← Daftar isi Kejadian (1) · bab 6/15

PENCIPTAAN PEMULIHAN DAN PENCIPTAAN LEBIH LANJUT ALLAH (3) — TUJUAN

Dalam pemberitaan ini kita akan membahas terciptanya hayat manusia, hayat yang lebih tinggi dengan kesadaran yang lebih tinggi. Karena berita yang lalu adalah suatu sisip-an, maka sekarang kita melanjutkan pelajaran kita dengan penciptaan proses pemulihan dan penciptaan lebih lanjut Allah.

(13) Rapat Ke-Allahan

Kejadian 1:26 menunjukkan adanya suatu rapat yang diadakan oleh Allah dan antar Ke-Allahan. Kita mengatakan “antar Ke-Allahan” sebab Allah itu Tritunggal. Dengan ba-hasa manusia kita boleh mengatakan bahwa dalam Allah ada tiga persona, satu Allah dengan tiga persona. Saya tak dapat menjelaskan ini. Saya hanya bisa mengatakan bahwa Allah itu Tritunggal. Yang kita miliki adalah satu Allah de-ngan tiga persona. Suatu rapat yang diadakan oleh tiga per-sona dari Allah ini telah membuat suatu keputusan. Yakni keputusan yang membawa hayat kepada kematangan. Sete-lah Allah menciptakan ternak, berbagai jenis binatang liar, dan segala jenis binatang melata pada bagian pertama hari keenam, Allah tidak langsung menciptakan manusia. Ter-lebih dulu Allah mengadakan rapat untuk merundingkan hal ini. Kejadian 1:26 mengatakan, “Berfirmanlah Allah : Baiklah Kita menjadikan manusia ...” Jika kita membaca ayat ini dengan teliti, dapatlah kita nampak seolah adanya sebuah rapat. Allah berkata, “Baiklah Kita . . .” Allah itu Maha Esa, namun kata gantinya memakai “Kita”. Ini membuktikan bahwa Allah itu Tritunggal. Tidak dikatakan, “Baiklah Aku menjadikan ...” Jika Alkitab mengatakan “Aku” dan bukan “Kita” tentu tidak perlu mengatakan “baiklah”. Perkataan “Baiklah Kita menjadikan” berarti marilah Kita mengadakan persekutuan. Anda mungkin mengira bahwa saya telah me-nekankan secara berlebihan, namun perkataan ini benar--benar terdapat dalam Alkitab : “Baiklah Kita . . .”

Setelah Allah menciptakan berbagai macam hayat seperti yang disebutkan di depan, Allah masih perlu menciptakan manusia sebagai hayat ciptaan yang tertinggi menurut gambar dan rupa-Nya, untuk mengekspresikan diri-Nya sendiri. Untuk merampungkan pekerjaan ini, perlu Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh menggarap manusia. Hal ini dibuktikan sepenuhnya oleh kitab-kitab selanjutnya dalam Alkitab.

Sampai di sini, kita telah melihat delapan butir tentang hayat. Janganlah lupa akan hal ini. Allah menciptakan re-rumputan, sayur-mayur, dan pepohonan pada akhir hari ke-tiga, sebelum terang hari keempat. Setelah terang hari ke-empat, Ia menciptakan ikan dan unggas pada hari kelima. Pada permulaan hari keenam, Allah menciptakan ternak yang dilambangkan oleh lembu, binatang liar yang dilambangkan oleh singa, dan binatang-binatang melata. Demikianlah ada tiga golongan hayat tumbuh-tumbuhan dan lima golongan hayat binatang. Dalam pandangan kita, seolah-olah seluruh bumi telah dipenuhi dengan hayat. Namun, belum sampai pada kematangan hayat.

Kematangan hayat di bumi ini adalah hayat manusia. Bahkan sampai hari ini, setelah berselang 6000 tahun, tidak ada hayat lain di bumi yang dapat melebihi hayat manusia. Janganlah mengangap rendah diri Anda sendiri, Anda sangat tinggi, lebih tinggi daripada rumput, lebih tinggi daripada ternak, satwa, dan binatang melata. Anda adalah hayat ciptaan yang tertinggi. Tanpa manusia, takkan ada ke-matangan hayat, demikianlah Allah Tritunggal mengadakan suatu rapat agar mendatangkan kematangan hayat. Allah Tritunggal menetapkan untuk menciptakan hayat ciptaan yang tertinggi.

(14) Munculnya Manusia sebagai Inti

Manusia sebagai inti telah diciptakan dengan hayat yang lebih tinggi dan dengan kesadaran yang paling tinggi. Inilah kematangan hayat yang memiliki gambar dan rupa Allah, yang dapat berkuasa bagi Allah. Di bumi ini, ma-nusialah intinya. Seperti yang telah kita sebut sebelumnya, langit untuk bumi, dan bumi untuk manusia. Segala sesuatu di langit — sinar matahari, hujan, dan udara — bagi pertum-buhan hayat di bumi. Tanpa sinar matahari, hujan, dan udara, mustahil ada hayat di bumi. Karena itu, langit untuk bumi; bumi beserta berbagai macam hayat itu untuk manu-sia. Kita semua tahu bahwa mineral-mineral untuk tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan untuk binatang, tumbuh-tumbuhan dan binatang untuk manusia, dan manusia untuk Allah. Jadi, manusia adalah intinya.

Langit telah dibentangkan dan bumi telah disiapkan. Segala-galanya sudah siap bagi keberadaan manusia. Puji Tuhan! Allah bukan terlebih dulu menciptakan manusia, kemudian menyuruh manusia menunggu Allah memben-tangkan langit dan mempersiapkan bumi baginya. Tetapi se-baliknya, setelah Allah membentangkan langit, menyiapkan bumi, dan menyiapkan segala sesuatu, barulah manusia diciptakan. Terakhir, Allah baru menciptakan manusia. Ma-nusia berada pada deretan terakhir, namun tetap sebagai inti.

Hal ini serupa dengan pernikahan menurut adat Timur. Dalam pernikahan itu, mempelai laki-laki menyediakan se-gala-galanya dan terakhir mempelai perempuan tiba. Bukan mempelai perempuan yang muncul dulu, dan kemudian menunggu sampai segalanya sudah siap. Melainkan setelah segala sesuatu disiapkan, barulah mempelai perempuan muncul. Begitu pula, seluruh bumi adalah tempat pernikah-an Allah. Allah telah menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan-Nya. Siapakah mempelai perempuan? Mem-pelai perempuan adalah manusia.

Manusia adalah kematangan dari seluruh hayat ciptaan. Tanpa manusia, tidak ada kematangan. Lihatlah rerumput-an, hijau dan lembut, tetapi kurang berbentuk, kurang pe-nampilan, tidak memiliki muka. Sayur-mayur, termasuk ja-gung dan gandum, lebih berbentuk, tetapi juga tidak me-miliki muka. Pohon-pohon yang lebih besar, menghasilkan buah yang berbiji, namun tetap tak memiliki muka yang dapat mengekspresikan dirinya. Setelah tiga tingkat hayat tumbuh-tumbuhan ini, ikan adalah tingkatan pertama dari hayat binatang. ikan sudah mempunyai muka dengan dua mata yang kecil, tetapi kepalanya tidak begitu jelas, dan tidak mempunyai leher. Burung-burung mempunyai kepala dan leher yang jelas. Mereka mempunyai mata, telinga, dan paruh kecil, agak mendekati muka manusia. Ternak, kuda, dan lembu mempunyai muka sedikit menyerupai manusia. Setelah ternak adalah binatang liar, terutama singa. Muka singa agak mirip muka manusia. Meskipun dengan sangat tololnya Darwin mengatakan bahwa manusia adalah ke-turunan kera, namun memang benar bahwa muka-muka dari beberapa satwa mirip muka manusia. Tak peduli betapa miripnya muka burung, ternak, satwa, elang, lembu, domba, dan sebagainya dengan muka manusia, mereka tetap bukan manusia. Mereka kurang, dan lebih rendah. Mereka bukan kematangan hayat tercipta.

Yehezkiel 1:5, 10 membicarakan tentang empat makhluk hidup. Empat makhluk ini kelihatannya mirip dengan ma-nusia. Masing-masing mempunyai empat muka : muka ma-nusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang. Muka raja-wali di belakang sebab muka rajawali tidak mirip dengan muka manusia. Muka singa dan lembu lebih mirip dengan muka manusia. Akan tetapi muka manusia tetap terunggul. Jadi, hayat manusia adalah kematangan dari segala hayat ciptaan, mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan Allah serta berkuaaa bagi Allah.

Hal yang paling mencolok dan indah mengenai hayat manusia adalah kesadarannya. Manusia benar-benar mempunyai kesadaran yang tinggi. Kesadaran ini lebih tinggi daripada ikan, burung, lembu, dan singa. Ditinjau dari su-dut kesadaran, hayat manusia adalah yang tertinggi. Kita perlu berseru, “Haleluya!” Dalam alam semesta ini, di atas bumi, manusia telah dijadikan. Manusia telah diciptakan dengan hayat yang berkesadaran tertinggi. Hayat yang dapat mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Ini sungguh indah menakjubkan! Penciptaan manusia demikian penting sehingga Allah Tritunggal mengadakan rapat sebelum Ia melakukannya. Langit telah dipulihkan dan dibentangkan untuk melayani bumi. Daratan muncul untuk menerbitkan hayat tumbuh-tumbuhan, hayat binatang, dan hayat manu-sia. Lihatlah, di langit ada matahari, bulan, bintang-bin-tang, hujan, dan udara. Lihatlah, di bumi ada rerumputan, sayur-mayur, dan pepohonan. Ada burung-burung di udara, ikan-ikan di air, ternak, margasatwa, dan binatang melata di bumi. Inti segalanya ini adalah manusia yang mengeks-presikan Allah dan mewakili Allah. Setelah Allah mencipta-kan manusia, Ia beristirahat, Ia merasa puas.

b. Butir-butir Inti

Sekarang kita sampai pada butir-butir inti penciptaan pemulihan dan penciptaan lebih lanjut Allah.

(1) Memulihkan Bumi

Allah perlu memulihkan bumi untuk menghasilkan hayat dan mendatangkan pemerintahan (Kej. 1:9, 26, 28). Selama bumi masih berada di bawah air kematian, tidaklah mungkin untuk menghasilkan hayat atau mendatangkan pemerintahan. Agar mencapai kedua hal ini, bumi perlu dipulihkan.

(2) Mendapatkan Manusia

Butir inti yang kedua ialah mendapatkan manusia se-bagai ekspresi diri Allah sendiri dan untuk menanggulangi musuh Allah (Kej. 1:26-28). Kita akan lebih banyak melihat hal ini dalam berita selanjutnya.

(3) Menghasilkan Hayat

Butir inti yang ketiga ialah menghasilkan hayat. Hal ini diperlukan agar dapat mengekspresikan Allah dan berkuasa bagi Allah. Ingatlah tiga butir inti ini : memulihkan bumi, mendapatkan manusia, dan menghasilkan hayat. Walaupun Kejadian 1 dan 2 mencantumkan Allah menciptakan ber-aneka macam benda, namun Allah hanya menyebutkan ha-yat dan perkara yang bersangkutan dengan hayat, sebab penciptaan pemulihan dan penciptaan lebih lanjut Allah di-pusatkan pada hayat. Seluruh penciptaan Allah dipusatkan pada hayat. Ia memulihkan bumi, menciptakan manusia dan menjadikan segala macam hayat, dengan tujuan mengeks-presikan diri-Nya dan menanggulangi musuh-Nya.

c. Tujuan

Sekarang kita sampai pada tujuan penciptaan pemulihan dan penciptaan lebih lanjut Allah. Hal ini penting sekali.

(1) Mendapatkan Manusia untuk Mengekspresikan Allah

Tujuan utama dari penciptaan pemulihan dan penciptaan lebih lanjut Allah ialah mendapatkan manusia, yakni manusia korporat, untuk mengekspresikan Allah (Kej. 1:26-27).

Manusia yang diciptakan Allah adalah manusia yang kor-porat. Allah tidak menciptakan banyak orang. Allah men-ciptakan umat manusia secara serentak di dalam diri Adam seorang. Allah menciptakan Adam dan Adam itulah manusia korporat, manusia kolektif. Ketika Adam diciptakan, kita semua juga diciptakan. Jika sekarang Anda berusia tiga puluh tahun, janganlah mengatakan bahwa Anda diciptakan tiga puluh tahun yang lalu. Anda dilahirkan tiga puluh tahun yang lalu, tapi Anda telah diciptakan 6000 tahun yang lalu. Meskipun saya dilahirkan 40 tahun lebih dahulu dari-pada Anda, tetapi kita diciptakan pada waktu yang sama. Ketika Adam diciptakan, kita semua juga diciptakan; karena kita semua telah diciptakan serempak di dalam Adam. Kita termasuk di dalam Adam. Allah tidak menciptakan manusia individu, melainkan manusia korporat, untuk mengekspresi-kan diri-Nya. Dalam ayat 26 Allah berkata, “supaya mereka”

— satu orang, namun kata gantinya “mereka”. Hal ini mem-buktikan bahwa orang ini adalah manusia korporat. Dalam ayat ini, sebagaimana kata ganti “Kita” menunjukkan bahwa Allah itu Tritunggal, maka kata ganti “mereka” juga menun-jukkan bahwa manusia itu korporat. Allah menciptakan manusia korporat itu menurut gambar dan rupa-Nya, su-paya dapat mengekspresikan Allah sendiri.

(a) Ada Gambar Allah di Dalam

Kejadian 1:26 mengatakan, “Berfirmanlah Allah : Baik-lah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa. Kita ...” Di sini kita menemukan dua hal — gambar dan rupa. Semua pelajar Alkitab yang baik menyetujui bahwa gambar menunjukkan sesuatu yang di dalam dan rupa menunjukkan sesuatu yang di luar. Kita semua memiliki sesuatu yang di dalam — pikiran, tekad dan emosi. Di luar kita mempunyai rupa yaitu bentuk tubuh.

1) Gambar Allah ialah Kristus

2 Korintus 4:4 dan Kolose 1:15 kedua-duanya mengatakan gambar Allah adalah Kristus. Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Allah tidak kelihatan, namun Ia mempunyai sebuah gambar. Allah yang tidak kelihatan mempunyai gambar yang kelihatan. Tak seorang pun yang pernah melihat Allah, tapi Kristus telah menya-takan-Nya (Yoh. 1:18). Kita semua sedikit banyak telah melihat Kristus. Petrus melihat-Nya. Yohanes melihat-Nya. Setelah kebangkitan-Nya, lima ratus saudara melihat-Nya pada waktu yang sama (1 Kor. 15:6). Ia sungguh-sungguh gambar Allah. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus adalah gambar wujud Allah.

2) Manusia Diciptakan Menurut Gambar Kristus

Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah dan gambar Allah adalah Kristus, maka manusia diciptakan menurut gambar Kristus. Dalam Kejadian 1:26 Allah berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gam-bar Kita . . .” Tetapi ayat 27 mengatakan, “Allah mencipta-kan manusia menurut gambar-Nya.” Jelaslah di sini “gam-bar-Nya” berarti gambar Kristus. Jadi, manusia dibuat sesuai dengan gambar Kristus.

3) Adam adalah Gambaran (lambang) Kristus

Roma 6:14 mengut.akan bahwa Adam, manusia pertama, adalah gambaran lambang Kristus. Jika kita memotret seseorang, maka foto orang tersebut adalah gambaran dari orangnya. Adam merupakan foto Kristus. Kristus me-rupakan gambar Allah dan Adam merupakan foto Kristus. Sebagaimana foto menyatakan suatu gambaran, demikian pula manusia diciptakan untuk mengekspresikan gambar Allah, dan gambar ini adalah Kristus.

Saya akan menggunakan perumpamaan sarung tangan. Sarung tangan dibuat menurut bentuk tangan. Baik tangan maupun sarung tangan mempunyai lima jari. Sarung tangan dibuat menurut bentuk tangan supaya pada suatu hari ta-ngan dapat masuk ke dalam sarung tangan. Tangan meme-nuhi sarung tangan dan sarung tangan mengekspresikan tangan. Mengapa manusia dibuat menurut gambar Kristus? Sebab Allah bermaksud pada suatu hari Kristus akan memasuki manusia dan diekspresikan melalui manusia. Roma 9:21, 23 dengan jelas memberi tahu kita bahwa manusia di-buat sebagai suatu bejana, suatu wadah. Manu-sia bukanlah pisau, atau palu, atau perkakas lainnya. Ma-nusia adalah bejana, wadah. Roma 9:21, 23 lebih-lebih mengatakan bahwa manusia diciptakan sebagai bejana yang berharga untuk diisi oleh Allah, untuk menyatakan kekaya-an dan kemuliaan-Nya. 2 Korintus 4:7 mengatakan bahwa kita memiliki mustika (harta) dalam bejana tanah liat. Bejana ini seperti sarung tangan, pada suatu hari tangan akan masuk ke da-lamnya, isi akan masuk ke dalam wadah-nya. Kita hanyalah sebuah bejana untuk diisi Kristus.

4) Kristus Dibuat Menurut Rupa Manusia

Pada suatu hari, Kristus dibuat dalam rupa manusia (Flp. 2:6-8). Manusia dibuat menurut gambar Kristus dan Kristus dibuat menurut rupa manusia. Bukankah hal ini ajaib? Siapakah yang menurut siapa? Saling menurut. Manusia dibuat menurut Kristus dan Kristus dibuat me-nurut rupa manusia, supaya manusia dapat demi kematian dan kebangkitan-Nya memperoleh hayat Allah. Ini sangat misterius, namun adalah suatu fakta. Haleluya! Kita semua telah memperoleh hayat ini.

5) Manusia Dapat Diubah

dan Diserupakan dengan Gambar Kristus

Karena kita memiliki hayat ilahi ini, maka kita dapat diubah dan diserupakan dengan gambar Kristus (2 Kor. 3:18; Rm. 8:29). Di sini ada dua hal — pengubahan dan penye-rupaan. Pengubahan itu batiniah, sedang penyerupaan itu lahiriah.

Kita mempunyai pikiran, emosi, dan tekad yang dibuat menurut Kristus. Kristus tak disangsikan lagi, mempunyai pikiran yang terbaik, tekad yang terbaik, dan emosi terbaik. Pikiran, tekad, dan emosi kita tidaklah riil. Pertimbang-kanlah lagi perumpamaan dari tangan dan sarung tangan. Taman manusia mempunyai satu ibu jari dan empat jari, sarung tangan juga mempunyai satu ibu jari dan empat jari. Tak dapat disangkal bahwa ibu jari dari sarung tangan adalah ibu jari, tapi kalau dibandingkan dengan ibu jari yang sesungguhnya, sangat berbeda. Bandingkanlah pikiran kita dengan pikiran Kristus. Pikiran kita seperti jari kosong sarung tangan. Pikiran Kristus seperti jari sesungguhnya dari tangan manusia. Kita mempunyai hikmat, tetapi hik-mat kita seperti jari kosong sarung tangan, sedang hikmat Kristus seperti jari sesungguhnya. Bagaimanapun, pada suatu hari, ibu jari yang sesungguhnya akan masuk ke dalam ibu jari sarung tangan dan dua ibu jari akan menjadi satu! Yang satu adalah rupanya, yaitu ekspresinya, dan yang lain adalah realitasnya, yaitu isinya. Hikmat kita hanyalah bejana dari hikmat Kristus, ekspresi hikmat Kristus. Apakah Anda mempunyai kasih? Ya, kita semua mempunyai kasih, tetapi kasih kita seperti sarung tangan kosong. Hai, kaum istri, janganlah mengharapkan kasih dari suamimu. Bahkan kalau suamimu mencintaimu, kasih itu pun kosong. Puji Tuhan! Kasih itu kosong! Karena kasih itu kosong, maka kasih Kristus dapat memasukinya.

Tetapi persoalannya tidaklah selalu mudah. Agar kasih Kristus masuk ke dalam kita, mungkin perlu ada beberapa pemberesan. Jari-jari sarung tangan mungkin saja sedang terbelit atau membengkok, itu menghalangi jari-jari tangan yang akan memasukinya. Demikian pula, perlu ada pem-beresan atas diri kita, supaya kasih Kristus dapat memasuki kita. Pada suatu hari, kasih Kristus masuk ke dalam kasih suami yang kosong. Pada saat itu Anda baru menikmati kasih yang sesungguhnya, yaitu kasih Kristus melalui kasih suami Anda yang kosong. Puji Tuhan!

Segala milik, hakiki, dan kemampuan kita hanyalah suatu bentuk kosong, yang baik dipergunakan sebagai bejana untuk menampung segala milik, hakiki, dan kemampuan Kristus.

Kristus ada di dalam kita. Hayat Kristus terus-menerus melakukan pekerjaan pengubahan di dalam kita. Kasih kita, emosi kita, dan pikiran kita tidaklah memadai. Apa yang kita miliki secara alamiah tidak ada yang tepat, sebab kosong dan terbatas. Esens dan unsur Kristus harus masuk ke dalam segala hakiki kita. Hikmat Kristus harus masuk ke dalam hikmat kita yang kosong, memberikan pikiran Kristus kepada kita (Flp. 2:5). Pikiran kita. harus merupa-kan suatu bejana bagi pikiran Kristus; pikiran Kristus harus memenuhi pikiran kita, kemudian pikiran kita akan diubah menurut gambar Kristus. 2 Korintus 3:18 mengatakan bahwa kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dan diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Inilah pengubahan yang di dalam. Pengubahan yang di batin, ini juga akan menjadi penyeru-paan yang di lahir. Kita akan diubah menjadi serupa dengan gambar Putra Allah (Rm. 8:29).

6) Tubuh Kita akan Diubah

Menjadi Wujud Tubuh Kristus yang Mulia

Kita dijadikan menurut Kristus. Pada suatu hari, Kristus datang dalam wujud manusia. Kita menerima-Nya dan Ia masuk ke dalam kita. Kristus ini sekarang di dalam kita melakukan pekerjaan pengubahan, tidak saja mengubah kita agar serupa dengan gambar-Nya, tetapi juga menjadi-kan kita serupa dengan rupa wujud-Nya. Akhirnya Ia akan mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:21). Saat itu kita akan dengan penuh, lengkap, rampung sempurna menjadi sama seperti Dia (1 Yoh. 3:2b). Katika Ia melihat diri-Nya sendiri, Ia akan ber-kata, “Kalian semua seperti Aku.” Ketika kita melihat diri kita, kita akan berkata kepada Tuhan Yesus, “Kami semua seperti Engkau dan Engkau pun seperti kami.” Tidak ada perbedaan. Kita semua akan seperti Kristus dan Kristus akan benar-benar seperti kita. Kristus dan kita, kita dan Kristus — kita semua mempunyai gambar dan rupa yang sama. Inilah ketetapan Allah dalam menciptakan manusia bagi ekspresi-Nya sendiri. Di satu pihak, penciptaan ma-nusia telah selesai, namun proses pengubahan masih berlangsung. Sekarang kita berada di bawah proses peng-ubahan, menunggu Dia kembali.

(b) Ada Rupa Allah di Lahir

Manusia diciptakan tidak saja di dalamnya menurut gambar Allah, tetapi juga di luarnya sesuai dengan rupa Allah. Dalam penciptaan, semua ciptaan adalah menurut jenisnya masing-masing. Namun manusia tidak menurut jenis manusia, melainkan menurut rupa Allah. Karena gambar menunjl:rkkan wujud batiniah Allah, maka rupa tentulah menunjukkan bentuk lahiriah Allah.

Hubungan antara Allah dengan manusia merupakan suatu rahasia. Di satu pihak, Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak kelihatan. Di pihak lain, Alkitab mengatakan bahkan sebelum Tuhan Yesus berinkarnasi menjadi ma-nusia, dalam Perjanjian Lama, Ia telah beberapa kali me-nampakkan diri kepada orang-orang sebagai manusia. Be-berapa kali Kristus muncul dalam bentuk dan tubuh ma-nusia. Ketika Abraham sedang duduk di pintu kemahnya, ia melihat tiga orang datang (Kej. 18:2a). TUHAN dan dua ma-laikat menampakkan diri kepadanya. Abraham mengundang tiga orang itu masuk ke dalam kemahnya dan menjamu mereka dengan makanan yang lezat. Mereka semua makan bersamanya. Allah makan bersama Abraham dan mereka mengadakan pembicaraan yang serius. Itulah sebabnya Abraham disebut sahabat Allah (Yos. 2:23). Jika kita baca Kejadian 18, kita akan tahu bahwa itu merupakan catatan persahabatan. Allah adalah seorang sahabat bagi Abraham. Sesaat kemudian, dua malaikat itu disuruh pergi oleh TUHAN dan TUHAN tetap tinggal bersama Abraham. Abraham sendiri di hadapan TUHAN persis seorang teman (Kej. 18:16a, 22). Itulah Kristus sebelum berinkarnasi.

Kristus muncul untuk kali kedua dalam bentuk ma-nusia dalam peristiwa Yakub di Pniel. Seseorang datang menaklukkan Yakub yang kuat ini (Kej. 32:24). Jadi, Yakub bergulat dengan Allah. Yakub benar-benar kuat dan Allah tak dapat mengalahkannya sampai ketika Ia menjamah pangkal pahanya, barulah Yakub menjadi lumpuh. Yakub bertanya, “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahut Allah : “Mengapa engkau menanyakan nama-Ku?” Kemudian Allah memberkati Yakub. Akhirnya Yakub menyadari bahwa ia te-lah berhadapan muka dengan Allah (Kej. 32:28-30). Pniel berarti “muka Allah”. Allah muncul di sana sebagai seorang manusia. Jika Dia bukan manusia yang sejati, bagaimana-kah Ia bisa bergulat dengan Yakub?

Ada satu lagi peristiwa Allah menampakan diri dalam bentuk manusia yang terdapat di dalam kitab Yosua 5. Ke-tika itu Yosua memikul tanggung jawab berat untuk menga-lahkan Yerikho. Mungkin pada hari berikutnya bala tentara Allnh akan berperang dengan Yerikho; pemimpin mereka, Yosua, memikul beban perang kali ini. Pada sore harinya, saya percaya ketika itu ia sedang menyelidiki keadaan sekeliling, tiba-tiba ia melihat seseorang. Yosua bertanya ke-padanya, “Kawankah Engkau atau lawan?” Jawabnya, “Bukan, tetapi Akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang Aku datang” (Yos. 5:13-14). O)rang itu juga memberi tahu Yosua, “Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus” (Yos. 5:15). Di situlah tempat Allah berada.

Dengan contoh-contoh ini, dapatlah kita ketahui bahwa sebelum Tuhan Yesus berinkarnasi, Ia telah muncul beberapa kali dalam bentuk manusia. Ini sangatlah misterius.

Rerumputan tidak bermuka, sayur-mayur dan pepohonan juga tidak. Mulai dari hayat hewan, kita sudah melihat ikan memiliki muka, namun tidak seperti muka manusia, kemudian burung-burung, ternak, dan binatang liar. Lalu manusia, muka manusia sangat mirip Allah. Ini suatu misteri. Bagaimanapun, Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah. Inilah sebabnya kita mempunyai hikmat, tekad, dan emosi seperti yang Allah miliki, hanya tidak riil. Segala yang kita miliki hanya untuk ekspresi saja, kita perlu isinya.

Kita juga mempunyai rupa yaitu bentuk luar, seolah sebuah foto. Namun, foto tidak memiliki realitas. Ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, ma-nusia tidak mempunyai realitas Allah. Setelah manusia diciptakan, manusia masih perlu menerima Allah masuk ke dalam dirinya. Betapapun manusia mempunyai gambar dan rupa Allah, manusia tidak memiliki realitas Allah atau hayat Allah. Berhubung manusia gagal, Tuhan lalu datang dalam bentuk manusia. Dengan bentuk ini Ia telah mati dan bangkit kembali untuk meninggikan bentuk rupa ini. Demi kematian dan kebangkitan-Nya, sekarang kita dapat dengan mudah sekali menerima-Nya masuk ke dalam kita. Kita semua sudah menerima dan mendapatkan hayat yang ilahi ini. Bahkan demi hayat yang ilahi ini kita dapat mempunyai realitas Allah. Hayat yang ilahi ini kini bekerja di dalam kita, akan mengubah hayat kita yang kosong menjadi ilahi di dalam realitas. Inilah pengubahan. Akhirnya, kita akan diubah serupa dengan-Nya. Alkitab justru adalah wahyu dari yang misteri ini. Kita semua harus nampak, betapa penting, inti, dan menentukan bahwa kita diciptakan menurut gam-bar dan rupa Allah. Kita semua perlu melihat, bagaimana Kristus sebagai rupa ini dan bagaimana Kristus mengambil rupa manusia, supaya kita dapat menerima-Nya masuk ke dalam kita, menjadi hayat dan realitas kita. Akhirnya, Dia dan kita akan berbaur menjadi satu. Kita adalah penampilan dan ekspresi-Nya, Dia adalah realitas dan isi kita. Dia dan kita akan menjadi satu. Dia seperti kita dan kita seperti Dia. Kemudian kita akan mengekspresikan Allah kepada alam semesta.

Sekarang dapatlah kita ketahui mengapa Allah menciptakan langit dan bumi, mengapa Allah menciptakan hayat manusia. Inilah inti dan makna alam semesta. Jika kita tidak nampak ini, kita tidak tahu apakah makna alam semesta, juga tidak tahu akan ke manakah kita. Hari ini, kita sungguh telah mengetahui makna alam semesta, kita juga mengetahui di mana dan akan ke manakah kita. Kita di sini untuk mengekspresikan Allah dan akan berjumpa serta bersatu dengan Dia.

Ketika kita beroleh selamat, hayat ilahi yang di dalam kita bagaikan rumput. Bertumbuh menjadi sayur-mayur dan menjadi pohon, kemudian akan bertumbuh ke tingkatan ha-yat yang lebih tinggi yaitu ikan, burung, ternak, binatang liar. Kalau belum mencapai hayat ciptaan yang tertinggi, kita tidak dapat mengekspresikan Allah. Kita membutuhkan hayat manusia. Menurut Yehezkiel 1:5, 10 dan Wahyu 4:6-7, mengenai sembilan jenis hayat yang diciptakan di dalam Kejadian 1, hanya empat yang menjadi wakil di hadapan Allah, yaitu rajawali, lembu, singa dan manusia. Keempat makhluk ini di hadapan Allah, mewakili semua makhluk ciptaan Allah di hadapan Allah. Kitab Yehezkiel dan kitab Wahyu tidak menyebutkan rumput, sayur-mayur, pohon, ikan, atau binatang melata. Di alam kekal tidak ada laut, maka tidak ada ikan, dengan sendirinya juga tidak ada binatang melata. Yang menjadi wakil di hadapan Allah adalah manusia, lembu, singa, dan rajawali. Kita semua ha-rus bertumbuh hingga mencapai tingkatan hayat yang lebih tinggi, yakni tingkatan lembu, singa, dan rajawali. Kita semua perlu bertumbuh terus, sampai pada kematangan hayat yang dilambangkan oleh hayat manusia. Hayat ini saja yang dapat berkuasa bagi Allah. Inilah sasaran kita. Kita harus bertumbuh dan bertumbuh, dari hayat tumbuh-tumbuhan bertumbuh sampai hayat binatang, dan dari hayat binatang bertumbuh sampai hayat manusia.

KATA-KATA LEBIH LANJUT

Kalian pernah mendengar bahwa semua kebenaran Alkitab ditaburkan di dalam kitab Kejadian, terutama di pasal pertama. Seperti yang telah kita lihat, kitab Kejadian 1 menyatakan perihal terang, terang ini terus berkembang di seluruh Alkitab. Kita sudah meninjau terang hari per-tama, terang hari keempat, dan perkembangan terang-terang ini pada akhir Alkitab yaitu dua pasal terakhir, yang meng-ungkapkan, “tidak ada malam lagi.” Akhirnya Allah sendiri adalah terang bagi umat tebusan-Nya. Di dalam Yerusalem Baru, kita sebagai umat tebusan-Nya tidak memerlukan sinar matahari, sinar bulan, atau sinar lainnya. Allah sen-diri menjadi terangnya. Maka benih terang yang ditaburkan di kitab Kejadian 1, sampai pada kitab Wahyu 22, sudah berkembang menjadi sempurna.

Dengan prinsip yang sama, kita mempunyai kata “gambar”. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Gambar Allah adalah untuk ekspresi Allah. Mengeks-presikan Allah ialah mengekspresikan kemuliaan Allah. Kata “gambar” yang sangat kecil ini, terus berkembang dan berkembang sampai pada akhir Alkitab menjadi Yerusalem Baru. Seluruh kota itu bagaikan permata yaspis (Why. 21:11). Kalau Anda membaca Wahyu 4:3, Anda akan nam-pak bahwa yang duduk di atas takhta bagaikan permata yaspis. Ekspresi Allah seperti permata yaspis. Akhirnya se-antero kota Yerusalem Baru dibangun dari permata Yaspis. Tembok kota terbuat dari permata yaspis (Why. 21:18a). Dilihat dari pihak mana, sisi mana, segi mana, Yerusalem Baru memiliki penampilan Allah. Inilah ekspresi gambar Allah

Pagi ini, ketika kita berdoa-baca, ada saudara yang ber-tanya kepada saya tentang empat makhluk hidup yang tercantum dalam Yehezkiel 1:5, 10 dan Wahyu 4:6-7. Di ki-tab Yehezkiel, setiap makhluk hidup bermuka empat : di depan, muka mannusia; di belakang, muka rajawali; di kanan, muku singa; dan di kiri, muka lembu. Tetapi, kalau Anda meneruskan dari Yehezkiel sampai Wahyu 4, terdapat sedikit perbedaan. Keempat makhluk hidup di sana, masing-masing hanya memiliki satu muka. Makhluk hidup yang pertama bukan manusia melainkan singa, muka makhluk hidup yang kedua bukan lembu melainkan anak lembu. Lembu berbeda dengan anak lembu, lembu tentunya lebih tua. Sungguh aneh. Menurut hemat saya, lembu di kitab Yehezkiel se-harusnya anak lembu dan anak lembu di kitab Wahyu seharusnya lembu, demikian baru benar — yang muda lebih dulu baru yang lebih tua. Tetapi Alkitab menyebutkan yang lebih tua dulu baru yang muda. Lembu dulu baru anak lembu. Ketahuilah, kita orang Kristen bukan semakin lama semakin tua, melainkan semakin lama semakin muda. Semakin kita bertumbuh, semakin mudalah kita.

Dalam kitab Wahyu, singa yang pertama, anak lembu yang kedua. Yang ketiga, manusia, keempat, elang (nasar). Seorang saudara bertanya kepada saya, mengapa ada per-bedaan ini di dalam kitab Yehezkiel dan di dalam kitab Wahyu. Alasannya ialah urutan empat makhluk hidup yang di kitab Wahyu menurut urutan keempat kitab Injil. Di kitab Matius ada singa yaitu raja. Di kitab Markus ada hamba, budak yaitu anak lembu. Di kitab Lukas ada ma-nusia. Di kitab Yohanes ada Allah yaitu elang. Apakah arti-nya? Empat makhluk hidup di kitab Yehezkiel, dikatakan dengan serius, adalah ekspresi kemuliaan Allah. Dalam sidang kita atas kitab Yehezkiel, kita telah membahas Yehezkiel 1 serta melihat betapa keempat makhluk hidup itu se-bagai manifestasi kemuliaan Allah. Apakah kemuliaan Allah itu? Yaitu Kristus. Ketika kemuliaan Allah diekspresikan, itulah Kristus. Tapi perhatikanlah perbedaannya. Empat makhluk hidup dalam Yehezkiel ialah ekspresi kemuliaan Allah, empat makhluk hidup dalam kitab Wahyu ialah ekspresi Kristus sendiri. Dari kemuliaan Allah sampai diri Kristus sendiri terdapat suatu kemajuan. Maka dalam kitab Wahyu ekspresi keempat makhluk hidup tepat seperti empat kitab Injil. Artinya empat makhluk hidup dalam kitab Wahyu ialah ekspresi Kristus. Saya tidak mengatakan me-reka itu Kristus. Mereka bukanlah Kristus, namun mereka adalah ekspresi Kristus. Mereka mengekspresikan hakiki Kristus. Kristus beraspek empat : raja, hamba, manusia, dan Allah. Kristus memiliki empat aspek, dan Kristus ini perlu mendapatkan ekspresi dalam ciptaan-Nya. Maka dalam alam semesta ini ada empat makhluk hidup, mewakili setiap ting-katan hayat dari berbagai hayat untuk mengekspresikan Kristus.

Dalam kitab Kejadian 1, setiap hal kecuali kegelapan, air kematian, dan binatang melata, semuanya adalah Kristus. Roh yang datang mengerami itulah Kristus. Kristus ialah Roh itu. Kristus juga firman. Terang datang, terang itulah Kristus. Udara, tak perlu diragukan lagi adalah Kristus. Roh itu Kristus, firman itu Kristus, terang itu Kristus, udara juga Kristus. Daratan itu Kristus. Rumput juga Kristus, sebab Kristus adalah padang rumput kita. Sayur-mayur juga Kristus. Kristus juga biji-bijian, gandum, bunga tabo, dan macam-macam bunga lainnya yang indah. Semua pohon adalah Kristus. Kristus itulah pohon zaitun, pohon ara, po-hon anggur, dan pohon hayat. Ikan juga Kristus. Kristus dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan memberi makan 5000 orang. Kebanyakan orang Kristen hanya memperhati-kan lima ketul roti tetapi melupakan dua ekor ikan. Kristus tidak saja lima ketul roti, Dia juga dua ekor ikan, yang keluar dari air kematian untuk menjadi makanan kita. Kristus juga burung. Dialah elang. Kitab Keluaran 19:4 mengatakan Kristus adalah rajawali (elang besar), dengan dua sayapnya Ia memikul bani Israel. Dialah seekor induk ayam besar. Pada akhir Matius 23:37, Kristus seolah ber-kata, “Aku sebagai induk ayam, berkali-kali rindu mengum-pulkan kalian semua di bawah sayap-Ku, tetapi kamu tidak mau.” Kristus itulah ternak, lembu jantan, anak lembu, lembu betina, kambing, dan anak domba. Kristus pun singa (Why. 5:5). Akhirnya, Kristus ialah manusia, Adam yang sesungguhnya. Kristus ialah matahari, bintang timur, sum-ber sejati dari sinar bulan. Di Kejadian 1, segalanya adalah Kristus, Kristus adalah segala-galanya.

Kalau Anda hanya menikmati Kristus sebagai rumput, Anda masih kurang memenuhi syarat untuk mengekspresi-kan Dia. Kalau Anda menikmati-Nya sebagai sayur-mayur dan pepohonan, Anda tetap kurang memenuhi syarat. Bah-kan sekalipun Anda menikmati-Nya sebagai ikan, Anda ma-sih kurang memenuhi syarat. Meskipun Anda dapat me-nikmati Kristus begitu banyak, masih belum memenuhi syarat mengekspresikan Dia. Anda harus dari tingkatan hayat-hayat ini, bertumbuh mencapai tingkatan hayat bu-rung, lalu barulah Anda mulai sesuai untuk mengekspresi-kan Kristus.

Hayat burung di hadapan takhta Allah mewakili salah satu dari empat jenis hayat. Kita telah menyebutkan di kitab Kejadian 1, di antara kesembilan macam hayat, hanya ada empat macam yang menjadi wakil di hadapan takhta Allah. Ketahuilah, sembilan macam itu ialah rerumputan, sayur-mayur, pepohonan, ikan, burung, ternak, binatang liar, binatang melata, dan manusia. Di antara sembilan macam hayat ini, hanya empat saja yaitu burung, ternak, binatang liar, dan manusia yang memenuhi syarat mengespresikan Kristus. Rumput tidak memenuhi syarat, meskipun baik tetapi mempunyai tingkatan hayat yang terendah. Sayur-mayur, pepohonan, ikan juga tidak memenuhi syarat. Tentu semua binatang melata terbuang seluruhnya, mereka akan dicampakkan ke dalam lautan api.

Hanya burung, ternak, binatang liar, dan manusia memiliki rupa yang jelas. Rupa Anda ialah penampilan luar dari hakiki di dalam Anda. Apa yang ada di dalam Anda diekspresikan melalui rupa luar Anda. Saya sudah menye-butkan bahwa rumput, sayur-mayur, dan pepohonan tidak memiliki muka. ikan memiliki muka tetapi kurang jelas, lagi pula tidak mempunyai leher. Kita perlu mempunyai leher yang agak panjang supaya muka kita lebih nyata. Di antara sembilan macam ini, hanya ada empat macam yang mempunyai muka yang jelas, lagi pula di antara empat macam ini, muka Anda yang paling baik, paling agung, bahkan paling nyata. Bandingkanlah muka Anda dengan muka elang, singa, lembu, maka Anda akan nampak bahwa muka Anda lebih nyata. Mengapa? Karena hayat manusia di claim Anda lebih nyata (khusus) daripada hayat burung, ternak, dan binatang liar.

Manurut ekonomi Allah, Kristus memiliki empat aspek. Dia adalah manusia, namun Dia melayani orang-orang seperti anak lembu. Dia adalah manusia, namun Dia ber-perang, mengontrol, mengatur laksana singa. Dia adalah manusia, tapi Dia dapat terbang jauh tinggi, seperti elang besar yang sedang melayang-layang. Walaupun kita perlu hayat manusia untuk mengekspresikan Kristus, kita juga perlu hayat lembu, hayat singa, dan hayat elang. Bila kita mempunyai keempat-empatnya ini kita dapat mengekspresikan Kristus dengan sempurna.

Sekarang kita dapat melihat “rupa”, satu istilah kecil dalam kitab Kejadian pasal 1 ini sudah mengalami perkem-bangan yang sangat besar. Kita bukan hanya mempunyai empat makhluk hidup yang mengekspresikan Kristus dalam empat aspek, akhirnya kita pun mempunyai Yerusalem Baru, satu kota agung yang mempunyai gambar Allah, mengekspresikan Kristus. Allah nampaknya seperti permata yaspis, Yerusalem Baru pun mempunyai bentuk luaran permata yaspis, seperti gambar Allah. Inilah wujud nyata dari Kejadian 1:26.

Haleluya! Haleluya!