PENCIPTAAN PEMULIHAN DAN PENCIPTAAN LEBIH LANJUT ALLAH (1) — PROSES
Sebagaimana telah kita diketahui, ciptaan Allah ter-cakup seluruhnya dalam pasal 1 ayat 1. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kita juga nampak pemberon-takan Iblis tercantum dalam ayat 2a, “Dan bumi menjadi gersang dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.” Dalam kalimat ini terdapat lima butir penting: bumi menjadi berlainan dengan yang semula; gersang dan kosong; gelap gulita dan samudera. Ingatlah kelima butir ini. Karena pem-berontakan Iblis, bumi telah dihukum menjadi gersang dan kosong.
Kegelapan adalah salah satu tanda hukuman. Kitab Keluaran 10:21-22 dan Wahyu 16:10 menunjukkan, bahwa kegelapan merupakan akibat hukuman Allah. Sewaktu Allah melaksanakan hukuman-Nya ke atas Firaun, di situ ter-dapat kegelapan; begitu juga kelak saat Ia melaksanakan hukuman-Nya terhadap Antikristus. Jadi kegelapan pada kitab Kejadian 1:2 menyatakan hukuman Allah.
Selain itu, kita tahu bahwa terang selalu menemani ha-yat dan gelap selalu menandakan kematian. Di mana ada terang, di sana ada hayat; di mana ada kegelapan, di sana ada kematian. Demikian juga sebaliknya: di mana ada ke-matian di situ ada kegelapan. Jadi gelap dalam Kejadian 1:2 juga menyatakan bahwa bumi berada dalam keadaan yang mati.
Kata “samudera raya” berarti “air yang dalam”. Dalam Alkitab, air mempunyai dua arti dan melambangkan dua hal yang berbeda, yang satu positif dan yang lainnya negatif. Dalam aspek positifnya, air selalu melambangkan sesuatu yang hidup. Air yang mengalir membawa hayat kepada manusia dan melenyapkan dahaga mereka. Dalam aspek negatifnya, air melambangkan kematian. Sebagai contoh, ke-tika kita dibaptis dalam air, air itu melambangkan kemati-an. Air dari Laut Merah dan air dari Sungai Yordan juga melambangkan kematian. Air yang disebut dalam Kejadian 1:2 bukan melambangkan hayat melainkan menunjukkan kematian. Dengan demikian kita dapat mengambil kesim-pulan, bahwa bumi berada di bawah kematian. Bumi tidak saja gersang, kosong, sia-sia, bahkan dipenuhi dengan ke-matian dan berada di bawah kematian. Dalam keadaan yang demikian, Allah datang.
3. Penciptaan Pemulihan
dan Penciptaan Lebih Lanjut Allah (1:2b—2:3)
Kejadian 1:2b tidak menunjukkan ciptaan Allah yang mula-mula (ciptaan yang mula-mula telah rampung dalam ayat 1), tetapi menunjukkan penciptaan pemulihan Allah. Allah akan memulihkan apa yang telah rusak dan menerus-kan penciptaan selanjutnya. Misalnya, Allah menciptakan manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, bukan makhluk yang dipulihkan Allah. Kejadian 1:2b—2:25 adalah bagian firman Allah yang menyatakan pemulihan Allah atas alam semesta yang rusak seraya ditambah penciptaan-Nya yang lebih lanjut.
Kita perlu membaca pasal 2:4, “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan, ketika Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit.” Sebagian besar orang kurang memperhatikan ayat ini, tetapi ayat ini justru sangat berarti. Ayat tersebut menyatakan penciptaan mula-mula Allah dan penciptaan pemulihan Allah. Permulaan dari ayat ini “...langit dan bumi pada waktu diciptakan”, perhatikanlah bahwa langit disebut dahulu kemudian baru bumi. Kata kerja yang digunakan di sini ialah “diciptakan”. Selanjutnya “...ketika Tuhan Allah menjadikan ...” Di sini, kata kerja “diciptakan” menjadi “dijadikan”. Seperti yang pernah kita singgung dalam berita pertama, menciptakan berarti meng-hasilkan sesuatu dari yang belum ada, sedang menjadikan berarti menghasilkan sesuatu dari yang sudah ada. Kita perlu mengetahui, bahwa pada mulanya langit dan bumi te-lah diciptakan. Selanjutnya ayat ini mengatakan, “... ketika Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit.” Pernahkah Anda memperhatikan perubahan dalam urutannya? Mula-mula Allah menciptakan langit dan bumi, lalu Ia menjadikan bumi dan langit.
Dalam Kejadian 1:1 Allah menciptakan. “Pada mulanya Allah menciptakan langit (pertama) dan bumi (kemudian).” Selanjutnya, dari ayat 3 sampai akhir pasal 1, Tuhan men-jadikan bumi dan langit. “... Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit” (Kej. 2:4b). Jika kita membaca pasal 1 kembali, kita dapat mengetahui, pada hari ketiga Tuhan memulihkan bumi. Saat itu Allah tidak menciptakan bumi, sebab bumi sudah ada, hanya tertutup oleh samudera raya. Maka Tuhan memulihkan bumi pada hari ketiga. Begitu juga pada hari keempat, Tuhan memulihkan angkasa yaitu segala benda langit. Sehingga dalam pemulihannya, bukan langit dulu ke-mudian bumi; melainkan bumi dahulu kemudian langit. Tetapi dalam penciptaan, mula-mula langit kemudian bumi. Kedua hal ini dapat diketahui dalam Kejadian 2:4.
Dalam berita pertama, telah kita tegaskan bahwa secara permukaan, dua pasal pertama dari Kejadian merupakan catatan penciptaan Allah, namun dasar dasar pemikirannya mutlak adalah perihal hayat. Inilah sebabnya ada orang menganggap Kejadian 1 dan 2 terlalu sederhana dan terlalu singkat sebagai catatan penciptaan. Itu benar. Jika itu ada-lah catatan penciptaan Allah, memang terlalu sederhana. Tetapi ketahuilah, Alkitab sekali-kali bukanlah catatan penciptaan, bukan catatan sejarah, atau buku cerita. Alkitab justru sebuah buku hayat. Seluruh Alkitab berpusat pada hayat. Kalau kita baca dengan teliti Kejadian 1 di bawah penerangan Roh Kudus, kita bisa memahami bahwa pasal ini mutlak membicarakan hayat dan ditulis dari sudut hayat.
Mungkin Anda berkata bahwa istilah “hayat” sama sekali think ada dalam pasal ini. Memang benar. Tetapi ti-dak dapat disangkal pula, bahwa kita dapat menemukan banyak hal yang berhubungan dengan hayat. Ketika Allah memulihkan bumi pada hari yang ketiga, segala macam hayat tumbuh-tumbuhan dihasilkan. Kemudian disusul de-ngan hayat binatang di dalam air, hayat unggas di udara, hayat binatang di darat, hayat manusia, dan yang terakhir hayat Allah dalam pasal 2. Haleluya! Hayat merupakan inti dari kedua pasal ini. Kalau kita meninjau dari sudut hayat, niscayalah kita mengerti catatan Kejadian 1.
a. Prosesnya
(1) Roh Kudus Datang (1:2b)
Ciptaan mula-mula Allah telah rusak oleh pemberon-takan Iblis, yang kemudian dihukum oleh Allah. Setelah hukuman Allah, tak ada sesuatu pun yang tertinggal selain kegelapan yang menutupi samudera raya. Hal ini menun-jukkan suatu keadaan yang mati. Di tengah-tengah keadaan yang mati ini, Alkitab tiba-tiba mengatakan, “Dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Kata “melayang-layang” dalam bahasa aslinya “mengerami”. Bukankah hal ini sangat indah? Roh Allah mengerami. Haleluya! “Roh Allah mengerami” seperti induk ayam mengerami telur-telurnya, supaya menghasilkan anak-anak ayam. Kali pertama Alkitab menyebutkan Roh, Alkitab tidak mengatakan “kekuat-an Roh”, “kekuasaan Roh”, tetapi mengatakan “Roh Allah mengerami di atas permukaan air”. Ini berarti Ia sedang menyiapkan untuk menghasilkan hayat. Perlu kita ketahui bahwa catatan Kejadian 1 berhubungan dengan hayat, de-ngan Injil Allah, dan dengan hal-hal rohani, sebagaimana telah terbukti dengan nyata dalam 2 Korintus 4:6. Paulus berkata, “Dari dalam gelap akan terbit terang!, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Ayat ini tentu mengacu kepada Kejadian 1. Melalui ayat ini kita dapat memahami bahwa segala sesuatu yang tercatat dalam Kejadian 1 pasti berhubungan dengan hayat, dengan sinar Allah, dan dengan Injil Allah. Berdasarkan ayat ini, kita harus menerangkan segala sesuatu berdasarkan hayat.
Renungkanlah keadaan kita sebelum diselamatkan. Sungguh adalah gersang dan kosong, hidup kita tak berarti dan kegelapanlah yang menutupi kita. Di dalam kita ada jurang yang sangat curam, dan di dalam jurang itu terdapat segerombolan setan-setan yang mendorong dan membujuk kita marah-marah, berjudi, pergi menonton film, dan me-lakukan banyak hal yang jahat. Keadaan kita gersang dan kosong, bahkan penuh dengan kegelapan dan maut.
Tetapi, haleluya! Pada suatu hari, satu persona yang hidup mulai berperan di atas diri kita, bekerja di dalam hati kita, mengerami di atas kematian dan jurang yang curam di dalam kita. Ini bukanlah sugesti atau prinsip etika, melainkan benar-benar persona yang hidup bekerja di dalam kita, ramah tamah, penuh kasih, bagaikan induk ayam yang mengerami telur-telurnya di dalam sangkar. Inilah pekerjaan Roh Kudus yang mengeram dan membangkitkan hayat.
Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 16:8-11, hahwa bila Roh Kudus datang, Tak akan menginsafkan dunia (yattu manusia) tentang dosa (bersangkutan dengan Adam), kebenaran (bersangkutan dengan Kristus), dan penghakiman (bersangkutan dengan Iblis). Dengan cara lemah lembut, bukan dengan kekerasan; dengan cara mengerami Ia mem-buat orang menegur dirinya sendiri. Di alam semesta, hanya ada tiga persona — Adam, Kristus, dan Iblis. Roh Kudus bekerja di dalam kita, menginsafkan kita bahwa kita yang terlahir dari Adam, tidak memiliki suatu pun kebaikan selain dosa. Kalau tidak percaya kepada Kristus, tidak ada jalan lain untuk lepas dari dosa dan pengaruh Adam. Roh Kudus akan mengerami di dalam kita serta berkata, “Li-hatlah, Yesus mati disalib bagimu dan Ia telah meram-pungkan segala sesuatu yang dikehendaki Allah. Kini kebenaran yang sejati ada pada-Nya.” Jika Anda berbalik dan percaya kepada-Nya, Anda akan memperoleh Dia sebagai kebenaran Anda. Ia pernah menjadi manusia, hidup di bumi, Ia pernah tersalib dan bangkit kembali. Sekarang Ia telah diterima Allah di sebelah kanan-Nya. Ia berada di sana sebagai bukti, bahwa jika Anda percaya kepada-Nya, Anda akan dilepaskan dari dosa dan mendapat kebenaran. Sebalik-nya jika tidak, Anda akan masuk ke dalam hukuman Allah bersama-sama dengan Iblis. Karena pengeraman Roh Kudus ini, Anda benar-benar insaf dan berkata, “Tuhan Yesus, tidak ada yang kukatakan lagi, selain berterimakasih ke-pada-Mu.” Demikianlah, Anda dilahirkan kembali, dilahir-kan kembali dari Roh (Yoh. 3:6-7). Haleluya!
Roh Allah datang. Kedatangan Roh Kudus ini merupakan syarat pertama untuk menghasilkan hayat. Roh Allah datang mengerami di atas air kematian yang menggenangi bumi, mengerami untuk menghasilkan hayat.
(2) Firman Datang (1:3a)
Firman Allah datang membawakan terang. Inilah sya-rat kedua untuk menghasilkan hayat. Ayat 3 mengata-kan, “Berfirmanlah Allah ...” Apa yang diucapkan Allah, itulah firman Allah. Berbicara bukanlah hal yang kecil. Andaikata saya berdiri di mimbar dan berdiam diri, Anda hanya me-lihat saya dan saya melihat Anda. Apakah ini? Inilah mati. Jika saya seorang yang hidup, saya tak dapat berdiri saja di sini dan tetap diam selama satu jam. Selama saya masih hidup, saya harus berkata-kata. Jika saya ber-kata-kata berarti saya hidup, dan apa yang saya katakan juga me-rupakan sesuatu yang hidup. Allah berfirman dan firman Allah datang membawakan terang. “Berfirmanlah Allah : Jadilah terang!” Firman Allah selalu membawakan terang kepada kita. Haleluya!
Amatilah pengalaman Anda sendiri. Mula-mula, Roh Allah datang mengerami atas din Anda, kemudian datanglah firman. Melalui firman itu, Anda menerima firman yang hidup dan firman yang hidup itu menerangi Anda di dalam Anda. Ketika Allah berfirman, Ia menyuruh terang menyo-roti kegelapan. “Sebab Allah yang telah berfirman : Dari da-lain gelap akan terbit terang!, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita” (2 Kor. 4:6). Haleluya! Firman Allah membawakan terang.
Tuhan Yesus berkata bahwa siapa saja yang mendengar perkataan-Nya dan percaya, ia mempunyai hidup (hayat) (Yoh. 5:24). Jika kita mendengar firman Allah dan percaya, kita memiliki hayat. Yakobus 1:18 memberi tahu kita bahwa Allah telah menjadikan kita oleh firman-Nya.
(3) Terang Datang (1:3)
Sekarang sampailah kita pada syarat ketiga untuk menghasilkan hayat : terang datang untuk mengusir ke-gelapan yang menutupi air kematian. Puji Tuhan! Sungguh berarti. Saya dapat bersaksi, ketika saya beroleh selamat, keadaannya persis demikian: pertama, Roh Kudus datang; kedua, firman Allah datang; ketiga, terang datang. Di dalam saya telah diterangi; ada sesuatu yang bersinar di dalam saya. Saya percaya ini juga pengalaman Anda semua.
Selain 2 Korintus 4:6, juga Yohanes 1:4, 5, dan 9. “Pada mulanya ada firman . . . Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalarn kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:1, 4-5). Kegelapan selamanya tidak dapat menguasai terang. Terang selalu mengusir kegelapan. Begitu terang datang, kegelapan segera tersingkir.
Siapakah dan apakah terang itu? Terang itulah Kristus, firman Allah yang hidup. Ketika Kristus datang sebagai terang yang sejati bercahaya di dalam kegelapan, kegelapan tak dapat menguasainya. Dialah terang yang sejati. Kita ha-rus ingat pada tiga “datang” : Roh Kudus datang, firman da-tang, dan terang datang. Menyusul tiga datang ini, ada tiga pemisahan.
(4) Pemisahan Terang dari Gelap (1:4-5)
Pemisahan pertama ialah antara terang dengan gelap. Inilah syarat yang keempat untuk menghasilkan hayat. Pemisahan ini bertujuan untuk membedakan siang dengan malam, sehingga ternyatalah bagian terang. Hal ini lebih sulit dimengerti, tetapi dengan perumpamaan kita akan lebih jelas.
Ketika Anda baru beroleh selamat, Anda belum memiliki daya pembeda dan tidak bisa membedakan terang dengan gelap. Tetapi setelah Anda diselamatkan beberapa saat dan berjalan bersama Tuhan, lambat laun di dalam Anda ter-dapat pemisahan dan Anda pun mempunyai daya pembeda hingga dapat mengatakan, “Ini terang dan itu gelap. Aku mau terang, tidak mau gelap.” Sebelum diselamatkan, kita sama sekali tidak memiliki siang, selama 24 jam hanya malam belaka. Kita terus berada di malam hari, malam yang gelap berawan tanpa bintang-bintang. Tetapi puji Tuhan! Sejak kita diselamatkan, ada sesuatu yang mulai bersinar seperti pagi hari. Itulah siang.
Mungkin siang hari pertama Anda hanya empat jam lamanya dan kemudian malam tiba lagi. Tapi tak peduli berapa lamanya, Anda telah mempunyai hari pertama. Puji Tuhan! Setelah 20 jam malam hari, Anda bersidang dan di dalam sidang Anda menjumpai terang fajar. Itulah siang berikutnya dan Anda berseru, “Haleluya!” Kemudian Anda pergi ke sekolah atau bekerja dan malam tiba lagi. Tapi janganlah kecewa — malam merupakan tanda bahwa pagi akan tiba. Dan lagi, ketika Anda berada di siang hari, bersiaplah untuk malam yang akan tiba. Dalam Kejadian 1:5, tidak dikatakan pagi dan malam, melainkan malam dan pagi, sebab kita berasal dari malam. “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.” Puji Tuhan!
Bagi orang muda, malam selalu lebih panjang, tetapi bagi orang tua lebih pendek. Karena pengalaman saya lebih limpah, maka siang hari rohani saya lebih panjang daripada eiang rohani kalian. Siang hari rohani saya sembilan belas jam dan malam hari rohani saya hanya lima jam. Pada waktu kita masuk ke Yerusalem Baru, tak akan ada malam hari lagi (Why. 21:25). Anda perlu bertumbuh. Mungkin siang hari Anda hanya 10 jam dan malam hari Anda 14 jam. Anda perlu bertumhuh supaya siang hari Anda lebih panjang dan malam hari Anda lebih pendek.
Kita perlu pemisahan antara siang dengan malam, pembedaan antara terang dengan gelap. Dalam 2 Korintus 6:14, Paulus bertanya, “Bagaimana terang dapat bersatu dengan gelap?” Perkataan ini tentu juga menunjuk kepada Kejadian 1. Allah telah memisahkan terang dari gelap; maka janganlah mencoba mencampur-baurkan terang dengan ge-lap lagi. Terang tidak ada sangkut-pautnya dengan gelap. Bagaimana terang dapat bersahabat dengan gelap? Ini ber-arti kita sebagai anak-anak terang, tidak seharusnya me-nanggung kuk atau berbaur menjadi satu dengan orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Hendaklah kita tetap terpisah. Mereka kaum gelap dan kita kaum terang. Kita semua harus berkata, “Bagaimana terang dapat bersatu dengan gelap?” Ini adalah pemisahan yang sesungguhnya. Jika kita melaksana-kan permintaan ini, kita akan mendapatkan lebih banyak terang.
(5) Pemisahan Air yang di bawah Cakrawala
dari Air yang di atas Cakrawala (1:6-8)
Lebih maju selangkah kita melihat syarat kelima untuk menghasilkan hayat, yaitu membuat cakrawala memisah-kan air kematian. Air yang di atas cakrawala harus dipisah-kan dari air yang di bawah cakrawala. Memisahkan terang dari gelap masih agak obyektif, memisahkan air yang di atas cakrawala dengan air yang di bawah cakrawala lebih subyektif. Kita perlu pemisahan yang kedua ini, memisahkan perkara yang di atas dengan perkara yang di bumi (Kol. 3:13). Air yang di bawah cakrawala mewakili perkara di bumi,
sedangkan air yang di atas cakrawala mewakili perkara surgawi. Ada beberapa perkara mungkin tidak gelap, tetapi perkara-perkara itu adalah milik bumi, bukan milik surga. Misalnya pada waktu saya berbicara di sini, saya memakai topi koboi, celana koboi, dan sepatu boot. Memang itu tidak gelap, tetapi milik bumi. Misalkan saya memakai dasi yang lebarnya delapan inci, berwarna hijau, merah, biru, ungu, dan kuning menyala. Ini cukup membuktikan bahwa saya kekurangan cakrawala.
Apakah cakrawala? Cakrawala ialah atmosfer lapisan udara yang mengelilingi bumi. Tanpa atmosfer tak mungkin ada hayat di bumi. Di bulan tidak ada hayat, sebab tak ada atmosfer yang mengelilingi bulan. Allah menciptakan cakra-wala di sekeliling bumi, sehingga bumi dapat menghasilkan hayat. Setelah dieelamatkan, tidak saja di dalam kita ada terang, juga ada udara yaitu cakrawala. Ada sesuatu yang telah masuk ke dalam kita memisahkan perkara-perkara yang di atas dengan yang di bumi, perkara-perkara di atas yang diperkenan Allah dengan perkara-perkara di bawah yang tidak diperkenan-Nya. Apakah ini? Ini adalah peker-jaan salib yang memisahkan. Setelah diselamatkan dan berjalan beserta Tuhan, kita akan mengalami salib. Dan salib ini memisahkan perkara-perkara alamiah dengan per-kara-perkara rohani, memisahkan perkara-perkara yang kudus dengan yang umum, memisahkan perkara-perkara yang di atas dengan yang di bumi. Ibrani 4:12 memberi tahu kita hahwa firman hidup dapat memisahkan kita sampai se-demikian rupa hingga jiwa dan roh kita terpisahkan. Mung-kin saya dapat mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang baik; tetapi perbuatan atau perkataan yang baik itu bukan berasal dari dalam roh, melainkan dari dalam jiwa. Ditinjau dari segi moral, peradaban, atau menurut pendapat manusia memang tidak salah. Tetapi kalau ditinjau dari segi rohani, sumbernya bukan berasal dari Allah, bukan dari atas, bukan dari roh, melainkan dari pikiran, dari bumi. Maka kita perlu pemisahan yang lebih lanjut : tidak saja pemisahan antara terang dengan gelap, tetapi juga pembedaan antara roh (per-kara-perkara yang di atas) dengan jiwa (perkara-perkara yang di bawah).
Pernahkah Anda memperhatikan Kejadian 1, bahwa setiap hari, kecuali hari yang kedua, setelah Allah menjadikan sesuatu, Ia melihat baik adanya. Tetapi pada hari yang kedua, tidak ada catatan yang sedemikian. Kitab Kejadian tidak mengatakan Allah melihat air dan cakrawala lalu mengatakan baik. Mengapa? Sebab cakrawala penuh dengan malaikat-malaikat yang jatuh dan di dalam air penuh dengan setan-setan. Ingatlah bahwa tempat tinggal setan di dalam air. Pada hari kedua benar-benar terdapat sesuatu yang tidak baik : di cakrawala ada malaikat-malaikat yang jatuh dan di air ada setan-setan. Kita harus menyadari bah-wa apa saja yang berasal dari kita, meskipun telah dipisah-kan oleh salib, tetap tidak baik. Allah tak dapat mengatakan itu baik.
(6) Pemisahan Daratan dengan Air (1:9-10)
Setelah hari kedua ialah hari ketiga — hari kebangkitan. Pada hari ketiga, hari kebangkitan, daratan muncul di bawah cakrawala untuk menghasilkan hayat. Inilah syarat keenam untuk menghasilkan hayat. Dalam seluruh Alkitab, laut mewakili kematian dan bumi mewakili Kristus sendiri. Alkitab memberi tahu kita, akhirnya setelah Allah bekerja melewati banyak zaman, laut akan tidak ada lagi. Sesudah pemberontakan Iblis dan penghukuman Allah pada ciptaan mula-mula, hampir tidak terdapat apa pun selain air. Kemudian, Allah datang untuk memulihkan dengan jalan pengeraman Roh, firman hidup, dan terang yang memisah-kan. Pada hari kedua, cakrawala memisahkan air dan pada hari yang ketiga Allah mengumpulkan air yang di bawah cakrawala supaya muncul daratan untuk menghasilkan hayat. Ini berarti Allah telah bekerja atas air untuk me-nahan dan membatasinya. Dalam Yeremia 5:22 kita nampak Allah membuat suatu pembatasan bagi laut. Hari ini, Allah tetap bekerja untuk menyingkirkan laut, sebab setan-setan najis berada di dalamnya. Laut mewakili sesuatu yang milik Iblis, milik setan. Pada akhirnya, ketika pe-kerjaan Allah sudah genap, tak akan ada laut lagi. Di langit dan bumi yang baru hanya ada daratan, tidak ada laut (Why. 21:1). Laut yang mewakili bagian utama dari kerajaan Iblis telah di-singkirkan. Puji Tuhan!
Daratan muncul untuk menghasilkan hayat, menumbuhkan hayat. Pada hari ketiga, Kristus keluar dari kematian. Di dalam kebangkitan Dia keluar dari kematian untuk menumbuhkan hayat. Haleluya!
Walaupun Anda telah diselamatkan, kegelapan yang di dalam Anda masih belum dibersihkan; air belum terpisah, tertahan, dan perkara-perkara kematian belum dibatasi. .Jika Anda berjalan beserta Tuhan, air kematian yang di dalam Anda lambat laun akan ditahan, dibatasi, dan di-singkirkan, sehingga daratan akan muncul di dalam Anda. Itulah Kristus. Itulah Kristus dalam kebangkitan. 1 Petrus 1:3 memberi tahu kita bahwa kita telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus. Tanpa Kristus yang telah bangkit, tak mungkin menumbuhkan hayat apa pun.
Daratan telah dipisahkan dari air. Daratan menyatakan hayat (kehidupan) dan air menyatakan maut (kematian).
Memisahkan daratan dari air berarti memisahkan hayat dari maut.
Tatkala kita bertumbuh di dalam Tuhan, kita belajar membedakan terang dan gelap, memisahkan perkara yang surgawi dengan yang bumiah, dan memisahkan hayat dari maut. Dalam pembicaraan saya mungkin tidak ada gelap atau yang bumiah, tetapi juga tidak ada hayat, kekurangan hayat. Perkataan saya sungguh-sungguh benar dan tepat, tanpa ada kegelapan atau cita rasa bumiah, tetapi penuh kematian. Maka saya harus berdoa, “Tuhan Yesus, usirlah semua air kematian yang di dalamku, supaya daratan mun-cul dan menghasilkan hayat.” Dalam perkataan saya tidak boleh ada kegelapan, tidak boleh ada benda-benda bumiah, dan tidak boleh ada kematian. Dalam pembicaraan saya harus ada daratan yang menghasilkan hayat. Di dalam ke-hidupan keluarga Anda, mungkin tidak ada gelap, tidak ada perkara bumiah, tetapi juga tidak ada hayat. Ketika se-seorang datang ke rumah Anda, ia tidak dapat melihat se-suatu yang gelap atau pun yang bumiah, namun ia pun tidak melihat sesuatu yang hidup. Yang dapat dilihatnya hanyalah kematian. Saya harap, ketika saya datang mengunjungi Anda, saya Akan melihat segala sesuatunya penuh dengan hayat. Kristus, daratan itu, muncul di rumah Anda. Kristus dipamerkan, menghasilkan hayat di rumah Anda. Di daratan tidak ada kegelapan, tidak ada air kematian. Yang ada hanyalah daratan yang penuh dengan berbagai macam hayat. Maka, sekali lagi, saya katakan, yang diwahyukan kepada kita di dalam kitab Kejadian mutlak adalah perihal hayat.