← Daftar isi Kejadian (1) · bab 14/15

BELAS DUA POHON (1)

Dalam berita-berita yang lalu, kita telah melihat tujuan Allah yang kekal dan cara Allah mencapai tujuan-Nya. Cara Allah untuk mencapai tujuan-Nya ialah : pertama, mencip-takan manusia sebagai wadah untuk diisi oleh diri-Nya sebagai hayat; kemudian menaruh manusia di taman Eden, di depan pohon hayat. Ini menyatakan bahwa Allah meng-hendaki manusia makan buah pohon hayat. Namun di samping pohon hayat ini, Kejadian 2:9, 17 menyebutkan pula pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kare-na itu, kita perlu dengan cermat melihat makna kedua po-hon ini.

b. Membiarkan Manusia Bebas Memilih — 2:16-17

Meskipun Allah menghendaki manusia makan pohon hayat, tetapi Ia tidak memaksa manusia, juga tidak menem-patkan pohon hayat ke dalam manusia. Sebaliknya, Allah memberi tekad yang bebas kepada manusia. Ia memberi manusia kebebasan untuk memilih. Ketika seorang ibu memberi makan bayinya, ia seakan-akan memaksa bayinya untuk memakan makanan itu. Meskipun demikian, bayi itu t.etap memiliki tekad yang bebas, itulah sebabnya sering si bayi menolak makanan yang telah ditaruh di mulutnya. Ibu menginginkan anaknya makan, tetapi ia harus mengakui bahwa bayinya mempunyai tekad yang bebas.

Allah menciptakan manusia, memberikan kebebasan untuk memilih. Mengapa Allah berbuat demikian? Karena Allah itu besar dan agung; Ia tidak kecil dan picik. Hanya orang piciklah yang memaksa orang lain menerima opininya. Jika Anda mengharuskan orang lain mengikuti jalan Anda, itu membuktikan bahwa Anda adalah orang yang picik. Jika Anda seorang yang besar, Anda takkan pernah memaksa orang lain menerima Anda. Anda akan selalu memberi pilih-an kepada mereka sambil berkata, “Jika engkau mengasihi aku, engkau akan menerima aku. Jika engkau tidak mempedulikan aku, engkau bebas melupakan aku.” Tidak ada orang yang besar atau terhormat yang mau memaksa orang lain. Demikian juga, Allah itu besar dan agung. Dialah Allah yang mulia dan penuh daya tarik. Allah tidak dengan seka-darnya menempatkan manusia di depan-Nya lalu memak-sa manusia memilih diri-Nya. Ia menaruh manusia di depan dua pohon, menghadapkan manusia kepada suatu pilihan.

Ketika saya masih sebagai orang Kristen muda, saya juga dibingungkan oleh hal ini. Saya berkata, “Mengapa Allah menaruh menusia dalam situasi yang demikian membahaya-kan? Jika saya Tuhan, saya pasti memindahkan pohon pe-ngetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu. Saya hanya akan menyisakan pohon hayat, dan menaruh manusia di de-pannya, lalu membangun pagar tinggi untuk mengamankan manusia. Mengapa Allah tidak melakukan hal ini? Mengapa Allah menaruh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di taman sebagai suatu godaan? Setiap problema datang dari sumber ini. Mengapa Allah tidak menyingkir-kannya saja? Seandainya Ia menyingkirkan pohon itu, tentu banyak menolong manusia dari berbagai ke-sukaran”. Saya bukanlah satu-satunya orang yang memiliki pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Banyak orang muda yang menanya-kan kepada saya pertanyaan-pertanyaan yang se-rupa. Jika Allah tidak memberi manusia pilihan, berarti Ia telah me-maksa manusia untuk menerima pohon hayat. Allah ter-lampau agung, Ia tidak akan melakukan hal semacam itu. Allah adalah mulia dan menarik. Untuk menunjukkan kebesaran-Nya dan membuktikan daya tarik-Nya, perlu ada pohon kedua.

Menurut kitab Ayub, Iblis, musuh Allah, menuduh Ayub di hadapan Allah dengan berkata, “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?... Apa yang di-kerjakannya telah Kau berkati. Jika Engkau rnenarik kembali semua berkat-berkat-Mu, pastilah Ayub akan meninggalkan Engkau, dan menolak Engkau di hadapan-Mu.” (Ayb. 1:9-11; Tl.). Dengan kata lain, Iblis berkata kepada TUHAN Allah bahwa Allah telah menyuap Ayub untuk menyembah-Nya. Jika TUHAN tidak menyuap Ayub, Ayub pasti akan mening-galkan TUHAN. Jadi Iblis memfitnah Allah, sebagaimana ia melontarkan fitnah kepada Ayub. Namun Allah seolah-olah menjawab Iblis, “Perbuatlah sebanyak yang engkau sanggup. Hanya perintah-Ku, kecualikan dirinya. Aku akan membuk-tikan kepadamu bahwa Ayub tidak menerima suap, melain-kan ia tertarik oleh-Ku. Ayub menyembah-Ku berasal dari tekadnya sendiri yang bebas.”

Hari ini Allah tetap sama. Ia tidak pernah memaksa seorang pun untuk menerima Dia. Ketika Tuhan Yesus datang, Ia tidak pernah memaksa orang mengikuti Dia. Ia menyediakan diri-Nya bagi orang-orang, tetapi Ia selalu menghormati kebebasan mereka untuk memilih. Seolah-olah Tuhan berkata, “Jika kamu menyukai Aku, terimalah Aku. Jika kamu tidak menyukai Aku, lupakanlah Aku.” Mungkin ada yang merasa bahwa dirinya percaya kepada Tuhan ka-rena tekanan belas kasihan Tuhan. Pada taraf tertentu, saya juga merasa demikian; bahwa belas kasihan-Nya me-naklukkan saya, menundukkan saya untuk menerima Dia. Namun, saya dengan tegas dapat juga bersaksi bahwa jika Anda memaksa saya untuk menolak Dia, saya akan tetap mau Dia, saya tidak akan meninggalkan Dia. Mengapa dari abad ke abad ada begitu banyak orang yang rela mati martir? Tuhan Allah berdiri di kejauhan sambil membiarkan umat-Nya membuat suatu pilihan, supaya keadaan yang sebenarnya menjadi bukti di hadapan musuh-Nya. Allah seolah-olah berkata, “Iblis, berusahalah sekuatmu. Umat-Ku masih tetap mau memilih Aku.” Saudara kita, Watchman Nee, dipenjara selama 20 tahun, dari tahun 1952 hingga wafatnya pada tahun 1972, di sana ia diuji dan dicobai. Ia tidak pernah mengubah pilihannya, sebab Tuhan terlalu elok dan demikian menarik. Kita telah menerima Tuhan Yesus, bukan karena kita telah dipaksa atau ditekan, melainkan karena kita telah dipanggil oleh kemuliaan-Nya dan kebajik-an-Nya (2 Ptr. 1:3; Tl.). Kita semua bisa mengakui, tak pe-duli orang lain memberi apa pun kepada kita, kita tidak akan menolak Tuhan Yesus. Tuhan kita adalah Tuhan yang betapa elok, betapa mustika, dan betapa menarik. Dia adalah satu-satunya sasaran pilihan kita.

Prinsip yang sama berlaku di taman Eden ketika Allah menempatkan Adam di depan dua pohon, yang mewakili dua sumber. Allah ingin manusia memilih-Nya sebagai pohon hayat.

(1) Pohon Hayat

(a) Menyatakan Allah

Pohon hayat merupakan suatu lambang, yang menyatakan bahwa Allah itulah sumber yang tepat (lih. Mzm. 36:10; Yoh. 1:4; 10:10b; 11:25; 14:6; 1 Yoh. 5:12; Rm. 3:4). Jika kita hanya membaca Kejadian 2, kita tak mungkin mengerti makna pohon hayat ini. Tetapi Injil Yohanes mewahyukan hayat yang dimaksud dalam pohon hayat dengan cara yang lebih kongkrit. Yohanes 1:4 mengatakan, “Dalam Dia ada hayat,” dan Yohanes 15:5 memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus adalah pokok anggur. Jika kita menggabungkan kedua ayat ini, kita akan memahami betapa Kristus justru pohon hayat itu. Yesus, perwujudan Allah adalah pohon hayat. Karena itu pohon hayat dalam Kejadian 2 merupakan suatu lambang : Allah sebagai sumber hayat.

Di samping sumber ini, di sana terdapat pula pohon lain, sumber yang lain di dalam alam semesta ini — maut. Na-mun pohon ini tidak disebut pohon maut, melainkan disebut pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Di dalam alam semesta ada sebuah pohon semacam ini. Kedua jenis pohon ini berlawanan satu sama lain, pohon hayat me-nyatakan Allah sebagai sumber hayat, sedangkan pohon pe-ngetahuan menyatakan Iblis sebagai sumber maut. Sebagai-mana Allah merupakan sumber hayat, begitu pula Iblis merupakan sumber maut. Karena itu dalam Kejadian 2 kita menemukan dua sumber yang dinyatakan melalui dua pohon.

Dalam proses mengkaji kitab ini, kita berulangkali menunjukkan bahwa hampir setiap hal dalam Kejadian 1 dan 2 merupakan benih dari wahyu ilahi. Kedua batang pohon itu adalah benih-benih serupa itu. Bersamaan dengan benih-benih lain yang diatur dalam Kejadian 1 dan 2, be-nih-benih itu tumbuh pada kitab-kitab selanjutnya di dalam Alkitab dan dituai sebagai hasil tuaian dalam kitab Wahyu. Dalam Wahyu 20:1-14 kita melihat maut tercampak ke da-lam lautan api. Sedang dalam Wahyu 22:2 kita melihat ha-yat ditempatkan dalam Yerusalem Baru. Pada awal Alkitab kita menemukan maut dan hayat, pada akhir Alkitab kita juga menjumpai maut dan hayat. Di antara awal dan akhir Alkitab terdapat dua garis, yaitu garis maut dan garis ha-yat. Kedua garis ini dimulai dari kitab Kejadian dan ber-akhir pada kitab Wahyu. Maut diawali oleh pohon pengeta-huan baik dan jahat, kemudian berakhir di dalam lautan api. Hayat diawali oleh pohon hayat dan berakhir di Yeru-salem Baru. Sebelum kita diselamatkan, kita berada di garis maut. Setelah kita beroleh selamat, kita berada di garis hayat.

(b) Isi, Sifat, dan Hasilnya

Pilihan yang pertama adalah pohon hayat, yang menyatakan diri Allah, sebagai hayat. Isi pohon hayat adalah hayat; polos, murni, dan mutlak hayat. Sifat dan hasilnya juga adalah hayat. Hayat merupakan isi, sifat, dan hasil. Segala sesuatunya adalah hayat.

(c) Prinsipnya — Bersandar

Prinsip pohon hayat adalah bersandar. Mungkin banyak di antara kalian yang tidak jelas tentang prinsip bersandar ini. Baiklah saya beri gambaran tentang tamat sekolah. Hampir setiap orang yang membaca berita ini telah lulus dari salah satu tingkatan sekolah, entah dari sekolah dasar, sekolah menengah, akademi, atau universitas. Sekalipun kita telah lulus dari sekolah-sekolah tersebut, namun kita tidak pernah lulus dari rumah makan. Kita boleh tamat belajar, tetapi kita tidak boleh tamat makan. Kita juga tidak pernah tamat minum atau menghirup udara. Saya meng-anjuri Anda belajar dengan baik dan secepat mungkin me-namatkan pelajaran Anda di sekolah. Namun saya tidak akan menganjuri Anda untuk tamat bernafas, karena jika Anda melakukan hal itu, Anda akan mati. Apakah artinya ini? Ini berarti pengetahuan melahirkan kebebasan, sedang-kan hayat menuntut supaya bersandar. Setelah kita mengua-sai sesuatu pengetahuan, kita dapat lulus dan dapat berdiri sendiri. Sebagai contoh, saya tidak mengerti tentang hal ikhwal memasak. Setelah belajar memasak kepada juru-masak yang mahir, akhirnya saya berpengetahuan banyak, tidak lagi bergantung pada jurumasak dan sanggup me-masak tanpa bantuannya. Namun dalam hal yang menyang-kut hayat, kita mustahil merdeka, kita perlu terus-menerus bersandar kepada hayat. Sejak hari saya dilahirkan, saya bernafas secara berkesinambungan dan selama 24 jam penuh setiap harinya. Saya tak pernah lulus dalam hal bernafas. Supaya saya tetap hidup, saya tidak pernah tidak perlu ber-sandar dalam hal bernafas. Saya tidak akan berkata, “Aku telah cukup berlatih bernafas. Sekarang aku adalah seorang ahli. Aku dapat mengajar Anda untuk bernafas, tetapi aku sendiri sekarang sudah tidak perlu bernafas lagi.” Tak peduli berapa besar usia kita, kita tetap bersandar pada hal bernafas, sebab bernafas adalah perkara hayat.

Ketika Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan Ur-Kasdim, Ia tidak memberinya peta. Allah tidak mengata-kan, “Abraham, inilah peta perjalanan yang harus kau tem-puh. Aku ingin membawamu keluar dari Ur-Kasdim dan ma-suk ke negeri yang indah. Peta ini sangat jelas. Jika engkau mengikuti tiap belokan ini dengan teliti dan tepat, engkau akan tiba di tempat tujuanmu.” Allah hanya menyu-ruh Abraham meninggalkan negerinya, sanak familinya dan rumah ayahnya. Allah tidak mengatakan kepada Abraham ke mana ia harus pergi. Mengapa Allah memperlakukan Abraham demikian? Allah memimpinnya dengan cara ini, sebab sebelum Abraham dipanggil, umat manusia telah jatuh dan menjauhi Allah. Manusia telah meninggalkan hadirat Allah dan menempuh hidup yang mutlak menuruti pengeta-huan, tidak menuruti Allah sebagai hayat. Maka Allah turun tangan memanggil Abraham keluar dari keadaan itu dan membawanya kembali kepada Allah sendiri. Allah tidak memberi Abraham peta atau petunjuk-petunjuk, sebab Ia bermaksud agar Abraham terus-menerus hidup dan bergerak di hatdirat Allah. Penyertaan Allah adalah petanya. Penyer-taan Allah adalah arah, pimpinan, dan penuntun jalannya. Jika Abraham bertanya kepada Allah, “Tuhan, katakan ke-padaku ke mana aku harus pergi besok.” Maka Ia menjawab, “Anak-Ku, tidurlah baik-baik dengan tenteram. Janganlah khawatir. Besok Aku akan menjadi petunjukmu. Aku akan menjadi peta hidupmu.”

Tidak ada pengemudi mobil yang menyukai petunjuk jalan yang duduk di belakang. Tetapi jikalau Anda adalah seorang pengemudi mobil surgawi, Anda perlu seorang pembantu pengemudi. Jika Anda memiliki Allah yang hidup sebagai pembantu pengemudi Anda, Anda tak perlu lagi sebuah peta. Ia akan menjadi peta hidup dan Penuntun jalan hidup Anda. Sebenarnya Anda malah akan berhenti menge-mudi dan membiarkan Dia yang mengemudi. Anda boleh duduk di dekat-Nya dan menikmati pengemudian-Nya sambil berkata, “Mengapa aku harus mengikuti dan memperhatikan tiap belokan? Tuhan Yesus, Engkaulah yang mengemudikan di tempatku ini. Biarlah aku hanya menikmati pengemu-dian-Mu.” Inilah makna hidup bersandar.

Sebaliknya, jika saya mempelajari setiap doktrin, setiap kitab dalam Alkitab dan mengarang ratusan berita untuk menunjang jabatan saya seumur hidup. Jika saya adalah orang yang semacam ini, berarti saya hanya dapat memberi Anda pohon pengetahuan. Pengetahuan tidak menuntut kita bersandar. Ketika Anda memperoleh pengetahuan, meng-ingatnya dalam ingatan Anda atau dalam buku catatan Anda, Anda boleh jadi akan meninggalkan penyertaan Tuhan, namun masih bekerja untuk-Nya. Bila Anda me-miliki pengetahuan, Anda akan merasa tidak perlu ber-sandar lagi kepada Tuhan Yesus. Tuhan dapat berada di langit ketiga dan Anda terpencil jauh di bumi, namun tetap menunaikan tugas Anda.

Jalan hayat mutlak tidak demikian. Sering kali saya mempunyai beban yang berat tentang apa yang akan saya persekutukan dalam perhimpunan (sidang) yang akan da-tang. Sebagai contoh, suatu kali saya berdoa sepanjang hari sampai sore, “Tuhan, berilah perkataan kepadaku. Oh Tuhan, apnkah beban-Mu?” Walaupun saya mempunyai beban, na-mun Haya tak jelas isi beban tersebut. Pada malam itu saya harus berbicara. Sampai saat saya memasuki ruangan si-dang, saya tetap tak mempunyai perkataan. Selagi para jemaat bernyanyi dan berdoa, saya penuh beban, tetapi tetap tak ada satu perkataan pun saya terus berdoa, “Ya Tuhan, apakah beban-Mu? Apakah yang akan Kau beritakan? Oh Tuhan, Kau ingin aku berkata apa?” Walaupun sudah tiba waktunya bagi saya untuk menyampaikan berita, saya masih tidak tahu apa yang harus saya katakan. Bahkan se-telah saya berada di atas mimbar, dan berkata, “Baiklah kita membuka Alkitab...” Sampai-sampai pada saat itu saya tetap tidak tahu kitab mana yang akan dibaca. Kemudian saya berkata, “. . . dan membaca kitab Kejadian,” tetapi saya tak tahu pasal yang ke berapa. Kemudian saya lanjutkan, “pasal 3,” saya masih tidak tahu ayat yang mana. Sampai membaca Kejadian 3:15, barulah saya jelas untuk memulai pemberi-taan, yang mengatakan bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular. Demikianlah muncul satu berita yang hidup. Mulai awal sampai akhir, saya terus bersandar. Saya sama sekali tak mempunyai penge-tahuan. Yang dapat saya perbuat hanyalah bersandar kepada Tuhan yang hidup. Inilah prinsip pohon hayat.

Kita boleh menggunakan prinsip ini untuk perihal pernikahan yang ada di Efesus 5. Semua istri Kristen tahu akan ayat dalam Efesus 5 yang mengatakan bahwa mereka harus menaati suami mereka. Setiap orang Kristen yang menjadi suami tahu akan ayat-ayat yang mengatakan bahwa mereka harus mengasihi istri mereka. Walaupun demikian, suami-suami dan istri-istri telah gagal untuk memenuhi syarat-syarat yang tertera dalam ayat-ayat itu, sebab mereka mengambil isi Efesus 5 ini sebagai pohon pengetahuan, bukan sebagai pohon hayat. Para suami dan para istri, janganlah kalian hidup menurut pohon pengetahuan. Kalian harus hidup menurut pohon hayat. Sebagai seorang istri, Anda harus berkata, “Tuhan, aku tak tahu bagaimana menaati suamiku. Ya Tuhan, sekalipun aku tahu, aku tetap tak mampu melaksanakan. Aku akan melupakan semuanya ini, ya Tuhan. Aku tak ingin memakai daya upaya atau tenaga-ku untuk memenuhi syarat ini. Tuhan Yesus, aku hanya mau tinggal di dalam-Mu dan menikmati-Mu 24 jam dalam sehari.” Jika Anda melakukan hal ini, ketaatan akan dengan sendirinya mengalir keluar dari batin Anda. Ini akan merupakan keluapan dari kenikmatan Anda atau Kristus se-bagai hayat batiniah Anda. Inilah bersandar kepada pohon hayat.

Apakah prinsip pohon hayat? Prinsip pohon hayat adalah bersandar. Kita semua harus bersandar. Jangan menempuh jalan pengetahuan, karena hasilnya adalah maut.

(2) Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat

Pilihan yang kedua adalah pohon pengetahuan (Kej. 2:17), yang berlawanan dengan pohon hayat. Perhatikan bahwa pohon ini disebut pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, bukan hanya pengetahuan yang jahat, tetapi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat ber-sumber dari pohon yang sama. Entah pengetahuan itu penge-tahuan yang baik atau yang jahat, selama hal itu sebagai pangetahuan, maka itu bukan milik pohon hayat, melainkan milik pohon pengetahuan.

(a) Menyatakan Iblis dan Segala Hal yang di Luar Allah

Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat memang menyatakan Iblis, tetapi secara tidak langsung. Pertama-tama menyatakan segala sesuatu yang di luar Allah dan kemudian secara tidak langsung menyatakan Iblis, sebab Iblis bersembunyi di belakang segala hal yang di luar Allah. Iblis suka menyembunyikan dirinya. Jadi, pohon pengetahuan secara tidak langsung mewakili Iblis.

Iblis tidak terang-terangan seperti Allah. Allah sangat terang-terangan dan selalu datang dari depan. Iblis justru licik dan selalu ada di belakang. Jika Iblis ingin menyusah-kan Anda, ia tidak akan melakukannya secara terang-te-rangan. Ia akan melakukannya secara licik, bertindak me-lalui istri Anda atau melalui sebagian barang dunia, misalnya toko serba ada. Bahkan kadang-kadang Iblis memperguna-kan Alkitab, yaitu bekerja melalui huruf-huruf ayat-ayat Alkitab untuk mengganggu Anda. Ingat, betapa pemeluk-pemeluk agama Yahudi, orang-orang Farisi, dan ahli-ahli Taurat menghukum mati Tuhan Yesus dengan mengguna-kan Alkitab (Yoh. 19:7). Karena Iblis itu licik, maka pohon pengetahuan tidak menyatakan dia secara langsung, me-lainkan menyatakan setiap hal selain Allah, termasuk hal-hal yang baik, hal-hal yang berdasarkan Alkitab, hal-hal agama. Entah hal-hal itu baik atau jahat, asal semuanya itu bukan Allah sendiri, itu dapat diperalat oleh Iblis.

Hal-hal yang di luar Allah terbagai dalam tiga golongan : pengetahuan, baik, dan jahat. Andaikata Anda bermaksud melakukan suatu pekerjaan tertentu yang baik, namun di dalam roh Anda ada perasaan agar Anda tidak menyentuh dan mengerjakannya; Anda tidak percaya akan perasaan yang ada di dalam Anda yang melarang Anda melakukan hal itu, akhirnya Anda pergi ke salah seorang penatua dan bertanya, “Saudara, lihatlah perkara yang baik ini, aku ber-maksud mengerjakannya. Hal ini sangat baik. Tetapi meng-apa aku tidak mempunyai perasaan damai saat mengerja-kannya?” Penatua itu mungkin berkata, “Tak peduli Anda memiliki atau tidak memiliki perasaan damai. Anda boleh mengerjakannya, sebab pekerjaan itu sangat baik.” Jika penatua memberi jawaban demikian, tentulah ia seorang penatua pengetahuan, tidak mengenal prinsip hayat. Setiap penatua yang benar tentu berkata, “Saudara, kita tidak akan pernah berjalan menurut pohon pengetahuan baik dan jahat. Prinsip kita bukan baik dan buruk atau benar dan salah, prinsip kita adalah hayat.” Janganlah kita mengguna-kan prinsip baik dan jahat, tetapi harus bekerja sama dengan prinsip hayat. Jika di dalam Anda tidak ada damai, itu berarti Roh hayat tidak setuju dengan niat Anda untuk mengerjakan pekerjaan itu. Anda perlu bekerja sama de-ngan-Nya. Jika Anda taat, Anda akan menerima hayat. Tidakkah Anda sering mengalami keadaan semacam ini pada waktu-waktu yang lampau? Bila Anda melakukan sesuatu sesuai dengan hal-hal yang baik, berarti Anda telah dimati-kan, Anda mengalami maut. Tetapi bila Anda mengerjakan wesuai dengan hayat yang di dalam, Anda akan memiliki lebih banyak hayat.

Pertama-tama pohon pengetahuan menyatakan segala hal dan benda yang dipakai oleh Iblis, tak peduli apakah itu baik atau jahat. Hal-hal itu tidak secara langsung menyata-kan Iblis, sebab Iblis suka bersembunyi. Ketika pertama kali Iblis masuk ke dalam manusia, ia tidak melakukannya secara terang-terangan. Ia datang dengan bentuk ular. Pada pormulaan Alkitab, ular adalah binatang yang sangat cerdik dan bentuknya sangat elok serta menarik (Kej. 3:1), tidak seperti ular yang jelek rupanya dan yang telah di bawah kutukan Allah sekarang ini. Ketika Hawa bercakap-cakap dengan ular itu, ia tidak menyangka sama sekali bahwa Iblis ada di dalamnya. Dalam hal ini terkandung prinsip perwujudan Iblis yaitu : ia tidak pernah muncul secara terangterangan, tetapi secara licik.

Kita menemukan contoh lain dari kelicikan Iblis yang muncul pada peristiwa Petrus di dalam kitab Injil. Petrus adalah orang yang jujur, murid yang setia, dan ia sangat mengasihi Tuhan Yesus. Ketika Tuhan mengatakan tentang penyaliban-Nya, Petrus segera berkata, ‘Tuhan, kiranya Allah rnenjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa engkau.” (Mat. 16:21-23). Tuhan Yesus berpaling dan ber-kata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis.” Kelihatannya Petrus yang berbicara, namun sebenarnya Iblis yang menyemu di dalam Petrus. Iblis juga ada di dalam Yudas ketika ia meng-khianati Tuhan Yesus. Yudas dipenuhi oleh Iblis (Satan) (Yoh. 13:2, 27; 6:70).

Melalui contoh-contoh ini kita dapat melihat bahwa Iblis tidak pernah bertindak terang-terangan. Ia selalu bertindak secara licik, menggunakan hal-hal yang lain sebagai selimut-nya. Mungkin Anda akan berkata, “Itu bukan Iblis; itu istriku; itu suamiku. kekasihku.” Namun, bagaimana-pun suami dan istri bisa dipakai oleh Iblis. Karena itu kita harus berhati-hati.

(b) Isi

Isi pohon pengetahuan adalah semua perkara yang di luar Allah. Bahkan Alkitab yang diilhamkan Allah dan hukum yang diberikan oleh Allah, bisa saja di dalam harfiah diperalat Iblis sebagai pohon pengetahuan. Demikian juga pengalaman terhadap Kristus yang Anda miliki hari ini dapat menjadi pohon pengetahuan pada esok harinya. Saya telah mengungkapkan tentang pengalaman memberitakan berita pada Kejadian 3:15 yang secara mutlak bersandar kepada Tuhan. Berita itu sangat hidup. Namun, seandainya saya diundang untuk berbicara di kota lain, dan saya ber-kata kepada diri sendiri, “Aku telah memberitakan berita yang bagus dengan Kejadian 3:15. Ah, lebik baik kuulangi saja nanti.” Jika saya berbuat demikian, maka berita itu menjadilah pohon pengetahuan. Dua bulan yang lalu berita itu adalah pohon hayat; sekarang bila saya ulangi sekali lagi secara pengetahuan, berita itu menjadilah pohon pengeta-huan. Anda mungkin mempunyai pengalaman yang sama dalam memanjatkan doa yang hidup kepada Tuhan. Suatu malam, boleh jadi Anda telah memanjatkan doa yang hidup dengan sepenuhnya bersandar kepada Tuhan. Karena doa itu baik dan hidup, Anda memutuskan akan mengulangi doa yang sama pada sidang doa yang berikutnya. Namun di luar dugaan, doa yang pada waktu lalu adalah pohon hayat, sekarang menjadi pohon pengetahuan. Jadi, doa yang hidup pun dapat menjadi pohon pengetahuan.

Baiklah kita ambil contoh dari kehidupan keluarga kita. Orang tua sering mengajar anak-anak mereka dengan ber-kata, “Apakah kamu tidak melihat bahwa si A adalah anak yang baik? Mengapa kamu tidak meniru dia? Bila kelakuan si A berasal dari ia bersandar pada Tuhan, itulah pohon ha-yat. Namun jika anak lain disuruh meniru si A, tiruannya itulah pohon pengetahuan. Kita perlu menerapkan ini atas diri kita sendiri. Jika kita bertindak dengan cara tertentu yang sesuai dengan hayat dan kemudian mengulangi se-hingga bertindak menurut pengetahuan yang berdasarkan pengalaman kita yang pertama kali, pengulangan itu men-jadilah pohon pengetahuan.

Bahkan Alkitab yang sama bisa-bisa menjadi dua pohon bagi kita. Jika Anda bersandar Tuhan serta menggunakan roh Anda sewaktu menjamah firman Allah, maka Alkitab adalah pohon hayat. Namun jika Anda memakai pikiran Anda dan menyelidiki Alkitab sebagai buku yang mengan-dung huruf-huruf belaka, ia akan menjadi pohon pengetahu-an. Kita dapat saja membuat huruf-huruf dalam Alkitab menjadi pohon pengetahuan. Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab suci ... namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memper-oleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40). Hanya menyelidiki Kitab Suci berarti datang kepada pohon pengetahuan; berhubungan dengan Tuhan melalui firman berarti datang pada pohon hayat. Sekali-kali jangan membuat Alkitab menjadi pohon pengetahuan. Peliharalah senantiasa sebagai pohon hayat. Faktor yang menentukan ialah ketika Anda mendekati Alkitab, apakah Anda bersandar kepada Tuhan atau tidak. Jika Anda tidak bersandar kepada-Nya, apa pun yang Anda peroleh adalah pohon pengetahuan. Bila Anda bersandar ke-pada-Nya, segala sesuatu yang Anda peroleh adalah pohon hayat. Kita jangan berpikir bahwa dua pohon yang dimaksud dalam Kejadian 2 itu sekedar sejarah purbakala. Kejadian 2 bukan merupakan catatan yang kadaluwarsa atau kuno, melainkan wahyu dua prinsip ilahi yang hidup dan up to date.

(c) Sifat dan Hasilnya

Sifat dan basil pohon hayat adalah hayat, sebab pohon ini adalah pohon hayat. Tetapi sifat dan hasil pohon penge-tahuan baik dan jahat adalah maut, sebab pengetahuan, baik, dan jahat, adalah maut dan membawa kepada maut. Apa pun yang bukan hayat adalah maut dan berakhir ke-pada maut. Menurut kenyataannya, pohon pengetahuan baik dan jahat adalah pohon maut; namun tidak disebut pohon maut, melainkan pohon pengetahuan baik dan jahat. Maut bukan hanya ada di belakang kejahatan; tetapi juga ada di belakang pengetahuan dan perkara-perkara yang baik. Sebutan pohon pengetahuan baik dan jahat adalah sebutan yang licik, sebab Iblis selalu suka menyembunyikan dirinya. Iblis mempunyai kuasa maut (Ibr. 2:14). Karena itu pohon pengetahuan baik dan jahat sebenarnya adalah pohon maut, yang menyatakan Iblis.