BELAS DUA POHON (2)
Dalam berita yang lalu kita telah melihat bahwa pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu menyata-kan Iblis, yang berkuasa atas maut; isi pohon ini adalah maut, segala hal yang di luar Allah, sifat dan hasilnya ada-lah maut. Sekarang kita harus melihat apa prinsip pohon ini.
(d) Prinsipnya — Merdeka
Jika kita mengetahui prinsip pohon hayat, kita akan mengetahui juga prinsip pohon pengetahuan, karena ini berlawanan dengan prinsip pohon hayat. Prinsip pohon hayat adalah bersandar; sedangkan prinsip pohon pengetahuan ada-lah merdeka. Apa pun yang kita lakukan bersandar Tuhan adalah di dalam prinsip pohon hayat. Segala yang kita per-buat tanpa bersandar kepada Tuhan adalah di dalam prinsip pohon pengetahuan.
Setiap orang ingin merdeka, namun kita sekali-kali tidak boleh merdeka terhadap Tuhan. Kemerdekaan rohani berarti maut. Jika kita merdeka, berarti kita mematikan diri kita sendiri.
Memerdekakan diri terhadap Tuhan berarti ada suatu sekatan (isolasi) yang memisahkan kita dengan Tuhan, ada isolasi yang memutuskan hubungan kita dengan aliran listrik ilahi. Kita boleh saja memiliki pembangkit listrik yang berkapasitas besar dan semua perlengkapan-perleng-kapan yang harus ada sudah dipasang, semuanya ini akan sia-sia saja bila ada sekatan pada tombolnya. Sekatan itu memutuskan aliran listrik. Sekalipun sekatan itu hanya sedikit, misalnya hanya setipis kertas, tetapi itu sudah cu-kup untuk memutuskan aliran ini. Kemerdekaan merupa-kan suatu sekatan rohani yang memutuskan kita dengan hayat Allah. Jangan berpikir bahwa diri Anda adalah ahli dalam hal-hal rohani. Tak peduli sudah berapa lama listrik mengalir, namun penggunaannya tetap perlu tanpa isolasi. Hal yang sama terjadi di dalam alam rohani. Jangan berkata, “Aku mempuyai pengalaman yang banyak di dalam Kristus. Aku telah melatih rohku bertahun-tahun dan aku tidak perlu melaksanakan hal ini lagi.” Kita tidak boleh bersikap seperti ini. Kita perlu senantiasa bersandar kepada Tuhan. Jangan sekali-kali merdeka terhadap Tuhan yang hidup ini. Merdeka yang sedetik pun berarti maut.
(3) Pengenalan terhadap Dua Prinsip Ini
Prinsip pohon hayat dan prinsip pohon pengetahuan baik dan jahat dapat dilihat di dalam seluruh Alkitab. Me-nyusuri garis pohon pengetahuan terdapat semua perkara yang negatif; dan menyusuri garis pohon hayat terdapat semua perkara yang positip. Saya menyebut garis yang per-tama adalah garis pengetahuan dan garis yang kedua adalah garis hayat. Jika kita mengikuti kedua garis ini, keduanya akan membawa kita menerobos seluruh Alkitab.
Pertama-tama manusia dibujuk untuk makan buah pohon pengetahuan. Hasilnya, manusia jatuh. Keturunan dari manusia yang telah jatuh ini sama sekali tidak ber-sandar kepada Tuhan. Mereka mengandalkan pengetahuan mereka. Menurut Kejadian 4, kebudayaan pertama manusia yang tercipta, dan kebudayaan ini berkembang terus sampai menjadi dunia yang bobrok pada zaman Nuh. Maka pada zaman Nuh, Allah menghakimi bumi ini dengan air bah. Keturunan Nuh menjadi bangsa yang lain, tetapi bangsa ini pun tetap tidak bersandar kepada Tuhan. Akhirnya, ke-budayaan manusia yang kedua muncul di atas bumi, yaitu kebudayaan yang mendirikan menara dan kota Babel. Kemudian Allah memanggil Abraham ke luar dari bangsa yang jatuh itu. Dari sini kita melihat perkembangan kedua garis ini. Pada hakekatnya, garis hayat dimulai dari Adam yang jatuh dan diselamatkan, kemudian melalui Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan banyak lagi orang-orang Israel. Dalam deretan hayat ini terdapat kemah Nuh, kemah Abraham, Kemah Pertemuan (Tabernakel), dan Bait Suci. Garis pengetahuan dimulai dari Rain, dan selanjutnya melalui semua orang yang tidak beribadah (takwa) kepada Allah. Dalam garis pengetahuan ada kota Henokh, Babel, Sodom, kota-kota perbekalan Firaun, serta Babilon yang merebut benda-benda dalam garis hayat.
Kita menemukan dua garis yang sama di dalam Per-janjian Baru. Walaupun Perjanjian Lama dengan hukum Taurat tadinya berada di atas garis hayat, namun penganut-penganut agama Yahudi hanya memperlakukan mereka sebagai pengetahuan belaka dan menaruhnya pada garis pengetahuan. Orang-orang Farisi memakai Perjanjian Lama dengan cara pengetahuan. Ketika Tuhan Yesus datang, pemimpin-pemimpin agama semuanya berada di garis pengetahuan. Hanya Tuhan Yesus sendiri yang ada di garis hayat. Kemudian Ia membawa murid-murid-Nya menempuh garis hayat. Pada hari Pentakosta, murid-murid-Nya mem-bawa orang banyak menuju garis hayat. Karena itu, pada masa itu ada agama Yahudi di garis pengetahuan dan ada gereja di garis hayat. Namun tak lama berselang, keadaan gereja menurun, dari Kristus yang hidup terjerumus ke da-lam pengetahuan Alkitab yang mati; sampai-sampai men-jadilah “agama” Kristen. Gereja ada di garis hayat, tetapi “agama” Kristen ada di garis pengetahuan. Wahyu 17 mengatakan kepada kita bahwa akhirnya “agama” Kristen akan menjadi Babilon besar yang agamis, dan Wahyu 18 mengatakan bahwa sistem dunia akan menghasilkan Babilon besar yang berpolitik. Babilon besar ada dua aspek — aspek agama dan aspek politik. Entah aspek yang mana, Babilon besar itulah puncak garis pengetahuan. Pemenang-pemenang Kristen dari abad ke abad tidak pernah pindah dari garis hayat kepada garis pengetahuan. Mereka tetap tinggal di garis hayat sampai pada akhirnya, yang tergenap pada Yerusalem Baru. Babilon besar dan semua hal yang di luar Allah akan disapu oleh sungai api (Dan. 7:10) ke dalam lautan api (Why. 20:10, 14-15; 21:8). Semua hal positif dalam Alkitab sepanjang zaman akan dialirkan oleh sungai air hayat (Why. 22:1) ke dalam Yerusalem Baru. Yang ber-lawanan dengan lautan api adalah kota air, Yerusalem Baru (Why. 21:10; 22:4). Pada akhir Alkitab kita melihat sebuah lautan dan sebuah kota : lautan itu adalah lautan api pen-cipta haus, adalah perampungan akhir garis pengetahuan; kota itu kota air pelerai dahaga, adalah perampungan akhir garis hayat. Sebab itu pada akhir kitab Wahyu kita nampak penuaian dari benih pohon pengetahuan dan pohon hayat.
Di garis manakah Anda berada? Garis hayat atau garis maut? Ingatlah, Allah itu terus terang, tidak menutup-nutupi. Karena hayat itulah Allah, maka hayat juga terus terang, tidak menutup-nutupi. Sebaliknya maut itu licik dan berselubung. Maut tidak muncul dengan terang-terangan sebagai maut, namun sebagai pengetahuan. Hayat adalah benar-benar hayat : isi, sifat, dan hasilnya adalah hayat. Maut adalah pengetahuan. Setiap orang menyukai pengeta-huan. Bahkan anak-anak kecil pun mendambakannya. Mereka merepotkan kita dengan pertanyaan demi pertanyaan. Jika Anda menjawab satu pertanyaan, mereka akan bereaksi dengan beberapa pertanyaan lain; sebab ada rasa ingin tahu akan pengetahuan yang terkandung di dalam diri manusia. Manusia menuntut akan pengetahuan. Banyak orang Kristen yang juga “rakus” akan pengetahuan. Sekalipun kata penge-tahuan itu sendiri merupakan sebutan yang bagus, tetapi di belakang dan di bawah pengetahuan itu ada-lah maut. Huruf mematikan sebab huruf adalah penge-tahuan (2 Kor. 3:6). Huruf-huruf dalam Alkitab juga me-matikan bila itu terpisah dari Allah yang hidup. “Agama” telah memisahkan Alkitab dari Kristus yang hidup. Dengan demikian Alkitab dapat membunuh dan menaburkan maut.
Maut bersembunyi di bawah hal-hal yang baik, bahkan bersembunyi di bawah kehendak kita yang terbaik. Banyak orang Kristen terkasih yang terbunuh oleh niat baik orang lain. Rencana Anda mungkin baik sekali, tetapi Iblis bersem-bunyi di bawahnya dan Iblis itulah maut. Setiap orang tahu bahwa maut bersembunyi di belakang hal-hal yang jahat.
Sebagai contoh, kasino di Las Vegas merupakan suatu per-wujudan dari dosa dan maut. Menghadiri pertemuan di sebuah katedral memang kelihatnya baik, jauh lebih baik daripada mengunjungi kasino, namun maut terdapat di kedua tempat itu. Bedanya terletak pada penampilan luar, bukan pada realitaNnya; karena maut itu ada dan menang dalam perkara-perkara yang baik maupun jahat. Maut sungguh licik!
Sekarang kita tahu, kita harus berada di garis mana. Kita harus memilih garis hayat.
(4) Kata-kata Lebih Lanjut
Saya masih mempunyai beban untuk bersekutu lebih lanjut tentang kedua pohon ini dari Injil Yohanes. Injil Yohanes adalah buku hayat. Dalam Injil ini, banyak kasus dibawa ke hadapan Tuhan dan hampir setiap kasus adalah persoalan keagamaan, pengajaran, atau pertanyaan-per-tanyaan mengenai benar dan salah. Seperti telah kita lihat, Tuhan Yesus tidak pernah memberi jawaban ya atau tidak terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Perempuan Samaria bertanya kepada Tuhan tentang tempat yang tepat untuk menyembah Allah, di gunung Samaria atau di Yerusalem? (Yoh. 4:20). Tuhan menjawab bahwa persoalannya bukan pada benar atau salahnya tem-pat, melainkan persoalannya adalah roh. Terlibat ke dalam jawaban ya atau tidak, adalah terlibat ke dalam pohon penge-tahuan baik dan jahat. Tuhan berkata, “Allah adalah Roh.” Kita menyembah-Nya bukan harus di tempat tertentu yang dianggap betul, tetapi harus di dalam roh kita. Allah Roh adalah hayat, kita mengontak dan menerima Dia sebagai air hayat di dalam roh kita, penyembahan sedemikian inilah berada dalam prinsip pohon hayat.
Suatu hari, Tuhan melihat seorang yang buta sejak lahir (Yoh. 9:1). Murid-murid-Nya di bawah pengaruh alamiah dan konsepsi agama bertanya kepada-Nya, “Siapakah yang ber-buat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Dengarlah jawaban Tuhan, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia” (Yoh. 9:3). Arti jawaban Tuhan ialah: orang selalu menilai suatu keadaan dengan ya atau tidak, benar atau salah, dan inilah buah pohon penge-tahuan baik dan jahat; tetapi Tuhan Yesus selalu membawa orang kembali ke pohon hayat, yaitu diri Allah sendiri.
Ketika Nikodemus datang kepada Tuhan dan membicarakan hal pengajaran agama, Tuhan menjawab bahwa ia perlu dilahirkan kembali dengan hayat ilahi. Ini bukan per-kara pengajaran atau pengetahuan yang ditambahkan ke pi-kiran, melainkan perkara dilahirkan kembali, agar hayat ilahi masuk ke dalam roh.
Jika kita membaca seluruh Injil Yohanes, kita akan nampak bahwa Tuhan Yesus tidak pernah memberikan ja-waban ya atau tidak. Ketika orang-orang menganjuri-Nya agar Ia berbuat sesuatu, Ia menolak. Ketika persediaan anggur di perjamuan kawin di Kana habis, ibu Yesus ingin supaya Ia menangani situasi itu, Ia menolak. Namun ketika ibunya berhenti memohon, Ia mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:3-9). Pada hari raya Pondok Daun, saudara-saudara Tuhan menyuruh-Nya pergi ke Yudea. Tuhan berkata su-paya mereka yang pergi, Ia sendiri tak akan pergi. Namun setelah saudara-saudara-Nya pergi berhari raya, Ia menyusul juga (Yoh. 7:1-10). Demikian pula ketika Tuhan diberi tahu bahwa Lazarus sakit, Ia tidak segera pergi melihatnya (Yoh. 11:1-6). Ia malah tinggal lagi dua hari di tempat Ia berada. Sesudah itu, Tuhan memutuskan untuk pergi ke Yudea, namun murid-murid-Nya mencegah-Nya (Yoh. 11:7-8). Meng-apa Injil Yohanes menyajikan pergerakan Tuhan Yesus yang demikian? Karena Injil Yohanes adalah sebuah buku hayat. Tuhan ingin melatih murid-murid-Nya.untuk menjauhkan diri dari perkara-perkara benar atau salah, ya atau tidak — yakni meninggalkan pohon pengetahuan baik dan jahat —, supaya kembali kepada pohon hayat. Hayat itulah diri Allah sendiri.
Perkara lain yang bisa ditemukan dalam pasal 8 adalah seorang perempuan berdosa yang dibawa ke hadapan Tuhan (Yoh. 8:1-11). Perempuan ini ditangkap ketika sedang berzina. Orang-orang Farisi berkata kepada Tuhan bahwa Musa telah memerintahkan agar orang-orang yang melakukan perbuatan demikian dirajam batu. Karena itu mereka ber-tanya kepada Tuhan, “Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Sekalipun mereka menuntut Tuhan memberikan ja-waban ya atau tidak, namun Tuhan tidak memberi jawaban seperti itu. Kata-Nya, “Siapa saja di antara kamu tidak ber-dosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Apakah arti perkataan ini? Ini berarti, Tuhan hendak menunjukkan Allah kepada mereka, bahwa di dalam seluruh alam semesta ini hanya Allah satu-satunya yang tidak berdosa. Orang-orang Farisi terbungkam atas jawaban Tuhan. Selanjutnya Tuhan berkata kepada perem-puan itu, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” Ini menunjukkan bahwa ini bukan perkara hukum atau pengetahuan, melainkan mutlak perkara mengontak Allah yang hidup.
Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, ketika Allah memanggil Abraham, Ia tidak memberitahukan ke-padanya ke mana ia harus pergi. Jika Allah memberi tahu, niscaya Abraham akan mempunyai pengetahuan. Tetapi Allah dengan sengaja tidak memberi tahu Abraham keterangan apa pun dengan maksud agar Abraham secara terus-menerus dan langsung berkontak dengan Allah. Penyertaan Allah yang hidup adalah peta dan petunjuk-Nya.
Banyak buku Kristen yang memberi kita tehnik dan metode untuk melakukan hal ini atau hal itu. Melalui mem-baca buku-buku itu, kita dapat belajar metode yang tepat. Sebagai contoh, berkenaan hal tersalib bersama Kristus, oleh buku-buku tersebut kita diberi tahu untuk menghitung diri kita mati. Jika terhadap hal ini kita hanya menganggapnya sebagai suatu cara saja, niscaya ini milik pohon pengeta-huan. Apakah pengetahuan itu? Dan apakah agama itu? Pengetahuan atau agama berarti menjadi baik dan berbuat kebaikan, menyembah Allah atau bekerja untuk Allah tanpa ada penyertaan Allah yang hidup. Semua pekerjaan yang baik tanpa Penyertaan Allah adalah agama. Sesuatu perkara bisa saja menjadi hayat atau pengetahuan bagi kita. Jika kita mengalami penyertaan Allah yang hidup selama me-lakukan suatu pekerjaan, itulah hayat. Jika kita melakukan suatu pekerjaan tanpa penyertaan Allah, itulah pengetahuan yang mati. Tidak ada tehnik atau metode mana pun yang dapat menolong kita. Kita memerlukan Allah yang hidup.
Apakah hayat? Hayat itulah Allah sendiri. Apakah prinsip hayat? Prinsip hayat adalah bersandar kepada Allah di dalam segala hal. Jika Anda bersandar kepada Allah, maka sepia sesuatu itu adalah hayat.
(5) Situasi Tiga Pihak
Ketika Adam berdiri di depan dua jenis pohon, berarti ia sedang berdiri di hadapan Allah dan Iblis. Di dalam alam semesta peristiwa ini membentuk situasi tiga pihak, yakni manusia, Allah dan Iblis. Perebutan antara Allah dan Iblis atas diri manusia. Manusia akan memilih Allah atau mengikuti Iblis; hal ini sepenuhnya tergantung pada pilihan manusia. Situasi tiga pihak ini sekarang ada di dalam kita. Iblis pernah berada di taman di luar Adam; namun sekarang ini ia ada di dalam tubuh daging kita. Allah juga pernah di taman di luar manusia; sekarang Ia ada di dalam roh kita.
Dalam berita kesepuluh telah kita tunjukkan bahwa manusia terdiri dari tiga bagian : roh, jiwa dan tubuh. Roh adalah bagian yang terdalam, tubuh merupakan bagian yang di luar, sedang jiwa merupakan bagian utama dari manusia yang terletak di antara dua bagian itu. Akibat dari ke-jatuhan manusia, Iblis sebagai pohon pengetahuan masuk ke dalam tubuh daging manusia. Sedangkan sebagai akibat per-cayanya kita di dalam Kristus, Allah sebagai pohon hayat masuk ke dalam roh kita. Karena itu, dua pohon di taman yang dahulu pernah di luar manusia, sekarang ada di dalam kita, satu di dalam tubuh daging kita, sedang yang lain di dalam roh kita. Jika kita membaca Roma 7 dengan cermat, kita akan melihat Paulus berkata bahwa di dalam tubuh dagingnya tidak ada suatu pun yang baik, hanya dosa belaka. Dosa sungguh-sungguh merupakan sifat jahat dari Iblis. Dosa tinggal di dalam tubuh daging kita, berarti Iblis, si jahat itu, ada di dalam tubuh daging kita. Roma 8:16, adalah sebuah ayat yang membuktikan bahwa Allah ada di dalam kita, ayat ini mengatakan Roh Allah bersaksi ber-sama-sama dengan roh kita. Jadi setiap orang Kristen yang sejati me-rupakan miniatur taman Eden. Pikiran jiwa Anda mewakili diri Anda, dosa di dalam tubuh daging Anda me-wakili Iblis, dan roh di dalam roh Anda mewakili Allah. Seperti keadaan di dalam taman Eden, tiga pihak ini mem-bentuk situasi tiga pihak di dalam kita.
Benih situasi tiga pihak ini ditabur dalam Kejadian 2, dan pertumbuhannya di dalam Roma 8, di sana tertampak kepada kita munculnya dua buah pohon ini. Roma 8:6 menga-takan bahwa pikiran ditaruh di atas tubuh daging adalah maut, tetapi pikiran yang ditaruh di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera. Dalam Kejadian 2, dua pohon itu obyektif; sedang dalam Roma 8, mereka subyektif. Kita tidak bisa mengatakan bahwa dua pohon itu tidak lagi di dalam kita. Bahkan ketika Anda membaca berita ini, dua pohon itu justru ada di dalam Anda. Dulu saya berharap bisa mencabut pohon pengetahuan yang di dalam tubuh daging saya ini sampai ke akar-akarnya, tetapi semakin saya berusaha me-nanggulangi, hal ini semakin dalam tertancap pada diri saya. Akhirnya saya menemukan Roma 8. Di sana tampak ada sebuah pohon yang lain yang tinggal di dalam roh saya. Jadi dalam Roma 8 kita temukan taman Eden hari ini. Dalam Roma 8:2 menyebut tentang hukum Roh hayat yang membebaskan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Karena itu di dalam Roma 8 kita mempunyai dua hukum — hukum hayat dan hukum maut. Kedua hukum ini merupakan dua prinsip dari dua pohon dalam pengalaman subyektif kita.
Saya ingin memberikan perkataan, terutama terhadap orang-orang muda. Saya harap sejak dini kalian telah belajar dalam kehidupan kristiani kalian untuk menikmati Allah sebagai pohon hayat. Sesudah kalian mendengar kesaksian saudara-saudara yang berpengalaman di dalam Tuhan, janganlah berniat mencoba untuk menirunya. Jika kalian meniru, berarti kalian berpaling kepada pohon pengetahuan. Kalian hanya perlu senantiasa berkontak dengan Tuhan, niscaya Tuhan akan menjadi pohon hayat kalian. Dan hasilnya, secara spontan kalian akan mengasihi Tuhan dan firman-Nya. Kasih kalian adalah keluapan akibat mengontak Tuhan sebagai sumber hidup dan pohon hayat. Ketika saya masih muda, saya mengasihi Tuhan dan mencari Dia, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan bantuan semacam ini kepada saya. Di dalam kehidupan gereja hari ini, banyak saudara saudari mengelilingi kalian dan men-dorong kalian untuk menikmati Tuhan sebagai pohon hayat.
c. Memberi Manusia Amanat untuk Memikul
Tanggung Jawab — Bekerja Sama
dengan Allah — 2:15
Allah menyuruh manusia mengusahakan tanah agar hayat bisa bertumbuh, sehingga menyempurnakan aspek pertama dari kehendak Allah, yaitu mengekspresikan Allah di dalam gambar-Nya. Mengusahakan tanah untuk pertum-buhan pohon hayat. Apakah arti mengusahakan tanah? Hal mengusahakan tanah ini, benihnya ditaburkan dalam Kejadian 2 dan bertumbuh dalam Matius 13. Dalam Matius 13, Tuhan Yesus mengatakan bahwa tanah ini adalah hati manusia. Selanjutnya dalam Matius 13 mengatakan bahwa pohon hayat adalah Tuhan Yesus sendiri sebagai benih yang ditanam di dalam hati kita. Mengusahakan tanah berarti menggemburkan dan menghancurkan hati kita yang keras, membuka hati kita yang keras, membuka hati kita ke arah langit supaya hujan turun, sehingga menumbuhkan hayat di dalam kita. Allah menyuruh manusia mengusahakan tanah, berarti manusia harus dibuka, dihancurkan, dan dipersiapkan bagi masuknya pohon hayat ke dalamnya.
Mengikuti amanat ini, Allah memberi manusia suatu perintah : manusia bukan hanya mengusahakan tanah saja, tetapi juga menjaganya. Allah mengingatkan manusia untuk melindungi taman itu dari musuh, supaya aspek kedua dari tujuan-Nya tercapai, yaitu menumpas Iblis dengan kuasa Allah. Pohon hayat memerlukan pengusahaan tanah, dan pohon pengetahuan menimbulkan perlunya penjagaan tanah. Kita perlu mengusahakan tanah sehingga memungkinkan Allah masuk ke dalam kita. Karena Iblis ingin menyerang kita, maka kita perlu menjaga tanah itu, tidak memberi kesempatan apa pun bagi pohon pengetahuan. Mengusaha-kan tanah adalah membuka diri kita terhadap pohon hayat, menjaga tanah adalah menutup diri kita terhadap pohon pengetahuan.
d. Peringatan kepada Manusia — Memberi Larangan — 2:17
Kejadian 2:17 memberi tahu kita bahwa Allah memberi suatu peringatan kepada manusia dan juga suatu larangan. Allah ingin manusia hanya mengontak Dia agar menerima hayat dan jangan mengontak hal-hal di luar Allah, yang mendatangkan maut. Allah seolah-olah memberi tahu Adam dan Haws, “Janganlah mengontak pohon pengetahuan — kontakilah pohon hayat. Kapan kau makan pohon hayat, niscaya Akulah yang kau terima, sehingga kau memiliki hayat-Ku. Kapan kau makan pohon pengetahuan, kau akan menerima Iblis beserta kematian.” Ini bukan sekadar suatu perintah, tetapi juga suatu peringatan. Kita wajib mengenal, di dalam alam semesta hanya ada dua sumber : yang satu sumber hayat, yang lain sumber maut. Hati-hatilah atas dumber yang Anda kontaki. Jika Anda mengontak Allah, Anda memiliki sumber hayat, bahkan telah menerima hayat. Jika Anda mengontak Iblis, Anda memiliki sumber maut, bahkan telah menerima maut.
?