KEPERLUAN ORANG YANG AMORAL — KEPUASAN HAYAT (2)
III. JALAN UNTUK MENERIMA AIR HIDUP
Yohanes 4:15-26 memperlihatkan jalan untuk menerima air hidup. Air hidup itu baik, tetapi jika kita tidak tahu jalan untuk menerimanya, itu akan tidak berarti apa-apa buat kita. Apakah gunanya sesuatu yang menakjubkan dan indah di surga tetapi tidak dapat kita jangkau? Namun, di sini kita menemukan air hidup serta jalan untuk menerimanya.
Pemberitaan Tuhan Yesus itu sederhana, ringkas, dan mantap. Dia tidak memberikan suatu khotbah yang panjang lebar; sekadar berbicara singkat saja, perempuan Samaria itu sudah tertarik. Saya harap semua orang muda mempelajari cara pengabaran Injil dari Yohanes 4 ini. Pasal ini merupakan contoh yang baik bagi penginjilan. Kita semua harus belajar bagaimana berbicara dengan orang berdosa.
A. Orang Berdosa Meminta Air Hidup
Perempuan Samaria itu tertarik dan meminta air hidup kepada Tuhan. “Kata perempuan itu kepada-Nya, ‘Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air’” (Yoh. 4:15). Tuhan adalah seorang Penginjil yang ulung. Dia seolah-olah berkata, “Jika engkau tahu siapakah Aku dan jika engkau tahu karunia Allah, dan jika engkau tahu air hidup yang Kuberikan, engkau tentu telah memintanya.” Perempuan itu segera meminta kepada-Nya. Bila kita bercakap-cakap dengan orang bodoh, semakin banyak bicara, kita semakin menjauhkan mereka. Tuhan Yesus berbicara dengan sangat singkat, tetapi perempuan itu sudah tertarik sehingga meminta air hidup.
B. Juruselamat Memberi Tahu Dia
Jalan untuk Menerima Air Hidup
1. Bertobat dan Mengakui Dosa-dosanya — “Suami-suami”
Ketika perempuan itu meminta air hidup, Tuhan tidak mencela atau menyuruhnya bertobat dan dengan tuntas mengakui dosanya. Tidak, Tuhan berbicara dengan sikap yang ramah dan lembut, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (Yoh. 4:16). Tuhan seolah-olah berkata, “Aku menginginkan suamimu. Kamu meminta air hidup, dan Aku meminta suamimu. Mari kita tukar-menukar, kamu boleh menukar suamimu dengan air hidup.” Perkataan ini bertujuan menjamah hati nuraninya dan riwayatnya yang amoral agar ia berpaling dari dosa-dosanya. Kata perempuan itu, “‘Aku tidak mempunyai suami.’ Kata Yesus kepadanya, ‘Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar.’” Kata-kata perempuan itu bohong atau benar? Benar namun bohong juga. Ia berbohong dengan kata-kata yang benar. Inilah pembawaan berbohong dari manusia yang telah jatuh. Tetapi Tuhan bersikap sangat lembut, tanpa memarahi dia. Bahkan Tuhan menghargai dia, kata-Nya, “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar” (Yoh. 4:17-18). Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi.” Kata-kata Tuhan mengejutkannya. Ia seakan-akan berkata, “Bukankah orang ini orang Yahudi? Dia tidak pernah tinggal di kota kami. Dari mana Dia tahu latar belakangku? Siapa yang memberi tahu Dia bahwa aku telah mempunyai lima orang suami dan yang sekarang ada padaku bukanlah suamiku?” Inilah kiat dalam dialog Injil. Janganlah menyia-nyiakan perkataan, melainkan jamahlah hati nurani mereka, bukan dengan mencela mereka, tetapi dengan menyingkapkan rahasia mereka. Karena anugerah Tuhan dan kata-kata yang penuh hikmat, hati nurani perempuan itu terjamah. Cara penginjilan yang tepat adalah menjamah hati nurani orang.
Rasa haus perempuan Samaria ini telah menjerumuskan dia ke arah hal-hal yang salah, seperti memiliki lima orang suami dan hidup bersama orang yang bukan suaminya. Itulah lingkaran kehidupannya. Ia mencari kepuasan dari barang-barang yang kelihatan, namun tidak mendapatkannya. Keenam orang laki-laki itu mewakili barang-barang yang kasat mata dan materi, yang mustahil memberikan kepuasan.
Di samping barang-barang yang kelihatan, ia juga menuntut kepuasan dalam agama. Walaupun ia sangat sederhana, tetapi amat agamawi. Ia sangat lemah, tetapi anehnya, ia masih bisa berbicara tentang agama. Agama tidak dapat menolong sama sekali. Selain itu, ia masih memiliki tradisi, karena sumur Yakub melambangkan hal-hal tradisional. Ia memiliki warisan tradisional yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya. Tetapi ia tak lama kemudian menyadari kehampaan dari tradisinya. Jadi, perempuan Samaria ini mempunyai tiga hal barang-barang materi, barang-barang agama, dan barang-barang tradisional. Ketiganya ini mewakili segala sesuatu yang dapat kita temukan dalam hidup manusia. Barang-barang materi, barang-barang agamawi, barang-barang tradisional, tidak ada satu pun yang dapat memuaskan manusia. Semakin banyak mendapatkan barang-barang itu, manusia semakin haus. Rasa haus mereka tidak pernah berakhir.
Suami-suami perempuan ini adalah satu tanda. Kristus seharusnya adalah satu-satunya Suami. Dalam 2Korintus 11, Rasul Paulus mengungkapkan bahwa ia telah mempertunangkan kita kepada Kristus. Dengan kata lain, kita telah bertunangan dengan Kristus. Kristus justru adalah suami yang sejati. Perempuan ini telah memiliki lima suami di samping seorang laki-laki. Kebobrokan dan keamoralan perempuan ini dikarenakan ia haus. Suaminya yang banyak itu tidak mampu memuaskannya, karena ia selalu tidak puas. Suami yang pertama tidak dapat memuaskannya, lalu ia mencari kepuasan pada suami yang kedua. Tetapi suami yang kedua tidak sanggup memuaskan rasa haus di batinnya. Kemudian ia menikah dengan yang ketiga, yang ini pun tetap tidak dapat memuaskan dia; yang keempat dan kelima tidak terkecuali, sebab hanya air hayat yang ia perlukan. Betapapun banyaknya air duniawi yang ia minum dari suaminya, ia masih haus. Itulah sebabnya Tuhan berkata kepadanya, siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi. Siapa saja minum air dari materi, agama, dan tradisi, pasti akan haus lagi. Hanya Tuhan yang memiliki air hidup yang mampu meleraikan dahaga kita.
Suami-suaminya itu melambangkan apa? Mereka melambangkan segala hal selain Kristus. Segala hal selain Kristus bisa menjadi suatu kedosaan. Jika kita bersandar kepada seseorang atau sesuatu selain Kristus, itu mungkin menjadi sangat berdosa. Suami-suami perempuan Samaria ini telah membentuk seluruh hidup kedosaannya. Seperti telah kita lihat, Tuhan menjamah riwayat hidupnya yang penuh dosa itu dengan cara yang penuh hikmat. Ia bukan menghakiminya sebagai orang berdosa atau menyuruhnya bertobat dan mengakui dosa-dosa yang telah diperbuatnya, seperti yang umumnya dilakukan oleh para penginjil. Tuhan tahu segala-galanya, Ia hanya menyuruhnya membawa datang suaminya, demikian hati nuraninya terjamah. Dengan cara inilah Tuhan menolong dia mengakui segala dosanya, serta bertobat.
Karena kata-kata Tuhan tentang suaminya mengena di hati nuraninya, ia segera mengalihkan percakapan kepada penyembahan. Hal ini ia lakukan dengan cerdik sekali. Meski ia amoral, ia masih berbicara tentang menyembah Allah. Ini cukup membuktikan di mana posisi agama itu sebenarnya. Orang-orang mungkin saja membicarakan agama dan tetap hidup dalam keamoralan. Perempuan ini belum mau mengakui dosa-dosanya, melainkan beralih dari pembicaraan mengenai suami ke penyembahan Allah, katanya, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Pengalihan topik ini adalah suatu kelicikan dari perempuan Samaria. Soal penyembahan yang dibicarakan oleh perempuan ini, sama dengan Yohanes 8:3-7a dan 9:2-3, yang menyangkut soal benar atau salah, yang berasal dari pohon pengetahuan; namun Tuhan menggiringnya ke roh (Yoh. 4:21-24), yang adalah milik pohon hayat (Kej. 2:9,17). Sewaktu perempuan itu mengalihkan pembicaraan dari suaminya ke penyembahan, Tuhan Yesus langsung mengambil kesempatan ini untuk memberi wahyu kepadanya agar menerima air hayat dengan cara yang tepat.
2. Mengontak Allah yang Adalah Roh
Perhatikan firman Tuhan mengenai penyembahan. Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:21-24). Perkataan ini mengajar dia akan perlunya penggunaan roh dalam hal mengontak Allah Sang Roh itu. Mengontak Allah yang adalah Roh itu dengan rohnya adalah minum air hayat, demikian barulah menyembah Allah yang sebenarnya. Dalam perlambangan, menyembah Allah seharusnya: (1) di tempat yang dipilih Allah bagi tempat kediaman-Nya (Ul. 12:5, 11, 13-14, 18) dan (2) membawa kurban persembahan (Im. 1-6). Tempat yang dipilih Allah bagi tempat kediaman-Nya melambangkan roh manusia sebagai tempat kediaman Tuhan hari ini (Ef. 2:22). Kurban persembahan melambangkan Kristus; Kristus adalah perwujudan dan realitas dari semua kurban persembahan yang dipergunakan oleh umat-Nya dalam menyembah Allah. Karena itu, sewaktu Tuhan mengajar dia menyembah dengan roh kepada Allah yang adalah Roh itu, berarti dia harus mengontak Allah dalam rohnya, bukan pada tempat yang khusus ditetapkan; dan juga melalui Kristus, tidak memerlukan kurban, sebab Kristus Sang realitas itu telah tiba (ayat 25-26), semua bayangan dan lambang telah berlalu. Tuhan Yesus memberi tahu perempuan Samaria itu bahwa Allah itu Roh, dan bahwa menyembah Allah adalah mengontak Dia; dan masalah mengontak Dia ini bukanlah soal tempat, melainkan soal roh manusia.
Ketika Ia berkata, “Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang”, berarti zaman telah beralih. Dahulu, menurut hukum Taurat Musa, Allah menentukan umat-Nya pada tempat tertentu, yakni tempat Ia mendirikan kediaman-Nya bagi nama-Nya (Ul. 12:5). Semua penyembah Allah wajib pergi ke tempat yang unik (satu-satunya) itu. Itu adalah lambang. Kini zaman telah beralih, lambang telah tergenapi. Menurut makna lambangnya, tempat penyembahan bukan lagi masalah tempat, melainkan seharusnya roh manusia, di mana Allah mendirikan tempat kediaman-Nya atas nama-Nya. Hari ini, di manakah tempat yang unik bagi umat Allah untuk menyembah-Nya? Di dalam roh manusia kita. Menurut Efesus 2:22, tempat kediaman Allah adalah di dalam roh kita.
Mengapa pada zaman dahulu Allah menetapkan umat-Nya menyembah di satu tempat? Maksudnya ialah untuk memelihara kesatuan. Allah tidak pernah mengizinkan umat-Nya menyembah di tempat mana pun, selain di tempat yang telah dipilih-Nya. Jika ada orang yang menyembah di tempat yang lain, pasti kesatuan di antara umat-Nya akan rusak. Hari ini, di manakah kita dapat memelihara kesatuan ini? Di dalam roh kita. Dalam pikiran, kita akan berbeda satu sama lain. Saya tidak percaya ada sepasang suami istri, yang mempunyai pemikiran yang mutlak sama. Setiap orang mempunyai pandangannya sendiri. Anda mempunyai pendapat, saya pun mempunyai pendapat. Anda mempunyai cara Anda, saya pun punya cara saya. Anda ada taksiran, saya pun ada taksiran. Bagaimana kita dapat menjadi satu, sedangkan konsepsi, cara, dan pandangan kita saling bertentangan? Kita patut melupakan semuanya itu, dan kembali ke dalam roh kita. Ketika kita semua berpaling ke dalam roh, kita pasti esa. Jadi, harus belajar sekali-kali tidak memperdebatkan doktrin dengan orang-orang, melainkan arahkanlah mereka ke dalam roh mereka. Kita semuanya harus memperingatkan diri kita bahwa kita mempunyai roh, di sanalah tempat kediaman Allah. Roh kita itulah tempat untuk menyembah Allah, yaitu mengontak Allah. Setiap kali kita menyembah Allah di dalam roh kita, kita minum Allah Sang air hidup. Ketika Anda memuji Allah dengan roh Anda, Anda telah minum. Asal Anda mengucapkan di dalam roh, “Puji syukur kepada-Mu, ya Bapa, aku menyembah Engkau”, pasti Anda minum air hidup.
Tuhan juga mengatakan bahwa sekarang ini penyembah yang benar bukan hanya menyembah Allah di dalam roh mereka, tetapi juga di dalam kebenaran (realitas). Hal ini sulit dimengerti oleh orang-orang Kristen dewasa ini. Namun apabila kita memperhatikan lambangnya, kita akan mengerti apa sesungguhnya maksud Tuhan itu. Dahulu, Allah menetapkan agar umat-Nya menyembah Dia di tempat yang telah ditentukan dan dengan membawa kurban persembahan. Umat-Nya tidak diperkenankan menyembah Allah di tempat pilihan mereka sendiri, dan juga tidak boleh tanpa kurban persembahan. Mereka memerlukan kurban karena ada dosa. Ketika mereka datang berkontak dengan Allah, mereka harus mempersembahkan kurban yang beraneka ragam kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, kurban keselamatan, kurban sajian, kurban bakaran, persembahan unjukan, dan persembahan khusus. Semua kurban itu melambangkan berbagai aspek Kristus. Kristus itulah kurban penebus salah kita yang sejati. Ia pun kurban penghapus dosa kita yang sejati, kurban sajian, kurban keselamatan, dan kurban bakaran. Hari ini, kita bukan lagi menyembah Allah di tempat yang khusus dan tertentu, melainkan dengan Kristus yang adalah realitas dari segala kurban.
Zaman sekarang atau saat ini, kita harus menyembah Allah di tempat satu-satunya, yakni roh kita, dengan Kristus sebagai realitas. Bagaimana kita dapat melakukan demikian? Bagaimana kita dapat melaksanakan perkara penyembahan kepada Bapa di dalam roh kita? Misalnya, beberapa saudara berhimpun dengan maksud menyembah Allah, tetapi mereka malah menggunakan pikiran mereka. Mereka mulai membicarakan perkara menyembah Allah dan segera mereka akan tercerai-berai karena perselisihan opini. Saudara-saudara ini seharusnya menggunakan roh, memuji Tuhan, menyeru nama-Nya, sambil memperhatikan apa yang hendak Ia lakukan. Mereka tidak seharusnya menggunakan otak mereka dalam pembicaraan, sebaliknya mereka harus menggunakan roh mereka melalui menyeru Tuhan.
Bagaimana kita melaksanakan yang kedua, yaitu menyembah Allah dengan Kristus? Cara yang tradisional ialah memilih dulu sebuah kidung, selesai sebuah kidung lalu memanjatkan doa kepada Bapa yang bertakhta di surga. Itu cara agama yang tradisional. Tetapi saat datang menyembah bersama, kita harus menggunakan roh kita. Ketika kita berbuat demikian, pasti Roh Kudus yang bersemayam di batin kita akan mendapat kesempatan untuk bergerak. Mungkin Dia akan bergerak di dalam diri seorang saudara untuk memberi kesaksian yang hidup tentang Kristus. Lalu saudara itu bersaksi akan pengalamannya yang hidup terhadap Kristus. Dengan berbuat demikian, dia sudah mempersembahkan Kristus sebagai suatu kurban. Ketika Anda bersaksi mengenai pengalaman Anda terhadap Kristus, maka di mata Allah berarti Anda mempersembahkan Kristus kepada Allah. Akhirnya, persembahan yang demikian akan menjadi makanan bagi saudara yang bersaksi dan bagi semua penyembah yang lainnya. Ini bukan penyembahan yang tradisional; ini adalah penyembahan di dalam roh dengan mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah, menjadi kepuasan-Nya serta menjadi makanan bagi semua penyembah. Inilah penyembahan yang benar kepada Allah.
Semoga Tuhan memberi kesan yang mendalam kepada kita mengenai cara penyembahan yang tepat. Penyembahan yang tepat ialah terus-menerus minum air hidup. Sang Roh itu adalah air hidup, dan organ kita untuk minum air hidup ialah roh kita. Setiap kali kita mengontak Allah Sang Roh Hidup dengan roh kita, maka di dalam Putra Allah Yesus Kristus kita meminum Dia sebagai air hidup.
3. Percaya Yesus Itu Mesias (Kristus) agar Beroleh Hidup yang Kekal
Sekarang kita sampai pada aspek terakhir mengenai cara menerima air hidup percaya Yesus sebagai Mesias (Kristus). Setelah perempuan Samaria itu mendengar jawaban Tuhan atas pertanyaannya yang menyangkut penyembahan Allah, ia masih mencoba beralih ke topik lain. Katanya, “Aku tahu bahwa Mesias yang disebut juga Kristus, akan datang; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami” (Yoh. 4:25). Perempuan itu seolah berkata, “Engkau telah menceritakan banyak hal kepadaku, tetapi kita masih harus menantikan kedatangan Mesias. Dan ketika Ia datang, Ia akan menyatakan segala perkara.” Alangkah pandainya mencari alasan! Lalu Tuhan menjawab, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (Yoh. 4:26). Dengan perkataan ini, Yesus membimbing perempuan itu agar percaya bahwa Dialah Kristus, sehingga beroleh hidup yang kekal (Yoh. 20:31). Dalam ayat 29, kita nampak perempuan itu percaya. Meskipun perempuan Samaria itu berusaha sebisanya untuk menghindari Tuhan, namun Tuhan menangkapnya dengan hikmat. Jangan sekali-kali mencoba mengelak dari tangan Tuhan. Perempuan Samaria itu dibuat bertobat serta percaya kepada-Nya, sehingga menerima air hidup. Kehidupannya mengalami perubahan yang besar. Sebelumnya dia benar-benar berada dalam situasi kematian, karena dia begitu amoral, dan juga masih di bawah pengaruh tradisi agama yang memperhatikan ya atau tidak, di sini atau di sana, cara ini atau cara itu. Syukurlah, Tuhan menjamah dia dan memindahkan dia dari maut kepada hayat. Tak dapat disangkal, semula ia di bawah pohon pengetahuan, tetapi Tuhan telah memindahkannya kepada pohon hayat. Tuhan telah mengubah kematiannya menjadi hayat yang kekal.
Tuhan mewahyukan kepadanya bahwa kepuasan yang sejati dalam hidup manusia adalah Tuhan sendiri. Tuhan telah mewahyukan kepadanya tiga aspek atas diri-Nya: Dia adalah karunia, pemberi karunia, dan jalan untuk memperoleh karunia. Paling sedikit Tuhan telah menyebutkan tiga hal mengenai diri-Nya. Dalam ayat 10 Dia berkata, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah,” ini menunjukkan bahwa karunia Allah adalah Tuhan sendiri menjadi hayat yang kekal. Ia juga memberi tahu dia, “Engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup,” ini menunjukkan bahwa Tuhan sendiri adalah pemberi karunia. Terakhir, dengan pembacaan yang teliti, kita akan menemukan bahwa jalan bagi perempuan itu untuk mendapatkan karunia itu ialah mengontak atau meminum Sang pemberi itu sendiri.
IV. KESAKSIAN YANG HIDUP DENGAN TUAIAN
YANG MENGAGUMKAN
A. Orang Dosa Percaya, Dipuaskan, Meninggalkan
Segala yang Dulu Mendudukinya, serta Bersaksi
Sesudah perempuan itu mendengar bahwa Tuhan Yesus justru adalah Kristus yang telah datang, maka percayalah ia. Hayatnya mengalami perubahan yang besar. Ia meninggalkan tempayannya, lalu masuk ke dalam kota, sambil memberikan kesaksian yang hidup kepada banyak orang. Kesaksian ini menghasilkan suatu tuaian yang mengagumkan (Yoh. 4:28-42).
Menurut konsepsi alamiah kita, menyelamatkan orang dosa memerlukan waktu. Konsepsi semacam ini patut kita buang. Manusia bisa saja diubah dalam sekejap mata. Tuhan dapat mengubah seseorang dengan cepat sekali, karena Dia yang membuat yang tidak ada menjadi ada, sama seperti yang dilakukan-Nya pada waktu penciptaan, tanpa adanya unsur waktu. Menurut konsepsi kita, seorang yang berdosa memerlukan waktu untuk mempertimbangkan, percaya, dan berpaling. Konsepsi ini merusak penginjilan kita dan membuatnya lemah. Kita harus mempunyai iman bahwa ketika kita berbicara dengan orang, Tuhan pun sudah bekerja dengan penuh kemenangan. Perempuan Samaria ini telah berpaling dalam sekejap mata. Pada masa silam, pernah terjadi banyak orang yang berpaling secara demikian melampaui iman kita. Cara Tuhan mengubah orang adalah dalam roh, secara hayat, bukan secara pendidikan. Pendidikan perlu waktu. Mengajar orang perlu waktu. Tetapi Tuhan melahirkan kembali manusia membuat mereka menjadi ciptaan baru, bahkan membuat yang tidak ada menjadi ada. Kita perlu memiliki iman yang menang ini. Sewaktu kita bercakap-cakap dengan seorang yang berdosa, harus memakai roh, sambil percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam dia. Dengan sendirinya pasti ada sesuatu yang terjadi pada dirinya sehingga ia beralih dari maut kepada hayat. Meskipun perempuan Samaria ini sangat amoral, hina, dan terjerumus dalam-dalam di lumpur dosa, ia bisa berpaling dalam waktu kurang dari sedetik. Seluruh hidupnya berubah. Dia pergi menemui orang-orang sekampungnya sambil berkata, “Mari, lihatlah orang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah (Bukankah) Dia itu Kristus?” (Yoh. 4:29). Ini membuktikan perempuan itu percaya bahwa Yesus adalah Kristus, dan melalui percaya, ia telah menerima air hayat dan kepuasan. Ia tahu pasti bahwa Yesus itu Kristus, bahkan Roh itu telah masuk ke dalamnya.
Gambaran dalam Yohanes 4 juga menunjukkan bahwa setelah perempuan itu berkontak dengan Kristus, ia langsung meninggalkan segala sesuatu. Ia meninggalkan sumur dan tempayan. Ia meninggalkan semuanya, masuk ke dalam kota, dan menceritakan kepada orang-orang mengenai Kristus, yang berarti bahwa begitu ia berkontak dengan Kristus, ia lalu meninggalkan segala sesuatu untuk memperoleh Kristus sendiri sebagai kepuasannya. Ketika ia memberi tahu orang-orang di dalam kota itu, “Bukankah Dia itu Kristus?”, ia telah mengakui bahwa Dia adalah Kristus. Di mata Allah, ia sudah memiliki Kristus dan membawakan Kristus kepada orang-orang sekotanya. Kesaksian yang luar biasa! Hanya dengan mengontak Kristus, mengenal Kristus, dan menerima Kristus barulah kita dapat dipuaskan. Kemudian dengan sendirinya kita akan mengesampingkan segala sesuatu yang bukan Kristus.
Saya tidak pernah melupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 1937, sewaktu saya pergi ke ibukota China untuk memimpin sidang beberapa malam. Seusai sidang yang terakhir, datanglah seorang muda, istri orang yang berpendidikan tinggi, berkata kepada saya, “Tuan Lee, aku sangat terkesan oleh pemberitaanmu dan ingin sekali percaya kepada Kristus. Tetapi aku mempunyai suatu masalah, aku masih suka pergi ke teater dan menonton opera. Kalau aku menjadi orang Kristen, aku rela menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Namun satu hal yang tak dapat aku tinggalkan, drama dan opera. Inilah yang tidak dapat aku hentikan. Apa yang harus kulakukan?” Sikapnya serius sekali. Saya tidak berani mengatakan kepadanya bahwa tidak baik bagi orang Kristen pergi nonton opera, karena ia akan menolak menjadi orang Kristen. Sudah tentu saya tidak bisa mengatakan kepadanya bahwa tidak mengapa dan boleh saja orang menjadi Kristen sambil tetap pergi ke teater. Saya mohon Tuhan memberikan hikmat. Akhirnya saya menyahut, “Misalkan anakmu yang kecil memegang sebilah pisau yang berbahaya, apakah cara yang terbaik untuk mengambil pisau itu dari tangannya?” Jawabnya, “Itu mudah, tebarkan saja kembang gula di lantai sekitarnya, pasti akan beres.” “Mengapa bisa?” tanyaku. Jawabnya, “Anak itu akan membuang pisau tadi untuk mengambil kembang gula itu. Tanpa kedua tangannya penuh dengan kembang gula, tidak mungkin ia melepaskan pisau itu sekalipun Anda menyuruhnya.” Kemudian saya memperkenalkan kepadanya cara yang ia pakai dalam jawabannya sendiri itu, dan berkata, “Apakah kamu menyadari bahwa sekali kamu menerima Kristus, hal yang sama pasti terjadi padamu juga?” Saat itu ia tergugah dan menjadi jelas, sehingga beroleh selamat pada malam itu juga.
Tahukah Anda, mengapa orang-orang tetap haus sesudah mendapatkan benda-benda lain yang bukan Kristus? Tidak lain karena mereka bukan dipuaskan oleh Kristus. Jika mereka dipuaskan oleh Kristus, semua barang lain tentu akan dilupakan. Sumur dan tempayan sangat berarti bagi perempuan Samaria, tetapi sesudah ia mengenal Kristus, dengan spontan ia melepaskan semua hal yang ia pegang erat dan ia sayang, serta pergi kepada orang-orang, memberi kesaksian bahwa Kristus itulah kepuasan hidupnya. Apakah Anda memiliki kepuasan dalam hidup? Karena apa Anda dipuaskan? Karena Kristus atau hal-hal material, agamawi, dan tradisional? Kita hanya dapat dipuaskan oleh Kristus, bukan oleh barang-barang lain. Bila kita ingin membantu orang lain, terlebih dulu kita harus dipuaskan oleh Kristus, demikian baru bisa membawakan Kristus kepada orang lain, menjadi kepuasan orang lain. Setelah kita dipuaskan oleh Kristus, barulah kita dapat membimbing orang menerima Kristus dan berkontak dengan Dia. Perempuan Samaria itu bukan membawakan doktrin Kristus kepada orang-orang sekotanya. Terlebih dulu ia mendapatkan Kristus, kemudian datang kepada mereka dengan Kristus.
B. Juruselamat Dipuaskan karena Melakukan Kehendak Allah dalam Memuaskan Orang Dosa
Dalam peristiwa perempuan Samaria terdapat gambar tentang seorang dosa yang haus dan Kristus yang haus dan lapar. Keduanya merasa lelah karena telah menempuh jarak yang jauh untuk mendatangi sumur itu. Akhirnya Tuhan Yesus dan perempuan itu saling bersimpati. Mereka berdua haus dan lelah, dan Tuhan bahkan merasa lapar. Karena lapar, Tuhan menyuruh murid-murid-Nya pergi membeli makanan. Dia juga merasa haus sehingga Ia minta minum kepada perempuan itu. Tetapi sangatlah aneh mereka telah dipuaskan tanpa makan atau minum. Orang dosa dipuaskan oleh Juruselamat dan Juruselamat dipuaskan oleh orang dosa yang diselamatkan. Kita tahu hal ini berdasarkan fak-ta bahwa perempuan itu meninggalkan sumur dan timbanya, masuk ke kota untuk memberitakan Kristus. Begitu puasnya dia sehingga orang-orang berdatangan ingin melihat apakah Dia itu Kristus. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus juga sudah puas dari jawaban-Nya kepada murid-murid-Nya yang kembali dari membeli makanan dan mempersilakan Dia makan, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal” (Yoh. 4:32). Ketika murid-murid-Nya bertanya satu sama lain apakah ada orang yang telah memberi-Nya makanan, Dia berkata kepada mereka, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Makanan Tuhan ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Tuhan, artinya, makanan-Nya adalah menyelamatkan dan memuaskan orang dosa. Kita, orang-orang dosa ini, adalah kepuasan Juruselamat. Kelaparan Anda menandakan Tuhan sedang lapar, dan kehausan Anda menandakan Tuhan sedang haus. Tetapi ketika Anda dipuaskan, Tuhan pun dipuaskan. Asal masih ada orang dosa yang haus, Tuhan tetap merasa haus di surga.
Kalau orang-orang dosa dipuaskan, baru Juruselamat merasa puas. Tuhan telah datang ke Samaria dengan satu tujuan mencari orang dosa dan memuaskan dia. Dengan melakukan ini, Ia telah melakukan kehendak Allah. Melakukan kehendak Allah adalah makanan dan kepuasan-Nya.
C. Tuaian yang Luar Biasa Telah Dituai
Dalam ayat 35 Tuhan berkata, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya bahwa ladang sudah menguning. Sejak saat ini mereka harus pergi menuai tuaian. Prinsip tersebut berlaku juga pada hari ini. Sekali-kali jangan mengatakan bahwa kini bukanlah waktunya menginjil. Jika kita melihat ke ladang, kita akan nampak bahwa ada sejumlah orang yang sungguh-sungguh haus akan Kristus. Kita perlu membawakan Kristus kepada mereka dan membawa mereka kepada Kristus. Inilah caranya menuai mereka bagi Kristus.
Tuhan mengatakan, “Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk (kepada) hidup yang kekal.” Ungkapan “kepada hidup yang kekal” (Tl.) di sini dalam bahasa aslinya sama dengan “sampai pada hidup yang kekal” dalam ayat 14. Perkataan ini digunakan dua kali oleh Tuhan dalam pasal yang sama. Kali pertama, Dia mengatakan bahwa jika kita menerima Dia, Dia akan menjadi pancaran air (mata air) di dalam kita yang terus-menerus memancar (meluap) sampai pada hidup yang kekal (Yoh. 4:14). Kristus akan menjadi mata air di dalam kita, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal. Kali kedua, Dia mengatakannya ketika mendesak murid-murid-Nya untuk pergi dan menuai tuaian yang dikumpulkan kepada hidup yang kekal. Dengan kata lain, setelah kita beroleh selamat dan dipuaskan oleh Kristus, kita harus membawa orang-orang ke hadapan Kristus sampai kepada hidup yang kekal. Mula-mula kita sendiri harus menerima Kristus sampai kepada hidup yang kekal; kemudian kita mengajak orang lain menerima Kristus sampai kepada hidup yang kekal. Ada satu Kristus untuk Anda terima sebagai mata air di dalam Anda yang meluap sampai kepada hidup yang kekal, dan ada satu tuaian yang perlu Anda tuai sebagai buah sampai kepada hidup yang kekal. Perempuan Samaria ini telah melakukan kedua hal ini. Di satu pihak, dia telah menerima Kristus sebagai mata air batiniahnya sampai kepada hidup yang kekal dan di pihak lain, dia pergi ke ladang tuaian, dan mengumpulkan orang-orang sebagai buah kepada hidup yang kekal.
Dalam ayat 36 dan 37, Tuhan menyinggung tentang penaburan. Siapakah penaburnya? Yohanes Pembaptis tidak pergi ke Samaria. Ada orang berpikir bahwa beberapa murid Yohanes atau murid Tuhan Yesus yang pergi ke Samaria dan menginjil sebelum itu. Saya tidak percaya hal itu. Kita boleh percaya bahwa benih telah ditaburkan melalui Perjanjian Lama. Orang-orang Samaria telah akrab dengan kelima kitab yang pertama dari Perjanjian Lama. Karena itu, mereka memiliki pengenalan terhadap Allah, dan juga mengenai Mesias, Kristus, walaupun tidak terlalu jelas dan menyeluruh. Orang-orang Samaria tidak sama dengan orang-orang kafir. Melalui Perjanjian Lama, mereka telah memperoleh sedikit pengetahuan tentang Allah dan Kristus. Saya yakin bahwa itulah benihnya. Ya, itu pasti Roh Tuhan yang serba ada yang bekerja di atas perempuan Samaria ini. Bila dia ini sama dengan orang-orang kafir, tanpa pengetahuan Alkitab sedikit pun, maka saya yakin pekerjaan itu tidak akan terjadi atasnya seefektif dan secepat itu. Tuhan Yesus tidak perlu mengatakan sesuatu sampai dia yang mengatakan hal itu lebih dulu. Perempuan itulah yang memulai percakapan mengenai Allah dan Kristus. Tuhan Yesus tidak bertanya, “Hai perempuan, apakah kamu percaya ada Allah? Apakah kamu mengenal Kristus?” Tuhan hanya meminta minuman dari dia. Ketika dia mencela Tuhan karena meminta minum kepada perempuan Samaria, Tuhan malah berkata kepadanya tentang karunia Allah. Kita nampak hal ini dari firman Tuhan bahwa perempuan itu telah tahu sedikit tentang Allah dan Kristus. Itulah fungsi yang ditimbulkan oleh kelima kitab yang pertama pada Perjanjian Lama; kelima kitab itulah yang ada pada mereka. Jadi, sebelum Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya datang, sejumlah orang telah dipersiapkan.
Hal yang sama terjadi di Amerika Serikat. Benih telah ditaburkan di setiap kota. Kita harus nampak bahwa tuaian telah benar-benar matang dan sudah boleh dituai. Banyak orang telah dipersiapkan oleh ministri yang lain dan oleh hamba-hamba Tuhan sepanjang waktu yang lampau. Banyak orang yang hati dan rohnya telah dipersiapkan untuk berkontak serta menerima Kristus sebagai kepuasannya, namun mereka tidak tahu bagaimana melakukannya. Di Amerika Serikat, bahkan orang-orang yang tidak percaya dan yang ateis mengetahui juga sedikit tentang Allah dan Kristus. Mereka pernah mendengar tentang keselamatan. Yang perlu kita lakukan tidak lain adalah menuai apa yang telah ditaburkan itu. Perempuan Samaria itu bukan pergi dengan doktrin tentang Kristus kepada orang-orang sekotanya; mula-mula dia mendapatkan Kristus, dan kemudian membawakan Kristus kepada mereka.
Ayat 39 mengatakan, “Banyak orang Samaria dari kota percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu yang bersaksi.” Melalui kesaksian yang hidup oleh perempuan Samaria, lebih banyak orang dosa dibawa ke hadapan Tuhan. Begitu mereka berkontak dengan Tuhan, mereka lalu percaya dan menerima-Nya sebagai Juruselamat mereka. Inilah tuaian yang menakjubkan dari kesaksian yang hidup.
Pendek kata, kita telah melihat bahwa dua peristiwa yang pertama sudah jelas menyangkut dua hal. Peristiwa yang pertama menunjukkan Kristus membawakan hayat ilahi kepada kita melalui kelahiran kembali; peristiwa yang kedua menunjukkan Kristus membawakan kepuasan kepada kita. Kedua aspek ini dapat dikonfirmasi dalam pengalaman kita. Kali pertama kita menerima Kristus, kita dilahirkan kembali dengan hayat ilahi. Kemudian kita dipuaskan oleh air hidup. Kedua peristiwa ini adalah dua tanda yang menyatakan dua aspek yang berbeda atas Kristus yang menjadi hayat kita. Jangan sekali-kali kita menganggap kitab Injil sebagai buku cerita tentang mukjizat. Kita harus membaca tulisan-tulisan ini sebagai pengisahan yang memberi gambaran-gambaran, dan kita harus mencari makna rohani atas gambaran-gambaran ini. Kemudian kita akan menemukan prinsip yang rohani dan hidup mengenai Kristus sebagai hayat dan kepuasan manusia.