← Daftar isi Yohanes (2) · bab 16/18

KEPERLUAN ORANG YANG LAPAR — RAWATAN HAYAT (2)

II. DUNIA YANG PENUH GANGGUAN DAN KRISTUS PEMBERI DAMAI

Kita hidup dalam dunia yang penuh gangguan (kesusahan). Dunia ini memang penuh gangguan. Kehidupan keluarga, kehidupan sekolah dan setiap macam pekerjaan semuanya penuh kesusahan. Siapa yang damai Presiden? anggota senat? anggota Dewan Perwakilan Rakyat? Tak seorang pun yang damai. Siapa pun Anda, Anda terbelit gangguan. Kita semua memiliki kesusahan. Jangan menyombongkan pernikahan Anda yang baik. Saya tidak percaya ada pernikahan yang baik seluruhnya; setiap pernikahan selalu ada kekurangannya. Menurut pengaturan Allah, kita semua harus menikah ini tidak dapat dielakkan namun setiap orang yang menikah, menemukan dirinya dalam kesusahan.

Kristus datang ke dalam dunia yang penuh gangguan ini sebagai Kristus pemberi damai (Yoh. 6:16-21). Yohanes 6 tidak hanya melukiskan dunia yang lapar, tetapi juga dunia yang banyak kesusahan. Kristus adalah Pemberi makanan bagi dunia yang lapar dan Pemberi damai bagi dunia yang penuh gangguan. Dunia dapat menyusahkan setiap orang, tetapi tidak dapat menyusahkan Dia.

A. Laut Bergolak dan Angin Mengamuk

Melambangkan Kesusahan Dalam Hidup Manusia

Laut yang bergolak dan angin kencang melambangkan kesusahan dalam hidup manusia. Di bawah laut ada setan-setan dan di udara ada roh-roh jahat. Itulah sebabnya kita terbentur gangguan. Bagaimana kita bisa mengharapkan hari yang damai? Kita justru ada di tempat yang salah untuk itu.

B. Yesus Berjalan di Atas Laut Melambangkan Ia

Menaklukkan Segala Gangguan Hidup Manusia

Yesus berjalan di atas air (Yoh. 6:19). Ini melambang-kan bahwa Tuhan bisa menaklukkan segala kesulitan kehidupan manusia. Dia bisa berjalan di atas ombak kesulitan kehidupan manusia, dan semua kesulitan ada di bawah kaki-Nya. Kristus berjalan di puncak semua gelombang. Seolah semakin banyak gelombang, Ia semakin menikmati berjalan di atasnya. Gelombang menakutkan murid-murid-Nya, namun Ia berpijak di atasnya. Ia seakan-akan berkata, “Hai setan, buatlah gelombang yang lebih besar lagi. Aku akan lebih menikmati. Aku dapat berjalan di atas gelombangmu.” Inilah Kristus Sang pemberi damai.

Ketika murid-murid menyambut Dia ke dalam perahu mereka, seketika itu juga perahu itu sampai di pantai yang mereka tuju (Yoh. 6:21). Inginkah Anda mempunyai kehi-dupan yang tenang? Kalau ya, Anda harus menyambut Yesus ke dalam “perahu” Anda. “Perahu” Anda mungkin adalah kehidupan pernikahan, keluarga, atau pekerjaan Anda. Kapan kala Ia naik ke dalam “perahu” Anda, Anda pasti menikmati damai sejahtera bersama-Nya atas perjalanan hidup manusia. Jika Anda menerima Kristus ke dalam pernikahan Anda, pernikahan Anda pasti penuh damai sejahtera. Jika Anda menerima Dia ke dalam pekerjaan Anda, pekerjaan Anda pun akan tenang dan damai. Tanpa Kristus, dunia akan kelaparan. Tanpa Kristus, dunia akan penuh gangguan. Namun, ada Dia, kita memiliki kepuasan dan kedamaian. Dia adalah Kristus yang merawat dan Kristus yang memberi damai. Puji Tuhan!

III. ROTI HAYAT

A. Pencari Makanan yang Dapat Binasa

Dalam ayat 22-31 kita menjumpai para pencari makan-an yang dapat binasa. Mereka semua mencari kepuasan. Tidak peduli macam makanan yang mereka cari, mereka semua sedang mencari kepuasan. Orang-orang ini berusaha melakukan sesuatu untuk bekerja bagi Allah. Mereka juga sedang mencari tanda-tanda dan mukjizat. Konsepsi manusia yang jatuh terhadap Allah ialah selalu ingin melakukan sesuatu bagi Allah, bekerja bagi Allah. Ini adalah prinsip pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dalam Kejadian 2. Konsepsi Tuhan mengenai manusia terhadap Allah ialah percaya ke dalam Dia, yaitu menerima Dia sebagai hayat dan suplai hayat. Inilah prinsip pohon hayat dalam Kejadian 2. Jawaban kepada para pencari makanan yang dapat binasa adalah menerima Tuhan melalui percaya ke dalam-Nya (Yoh. 6:29).

B. Makanan yang Bertahan hingga

Hidup yang Kekal

Dalam ayat 32-71 kita nampak makanan yang bertahan hingga hidup yang kekal. Jika kita membaca potongan ini dengan teliti, kita akan nampak bahwa Tuhan telah berinkarnasi, disalibkan, bangkit untuk tinggal di dalam kita, dan terangkat. Kita pun nampak bahwa Ia telah menjadi Roh pemberi hayat yang akhirnya menjelma ke dalam firman hidup-Nya. Mari kita sekarang melihat setiap aspek ini.

1. Mendatangi Manusia Melalui Inkarnasi, Mengaruniakan Hayat kepada Manusia

Ayat 35-51 memperlihatkan bahwa Tuhan telah mendatangi manusia melalui inkarnasi, sehingga Ia dapat mengaruniakan hayat kepada manusia. Dengan jalan apakah kita dapat menerima Tuhan sebagai makanan, sebagai roti hayat? Pasal ini mewahyukan jalan ini dengan gambar, namun dari abad ke abad orang telah melalaikannya. Pertama-tama Tuhan mengatakan bahwa Ia “turun dari surga” (Yoh. 6:33, 38, 41, 42, 50, 51, 58). Dengan cara apakah Ia turun dari surga? Dengan cara inkarnasi. Ia menjadi seorang manusia dengan mengambil bagian dalam daging dan darah (Ibr. 2:14). Ia datang dalam tubuh daging dan Ia datang sebagai seorang manusia. Iblis dan roh-roh jahat sangat membenci hal ini. Satu-satunya jalan untuk menguji apakah seseorang telah dirasuk roh jahat atau tidak adalah dengan bertanya kepada setan atau roh jahat itu, apakah ia mengakui bahwa Yesus Kristus telah datang dalam tubuh daging (1Yoh. 4:2). Inkarnasi adalah langkah pertama yang Tuhan ambil agar menjadi hayat kita.

Ayat 35 mengatakan, “Kata Yesus kepada mereka, ‘Akulah roti kehidupan; Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi.’” Roti hayat adalah suplai hayat dalam bentuk makanan, seperti pohon hayat (Kej. 2:9), yang juga adalah suplai hayat yang “baik untuk dimakan”. Siapa saja yang datang kepada Tuhan, tidak akan lapar lagi dan siapa saja yang percaya kepada-Nya, tidak akan haus lagi. Ini pun merupakan prinsip yang ditetapkan dalam Yohanes 2, mengubah maut menjadi hayat. Sumber kematian adalah pohon pengetahuan, sedangkan sumber hayat adalah pohon hayat.

Ayat 46 mengatakan, “Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.” Dalam bahasa Yunani, kata depan “dari” berarti “di samping”, mengandung arti “dengan”. Tuhan tidak hanya dari Allah, tetapi juga dengan Allah. Di satu pihak, Dia adalah dari Allah, di pihak lain, Dia tetap beserta dengan Allah (Yoh. 8:16, 29; 16:32).

Dalam ayat 47 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” Hidup yang kekal yang disebut dalam ayat ini adalah hayat ilahi, hayat Allah yang bukan ciptaan, yang bukan hanya kekal abadi secara waktu, tetapi juga kekal dan ilahi hakikinya.

2. Dibunuh agar Dimakan oleh Manusia

Kematian Tuhan adalah langkah kedua yang Ia ambil untuk menjadikan diri-Nya siap sedia agar dapat kita nikmati sebagai makanan kita. Ia mati bagi kita, bukan secara biasa, melainkan secara luar biasa. Ia telah tersembelih dengan terpancang di atas salib. Kematian ini memisahkan darah-Nya dengan daging-Nya. Jika Anda seorang Yahudi yang hidup pada saat itu, Anda akan sangat paham tentang hal ini. Saya pernah membaca sebuah artikel yang melukiskan bagaimana orang Yahudi menyembelih domba pada hari Paskah. Menurut artikel tersebut, orang Yahudi menaruh domba itu pada kayu salib. Tentu kita semua tahu bahwa Kaisar Romawi menggunakan kayu salib untuk menghukum mati penjahat. Namun di kalangan orang Yahudi, jauh sebelum zaman Kaisar Romawi, orang telah menggunakan cara ini untuk menyembelih domba pada hari Paskah. Mereka mengambil dua batang kayu dan membentuk sebuah salib. Mereka mengikat dua kaki pada ujung salib bagian bawah dan kaki-kaki lain diikat terlentang pada batang yang menyilang. Kemudian mereka menyembelih domba itu sehingga semua darahnya tercurah. Mereka memerlukan semua darahnya untuk dipercikkan pada ambang pintu; jadi, darahnya terpisah sama sekali dengan dagingnya.

Tuhan mati dengan cara yang sama. Sesungguhnya, kematian-Nya terjadi pada hari Paskah mereka. Kita telah nampak bahwa Yohanes 6 terjadi pada waktu orang Yahudi merayakan hari Paskah. Jadi, hati orang-orang penuh dengan pikiran Paskah. Berdasarkan latar belakang ini, Tuhan berkata kepada mereka bahwa mereka harus makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Sebagai ganti mengambil darah curahan domba Paskah dan makan dagingnya, mereka mengerti bahwa Tuhan itulah Domba sejati bagi hari Paskah Allah. Semua domba Paskah mereka dulu, tak lain adalah lambang Kristus. Kini Kristuslah Domba sejati. Di satu pihak, darah-Nya akan menebus mereka dari dosa-dosa mereka; sedangkan di pihak lain, daging-Nya akan menyuplai mereka dengan hayat.

Orang Yahudi tidak memahami hal ini, malahan mengabaikan Tuhan sebagai Domba Allah. Namun hari ini kita tahu bahwa Tuhan adalah Domba Allah yang mati bagi kita, mencurahkan darah-Nya untuk menebus dosa kita, serta memberikan daging-Nya untuk kita makan agar menjadi hayat kita. Demi iman kita menerima darah-Nya, dan demi iman pula kita makan daging-Nya. Kemudian kita memperoleh-Nya sebagai hayat kita.

Agar orang dapat memakan-Nya, Tuhan perlu disembelih. Tidak ada barang yang dapat dimakan tanpa disembelih lebih dulu. Dapur adalah tempat penyembelihan. Misalnya, kita mustahil makan sapi maupun ayam hidup-hidup. Binatang itu harus disembelih dulu. Bahkan satu siung bawang merah pun harus dipotong-potong dulu sebelum dimakan. Kalau bukan dipotong dengan pisau, pasti dipotong dengan gigi kita. Demikian pula, Tuhan perlu dibunuh agar dapat kita makan.

Dalam ayat 51b Tuhan berkata, “Dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Sampai butir ini, roti telah menjadi daging. Roti milik hayat nabati, hanya untuk perawatan; daging milik hayat hewani, bukan hanya untuk perawatan, tetapi juga untuk penebusan. Sebelum manusia jatuh, Tuhan adalah pohon hayat (Kej. 2:9), hanya untuk merawat manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan menjadi Anak Domba (Yoh. 1:29), bukan hanya untuk merawat manusia, tetapi juga untuk menebus manusia (Kel. 12:4, 7-8). Tuhan telah memberikan tubuh-Nya, yaitu daging-Nya, mati bagi kita, agar kita mendapatkan hayat. Darah ditambahkan dalam ayat 53, di mana Tuhan berkata, “Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Sampai di sini ditambah lagi darah, yang diperlukan dalam penebusan (Yoh. 19:34; Ibr. 9:22; Mat. 26:28; 1Ptr. 1:18-19; Rm. 3:25).

Dalam ayat 54 Tuhan berkata, “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” Daging dan darah di sini disinggung secara terpisah. Daging dan darah yang terpisah menyatakan kematian. Di sini Tuhan dengan jelas menyatakan kematian-Nya, yang juga adalah pembunuhan atas diri-Nya. Dia telah memberikan tubuh-Nya bagi kita dan mencucurkan darah-Nya, agar kita mendapatkan hayat yang kekal. Makan daging-Nya ialah berdasarkan iman menerima segala yang telah Ia genapkan dengan penyerahan tubuh-Nya bagi kita. Minum darah-Nya ialah berdasarkan iman menerima segala yang telah Ia genapkan dengan pencucuran darah-Nya bagi kita. Makan daging-Nya dan minum darah-Nya berarti menerima Dia sebagai hayat dan suplai hayat di dalam penebusan-Nya, melalui percaya kepada apa yang Ia kerjakan bagi kita di kayu salib. Jika kita membandingkan ayat ini dengan ayat 47, kita akan nampak bahwa makan daging Tuhan dan minum darah Tuhan berarti percaya kepada-Nya, karena percaya kepada atau percaya ke dalam berarti menerima (Yoh. 1:12).

3. Bangkit untuk Tinggal di Dalam

Kita telah melihat bahwa inkarnasi adalah langkah pertama dan penyaliban adalah langkah kedua. Kebangkitan ialah langkah ketiga yang melaluinya Tuhan telah menjadikan diri-Nya sebagai hayat kita yang lengkap. Dalam Yohanes 6, Tuhan berkali-kali menyinggung tentang “hayat” dan “hidup”. Di satu pihak, Ia menyebut diri-Nya roti hayat dan di pihak lain, Ia menyebut diri-Nya roti hidup (LAI: kehidupan, Yoh. 6:35, 51). Tahukah Anda perbedaan roti hayat dengan roti hidup? Mungkin menurut tanggapan Anda kedua ayat itu tak ada bedanya. Tetapi, cara yang tepat untuk mempelajari firman adalah menyelidiki kedua kalimat itu dan menemukan alasan perbedaan mereka. Roti hayat mengacu kepada sifat roti itu, yang adalah hayat; roti hidup mengacu kepada keadaan roti itu, yang adalah hidup. Dia adalah roti hidup. Walaupun Ia disalibkan dan disembelih, namun Ia tetap hidup. Dia adalah satu-satunya yang hidup dalam kebangkitan. Ayat 56 menyiratkan perkara kebangkitan. “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan harus bangkit, baru bisa tinggal di dalam kita menjadi hayat dan suplai hayat kita. Tuhan tidak dapat tinggal di dalam kita sebelum kebangkitan-Nya. Ia hanya dapat tinggal di dalam kita setelah kebangkitan-Nya. Jadi, ayat 56 menunjukkan bahwa Ia akan dibangkitkan dan menjadi Roh yang tinggal di dalam kita.

Dalam ayat 57 Tuhan mengatakan, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Makan adalah menerima makanan ke dalam kita, dan secara organik tercerna ke dalam tubuh kita. Jadi, makan Tuhan Yesus berarti menerima Dia ke dalam kita, tercerna secara hayat oleh manusia baru yang dilahirkan kembali. Kemudian kita hidup berdasarkan Tuhan yang kita terima. Demikianlah Sang Bangkit ini hidup di dalam kita (Yoh. 14:19-20). Pada prinsipnya, ini juga adalah mengubah maut menjadi hayat.

4. Naik ke Surga

Kenaikan menyusul kebangkitan. Kenaikan Tuhan diungkapkan dalam ayat 62. Untuk menjawab murid-murid-Nya yang sedang berbisik-bisik mengenai perkataan-Nya, Tuhan lalu berkata, “Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?” Ayat ini dengan jelas menerangkan kenaikan-Nya. Naik ke surga adalah bukti telah rampungnya karya penebusan-Nya (Ibr. 1:3). Tuhan naik kepada Bapa, dan Bapa menerima-Nya. Itu membuktikan bahwa karya-Nya di atas salib bagi penebusan kita dapat diterima oleh Bapa. Karena itulah Tuhan didudukkan di sebelah kanan Bapa. Karya-Nya di atas salib telah memuaskan Allah Bapa.

5. Menjadi Roh Pemberi-Hayat

Ayat 63 mengatakan, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.” Sampai butir ini, Roh pemberi-hayat dibawa masuk. Sangatlah jelas dikatakan dalam 1Korintus 15:45 bahwa setelah kebangkitan dan melalui kebangkitan, Tuhan Yesus yang menjadi daging (Yoh. 1:14) telah menjadi Roh pemberi hayat. Karena Dia adalah Roh pemberi hayat, maka Ia bisa menjadi hayat dan suplai hayat kita. Ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat yang mati tersalib dan bangkit, Roh pemberi hayat segera masuk ke dalam kita, memberikan hayat yang kekal kepada kita.

Banyak orang salah menanggapi ayat 63, mengira bahwa daging melambangkan keinsanian dengan sifat insani-nya. Menurut konteksnya, daging di sini mengacu kepada daging tubuh jasmani, sama seperti yang dikatakan dalam beberapa ayat di depan bahwa daging Tuhan boleh dimakan. Orang-orang Yahudi tidak memahami perkataan Tuhan dengan benar, mengira bahwa Tuhan akan memberikan daging tubuh jasmani-Nya kepada mereka (ayat 52). Bagi mereka, perkataan ini sungguh keras (ayat 60). Sampai di sini, Tuhan berkata bahwa Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Dengan perkataan lain, Tuhan memberi tahu mereka bahwa Dia akan menjadi Roh itu. Dia tidak akan secara harfiah berada dalam daging, melainkan akan berubah menjadi Roh. Karena itu dalam ayat 63, Tuhan menambahkan penjelasan bahwa Dia tidak bermaksud memberikan daging tubuh jasmani-Nya untuk mereka makan; daging ini, yaitu daging jasmani manusia, tidaklah berguna. Akhirnya, yang akan Dia berikan kepada manusia adalah Roh pemberi hayat, yaitu diri-Nya sendiri dalam kebangkitan.

Kristus yang bagaimanakah yang Anda terima? Anda menerima Kristus yang di dalam daging atau yang sebagai Roh? Rasul Paulus pernah mengatakan bahwa dahulu ada beberapa orang mengenal Kristus di dalam daging, namun sekarang mereka tidak lagi mengenal Dia di dalam daging (2Kor. 5:16). Kini, mereka mengenal Kristus sebagai Roh itu (1Kor. 15:45). Jadi, Kristus yang sekarang kita terima bukanlah Kristus yang di dalam daging, melainkan Kristus yang adalah Roh. Bila kita mempelajari Yohanes 20, kita akan nampak bahwa pada malam hari kebangkitan-Nya, Ia mendatangi murid-murid-Nya sambil menghembusi mereka, dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Itulah diri-Nya setelah kebangkitan-Nya, karena setelah kebangkitan-Nya, Ia berubah ke dalam bentuk Roh itu, Ia bukan lagi di dalam daging sebagaimana seperti saat Ia belum tersalib. Kini Ia adalah Roh itu; itulah sebabnya, mereka harus menerima Roh itu. Sebelum kematian-Nya, ketika Ia di dalam daging, semua yang dapat Ia lakukan hanyalah beserta dan berada di tengah-tengah murid-murid-Nya, namun Ia mustahil berada di dalam mereka. Sekarang sebagai Roh itu, mudah bagi-Nya untuk berada di dalam kita.

Hari ini kita tidak perlu mengontak Tuhan secara jasmani. Karena Dia itu Roh, kita bisa mengontak Dia sebagai Roh di dalam kita. Dia adalah Roh pemberi hayat. Dan karena Dia itu Roh, kita dapat menikmati Dia serta makan Dia sebagai makanan kita.

Ketika kita menerima Tuhan Yesus, kita beroleh Roh yang memberi hayat. Kita bisa membuktikan hal ini melalui menyeru nama Tuhan Yesus. Ketika kita menyeru, “Oh, Tuhan Yesus,” kita menerima Roh itu. Kita menyeru Tuhan Yesus, tetapi kita menerima Roh itu. Mengapa? Karena hari ini Tuhan Yesus adalah Roh itu. Fakta kita beroleh Roh itu ketika menyeru nama Yesus, merupakan suatu bukti kuat bahwa Tuhan Yesus hari ini adalah Roh itu. Siapa saja yang mengucapkan, “Tuhan Yesus,” ada di dalam Roh (1Kor. 12:3). Yesus itu nama-Nya, dan Roh adalah persona-Nya. Roh itu adalah persona Yesus. Sampai di sini, kita perlu membaca Yohanes 14:26 “Tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Bapa mengutus Penolong (Penghibur), Roh Kudus, dalam nama Putra. Roh diutus dalam nama Putra. Siapakah Roh itu? Roh itulah persona Yesus. Jadi, kita mempunyai nama dan persona. Jalan yang paling baik untuk memperoleh Roh itu ialah menyeru nama Tuhan Yesus. Kapan saja Anda menyeru, “Oh, Tuhan Yesus,” Anda menerima persona Tuhan, dan persona-Nya itu adalah Roh. Kapan saja kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita mendapat Roh itu. Roh itu adalah persona Tuhan Yesus yang terkasih.

6. Terwujud Konkret dalam Perkataan Hayat

Kristus sebagai roti hayat terwujud konkret dalam firman hayat. Roh itu memang ajaib, namun terlalu misterius. Kita memerlukan sesuatu yang solid, yang kelihatan, yang dapat dijamah firman hayat. Dalam ayat 63, Tuhan berkata bahwa “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepada-mu adalah roh dan hidup.” Firman itu konkret.

“Perkataan-perkataan” dalam ayat ini adalah rhema dalam bahasa Yunaninya, artinya perkataan (firman) yang diucapkan seketika dan sekarang. Ini berbeda dengan logos (perkataan yang selalu ada), seperti “Firman” dalam Yohanes 1:1. Di sini, “perkataan” disinggung setelah “Roh itu”. Roh itu hidup juga riil, tetapi sangat misterius, tak terjamah, sulit dipahami orang; tetapi, perkataan itu konkret. Terlebih dulu, Tuhan menunjukkan bahwa Dia perlu menjadi Roh agar bisa memberi hayat kepada manusia. Kemudian Ia berkata bahwa perkataan-perkataan yang Dia katakan adalah Roh dan hayat. Ini menunjukkan bahwa perkataan-perkataan-Nya adalah perwujudan Roh hayat. Kini, di dalam kebangkitan, Dia adalah Roh pemberi hayat, dan Roh itu diwujudkan di dalam perkataan-Nya. Begitu kita menggunakan roh kita untuk menerima perkataan-Nya, kita mendapatkan Roh hayat itu.

Firman ada di luar kita. Sewaktu saya menerima firman ke dalam saya, ia segera menjadi Roh. Ketika saya mengutarakan firman, maka sekali lagi Roh menjadi firman. Ketika Anda menerima firman ke dalam Anda, firman sekali lagi menjadi Roh dan ketika Anda mengutarakan firman itu, maka Ia kembali menjadi Roh. Pada saat kita memberitakan Injil, sesungguhnya kita memberitakan firman. Ketika orang percaya kepada Injil, berarti ia percaya kepada firman. Kelihatannya memang aneh sekali, ketika orang menerima firman, firman benar-benar menjadi Roh di dalam mereka. Misalnya, bila Anda datang kepada Tuhan melalui Yohanes 3:16, Anda mungkin berdoa, “Tuhan, syukur kepada-Mu karena Engkau begitu baik kepadaku. Engkau telah mengaruniakan Anak-Mu kepadaku.” Apa yang terjadi di dalam Anda ketika Anda percaya kepada perkataan ini? Ketika Anda percaya kepada perkataan ini, maka ada sesuatu di dalam Anda yang dihidupkan, dan menjadi hidup. Maksud saya bukan Anda menerima pengetahuan di dalam pikiran Anda, melainkan sesuatu yang menjadi sangat hidup di dalam hati Anda, di dalam roh Anda. Anda percaya kepada firman, tetapi Anda menerima Roh. Firman yang di luar Anda menjadi Roh yang di dalam Anda. Tadinya firman ada di luar, namun telah menjadi Roh yang di dalam. Ketika Anda mendengarkan firman dan menerimanya, Anda juga menerima Roh. Ini sangat ajaib dan menakjubkan.

Tuhan adalah Roh dan firman. Kristus yang telah bangkit adalah Roh, Roh itu adalah firman; firman itulah Roh dan Roh itulah Tuhan yang telah bangkit untuk kita nikmati. Kini kita tahu apakah Dia dan di mana Dia. Jadi, saat kita menjamah firman dalam roh, sesungguhnya kita menjamah Tuhan sendiri sebagai suplai hayat yang berlimpah. Kini, dari hari ke hari, kita menikmati Kristus yang ajaib, yang telah bangkit ini, sebagai makanan, hayat, dan suplai hayat kita. Dia adalah Roh yang memberi hayat dan Dia adalah firman hayat. Dalam ayat 68, Simon Petrus mengucapkan sesuatu yang sangat menarik, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup (hayat) yang kekal.” Pasal ini ditutup dengan firman hayat, yakni satu-satunya jalan untuk menerima Tuhan. Masalah hari ini sudah dicakup dalam firman. Jika Anda menerima firman, Anda pasti mendapatkan Roh di dalam; Jika Anda mendapatkan Roh di dalam, Anda pasti mempunyai Kristus sebagai suplai hayat di dalam.

Kita telah nampak enam langkah, di mana Kristus telah mengalami proses agar kita terima inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, kenaikan, menjadi Roh pemberi hayat, dan terwujud di dalam firman hayat. Tuhan telah berinkarnasi, tersalib, bangkit, naik ke surga, bertransfigurasi dari daging menjadi Roh serta terwujud ke dalam firman. Firman itu mewujudkan Roh Tuhan. Anda tidak dapat mengatakan bahwa Anda tidak tahu bagaimana menjamah Tuhan, karena Tuhan telah terwujud di dalam firman. Dia itulah Roh dan firman. Jika Anda menerima firman, Anda tentu beroleh Roh sebagai kenikmatan Anda terhadap Kristus.

Sekarang kita dapat memahami perbedaan antara konsepsi manusia dengan pemikiran ilahi. Konsepsi manusia yang agamawi ialah seperti yang ditanyakan oleh orang Yahudi dalam ayat 28, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Dari seluruh Alkitab, hanya dalam pasal ini saja orang Yahudi yang agamawi mengajukan pertanyaan semacam ini. Ajaran agama selalu mendorong atau menganjuri kita berbuat sesuatu atau melakukan sesuatu. Konsepsi manusia adalah melakukan sesuatu, konsepsi Allah ialah percaya.

Pekerjaan yang Allah kehendaki dan tentukan untuk kita lakukan ialah percaya ke dalam Putra-Nya. Menurut bahasa Yunani, kata “percaya kepada” dalam ayat 29 haruslah diterjemahkan “percaya ke dalam”, Tuhan Yesus bukan menyuruh kita “percaya kepada-Nya”, melainkan “percaya ke dalam-Nya”. Yohanes 6 membentangkan dua cara percaya percaya kepada-Nya dan percaya ke dalam-Nya. Setelah Tuhan menjawab pertanyaan mereka, orang-orang Yahudi lalu membantah dalam ayat 30, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan?” Mereka memakai kalimat “percaya kepada-Mu”, namun ini bukan apa yang dikatakan oleh Tuhan. Tuhan menyuruh mereka “percaya ke dalam Dia”. Kata depan di sini sama dengan yang dipakai dalam Roma 6:3 “dibaptiskan dalam Kristus”. Sebagaimana telah kita lihat, “percaya kepada-Nya” berarti percaya bahwa Dia itu sungguh dan segala sesuatu mengenai Dia adalah benar. Namun “percaya ke dalam” Dia berarti menerima-Nya, dan bersatu, berbaur dengan Dia. Ketika Anda percaya ke dalam-Nya, terjadi persatuan dan kesatuan antara Anda dengan Kristus. Dengan kata lain, Anda telah masuk ke dalam-Nya dan telah menerima-Nya ke dalam Anda. Menurut pemikiran ilahi, tidak ada yang harus kita lakukan kecuali percaya ke dalam Kristus dan menerima Dia ke dalam kita hari demi hari.

“Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh. 6:56). Bagi kita, bekerja bagi Allah ialah makan Kristus, menerima Dia, dan hidup oleh Dia. Kita harus mengoreksi pikiran kita tentang bekerja bagi Allah. Kita harus makan Kristus tiap hari agar kita hidup oleh Kristus. Dalam pasal ini Tuhan berulang-ulang menegaskan, siapa yang makan Dia akan hidup oleh Dia (Yoh. 6:51, 57, 58). Persoalan hari ini bukanlah bekerja, tetapi penempuhan hidup. Anda menempuh hidup macam apa? Apakah Anda puas dengan penempuhan hidup Anda? Jika Anda tidak makan dan minum Kristus, Anda pasti tidak memiliki hayat. Jika Anda tidak memiliki hayat, bagaimana mungkin Anda hidup? Ayat 53 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Konsepsi ilahi bukan bekerja bagi Allah, melainkan menerima Kristus sebagai makanan dan minuman kita. Melalui makan dan minum Kristus, kita akan dipenuhi Kristus. Kemudian barulah kita dapat hidup bagi Allah dengan tepat.

Kalimat yang sangat tegas dan sangat aneh dalam seluruh Alkitab adalah ayat 57, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Tuhan, Allah Mahakuasa, dan Pencipta alam semesta, menyuruh kita untuk makan Dia. Manusia mustahil pernah mempunyai konsepsi yang demikian. Jika perkataan ini bukan dikatakan oleh Tuhan sendiri, maka saya yakin tak seorang pun mempunyai keberanian untuk mengatakan bahwa kita harus makan Tuhan. Tentu kita hanya mengatakan bahwa kita harus menyembah dan taat kepada Tuhan, bersandar dan menuruti Tuhan, berdoa dan bekerja bagi Tuhan. Kita dapat menggunakan kata kerja lain untuk menjelaskan apa yang harus kita lakukan bagi Tuhan, namun kita akan takut memikirkan bahwa kita harus makan Dia. Kita semua harus makan tiga kali sehari supaya bisa hidup. Dengan kata lain, kita hidup karena makan. Demikian pula, kita harus makan Tuhan supaya kita bisa hidup oleh Tuhan. Hal yang paling penting dalam seluruh Yohanes 6 ialah Tuhan adalah makanan kita, roti hayat kita. Makan Dia bukan perkara satu kali untuk selamanya, melainkan pengalaman terhadap Tuhan dari hari ke hari, bahkan dari saat ke saat. Baik di Timur maupun di Barat, orang selalu makan agar mereka dapat hidup. Karena itu, kita semua harus mengontak Tuhan dan makan Dia. Kita bukan sekadar orang yang lemah, tetapi juga orang yang lapar, yang memerlukan Tuhan sebagai suplai hayat kita. Tuhan dapat dimakan, karena Dia adalah makanan hayat. Ia dapat dimakan sama seperti sepotong roti. Kita harus menggunakan roh kita untuk makan Dia sebagai firman dan sebagai Roh. Kemudian kita menerima Dia ke dalam kita, mencerna Dia, mengalami Dia, serta menerapkan Dia senantiasa. Inilah semuanya tidak ada yang lain lagi. Kita harus melupakan perbuatan dan pekerjaan kita, sambil belajar makan Kristus dan hidup berdasarkan apa yang telah kita makan. Inilah jalan hayat ilahi dalam kehidupan kita sehari-hari.