangat erat kaitannya dengan makanan dan air. Allah Bapa itu sumbernya, Allah Putra itu makanan, dan Allah Roh itu minuman. Persona pertama dari Allah Tritunggal adalah sumber dari persona yang kedua sebagai makanan, yang dari-Nya persona yang ketiga mengalir keluar sebagai minuman.
Satu Korintus 10:3-4 juga menunjukkan dua perkara ini: Kristus sendiri adalah makanan rohani, dan Ia pun batu karang yang terpukul, yang dari-Nya terpancar air rohani. Roh Kudus adalah minuman rohani yang mengalir dari Kristus yang tersalib. Jadi, Kristus adalah makanan kita dan Roh Kudus yang mengalir keluar dari Kristus adalah minuman kita.
Akhirnya, kita sampai kepada penutupan Alkitab. Di sana muncul Yerusalem Baru. Ada pula Roh Kudus sebagai air sungai hayat, dan Kristus sebagai pohon hayat yang bertumbuh di tengah aliran (Why. 22:1-2). Jadi, jelas ada sebuah garis yang menelusuri seluruh Alkitab, yang memperlihatkan bahwa Kristus adalah makanan rohani kita, dan Roh Kudus adalah minuman rohani kita, dan juga manusia perlu makan dan minum untuk memuaskan rasa lapar dan hausnya.
Injil Yohanes merupakan sebuah gambaran. Penulisnya tidak hanya memakai kata-kata yang jelas, juga memakai perumpamaan, kiasan, dan gambaran, karena perkara hayat terlampau dalam, misterius, dan abstrak. Jika Yohanes hanya memakai kata-kata yang jelas saja, orang akan sulit menyelami kekayaannya. Karena itu, di bawah inspirasi Allah, Yohanes memakai berbagai gambaran. Dalam Yohanes 4, kita nampak seorang Juruselamat yang haus bertemu dengan seorang berdosa yang haus di pinggir sumur Yakub. Dalam Yohanes 5, kita nampak sekelompok orang yang sakit, buta, timpang, dan lumpuh, mati kering, sedang menunggu di tepi kolam. Dalam Yohanes 6, kita nampak sebuah padang gurun, sebuah gunung, dan sebuah laut yang berkecamuk dan bergolak. Dan di atas laut terdapat perahu kecil yang terombang-ambing sehingga orang-orang di dalam perahu itu amat ketakutan. Tiba-tiba datanglah Seseorang menghampiri mereka sambil berjalan di atas air, Dia adalah orang yang justru memberi makan kepada khalayak yang lapar dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Sampai Yohanes 7, kita kembali nampak sebuah gambaran yang lain.
I. SUASANA HARI RAYA PONDOK DAUN
A. Suasana yang Kontras dengan Hari Raya Paskah pada Yohanes 6
Peristiwa yang keenam merupakan kelanjutan dari peristiwa yang kelima, karena masalah makanan berkaitan dengan air. Berkaitan dengan ini masih terdapat kontradiksi yang lain. Peristiwa dalam pasal 6 terjadi pada hari Paskah, peristiwa dalam pasal 7 terjadi pada hari raya Pondok Daun. Hari raya Paskah adalah hari raya tahunan yang pertama bagi orang Yahudi. Hari raya Pondok Daun adalah hari raya tahunan yang terakhir (Im. 23:5, 34). Hari raya Paskah adalah hari raya pertama dalam satu tahun, menyiratkan permulaan hidup manusia (bandingkan dengan Kel. 12:2-3, 6), menyinggung tentang manusia mencari kepuasan, tetapi berakhir pada kelaparan. Hari raya Pondok Daun adalah hari raya yang terakhir dalam satu tahun, menyiratkan kelengkapan dan kesuksesan hidup manusia (bandingkan dengan Kel. 23:16), semuanya ini akan berakhir, dan kesudahannya adalah kehausan. Dalam suasana hari raya Paskah, Tuhan mengatakan bahwa diri-Nya adalah roti hayat untuk mengenyangkan orang. Dalam suasana hari raya Pondok Daun, Tuhan berjanji akan mengalirkan air hidup agar meleraikan dahaga orang.
Paskah muncul pada permulaan tahun, ketika orang-orang sedang sibuk bekerja. Dalam peristiwa memberi makan lima ribu orang, kita nampak bahwa orang-orang sedang bekerja untuk mengatasi kelaparan, namun tidak mendapatkan kepuasan. Mereka bekerja, berjerih payah, mencari sesuatu untuk mendapatkan kepuasan, namun semua gagal. Sebaliknya, hari raya Pondok Daun berlangsung setelah penuaian, sesudah orang-orang menyimpan hasil tuaian dan anggur (Ul. 16:13-14). Sesudah semua hasil ladang dituai, orang-orang berkumpul bersama pada hari raya Pondok Daun, sambil menikmati segala sesuatunya dengan keluarga mereka, bahkan dengan hamba-hamba mereka juga. Kita harus tahu bahwa pada saat hari raya Pondok Daun, orang-orang tidak berjerih payah, karena sudah selesai bekerja, hasil ladang sudah dituai, gandum dan anggur telah disimpan. Itulah saatnya mereka bersenang-senang dalam kenikmatan mereka, namun mereka masih tetap haus! Peristiwa yang keenam mewahyukan bahwa rasa haus mereka pun tidak dapat dileraikan oleh keberhasilan mereka.
Jika Anda membaca Keluaran 12, ayat-ayat mengenai hari raya Paskah, Anda akan nampak bahwa hari raya Paskah menyiratkan permulaan hayat. Sudah pasti hari raya Paskah adalah untuk keselamatan. Ketika kita beroleh selamat, kita mempunyai permulaan yang baru. Hari raya Paskah selalu berlangsung pada bulan pertama dalam satu tahun. Jadi menandakan suatu permulaan baru. Dikatakan dari makna tertentu, semua orang muda sedang menempuh Paskah, sebab hayat mereka baru saja mulai, dan mereka mempunyai cita-cita yang tinggi. Walaupun Anda belum tamat dari kuliah di akademi atau fakultas, namun Anda sudah bercita-cita setelah lulus kelak menjadi dosen universitas, dokter, atau pengacara. Inilah hari raya Paskah. Kita telah nampak bahwa hari raya Paskah selalu berakhir dengan kelaparan. Sesudah Anda lulus nanti, Anda tidak akan beroleh apa-apa kecuali kelaparan. Semakin tinggi posisi yang Anda dapatkan dalam profesi Anda, semakin lapar jadinya. Semakin banyak uang yang Anda peroleh, Anda semakin tidak puas. Dalam Yohanes 6, hari raya Paskah merupakan permulaan dari hayat yang berakhir dengan kelaparan.
B. Melambangkan Kelengkapan dan Kesuksesan
Seumur Hidup dengan Kenikmatannya secara Agama
Setelah tanaman dituai seluruhnya, orang-orang Yahudi merayakan hari raya Pondok Daun, menyembah Allah, dan menikmati hasil tuaian mereka (Kel. 23:16; Ul. 16:13-15). Karena itu, hari raya ini melambangkan kelengkapan, keberhasilan, dan kesuksesan, juga kesenangan dan kenikmatan hidup manusia dalam pekerjaan, pendidikan, dan perkara lainnya dalam hidup manusia (termasuk agama). Karena itu, hari raya Pondok Daun menyiratkan kelengkapan pekerjaan Anda, keberhasilan, dan karier Anda. Mungkin saja Anda sukses dalam usaha dan karier Anda, namun perlu Anda ketahui bahwa ini akan berakhir pada kehausan. Akhirnya, setelah Anda berjerih payah seumur hidup, Anda akan merasa haus karena setiap perkara itu ada akhirnya. Setiap perkara pasti berakhir. Hari terakhir selalu merupakan hari yang besar. Ketika seseorang mencapai sukses tertentu, orang-orang lain menyelenggarakan hari peringatan baginya. Hari peringatan seseorang sering kali merupakan hari terakhirnya. Inilah penutupan dan penutupan ini hampa, hasilnya adalah kehausan. Dalam Yohanes 6, terdapat permulaan hidup manusia yang berakhir pada kelaparan; dalam Yohanes 7, kita menemukan kesuksesan dan kelengkapan hidup manusia, yang berakhir pada kehausan. Dalam peristiwa terdahulu memperlihatkan manusia berjerih payah bekerja, mencari-cari, bergumul agar memperoleh sesuatu yang dapat mengenyangkan, namun gagal. Peristiwa di sini memperlihatkan bahwa manusia telah memiliki setiap barang yang diperlukan, namun semua itu tidak dapat meleraikan kehausan mereka. Mereka telah memperoleh segala sesuatu, telah menikmati segala sesuatu, tetapi semua kesuksesan, semua pencapaian, bahkan segala barang yang berkaitan dengan hari raya mereka agama mereka dan Bait Suci mereka tidak bisa meleraikan rasa haus mereka. Karena itu, dua peristiwa ini membandingkan mereka yang sedang bekerja dengan mereka yang sedang mengaso. Akan tetapi, bagaimanapun Anda bekerja atau mengaso, Anda mustahil mengenyangkan lapar Anda atau meleraikan haus Anda.
Namun, Tuhan justru adalah makanan bagi mereka yang berjerih payah, Ia pun adalah air hayat bagi mereka yang mengaso. Pada hakikatnya, manusia hidup dalam salah satu dari dua keadaan: yang satu adalah karena kekurang-an sesuatu, mereka harus menuntut, bekerja, berjuang, dan berjerih payah; yang satunya lagi adalah mereka memiliki segala sesuatu, sehingga mereka boleh bersenang-senang sambil menikmati kekayaan mereka. Dengan kata lain, mula-mula Anda merasa tidak punya apa-apa; itulah sebabnya Anda harus bekerja dan berjerih payah dengan tekun. Misalkan, Anda masih kuliah di tingkat pertama, maka Anda harus tekun belajar. Ini sama seperti hari raya Paskah. Setelah Anda lulus dan meraih gelar, dan mendapat pekerjaan yang baik, Anda akan kaya. Ini sama seperti hari raya Pondok Daun karena pekerjaan dan jerih payah sudah usai. Kini Anda lega dan tenteram, sedang berada pada posisi untuk bersenang-senang serta menikmati hasil jerih payah Anda.
Hari raya apa yang sedang Anda tempuh hari raya Paskah atau hari raya Pondok Daun? Tak peduli hari raya mana yang Anda tempuh, Anda tetap lapar atau haus. Entah keadaan Anda miskin atau kaya, kekurangan atau berlebih, Anda akan menyadari bahwa Anda sedang kelaparan atau sedang kehausan. Banyak pelajar dari luar yang bersekolah di Amerika Serikat, negeri yang kaya, namun pada hakikatnya mereka lapar. Setelah mereka bersusah payah belajar beberapa tahun, akhirnya mencapai gelar profesor, di antaranya ada yang menjadi kaya raya, tetapi mereka tetap merasa haus.
Boleh jadi Anda seorang muda yang sedang mempertimbangkan pernikahan. Ini menunjukkan bahwa Anda sedang lapar, lapar akan seorang istri, lapar akan seorang teman hidup, lapar akan sebuah rumah tangga dan anak-anak. Izinkan saya memberi tahu Anda, sekalipun Anda benar-benar menikah dengan seorang istri yang paling baik, memiliki anak-anak yang paling baik, juga memiliki segala yang paling baik, akhirnya Anda tetap harus mencapai usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Itulah hari raya Pondok Daun Anda, di mana Anda akan bersenang-senang di dalamnya dan menikmati segala sesuatu. Pada saat itu Anda justru menyadari bahwa tidak ada barang apa pun yang dapat meleraikan rasa haus Anda. Pada hari raya Paskah, Anda lapar, namun setelah hari raya Pondok Daun, Anda merasa haus. Ketika Anda mengajukan permohonan masuk universitas, Anda lapar, namun setelah Anda tamat, Anda tetap haus. Ketika Anda baru menikah, Anda sedang kelaparan, namun setelah sekian lama berkeluarga, Anda bisa merasakan bahwa Anda tetap kehausan.
Puji Tuhan bahwa Kristus itu roti hayat bagi mereka yang berjerih payah pada hari raya Paskah. Pendidikan perguruan tinggi tidak akan pernah menjadi roti hayat. Hanya Tuhan yang bisa menjadi kepuasan kita. Dan hanya Kristus yang dapat meleraikan haus mereka yang sedang mengaso dan bersenang-senang pada hari raya Pondok Daun. Sekalipun orang telah memiliki segalanya, memiliki gandum dan arak, namun batin mereka tetap haus. Boleh saja mereka bersenang-senang dan menikmati hasil-hasil dalam tangan mereka, namun hanya Tuhan yang mempunyai air hayat yang dapat meleraikan haus mereka.
Jika Anda memahami pemikiran tentang kedua hari raya ini, Anda akan nampak dua tahap keadaan manusia serta dua aspek Kristus sebagai suplai hayat kita. Di satu pihak, Dia itu roti hayat ketika kita berjerih lelah; di pihak lain, Dia menyuplaikan air hayat kepada kita ketika kita mengaso. Begitu Anda memahami pemikiran ini, Anda akan mengerti seluruh Yohanes 7. Meskipun pasal ini sangat panjang, tetapi pemikirannya sangat ringkas. Pemikiran ini menyatakan bahwa sekalipun Anda telah mencapai keberhasilan demi keberhasilan, telah menikmati segala milik Anda, dan telah bersenang-senang dalam suasana Anda yang indah, Anda akan menyadari bahwa rasa haus Anda belum juga terleraikan. Tidak ada satu barang pun yang mampu meleraikan rasa haus Anda. Hanya Tuhan yang sanggup meleraikan rasa haus Anda dengan memberikan air hayat kepada Anda.
C. Mengingatkan Perlunya Kemah yang Kekal dengan Aliran Air Hayat di Dalamnya
Allah menetapkan hari raya Pondok Daun ini agar orang-orang Israel ingat bahwa ketika nenek moyang mereka mengembara di padang gurun, mereka tinggal di kemah-kemah (Im. 23:39-43), mendambakan masuk ke dalam perhentian tanah permai. Karena itu, hari raya ini juga mengingatkan bahwa hari ini manusia juga sedang mengembara di padang gurun, perlu masuk ke dalam perhentian Yerusalem Baru, yaitu masuk ke dalam kemah yang kekal (Why. 21:2-3). Abraham, Ishak, dan Yakub juga pernah tinggal di kemah; mereka mengharapkan kemah yang kekal ini (Ibr. 11:9-10), yang di tengah-tengahnya ada “sungai air hayat . . . mengalir ke luar dari takhta Allah dan Anak Domba itu” (Tl.) untuk meleraikan dahaga manusia (Why. 22:1, 17). Pada hari terakhir dari hari raya ini dan dalam latar belakang yang demikian, Kristus menyerukan janji akan aliran air hayat, yang akan memuaskan harapan manusia sampai kekal (Yoh. 7:37-39).
Hari raya Pondok Daun mengingatkan orang-orang akan keperluan mereka terhadap kemah yang kekal dengan sungai hayat yang mengalir di dalamnya. Dulu saya pernah membaca beberapa artikel yang mengisahkan umat Israel yang merayakan hari raya Pondok Daun di Yerusalem pada zaman kuno, yaitu menyediakan sebuah batu raksasa yang dialiri air, untuk dijadikan suatu peringatan bahwa nenek moyang mereka mengembara di tengah padang gurun sambil minum air yang mengalir dari batu yang terbelah. Di samping batu itu mungkin terdapat kemah-kemah yang menunjukkan bagaimana nenek moyang mereka tinggal dalam kemah serta mengembara di padang gurun, dan batu yang terbelah dengan air hidupnya meleraikan kehausan mereka. Semua ini menyiratkan bahwa seluruh hidup manusia ada di padang gurun. Entah Anda ini orang yang diremehkan atau presiden, buruh atau dosen, Anda sedang mengembara di padang gurun. Tidak peduli Anda tinggal di gedung bertingkat atau di rumah yang sederhana, Anda sedang tinggal di dalam kemah. Kemah melambangkan tempat kediaman yang sementara. Dibandingkan dengan Yerusalem Baru, bahkan istana pun tak lain adalah sebuah kemah. Kita semua merupakan musafir yang mengembara di padang gurun, tinggal di dalam kemah, perlu minum air hidup yang memancar dari batu karang. Ini mengingatkan kita bahwa pada suatu hari, kemah yang sejati akan tiba, yaitu Yerusalem Baru sebagai kemah yang kekal dalam langit baru dan bumi baru. Wahyu 21:3 menyebut Yerusalem Baru itu kemah Allah di tengah-tengah manusia. Itulah kemah yang sejati, langgeng, dan abadi. Di dalam kemah Yerusalem Baru terdapat aliran air yang mengalir terus-menerus, yang meleraikan kehausan umat pilihan Allah. Jadi, hari raya Pondok Daun ini mengingatkan kita akan hari depan yang demikian, yang menggugah kita, sehingga kita sadar bahwa tidak satu pun perkara masa kini yang mampu memuaskan kita. Semuanya itu hanya sementara, suatu hari pasti akan lewat. Kita ini adalah pelancong yang menuju sasaran terakhir kita, Yerusalem Baru, kemah abadi yang terdapat dalam langit baru dan bumi baru. Di sini kita tidak mempunyai air yang benar-benar dapat meleraikan haus, kecuali di sana, Yerusalem Baru.