← Daftar isi Yohanes (2) · bab 14/18

KEPERLUAN ORANG YANG LEMAH — DIHIDUPKAN OLEH HAYAT

Dalam berita ini sampailah kita kepada peristiwa yang keempat keperluan orang yang lemah (Yoh. 5:1-47). Peristiwa ini menyingkapkan kesia-siaan agama.

I. KETIDAKMAMPUAN AGAMA PEMELIHARA

HUKUM TAURAT DAN KELIMPAHAN

PEMBERI HAYAT ALLAH PUTRA

Peristiwa orang yang lemah ini menyingkapkan ketidakmampuan agama (Yoh. 5:1-9). Tidak ada satu pun agama di bumi ini yang lebih baik daripada agama Yahudi, karena agama ini murni dan standar, yang dibentuk sesuai dengan firman Allah yang suci. Agama ini menyembah Allah Yang Maha Esa dengan cara yang benar. Agama lain tidak ada yang dapat menandinginya.

Akan tetapi, agama bukanlah ekonomi atau usaha Allah dan tidak dapat mewujudkan kehendak Allah. Allah tidak pernah bermaksud mendapatkan agama. Tidak salah, Allah memang mengaruniai umat-Nya firman yang kudus, Perjanjian Lama, dan Ia pun memberi tahu mereka cara untuk berkontak dengan-Nya. Hal ini tidak perlu disangsikan. Akan tetapi Allah tidak pernah menginginkan agama. Agama adalah penemuan manusia, hasil pemikiran manusia yang telah jatuh, penemuan yang terbaik dalam kebudayaan manusia. Namun, berkaitan dengan ekonomi Allah, agama merupakan musuh Allah yang paling jahat. Agama mutlak bertentangan dengan ekonomi Allah. Saya ulangi sekali lagi, Allah tidak pernah berniat mendirikan agama. Allah hanya bermaksud memberikan firman kudus-Nya kepada umat-Nya, yang menyatakan kepada mereka bahwa Dia yang akan datang itu, yakni Putra Allah, akan menjadi Juruselamat dan hayat bagi penggenapan kehendak Allah. Dia yang akan datang itu akan menjadi segala sesuatu mereka kebenaran, kesucian, penebusan, dan kemuliaan. Orang-orang Yahudi tidak memiliki pengenalan ini. Mereka malah memilih bagian-bagian perintah dalam firman kudus Allah dan menggunakannya untuk merancang ritual-ritual dan peraturan-peraturan. Perintah-perintah, ritual-ritual, dan peraturan-peraturan itu mereka gabungkan menjadi suatu agama. Apakah agama? Definisi yang terbaik tidak ditemukan dalam kamus Webster. Agama adalah menyembah Allah, berbuat baik, namun tanpa Kristus. Agama adalah mencoba dengan sebisanya menyembah Allah, berkelakuan baik untuk mencari perkenan Allah, ingin menjadi orang yang sempurna, namun tanpa Kristus. Sekalipun segalanya mungkin saja baik menyembah Allah menurut peraturan dan berkelakuan baik namun semua itu tanpa Kristus. Dalam kalangan kekristenan, kelihatannya orang-orang memiliki Kristus, tetapi bagi kebanyakan orang, Kristus sekadar istilah belaka. Bila Anda hanya memiliki Kristus sebagai istilah, itulah agama. Kita harus memiliki Kristus sebagai realitas. Hanya dengan Kristus sebagai realitas, barulah kita lepas dari agama.

Ketika Tuhan Yesus datang, Ia datang sebagai Dia yang telah dinubuatkan oleh Perjanjian Lama. Dia datang untuk menjadi keselamatan, hayat, kebenaran, kekudusan, penebusan, kemuliaan, dan segala sesuatu bagi umat Allah. Tetapi ketika Dia datang, umat Allah atau orang-orang Yahudi telah sepenuhnya dijajah oleh agama mereka, sehingga tidak ada ruang kosong lagi dalam hati mereka bagi Dia yang datang ini. Jika membaca keempat kitab Injil, kita akan nampak bahwa ke mana pun Tuhan pergi dan di mana pun Ia berada, Ia selalu ditentang oleh agama standar yang dibentuk berdasarkan firman kudus ini. Para agamawan menentang Tuhan Sang Hidup ini menurut agama mereka. Mereka menyangka bahwa mereka menentang Kristus bagi Allah. Bahkan mereka menjatuhi hukuman mati kepada Tuhan Sang Hidup ini, dalam usaha mereka untuk melindungi Allah. Menurut pemahaman mereka, ketika Yesus mengaku diri-Nya itu Putra Allah, berarti Ia mengucapkan perkataan hujat, karena menganggap diri-Nya setara dengan Allah (Yoh. 5:18). Mereka seolah berkata, “Kita hanya ada satu Allah dan tidak ada yang lain lagi. Allah kita ialah Yehova Elohim. Kita tidak punya Allah yang bernama Yesus. Jika Kamu mengaku diri-Mu itu Putra Allah, berarti Kamu menyamakan atau menyetarakan diri-Mu dengan Allah dan menjadi penghujat. Kami harus membunuh-Mu.” Itulah agama.

Secara prinsip, situasi itu sama dengan hari ini. Banyak agamawan menyembah Allah dan berusaha sedapatnya untuk mencari perkenan-Nya, berkelakuan baik, dan ingin menjadi orang yang sempurna. Namun semuanya itu tanpa Kristus. Jenis agama ini selalu menentang Kristus dan pengikut-pengikut Kristus yang sejati di dalam hayat. Perlawanan ini tidak dinyatakan dalam Yohanes 3 atau Yohanes 4, tetapi kita jumpai dalam Yohanes 5. Dalam peristiwa orang yang lemah ini, penentangan dari agama telah mutlak disingkapkan. Pasal ini mengungkapkan ketidakmampuan agama standar dan penentangannya terhadap Kristus. Dalam pasal ini, hal utama pada aspek negatif yang perlu kita nampak ialah ketidakmampuan, kesia-siaan agama, dan penentangan agama ini terhadap Kristus. Puji Tuhan, pada aspek positifnya pasal ini juga menunjukkan kepada kita kelimpahan (kecukupan) Kristus Putra Allah, sebagai hayat yang menghidupkan. Kristus sebagai hayat sanggup menghidupkan kita.

Peristiwa ini merupakan sebuah kiasan. Karena itu, setiap aspek dari peristiwa ini harus dikiaskan. Bertahun-tahun saya membaca pasal ini berulang-ulang. Saya tidak bisa memahaminya, sehingga saya sangat resah dibuatnya. Dalam mempelajari Alkitab, saya membiasakan diri menemukan titik intinya. Tetapi sekalipun saya sudah berulang-ulang mempelajari pasal ini, tetap saja tidak menemukan titik intinya. Lebih mudah menemukan titik inti Yohanes 3 kelahiran, juga Yohanes 4 air hidup. Cobalah jawab, apakah titik inti Yohanes 5? Saya sering menggunakan ayat 24 dari pasal ini dalam penginjilan, namun titik inti pasal ini masih tidak terpegang secara keseluruhan.

A. Ketidakmampuan Agama

Pemelihara Hukum Taurat

Titik inti peristiwa ini, di pihak negatifnya, adalah memperlihatkan ketidakmampuan memelihara hukum Taurat dalam agama standar. Memelihara hukum Taurat merupakan hal utama dalam agama Yahudi. Setiap orang Yahudi menghargai hukum Taurat dan berniat memeliharanya. Orang-orang Yahudi menyadari bahwa selain memelihara hukum Taurat, mereka tidak mempunyai jalan lain untuk mencari perkenan Allah, berkelakuan baik, atau menyempurnakan diri mereka. Setiap orang Yahudi yang standar akan memberi tahu Anda bahwa selain Allah tidak ada yang sebesar atau sepenting hukum Taurat. Allah itu nomor satu dan hukum Taurat itu nomor dua. Jadi, memelihara hukum Taurat merupakan segala-galanya bagi agama yang standar ini.

1. Hal-hal yang Bagus dari Agama Standar

Agama Yahudi sekurang-kurangnya meliputi tujuh hal: kota kudus Yerusalem, bait kudus, hari raya kudus, Sabat kudus, malaikat-malaikat, Musa, dan Kitab Suci. Jika digabungkan, ketujuh hal ini akan menjadi Yudaisme atau agama Yahudi. Ketujuh hal ini merupakan hal-hal yang unggul dan bagus sekali. Jika Anda bertanya kepada saya apakah Yudaisme itu, maka jawaban saya sekurang-kurangnya mencakup tujuh hal: 1) kota kudus; 2) bait kudus; 3) hari raya untuk kenikmatan; 4) hari Sabat untuk perhentian; 5) malaikat-malaikat pelindung; 6) Musa, pemberi hukum Taurat; dan 7) Kitab Suci yang terdiri atas Perjanjian Lama.

Bersamaan ketujuh hal dalam aliran Yudaisme ini, masih ada cara-cara penyembuhan, karena di sana terdapat kolam air penyembuhan. Makna gambaran ini adalah: agama standar selalu memiliki cara-cara penyembuhan. Yudaisme merupakan agama standar yang mempunyai sesuatu yang sanggup menyembuhkan Anda. Kolam di Yerusalem menandakan bahwa cara penyembuhan ada di dalam agama standar itu.

Tetapi di sana terdapat satu tuntutan Anda harus mempunyai tenaga atau kekuatan untuk berjalan dan bertindak. Ketika suatu kesempatan disediakan bagi Anda untuk menerima manfaat atas agama ini, Anda harus mempunyai kekuatan untuk menjadi yang pertama serta mempunyai tenaga untuk berjalan. Peristiwa ini merupakan suatu tanda yang menunjukkan kepada kita bahwa di sini ada agama standar dengan banyak hal yang baik dan kudus, yang dapat menyembuhkan Anda. Tetapi, ia menuntut kekuatan Anda untuk berjalan dan bertindak. Jika Anda nomor dua, Anda akan gagal memperoleh manfaat dari agama yang bagus ini, hanya karena Anda bukan nomor satu.

2. Praktek Memelihara Hukum Taurat

Mari kita melihat beberapa aspek praktek memelihara hukum Taurat. Gerbang domba (Yoh. 5:2) berarti pintu masuk menuju kandang domba agama yang memelihara hukum Taurat (Yoh. 10:1). Nama kolam “betesda” berarti “rumah belas kasihan”, menyatakan bahwa orang-orang yang memelihara hukum Taurat tersebut perlu belas kasihan Allah, karena mereka tidak mampu, lemah, dan malang, seperti yang dilukiskan dalam Roma 7:7-24. Serambi-serambi seperti kandang domba, melambangkan tempat perlindungan agama yang memelihara hukum Taurat, dan angka lima berarti tanggung jawab. Malaikat yang mengguncangkan air melambangkan wakil yang memberikan hukum Taurat; hukum Taurat ini tidak bisa memberi hayat kepada manusia (Gal. 3:19-21). Guncangan air yang membuat orang disembuhkan menandakan praktek hukum Taurat yang mencoba menyempurnakan orang. Dengan memperhatikan aspek-aspek ini, kita bisa melihat situasi atau keadaan praktek hukum Taurat yang merupakan perkara utama dalam agama standar.

3. Ketidakmungkinan Memelihara Hukum Taurat

Mustahil manusia dapat memelihara atau melaksanakan hukum Taurat. Tak seorang pun dapat melaksanakannya. Sama seperti orang-orang tidak dapat berjalan ke surga, demikian pula mereka tidak dapat memelihara hukum Taurat. Roma 8:3 mengatakan, tidak mungkin melaksanakan hukum Taurat, sebab hukum Taurat menjadi tak berdaya karena daging. Semua tubuh insani terlalu lemah untuk melaksanakan hukum Taurat. Hal ini telah jelas terlukis pada peristiwa orang yang lemah.

Orang yang lemah ini telah menderita sakit selama 38 tahun. Ia tidak berdaya untuk bergerak. Ia penuh dengan harapan ketika melihat air berguncang, namun mustahil baginya untuk mencapai kolam pada waktunya. Karena ia itu lemah, tidak mampu bergerak, akibatnya ia tidak mendapatkan penyembuhan. Demikian juga, karena kelemahan kita, kita tidak dapat memelihara hukum Taurat. Hukum Taurat memang baik, kudus, dan rohani. Hukum Taurat sendiri tidak ada masalah, masalahnya terletak pada kita.

Manusia bukan hanya sakit, tetapi juga mati. Dari Yohanes 5:25, kita tahu bahwa dalam pandangan Tuhan, seorang yang lemah sama dengan orang yang mati. Bagaimana mungkin orang mati bisa berjalan? Jika ia ingin berjalan, ia harus dihidupkan lebih dulu. Orang mati mustahil dapat melakukan sesuatu pun. Galatia 3:21 mengatakan bahwa hukum Taurat tidak mampu menghidupkan. Hukum Taurat hanya membuat tuntutan-tuntutan terhadap manusia, tidak pernah menyuplai hayat. Karena kekurangan hayat, maka manusia sama sekali tidak mungkin memelihara hukum Taurat. Jika Anda masih tetap seorang agamawan, masih mencoba memelihara hukum Taurat, maka biarkan saya bertanya kepada Anda: Anda ini hidup atau mati? Anda harus mengakui bahwa Anda ini mati. Bila Anda ini mati, mana mungkin Anda memelihara hukum Taurat? Orang mati mustahil bisa berbuat sesuatu.

Karena kelemahan tubuh daging dan kekurangan hayat, maka manusia tidak mungkin memelihara hukum Taurat. Meskipun di sana ada malaikat dan guncangan air, namun tidak ada jalan bagi Anda untuk memenuhi tuntutan, syarat mencapai air dan beroleh kesembuhan. Inilah gambaran yang jelas dan tegas yang menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang lemah dan orang-orang yang mati mustahil memelihara hukum Taurat. Bagi manusia, tidak ada harapan pada hukum Taurat. Terhadap hukum Taurat, kita tidak tertolong atau berpengharapan.

Hari ini, kita mempunyai agama yang lebih baik, bahkan agama yang paling baik. Tetapi apakah Anda menyadari bahwa agama yang paling baik ini menuntut Anda melakukan sesuatu? Agama ini menuntut Anda berjalan, bertindak, dan harus menjadi yang pertama agar Anda bisa mendapatkan manfaatnya. Boleh jadi Anda telah menemukan bahwa Anda terlalu lemah untuk mendapatkan apa yang ditawarkan oleh agama Anda. Ini menandakan bahwa Anda sedang di atas posisi orang yang lemah itu berada di antara lima serambi. Kita seperti orang-orang yang lemah yang di bawah naungan pemelihara hukum Taurat.

4. Orang-orang Sakit di Bawah Naungan Kandang Agama Pemelihara Hukum Taurat

Sejumlah besar orang sakit berbaring di serambi-serambi itu. Ini menyatakan di bawah naungan pemelihara hukum Taurat, yaitu di dalam kandang agama, ada banyak orang buta, tidak bisa melihat; ada banyak orang yang timpang, tidak dapat berjalan; dan ada banyak orang yang lumpuh, kekurangan suplai hayat. Mereka tidak memiliki sukacita atau kedamaian, hanya memiliki penderitaan. Orang yang lemah tidak memiliki sukacita, sekalipun pada hari raya, hari yang penuh sukacita (Yoh. 5:1); mereka tidak memiliki perhentian, sekalipun pada hari Sabat (Yoh. 5:10). Orang-orang yang sakit adalah orang-orang yang tak berdaya dan tak berpengharapan, dan mati dalam pandangan Tuhan.

Meskipun agama yang menghendaki memelihara hukum Taurat mempunyai cara penyembuhan, tetapi itu tidak berfaedah bagi orang yang lemah dan tak berdaya, karena ia tidak bertenaga untuk memenuhi permintaan hukum Taurat. Pemeliharaan hukum Taurat dalam agama bersandar pada usaha, pekerjaan, dan tirakat manusia. Namun karena manusia lemah, maka pemeliharaan hukum Taurat agama menjadi tidak berguna. Kota kudus, Bait kudus, hari raya kudus, Sabat kudus, malaikat-malaikat, Musa, dan Kitab Suci, semuanya adalah barang-barang baik dari agama ini, tetapi semuanya itu tidak bisa membantu orang yang lemah dan tak berdaya itu. Dalam pandangan Tuhan, ia tetap adalah orang yang mati, bukan hanya memerlukan penyembuhan, tetapi juga perlu dihidupkan. Tuhan menghidupkan orang tanpa permintaan apa pun. Sebagaimana akan kita lihat, begitu orang yang lemah ini mendengar suara Tuhan, ia pun dihidupkan. Tanda ajaib ini menunjukkan bahwa ketika pelaksanaan pemelihara hukum Taurat agama Yahudi tidak mampu dipelihara karena kelemahan manusia, Putra Allah datang dan menghidupkan kembali orang yang mati. Hukum Taurat tidak bisa memberi hayat, tetapi Putra Allah justru memberi hayat kepada orang yang mati (Yoh. 5:21). “Karena waktu kita masih lemah” (Rm. 5:6), Dia datang menghidupkan kita.

B. Kelimpahan Pemberi–Hayat Allah Putra

Telah kita lihat bahwa peristiwa ini di pihak negatifnya telah memaparkan ketidakmampuan dan kesia-siaan agama pemelihara hukum Taurat. Agama Yahudi mempunyai banyak hal yang baik kota kudus, bait kudus, malaikat-malaikat, Kitab Suci, hari raya kudus, Sabat kudus, dan kolam, tetapi tidak satu pun dari hal-hal yang bagus ini mampu menolong orang yang mati. Kota kudus tidak mampu menolong orang yang lemah; demikian juga dengan bait kudus, Kitab Suci, maupun hari-hari kudus. Walaupun hari itu adalah hari raya, ia tidak gembira; sekalipun berada pada hari Sabat, ia tidak memiliki perhentian. Tidak ada seorang pun yang sanggup menolong dia. Dia tidak berdaya, juga tak berpengharapan. Tiba-tiba, satu orang kecil datang ke dalam situasi ini. Orang ini bukanlah penghulu malaikat, melainkan seorang laki-laki yang bernama Yesus. Ia tidak tampan atau menarik, dan tidak ada orang yang mengindahkan Dia. Ia langsung datang ke tempat si sakit. Sebagaimana Bapa dalam kekekalan yang silam telah lebih dulu nampak perempuan Samaria itu dan Putra pergi menemuinya di sumur Yakub, demikian pula Bapa lebih dulu melihat si lemah ini, dan Putra datang kepadanya ketika ia sedang berbaring di pinggir kolam. Tuhan bertanya kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Artinya, “Maukah engkau disembuhkan?” Si lemah itu tidak tahu apa-apa kecuali kolam, air, dan malaikat yang mengguncangkan air. Ia sadar bahwa di dalam dirinya tidak ada harapan, tidak ada kekuatan. Ia menerangkan keadaannya kepada Tuhan Yesus. Kemudian Tuhan Yesus berkata, “Bangunlah, angkat tikarmu dan berjalanlah.” Orang yang lemah mendengar firman (perkataan) yang menghidupkan dari Tuhan Sang Hidup kekal dan pemberi hayat, segera mendapat kesembuhan. Mungkin kita berpikir bahwa ia bangkit dan berjalan sebelum disembuhkan. Itu tidak benar. Ia disembuhkan dulu, baru bangun, mengangkat tikarnya, dan berjalan. Perhatikan urutan dalam ayat 9 “Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.” “Pada saat itu juga sembuhlah orang itu” mendahului kata-kata “mengangkat tikarnya dan berjalan”. Ia sudah disembuhkan sebelum ia bangun. Ia disembuhkan ketika ia mendengar suara Putra Allah yang hidup. Mendengar firman Tuhan yang hidup itulah yang membuatnya hidup. Dulu tikar yang menopang orang yang lemah dan tak berdaya itu, kini orang yang telah dihidupkan kembali ini yang memikul tikarnya.

Jika saya ini lemah, mungkin saya akan berkata, “Tuan, aku tidak dapat melakukannya. Aku telah bersandar tempat tidur ini selama 38 tahun. Selama ini tikar ini yang memikul aku. Bagaimana mungkin Engkau menyuruh aku mengangkatnya? Aku tidak dapat melakukan seperti yang Engkau perintahkan itu.” Janganlah membantah firman Tuhan. Seharusnya kita hanya menjawab, “Amin” terhadap apa yang dikatakan-Nya serta melakukan sesuai dengan firman-Nya. Alangkah indahnya, si lemah itu bukan hanya bangun, tetapi juga mengangkat tikarnya dan berjalan. Ia bukan sekadar disembuhkan, ia pun dihidupkan. Menurut ayat 24-25, ia seperti orang mati yang berpindah dari dalam maut ke dalam hayat. Menurut prinsip yang didirikan dalam Yohanes 2, inilah mengubah maut menjadi hayat.

Kita tidak memerlukan kolam agama berikut airnya, kita pun tidak memerlukan malaikat. Dibandingkan dengan Yesus, kolam agama dan malaikat sangat tidak memadai. Bila kita memiliki Yesus, kita sudah tidak memerlukan sesuatu yang lain. Apakah gunanya kota kudus, bait kudus, dan malaikat kudus? Baik hari raya maupun hari Sabat tidak berarti apa-apa bagi kita. Tidak ada apa pun yang berfaedah bagi kita. Yesus saja yang menghidupkan. Kita semua telah nampak hal ini. Inilah hayat yang menghidupkan. Inilah inti yang positif dari peristiwa ini.

II. AGAMA BERLAWANAN DENGAN HAYAT

A. Hayat yang Menghidupkan

Melanggar Ritual Agama

Dalam Yohanes 5:10-16 kita nampak agama berlawanan dengan hayat. “Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, ‘Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu’” (5:10). Hayat yang menghidupkan orang, ini melanggar ritual (peraturan) agama. Agama dilanggar oleh hayat, dan sejak itu mulailah agama menjadi musuh hayat. Sabat adalah untuk manusia (Mrk. 2:27) dan seharusnya menjadi perhentian bagi manusia. Hukum Taurat agama tidak memberikan perhentian kepada orang yang telah sakit selama 38 tahun itu. Tetapi hayat yang menghidupkan memberikan perhentian kepada orang ini. Para agamawan hanya memperhatikan liturgi memelihara Sabat, tidak memperhatikan perhentian orang yang sakit. Betapa luar biasa hayat yang kita miliki! Kita tidak lagi memerlukan perkara-perkara agama. Asal kita memiliki Kristus, semua perkara agama hilang artinya. Asal kita memiliki Yesus, kita memiliki hayat. Biarkanlah agama dan segala miliknya berlalu. Mereka tidak dapat memberikan hayat. Hanya Yesus yang bisa memberikan hayat. Yesus menghidupkan kita. Yesus mengaruniai kita hayat. Hayat mendatangkan sukacita. Hayat mendatangkan perhentian. Hayat memberi kita terang dan segala sesuatu yang kita perlukan. Puji Tuhan!

Makna sejati atas ini ialah perbedaan antara agama dengan Kristus, yaitu perbedaan antara memelihara hukum Taurat dengan Kristus yang menghidupkan. Memelihara hukum dalam agama memang baik, tetapi kita lemah. Memelihara hukum Taurat Agama mungkin berkhasiat, tetapi kita tidak dapat memenuhi tuntutannya. Kristus tidak menaruh tuntutan, karena ketika Ia datang kepada kita, Ia memberikan firman-Nya yang hidup, supaya kita bisa mendengar suara-Nya. Jika dikatakan ada tuntutan, itu hanyalah mendengar suara-Nya. Ketika kita mendengar suaranya, kita berpindah dari maut ke dalam hayat. Perbedaan yang mencolok dalam peristiwa ini adalah agama mengajukan tuntutan-tuntutan, sedang firman Kristus menghidupkan.

B. Agama Ingin Memusnahkan Hayat

Agama pemelihara hukum Taurat tidak bisa memberikan hayat kepada orang yang lemah. Ketika Kristus dengan hayat menghidupkan orang itu, segera agama menganiaya Dia, ingin memusnahkan hayat, sebab Dia melakukan hal ini pada hari Sabat (Yoh. 5:16). Agama itu mementingkan memelihara Sabat dan mengorbankan perhentian orang yang lemah tanpa rasa prihatin. Tetapi Kristus memperhatikan perhentian manusia, Dia lebih senang mengorbankan pemeliharaan hari Sabat. Dengan sendirinya hal ini melanggar agama itu. Pada prinsipnya, keadaan agama hari ini juga sama. Orang-orang kalangan agama hari ini tetap memandang berat tata cara (ritual) agama, sehingga tak segan-segan mengorbankan perihal hayat bagi manusia. Namun Tuhan tetap bersikap lebih baik mengorbankan tata cara agama daripada mengorbankan perihal hayat bagi manusia. Inilah penjelasan atas tentangan dan penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang yang memegang tata cara agama terhadap orang-orang yang dihidupkan oleh Kristus.

III. DALAM MENGARUNIAKAN HAYAT DAN

MELAKSANAKAN PENGHAKIMAN,

PUTRA SETARA DENGAN BAPA

A. Putra Setara dengan Bapa

Para agamawan Yahudi menganiaya Yesus, karena Tuhan melakukannya pada hari Sabat mereka, yaitu membuat orang yang lemah itu hidup kembali. Yesus berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Dalam konsepsi agama mereka, mereka harus beristirahat pada hari Sabat. Mereka tidak paham bahwa asal masih ada orang dosa yang kasihan yang belum diselamatkan, Bapa dan Putra tidak akan bisa menikmati perhentian. Ketika mereka beristirahat pada hari Sabat, Bapa dan Putra masih tetap bekerja, agar orang dosa beroleh hayat dan perhentian. Perkara ini tidak hanya menentang orang-orang Yahudi yang agamawi, juga mem-buat mereka merasa bahwa Yesus sedang menghujat Allah. Dalam konsepsi mereka, Dia “bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yoh. 5:18). Dalam pandangan mereka, ini berarti telah menghujat Allah. Tetapi Orang yang dianggap telah “menghujat” Allah ini telah menghidupkan orang yang lemah itu. Dia menghidupkan orang itu, membuktikan bahwa dalam hal mengaruniakan hayat, Dia setara dengan Allah Bapa.

B. Baik Bapa Maupun Putra Sama-sama Bekerja bagi Penebusan dan Pembangunan

Meskipun pekerjaan penciptaan Allah telah genap (Kej. 2:1-3), tetapi Bapa dan Putra masih bekerja untuk penebusan dan pembangunan (Yoh. 5:17, 19-20). Orang-orang Yahudi yang agamawi memelihara hari Sabat penciptaan. Mereka tidak tahu bahwa karena kejatuhan manusia, perhentian hari Sabat itu sudah rusak. Mereka juga tidak mengerti bahwa Bapa dan Putra tetap bekerja untuk menebus manusia yang telah jatuh, untuk menggenapkan kehendak Allah yang semula, yaitu membangun tempat kediaman yang kekal. Yang dulu Allah kerjakan itu adalah ciptaan lama, sedangkan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Bapa dan Putra adalah ciptaan baru, yang melalui penebusan merampungkan pembangunan Allah. Karya (pekerjaan) ini meliputi Putra mengaruniakan hayat kepada manusia, yang dinyatakan oleh peristiwa ini sendiri. Dalam hal ini Bapa dan Putra adalah satu. Dalam hal mengaruniakan hayat kepada manusia, bagaimana Bapa bekerja, begitu pula Putra bekerja.

C. Putra Allah Mengaruniakan Hayat kepada Orang yang Mati

Putra mengaruniakan hayat kepada orang yang mati. Ayat 21 mengatakan, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” Dalam ayat 24 kita nampak, siapa saja yang mendengar suara Putra dan percaya kepada Dia yang mengutus Dia, mempunyai hidup yang kekal, dan telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Ayat 25 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” Orang-orang mati yang disebut dalam ayat ini bukanlah orang-orang yang dikubur dalam kuburan, melainkan orang-orang hidup yang mati. Mereka bukanlah mati jasmaninya, melainkan mati rohnya, sama seperti yang dikatakan dalam Efesus 2:1-5 dan Kolose 2:13. Dalam pandangan Tuhan, semua orang dunia telah mati di dalam rohnya. “Saatnya akan tiba dan sudah tiba”, kalimat ini mengacu kepada waktu ketika Tuhan mengucapkannya.. Banyak orang pada saat itu telah mendengar firman-Nya yang hidup sehingga mereka dihidupkan. Jadi “akan hidup” dalam ayat ini ditujukan pada dihidupkan dalam roh, bukan ditujukan pada kebangkitan tubuh yang tercantum dalam ayat 28 dan 29. Setelah Tuhan mengatakan perkataan ini, 2.000 tahun kemudian, laksaan orang telah mendengar suara kehidupan dari Putra Allah, mereka dihidupkan. Kita pun, karena mendengar firman Tuhan yang hidup, menjadi hidup. Dulu, kita semua juga adalah orang-orang yang lemah di antara lima serambi. Asalnya kita adalah buta, timpang, dan lumpuh. Singkatnya, kita semua adalah orang-orang mati. Kemudian Tuhan mendatangi kita. Setelah kita mendengar firman yang hidup dalam Injil, kita dihidupkan dan menjadi hidup. Kita benar-benar telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

Dalam hal hayat, Putra dan Bapa adalah sama. “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yoh. 5:26). Bapa dan Putra sama, di dalam diri-Nya sendiri mempunyai hayat. Sebab itu, Putra bisa dan sungguh-sungguh menuruti maksud Bapa, menghidupkan orang dengan hayat. Dalam hal menghidupkan dengan hayat, Putra dan Bapa benar-benar satu.

D. Anak Manusia Melaksanakan Penghakiman

terhadap Orang-orang yang Tidak Percaya

Anak Manusia akan melaksanakan penghakiman terhadap semua orang yang tidak percaya (Yoh. 5:22-23, 27, 30). Sebagai Putra Allah (Yoh. 5:25), Tuhan sanggup mengaruniakan hayat kepada manusia (Yoh. 5:21). Sebagai Anak Manusia, Dia mampu melaksanakan penghakiman (Yoh. 5:27). Karena Dia adalah seorang manusia, maka Ia memenuhi syarat untuk menghakimi manusia. Kisah Para Rasul 17:31 mengatakan bahwa Allah “akan menghakimi dunia oleh seorang (Yesus) yang telah ditentukan-Nya.” Roma 2:16 mengatakan, “Allah, melalui Kristus Yesus, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia.” Dua Timotius 4:1 mengatakan, “Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Dan Bapa “telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia” (Yoh. 5:27). Bapa telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Putra, “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” (Yoh. 5:22, 23). Putra akan melaksanakan penghakiman menurut kehendak Bapa secara adil (Yoh. 5:30). Dalam hal menghidupkan orang dengan hayat, Putra dan Bapa itu satu; dalam hal penghakiman, Dia dengan Bapa pun satu.

E. Dua Kebangkitan

Mari kita membaca ayat 28 dan 29 “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Semua orang yang jasmaninya mati dan dikubur dalam kuburan akan bangkit. Perhatikanlah perbedaan dua ayat ini dengan ayat 25. Ayat 25 mengatakan bahwa orang-orang mati akan mendengar suara-Nya; dan ayat 28 mengatakan bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya. Orang yang di dalam kuburan berbeda dengan orang yang mati. Ayat 25 ditujukan kepada orang mati yang hidup di bumi, sedang ayat 28 ditujukan kepada orang mati yang telah dikubur di dalam kuburan. Orang-orang yang dikubur di dalam kuburan, semua akan bangkit pada kedatangan Tuhan kali kedua.

Selain kebangkitan dalam roh yang dituliskan dalam ayat 25, ayat 29 membagi kebangkitan jasmani menjadi dua jenis. Kita bangkit di dalam roh, berarti roh kita telah dihidupkan, juga berarti kelahiran kembali kita di dalam roh. Kelahiran kembali di dalam roh ini adalah Tuhan Yesus dengan hayat ilahi, yakni diri-Nya sendiri, membuat orang bangkit. Selain itu, masih ada dua macam kebangkitan jasmani: yang pertama ialah “kebangkitan hayat” (LAI: bangkit untuk hidup yang kekal), ini adalah kebangkitan kaum beriman yang beroleh selamat sebelum Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4, 6; 1Kor. 15:23, 52; 1Tes. 4:16). Kaum beriman yang telah mati akan dibangkitkan pada waktu kedatangan kembali Tuhan Yesus untuk menikmati hidup (hayat) yang kekal. Inilah sebabnya kebangkitan ini disebut “kebangkitan hayat”. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, semua orang beriman akan dibangkitkan, mereka akan diangkat ke angkasa bersama-sama dengan kaum beriman yang masih hidup (1Tes. 4:17), dan yang menang akan menjadi raja bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama seribu tahun. Yang kedua ialah “kebangkitan penghakiman” (LAI: bangkit untuk dihukum), ini mengacu kepada kebangkitan orang-orang yang tidak percaya setelah Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:5, 12). Semua orang yang tidak percaya akan bangkit setelah Kerajaan Seribu Tahun, dan dihakimi di depan takhta putih besar (Why. 20:11-15). Inilah sebabnya kebangkitan ini disebut “kebangkitan penghakiman”. Kita, kaum beriman, akan menikmati dan mempunyai bagian dalam kebangkitan untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang tidak percaya akan dihakimi dalam kebangkitan penghakiman, serta menerima kebinasaan yang kekal.

IV. EMPAT GANDA KESAKSIAN PUTRA

Dalam Yohanes 5:31-47 kita nampak empat ganda kesaksian Putra: yaitu kesaksian Yohanes Pembaptis (ayat 32-35), kesaksian pekerjaan Putra (ayat 36), kesaksian Bapa (ayat 37-38), dan kesaksian Kitab-kitab Suci (ayat 39-47). Meski ada empat ganda kesaksian ini, orang-orang masih mungkin tidak memperoleh Kristus sendiri. Orang-orang Yahudi pernah gembira atas Yohanes Pembaptis, namun mereka tidak tahu bahwa ia hanyalah kesaksian Kristus. Yang dikerjakan oleh Yohanes ialah menuntun orang kepada Kristus. Orang Yahudi telah melihat pekerjaan yang dilakukan Kristus, tetapi mereka tidak mau datang kepada-Nya. Mereka telah nampak mukjizat dan tanda ajaib yang dilakukan oleh Kristus, tetapi mereka tidak kenal siapa Dia, dan tidak mau datang kepada-Nya. Bapa telah bersaksi bagi Putra, namun mereka tidak membiarkan firman-Nya tinggal di dalam mereka. Ini disebabkan mereka tidak percaya kepada Putra yang diutus oleh Bapa. Bahkan mereka menyelidiki Kitab-kitab Suci yang memberi kesaksian tentang Putra, tetapi mereka tidak datang kepada-Nya untuk mendapatkan hidup yang kekal.

“Menyelidiki Kitab-kitab Suci (Alkitab) mungkin sekali terpisah dengan “datang kepada-Ku”. Para agamawan Yahudi menyelidiki Kitab-kitab Suci, namun mereka tidak mau datang kepada Tuhan. Keduanya ini seharusnya bergandengan. Berhubung Kitab Suci justru bersaksi bagi Tuhan, maka seharusnya Kitab Suci tidak boleh dipisahkan dengan Tuhan. Sangat besar kemungkinan kita menjamah Alkitab, namun tidak menjamah Tuhan. Hanya Tuhan saja yang dapat mengaruniakan hayat. Kita tidak boleh sekali-kali memisahkan Alkitab dengan Tuhan sendiri. Kapan saja kita menyelidiki firman Allah, kita harus datang ke hadapan Tuhan. Kita harus menyatukan perihal menyelidiki firman Allah dengan menjamah Tuhan. Setiap kali kita mempelajari Kitab Suci, kita harus membuka roh kita kepada Tuhan. Ketika mata kita membaca firman Alkitab, dan pemahaman kita menanggapinya, roh kita harus berlatih mengontak Tuhan melalui Kitab Suci. Dengan demikian, kita tidak hanya di dalam otak memahami huruf hitam di atas kertas putih, juga di dalam roh kita mendapatkan hayat.

Semua mukjizat, tanda ajaib, dan karunia, adalah kesaksian, yang melaluinya kita bisa berkontak dengan Kristus. Masalahnya hari ini ialah orang-orang sudah memiliki kesaksian, tetapi belum berkontak dengan Tuhan sendiri. Seseorang mungkin saja telah melihat mukjizat, tanda ajaib, karunia, dan pengetahuan Alkitab, namun tidak berkontak dengan Tuhan sendiri. Hanya Tuhan sendiri yang bisa mengaruniai Anda hayat. Bukan mukjizat, karunia rohani, atau Alkitab yang memberi Anda hayat dan menghidupkan Anda, melainkan Tuhan.

Saya tegaskan sekali lagi: Rasul Yohanes mencatat peristiwa-peristiwa ini untuk menunjukkan keadaan manusia yang sebenarnya, dan mewahyukan Tuhan adalah suplai hayat kita. Dalam peristiwa pertama, kita adalah orang yang luhur; dalam peristiwa kedua, kita adalah orang yang berdosa; dalam peristiwa ketiga, kita adalah orang yang hampir mati; dalam peristiwa keempat, kita adalah orang yang lemah. Dalam peristiwa yang pertama, Tuhan itulah hayat kelahiran kembali kita; dalam peristiwa yang kedua, Dia itulah hayat yang memuaskan kita; dalam peristiwa yang ketiga, Dia itulah hayat yang menyembuhkan kita; dalam peristiwa yang keempat, Dia itulah hayat yang menghidupkan kita. Melalui pengertian terhadap keempat peristiwa ini, kita dapat menyadari di mana kita berada dan siapakah kita ini; dan kita akan menyadari di mana Tuhan dan siapakah Tuhan. Kemudian kita tahu apa yang kita perlukan dan apa yang akan Tuhan suplaikan kepada kita.