← Daftar isi Yohanes (2) · bab 18/18

KEPERLUAN ORANG YANG HAUS — PELERAIAN HAYAT (2)

Dalam Yohanes 5 kita nampak perbedaan antara hayat dengan agama, namun penganiayaan yang sejati belum dimulai. Penganiayaan dimulai dari Yohanes 7.

II. HAYAT DI BAWAH PENGANIAYAAN AGAMA

A. Rencana Tersembunyi Agama dan Hari Raya Agama

Menjelang para agamawan berhari raya, mereka berkomplot hendak membunuh Yesus (Yoh. 7:1-2). Inilah gambar yang tepat dari agama hari ini, karena secara prinsip agama hari ini adalah sama. Di satu pihak, kaum agamawan menyembah Allah, sedangkan di pihak lain, mereka berkomplot untuk membunuh pencari Allah yang sejati. Jika Anda seorang pencari hayat yang sejati, Anda harus siap sedia, karena agama sedang berusaha membunuh Anda. Hal ini telah terjadi sejak abad pertama hingga saat ini. Dalam setiap abad, kaum pencari hayat yang sejati selalu dianiaya oleh kaum agamawan. Contohnya, Madame Guyon, dipenjarakan oleh kaum agamawan pada zamannya. Asalkan Anda mengikuti Tuhan menurut hayat batiniah, bukan menurut hal-hal lahiriah, Anda akan dianiaya oleh umat beragama.

Tuhan adalah Allah Pencipta (Yoh. 1:1, 10). Namun sebagai Manusia, Ia rela dianiaya oleh makhluk ciptaan-Nya (Yoh. 7:1). Sang Pencipta dianiaya oleh ciptaan-Nya bukanlah suatu perkara yang mudah. Bukan kepalang kesabaran-Nya! Bukan kepalang rendah hati-Nya! Namun Tuhan telah melakukannya. Bahkan kesempatan hari raya agama pun ditunggangi untuk penganiayaan (Yoh. 7:2, 11). Para agamawan menggunakan hari raya agama untuk menganiaya Tuhan Yesus.

B. Penderitaan Hayat karena

Ketidakpercayaan Manusia

Orang Yahudi penganiaya ingin membunuh Tuhan Yesus (Yoh. 7:1, 20, 25, 30, 32, 34). Karena para agamawan Yahudi berusaha untuk membunuh Tuhan Yesus, maka Ia harus sangat hati-hati. Jika Ia kurang hati-hati sedikit saja, pasti akan terjebak ke dalam tangan mereka. Ia tidak bisa leluasa bergerak. Meskipun Tuhan adalah Allah yang Maha kuasa, Dia telah menjadi manusia yang dianiaya, terbatasi dalam aktivitasnya. Di satu pihak, para agamawan berusaha untuk membunuh Dia; di pihak lain, saudara-saudara-Nya yang tidak percaya menantang-Nya untuk mencari kemuliaan dunia (Yoh. 7:3-4). Seolah-olah saudara-saudara-Nya berkata kepada-Nya, “Mengapa Engkau tidak pergi ke Yerusalem? Engkau dapat memperoleh nama yang besar di sana.” Aniaya orang-orang Yahudi dan tantangan saudara-saudara-Nya, keduanya berasal dari satu musuh Iblis (Satan). Iblis mendorong orang-orang Yahudi untuk membunuh Tuhan, ia pun mendorong saudara-saudara-Nya yang tidak percaya agar membujuk-Nya ke Yerusalem dan membuat nama yang besar bagi diri-Nya, sehingga Ia menerima kemuliaan. Sama dengan situasi hari ini. Kadang kala ada saudara-saudara yang memberi usul, mari kita melakukan beberapa perkara supaya nama kita menjadi tenar. Tetapi mencari nama itu justru suatu hal yang me-ngerikan. Jika Anda ingin tenar, lebih baik mendapat nama yang buruk saja.

C. Pembatasan yang Diterima Hayat di Dalam Waktu

Dalam Yohanes 7:6-9 kita nampak Tuhan dibatasi di dalam waktu. Tuhan berkata kepada saudara-Nya, “WaktuKu belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu” (Yoh. 7:6). Meskipun Tuhan itu Allah yang kekal tak terbatas (Rm. 9:5), Dia telah menjadi manusia yang hidup di bumi, bahkan dibatasi oleh waktu. Tuhan rela kehilangan kebebasan-Nya, terikat oleh masalah waktu dan melakukan kehendak Bapa, agar dapat menyuplaikan air hidup kepada kita. Seluruh Yohanes 7 menunjukkan betapa Tuhan bertindak sebagai manusia yang dibatasi dalam segala hal.

D. Penuntutan Hayat terhadap Kemuliaan Allah

Meskipun Tuhan adalah Allah yang Mahakuasa (Yes. 9:6), Dia telah menjadi manusia yang dianiaya, terbatasi dalam aktivitas-Nya (Yoh. 7:10). Dia tidak mau bertindak dengan bebas. Meskipun Tuhan adalah Allah yang Maha tahu, Dia telah menjadi manusia yang rendah, dipandang sebagai manusia yang tidak berpendidikan. Maka heranlah orang-orang Yahudi, serta berkata, “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” (Yoh. 7:15). Meskipun pendidikan Tuhan itu sangat sedikit, tetapi Ia paham segalanya. Ia bukan hanya melek huruf, bahkan mengerti pikiran, hati, dan roh manusia. Tuhan tidak mencari kemuliaan bagi diri-Nya, Ia mencari kemuliaan Allah (Yoh. 7:17-18).

E. Sumber dan Asal Hayat — Allah Bapa

Sumber dan asal Tuhan ialah Allah Bapa (Yoh. 7:25-36; 13:3). Meskipun sumber-Nya itu Allah Bapa, Ia datang sebagai orang Nazaret di Galilea (Yoh. 7:27, 42, 52; 1:45-46). Ada sejangka waktu, saya tidak senang dengan Tuhan karena saya merasa Ia kurang berterus terang dalam Yohanes 7. Seolah-olah Ia agak licik. Ia memberi tahu orang-orang bahwa sumber-Nya adalah Allah Bapa, namun Ia datang dari Nazaret. Di sini terdapat prinsip yang penting: dalam setiap aspek-Nya, ditinjau dari penampilan lahiriah-Nya, Tuhan memang tidak menarik, namun batiniah-Nya sangat menakjubkan. Demikian juga dalam pemulihan Tuhan hari ini. Bila Anda melihat pemulihan menurut keadaan lahiriah, tampaknya tidak begitu menarik. Tetapi, keadaan batiniahnya berlainan sama sekali. Jangan terganggu oleh penam-pilan lahiriah. Orang yang memandang Yesus dari lahiriah akan memandang-Nya sebagai orang Nazaret belaka. Ia tidak rupawan atau menarik. Namun batiniah-Nya adalah Allah yang sejati. Sering kali saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa orang yang Kaubawa dalam pemulihan-Mu di Amerika Serikat ini jarang yang cakap dan elok, bahkan ada yang datang bersidang dengan pakaian tidak rapi.” Tetapi akhirnya saya nampak bahwa di dalam bejana tanah itu justru terdapat mustika. Tuhan berkata kepada saya untuk tidak memperhatikan penampilan lahiriah. “Orang Nazaret” memang jelek wajahnya, namun isinya sangat baik, surgawi.

III. SERUAN HAYAT TERHADAP ORANG YANG HAUS

A. Hari Terakhir Melambangkan Berakhirnya Semua Kenikmatan dari Kesuksesan Manusia

Pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru kepada orang-orang yang haus (Yoh. 7:37-39). Hari terakhir melambangkan berakhirnya semua kenikmatan dari kesuksesan manusia. Bagaimanapun suksesnya Anda, pasti pada suatu hari akan berakhir. Misalnya, pernikahan Anda itu harmonis, namun hal itu tidak akan berlangsung selamanya.

Ungkapan “hari terakhir” terdapat dalam Yohanes 6 dan 7 (Yoh. 6:39-40 Tl.; 7:37). Tetapi, keduanya itu berbeda satu sama lain. Hari terakhir dalam Yohanes 6 ditujukan pada waktu kelak, ketika Tuhan akan membangkitkan kita. Hari terakhir dalam Yohanes 7 ditujukan pada hari terakhir yang sering kita jumpai dalam hidup kita. Puncak hari terakhir memang di kemudian hari, tetapi sebelum hari itu, dalam hidup kita, sering kali terdapat hari terakhir. Pakaian yang Anda sukai itu, ada hari terakhirnya; pernikahan Anda pun ada hari terakhirnya; segala sesuatu ada hari terakhirnya. Hari raya Pondok Daun berlangsung tujuh hari, dan hari ketujuh adalah hari terakhir. Terakhir artinya tamat. Bagaimanapun kayanya Anda, tetap akan berakhir. Kekayaan Anda ada hari terakhirnya, kesehatan Anda ada hari terakhirnya, keluarga Anda ada hari terakhirnya, Anda dengan suami atau istri Anda yang tercinta ada hari terakhirnya, Anda dengan orang tua atau anak-anak Anda ada hari terakhirnya, semua yang Anda jumpai dan alami ada hari terakhirnya pokoknya ada hari terakhir!

Ketika saya mencapai usia 40 tahun, orang-orang berkata kepada saya, “Hidup manusia baru dimulai pada usia 40 tahun.” Tetapi ada juga yang mengatakan kepada saya, “Saudara, Anda harus tahu bahwa setelah 40 tahun, hidup manusia sudah menjelang sore hari. Ketika Anda dilahirkan, hidup manusia mulai fajar; pada usia 40 tahun, hidup manusia mencapai tengah hari; lewat 40 tahun, hidup manusia menjelang petang hari; boleh jadi setelah 60 tahun, tidak lama lagi hidup akan berakhir.” Cepat atau lambat, akan tiba hari terakhir hidup kita.

Tengoklah gambaran. Orang Israel berjerih payah sepanjang tahun hingga mereka menuai biji-bijian dan anggur. Mereka mendapat segalanya itu dengan kedua tangan mereka sendiri. Kemudian setelah bekerja keras, sisa yang harus mereka kerjakan ialah berhimpun bersama-sama menikmati tuaian mereka selama tujuh hari. Hari ketujuh adalah puncaknya, namun hari itu juga yang terakhir. Hari mereka berpisah.

B. Panggilan untuk Datang dan Minum

Menjelang orang-orang bubar pada hari terakhir pesta itu, Tuhan berdiri dan berseru, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yoh. 7:37). Orang-orang belum dipuaskan. Barang yang mereka nikmati selama tujuh hari tidak mampu meleraikan haus mereka. Jika mereka mau datang dan minum Kristus, mereka akan memiliki sungai air hidup yang mengalir dari lubuk batin mereka. Air hidup ini adalah Roh Kudus yang mengalir keluar dari batu karang yang terpukul.

Sebagaimana akan kita lihat, ketika Tuhan mengucapkan perkataan ini, Roh Kudus “belum ada”, sebab Tuhan “belum dipukul”, belum dimuliakan (Yoh. 7:39 Tl.). Apa artinya Tuhan dimuliakan? Yaitu Ia akan dibangkitkan kembali (Luk. 24:26). Tuhan telah berubah bentuk dari tubuh yang rapuh menjadi Roh yang mulia dengan jalan kematian dan kebangkitan-Nya. Sebelum penyaliban, Tuhan adalah batu karang, tetapi belum terpukul atau terbelah. Setelah Ia tersalib dan bangkit, maka air hidup mengalir keluar dari-Nya ke dalam kita untuk meleraikan dahaga kita. Pada hari terakhir pesta Anda, yakni pada akhir sukacita dan kenikmatan Anda di mana Anda tetap masih haus, Anda harus datang kepada Yesus dan menerima air hidup untuk meleraikan dahaga Anda.

Di Inggris ada seorang wanita muda yang hidup dalam keluarga yang sangat kaya dan mewah dan terus-menerus mencari kenikmatan kesenangan. Pada suatu hari, ia menghadiri pesta dansa dengan orang-orang kalangan paling atas di Inggris. Ia merasa sangat nikmat dan menyenangkan. Usai pesta, ia pulang ke rumah. Ketika ia sedang melepaskan pakaian pestanya, ia merasa haus sekali. Ia melemparkan pakaian dan sepatu dansanya, sambil menjerit, “Apa gunanya barang-barang ini bagiku!” Setelah bersenang-senang dalam segala kenikmatan, ia tetap merasa sangat haus. Saat itu ada suara lembut berbisik dalam batinnya, “Kamu harus berdoa kepada Allah.” Namun ia menjawab sendiri, “Aku tidak percaya ada Allah, bagaimana aku bisa berdoa kepada-Nya?” Tetapi suara itu terus berbisik, “Cobalah mengatakan sesuatu kepada Allah. Katakan saja: Ya Allah, kalau memang ada Allah, puaskanlah aku.” Akhirnya, ia berdoa demikian. Keesokan harinya, seluruh kehidupannya berubah. Ia merasa puas. Rasa hausnya telah dileraikan oleh air hidup yang Tuhan karuniakan.

Jika Anda mempelajari biografi-biografi kaum beriman, Anda akan menemukan banyak kisah lain yang serupa. Banyak orang yang berpendidikan tinggi, sangat sukses, dan kaya, bahkan mempunyai banyak kesenangan, namun akhirnya mereka merasa diri mereka itu gagal, karena segala sesuatu terasa kering dan menjemukan bagi mereka. Tetapi pada saat itu datanglah panggilan Tuhan, “Siapa yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Walaupun Anda mungkin sedang menikmati hari-hari yang indah, namun akhirnya pasti tiba hari terakhir itu, di mana semua kenikmatan Anda akan berlalu, Anda akan merasa haus. Ingatlah, hanya Tuhan Yesus sendiri yang dapat mengaruniakan air hidup pelerai haus Anda.

C. Aliran Sungai Air Hidup

Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh. 7:38). Dalam Yohanes 4:14, Tuhan berkata bahwa siapa saja minum air yang Ia berikan kepadanya, akan memiliki mata air dalam dirinya, yang memancar terus sampai pada hidup yang kekal. Dalam pasal 7, Tuhan berbicara lebih lanjut, siapa saja yang minum Dia, akan mempunyai aliran-aliran air hidup. Tuhan bukan menyinggung satu aliran saja, melainkan aliran-aliran. Aliran air hidup yang unik itu adalah Roh Kudus, dari aliran ini akan mengalir keluar banyak aliran. Aliran-aliran air hidup ini merupakan aliran-aliran dari berbagai aspek hayat (bandingkan dengan Rm. 15:30; 1Tes. 1:6; 2Tes. 2:13; Gal. 5:22-23), dari satu “aliran air hidup” yang unik itu (Why. 22:1) yakni “Roh hayat” Allah (Rm. 8:2). Yang satu ialah aliran damai, dan aliran-aliran yang lainnya ialah sukacita, penghiburan, keadilan, hayat, kekudusan, kasih, kesabaran, dan kerendahan hati. Saya tidak tahu berapa banyak aliran-aliran ini. Aliran-aliran air hayat ini keluar dari lubuk batin kita. Inilah Kristus sebagai hayat. Menurut prinsip yang ditetapkan dalam Yohanes 2, aliran-aliran air hayat ini juga adalah mengubah maut menjadi hayat. Sumber maut adalah pohon pengetahuan, sumber hayat adalah pohon hayat. Kita nampak bahwa hayat berlawanan dengan maut (Yoh. 5:24-25; 8:24; 11:25-26).

Apa yang akan terjadi apabila kita bersidang dan semua duduk diam di sana tanpa adanya aliran air hayat? Sidang itu akan menjadi sidang yang mati. Tanpa ada orang yang mengalirkan sesuatu, pasti akan dikuasai maut. Tetapi, jika setiap orang memancarkan beberapa aliran, akhirnya sidang itu akan tergenang, akan penuh dengan hayat. Ini adalah mengubah maut menjadi hayat.

D. Roh Itu Belum Ada

Ayat 39 mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Orang Kristen banyak yang tidak paham kata “belum ada” (Tl.) dalam ayat ini. Sejak semula Roh Allah sudah ada (Kej. 1:1-2), tetapi pada saat Tuhan Yesus mengucapkan perkataan ini, Roh itu, yaitu Roh Kristus (Rm. 8:9), Roh Yesus Kristus” (Flp. 1:19), belum ada, karena Yesus belum dimuliakan. Yesus mendapatkan kemuliaan ketika Dia bangkit (Luk. 24:26). Setelah Dia bangkit, Roh Allah menjadilah Roh Yesus Kristus yang telah berinkarnasi, mati tersalib, dan bangkit. Pada malam hari kebangkitan-Nya, Kristus telah menghembuskan Roh ini ke dalam murid-murid-Nya (Yoh. 20:22). Kini Roh itu adalah Penolong (Penghibur) yang lain, yaitu Roh realitas, yang dijanjikan Kristus sebelum kematian-Nya (Yoh. 14:16-17). Ketika Roh ini hanya sebagai Roh Allah, Dia hanya memiliki unsur ilahi; setelah Dia menjadi Roh Yesus Kristus, melalui Kristus menjadi daging, mati di atas salib, dan bangkit, Roh ini memiliki baik unsur ilahi maupun unsur insani, pula memiliki semua esens dan realitas Kristus menjadi daging, mati di atas salib dan bangkit. Jadi, Roh itu kini adalah Roh Yesus Kristus yang almuhit, menjadi air hidup untuk kita terima.

Kita telah nampak bahwa Yesus dimuliakan saat Ia bangkit. Dalam kebangkitan, Tuhan menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Adam yang terakhir, yaitu Kristus di dalam tubuh daging, menjadi Roh pemberi hayat dalam kebangkitan. Sejak saat itu, Roh Yesus Kristus memiliki unsur ilahi maupun unsur insani, mencakup realitas inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus.

Dalam Kejadian 1 terdapat Roh Allah. Roh Allah ialah Allah sendiri yang mendatangi ciptaan-Nya. Pada masa Kejadian 1, dalam Roh Allah hanya terdapat keilahian. Pada suatu hari, Allah berinkarnasi menjadi manusia, yakni Kristus sendiri. Tiga puluh tiga setengah tahun kemudian, Kristus disalibkan. Setelah penyaliban, Ia menempuh kebangkitan, dan naik ke surga, sehingga Roh Allah menjadi Roh Yesus Kristus yang berinkarnasi dan bangkit kembali. Kini Roh Yesus Kristus datang dan mengontak manusia. Dahulu, Roh Allah hanya memiliki keilahian, tetapi kini Roh Yesus Kristus datang mengontak manusia dengan keilahian, keinsanian, khasiat kematian-Nya yang almuhit, dan unsur kebangkitan. Sebelum Kristus dibangkitkan, Roh yang sedemikian itu belum ada.

Kita dapat melukiskan ini dengan segelas air murni yang ke dalamnya ditambahkan bermacam-macam unsur. Setelah melalui suatu tahap, air ditambah dengan susu. Kemudian pada tahap lain ditambah dengan madu, teh, dan garam. Akhirnya menjadi minuman almuhit. Sebelum air murni melalui langkah-langkah ini, minuman sedemikian hebat itu belum ada, walaupun air murni dalam gelas sudah ada. Sekarang air itu sudah menjadi minuman yang almuhit. Demikian pula, Roh yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 7:39 dan 14:16-17 bukan sekadar Roh yang mengandung sifat ilahi, melainkan Roh yang mengandung sifat ilahi, sifat insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan yang almuhit, sehingga kita kini bukan hanya memiliki Roh Allah, tetapi juga Roh Yesus Kristus. Roh almuhit yang sedemikian inilah yang memberi kita aliran-aliran air hayat.

Kadang-kadang seorang anak perlu minum obat. Ibu yang berhikmat sering menyembunyikan obat itu ke dalam minumannya. Ketika anak itu minum, obat itu pun terminum juga. Dalam Roh almuhit terkandung “obat”, dan obat ini adalah kematian Kristus yang mempunyai kemampuan membunuh, yang terdapat dalam Roh Kudus hari ini. Semakin banyak Anda mengatakan, “Oh Tuhan Yesus,” Anda semakin menerima Roh almuhit. Setelah beberapa menit, Anda bisa merasakan Roh itu membunuh amarah Anda, kesombongan Anda, sikap egoistis, dan perkara negatif lain. Pernahkah Anda berusaha menganggap diri Anda sudah mati menurut Roma 6? Jika pernah, tentunya Anda tahu bahwa semakin Anda mengganggap diri Anda sudah mati, Anda semakin hidup. Namun dalam Roh almuhit terdapat pembunuhan oleh salib. Kematian yang disinggung dalam Roma 6 sekarang telah terangkum dalam Roh yang diwahyukan dalam Roma 8. Jadi, Roh almuhit ini secara terus-menerus menaruh Anda di atas salib seperti yang telah diungkapkan oleh Roma 8:13. Khasiat pembunuhan dari kematian Kristus ini bukan hanya di salib saja, sebab jika demikian tidak akan manjur bagi kita. Khasiat pembunuhan ini ada dalam Roh Yesus Kristus. Ketika Roh ini bergerak di dalam kita, pasti khasiat pembunuhan dari salib itu meresap ke dalam diri kita. Ia akan membunuh setiap unsur negatif di dalam kita. Bahkan, dalam minuman yang almuhit ini terdapat bahan-bahan yang bergizi. Dalam Roh ini ada segala keperluan kita.

IV. PERPECAHAN KARENA TAMPILNYA HAYAT

Dalam Yohanes 7:40-52 kita nampak perpecahan yang disebabkan oleh tampilnya Tuhan. Tuhan Yesus benar-benar seorang pembuat masalah. Ia menyebabkan perpecahan. Hari ini, orang-orang yang mencari hayat juga akan menimbulkan masalah dan menyebabkan perpecahan. Kristus, keturunan Daud, dilahirkan di Betlehem (Yoh. 7:42; Luk. 2:4-7), tetapi dibesarkan di Nazaret yang ada di Galilea. Saat itu, Nazaret adalah tempat yang dipandang rendah. Dia adalah keturunan Daud, namun Dia datang menjadi orang Nazaret (Mat. 2:22). Dia tumbuh “sebagai tunas dari tanah kering”, “tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada”, “rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya”, dan “Ia dihina dan dihindari orang” (Yes. 53:2-3). Karena itu, kita tidak seharusnya mengenal Kristus menurut daging (2Kor. 5:16), tetapi harus mengenal-Nya menurut Roh. Karena Tuhan dibesarkan di Nazaret, maka orang-orang tidak memandang-Nya sebagai orang yang dilahirkan di Betlehem.

Ada orang mengenal Kristus menurut penampilan lahiriah-Nya (Yoh. 7:27, 41-42, 52). Mereka menerima pohon pengetahuan yang mendatangkan maut (Kej. 2:17). Dengarkan percakapan mereka, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” (Yoh. 7:41-42). Percakapan ini hanyalah menggunakan otak saja. Rasio otak ini adalah dalam prinsip pohon pengetahuan. Akan tetapi, ada orang yang mengenal Kristus menurut realitas di batin-Nya (Yoh. 7:40, 50-51). Mereka menerima pohon hayat yang mendatangkan hayat (Kej. 2:9). Jangan sekali-kali memperhatikan penampilan lahiriah. Anda harus melihat apa yang ada di dalam. Apakah ada Kristus di dalam? Kita semua harus mengenal Kristus menurut realitas batiniah, bukan menurut penampilan lahiriah.

Seluruh Injil Yohanes telah memberikan sebuah ilustrasi yang sangat mengesankan. Pada suatu hari, Tuhan Yesus pergi ke Betania dan tinggal di sebuah rumah kecil bersama Lazarus, Marta, dan Maria (Yoh. 12:1-2). Pada saat itu, di Yerusalem ada Bait Suci, di dalamnya imam-imam mengenakan jubah keimaman, sambil mempersembahkan kurban persembahan di atas mezbah dan membakar ukupan seperti biasa. Segala sesuatu di dalam bait itu sangat menarik. Berbeda dengan rumah kecil di Betania itu. Tidak ada apa-apa tidak ada imam, jubah imam, mezbah, kurban persembahan, atau ukupan. Kecuali dua orang saudari dan seorang saudara yang miskin. Pada saat itu, Allah yang sejati ada di dalam bait atau di rumah kecil itu? Di rumah kecil itu. Andaikata waktu itu Anda sedang mencari Allah, ke manakah Anda akan pergi ke rumah kecil itu ataukah ke bait? Kebanyakan dari kita akan ke bait. Malah mungkin tidak seorang pun pergi ke rumah kecil itu. Tetapi Yesus, perwujudan Allah itu, tidak di dalam bait, melainkan di dalam rumah kecil itu. Akhirnya, terjadi perpecahan di antara kita. Sebagian besar pergi ke Bait Suci dan sebagian kecil pergi ke rumah kecil di mana Yesus berada. Mereka yang pergi ke bait pasti berpikir, sungguh bodoh pergi ke rumah kecil itu mencari Allah. Sebab itu, kita harus belajar mengikuti Tuhan Yesus menurut realitas batiniah, bukan menurut penampilan lahiriah. Prinsip ini tak berubah sampai selamanya. Syukur kepada Allah, Ia menyertai mereka yang rendah hati.

Ketika Tuhan di bumi, Ia tidak memiliki rupa yang menarik. Sama seperti hari ini dalam hidup gereja pemulihan-Nya; tidak ada rupa yang menarik. Namun bila Anda memasuki hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, Anda akan nampak kecantikan Kristus di sana. Ia bukan orang Nazaret Ia adalah keturunan Daud. Inilah Kristus! Haleluya!

?