← Daftar isi Yohanes (2) · bab 11/18

KEPERLUAN ORANG YANG AMORAL — KEPUASAN HAYAT (1)

Dalam berita ini kita tiba pada peristiwa perempuan Samaria dalam Yohanes 4. Peristiwa ini sangat berbeda dengan peristiwa Nikodemus dalam Yohanes 3. Nikodemus adalah seorang yang bermoral dan luhur; perempuan Samaria ini amoral dan hina. Peristiwa pertama memperlihatkan seorang laki-laki dengan pencapaian yang luar biasa, sedang peristiwa kedua memperlihatkan seorang perempuan yang berkelakuan memalukan. Laki-laki itu orang Yahudi, sedang perempuan itu orang Samaria. Agama Yahudi sangat sehat, tepat, riil, dan murni; tetapi agama orang Samaria palsu dan merosot. Cukup menarik perhatian juga bahwa Tuhan berbicara dengan laki-laki itu pada malam hari, tetapi berbicara dengan perempuan itu pada tengah hari. Pada malam hari, laki-laki itu datang kepada Tuhan; pada tengah hari, Tuhan mendatangi perempuan itu. Tempat Tuhan berbicara dengan laki-laki itu adalah di dalam sebu-ah rumah atau bangunan, namun Ia berbicara dengan perempuan itu di tempat yang terbuka.

Dalam peristiwa Nikodemus disinggung tentang keperluan pertama manusia. Menurut pengalaman rohani, keperluan pertama umat manusia ialah dilahirkan kembali. Dalam ekonomi Allah, kebutuhan pertama bagi manusia adalah dilahirkan kembali. Ekonomi Allah menghendaki manusia mempunyai hayat ilahi-Nya, bahkan bersatu dengan-Nya, baik dalam hayat maupun dalam sifat, guna menggenapkan kehendak kekal-Nya. Kehendak kekal Allah ialah mendapatkan sekelompok manusia yang telah dilahirkan kembali oleh hayat ilahi-Nya, dan yang sama dengan Dia dalam hayat maupun sifat, sehingga mereka bisa menjadi ekspresi-Nya yang korporat sampai selamanya. Inilah kehendak kekal Allah dan inilah ekonomi Allah. Untuk menggenapkan kehendak ini, kita harus dilahirkan kembali agar kita mempunyai hayat ilahi-Nya.

Kerajaan Allah hanya dapat dimasuki melalui kelahiran, bukan melalui perbuatan. Sebagai contoh: seekor burung hanya bisa memasuki kerajaan burung melalui kelahiran; seekor ikan tidak mungkin memasuki kerajaan burung melalui usaha macam apa pun. Satu-satunya jalan supaya Anda bisa masuk ke dalam suatu kerajaan hanyalah melalui suatu kelahiran yang khusus. Karena itu, aspek pertama dari Tuhan menjadi hayat kita adalah Ia memberikan hayat ilahi-Nya kepada kita melalui kelahiran ilahi, yang merupakan satu-satunya jalan kita mengambil bagian dalam Kerajaan Allah.

Apakah keperluan kedua umat manusia? Apakah yang diperlukan setelah kelahiran kembali? Keperluan yang kedua ialah kepuasan. Dalam Yohanes 3, masalahnya ialah manusia tidak memiliki hayat ilahi. Tidak peduli betapa baik atau hebatnya Anda, itu tidak berarti apa-apa bagi kehendak kekal Allah. Selama Anda belum dilahirkan kembali, pasti belum memiliki hayat ilahi. Anda hanya memiliki hayat insani saja. Hayat insani sebenarnya merupakan wadah untuk diisi oleh hayat ilahi. Jika Anda tidak memiliki hayat ilahi, Anda itu hampa atau sia-sia. Anda tak lebih daripada sebuah wadah atau bejana yang kosong melompong. Hayat insani Anda mungkin baik, tetapi Anda tidak memiliki hayat ilahi. Hayat ilahi ialah Allah sendiri. Anda perlu dipenuhi oleh hayat ilahi sebagai isi Anda. Hayat insani Anda adalah wadah untuk diisi hayat ilahi. Kapan kala hayat ilahi ada di dalam diri Anda, maka hayat itu menjadi isi Anda. Setelah menjadi isi Anda, ia pun akan menjadi kepuasan Anda. Sebelum kita beroleh selamat, kita semua mempunyai pengalaman merasa hampa. Bahkan sekalipun kita sukses dan mencapai kegemilangan, di dalam kita selalu terasa ada suatu kekosongan dan ketidak puasan. Baik atau jelek, kita tetap masih kosong melompong. Walaupun kita memiliki bejana dan wadah, namun belum terisi, kosong dan hampa. Tua, muda, kaya, miskin, tinggi, rendah semuanya kosong dan hampa. Pada suatu hari, setelah kita menerima Tuhan Yesus, kita beroleh keselamatan Allah, segera hayat ilahi ini menjadi isi kita. Kini kita sudah memiliki kepuasan. Karena itu, setelah menjelaskan keperluan kita akan kelahiran kembali, dibentangkan sebuah peristiwa yang menerangkan kepuasan yang sejati. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan manusia, kecuali Kristus sendiri. Apabila Kristus tidak menjadi kepuasan hayat insani kita, maka tidak ada hal lain yang dapat memuaskan kita. Lepas dari Kristus, tidak ada kepuasan. Kita ini manusia, selalu merasa dahaga; hanya Kristus yang dapat meleraikan dahaga kita.

I. JURUSELAMAT YANG HAUS DAN

ORANG DOSA YANG HAUS

Peristiwa perempuan Samaria mewahyukan bahwa Kristus adalah kepuasan yang sejati. Nikodemus adalah keturunan Yahudi asli, sedangkan perempuan Samaria keturunan campuran. Segala sesuatu yang ada pada perempuan itu adalah kebobrokan; tidak satu pun yang murni dan baik. Orang-orang Samaria mengukuhi pengakuan mereka sebagai keturunan Yakub, padahal mereka itu adalah keturunan Yakub yang campuran. Nikodemus diketahui namanya, tetapi tidak ada yang tahu nama perempuan Samaria itu. Betapa rendah dan hinanya perempuan itu sehingga Alkitab tidak mau memberi tahu namanya. Ia berdarah campuran.

Dalam peristiwa perempuan Samaria ini terdapat beberapa lambang. Peristiwa ini sendiri merupakan sebuah lambang, yang menyatakan Kristus adalah kepuasan kita, tetapi dalam lambang ini sendiri terdapat pula lambang lain, yaitu perempuan Samaria.

Menurut lambang dan figur dalam Kitab Suci, apakah sesungguhnya yang diwakili perempuan? Pertama, perempuan melambangkan manusia perlu bersandar kepada Allah. Manusia selamanya tidak dapat berdiri sendiri, ia harus bersandar kepada Allah; Allah adalah Pencipta manusia, juga adalah suami manusia (Yes. 54:5). Saudara-saudara, izinkan saya bertanya kepada kalian: Apa sebenarnya kedudukan Anda di hadapan Allah, perempuan ataukah laki-laki? Jika Anda berkata kepada saya, saya akan menjawab bahwa meskipun saya adalah seorang laki-laki yang telah berusia enam puluh tahun lebih, tetapi saya tahu dengan pasti bahwa kedudukan saya di hadapan Allah adalah perempuan. Kedudukan saya di hadapan Allah bukan laki-laki, melainkan perempuan. Karena saya selamanya tidak dapat berdiri sendiri, saya perlu bersandar kepada Tuhan. Perempuan melambangkan orang yang tak dapat berdiri sendiri. Inilah kedudukan Anda, juga kedudukan saya. Dalam bentuk lahiriah, kita berbeda sebagai laki-laki atau perempuan; namun pada hakikatnya, kita semua adalah perempuan. Tidak seorang pun di antara kita yang boleh berdiri sendiri. Manusia selamanya tidak bisa merdeka. Zaman sekarang, orang-orang memproklamirkan kemerdekaan, tetapi saya memberi tahu Anda bahwa Anda tidak boleh merdeka. Anda diciptakan justru untuk bersandar kepada Allah. Kapan saja orang ingin merdeka, pasti ia akan kehilangan kepuasan, sebab manusia diciptakan Allah sudah mengandung sifat bersandar.

Perempuan juga melambangkan kelemahan (1Ptr. 3:7). Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa kita ini lemah. Kita semua ini lemah karena kita adalah manusia. Jangan mengira istri Anda lemah, sedangkan Anda kuat. Walaupun ini mungkin benar secara jasmani, tetapi pada hakikatnya baik laki-laki maupun perempuan, semuanya lemah. Malahan dalam hal rohani, adakalanya saudara lebih lemah daripada saudari. Saat Tuhan Yesus dikhianati dan menjelang dibunuh, saudari-saudari yang tercantum dalam Perjanjian Baru jauh lebih kuat daripada saudara-saudara. Pada waktu kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan, saudari-saudari benar-benar lebih kuat daripada saudara-saudara. Bahkan dalam hal mencintai Tuhan, Maria adalah yang terkuat. Saudara-saudara, janganlah Anda sombong dan mengira Anda yang terkuat. Kita semua adalah manusia yang tercipta, lemah, dan mengandung sifat bersandar, karena itu kita harus bersandar kepada Tuhan.

Perempuan juga menunjukkan suatu kedambaan yang batiniah. Ini pun diciptakan oleh Allah. Memang, seorang laki-laki memerlukan seorang istri untuk membantunya, tetapi seorang perempuan lebih-lebih memerlukan seorang suami. Seorang perempuan selalu mendambakan dan mengharapkan kepuasan. Dalam sifat manusia, laki-laki maupun perempuan selalu merindukan kepuasan. Tuhan menciptakan kehausan agar kita mencari Dia. Anda selalu merasa haus dan batin Anda tak terpenuhi. Ini semua menandakan bahwa Anda seorang perempuan. Anda ingin bersandar kepada orang lain, dan Anda merasa harus bersandar, merasa lemah, dan mendambakan kepuasan, semua ini menunjukkan bahwa Anda adalah perempuan.

A. Juruselamat “Harus Melintasi”

Tempat Orang Berdosa

Kita perlu mencurahkan perhatian penuh atas Yohanes 4:4, “Tetapi Ia harus melintasi daerah Samaria.” Kata kunci ayat ini ialah “harus”. Tak perlu disangsikan lagi bahwa perempuan Samaria ini telah dipilih dan ditentukan oleh Allah Bapa dalam kekekalan yang lampau (Rm. 8:29). Dia pasti telah Bapa berikan kepada Tuhan Yesus (Yoh. 6:39). Perempuan Samaria yang begitu rendah, hina, dan amoral telah Bapa berikan kepada Tuhan. Itulah yang membebani Tuhan untuk menuju ke Samaria agar melaksanakan kehendak Bapa. Setelah itu, Ia memberi tahu murid-murid-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Tuhan datang ke Samaria dengan maksud melakukan kehendak Bapa, yakni mencari perempuan Samaria ini agar ia menjadi seorang penyembah Bapa. Karena satu jiwa itulah Tuhan merasa perlu khusus datang ke sana. Menurut sejarah, tidak ada orang Yahudi yang sudi melewati daerah Samaria. Samaria adalah satu daerah utama di bagian utara negara Israel, juga adalah lokasi ibukotanya (1Raj. 16:24, 29). Sekitar tahun 700 SM, orang-orang Asyur menaklukkan tempat ini, lalu membawa orang-orang dari Babel dan negara-negara kafir untuk mendiaminya (2Raj. 17:6, 24). Sejak saat itu, penduduk di sana (orang-orang Samaria) menjadilah masyarakat berdarah campuran antara orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi. Sejarah memberi tahu kita bahwa mereka memiliki Pentateuch (Lima Kitab Musa), dan menyembah Allah menurut bagian kitab Perjanjian Lama itu. Tetapi orang-orang Yahudi tidak mengakui mereka sebagai salah satu bagian dari bangsa Yahudi.

Meskipun orang-orang Yahudi tidak mau melewati Samaria, namun Tuhan Yesus menaruh beban untuk pergi ke sana. Ia harus pergi ke sana, bukan karena keperluan geografis, melainkan demi kehendak Bapa. Karena kehendak Bapa, Ia mengharuskan diri-Nya lewat di daerah itu. Tuhan tahu pasti bahwa di tengah hari ada seorang perempuan amoral akan datang ke pinggir sumur.

B. Juruselamat Datang pada Warisan Agama Tradisional Orang Dosa — Sumur Yakub

Mari kita membaca ayat 5-6, “Lalu sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih karena perjalanan, sebab itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.” Coba jawab, siapakah yang datang lebih dulu di sumur Yakub, orang dosa ataukah Juruselamat? Pada tahun-tahun awal, saya sangat gembira oleh beberapa hal dalam pasal ini. Kemudian saya pernah menginjil panjang lebar mengenai perempuan Samaria ini, termasuk semua rinciannya. Waktu itu saya nampak bahwa Tuhan Yesus harus pergi ke sumur mendahului perempuan yang jatuh dan amoral itu. Dia pergi ke pinggir sumur dan menunggu perempuan itu.

Tuhan sungguh berdaulat dan berhikmat. Sebelum perempuan itu datang, Ia mempunyai alasan yang tepat untuk menyuruh murid-murid-Nya pergi. Jika ada salah satu di antara murid-murid-Nya di sana, pasti keadaannya tidak akan sebaik itu, dan Tuhan tidak akan leluasa membicarakan perihal suami perempuan amoral itu. Maka, dalam kedaulatan dan hikmat-Nya, Tuhan telah menyuruh murid-murid-Nya pergi ke kota untuk membeli makanan. Mungkin Tuhan berpikir, “Biarkanlah Aku sendirian di sini, Aku mau menunggu perempuan yang amoral itu. Sebab ia terlalu amoral sehingga enggan berjumpa atau berbicara dengan siapa pun. Tetapi Aku ingin menyentuh hati nuraninya dan semua sejarah suami-suaminya. Kalian, murid-murid-Ku harus pergi.” Tanpa adanya keperluan membeli makanan, bagaimanakah Tuhan dapat menyuruh murid-murid-Nya pergi? Begitu murid-murid-Nya pergi membeli makanan, perempuan itu datang. Ketika saya muda, saya sungguh me-muji Tuhan setelah nampak gambaran ini. Andaikata malam itu Tuhan di dalam sebuah rumah, lalu perempuan itu datang berbicara dengan Dia, dan murid-murid-Nya melihat keadaan ini, pasti mereka akan berkata, “Apa yang Anda lakukan di sini? Yesus, Anda seorang laki-laki yang berumur tiga puluh tahun lebih dan ia perempuan yang semacam itu. Apa yang terjadi di sini?” Di bawah pengaturan kedaulatan dan hikmat-Nya, Tuhan menunggu kedatangan perempuan itu di tempat terbuka, pada saat siang bolong. Di tempat terbuka, namun tidak ada orang lain yang hadir dan mendengar percakapan itu. Ketika Tuhan dan perempuan Samaria itu selesai berbicara, murid-murid kembali dan melihat mereka, tanpa dapat berkata apa-apa. Percakapan itu diketahui orang bukan dalam sebuah rumah, melainkan di tempat terbuka. Betapa hikmatnya Tuhan Yesus!

Inilah butir pentingnya: Juruselamat tahu di mana orang dosa berada, Ia tahu keadaan sebenarnya dari orang berdosa. Tuhan Yesus datang ke sumur, menyuruh murid-murid-Nya pergi, lalu duduk di pinggir sumur, menunggu kedatangan perempuan itu. Jika Anda menengok kembali pengalaman Anda beroleh selamat, Anda akan menyadari bahwa pada taraf tertentu berlaku prinsip yang sama. Anda tidak pergi ke surga, tetapi Tuhan yang mendatangi Anda. Tuhan datang ke tempat di mana Anda berada. Saya dilahirkan di China, Tuhan Yesus datang ke sana. Pada suatu hari, Ia sedang menunggu saya di tempat tertentu sehingga saya tertangkap oleh-Nya. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Bukan Anda yang menjumpai Juruselamat, melainkan Juruselamat yang mendatangi Anda. Beberapa orang diselamatkan setelah kecelakaan mobil. Mereka harus menyadari bahwa sebelum kecelakaan itu terjadi, Tuhan Yesus sudah menanti di sana untuk berjumpa dengan mereka. Kita semua diselamatkan secara demikian. Alangkah baiknya!

Ketika Tuhan Yesus sedang menantikan orang dosa datang, Ia merasa haus. Jadi, dalam peristiwa kedua ini, kita berhadapan dengan seorang Juruselamat yang haus dan seorang dosa yang haus. Mungkin Anda berpendapat bahwa Anda yang haus, tetapi kehausan Anda itu melambangkan kehausan Juruselamat. Juruselamat sedang haus terhadap kita. Bagi-Nya, kita ini adalah air pelerai kehausan-Nya. Apakah Anda menyadari bahwa Anda ini air pelerai kehausan Juruselamat? Seolah-olah Juruselamat berkata, “Tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan Aku kecuali engkau. Di surga Aku memiliki jutaan malaikat, tetapi tidak ada satu pun yang dapat memuaskan Aku. Aku datang ke bumi untuk mencari air pelerai kehausan itu, dan engkaulah justru air itu.” Mungkin Anda akan merendahkan diri dan berkata, “Tidak, Ia itulah air hidupku. Mana mungkin aku menjadi air pelerai kehausan-Nya?” Tetapi Tuhan benar-benar memerlukan Anda, tanpa Anda, mustahil Ia dipuaskan.

Mulanya, Juruselamat maupun orang dosa, keduanya dalam keadaan haus, bahkan Juruselamat sedang lapar. Orang dosa haus, lalu datang menimba air untuk meleraikan kehausannya. Juruselamat lapar ditambah haus, lalu Ia menyuruh murid-murid-Nya pergi membeli makanan supaya beroleh makanan sambil meminta air minum kepada orang dosa. Akhirnya keduanya dipuaskan walaupun tanpa makan atau minum. Alangkah menakjubkan ini! Orang dosa minum Juruselamat dan Juruselamat minum orang dosa sehingga keduanya dipuaskan. Murid-murid-Nya heran karena ketika mereka datang membawakan makanan dan mempersilakan Dia makan, Dia menjawab, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal” (Yoh. 4:32). Orang dosa itu dipuaskan oleh air hidup Juruselamat dan Juruselamat dipuaskan karena telah memuaskan orang dosa seturut kehendak Allah. Melakukan kehendak Allah dan memuaskan orang dosa itulah makanan Juruselamat. Oh, Tuhan Juruselamat ini sedang haus terhadap Anda dan saya! Ketika Dia memperoleh kita, Dia pasti akan puas.

C. Orang Dosa Datang pada Warisan Agamanya Sendiri

Orang dosa datang menimba air pada warisan agamanya untuk memuaskan dirinya. Ketika ia hendak menimba air, Juruselamat meminta air minum kepadanya untuk kepuasan-Nya. Kapan saja Tuhan meminta sesuatu dari Anda, itu membuktikan bahwa Ia memerlukannya dan Anda pun memerlukannya. Ketika Anda haus, Tuhan pun haus. Ketika Tuhan meminta sesuatu dari Anda, maka Anda pun memerlukan hal itu. Ini sungguh bermakna. Ketika Anda tunawisma, Dia pun tunawisma; dan ketika Ia tunawisma, Anda pun tunawisma.

II. KEHAMPAAN TRADISI AGAMA DAN KEPENUHAN HAYAT AIR HIDUP

Dalam ayat 9-14, kita nampak perbedaan yang sangat besar antara tradisi agama dengan kepenuhan air hidup. Perempuan Samaria itu bertanya kepada Tuhan Yesus,

“Apakah Engkau lebih besar daripada bapak leluhur kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” (Yoh. 4:12). Dari pertanyaan ini dapat kita ketahui bahwa orang-orang sering memandang nenek moyang agamawi mereka itulah yang terbesar. Orang-orang Samaria menganggap Yakub itulah yang terbesar. Mereka mengakui Yakub sebagai nenek moyang mereka dan memandangnya sebagai yang terbesar. Perempuan Samaria itu juga memandang bahwa sumur Yakub inilah yang terbaik. Ini menyatakan bahwa warisan agama selalu dianggap yang terbaik.

Perempuan Samaria ini berkata kepada Tuhan, “Tuan, Engkau tidak punya timba . . . dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” (ayat 11). Ini menyatakan bahwa cara keagamaan selalu dianggap yang paling manjur. Meskipun agama selalu menganggap caranya itu paling manjur, tetapi “air” keagamaan selamanya tidak dapat meleraikan kehausan orang-orang agamawi. Hal ini terbukti melalui jawaban Tuhan dalam ayat 13, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi.”

Kristus jauh lebih besar daripada nenek moyang agamawi. Yesus menjawab serta berkata kepada perempuan itu, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yoh. 4:10). Seandainya Anda menginjil di China, orang-orang akan membicarakan tentang Konghucu kepada Anda. Setiap suku dan bangsa selalu bermegah bahwa mereka memiliki tokoh yang hebat, namun tidak satu pun di antara mereka itu lebih besar daripada Kristus. Kristus lebih besar daripada Yakub, Konghucu, Plato, ataupun nenek moyang lainnya.

Selain itu, karunia Allah lebih besar daripada warisan agama. Manakah yang Anda pilih, sumur Yakub ataukah karunia Allah? Apakah karunia Allah? Jika Anda mengatakan karunia Allah adalah Kristus, maka jawaban ini tidak seluruhnya tepat. Hayat ilahi adalah karunia Allah, karena Roma 6:23 mencantumkan bahwa karunia Allah ialah hidup (hayat) yang kekal. Hayat ilahi ini akan menjadi mata air dalam diri kita yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal (Yoh. 4:14). Hayat ilahi ini jauh lebih baik daripada sumur Yakub. Jika hari ini Anda mengunjungi sumur Yakub di Palestina, Anda pasti akan menemukan bahwa sumur itu dikuasai oleh kaum biarawan Armenia. Ketika saya mengunjungi tempat itu, setiap orang yang memerlukan secangkir air dari sumur Yakub harus membayar dua dolar. Bagaimanapun, semuanya itu tak lain tradisi dan tidak berarti apa-apa. Air yang di dalam sumur itu tidak berbeda dengan air di tempat lain.

“Meminta” adalah lebih berkhasiat daripada cara agama. Air hayat dari Allah meleraikan dahaga kita dan menjadi mata air yang memancar hingga hidup yang kekal. Dahaga maut dileraikan oleh hayat. Dalam prinsipnya, ini juga berarti mengubah maut menjadi hayat. Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi.” Perkataan ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. “Air” di sini melambangkan kenikmatan materi dan hiburan duniawi. Tak ada satu pun darinya yang dapat meleraikan dahaga batiniah manusia. Sebanyak apa pun manusia minum air materi dan duniawi ini, pasti akan haus lagi. Semakin minum “air” ini, semakin haus. Contohnya, di bidang pendidikan, orang menginginkan tingkatan yang tinggi dan lebih tinggi. Setelah meraih gelar sarjana muda, mereka meng-inginkan sarjana penuh dan setelah itu gelar doktor. Yang lainnya, mungkin ingin memiliki simpanan sepuluh ribu dolar dalam rekening tabungannya, tetapi setelah itu, ingin se-ratus ribu dolar, dan setelah seratus ribu, sejuta. Semakin Anda minum air dunia, Anda semakin haus. Jangan sekali-kali mencoba memuaskan dahaga Anda dengan air dunia yang mana pun. Meskipun perempuan Samaria itu telah mempunyai lima orang suami, dan kini sedang tinggal bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya, ia masih belum juga puas. Tidak ada satu pun yang dapat memuaskan dahaganya. Ada saudari yang senang model pakaian. Tetapi tidak seorang saudari pun yang dipuaskan oleh model pakaian apa pun. Setelah Anda membeli sepotong, Anda lalu ingin membeli yang kedua dan ketiga. Setelah Anda memiliki sepuluh pasang sepatu, Anda ingin memiliki lima belas pasang. Bahkan ada perempuan yang telah memiliki lebih dari lima belas pasang sepatu, tetapi masih saja belum puas. Air macam ini tidak pernah memuaskan manusia. Hanya satu “air” yang dapat memuaskan manusia hingga kekal, yaitu Yesus Kristus. Kristus memuaskan pada hari ini, besok, dan sampai kekal. Ia selalu baru, selalu segar, dan selalu memuaskan. Karena itulah, Tuhan memberi tahu perempuan Samaria itu bahwa siapa saja yang minum air dari-Nya, tidak akan haus lagi, karena air itu akan menjadi mata air di dalamnya yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.