← Daftar isi Kejadian (1) · bab 13/15

PENGUBAHAN UNTUK PEMBANGUNAN DALAM ALIRAN HAYAT

Berita kali ini saya anggap sebagai suatu sisipan untuk melihat bahan-bahan berharga yang diwahyukan di banyak tempat dalam Alkitab. Kejadian 2:10-12 menyebutkan tiga golongan bahan-bahan ini, yaitu emas, mutiara, dan batu krisopras. Wahyu 21:11-14; 18-21 mengatakan tentang emas, mutiara, dan beberapa jenis batu permata. Jika kita baca Keluaran 28:6-21, kita tahu bahwa batu krisopras yang ber-lilitkan ikat emas disematkan pada kedua tutup baju efod dan dua belas batu permata dengan berikatkan emas dibuat sebagai tutup dada Imam Besar. Bahan-bahan berharga juga disebutkan dalam 1 Korintus 3:12. Paulus mengatakan bah-wa kita harus memperhatikan bagaimana membangun ge-reja, sebab kita harus membangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata. Walaupun Paulus menggantikan mutiara dengan perak, tetapi kedua bahan lainnya tetap sama. Tuhan Yesus membicarakan tentang batu ketika Ia memberi tahu Paterus, bahwa Petrus adalah sebuah batu bahan pembangun gereja (Mat. 16:18). Kemudian dalam surat kirimannya yang pertama, Petrus mengatakan bahwa kita semua adalah batu-batu hidup untuk pembangunan rumah rohani (1 Ptr. 2:5).

Kita juga perlu memperhatikan sebuah kata yang sangat penting dalam kitab Perjanjian Baru — “ubah”. Kata ini dengan tepat diterjemahkan dari bahasa Yunani dalam Roma 12:2, yang mengatakan kita harus berubah oleh pem-baharuan budi (pikiran) kita. Kata ini juga ditemukan dalam 2 Korintus 3:18, “Diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya”. Jadi, kata “ubah” ini dalam Perjanjian Baru setidak-tidaknya terdapat dua kali, yang maksudnya sama dengan pengubahan metabolisme. Pengubahan di sini bukan berarti sekadar memiliki pengubahan lahiriah, melainkan memiliki pengubahan yang organik, pengubahan metabolis. Pengubah-an berarti mengubah substansi dari suatu bentuk dan ele-men menjadi bentuk dan elemen yang lain. Batu permata justru dihasilkan dari proses pengubahan semacam ini. Ini-lah arti pengubahan.

Banyak orang Kristen tidak mengetahui bahwa Alkitab membicarakan hal pengubahan. Maka dalam berita ini akan dibahas hal pengubahan ini secara khusus. Dalam berita-berita di depan, kita telah melihat bahwa ketetapan kehen-dak kekal Allah ialah mengekspresikan diri-Nya dan melak-sanakan kekuasaan-Nya melalui manusia. Untuk mencapai tujuan ini, Allah menciptakan manusia dengan cara yang khusus, yaitu menciptakan manusia sebagai bejana untuk menampung diri Allah sebagai hayat. Karena itu Allah men-ciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki roh, supaya ia dapat mengontak Allah, menerima Allah, men-dapatkan Allah, dan mencerna Allah ke dalam seluruh diri-nya. Setelah Allah demikian menciptakan manusia, Allah menempatkan manusia di sebuah taman dengan pohon ha-yat sebagai intinya. Di dekat pohon hayat terdapat sebatang sungai yang mengalirkan air hayat, dan pada aliran sungai terdapat emas, mutiara, dan batu krisporas. Kejadian 2 menyajikan suatu gambaran yang begitu jelas dan hidup.

Menunjuk kepada apakah gambaran itu? Kita tahu bah-wa Alkitab sangat ekonomis; tidak ada satu pun alinea, kalimat, atau kata yang sia-sia. Setiap kata adalah hembus-an Allah. Karena itu kita harus paham mengapa Allah meng-gunakan hampir seluruh pasal untuk melukiskan taman, pohon, manusia, sungai, dan tiga bahan berharga. Apakah arti kesemuanya itu?

Keseluruhan Alkitab adalah wahyu Allah, dan sebagian hesar benih-benih wahyu ini ditaburkan dalam Kejadian 1 dan Kejadian 2. Sebagai contoh : Allah, manusia, dan hayat adalah beberapa benih yang ditaburkan dalam Kejadian 1 dan berkembang terus melalui seluruh Alkitab. Benih-benih yang ditaburkan dalam kitab Kejadian bertumbuh dalam kitab-kitab berikutnya di dalam Alkitab, terutama dalam Perjanjian Baru, menghasilkan tanaman di Surat Kiriman dan penuaiannya di kitab Wahyu. Hampir segala sesuatu yang ditaburkan dalam Kejadian 1 dan 2 dituai sebagai hasil tuaian dalam kitab Wahyu.

Berdasarkan prinsip ini, marilah kita memperhatikan beberapa istilah yang terdapat dalam kitab Kejadian dan Wahyu. Dalam Kejadian 2 ada pohon hayat di tengah-tengah Inman. Kemudian ada sebuah sungai yang mengalir di se-panjang tepian pohon itu dan menghasilkan emas, mutiara, dan batu krisopras. Latar belakang kesemuanya ini adalah sebuah taman, dan taman menunjukkan benda alami yang diciptakan oleh Allah. Di dalam taman kita dapat melihat pertumbuhan benda-benda ciptaan.

Ketika membaca sampai Wahyu 21 dan 22, kita tidak menjumpai taman lagi, melainkan kota. Kota bukan dicipta-kan, tetapi dibangun. Dalam Kejadian 2 terdapat ciptaan; dalam Wahyu 21 dan 22 terdapat bangunan. Dalam kota itu kita mempunyai pohon hayat. Jadi Alkitab memang diawali dan diakhiri dengan hayat. Lagi pula dalam kota itu kita melihat adanya sungai air hayat mengalir dari takhta Allah. Hal ini berhubungan dengan sungai yang ada di dalam taman. Dalam kitab Wahyu kita melihat ada tiga golongan bahan-bahan berharga, bukan dalam keadaan alami, tetapi dibangun menjadi sebuah kota yang dibuat dari emas, mutiara, dan batu permata. Jadi, apa yang ditaburkan sebagai benih dalam Kejadian, telah matang dan dituai dalam Wahyu. Pertumbuhan benih dan perkembangan tanaman terdapat di antara Kejadian dan Wahyu. Ini bukan konsepsi manusia, tetapi wahyu ilahi yang terdapat dalam dua pasal pertama dan terakhir dari Alkitab.

Pada permulaan Alkitab kita melihat sebuah taman. Pada akhir Alkitab kita melihat sebuah kota. Di antara taman dan kota harus melalui sebuah proses yang panjang, dan harus melalui penggenapan-penggenapan banyak peker-jaan. Namun benih-benih yang ditaburkan dalam taman menjadilah tuaian dalam kota. Benih ini meliputi pohon hayat, sungai, dan tiga bahan berharga. Pada waktu dituai dalam kitab wahyu, bahan-bahan itu tidak lagi dalam bentuk asalnya, melainkan telah menjadi suatu bangunan yang ter-bangun dengan sangat serasi. Yerusalem Baru adalah suatu bangunan dari emas, mutiara, dan batu permata.

Jika kita membaca wahyu 21 dan 22 dengan seksama, kita akan melihat bahwa seluruh kota Yerusalem Baru adalah gunung emas, bukan gedung besar dari tanah liat. Gunung emas ini juga kota emas. Emas merupakan dasar dan kedudukan bangunan kota. Batu permata dibangunkan menjadi dinding Yerusalem Baru, dan setiap pintu gerbang pada dinding-dinding ini adalah mutiara yang besar. Dasar dari Yerusalem Baru adalah emas, dindingnya adalah dari batu permata, dan setiap pintu dari dua belas pintu gerbang adalah mutiara. Karena itu, kota ini ialah susunan dari ba-han-bahan berharga yang dulu dalam keadaan alami di ta-man. Dalam Kejadian, bahan-bahan itu tersebar di taman; tetapi dalam Wahyu, bahan-bahan itu telah terbangun men-jadi sebuah kota.

Ini bukan tafsiran saya. Antara Kejadian dan Wahyu ada 1 Korintus. Dalam 1 Korintus 3, Paulus mengatakan bahwa ia sebagai ahli bangunan yang cakap, telah mele-takkan dasar yang unik yaitu Yesus Kristus, dan kita semua harus memperhatikan bagaimana membangun di atasnya. Bahan-bahan apakah yang kita pergunakan untuk mem-bangun gereja? Paulus memberi tahu kita untuk mem-bangun dengan emas, perak, dan batu permata. (Nanti kita akan tahu mengapa Paulus mengganti mutiara dengan perak). Melalui ini kita dapat nampak bahwa bukan hanya Yerusalem Baru yang dibangun dengan emas, mutiara, dan batu permata, tetapi juga gereja pada zaman kini, harus di-bangun dengan emas, perak dan batu permata; bukan de-ngan kayu, rumput, dan jerami. Nanti kita akan melihat bahwa emas berlawanan dengan kayu, perak berlawanan de-ngan rumput, dan batu permata berlawanan dengan jerami.

Ketika saya masih muda dan nampak hal ini, saya sangat gembira. Saya melihat sebuah taman dalam Kejadian 2 dengan bahan-bahan berharga. Saya melihat sebuah kota dalam Wahyu dibangun dengan bahan-bahan berharga yang sama. Di antara Kejadian dan Wahyu, saya melihat gereja yang dibangun dengan emas, perak, dan batu permata. Saya melihat bahwa gereja merupakan susunan dari semua umat yang tertebus, dan susunan ini merupakan suatu bangunan. Siapakah emas, perak, dan batu permata? Anda dan saya. Kita, umat tebusan Allah, adalah bahan-bahan untuk bangunan rohani-Nya.

Pada zaman Perjanjian Lama Allah juga mempunyai sekelompok umat, yaitu bani Israel. Orang yang terkemuka di antara mereka ialah Imam Besar, yang mewakili mereka di hadapan Allah. Setiap kali Imam Besar datang ke hadap-an Allah demi umat itu, ia harus mengenakan dua tutup bahu dan sebuah tutup dada. Pada tutup bahu itu terdapat dua butir batu krisopras yang besar dan berukirkan nama-nama kedua belas suku Israel. Pada tutup dada terdapat lilitan emas bertatahan indah dan di dalamnya ditaruhkan dua belas batu permata dalam empat baris, masing-masing terdiri dari tiga buah batu. Dua belas batu pada tutup dada seiring dengan bilangan “dua belas” dalam Yerusalem Baru. Bilangan dua belas dalam kota dan pada tutup dada semua-nya terdiri dari empat kali tiga. Misalnya, pada tutup dada terdapat empat baris masing-masing dengan tiga batu se-baris, dan tiga pintu gerbang pada tiap-tiap sisi, jadi baik tu-tup dada maupun kota keduanya memiliki bilangan dua be-las. Demikianlah bilangan batu-batu pada tutup dada Imam Besar merupakan bilangan Yerusalem Baru. Lagi pula pada dua belas batu-batu itu diukir nama-nama kedua belas suku Israel. Dalam wahyu 21 terdapat nama-nama kedua belas suku ini pada dua belas pintu gerbang kota. Hal ini sangat bermakna.

Marilah kita melihat arti dari semuanya ini. Dalam Perjanjian Baru terdapat gereja yang dibangun dengan emas, perak, dan batu permata. Dalam Perjanjian Lama ter-dapat umat Allah yang tersusun dari emas dan batu permata untuk menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam pandangan Allah, tutup dada Imam Besar merupakan sebagian dari miniatur Yerusalem Baru yang akan datang. Demikian juga, gereja yang dibangun dengan emas, perak, dan batu per-mata, merupakan sebagian dari Yerusalem Baru. Dalam Perjanjian Lama ada bani Israel dengan kedua belas suku-nya. Dalam Perjanjian Baru ada gereja dengan kedua belas rasulnya. Karena itu, Israel ditambah dengan gereja sama dengan Yerusalem Baru. Nama-nama kedua betas suku Israel terdapat pada dua belas pintu gerbang Yerusalem Baru, dan nama-nama kedua belas rasul gereja terdapat pada dua belas batu-batu dasar kota itu. Bangunan itu mencakup seluruh Alkitab, yang diawali dengan sebuah taman dalam Kejadian sampai pada kesimpulannya, yaitu sebuah kota dalam Wahyu. Di antara taman dan kota terdapat dua kelompok umat, bath Israel dan gereja. Baik bani Israel maupun gereja mempunyai dua belas nama. Akhirnya kesemuanya ini telah diubah menjadi emas, perak atau mutiara, dan batu-batu permata. Jadi, taman, kota dan kedua kelompok umat ini, semuanya berhubungan dengan tiga golongan bahan-bahan berharga.

Dalam Alkitab, di antara taman dan kota, tidak hanya ada dua kelompok umat yaitu bani Israel dan gereja, yang diwakili dengan emas dan batu-batu permata, yang dibangun bersama sebagai tempat kediaman Allah, tetapi juga ada hayat dan sungai yang dinikmati oleh kedua kelompok ini. Mazmur 36:9-10 memberitahu kita bahwa bani Israel me-nikmati sumber air hayat dan sungai sukacita di dalam Allah. Yohanes 6 dan 7 menunjukkan bahwa orang-orang dalam gereja menikmati roti hayat dan sungai air hayat. Karena itu, dalam Alkitab tidak saja senantiasa menyinggung tentang bahan-bahan berharga, tetapi juga menyinggung hayat dan sungai yang disebutkan pada permulaan dan akhir dari Alkitab.

Mengapa dalam Kejadian 2 dan Wahyu 21 terdapat mutiara, tetapi dalam 1 Korintus 3 terdapat perak? Dalam 1 Korintus 3 terdapat perak karena dalam perlambangan, perak mewakili penebusan. Arti penebusan ialah menang-gulangi dosa. Jika tidak ada dosa, tidak perlu ada penebusan. Dalam taman di Kejadian 2 tidak ada dosa; dalam Yerusalem Baru di Wahyu 21 dosa telah dilenyapkan, sampai selama-nya. Dosa masuk pada kejadian 3 dan akan disingkirkan seluruhnya dalam Wahyu 20. Jadi dalam Kejadian 2 atau Wahyu 21 kita tidak menemukan hal dosa. Karena itu, da-lam suasana sedemikian tidak memerlukan penebusan — perak. Keperluannya bukanlah perak untuk penebusan, me-lainkan mutiara untuk kelahiran baru. Penebusan untuk menyingkirkan dosa; sedangkan kelahiran baru untuk mendatangkan hayat ilahi. Perak yang mewakili penebusan di antara Kejadian 2 dan Wahyu 21 disebabkan problema besar atas dosa yang memerlukan penebusan. Dalam zaman sekarang ini, kita memerlukan perak.

Dengan kesemuanya ini sebagai latar belakang, kini marilah kita melihat hal pengubahan. Kita telah melihat bahwa Allah mempunyai satu tujuan dan untuk mencapai tujuan ini, Allah menciptakan manusia sebagai bejana yang memiliki roh guna menampung diri-Nya. Tuhan Yesus memberi tahu seorang perempuan Samaria bahwa Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah-Nya harus menyembah-Nya dalam roh (Yoh. 4:24). Kalau kita menyembah Allah, kita harus menggunakan organ yang tepat. Sama halnya kita tidak dapat minum air dengan telinga kita, tetapi dengan mulut kita. Allah itulah air hayat. Jika kita ingin me-minum-Nya sebagai air hayat, kita harus menggunakan roh kita. Ketika kita menggunakan roh kita untuk mengontak Allah Sang Roh ini, kita dengan riil meminum Allah sebagai air hayat (Yoh. 4:24, 14). Jadi, Allah menciptakan manusia dengan sebuah roh untuk mengontak dan menyembah-Nya.

Allah adalah hayat. Allah sendiri adalah pohon hayat. Ketika Ia datang dalam daging, Ia mewahyukan diri sebagai hayat dan suplai hayat. Kristus ialah roti hayat (Yoh. 6:35). Apa saja yang kita makan akan diserap ke seluruh tubuh kita. Hal ini sangat bermakna dan penting sekali. Allah me-wujudkan diri-Nya dalam bentuk makanan untuk menjadi hayat kita; dan kita perlu menerima-Nya melalui makan Dia. Begitu Allah masuk ke dalam kita, niscayalah Ia men-jadi aliran hayat di dalam kita. Untuk makan dengan wajar, kita perlu makanan dan minuman. Yohanes 6 menyinggung roti hayat untuk makanan kita, dan Yohanes 7 menyinggung air hayat untuk minuman kita. Jika kita makan tanpa air, sukar untuk menelannya. Bagaimana kita dapat mencerna dan menyerap makanan kita tanpa air? Kita perlu aliran hayat. Dalam Kejadian 2 ada pohon hayat sebagai makanan kita dan aliran sungai sebagai minuman kita. Makanan dulu baru minuman. Ketika kita makan Tuhan sebagai makanan kita, kita juga meminum-Nya sebagai air yang mengalir di dalam kita.

1. Supaya Manusia Memiliki Sifat Ilahi — Emas

Dalam berita kesebelas kita nampak bahwa aliran air hayat ini menghasilkan tiga jenis bahan. Pertama ialah emas yang melambangkan sifat ilahi Allah. Semua pelajar Alkitab setuju bahwa dalam perlambangan, emas menunjuk-kan sifat ilahi. Emas itu sendiri bukan suatu benda yang telah mengalami pengubahan, melainkan suatu unsur. Mutiara dan batu permata adalah benda-benda yang telah mengalami pengubahan, tidak sama dengan emas, sebab mereka telah berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Emas adalah unsur ciptaan dan tidak dapat berubah atau di-ubah. Ini sangat bermakna. Besi atau baja dapat berubah se-telah sejangka waktu lamanya, tetapi emas tidak. Emas adalah unsur yang paling kuat dan paling mantap. Itulah sebabnya emas berharga dan mahal. Jadi dalam perlam-bangan, Allah memakai emas untuk menunjukkan sifat ilahi-Nya. Sifat ilahi ini telah masuk ke dalam kita. Unsur emas telah ditambahkan kepada kita (2 Ptr. 1:4; 1 Kor. 3:12; Why. 21:18, 21).

Setiap kali Anda menyembah Allah atau berdoa kepada-Nya selama jangka waktu tertentu, Anda akan merasa bahwa Anda adalah emas. Anda akan merasa bahwa Anda bersinar, berharga, dan mantap. Emas itu berbobot. Sebelum Anda berdoa, Anda ringan dan kendor; namun setelah Anda berdoa selama 2 jam, Anda mempunyai unsur yang berharga, bersinar, dan berbobot di dalam Anda. Apakah Anda tidak mempunyai pengalaman ini? Ketika Anda berdoa kepada Allah Bapa atau menyeru nama Tuhan Yesus, hayat ilahi mengalir dalam diri Anda dan membawakan emas.

Berkaitan dengan ini, saya ingin berbicara kepada para saudari tentang hal berbelanja (shopping). Jika kalian para saudari berdoa selama 2 jam. Setelah berdoa, kalian akan merasa bahwa kalian berharga dan berbobot. Kemudian, ka-lau kalian pergi ke Mall, Plaza, atau sejenisnya, dan ber-belanja dengan seenaknya tanpa mempedulikan emas yang di dalam kalian; jika kalian berbelanja dengan sikap yang sekendor itu, kalian akan merasa bahwa emas kalian seolah sirna. Walaupun emas itu tetap di dalam kalian, tetapi da-lam perasaan kalian, emas itu telah lenyap. Sebaliknya, jika setelah berdoa selama 2 jam, kalian ingin pergi berbelanja, perasaan emas ilahi yang di dalam kalian tidak menyetujui, lalu kalian berkata, “Amin, ya Tuhan. Kami takkan pergi.” Maka kalian akan merasa bahwa emas di dalam kalian bertambah berat. Jika kita terus-menerus berjalan di dalam roh, kita akan merasakan bahwa emas yang di dalam kita terus bertambah. Sifat ilahi akan bertambah di dalam kita.

Berapa banyak “emas” yang ada di dalam Anda? Ada orang mungkin mengaku bahwa dirinya hanya memiliki se-dikit emas. Jika kita mau banyak berdoa dan hidup di dalam roh, maka emas yang di dalam kita akan bertambah setiap hari. Aliran hayat ilahi akan menambahkan sifat ilahi kepada kita. Walaupun kita terbuat dari tanah liat, namun maksud hati Allah ialah ingin melalui aliran hayat-Nya, menyalurkan emas-Nya ke dalam kita. Dengan jalan inilah proses pengubahan dimulai.

Pengubahan memerlukan suatu unsur baru ditambahkan kepada unsur lama. Misalkan, saya adalah orang yang berwajah pucat. Jika Anda mewarnai wajah saya dengan make-up, itu hanya kecantikan di luar, bukan pengubahan di dalam. Jika saya ingin memiliki suatu pengubahan yang sungguh, harus ada unsur baru ditambahkan kepada saya. Bagaimanakah unsur itu dapat ditambahkan? Dengan jalan makan. Jika saya makan makanan yang bergizi hari demi hari, saya akan mengalami pengubahan batiniah, yakni pengubahan metabolis yang batiniah di dalam hayat. Selama terjadi pengubahan metabolis, unsur-unsur baru ditambahkan dan unsur-unsur lama disingkirkan. Inilah pengubahan.

2. Supaya Manusia Dilahirkan Kembali — Mutiara

Mutiara melambangkan apa? Meskipun dalam 1 Korintus mutiara diganti dengan perak untuk keperluan pene-busan, namun mutiara itulah maksud semula Allah. Ketika saya masih muda, saya tidak tahu apakah yang dimaksud dengan mutiara dalam Alkitab. Tetapi setelah melalui ba-nyak pengalaman bersama Tuhan, sekarang kita tahu arti mutiara.

Renungkanlah, bagaimana sebutir mutiara dapat ter-bentuk? Tiram yang hidup di laut terluka oleh sebutir pasir, lalu tiram mengeluarkan getah hayat membungkus butir pasir itu sehingga butir pasir itu menjadi mutiara. Kristus adalah “tiram” yang berada dalam samudera dunia ini. Kita adalah butir-butir pasir yang melukai-Nya dan setelah me-lukai-Nya, kita masih tinggal di dalam luka-Nya. Hayat-Nya mengeluarkan unsur-unsur hayat untuk menyelubungi kita selapis demi selapis, akhirnya setelah tertutup penuh oleh getah hayat ini, kita menjadi sebutir mutiara (Mat. 13:46). lnilah pengalaman dilahirkan kembali. Asalnya kita adalah butir-butir pasir yang kecil, tetapi ketika getah hayat Kristus membungkus diri kita, kita menjadilah mutiara. Setiap pintu gerbang Yerusalem Baru adalah sebutir mutiara, menunjuk-kan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Why. 21:21). Tuhan Yesus berkata bahwa jika kita tidak dilahirkan kembali, kita tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5; cf. Tit. 3:5). Kita semua telah dilahirkan kembali dan dapat masuk ke dalam Kerajaan. Tidak hanya demikian, karena menjadi mutiara, kita bahkan menjadi pintu masuk.

Setelah masuk Yerusalem Baru melalui pintu gerbang mutiara, kita akan berjalan di atas jalan emas (Why. 21:21). Ini berarti kita berjalan menurut sifat ilahi dan sifat ilahi ini menjadi jalan kita. Kelahiran kembali adalah pintu ger-bang kita, dan sifat ilahi adalah jalan kita. Janganlah pergi ke orang lain dan bertanya apa yang harus Anda perbuat. Tuhan Yesus itulah jalan Anda (Yoh. 14:6). Anda hanya per-lu berjalan menurut jalan dari emas murni ini, yakni me-nurut sifat ilahi yang ada di dalam Anda. Saudara-saudara, apakah kalian memangkas rambut menurut sifat ilahi? Saudara-saudari, apakah kalian berbelanja menurut sifat ilahi? Saya sungguh yakin bahwa jalan emas ini takkan per-nah menjurus ke gedung bioskop. Ketika Anda pergi menuju ke bioskop, Anda akan mendapatkan diri Anda berada di lalan tanah liat. Kita semua perlu menempuh jalan emas. Berada di jalan emas berarti menjamah sifat ilahi Allah.

3. Supaya Manusia Diubah

Menjadi Rupa Kristus — Batu Permata

Walaupun kita mempunyai pintu gerbang mutiara dan jalan emas, kita belum mempunyai dinding yang dibangun untuk mengekspresikan rupa Allah. Dinding Yerusalem Baru tidak saja merupakan pembatas yang ditegakkan untuk me-misahkan yang kudus dan yang awam, tetapi juga merupa-kan suatu bangunan yang mengekspresikan rupa Allah. Dalam Wahyu 4:2-3, Allah duduk di takhta nampak bagaikan permata yaspis. Dinding Yerusalem Baru dan batu dasar pertama dari dinding itu dibangun dengan permata yaspis (Why. 21:18-19), menyatakan rupa yang sama seperti Allah. Meskipun kita telah melalui pintu gerbang mutiara dan ber-jalan di atas jalan emas, saya masih mengharapkan untuk melihat sebuah dinding yang dibangun di sekitar kita untuk melingkupi semua barang ilahi, memisahkan semua barang duniawi ke luar, dan mengekspresikan rupa Allah. Dinding ini dibangun dengan jalan pengubahan (2 Kor. 3:18; Rm. 12:2a; 1 Kor. 3:12a). Semua bahan dinding-dinding itu adalah batu-batu permata yang telah diubah (Why. 21:11, 18a, 19-20). Hanya orang-orang yang telah diubah yang dapat di-bangun bersama-sama.

Dari manakah batu-batu permata itu? Batu-batu per-mata adalah benda-benda yang telah mengalami pengubah-an. Semua batu permata berasal dari benda-benda lain. Me-lalui tekanan dan panas, benda-benda itu menjadi batu api. Yang lain terbentuk sebagai batu endapan oleh karena te-kanan dan aliran air. Semuanya berubah menjadi batu-batu permata. Berlian (Kel. 28:18) dibentuk dari karbon yang mengalami panas dan tekanan. Di bawah tekanan yang luar biasa dan panas yang amat tinggi, karbon menjadilah ber-lian. Inilah prinsip perubahan batu-batu permata.O, kita perlu pembakaran, kita perlu aliran air hayat dan kita perlu tekanan.

Setelah memasuki pintu gerbang mutiara dan berjalan di atas jalan emas, Anda mungkin mengira bahwa dalam segala hal Anda sudah benar terhadap Tuhan. Sejauh ditinjau dari pintu gerbang dan jalan, Anda memang normal terhadap Tuhan. Ketika Anda berjalan di atas jalan emas, Anda mungkin tidak memiliki masalah dengan Tuhan, namun kesulitan lain terjadi. Misalnya, sebagai seorang saudara muda, mungkin Anda mengharapkan menyunting seorang saudari yang baik sebagai istri Anda. Demikian juga bagi saudari, mengharapkan mendapatkan seorang saudara muda yang bagus sebagai suaminya. Tetapi orang-orang yang telah menikah bisa bersaksi, bahwa pernikahan di satu aspek adalah kenikmatan, di aspek lain adalah penyebab penderitaan. Setiap suami adalah sumber penderitaan bagi istri dan setiap istri adalah sumber penderitaan bagi suami. Mungkin Anda memberikan kenikmatan bagi pasangan Anda, tetapi Anda toh juga memberikan penderitaan. Kita mungkin berusaha sebaik-baiknya untuk menyenangkan pasangan kita, namun tak dapat dihindari kalau kita juga memberikan penderitaan kepada pasangan kita. Meskipun pernikahan adalah penyebab penderitaan, namun tak dapat tidak harus ada. Pernikahan kita bukan di tangan kita sen-diri, melainkan diatur oleh Tuhan Sang berdaulat menurut pengaturan ekonomi-Nya. Selain penderitaan yang disebab-kan oleh pernikahan, masih banyak penderitaan-penderitaan yang lain. Sepanjang jalan emas ini masih terdapat banyak kesusahan dan duri yang menusuk.

Di dapur Anda terdapat banyak perkakas. Di antaranya ada perapian dan kompor. Tanpa perapian dan kompor sukar untuk memasak dengan baik. Di satu pihak, gereja adalah sebuah taman, di pihak lain, gereja adalah ruang makan dan dapur. Tanpa dapur, ruang makan hampa. Dapur gereja mempunyai perapian besar dengan banyak bilik. Dalam perapian itu ada sebuah bilik untuk kita masing-masing. Saya dapat bersaksi dari pengalaman saya sendiri bahwa dalam gereja kita sungguh-sungguh dibakar demi pengubah-an kita. Saudara-saudara terkemuka terus-menerus saling membakar satu sama lain. Suami membakar istri dan istri membakar suami. Inilah perapian Allah untuk pengubahan kita.

Kita adalah bejana-bejana tanah liat yang diciptakan. Walaupun bejana-bejana ini berguna, tetapi bahannya — tanah liat, tidak sesuai dengan Yerusalem Baru. Di Yeru-salem Baru tidak ada batu bata, hanya ada batu-batu yang telah diubah. Kita perlu sejumlah besar tekanan, pembakar-an, dan pengaliran air hayat sebelum kita bisa diubah men-jadi batu-batu permata. Semakin banyak kita mengalami tekanan, pembakaran, dan pengaliran, kita akan semakin berharga.

4. Untuk Pembangunan Umat Tebusan Allah

Paulus memperingatkan kita untuk membangun gereja dengan cara yang benar. Pekerjaan di antara kebanyakan orang Kristen bukanlah dengan emas, perak atau mutiara, dan batu-batu permata, melainkan dengan kayu, rumput, dan jerami. Dalam perlambangan, emas menunjukkan sifat ilahi, kayu mewakili sifat insani kita. Karena itu, kayu ber-lawanan dengan emas. Kita sering sekali mengatakan bahwa kita adalah manusia, terutama pada waktu kita berbuat kesalahan. Tetapi kita tidak boleh menggunakan keinsanian kita sebagai alasan. Keinsanian kita haruslah keinsanian yang telah bangkit, sebab keinsanian alamiah tidak sesuai hagi pembangunan gereja Allah. Pembangunan gereja me-merlukan keinsanian yang telah diubah, bukan keinsanian kayu.

Rumput berlawanan dengan perak. Alkitab memberitahu kita bahwa semua daging adalah rumput (Yes. 40:6; 1Ptr. 1:24). Rumput melambangkan orang yang menjadi daging. Rumput tidak seteguh kayu; rumput lemah dan mu-dah patah. Maka rumput mewakili alamiah manusia yang jatuh.

Butir terakhir yang disebut Paulus dalam 1 Korintus 3:12 adalah jerami. Jerami ialah batang tanaman padi-padian yang tertinggal setelah biji-bijinya ditebah. Jerami berasal dari tanah, berlawanan dengan batu permata yang telah melewati suatu pengubahan. 1 Korintus 3:12 mem-perlihatkan kepada kita suatu perbedaan yang sangat men-colok. Kayu adalah pohon tanpa buah, dan jerami adalah tanaman tanpa biji-bijian. Kita jangan menjadi kayu atau jerami, bahan-bahan itu akan dibakar dan tidak berguna bagi pembangunan gereja Allah.

Untuk bangunan Tuhan, kita perlu emas ilahi, mutiara kelahiran kembali, dan batu-batu permata yang mengalami pengubahan. Semakin banyak kita mempunyai semua ini, makin mudahlah kita dibangun bersama. Jika kita meng-alami emas, perak, dan batu permata, tidak saja kita akan menjadi bahan-bahan berharga, kita bahkan akan terbangun bersama dengan serasi, menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh kita (Ef. 2:22). Jadi, pengubahan adalah untuk bangunan Allah. Kita perlu berdoa dan bersekutu tentang hal ini, supaya Tuhan dapat membawa kita masuk ke dalam realitas pengubahan bagi bangunan-Nya.