← Daftar isi Yohanes (2) · bab 15/18

KEPERLUAN ORANG YANG LAPAR — RAWATAN HAYAT (1)

Injil Yohanes merupakan kitab gambaran. Injil ini membicarakan hayat ilahi serta fungsi hayat ilahi ini. Hayat ilahi dan fungsinya, keduanya adalah perkara rohani. Karena sulit untuk menjelaskan perkara ini dengan bahasa manusia, maka Rasul Yohanes telah dikaruniai oleh Tuhan hikmat untuk menulis kitab Injilnya, bukan hanya dengan kata-kata yang mudah dimengerti, juga dengan gambaran-gambaran. Karena sejelas apa pun kata-kata masih belum memadai, Rasul Yohanes harus pula menggunakan gambaran-gambaran atau lukisan-lukisan. Di satu pihak, setiap perkara adalah sebuah gambaran. Pada Yohanes 5, kita nampak sebuah gambar yang hidup tentang seorang yang lemah yang dihidupkan. Pada Yohanes 6, kita menjumpai gambar lain yang menunjukkan keperluan orang yang lapar dan rawatan hayat.

I. DUNIA YANG LAPAR DAN KRISTUS YANG MERAWAT

Yohanes 6:1-15 mewahyukan kepada kita dunia yang lapar dan Kristus yang merawat.

A. Suatu Kontras terhadap Peristiwa yang Terdahulu dalam Yohanes 5

Peristiwa dalam Yohanes 6 menggambarkan sebuah pe-mandangan yang menunjukkan di mana keadaan kita ini. Di antara pemandangan Yohanes 5 dan 6 terdapat perbedaan yang nyata (kontras). Pemandangan dalam Yohanes 5 adalah di kota suci, sedangkan pemandangan dalam Yohanes 6 adalah di padang gurun; latar belakang perkara terdahulu adalah kolam, latar belakang perkara belakangan adalah laut (LAI: danau). Di depan, manusia berkaitan dengan kolam; di belakang, manusia berkaitan dengan laut. Kolam berhubungan dengan penyembuhan oleh agama, sedang laut berhubungan dengan mata pencaharian manusia. Manusia yang terlibat dalam perkara keempat itu lemah, memerlukan kesembuhan dan dihidupkan lagi; sedangkan manusia yang terlibat dalam perkara kelima itu kelaparan, memerlukan makanan dan kepuasan. Kolam itu suci dan dimiliki oleh agama Yahudi; laut itu duniawi dan dimiliki oleh khalayak ramai. Manusia yang di sisi kolam itu lemah, perlu dihidupkan oleh hayat, serta sedang menunggu kesembuhan. Manusia dalam peristiwa ini kelaparan, perlu rawatan hayat, serta sedang mencari perawatan.

B. Laut Melambangkan Dunia yang Telah Dirusak oleh Iblis

Secara lambang, daratan mengacu kepada bumi yang diciptakan Allah untuk tempat tinggal manusia, dan laut mengacu kepada dunia yang telah dirusak oleh Iblis (Satan), yang ditinggali umat manusia yang telah jatuh. Laut mewakili dunia yang disusun dan disistematisasi oleh Iblis, yang di dalamnya umat manusia telah dijajah dan dikurung. Dalam dunia yang demikian ini, umat manusia selalu kelaparan dan tak memiliki kepuasan. Dalam dunia yang demikian ini, manusia selalu terganggu dan tanpa damai. Pemandangan dalam pasal ini menggambarkan keadaan seluruh manusia yang hidup di dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Mereka bukan hidup di bumi yang diciptakan oleh Allah. Dalam dunia yang telah dirusak oleh Iblis, tidak ada kepuasan yang sejati, sebaliknya senantiasa lapar. Juga tidak ada damai sedikit pun, karena angin dan ombak di atas laut tak henti-hentinya mengganggu.

C. Gunung Melambangkan Kedudukan yang Melampaui

Secara lambang, gunung melambangkan kedudukan yang melampaui (unggul). Musa dibawa ke sebuah gunung agar menerima wahyu Allah (Kel. 24:12). Ketika Tuhan Yesus pergi ke puncak gunung, Ia lalu berubah rupa (Mat. 17:1-2). Rasul Yohanes juga dibawa ke atas sebuah gunung, pada kedudukan yang melampaui ini ia nampak visi kekal mengenai Yerusalem Baru (Why. 21:10). Jadi, dalam gambaran ini, laut berada pada tingkatan yang rendah, dan gunung berada pada kedudukan yang melampaui. Laut melambangkan dunia yang dirusak oleh Iblis; gunung melambangkan kedudukan yang tinggi dan unggul tempat Kristus berada, dan di sana pula kita seharusnya bersama-sama dengan Dia. Tuhan tidak memberikan makanan kepada mereka di tepi laut. Ia mengajak mereka ke puncak gunung. Jika Anda ingin dirawat oleh Kristus, dipuaskan karena Kristus, Anda harus pergi bersama Dia ke tempat yang tinggi. Dipuaskan oleh Kristus itu tergantung pada kita dibawa ke atas dan dirawat oleh Kristus di puncak gunung. Gunung itu melampaui dunia yang dirusak oleh Iblis dan bumi yang diciptakan oleh Allah. Laut maupun bumi, keduanya bukanlah tempat yang memadai bagi kita untuk dirawat Kristus. Jika kita mau dirawat Kristus, kita harus mengungguli dunia yang telah dirusak oleh Iblis dan bumi ciptaan Allah. Jika kita mau menikmati perawatan-Nya, kita harus bersama-Nya di atas gunung.

D. Paskah Melambangkan Kristus sebagai

Anak Domba Penebusan Allah

Paskah dalam ayat 4 melambangkan Kristus sebagai Domba penebusan Allah yang telah mencucurkan darah untuk menebus kita, serta memberikan daging-Nya untuk kita makan (1Kor. 5:7). Pada hari raya Paskah, orang-orang menyembelih anak domba penebusan, memercikkan darah-nya, serta makan dagingnya (Kel. 12:3-11). Ini melambangkan Kristus sebagai Anak Domba penebusan Allah yang telah disembelih, sehingga kita bisa makan daging-Nya dan minum darah-Nya, yakni menerima Dia ke dalam kita sebagai suplai hayat yang dengan bersandar kepada-Nya kita akan hidup.

Dalam Kejadian 2:9, Kristus dilambangkan oleh pohon hayat. Pohon hayat tergolong hayat nabati, memang baik untuk menghasilkan dan menunaskan, namun tidak ada darah untuk penebusan. Pada masa Kejadian 2, manusia belum terlibat dengan dosa, karena itu tidak memerlukan penebusan. Akan tetapi, dalam Kejadian 3, manusia telah jatuh. Dan setelah kejatuhan manusia, Allah datang menanggulangi kejatuhan tersebut melalui penyembelihan domba-domba kurban persembahan, agar menebus Adam dan Hawa, bahkan mereka juga dibuatkan pakaian kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka (Kej. 3:21). Jadi, hayat nabati itu sendiri tidak cukup lagi bagi manusia yang telah jatuh; di sini dibutuhkan hayat hewani. Kita memerlukan hayat bukan hanya untuk perawatan, tetapi juga untuk penebusan. Itulah sebabnya dalam Yohanes 6 kita jumpai pertama-tama roti jelai, yang tergolong hayat nabati untuk merawat orang. Nanti akan kita lihat, karena manusia telah jatuh, maka perlu perawatan juga perlu penebusan. Demikianlah Tuhan Yesus lalu mengubah roti menjadi daging (Yoh. 6:51b). Roti terbuat dari jelai, sedang daging mengandung darah. Roti jelai berasal dari hayat nabati, tetapi daging yang mengandung darah berasal dari hayat hewani. Akhirnya, dalam Yohanes 6, Kristus bukan hanya sebagai pohon hayat yang dilambangkan oleh roti, tetapi juga sebagai Anak Domba Allah yang dilambangkan oleh daging dan darah. Pada Anak Domba Allah terdapat dua unsur: darah untuk menebus, daging untuk merawat. Pada hari raya Paskah, orang-orang memercikkan darah dan memakan daging. Hal ini sama seperti dewasa ini. Kita menerima Kristus melalui penebusan, juga melalui perawatan. Dia itu hayat nabati juga hayat hewani, hayat perawatan dan hayat penebusan.

E. Lima Roti Jelai Melambangkan Aspek

Menghasilkan dari Hayat Kristus

Roti berasal dari hayat nabati, melambangkan aspek menghasilkan (generating) dari hayat Kristus. Sebagai hayat yang menghasilkan (generating life), Kristus tumbuh di daratan, bumi ciptaan Allah. Untuk melahirkan kita kembali, Dia tumbuh di bumi ciptaan Allah bagi perkembangbiakan.

1. Jelai Melambangkan Kristus yang Bangkit

Jelai melambangkan Kristus yang bangkit. Menurut Alkitab, jelai mewakili buah bungar dari kebangkitan. Tuhan menyuruh umat-Nya dalam Imamat 23 untuk mempersembahkan buah bungar dari tuaian mereka setiap tahun. Di Tanah Palestina, jelai matang paling dini, merupakan panen yang pertama. Karena itu, jelai melambangkan Kristus yang bangkit (Im. 23:10). Jelai melambangkan Kristus yang bangkit menjadi suplai hayat kita. Sebagai buah bungar, Ia bisa menjadi roti hayat kita. Jadi, roti jelai mewakili Kristus dalam kebangkitan sebagai makanan kita. Kristus yang merawat adalah Kristus yang bangkit.

Mungkin ada orang akan bertanya, bagaimana mungkin Kristus bangkit dalam Yohanes 6, padahal Ia belum disalibkan. Jauh sebelum penyaliban-Nya, Kristus sudah sebagai kebangkitan. Dalam Yohanes 11:25 Ia mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup.” Ia bukan berkata, “Aku akan menjadi kebangkitan,” karena Ia justru adalah kebangkitan. Sewaktu Tuhan memberi tahu Marta bahwa saudaranya akan bangkit, Marta melalui tafsirannya yang sangat kasihan terhadap Kitab Suci menunda kebangkitan sampai dua ribu tahun yang akan datang. Ketika ia bersikap demikian, Tuhan seolah berkata, “Justru sekarang ini Aku adalah kebangkitan. Bagi-Ku, Sang Kekal, tidak ada unsur waktu. Dulu, kini, dan kelak, terhadap-Ku semuanya sama saja.” Kekal berarti tidak ada unsur waktu. Baik sebelum maupun sesudah penyaliban, Dia adalah Kristus yang bangkit, Kristus yang bangkit inilah yang bisa menjadi hayat kita dan bisa menjadi roti untuk memberi kita makan. Kita mendapatkan perawatan Kristus yang bangkit.

2. Lima Melambangkan Tanggung Jawab

Angka lima melambangkan tanggung jawab, yakni tanggung jawab Kristus dalam merawat kita. Angka lima terdiri atas empat ditambah satu. Empat mewakili makhluk ciptaan (Why. 4:6), dan satu mewakili Sang Pencipta (1Kor. 8:6). Pencipta ditambah makhluk ciptaan membentuk tanggung jawab. Angka lima bukan terdiri atas tiga ditambah dua, melainkan empat ditambah satu. Lihatlah tangan Anda. Tangan Anda terdiri dari empat anak jari ditambah satu ibu jari. Tentu sangat mengerikan apabila Anda memiliki tiga anak jari dengan dua ibu jari. Empat anak jari dengan satu ibu jari, memungkinkan tangan berbuat banyak hal. Lima roti jelai melambangkan Tuhan Sang Pencipta (satu) ditambah makhluk ciptaan (empat) bertanggung jawab merawat kita. Dalam keinsanian-Nya, Kristus yang bangkit memikul tanggung jawab ini.

F. Dua Ekor Ikan Melambangkan

Aspek Penebusan Hayat Kristus

Dua ekor ikan tergolong hayat hewani, melambangkan aspek penebusan dari hayat Kristus. Sebagai hayat yang menebus, Ia hidup di dalam laut, dunia yang dirusak oleh Iblis. Jelai didapat dari daratan, mewakili bumi ciptaan Allah, sedangkan ikan didapat dari laut, yang melambangkan dunia yang dirusak oleh Iblis. Tuhan Yesus bukan sekadar datang ke bumi ciptaan Allah, tetapi juga datang ke dunia yang dirusak oleh Iblis. Jika Ia hanya mendatangi dunia ciptaan Allah, pasti Ia hanya dilambangkan oleh roti jelai. Namun, karena Ia juga mendatangi dunia yang dirusak oleh Iblis, maka Ia dilambangkan juga oleh dua ikan. Ia tidak ada sangkutpautnya dengan dunia yang telah dirusak Iblis. Sebagaimana ikan, walaupun hidup dalam air asin, tidak sampai menjadi asin. Demikian juga, Tuhan tidak bisa dirusak sekalipun Ia hidup di dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Tuhan Yesus sama seperti ikan yang dapat hidup di tengah lingkungan laut yang asin, tanpa menjadi asin olehnya. Dengan maksud untuk menebus kita, Ia hidup di dunia yang setani dan penuh dosa. Tetapi Dia tidak berdosa, juga tidak terpengaruh oleh dunia yang penuh dosa. Sebagai hayat yang menghasilkan, Kristus berlaku sebagai manusia yang tepat di dunia ciptaan Allah. Sebagai hayat yang menebus, Kristus hidup di dalam dunia yang dirusak Iblis tanpa terpengaruh oleh perusakannya. Angka dua berarti kesaksian (Why. 11:3). Dua ekor ikan merupakan kesaksian bahwa Kristus cukup untuk memikul tanggung jawab dalam hal merawat kita.

Kita telah nampak bahwa jelai yang tergolong hayat nabati, mewakili hayat yang menghasilkan; ikan yang tergolong hayat hewani, mewakili hayat penebusan. Sekarang kita harus bertanya, seandainya umat manusia tidak pernah jatuh, masihkah Kristus sebagai hayat yang melahirkan kita kembali diperlukan? Ya, sebelum Adam jatuh, Allah telah menempatkan dia di depan pohon hayat. Pohon hayat tidak ada kaitannya dengan dosa. Karena itulah manusia harus menerima Allah sebagai hayatnya melalui makan pohon hayat. Bahkan Yohanes 12:24 mengatakan bahwa Tuhan itu adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi biji gandum yang banyak. Ini juga tidak ada hubungannya dengan dosa. Menurut Kitab Suci, hayat nabati berguna untuk menghasilkan atau menumbuhkan banyak buah. Sebutir biji gandum berbuahkan banyak butir gandum. Jadi, itu mewakili hayat yang menghasilkan (generating life).

Seperti yang sudah kita lihat, sebelum manusia jatuh, manusia hanya makan hayat nabati (Kej. 1:29). Tetapi setelah manusia jatuh, manusia pun makan hayat hewani (Kej. 9:3). Sebelum kejatuhan, tidak diperlukan penumpahan darah. Namun, setelah manusia jatuh, diperlukan hayat hewani, karena penebusan mengharuskan penumpahan darah. Hayat nabati sudah memadai sebelum manusia berbuat dosa, tetapi setelah manusia berdosa, hayat hewani menjadi keharusan.

Pada persembahan kurban-kurban dalam Perjanjian Lama, selalu terdapat hayat nabati, juga hayat hewani. Misalnya, pada hari raya Paskah ada anak domba yang disembelih, yang mewakili hayat hewani, juga ada roti yang tidak beragi, yang mewakili hayat nabati. Dua jenis hayat yang berlainan ini adalah keharusan untuk memenuhi semua keperluan kita. Dalam Kitab Imamat, kurban bakaran juga bersamaan dengan kurban sajian. Kurban sajian dibuat dari tepung yang baik, minyak nabati, dan kemenyan ini adalah jenis hayat nabati. Dalam Kitab Imamat, apabila tidak ada kurban bakaran, kurban sajian tidak akan diperkenan. Hal ini persis dengan apa yang Kain lakukan. Kekeliruan Kain tak lain adalah ia hanya mempersembahkan sayur-mayur, sehingga ditolak oleh Allah; namun Habel mempersembahkan kurban hewan, yang telah mengalirkan darah, sehingga diperkenan Allah (Kej. 4:3-5).

Kita memerlukan Tuhan Yesus menjadi hayat yang menghasilkan dan hayat yang menebus kita. Melalui kematian-Nya di atas salib, keluar dua hal dari-Nya darah menebus kita, air melahirkan kita kembali (Yoh. 19:34). Darah yang Ia cucurkan itu memberikan penebusan kepada kita, dan air yang mengalir dari sela rusuk-Nya yang terluka, menyalurkan hayat kepada kita. Lima roti jelai dan dua ekor ikan berjajar bersama. Roti jelai mustahil mengalirkan darah, jelas tidak mungkin menebus dosa kita. Dua ikan itu justru mewakili hayat hewani yang bisa menebus dosa. Tuhan dilambangkan oleh dua-duanya, yakni hayat nabati yang melahirkan kembali kita, juga hayat hewani yang menebus kita.

G. Baik Ikan maupun Roti Keduanya Melambangkan Kecilnya Kristus sebagai Suplai Hayat bagi Kita

Sungguh menarik bahwa lima roti jelai dan dua ekor ikan berasal dari seorang anak kecil, bukan dari orang besar. Ini sangat bermakna, karena Tuhan hendak menunjukkan kepada kita bahwa Dia adalah hayat kita, bukan seperti seorang yang besar, melainkan seperti seorang yang kecil. Roti jelai dan ikan adalah benda-benda kecil, melambangkan betapa Kristus “menjadi kecil” sehingga bisa menjadi suplai hayat kita. Orang-orang yang menuntut mukjizat mengira Kristus adalah nabi yang dijanjikan Allah (Yoh. 6:14; Ul. 18:15, 18), dan ingin memaksa-Nya menjadi raja mereka (Yoh. 6:15), namun Dia tidak mau menjadikan diri-Nya tokoh agama, sebaliknya Ia rela menjadi roti dan ikan yang kecil supaya orang dapat memakan-Nya. Semuanya ini mewahyukan kekecilan Kristus. Dia cukup kecil untuk kita makan. Apa saja yang kita makan tentunya lebih kecil daripada kita. Kita ini jauh lebih besar daripada roti dan ikan yang kita makan. Kita tidak bisa memakan barang yang lebih besar daripada kita. Jika barang itu lebih besar daripada kita, pasti barang itu yang akan menelan kita. Segala sesuatu yang kita makan bahkan lebih kecil daripada mulut kita. Jika itu lebih besar daripada mulut kita, pasti harus diiris kecil-kecil dulu. Seorang anak kecil membawa lima roti kecil dan dua ikan kecil, menyatakan kekecilan Tuhan Yesus sangatlah berharga bagi kita.

Kebanyakan orang Kristen, termasuk kita sendiri, selalu menanggapi Tuhan kita sebagai Seorang yang besar dan agung. Akan tetapi dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus tidak ingin besar. Ia ingin tetap kecil sehingga bisa dimakan. Ada sebuah kidung yang berbunyi, “Kau sungguh besar.” Tetapi kita mempunyai kidung yang lebih manis, yang memuji Tuhan karena kekecilan-Nya. Bila Tuhan hanya besar, pasti kita tidak akan pernah dapat menyentuh Dia. Puji Dia bahwa Ia telah menjadi begitu kecil! Boleh jadi Anda sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi masih belum mengenal betapa kecilnya Tuhan. Menganggap Tuhan sebagai nabi besar, tak lain adalah cara pemikiran agama. Jika Tuhan hanya menjadi seorang nabi besar, dan bertakhta sebagai raja agung, tentu Ia tidak akan mungkin menjadi sepotong roti yang kecil, juga tidak mungkin menjadi suplai makanan kita. Ia perlu menjadi kecil terlebih dulu. Karena itu, Ia dilambangkan oleh lima roti jelai kecil dan dua ikan kecil yang dibawa oleh seorang anak laki-laki kecil. Hendaklah kita terkesan oleh kekecilan Tuhan, sebagaimana juga oleh kebesaran Tuhan. Ia bahkan terlahir dalam palungan yang kecil, dibesarkan di dalam kota yang kecil, serta dibimbing di dalam keluarga yang rendah. Ia bukannya datang menjadi tokoh besar dalam agama. Dia adalah seorang Nazaret yang kecil, tanpa terkait dengan kebesaran atau keagungan. Oh, alangkah kecilnya Dia!

Anda lebih besar atau lebih kecil daripada sepotong roti? Anda tentu harus mengakui bahwa sepotong roti itu lebih kecil. Karena Tuhan datang kepada Anda sebagai sepotong roti hayat, maka Anda harus berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku memuji dan bersyukur karena Engkau lebih kecil daripada aku. Kini Engkau bisa menjadi makananku. Jika Engkau lebih besar daripada aku, pasti Engkau tidak mungkin menjadi makananku.” Dipandang dari kebesaran Tuhan kita, memang tidak ada siapa pun juga yang bisa lebih besar daripada-Nya. Namun kita harus terkesan pula bahwa dipandang dari kekecilan Tuhan kita, tidak ada si-apa pun yang lebih kecil daripada Dia. Dia adalah roti yang cukup kecil untuk kita makan.

Dalam Matius 15, kita nampak bahwa Tuhan bukan hanya menjadi roti, tetapi juga menjadi remah-remah roti atau remukan yang kecil-kecil dari roti. Kita ini banyak yang tidak layak menikmati-Nya sebagai roti. Tetapi, kita benar-benar layak menikmati-Nya sebagai remah-remah. Masih ingatkah apa yang wanita Kanaan itu katakan kepada Tuhan ketika ia mohon pertolongan-Nya, “Tetapi Yesus menjawab, ‘Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.’ Kata perempuan itu, ‘Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya’” (Mat. 15:26-27). Perempuan Kanaan itu tidak dikecewakan oleh kata-kata Tuhan yang keras serta oleh fakta yang mengatakan bahwa ia seekor anjing. Ia seolah memberi tahu Tuhan, “Ya Tuhan, aku memang seekor anjing kafir, akan tetapi anjing kafir pun mempunyai bagiannya. Bagian anak-anak ada di atas meja, sedang bagian anjing ada di bawah meja. Tuhan, Engkau harus tahu bahwa Engkau kini bukanlah di atas meja, melainkan di bawah meja, karena anak-anak yang nakal telah melemparkan Engkau ke bawah. Karena Engkau ada di bawah meja, maka Engkau bisa menjadi bagianku.” Tuhan mengapresiasi imannya. Kita semua perlu menikmati Tuhan yang sedemikian rendah dan kecil ini. Jangan menunggu sampai di surga baru menikmati Dia. Nikmatilah Dia dari bawah meja, di mana Dia sekarang berada. Puji Tuhan bahwa sekarang Dia itu kecil dan siap sedia di bumi! Dia itu siap sedia kapan saja sesuai selera kita. Seberapa banyak kita dapat menikmati Dia, sebanyak itu pula Dia tersedia bagi kita. Dan yang tersisa, selalu melampaui apa yang dapat kita makan.

H. Dua Belas Bakul Melambangkan Keluapan Kelimpahan Suplai Hayat Kristus

Pasal ini selain menyatakan kekecilan Tuhan, juga me-nyatakan kelimpahan Tuhan. Hanya lima ketul roti sudah cukup limpah untuk mengenyangkan lima ribu orang. Dua belas bakul sisanya itu melambangkan keluapan kelimpahan suplai hayat Kristus, yang mampu mengenyangkan orang yang seribu kali lebih. Lima ketul roti mengenyangkan lima ribu orang, berarti mengenyangkan mereka yang berjumlah seribu kali lipat. Menurut Kitab Suci, angka seribu melambangkan satu satuan yang lengkap. Contoh, lebih baik satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari di tempat lain (Mzm. 84:11). Seribu merupakan satuan yang penuh. Jadi, lima roti bisa mengenyangkan lima ribu orang ini mewahyukan betapa kaya limpah dan betapa tak terbatasnya Tuhan. Khalayak boleh makan sesuka mereka, sebab suplainya tak terbatas. Bahkan dua ekor ikan kecil pun sudah cukup untuk semuanya.

Ada dua belas bakul yang tersisa. Mengapa tidak lima, delapan, atau sebelas bakul? Karena bilangan dua belas melambangkan kelengkapan dan kesempurnaan yang kekal. Berarti, sekalipun remah-remah, Ia juga penuh dan lengkap secara kekal. Bahkan Kristus yang kecil dan berupa remah roti, penuh dengan kelimpahan yang tak habis dipakai. Dia kecil, namun tidak terbatas. Pernahkah Anda membandingkan kekecilan-Nya dengan ketidak terbatasan-Nya? Dia adalah seorang Nazaret yang kecil, tetapi Dia telah mengenyangkan orang-orang dari generasi ke generasi dan tidak pernah berkurang dan habis. Sebelum mengenyangkan lima ribu orang, yang ada ialah lima roti dan dua ikan; setelah mengenyangkan lima ribu orang, yang tersisa adalah dua belas bakul. Jadi, setelah mengenyangkan lima ribu orang, kelebihannya malah melampaui yang semula. Ini menggambarkan kelimpahan Kristus, yang selalu bersisa setelah mengenyangkan khalayak.

Hingga kedua puluh abad ini, Kristus telah mengenyangkan berjuta-juta orang. Hari ini, Dia tetap limpah ruah, karena masih ada dua belas bakul penuh. Kita perlu wahyu agar nampak betapa limpahnya “kekecilan” Kristus itu. Secara lahiriah, Dia itu lima roti dan dua ikan, tetapi berjuta-juta orang telah makan Dia sepanjang dua puluh abad ini. Dia masih tetap ada di sini, selamanya tidak akan berkurang atau habis. Oh! Betapa kita harus memuji kekecilan bentuk luar-Nya dan limpah kaya-Nya yang tak terhingga!