PENCIPTAAN PEMULIHAN DAN PENCIPTAAN LEBIH LANJUT ALLAH (4) — TUJUAN
Kita telah melihat bahwa manusia adalah inti pencip-taan Allah dan hayat manusia adalah hayat ciptaan yang tertinggi. Kita tentunya tak melupakan sembilan jenis hayat yang disebutkan dalam Kejadian 1 : rerumputan, sayur--sayuran, pepohonan, ikan, unggas, ternak, binatang liar, binatang melata, dan manusia. Manusia adalah hayat ciptaan yang tertinggi. Menurut catatan Kejadian 1, ketika Allah sampai pada saat akan menciptakan manusia, Ia mengadakan suatu rapat. Rapat antar ke-Allahan ini sangatlah mengesankan. Allah berkata, “Baiklah Kita . . .” Hal ini sangat berarti. Tiga persona ke-Allahan itu dibutuh-kan untuk penciptaan manusia. Kitab-kitab selanjut-nya dari seluruh Alkitab membicarakan lebih jauh tentang pekerjaan Allah Tritunggal terhadap manusia. Berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Kamudian Allah berkata, “supaya mereka.” Allah tidak mengatakan “dia”, melainkan “mereka”; dia ada-lah tunggal, sedangkan mereka adalah jamak. “Baiklah Kita menjadikan manusia ... supaya mereka ...” Ada satu Allah ataukah banyak? Manusia itu satu ataukah banyak? Allah kita Satu, tetapi Tritunggal. Manusia juga satu, tetapi kor-porat. Haleluya! Janganlah melupakan kata “baiklah” dan “supaya” dalam Kejadian 1:26. Berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita” dan Allah berkata, “supaya mereka.” Kata “Kita” me-nyatakan bahwa Allah yang Esa itu adalah Tritunggal. Kata “mereka” menyatakan bahwa manusia yang satu itu adalah korporat. Allah Tritunggal menciptakan manusia yang kor-porat.
(2) Mendapatkan Manusia untuk Melaksanakan Kekuasaan Allah
Berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita dan supaya mereka ber-kuasa...” Allah menciptakan satu manusia korporat untuk melaksanakan kekuasaan-Nya (Kej. 1:26-28). Istilah “ber-kuasa” di sini dalam bahasa aslinya mengandung arti yang lebih daripada sekadar wewenang. Berkuasa di sini berarti mempunyai kekuasaan untuk memerintah dan membentuk suatu kerajaan; juga berarti mempunyai suatu kerajaan sebagai wilayah untuk menerapkan kekuasaan. Jika saya berwewenang, tetapi tidak mempunyai wilayah untuk me-merintah, saya tidak mempunyai kekuasaan. Allah ber-firman, “supaya mereka berkuasa.” Manusia diberi kuasa atas segala sesuatu. Ingatlah kata “gambar” dan “berkuasa” dan garisilah di bawahnya pada Alkitab Anda.
Sedikit sekali orang Kristen yang memperhatikan kata “berkuasa” ketika mereka membaca Kejadian 1. Kita perlu meneliti lagi kata gambar dan berkuasa. Gambar ialah suatu ekspresi. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan tujuan agar manusia dapat mengekspresikan-Nya. Allah yang tidak kelihatan damba diekspresikan. Ia me-merlukan suatu ekspresi. Berkuasa berarti kerajaan, ke-kuasaan. Manusia dijadikan menurut gambar Allah untuk mengekspresikan Allah dan diberi kuasa untuk mewakili Allah dan untuk memerintah. Kita ialah ekspresi Allah dan wakil Allah. Orang-orang muda khususnya harus erat ber-pegang pada dua kata dengan dua wahyu dasar ini : gambar dan berkuasa. Tujuan dari penciptaan pemulihan dan pen-ciptaan lebih lanjut Allah adalah bersifat ganda, yaitu mem-peroleh satu manusia korporat untuk mengekspresikan Allah dan untuk melaksanakan kuasa-Nya.
(a) Wilayah :
Perkara berkuasa ini meliputi wilayah atau ruang lingkup. Ada tiga hal yang berhubungan dengan wilayah ini:
1) Berkuasa atas Segala Sesuatu di Laut
Manusia harus berkuasa atas laut. Laut adalah tempat tinggal setan-setan (Mat. 8:32, 12:43). Maka, wilayah kekuaaaan Allah harus meliputi laut.
2) Berkuasa atas Segala Sesuatu di Angkasa
Manusia harus berkuasa atas segala sesuatu di angkasa yaitu tempat Iblis dan malaikatnya berada (Ef. 2:2; 6:12). Di angkasa terdapat kuasa kejahatan dengan Iblis sebagai ke-palanya. Efesus 2:2 menggambarkan Iblis sebagai penguasa kerajaan angkasa.
3) Berkuasa alas Segala Sesuatu di Bumi
Manusia harus berkuasa atas segala sesuatu di bumi, arena kegiatan Iblis. Iblis sangat aktif di bumi (Luk. 4:5-6). Karena itu, dalam kitab Kejadian 1:26 ini secara khusus dikatakan manusia berkuasa atas seluruh bumi. Bumi telah dijajah oleh Iblis. Maka, perlu diperintah oleh manusia, yaitu wakil Allah.
Ingatlah, bahwa wilayah kekuasaan Allah yang diserahkan kepada manusia ada tiga : laut, tempat tinggal setan-setan; angkasa, tempat Iblis dan malaikatnya; bumi, arena aktivitas Iblis.
Ketika Tuhan Yesus di bumi, ke mana saja Ia pergi, Ia selalu menanggulangi Iblis, malaikat yang telah jatuh, atau setan-setan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menghardik angin dan ombak tatkala timbul badai. Angin datang dari malaikat-malaikat yang telah jatuh di angkasa dan ombak datang dari setan-setan di air. Tuhan memerintahkan angin, “Berhenti!” dan berkata kepada ombak, “Redalah!” Dengan segera angin berhenti dan ombak mereda. Malaikat yang telah jatuh dan setan-setan ditaklukkan dan dikuasai oleh Tuhan Yesus. Jika kita tahu bagaimana membaca Alkitab, kita akan nampak bahwa di dalam keempat kitab Injil, Tuhail Yesus menggunakan kuasa Allah untuk menguasai laut, angkasa, dan bumi. Inilah wilayah kekuasaan yang Allah serahkan kepada manusia.
(b) Maksud :
Kekuasaan Allah tidak hanya mempunyai suatu wila-yah, juga mempunyai suatu maksud. Apakah maksud Allah dalam memberikan kuasa kepada manusia?
1) Menanggulangi Musuh Allah
Aspek pertama dari maksud Allah ialah untuk menanggulangi musuh-Nya, menanggulangi Iblis yang dilambang-kan dengan binatang melata (Kej. 1:26). Dalam Alkitab, binatang melata itu setani, milik, Iblis. Dalam berita di depan kita telah menunjukkan bahwa hanya empat makhluk hidup yang mewakili seluruh ciptaan dan yang ada di depan takhta Allah — elang, lembu, singa, dan manusia. Tidak ada hina-tang melata seperti ular atau kalajengking yang ditampilkan di depan Allah. Dalam Alkitab, Iblis dilambang-kan dengan ular (Kej. 3:1). Dalam Wahyu 12:9 Iblis dinamakan “ular tua”. Ia telah menjadi tua sejak pertama kali ia muncul di Kejadian 3.
Dalam ciptaan Allah yang mula-mula, Ia hanya mempunyai satu tujuan — mengekspresikan diri-Nya sendiri. Oleh karena pemberontakan Iblis, Allah kini mempunyai maksud lain — menggulangi musuh-Nya. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia mempunyai dua tujuan ini. Maka, Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, agar manusia dapat mengekspresikan-Nya dan Ia memberinya kuNAa aehingga manusia dapat menanggulangi musuh-Nya. Kedua hal ini harus digenapi. Kita perlu gambar Allah supaya kita dapat mengekspresikan Allah dan kita perlu kuasa Allah supaya dapat menaklukkan musuh.
Kita perlu mengekspresikan Allah dan menanggulangi Iblis dalam kehidupan rumah tangga kita. Sering kali begitu suami pulang ke rumah, istri tidak mengekspresikan Allah. Ularlah yang diekapresikannya. Muka sang istri menun-jukkan wajnh ular yang licik. Sering kali juga sang suami mengekspresikan ular. Saya tahu hal ini dari pengalaman. Kadang-kadang, ketika saya melihat Iblis diekspresikan di antara anggota keluarga saya, saya tidak mengatakan apa pun. Saya masuk ke kamar tidur, berlutut dan berdoa, “Tuhan, ikatlah si ular.” Berkali-kali saya menyadari bahwa saya sendiri justru mengekspresikan si ular. Saya segera menjauhkan diri dan kembali berdoa, “Oh, Tuhan, ampuni-lah saya. Ikatlah si ular.” Pada banyak kesempatan, kuasa ilahi Allah tidak digunakan. Sebagai gantinya kuasa jahat Iblis yang diekspresikan. Akhir-akhir ini, saya mendengar banyak saudara muda tinggal di perumahan saudara. Bagai-manapun saya khawatir kalau-kalau dalam perumahan saudara masih ada kemungkinan rupa Iblis yang diekspresi-kan, bukan rupa Allah : kuasa jahat yang digunakan bukan kuasa Allah. Kita semua harus menyadari bahwa hari ini Allah mempunyai tujuan ganda untuk digenapi — meng-ekspresikan diri-Nya dan menanggulangi musuh-Nya. Se-betulnya bukan suami Anda yang marah-marah, tetapi si ular. Sesungguhnya bukan istri Anda yang mengatakan se-suatu untuk membangkitkan amarah Anda, tetapi si ular. Jangan menanggulangi suami dan juga jangan menang-gulangi istri. Itu bukan salah mereka. Kita harus menang-gulangi si ular yang ada di belakang mereka. Bertengkar selamanya mustahil menanggulangi Iblis. Makin bertengkar, Iblis makin mendapatkan kedudukan. Satu-satunya jalan menanggulangi Iblis ialah berlutut, berdoa, dan menyeru na-ma Yesus, mohon Tuhan mengikat si ular itu.
2) Memulihkan Bumi
Aspek kedua dari maksud Allah dalam memberikan kuasa kepada manusia ialah untuk memulihkan bumi (Kej. 1:26-28). Manusia akan berkuasa atas bumi, mengaturnya, dan menaklukkannya. Menaklukkan bumi menyiratkan bahwa musuh sudah ada di sana, dan peperangan sedang berkecamuk. Maka kita harus berperang dan menaklukkannya.
Orang-orang muda yang mempersiapkan diri masuk ke dalam pernikahan harus menyadari bahwa pernikahan adalah suatu peperangan. Banyak di antara kita mengetahui hal ini dari pengalaman. Bahkan pada waktu kita berbulan madu, kita berada di medan peperangan, berperang dengan suami atau istri; jika tidak berperang secara lahiriah, mung-kin berperang secara batiniah. Setiap aspek kehidupan kehidupan sekolah, kehidupan pekerjaan, kehidupan keluarga merupakan medan peperangan. Musuh tidak pernah tidur. Sepanjang hari dia siap menyerang, tidak hanya dalam kehidupan keluarga, tetapi juga dalam kehidupan gereja. Bahkan dalam kehidupan gereja, Iblis dan pesuruh-pesuruh-nya sibuk. Di bumi peperangan sedang berkecamuk, dan Allah bermaksud memulihkan bumi.
Bumi telah dan masih dirampas oleh Iblis. Lihatlah masyarakat zaman sekarang. Lihatlah betapa musuh masih merampas seluruh bumi ini.
Allah hendak mendapatkan bumi kembali. Bumi telah menjadi tempat yang menentukan, tempat yang hendak dikuasai Iblis juga tempat yang hendak didapatkan kembali oleh Allah. Peperangan memenuhi seluruh bumi. Siapa yang memperoleh bumi itulah pemenangnya. Jika bumi tetap di bawah tangan Iblis, dia memperoleh kemenangan. Jika Allah mendapatkan bumi kembali, Dia akan memperoleh keme-nangan. Tuhan Yesus belum kembali sebab bumi masih begitu dijajah Iblis. Inilah sebabnya Allah membutuhkan gereja. Gereja harus berperang merebut bumi kembali, jika tidak seluruh bumi, paling sedikit beberapa batu tumpuan kaki, beberapa pengawal garis depan tempat Tuhan Yesus dapat meletakkan kaki-Nya. Jelaslah, bumi sangat menentukan.
Hal ini telah dibuktikan sepenuhnya oleh Mazmur 8. Mazmur 8 dimulai dengan, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Juga berakhir dengan kata-kata yang sama. Tak usah disangsikan lagi bahwa na-ma Tuhan mulia di surga. Tetapi jika ditinjau dari sudut lain, nama Tuhan tidak mulia di bumi. Nama-Nya tidak mulia di antara orang-orang yang jatuh. Kita perlu berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat. 6:9). Oh, nama Tuhan ha-rus dikuduskan di bumi ini. Masalahnya bukan di surga, melainkan di sini, di bumi.
Allah mendambakan Kerajaan-Nya datang ke bumi ini dan kehendak-Nya terjadi di bumi (Mat. 6:10). Sekarang kita dapat mengerti doa yang diajarkan Tuhan Yesus. Ia berkata, “Dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu.” Tentu saja hal ini berarti datang dari surga ke bumi. Doa selan-jutnya, “Jadilah kehendak-Mu di bumi ini seperti di surga.” Kehendak Allah sekarang terjadi di surga. Namun di bumi terdapat banyak perusakan yang menghambat terwujudnya kehendak Allah. Kita perlu berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Kita harus berperang untuk memulihkan bumi.
Pada waktu Kerajaan Seribu Tahun, bumi akan menjadi Kerajaan Allah. Hal ini diwahyukan dalam kitab Wahyu 11:15. Ketika Tuhan Yesus datang meresmikan Kerajaan Seribu Tahun, seluruh bumi akan menjadi Kerajaan Allah. Kemudian bumi akan diperoleh Allah kembali.
Di dalam kekekalan, tempat kediaman Allah akan turun dari surga ke bumi yang baru (Why. 21:1-2). Banyak orang Kristen bermimpi naik ke surga. Memang itu suatu mimpi yang baik dan tidak disangsikan lagi kita semua akan ber-ada di surga. Namun, Allah justru mendambakan turun ke bumi. Kita menyukai surga, tetapi Allah menyukai bumi. Kita ingin naik, tetapi Dia ingin turun. Haleluya! Izinkan saya memberi tahu Anda kebenarannya: ketika kita sampai di surga, Tuhan akan berkata, “Anak-anak, marilah kita turun. Marilah kita turun mengambil alih bumi.” Dalam kekekalan, surga tak akan menjadi tempat kediaman Allah. Tempat kediaman Allah ialah Yerusalem Baru dan Yeru-salem Baru akan turun dari surga ke bumi yang baru. Hal ini membuktikan bahwa kedambaan Allah ialah memiliki bumi.
Iblis, perampas itu, tidak saja akan dilemparkan dari angkasa, tetapi juga akan dilemparkan dari bumi. Menurut Wahyu 12:9, Iblis mula-mula akan dilemparkan dan angkasa ke bumi, kemudian akan diikat dan dicampakkan dari bumi ka dalam jurang maut (Why. 20:2-3). Setelah itu tak akan ada lagi kabut rohani. Kita akan mempunyai udara yang segar dan bumi akan dibersihkan dari segala yang najis. Itulah yang terjadi selama masa Kerajaan Seribu Tahun. Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, Iblis akan dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20:10). Setelah Kerajaan Seribu Tahun, akan ada kekekalan, saat itu tempat kediaman Al-lah yang kekal akan herada di bumi yang baru. Allah menginginkan bumi.
3) Mendatangkan Kekuasaan Allah
Aspek ketiga dari maksud Allah dalam memberikan kuasa kepada manusia ialah untuk mendatangkan ke-kuasaan Allah, menerapkan kekuasaan Allah di atas bumi. Manusia harus menerapkan kekuasaan Allah supaya Keraja-an Allah datang di bumi, kehendak Allah terjadi di bumi, dan kemuliaan Allah terekspresikan di bumi. Semuanya ini akan terwujud di bumi. Jika Kerajaan Allah hanya di surga, Allah selamanya tidak akan puas. Allah juga takkan gembira jika kehendak-Nya hanya terjadi di surga atau melihat kemuliaan-Nya hanya terekspresikan di surga. Allah ingin semuanya ini terjadi di bumi. Inilah tanggung jawab gereja hari ini. Di dalam gereja kita mempunyai Kerajaan Allah. Di dalam gereja kehendak Allah terjadi. Di dalam gereja mulia Allah terekspresikan. Haleluya! Kita lebih dulu men-cicipi hal ini. Sekarang kita dapat mengetahui mengapa Allah memberi manusia kuasa atas segala sesuatu di air, di ang-kasa, dan di bumi. Allah bermaksud menyingkirkan musuh, memperoleh bumi kembali, dan memanifestasikan kemulia-an-Nya.
4) Penggenapannya
Apakah hal ini telah tergenapi? Tentu belum. Namun Allah menciptakan manusia dengan maksud ini. Iblis jauh lebih jelas akan hal ini daripada kita. Alkitab memberi tahu kita, segera setelah penciptaan manusia, Iblis masuk untuk merusak manusia yang telah diciptakan Allah bagi tujuan-Nya. Manusia pun jatuh. Namun Allah tidak melepaskan manusia. Allah sendiri menjadi manusia. Dia datang supaya Dia dapat masuk ke dalam manusia dan menjadikan diri Nya satu dengan manusia. Dia datang menjadi manusia yang kedua yang disebut Yesus (1 Kor. 15:47). Manusia pertama tidak mencapai tujuan Allah; manusia kedua telah mencapai tujuan Allah. Manusia pertama adalah manusia korporat, manusia kedua juga manusia korporat. Adam mengepalai manusia korporat pertama dan Kristus menge-palai manusia korporat kedua. Tujuan Allah telah tercapai melalui manusia kedua itu.
a) Melalui Kristus
Penggenapan maksud Allah dalam memberi manusia kuasa dimulai dari Kristus.
aa. Ketika Kristus Datang, Kerajaan Allah juga Datang
Pemberitaan Perjanjian Baru dimulai dengan suatu cara yang khas, dengan cara yang berlawanan dengan kon-sepsi kita. Di sana dikatakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 4:17). Kata “sudah dekat” di sini berarti “sudah datang”. Ketika Kristus datang, Kerajaan Allah juga datang. Kristus membawa masuk Kerajaan. Yesus yang kecil ini adalah Kerajaan Allah. Banyak orang Kristen mengira bahwa Kerajaan itu tidak datang ketika Yesus datang. Menurut konsepi mereka, ketika orang Yahudi menolak Yesus beserta Kerajaan itu, Kerajaan itu terhenti untuk sementara waktu dan mulailah zaman gereja. Mereka mengira bahwa gereja bukanlah Kerajaan, mengira setelah zaman gereja, Kerajaan akan didirikan dengan kembalinya Yesus. Dalam Alkitab, hal ini memang beralasan dan ada betulnya, tetapi itu hanya betul sebagian. Roma 14:17 mem-beritahu kita bahwa gereja hari ini ialah Kerajaan. Kehidupan gereja adalah Kerajaan. Pada satu pihak, orang-orang Yahudi menolak Kerajaan. Di pihak lain Tuhan men-dirikan Kerajaan dengan mendirikan gereja. Kita selamanya takkan dapat memisahkan gereja dari Kerajaan. Dalam Matius 16:18 Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan men-dirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasai-nya.” Segera setelah ini (ayat 19), Tuhan berkata, “Kepada-mu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Pada hari Penta-kosta dan di rumah Kornelius, Petrus mendirikan gereja dengan menggunakan kunci Kerajaan untuk membuka pintu bagi orang-orang Yahudi maupun orang kafir supaya masuk ke dalam Kerajaan. Jadi, ketika gereja dimulai, Kerajaan juga ada di sana. Gereja adalah Kerajaan. Jelas, kelak akan ter-dapat manifestasi Kerajaan yang sempurna. Namun seka-rang realitas Kerajaan ada di sini, yaitu kehidupan gereja.
bb. Kristus Mengusir Setan untuk Mendatangkan Kerajaan Allah
Keempat kitab Injil memberi tahu kita, ke mana saja Yesus pergi dan menjumpai setan, Ia tidak pernah mem-biarkan setan; Ia segera mengusirnya. Dalam Matius 12:28 Yesus memberi tahu kita bahwa dengan mengusir setan Ia mendatangkan Kerajaan. Itulah kekuasaan Allah. Adam ga-gal sehingga tak mampu mendatangkan Kerajaan. Tetapi ketika Yesus datang, Ia mendatangkan Kerajaan dengan ja-lan mengusir setan. Mengusir setan berarti mendatangkan Kerajaan Allah.
bc. Kristus Memberi Murid-murid-Nya Kuasa atas Segala Kekuatan Musuh
Kristus juga memberi murid-murid-Nya kuasa atas segala kekuatan Iblis. Dalam Lukas 10:19, Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa ke-pada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh.” Ular maupun kalajeng-king, dalam bahasa aslinya berbentuk jamak, menunjukkan bahwa jumlah mereka banyak. Dalam 10:18 kita melihat Iblis. Dalam ayat 20 terdapat roh-roh, yaitu setan-setan. “Ular” mengacu kepada kekuatan Iblis dan “kalajengking” mengacu kepada kekuatan setan. Iblis, ular dan kalajeng-king mempunyai kekuatan, tetapi kita mempunyai kekuasa-an. Kekuasaan kita melebihi kekuatan mereka. Banyak mo-bil yang kuat di jalan raya. Tetapi bagaimanapun, polisi yang kecil itulah yang berkuasa. Bila polisi mengatakan, “Berhenti’.” Mobil harus berhenti. Mobil mempunyai ke-kuatan; polisi mempunyai kuasa. Iblis beserta roh-roh jahat-nya mempunyai kekuatan, tetapi kita adalah polisi Allah. Kita harus memerintahkan Iblis, “Berhenti!” Ketika Yesus memheri kuasa ini kepada murid-murid-Nya, mereka meng-gunakannya untuk mengusir setan, mereka sungguh ber-sukacita. Tetapi, Tuhan Yesus memberi tahu mereka, “Ja-nganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Ketika Yesus datang, Kerajaan juga datang. Ketika Yesus mengusir setan, Ia juga mendatangkan Kerajaan Allah. Bahkan Yesus melakukan ini melalui murid-murid-Nya. Ia memberi mereka kuasa untuk mengusir setan dan mereka melakukannya.
dd. Kristus Menerima Segala Kuasa
Setelah kebangkitan-Nya, Kristus menerima segala kuasa, baik di surga maupun di bumi (Mat. 28:18). Sebagai Tuhan Allah, Ia sudah memiliki kuasa sebelum kebangkitan-Nya. Sebagai seorang manusia yang bernama Yesus dari Nazaret, Ia baru menerima segala kuasa di surga dan di bumi setelah kebangkitan-Nya. Yesus itulah Adam sejati. Kekuasaan Allah telah diserahkan kepada-Nya.
b) Melalui Gereja, Termasuk Kaum Saleh
aa. Pintu Alam Maut Tidak Dapat Mengalahkan Gereja
Penggenapan maksud Allah dalam memberi manusia kuasa meliputi Kristus sebagai Kepala, dan gereja yang mencakup semua orang saleh sebagai Tubuh-Nya. Pengge-napan maksud Allah tidak saja melalui Kepala, juga melalui Tubuh. Pintu alam maut tidak dapat mengalahkan gereja (Mat. 16:18). Alkitab tidak mengatakan pintu alam maut (artinya kekuatan Iblis) tidak dapat mengalahkan kaum saleh. Pintu alam maut dapat mengalahkan kaum saleh bila kaum saleh terpisah atau individualistis. Anda perlu di-bangun ke dalam gereja. Tubuh yang dibangun bersama Kristus selamanya tak dapat dikalahkan Iblis. Iblis selama-nya tak dapat mengalahkan gereja yang terbangun.
bb. Kaum saleh Telah Diberi Kuasa untuk Membelenggu Musuh
Kaum saleh telah diberi kuasa untuk membelenggu musuh (Mat. 16:19; 18:18). Kata-kata dalam Matius 16:19 ditujukan kepada Petrus; sedangkan kata-kata dalam Matius 18:18 ditujukan kepada setiap orang yang percaya. Gereja Katolik mengatakan bahwa Petrus mempunyai kuasa me-wakili Kristus, berdasarkan Matius 16:19. Namun kita ha-rus memberi tahu mereka bahwa kita juga mempunyai Matius 18:18. Tidak hanya kepada Petrus telah diberi kuasa untuk mengikat dan melepaskan, tetapi juga kepada kita, yaitu setiap orang saleh, mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan. Sering kali, kita tidak hanya harus berdoa, tapi juga harus mengikat dan melepaskan.
cc. Allah Segera Menghancurkan Iblis
di Bawah Kaki Kaum Saleh
Roma 16:20 mengatakan, “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu.” Paulus berkata, “segera”. Saya tidak tahu bagaimana perasa-an Paulus ketika mengatakan hal ini 1900 tahun yang lalu. Bagi kita sepertinya suatu jangka waktu yang lama telah berlalu. Tetapi kita percaya, jangka waktu ini tidaklah ter-Ialu lama, Iblis segera dihancurkan. Kata menghancurkan tidak saja berarti melukai atau memecahkan, tetapi juga menaklukkan. Iblis harus berada di bawah kaki kita. Dalam hidup rumah tangga Anda, Iblis harus berada di bawah kaki Anda. Dalam hidup pernikahan Anda, Iblis harus berada di bnwnh kaki Anda. Dalam hidup gereja Anda, Iblis harus berhda di bawah kaki Anda. Anda harus memberi tahu dia, “Hai Iblis, kedudukanmu adalah di bawah kakiku.” Di sini dan sekaranglah Iblis harus berada di bawah kaki kita.
dd. Para Saleh Harus Berperang Melawan Musuh
2 Korintus 10:3-5 dan Efesus 6:11-13 memberi tahu kita bahwa kita harus berperang melawan musuh. Kita tidak hanya berperang bahkan bergulat. Bergulat lebih sukar daripada berperang. Kita harus bergulat dengan kuasa jahat di angkasa.
ee. Kaum saleh Pemenang Akan Berkuasa atas Bangsa-bangsa
Kaum saleh pemenang akan berkuasa atas bangsa-bangsa (Why. 2:26-27). Dalam Kerajaan Seribu Tahun, me-reka akan menjadi raja bersama Kristus, memerintah atas seluruh bumi (Why. 20:4, 6). Pada waktu itu, Allah akan berkuasa sepenuhnya di bumi. Itulah penggenapan dari yang diinginkan Allah dalam Kejadian 1.
ff. Semua Orang Saleh Akan Meraja Sampai Kekal
Akhirnya, semua orang saleh, di dalam Yerusalem Baru, akan memerintah sebagai raja atas bumi sampai selama-lamanya. Pada waktu itu, Iblis, malaikat jahat di angkasa dan di laut beserta semua setan akan dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20:10, 13-14; Mat. 25:41). Semua pencemaran akan dibersihkan. Angkasa, air, dan bumi telah dicemari. Ketika kekekalan itu datang, semua kecemaran akan lenyap. Segalanya akan menjadi bersih dan Allah akan berkuasa di sana. Kuasa Allah akan ditegakkan di bumi. Di dalam alam dan wilayah itu gambar Allah akan diekspresikan sepenuhnya. Itulah kerajaan kekal, pemerintahan Allah.
Kejadian 1 adalah suatu tempat persemaian. Semua benih kebenaran ditaburkan di sana. Kita telah melihat bahwa istilah terang telah ditaburkan dalam Kejadian 1 dan berkembang terus melalui seluruh Alkitab sampai pada Wahyu 22, di sana tidak perlu lagi matahari, bulan, atau terang lainnya. Allah sendiri adalah terang. Demikian pula, kata “gambar” pertama-tama muncul dalam Kejadian 1 dan dikembangkan terus melalui seluruh Alkitab sampai kita melihat Yerusalem Baru mempunyai gambar Allah dan mengekspresikan Allah. Dalam prinsip yang sama, kata