← Daftar isi Kejadian (1) · bab 2/15

PEMBERONTAKAN DAN PERUSAKAN IBLIS (SATAN)

2. Pemberontakan dan Perusakan Iblis

Kini marilah kita melihat perihal pemberontakan dan perusakan Iblis. Kita harus mempelajari hal ini, mungkin ini akan membuat orang merasa heran. Karena baru saja kita membicarakan penciptaan Allah, tiba-tiba kita beralih ke pemberontakan Iblis. Apakah artinya ini? Kita harus menjamah persoalan ini dengan pikiran yang jernih, supaya kita bisa tembus cahaya seperti kristal.

Banyak orang Kristen yang baik mengira bahwa Kejadian 1:1 merupakan pokok pembicaraan dari dua pasal pertama dari kitab Kejadian. Mereka telah menerima ajaran bahwa dua pasal itu adalah catatan mengenai penciptaan Allah dengan kejadian 1:1 sebagai subyeknya. Tetapi jika ayat 1 merupakan subyeknya, mungkinkah ayat 2 dimulai dengan “dan”? (dalam bahasa aslinya ada kata “dan”). “Dan” di sini berarti sesuatu telah terjadi, kemudian disusul oleh kejadian lain. “Dan” merupakan kata sambung yang meng-hubungkan dua hal : Setelah hal yang pertama disusul hal yang kedua. Bahkan ditinjau dari tata bahasanya, ayat 1 bukan subyeknya, melainkan bagian dari predikat (keterang-an) yang menggambarkan kejadian pertama dalam seren-tetan kejadian. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, dan . . .” Ini berarti telah terjadi sesuatu setelah Allah menciptakan.

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, dan bumi menjadi gersang dan kosong” (Tl.). Kitab Kejadian versi Concordant menerjemahkan ayat ini, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, namun bumi menjadi kacau balau dan kosong melompong.” Versi Concordant tidak mengatakan “dan”, melainkan “namun”. Kacau balau ialah kacau tak beraturan. Bumi telah menjadi kacau balau, ger-sang, dan kosong melompong. Jika Anda membangun sebuah rumah dan tidak ada orang yang tinggal di dalamnya, maka rumah itu kosong melompong. Ayat ini dapat kita lukiskan sebagai keadaan yang “kacau balau dan kosong melompong” atau “gersang dan kosong”. Jadi, di antara ayat 1 dengan ayat 2 telah terjadi sesuatu yang menyebabkan bumi men-jadi gersang dan kosong.

a. Asal Mula Iblis

Iblis semula adalah malaikat ciptaan Allah sebelum Allah menciptakan bumi. Ayub 38:4-7 mengatakan bahwa tatkala Allah meletakkan dasar bumi dan menetapkan ukurannya, anak-anak Allah (malaikat) bersorak-sorai. Hal ini mem-buktikan Allah telah menciptakan malaikat sebelum Ia men-ciptakan bumi. Dari kitab Yehezkiel 28 kita tabu bahwa Iblis bukan hanya salah satu dari antara malaikat-malaikat, ia bahkan penghulu malaikat yang tertinggi, kepala dari se-mua malaikat.

Yehezkiel 28 menggambarkan jabatan Iblis dalam alam semesta sebelum pemberontakan dan perusakannya. Seluruh pasal tersebut seolah-olah bercerita tentang raja Tirus. Tetapi ayat 13 mengatakan, “Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah.” Ayat sebelum dan sesudahnya menyatakan bahwa taman Eden ini bukan taman dimana Adam pernah tinggal. Taman Eden ini tidak berada di bumi, tetapi di langit, di atas gunung suci Allah.

“Penuh segala batu permata yang berharga” dalam bahasa aslinya adalah “Tudungmu dari pelbagai permata yang indah-indah” Ia ditudungi dengan batu-batu permata.

G.H. Pember mengatakan bahwa ini menunjukkan tempat tinggalnya. Tempat tinggalnya dari batu-batu permata.

“Engkau selalu disertai bunyi seruling dan rebana, yang disediakan pada hari penciptaanmu” (Tl.). Pada zaman kuno, alat-alat musik seperti nafiri, seruling dan kecapi ada-lah untuk raja-raja (Dan 3:5; 6:18). Hal ini menunjukkan bahwa Iblis adalah raja pemegang kedudukan tertinggi dalam alam semesta tersebut. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri memanggilnya sebagai “Penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31) Rasul pun menyebutnya “Penguasa kerajaan angkasa” (Ef. 2:2). Lukas 4:5-6 juga menegaskan demikian “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya : Segala kuasa itu serta ke-muliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.” Bohongkah ini? Kalau bohong, tentunya Tuhan Yesus sudah menempelak Iblis. Karena Tuhan Yesus tidak menegurnya, pasti ini adalah fakta. Iblis, Satan itu, memberi tahu Tuhan bahwa kerajaan dunia be-serta segala kemuliaannya telah diberikan ke-padanya. Iblis juga berkata, “Aku rnemberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki “.

Kapankah Allah memberikan semuanya itu kepada Iblis? Pasti sebelum ada Adam. Dengan membaca seluruh wahyu dari dalam Alkitab, kita dapat menyadari bahwa Allah benar-benar pernah menunjuk Iblis sebagai kepala alam semesta tersebut dan Allah pun pernah menyerahkan segala makhluk dan benda ciptaan, baik yang di langit maupun yang di bumi, ia menjadi “Penguasa dunia ini”. Posisi dan pangkatnya begitu tinggi sampai-sampai “Bahkan pemimpin malaikat Mikhael . . . tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan” (Yud.9). Mikhael adalah salah satu pemimpin malaikat (Dan. 10:13). Ia tidak berani meng-hardik Iblis, ini membuktikan bahwa pangkat Iblis tentu lebih tinggi daripada Mikhael. Jadi, kita dapat menarik ke-simpulan bahwa Iblis pasti adalah pemimpin malaikat yang tertinggi pangkatnya.

Ayat 14, “Engkaulah kerub terurap yang menudungi” (Tl.). Iblis adalah kerub terurap yang menudungi. Mungkin ini mengacu kepada ia menaungi (lihat Kel. 25:20) tabut per-janjian Allah di surga (Why. 11:19) “Kuberikan tempatmu di gunung kudus Allah.” Allah benar-benar telah berbuat demi-kian. Allah mengurapi dan mengangkat pemimpin malaikat itu untuk menaungi tabut perjanjian-Nya. Yehezkiel mem-beritahukan bahwa kerub membawakan kemuliaan Allah (9:3; 10:18) dan sangat dekat sekali dengan takhta Allah (10:1; 1:26). Hal ini menunjukkan, sebelum Iblis memberontak, ketika ia masih merupakan kerub terurap yang menaungi tabut perjanjian Allah, ia tentu sangat dekat dengan Allah, membawakan kemuliaan Allah. Yehezkiel juga memberi-tahukan bahwa kerub itu ialah empat makhluk hidup yang mengemban fungsi khusus bagi Allah (10:20). Lagi pula keempat makhluk hidup dalam kitab Yehezkiel itu sama dengan yang ada dalam kitab Wahyu (Yeh. 1:10, lihat Why. 4:7), mereka berperan sebagai pimpinan dalam penyembahan kepada Allah. Hal ini mewahyukan bahwa Iblis yang ada hari ini, seteru Allah, tadinya adalah kerub yang terurap, pasti pernah diangkat oleh Allah secara khusus untuk menjadi pemimpin makhluk-makhluk lain, membawakan kemuliaan Allah, dan memimpin mereka menyembah Allah. Ini bisa jadi menyatakan bahwa pemimpin malaikat yang terurap tersebut juga mempunyai kedudukan sebagai imam. Ta mungkin merupakan imam besar dalam alam semesta un-tuk menyembah Allah.

“Kuberikan tempatmu di gunung kudus Allah” (28:14). Ini tentu berada di surga dan berjalan-jalan di tengah-tengah batu-batu api (Tl.). Dalam kitab Keluaran 24:10, 17, Musa, Harun, dan banyak orang lainnya melihat batu-batu nilam dengan kemuliaan Allah bagaikan api yang menghanguskan di bawah takhta Allah. Tentu itulah batu-batu api. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa kerub terurap itu ju-ga memiliki wewenang khusus untuk bergerak di daerah kemuliaan Allah.

Selain Yehezkiel 28, dari Yesaya 14:12 juga dapat diketahui asal mula Iblis. Di sana Iblis disebut, “Bintang timur; putra fajar”. Sebagaimana bintang timur adalah bin-tang pemimpin dari sekian banyak bintang, maka Iblis pastilah merupakan pemimpin malaikat-malaikat. Gelar “putra fajar” menunjukkan bahwa ia sudah ada pada masa-masa alam semesta baru dijadikan. Jadi Iblis sejak permulaan alam semesta ini sudah merupakan kepala dari malaikat-malaikat, terang benderang bagaikan bintang timur.

Asal mula Iblis amatlah elok. Ia adalah kerub yang di-urapi Allah, yang paling dekat dengan Allah, menempati kedudukan yang tertinggi dalam ciptaan Allah. Ia tidak saja memiliki jabatan raja, tetapi juga jabatan imam; itulah kedudukan kita, umat yang telah ditebus, sampai selamanya (Why. 5:9-10; 20:4-6). Tetapi Iblis telah disingkirkan dari ke-dudukan dan pelayanannya ketika ia memberontak kepada Allah. Kini Allah telah memilih kita sebagai imam-imam dan raja-raja-Nya untuk mengambil alih kedudukan dan pelayanan Iblis, agar Iblis dipermalukan, dan Allah diper-muliakan.

b. Pemberontakan Iblis

Yehezkiel 28:15 mengatakan bahwa, Iblis dulunya tak bercela di dalam tingkah lakunya sejak hari penciptaannya. Tentu saja Allah tidak menciptakan Iblis yang jahat. Allah menciptakan pemimpin malaikat yang baik dan sempurna. Namun pada suatu saat, pemimpin malaikat ini, yaitu kerub yang diurapi, memberontak terhadap Allah.

(1) Penyebabnya

Iblis memberontak terhadap Allah karena kesombongan hatinya. Yehezkiel 28:17 mengatakan bahwa ia sombong karena kecantikannya, hikmatnya ia musnahkan demi semaraknya. Ia “penuh hikmat dan maha indah”, “gambar dari kesempurnaan” (Yeh. 28:12). Ini berarti ia sepenuhnya sempurna dan tidak bercacat sedikit pun. Tetapi ia terpesona memandang kecantikannya dan menjadi sombong. Ia melihat kesemarakannya dan menjadi binasa. Memandang kepada apa yang dijadikan Allah pada diri kita dan melupakan diri Allah sendiri selalu membuat kita sombong. Kesombongan itulah penyebab pemberontakan Iblis. Karena itu, rasul tak pernah mengizinkan orang yang baru bertobat menjadi pena-tua gereja, “agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis” (1 Tim. 3:6).

Semua kebajikan dan sifat alamiah serta segala karunia rohani dapat diperalat Iblis untuk membuat diri kita som-bong. Bahkan Rasul Paulus sendiri pun mungkin “meninggi-kan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu” (2 Kor. 12:7). Iblis yang congkak itu masih berkeliaran di bumi untuk mencari mangsanya, yaitu orang-orang sombong yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8). Satu-satunya jalan untuk menentangnya ialah kita harus rendah hati. “Rendahkanlah dirimu, . . . Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah terhadap orang yang rendah hati” (1 Ptr. 5:9, 5-6). Tuhan Yesus adalah teladan yang baik dalam hal ini. Iblis meninggikan dirinya, namun Tuhan Yesus “meren-dahkan diri-Nya” (Flp 2:8). Demikianlah Tuhan menakluk-kan Iblis dan Iblis tidak ber-kuasa sedikit pun atas diri-Nya. (Yoh. 14:30).

(2) Tujuannya

Tujuan pemberontakan Iblis ialah untuk meninggikan dirinya guna menyamai Allah. Dalam Yesaya 14:13-14, ter-catat lima kali Iblis mengatakan, “aku hendak” pada saat pemberontakannya. “Aku hendak naik ke langit ... aku hendak meninggikan takhtaku ... aku hendak duduk di atas bukit ... aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan; aku hendak menyamai Yang Mahatinggi.” Iblis ingin menyamai Allah. Inilah tujuan pemberontakannya terhadap Allah.

Ambisi akan kedudukan adalah motivasi segala pem-berontakan yang tercatat dalam Alkitab. Pemberontakan di Babel (Kej. 11:4), pemberontakan Datan, Abiram, dan 250 orang pemimpin-pemimpin bath Israel (Bil. 16:1-3), dan pem-berontakan Absalom (2 Sam. 15:10-12), semuanya disebabkan oleh ambisi terhadap kedudukan. Tetapi Tuhan Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa se-orang hamba, . . . itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp. 2:7, 9).

(3) Prosesnya

Iblis memulai pemberontakan terhadap Allah dengan maksud jahat yang ingin menjatuhkan kekuasaan Allah (Yeh. 28:15-18; Yes. 14:13-14).

Bukan dia saja yang memberontak, tetapi juga sejumlah besar malaikat yang di bawah kuasanya. Dari Wahyu 12:4, 9 kita tahu bahwa sepertiga dari bintang-bintang surgawi yaitu sepertiga dari malaikat-malaikat mengikutinya. (Dalam kitab Wahyu, bintang-bintang mewakili malaikat-malai-kat.) Dalam Matius 25:41 Tuhan Yesus mengatakan, “Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Efesus 2:2 mengatakan Iblis sebagai “penguasa kerajaan angkasa,” dan Efesus 6:12 memberitahukan bahwa pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa terdapat di angkasa. Pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa itu adalah malaikat-malaikat yang di bawah kekuasaan Iblis, mereka menguasai seluruh alam semesta sebelum zaman Adam. Jadi merekalah penguasa kerajaan angkasa. Ketika Iblis memberontak melawan Allah, sejumlah besar malaikat-malaikat ikut memberontak dan menjadi malaikat-malaikat yang jatuh, yaitu roh-roh jahat. Hari ini, dalam alam semesta terdapat dua golongan malai-kat, yang baik dan yang jahat. Malaikat-malaikat yang baik memihak Allah, sedangkan malaikat yang jahat bersekutu dengan Iblis menentang Allah.

Makhluk-makhluk hidup yang berada di bumi pada waktu itu dan yang kemudian menjadi setan, juga mengikuti pemberontakan Iblis.

Jika kita membaca empat kitab Injil, kita akan me-nemukan bahwa di bumi ada semacam roh lain, yaitu setan. Siapa dan apakah setan itu? Kebanyakan orang Kristen mengira bahwa setan adalah malaikat yang telah jatuh, tapi menurut surat Efesus, malaikat-malaikat yang jatuh itu tinggal di angkasa, bukan di bumi. Empat kitab Injil meng-ungkapkan bahwa pada hakekatnya setan tidak pernah masuk ke angkasa, melainkan bergerak di bumi atau masuk ke dalam air; itulah tempat tinggal setan. Ingatlah peristiwa orang yang dirasuk segerombolan setan (Mat. 8:28-32). Tat-kala Tuhan Yesus mengusir setan-setan itu, mereka me-mohon kepada-Nya supaya diizinkan masuk ke dalam se-kawanan babi. Setelah masuk ke dalam sekawanan babi itu, mereka lari terjun ke dalam air, tempat tinggal kesukaan mereka.

Matius 12:22-27 dan 43-45, sangat berarti berkenaan dengan hal ini. Dari bagian firman Tuhan ini dapat kita ketahui bahwa Iblis juga mempunyai kerajaannya yang jahat, dan dialah “raja setan itu”. Ayat 43 mengatakan, “Apabila roh jahat (setan) keluar dari seseorang, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus (tiada air) mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatkannya.” Setan yang diusir dari orang buta dan bisu itu mencari tempat perhentian, tetapi ia tidak dapat menemukannya di tempat yang tandus (tiada air). Hal ini menunjukkan tempat per-hentian dan kediaman setan adalah di dalam air. Ayat 44 memberitahukan apa yang terjadi bila setan tidak menemu-kan air. “Lalu ia berkata : Aku akan kembali ke rumahku . . .” “Rumah” ini ialah tubuh manusia. Tempat kediaman setan ialah air, dan tempat kediaman mereka yang semen-tara ialah tubuh manusia.

Kisah Para Rasul 23:8-9 membuktikan bahwa setan bukanlah malaikat yang telah jatuh. Dalam dua ayat di atas kita nampak bahwa malaikat-malaikat dan roh-roh digolong-kan dalam dua jenis makhluk yang berbeda. Bahkan orang Farisi Yahudi kuno memisahkan setan-setan dan malai-kat-malaikat dalam kategori yang berbeda. Bila kita mem-baca empat kitab Injil dengan teliti, kita akan menemukan bahwa setan-setan jugs disebut roh-roh jahat. Tidak hanya malai-kat adalah roh, setan pun adalah roh.

Siapakah setan itu? Mengapa setan suka tinggal di da-lam air atau masuk ke dalam tubuh manusia? Dalam sebuah bukunya yang terkenal “Earth’s Earliest Ages”, G.H. Pember telah mengadakan penyelidikan yang ilmiah dan seksama tentang hal ini. Ahli ilmu bumi dan ahli purbakala menemu-kan bahwa bumi tidak hanya berumur 6000 tahun, bahkan jauh lebih tua. Adanya pendapat bahwa bumi hanya ber-umur 6000 tahun itu dipengaruhi oleh zaman Adam, maka beberapa orang ateis dan orang-orang Kristen moderns mengatakan dalam kitab Kejadian 1 terdapat kesalahan. Ahli purbakala sudah menemukan fosil yang berlaksa-laksa tahun umurnya. Tetapi G.H. Pember telah memperoleh jawabannya. Di antara Kejadian 1:1 dan 1:2 terdapat suatu masa yang dinamakan “masa selang.” Tak seorang pun dapat mengatakan berapa lama masa selang itu. Bagaimanapun, pasti merupakan jangka waktu yang lama sekali. Setelah mempelajari perihal in dengan seksama, G.H. Pember me-narik kesimpulan bahwa pada suatu saat setelah penciptaan mula-mula, Iblis dan malaikat-malaikatnya mengadakan pemberontakan. Lagi pula, G.H. Pember mengambil kesim-pulan dari catatan dalam Alkitab bahwa pada zaman sebelum Adam, sudah ada makhluk-makhluk hidup yang mempunyai roh di bumi dan makhluk-makhluk itu mengikuti Iblis da-lam pemberontakannya melawan Allah. Demikianlah Iblis, malaikat-malaikat yang jatuh, beserta makhluk-makhluk hidup tersebut semuanya dihakimi oleh Allah. Sesudah di-hakimi Allah, makhluk-makhluk hidup itu kehilangan tubuh mereka dan menjadi roh-roh yang tidak bertubuh. Inilah sebabnya setan ingin masuk ke dalam tubuh jasmani.

Air yang dengannya Allah telah mengakhiri mereka menjadilah lautan yang dalam, di mana setan-setan harus tinggal. Bahkan G.H. Pember membuktikan bahwa di ba-wah samudera yang sangat dalam terdapat jurang yang ti-dak terduga dalamnya (abyss). Kejadian 1:2 terjemahan bahasa Yunani menggunakan kata “jurang yang tak terduga dalamnya” untuk menerjemahkan kata “samudera”. Samudera ialah tempat tinggal setan-setan.

Pada suatu hari, ketika Yesus menyeberangi danau (laut), sekonyong-konyong bertiuplah angin kencang dan ter-jadilah badai besar. Tuhan Yesus tidak berdoa; Ia menghar-dik, angin dan badai pun segera teduh (Mat. 8:23-27). Mengapa di angkasa timbul angin ribut dan di air timbul badai gelombang? Karena di angkasa ada malaikat-malaikat yang jatuh dan di dalam air ada setan. Mereka tahu Tuhan Yesus akan pergi ke seberang untuk mengusir setan-setan (Mat. 8:28-32). Hari ini di angkasa masih penuh dengan malaikat-malaikat yang jatuh dan di bumi penuh dengan setan-setan. Sebagai anak-anak Allah, kita perlu mengetahui hal-hal yang menyangkut alam semesta ini, terutama bumi. Malaikat-malaikat jahat mengikuti Iblia dalam pemberon-takannya terhadap Allah. Setan-setan adalah jenis makhluk hidup lainnya, adalah roh-roh yang tak bertubuh, dan tinggal di dalam air serta berkerja di bumi. Iblis adalah pemimpin dunia ini, yang mencakup bumi dan angkasa. Di dalam kerajaan Iblis ada malaikat-malaikat yang jatuh di angkasa, ada setan-setan di dalam air, dan ada umat manusia yang jatuh di bumi.

(4) Akibatnya

(a) Iblis Dihakimi Allah

Pemberontakan Iblis mendatangkan penghakiman Allah. Allah tidak dapat membiarkan begitu saja pemberontakan di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Segera setelah pem-berontakan Iblis, Allah menyatakan hukuman atasnya. “... sampai terdapat kecurangan padamu, dengan dagangmu yang besar (G.H. Pember berkata, menurut akar dari bahasa Ibrani ‘dagang’ di sini dapat diterjemahkan ‘umpat’) . . .

engkau berbuat dosa.. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah, dan kerub yang menaungi, membinasakan engkau dari tengah-tengah batu-batu api. Engkau sombong . . . hikmatmu kau musnahkan . . . Ke bumi kau Kulempar . . . Dengan banyaknya kesalahanmu . . . engkau melanggar kekudusan ternpat kudusmu” (Yeh. 28:15-18). “Ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di hang kubur” (Yes. 14:15).

(b) Langit dan Bumi Dihakimi

Langit dan bumi sudah pasti dicemarkan oleh pem-berontakan Iblis. Allah menghardik Iblis, “Engkau rnelang-gar kekudusan tempat kudusmu” (Yeh. 28:18). Itulah sebab-nya langit dan bumi juga dihakimi Allah. Ayub 9:5-7 menga-takan bahwa “Allah membongkar-bangkirkan gunung-gu-nung dalam murka-Nya, menggeser bumi dari tempatnya, rnemberi perintah kepada matahari sehingga tidak terbit dan rnengurung bintang-bintang dengan meterai.” Kapan-kah Allah melakukan hal ini? Kita tidak dapat menemukan catatan peristiwa seperti ini dalam sejarah manusia. Peris-tiwa ini pasti terjadi sebelum zaman Adam, yaitu pada wak-tu Allah menghakimi langit dan bumi karena pemberon-takan Iblis dan pengikut-pengikutnya. Akibat hukuman Allah ini, langit tidak lagi memancarkan terang. Bumi tertutup kegelapan. Fakta bumi telah dihakimi Allah, terkubur di ba-wah air yang dalam, membuktikan bahwa Allah pasti telah menghukum bumi dengan membanjirinya dengan air karena itu, “bumi menjadi gersang dan kosong, terpendam di bawah air yang dalam dan tertutup dengan kegelapan” (Kej. 1:2. Tl.).

Yesaya 45:18 memberitahukan, “Allah menciptakan bumi bukan supaya kosong.” Ayub 38:4-7 menunjukkan bahwa Allah menciptakan bumi dalam keadaan baik. Ketika Allah “meletakkan dasar bumi”; “menetapkan ukurannya” dan “merentangkan tali pengukur padanya”, bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama, dan semua anak Allah (malai-kat-malaikat) bersorak-sorai. Tatkala Allah meletakkan dasar bumi, Ia menetapkan ukurannya dan merentangkan tali pengukur padanya. Hal ini berarti Ia menciptakan dalam keadaan yang baik. Sehingga, ketika bintang-bintang fajar melihatnya, mereka bersorak-sorak bersama, dan ketika semua malaikat melihatnya, mereka pun bersorak-sorai. Kapankah peristiwa ini terjadi? Peristiwa ini pasti terjadi dalam Kejadian 1:1, bukan dalam Kejadian 1:2. Bagaimana mungkin bintang-bintang fajar bersorak-sorak menyanyi dan malaikat bereorak-sorai ketika bumi menjadi gersang dan kosong?

Bila dua perkataan : “gersang” dan “kosong” digunakan bersama di dalam Perjanjian Lama, itu selalu menyatakan suatu akibat dari penghukuman. Kita mengetahuinya dari Yeremia 4:23 (campur baur dan kosong, dalam bahasa asli-nya ialah gersang dan kosong). Dalam Yesaya 24:1 dan 34:11, kita jugs nampak ini. Apa Baja yang telah dihukum oleh Allah, menjadi gersang dan kosong. Bumi menjadi gersang dan kosong karena dihukum oleh Allah.

Kegelapan yang meliputi permukaan samudera juga merupakan suatu tanda yang menyatakan bahwa alam se-mesta pada zaman itu telah dihukum, sebab kegelapan ber-asal dari penghukuman Allah. (lihat Kel. 10:21-22; Why. 16:10).

Jadi, bumi yang disebut dalam Kejadian 1:2 tidak dalam keadaan yang sama seperti yang diciptakan Allah pada mulanya. Dahulu diciptakan dalam keadaan baik, tetapi te-lah menjadi gersang dan kosong. Kata “menjadi” adalah kata yang sama seperti yang digunakan dalam Kejadian 19:26 yang mengatakan bahwa istri Lot “menjadi tiang ga-ram”. Dia dulunya bukan tiang garam. Dengan prinsip yang sama, bumi asalnya tidak gersang dan kosong, tetapi telah menjadi gersang dan kosong.

(c) Malaikat yang Jatuh dan Setan Dihakimi

Ketika Allah mengadili Iblis dan alam semesta yang di bawah kekuasaannya, Allah juga harus menghakimi ma-laikat-malaikat yang mengikutinya dan makhluk-makhluk hidup di bumi pada zaman itu yang ikut serta di dalam pemberontakannya. Setelah dihakimi, malaikat-malaikat pemberontak menjadi “roh-roh jahat” di udara (Ef. 6:12), dan makhluk-makhluk hidup menjadi roh-roh yang tercabut dari tubuhnya, yakni setan-setan yang tinggal di dalam air yang dengannya mereka dikubur.

Meskipun Iblis, malaikat-malaikat pemberontak, dan setan-setan telah dihakimi Allah, hari ini mereka masih tetap bergerak dan bekerja, sebab hukuman atas mereka be-lum dilaksanakan. Pada suatu hari, akan dilaksanakan se-penuhnya (Why. 12:12; Mat. 8:29; Luk. 8:31). Hari ini, Iblis masih bisa pergi kehadapan Allah untuk menuduh umat Allah (Ayb. 1:6-12; 2:1-7; Why. 12:10). Dia masih berkeliaran di bumi, “mencari mangsa yang dapat ditelannya” (1 Ptr. 5:8), masih bekerja membutakan orang (2 Kor. 4:4), menge-labui mereka (2 Kor. 11:14), memenuhi hati mereka (Kis. 5:3 Tl.), dan beroleh keuntungan atas manusia (2 Kor. 2:11. T1.). Dia masih “seorang yang kuat” menguasai “harta bendanya” (Mat. 12:29). Malaikat-malaikat pemberontak masih tetap merupakan penguasa dunia yang gelap ini (Ef. 6:12; lihat Dan. 10:20), (beberapa malaikat yang telah jatuh sekarang dipenjara sampai hari penghakiman — 2 Ptr. 2:4, Yud. 6), dan setan-setan masih tetap sebagai roh-roh jahat yang be-kerja di bumi (Mat. 12:43-45). Penghakiman atas mereka semuanya perlu dilaksanakan.

Allah telah menghakimi Iblis dan semua pengikutnya. Tetapi ini tidak berarti Alah telah melaksanakan hukuman-Nya pada waktu Ia mengumumkannya. Menghakimi adalah suatu hal, melaksanakan penghakiman itu adalah hal lain lagi. Allah telah menghakimi Iblis dan pengikut-pengikutnya sebelum Adam diciptakan, tetapi pelaksanaan hukumannya masih terus berlangsung. Pelaksanaan hukuman itu tidak akan dilakukan oleh Allah sendiri. Allah tidak mau berbuat demikian. Tidak ada hakim yang melaksanakan sendiri hu-kuman itu. Ia membutuhkan beberapa pelaksana.

Siapa yang akan melaksanakan hukuman Allah ter-hadap Iblis dan pengikut-pengikutnya? Pelaksana-pelaksana itu ialah orang-orang Kristen, gereja, orang-orang percaya yang menang. Mengapa hukuman pada Iblis dan peng-ikut-pengikutnya belum dilaksanakan? Sebab Allah menunggu terbangunnya gereja. Hakim telah menentukan hukuman, tetapi Ia masih menunggu beberapa pelaksana untuk me-laksanakannya. Dalam Wahyu 12 kita tahu bahwa pe-menang-pemenang akan melaksanakan hukuman Allah ter-hadap Iblis. Tidak hanya demikian, hari demi hari di dalam roh kita, setiap kali kita menang, kemenangan kita merupakan suatu pelaksanaan atas hukuman itu. Allah telah menyatakan hukuman-Nya atas kaum pemberontak. Namun, hukuman itu tak akan dilaksanakan sebelum gereja bangun untuk melakukannya. Kinilah waktunya bagi kita untuk melaksanakan hukuman Allah terhadap Iblis.

Hari ini gereja harus berdoa untuk “mengikat orang kuat itu” dan merampok rumahnya” (Mat. 12:29), berperang melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12), dan mengusir setan-setan (Mat. 17:21) di mana saja kita lihat mereka bekerja merusak orang-orang. Allah telah menghakimi setan dan menahan mereka di dalam air, tetapi Ia membutuhkan gereja mendatangkan zaman di mana laut pun tidak ada lagi (Why. 21:1) dan setan-setan yang sekarang ditahan di da-lamnya akan menerima pelaksanaan hukuman itu (Why. 20:13, orang-orang mati di dalam laut seharusnya bukan orang-orang mati, melainkan setan-setan).

Ketika Tuhan Yesus hidup dalam daging sebagai ma-nusia, Ia telah mulai melaksanakan hukuman Allah. Ia “menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan per-buatan-perbuatan Iblis” (1 Yoh. 3:8). Tuhan memberi murid--murid-Nya “kuasa” (Luk. 10:19) untuk mengalahkan ke-kuat-an musuh. Ketika murid-murid mengusir setan-setan, Iblis jatuh dari langit (Luk. 10:17-20). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ia memusnahkan Iblis (Ibr. 2:14). Ia telah me-remukkan kepala ular tua. Sekarang kita sebagai Tubuh-Nya, harus melanjutkan pelaksanaan ini, menghancurkan ekor ular itu. Melalui pelaksanaan hukuman oleh gereja, Iblis akan “dilemparkan ke bumi,” malaikat-malaikatnya akan “dilemparkan bersama-samanya” (Why. 12:9) Kemudi-an ia akan diikat dan dilempar ke dalam jurang maut. Akhirnya, ia akan “dilempar ke dalam lautan api” (Why. 20:10). Saat itu genaplah pelaksanaan hukuman Allah atas Iblis dan pengikut-pengikutnya.