← Daftar isi Kejadian (1) · bab 12/15

PROSEDUR ALLAH UNTUK MENCAPAI TUJUAN-NYA (2)

Dalam kesepuluh berita yang lalu kita telah melihat dengan jelas dari firman Allah, bahwa tujuan Allah yang kekal ialah mengekspresikan diri-Nya melalui manusia dan mengamanatkan kekuasaan-Nya kepada manusia, supaya manusia memerintah bagi-Nya di bumi. Kita juga telah me-lihat bahwa dengan cara hayatlah Allah mencapai tujuan-Nya. Sebagai langkah pertama untuk mencapai tujuan-Nya, Allah menciptakan manusia dengan cara yang khas, yakni membentuk mereka sebagai bejana untuk menampung diri-Nya, bukan sebagai alat untuk bekerja bagi-Nya. Roma 9 dengan tegas mengatakan bahwa Allah menciptakan ma-nusia dari tanah hat agar dijadikan bejana belas kasihan-Nya, bahkan untuk suatu kehormatan dan kemuliaan, yakni menampung Allah sendiri. Maka, Allah menciptakan ma-nusia dengan suatu organ yang khas — roh manusia. Jangan lupa akan Zakharia 12:1 yang mengatakan bahwa Allah membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi dan menciptakan roh dalam diri manusia. Dalam alam semesta ini ada tiga benda yang diperlukan bagi pencapaian tujuan Allah : langit, bumi, dan roh manusia. Terutama roh manusia sangatlah penting; sama pentingnya dengan langit dan bumi dalam mencapai tujuan Allah. Walaupun roh manusia tidak seluas langit atau sebesar bumi, namun merupakan sesuatu yang paling penting pada diri manusia.

Ayub 32:8 mengatakan, “Roh yang di dalam manusia.” Setiap orang mengetahui bahwa manusia mempunyai hati, pikiran, kemauan, dan hati nurani, tetapi tidak banyak orang yang menyadari bahwa manusia mempunyai roh. Yang di-maksud roh di sini bukanlah Roh Kudus Allah, melainkan roh manusia. Kita mempunyai organ demikian yang di-ciptakan oleh Allah.

Lihatlah organ-organ pada tubuh jasmani kita : kita mempunyai indra pendengar, pelihat, pencium, pengecap, dan peraba. Dengan mata, saya dapat melihat aneka warna. Jika saya buta, saya takkan dapat mensubstansiasikan (mewujudkan, membuktikan) adanya warna. Meskipun warna tetap ada, tetapi saya tak berdaya mensubstansiasi-kannya, sebab suatu benda hanya dapat disubstansiasikan oleh organ yang khusus dirancang untuk tujuan itu. Ketika saya sedang berbicara, telinga Anda mensubstansiasikan adanya bunyi dari suara saya. Kalau Anda tidak bertelinga, maka bagi Anda seolah-olah suara saya tidak ada. Demikian juga dengan daya pencium kita. Walaupun dalam kamar ini mungkin ada bau harum, kita membutuhkan daya pencium untuk mensubstansiasikannya.

Allah tidak hanya menciptakan organ-organ jasmaniah kita, tetapi juga organ-organ jiwa. Bagaimana kita dapat mensubstansiasi adanya pikiran? Kita mensubstansiasi ada-nya pikiran dengan fungsi otak kita. Demikian juga dengan kegembiraan dari organ emosi dalam jiwa kita, kita dapat merasakan kegembiraan. Kita mensubstansiasi adanya pikiran dan kegembiraan dengan organ jiwani kita yang tepat dalam jiwa kita.

Selain organ jasmani dan jiwani kita, Allah telah men-ciptakan suatu organ rohani — yaitu roh manusia. Meski-pun roh kita sukar untuk dipahami, sedikit banyak kita dapat mengetahuinya dari fungsi hati nurani kita. Walaupun yang mengerti akan roh manusia masih sedikit, namun setiap orang tahu arti dari hati nurani. Menurut Alkitab, hati nurani kita adalah organ yang pokok dalam roh ma-nusia. Di manakah letak hati nurani kita? Sulit untuk me-nentukannya. Sesungguhnya juga sulit untuk menentukan letak emosi, pikiran, dan hati kita. Sebenarnya kita mem-punyai dua hati, hati jasmani dan hati jiwani. Menentukan letak hati jasmani kita mudah, tetapi tidak mudah me-nentukan letak hati jiwani kita. Tak dapat disangkal bahwa kita mempunyai hati yang demikian, tetapi kita tidak dapat menentukan letaknya. Demikian pula dengan hati nurani kita. Meskipun kita tidak dapat memastikan letaknya, namun kita tahu ia ada; sebab ia senantiasa mendakwa kita atau melewatkan kita. Hati nurani kita terus-menerus mencela alasan dan emosi kita. Contohnya, misalkan bebe-rapa anak muda di sekolah tergoda untuk mencuri, sewaktu mereka berpikir bahwa orang lain kaya dan mempunyai segala sesuatu, sedangkan mereka sendiri miskin. Maka, mereka memutuskan mencuri milik orang lain, membuat alasan yang sangat lunak untuk membenarkan perbuatan mereka. Pikiran mengiyakan, emosi setuju, dan tekad me-mutuskan. Bagaimanapun ketika mereka akan melakukan tindakan mencuri, hati nuraninya mencela, “Jangan melakukan ini, ini tidak benar.” Bahkan seandainya mereka tidak mempedulikan perasaan hati nuraninya dan mencuri se-suatu, suara hati nurani itu akan mengutuknya sampai ber-hari-hari. Suara dari dalam itu bukan dari pikiran, emosi, atau hati, melainkan dari hati nurani; dan hati nurani ada-lah bagian yang terpenting dari roh kita.

Sekarang kita harus mengaitkan hal ini kepada sebuah persoalan yang sangat penting tentang Allah. Apakah Allah itu? Hakiki Allah adalah Roh. Dalam Yohanes 4:24 Yesus mengatakan bahwa Allah itu Roh. Meja yang ada di sisi saya ini terbuat dari kayu; kayu itulah hakikinya. Sama pula, Allah itu Roh; jadi Roh itulah hakiki ilahi Allah. Roh ma-nusia kita adalah organ yang dengannya kita dapat men-subtansiasi hakiki ilahi itu. Jika kita berusaha mengalami Allah tanpa menggunakan roh kita, itu seperti berusaha mensubstansiasi adanya warna-warna tanpa menggunakan penglihatan kita. Jika kita menggunakan organ yang salah, mustahillah kita dapat mensubstansiasi adanya Allah. Ter-pujilah Allah bahwa dalam ciptaan-Nya, Ia menciptakan roh di dalam kita. Karena kita dijadikan sebagai bejana pe-nampung Allah, kita sungguh-sungguh memerlukan roh kita sebagai alat penerima yang tepat.

Wadah penerima dalam tubuh jasmani kita adalah pe-rut. Jika kita memiliki mulut tanpa perut, takkan mungkin menerima makanan untuk mencukupi kebutuhan seluruh tubuh. Perut bukan hanya organ penerima, tetapi juga organ pencerna yang dapat menyerap makanan dan menyalur-kannya ke dalam sel-sel darah. Akhirnya sari-sari makanan yang telah dicerna dan diserap itu menjadi jaringan organik kita. Allah berkehendak menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Bagaimanakah Ia dapat melakukan hal ini? Ia melakukannya dengan jalan menjadi makanan kita. Tuhan sebagai “roti hidup” (Yoh. 6:35). Ia juga berkata, “Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:57). Ini berarti Yesus tidak hanya sebagai Juruselamat, Penebus, dan hayat kita, tetapi juga suplai hayat kita. Dialah roti hayat. Allah damba menyalurkan diri-Nya ke dalam kita dengan jalan menjadi makanan untuk kita terima. Organ apakah yang kita pakai untuk menerima Allah ke dalam kita? Itulah roh manusia kita.

Kita perlu berdoa. Berdoa bukan hanya mohon Tuhan mengerjakan sesuatu bagi kita. Pengertian doa semacam itu terlalu dangkal. Berdoa adalah bernafas. Setiap kali kita berdoa, “Ya, Bapa yang di surga!” atau berseru, “0, Tuhan Yesus!” itulah bernafas. Ketika kita bernafas, kita meng-hirup udara ke dalam kita. Demikian juga, kapan saja kita berdoa kepada Allah dengan menggunakan roh kita, kita menerima hakiki ilahi Allah ke dalam roh kita. Di dalam roh kita, kita menghirup-Nya dan menyalurkan unsur-unsur ilahi-Nya ke dalam seluruh diri kita. Dengan jalan inilah Allah masuk ke dalam kita sebagai hayat. Sebagai manusia, kita telah diciptakan oleh Allah dengan suatu cara yang sangat istimewa: kita dijadikan sebagai bejana yang memiliki sebuah penerima, yaitu roh manusia kita. Inilah langkah pertama yang ditempuh Allah untuk mencapai tujuan-Nya.

3. Langkah Kedua — Menghendaki Manusia Menerima Allah sebagai Hayat — 2:8-17

Sekarang marilah kita melihat langkah kedua. Umumnya orang tidak dapat menyempurnakan sesuatu dengan satu langkah saja. Karena itu, setelah Allah menciptakan manusia sebagai bejana dan dengan adanya roh manusia un-tuk menerima dan menampung-Nya, Ia menempuh langkah lain dengan menempatkan manusia di depan pohon hayat.

a. Menempatkan Manusia di depan Pohon Hayat

Sebagaimana telah saya sebutkan dalam berita yang lalu, sewaktu masih muda, saya sukar memahami Kejadian 2 karena seolah-olah bukan merupakan tulisan klasik seperti dugaan saya. Hal itu mengingatkan saya tentang permainan beberapa anak yang membuat patung-patung dari tanah hat dan meletakkannya di hadapan benda-benda tertentu. Bagai-manapun, menurut Kejadian 2, Allah menempatkan manu-sia di depan pohon hayat. Apakah hayat? Hayat itu miste-rius. Bahkan para dokter atau ahli biologi pun tidak dapat memberikan definisi tentang hayat. Meskipun hayat itu mis-terius, pohon hayat dalam Kejadian 2 telah menunjukkan hayat secara konkret dan Mungkin kita ingin sekali mengetahui makna dari pohon hayat, tetapi kita tidak bisa tergesa-gesa, kita tidak boleh membicarakan sesuatu yang semisterius hayat secara terburu-buru dan dangkal. Tidak-lah sulit membicarakan papan tulis ini, tetapi sukar sekali berbicara tentang hayat. Untuk sementara waktu ini kita hanya perlu mengetahui bahwa Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat.

Ketika saya masih muda dan membaca 2 pasal pertama dari kitab Kejadian, saya tidak paham mengapa Allah tidak memerintahkan Adam menyembah-Nya sebagai Pencipta. Saya pikir seharusnya Allah memberi tahu Adam, “Aku adalah Penciptamu. Kamu harus menyembah Aku setiap pagi, siang, dan malam. Kamu harus menyembah Aku sedikitnya tujuh kali sehari. Kamu harus menundukkan kepala, berlutut dan bersembah sujud di hadapan-Ku. Aku akan menuliskan syair pujian untukmu supaya kamu dapat belajar menyembah Aku.” Itulah konsepsi saya. Menurut hemat saya, Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat tanpa mengerjakan apa pun adalah tolol. Dan lagi saya rasa bahwa setelah Allah menciptakan Hawa, Ia harus memberi Adam dan Hawa suatu khotbah pernikahan yang mengatakan, “Adam, kamu harus berterima kasih kepada-Ku karena Aku memberikan istri yang begitu manis ku-padamu. Kamu harus berjanji kepada-Ku bahwa kamu akan mencintainya sampai selamanya. Hawa, Kuperintahkan kamu, sebagai istri harus tunduk kepadanya.” Bagi saya se-akan-akan sangat logislah kalau Allah mempunyai tuntutan yang demikian. Di bawah pengaruh kekristenan, terutama pelaksanaan upacara pernikahan, saya kira Allah akan memberikan khotbah pernikahan kepada pasangan yang pertama. Namun Allah tidak berbuat begitu. Ia seolah-olah hanya memberi tahu mereka, “Berhati-hatilah terhadap apa yang kamu makan. Kamu harus makan dengan betul. Aku tak mempedulikan apakah kamu mencintai istrimu ataukah kamu tunduk kepada suamimu. Aku tidak begitu mempe-dulikan hal penyembahan. Aku memperhatikan apa yang kamu makan. Jika kamu salah makan, tentu kamu menjadi salah. Kalau kamu makan pohon yang salah, kamu tentu akan mati. Adam, kamu harus sadar bahwa persoalannya bukan apa yang kamu kerjakan, melainkan apakah dirimu itu. Kamu akan menjadi apa yang kamu makan. Jika kamu makan kebinasaan, kamu akan mati. Jika kamu makan hayat, kamu akan hidup. Bukan soal apa yang dikerjakan, tetapi soal hakiki. Hati-hatilah terhadap makananmu.” Pada hari-hari permulaan saya menjadi orang Kristen, saya di-bingungkan oleh hal ini. Terus terang, selama waktu itu saya secara jujur mengakui, bahwa saya tidak menyukai Kejadian 2. Saya menyukai pasal 1 yang menggambarkan pekerjaan penciptaan Allah, tetapi saya merasa pasal 2 mirip dengan gambar kartun anak-anak.

Setelah Allah menciptakan manusia, Ia meletakkannya di depan sebuah pohon. Allah tidak menyuruh dia untuk me-naati sepuluh hukum dengan berbagai permintaannya. Tidak ada perintah-perintah, tetapi ada penempatan. Allah me-nempatkan manusia di depan pohon hayat, Ia menghen-daki manusia makan pohon ini. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat arti pohon hayat.

(1) “Sebelah Timur” — Tempat Mulia Cemerlang

Menurut Kejadian 2:8, penempatan ini adalah “di sebe-lah timur”. Ketika kita membaca Kejadian 2, kita harus mengerti bahwa catatan ini adalah tulisan dalam bahasa lambang, dan lambang ini perlu dikiaskan. Dalam berita ke-sepuluh saya katakan bahwa memang tidak salah untuk mengiaskan Alkitab, bahkan rasul Paulus pun mengiaskan Sarah dan Hagar (Gal. 4:22-26). Maka kita perlu mengiaskan Kejadian 2. Dalam Alkitab “sebelah timur” melambangkan arah dari kemuliaan cemerlang, sebab terbitnya matahari yang mulia terdapat di sebelah timur (Yeh. 43:2). Hal ini sangat bermakna. Setiap kali kita berkumpul bersama dan ada penyertaan Tuhan, segera di dalam kita merasa bahwa sidang ini sangatlah mulia. Selesai sidang yang demikian Anda akan pulang dan memberi tahu istri Anda tentang kemuliaan yang Anda alami.

(2) “Eden” — Tempat Sukaria

Allah meletakkan manusia di Eden. Kata “Eden” dalam bahasa Ibrani berarti “sukaria”. Maka Eden adalah tempat sukaria, kenikmatan, dan penghiburan. Jangan mengira bahwa hiburan itu salah. Hiburan yang berdosa dan duniawi hari ini tentu saja salah, tetapi hiburan dalam Allah adalah benar.

(3) “Taman” — Tempat yang Indah dan Menyenangkan

Allah meletakkan manusia di sebuah taman, bukan di pabrik, sekolah, atau katedral. Ia menempatkan manusia di sebuah taman, tempat yang tidak saja indah, tetapi juga menyenangkan, pun tempat untuk menumbuhkan sesuatu. Taman bukan lapangan untuk orang-orang bermain, atau pabrik tempat orang-orang bekerja, atau sekolah tempat orang-orang belajar, atau rumah sakit tempat orang diopname, atau katedral tempat orang-orang berbakti; taman justru tempat untuk menumbuhkan sesuatu, tempat untuk meng-hasilkan hayat. Hayat merupakan pokok pikiran Kejadian 1 dan 2. Allah tidak banyak mempedulikan belajar atau bah-kan penyembahan. Ia mempedulikan pertumbuhan. Justru karena itulah Ia menempatkan manusia di taman. Hidup gereja tidak boleh seperti sekolah atau katedral, hidup gereja harus seperti sebuah taman. Dalam 1 Korintus 3:9 Paulus mengatakan, “Kamu adalah ladang Allah.” Pikiran Paulus dalam 1 Korintus 3 sama dengan pikiran Allah dalam Kejadian 2, sebab ladang adalah tempat bagi pertumbuhan. Karena menghasilkan hayat, maka dalam taman tertampak benda-benda yang indah. Sebaliknya, sukar untuk menemu-kan keindahan-keindahan di pabrik. Tempat yang paling indah, menyenangkan, dan elok adalah taman dengan tum-buh-tumbuhan yang berwarna-warni bertumbuh di sana. Puji Tuhan bahwa manusia ditempatkan di dalam sebuah taman.

(4) Ada Berbagai Macam “Pohon”

Bagian yang terpenting dalam taman adalah pohon-pohon. Dalam Alkitab konsepsi mengenai pohon sangatlah penting. Ketika Alkitab menyebutkan manusia, baik pada awal maupun akhir Alkitab, juga menyebutkan pohon. Manusia akan memperoleh hayat atau maut, hidup kekal atau binasa, semuanya tergantung pada perlakuan manusia terhadap pohon (cf. Kej. 2:16-17, 3:1-3, 22, 24; Yeh. 47:12; Why. 22:2, 14, 19). Demikianlah konsepsi tentang pohon mu-tlak penting terhadap nasib manusia.

(a) “Menarik untuk Dipandang” — Menyenangkan Manusia

Fakta Tuhan Allah menjadikan setiap pohon yang menarik untuk dipandang (Kej. 2:9) berarti Allah ingin menyenangkan manusia dan membuatnya gembira. Allah bukan menghendaki manusia bekerja, melainkan menghendaki manusia gembira dan puas sepenuhnya. Hal ini berlawanan dengan konsepsi agama kita, yaitu menyembah Allah. Ketika saya masih muda, saya melihat banyak penyembah Allah bermuka panjang. Bagaimanapun Allah tidak memperhatikan penyembah macam itu, Ia malah memperhatikan kegembiraan kita. Itulah sebabnya di beberapa tempat dalam Mazmur memberi tahu kita, “Bersorak-soraklah bagi Tuhan” (Mzm. 95:1; 100:1). Allah menikmati wajah kita yang berseri-seri tersenyum. Ia suka melihat kita gembira bersama-Nya dan puas beserta-Nya. Janganlah memikirkan apa yang telah Anda kerjakan bagi Allah atau tentang apa yang harus Anda kerjakan bagi-Nya. Anda perlu memikirkan apakah Anda bersukacita di dalam Tuhan atau tidak. Roma 14:17 menga-takan bahwa Kerajaan Allah adalah kebenaran, damai sejah-tera, dan sukacita oleh Roh Kudus. Anda harus bersukacita di hadapan Allah. Jika Anda tidak bersukacita di hadapan-Nya, tidak gembira, itu berarti Anda telah bermasalah dengan Allah. Segala sesuatu yang Anda lakukan bagi Allah akan menjadi beban berat bagi Anda jika Anda tidak mempunyai sukacita. Anda tidak perlu beban seperti itu; Anda perlu bersukacita. Anda perlu penuh riang, nyaman, dan dipuaskan sepenuhnya bersandar Allah dan dengan Allah.

(b) Baik untuk Dimakan — Untuk Memuaskan Manusia

Kejadian 2:9 mengatakan, pohon-pohon itu baik untuk dimakan. Perhatikan bahwa Alkitab tidak mengatakan pohon-pohon itu baik untuk menghasilkan material, sebab dalam Kejadian tidak ada konsepsi tentang jerih payah atau penca-paian manusia. Maka tidak disebutkan material buatan. Konsepsi Kejadian 2 seluruhnya berpusat pada hayat. Maka dikatakan bahwa pohon-pohon itu baik untuk dimakan, sebab makanan berhubungan dengan hayat. Tanpa makanan kita tidak dapat hidup. Makanan mempertahankan hidup kita dan memuaskan kita.

(c) Dengan “Pohon Hayat” Sebagai Intinya

Pohon hayat terdapat di tengah-tengah taman. Jika kita mempelajari catatan Kejadian 2, kita dapat nampak bahwa kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, tidak ada satu pohon pun yang disebut namanya selain dari pohon hayat. Kita tidak tahu nama-nama pohon lain-nya, tetapi kita jelas tahu ada sebuah pohon yang disebut pohon hayat. Ini menandakan pohon hayat itulah intinya.

1) Inti Alam Semesta

Pohon hayat adalah inti alam semesta. Sesuai dengan ketetapan Allah, bumi adalah inti alam semesta, taman Eden adalah inti bumi, dan pohon hayat adalah inti taman Eden. Kita harus menyadari bahwa seluruh alam semesta berpusat pada pohon hayat ini: bagi Allah maupun manusia tidak ada hal yang lebih penting dan lebih inti daripada pohon ini. Me-lihat manusia berdiri di depan pohon hayat di dalam taman, sangatlah berarti.

2) Supaya Manusia dapat Menerima Allah Sebagai Hayat

Pohon ini membuat manusia menerima Allah sebagai hayat. Bagaimana kita dapat membuktikan hal ini? Kitab--kitab selanjutnya dalam Alkitab mewahyukan Allah sebagai hayat. Jadi, pohon hayat di dalam taman adalah petunjuk hahwa Allah bermaksud menjadi hayat manusia dalam ben-tuk makanan. Menurut Injil Yohanes, pada suatu hari, Allah menjadi manusia (Yoh. 1:1, 14). Dalam Dia ada hayat (Yoh. 1:4). Hayat yang dinyatakan oleh pohon hayat dalam Kejadian 2 adalah hayat yang berinkarnasi dalam Yesus, Allah dalam tubuh daging. Yesus memberi tahu kita bahwa Ia sendiri adalah hayat (Yoh. 14:6). Dan lagi, Yohanes 15 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah sebuah pohon, pohon anggur. Di satu pihak, Ia adalah pohon, dan di pihak lain, Ia adalah hayat. Ketika kita mengumpulkan bagian-bagian ini dari Yohanes, kita tahu bahwa Yesus adalah pohon hayat. Yesus berkata bahwa Dialah roti hayat, artinya Ia telah datang kepada kita sebagai pohon hayat dalam ben-tuk makanan.

Untuk dapat mengerti Alkitab tidaklah mudah. Per-kenankan saya bertanya kepada Anda: berapa tingginya pohon hayat itu? Jika Anda bertanya demikian kepada saya, saya akan menjawab, pohon itu tidak lebih tinggi daripada saya. Saya menjawab demikian sebab Adam yang ditem-patkan di depan pohon hayat mungkin tidak lebih tinggi daripada saya. Jika pohon hayat itu amat tinggi, buahnya tidak dapat dijangkau. Adam dan Hawa tidak mempunyai tangga atau perkakas lain yang dapat digunakan untuk memetik buah pohon itu. Maka, saya percaya pohon hayat tidaklah tinggi.

Sebagai Allah yang Mahakuasa, Yesus Mahatinggi, tetapi ketika Ia datang kepada kita sebagai makanan, Ia menjadi rendah. Dia menjadi sepotong roti. Bahkan Dia ada-lah remah-remah di bawah meja (Mat. 15:21-27). Sung-guhlah Yesus yang datang kepada kita sebagai hayat dalam bentuk makanan ini tidaklah tinggi dan besar; Dia kecil dan rendah. Segala yang kita makan harus lebih kecil daripada kita; kalau tidak, mustahil dimasukkan ke dalam kita. Bahkan jika makanan kita lebih besar daripada kita, harus dipotong menjadi potongan-potongan yang cukup kecil untuk dimakan. Karena itu, Yesus datang kepada kita sebagai hayat dalam bentuk makanan. Ia berkata, “Akulah roti hayat,”dan “siapa saja makan Aku, ia akan hidup oleh Aku.” Allah dalam Putra adalah pohon hayat yang baik untuk dimakan. Hari demi hari kita boleh memakan Dia, mendapatkan rawatan-Nya.

3) Melambangkan Kristus

Pohon hayat melambangkan Kristus yang menyalurkan hayat kepada manusia, menyenangkan, dan memuaskan manusia (lih. Yoh. 15:1; Kel. 15:25). Kristus menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita, membuat kita senang, puas. Banyak di antara kita dapat bersaksi tentang hal ini. Kita dapat berkata, “Haleluya! Yesus telah menyalurkan hayat kepadaku. Ia memuaskan aku sepanjang waktu.” Inilah pohon hayat.

(5) Ada Sebatang “Sungai”

Menyertai pohon itu ada sebatang sungai (Kej. 2:10). Karena pohon itu adalah pohon hayat, maka sungai itu tentu juga berhubungan dengan hayat. Pada akhir Alkitab kita juga melihat sungai hayat mengalir dan pohon hayat ben tumbuh (Why. 22:1-2). Pada awal dan akhir Alkitab kita Jumpai pohon hayat dan sungai yang mengalirkan air hayat. I)alam Alkitab, konsepsi sungai juga sangat penting. Ketika Alkitab menyebut manusia, juga menyebut sungai, baik di awal maupun di akhirnya. Bagi manusia, menerima Allah sebagai hayat, menikmati kelimpahan Allah untuk melerai-kan dahaga, didiris, bertumbuh, dan bersukacita, semuanya brrgantung pada sungai (lih. Mzm. 36:8-9; 46:4; 65:9; Kel. 17:1-7: Yoel 3:18; Za. 14:8; Yoh. 4:14; 7:37-38; Why. 22:1-2).

Ketika Anda menerima Tuhan Yesus ke dalam Anda, segera terasa ada sesuatu yang mendiris Anda. Ada sesuatu yang mengalir di dalam Anda. Punyakah Anda pengalaman yang demikian? Kapan saja Anda berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” atau bila Anda berdoa kepada Tuhan

— ini berarti sekali lagi Anda menerima-Nya ke dalam Anda —, Anda merasakan sesuatu mengalir di dalam Anda. Setiap pagi Anda harus makan Kristus sebagai sarapan Anda, setiap siang Anda harus makan Dia sebagai santapan siang Anda, dan setiap malam Anda harus memakan-Nya sebagai santapan malam Anda. Anda perlu makan Kristus paling sedikit tiga kali sehari. Bila Anda melakukan hal ini, air hayat akan mendiris Anda di dalam batin. Anda tidak da-haga lagi. Mungkin setelah bekerja di kantor sepanjang hari dan setelah tiba di rumah, Anda merasa letih dan lesu, merasa sangat dahaga. Namun jika Anda makan Yesus se-bagai santapan Anda, air hayat akan mengalir di dalam Anda. “Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk mem-basahi (mendiris) taman itu.” Aliran ini akan mengeluarkan barang-barang usang dari diri Anda. Pengalaman kita dan catatan kudus dalam Alkitab, keduanya memberi tahu kita bahwa sungai ini diperlukan.

Meskipun Kejadian 2 merupakan catatan mengenai penciptaan, namun sesungguhnya ditulis menurut penga-laman hayat. Pohon hayat dan sungai yang mengalir menun-jukkan hal ini : kapan saja kita menyantap Yesus ke dalam kita sebagai makanan, maka makanan itu akan memberi-kan hayat ilahi yaitu hayat yang mendiris dan yang meng-alirkan hayat. Dalam Wahyu 22:1-2 kita nampak sungai hayat dengan pohon hayat yang bertumbuh di seberang menyeberang sungai itu, mengalir keluar dari takhta Allah. Gambaran ini selangkah lebih maju membuktikan bahwa pohon hayat dan sungai hayat mewakili pengalaman hayat yang sejati. Kapan saja kita menikmati Allah di dalam Kristus sebagai hayat kita, kita akan memperoleh sungai ini mengalir di dalam kita untuk mendiris kita dan mengerjakan banyak hal di dalam kita.

(a) Mendiris, Meleraikan Dahaga, dan Mengalirkan Hayat

Sungai ini telah dibuat untuk mengairi taman itu su-paya taman itu bisa menumbuhkan benda-benda hayat. Tentu juga untuk meleraikan dahaga manusia supaya ma-nusia dapat hidup. Semuanya ini berarti sungai itu dapat membuat hayat mengalir. Dalam kehidupan jasmani kita, kita harus minum air yang cukup untuk mempertahankan peredaran darah kita. Pengaliran hayat jasmani kita ter-gantung pada air. Demikian pula hari demi hari kita harus menyesap air hayat untuk mempertahankan pengaliran ha-yat ilahi di dalam kita. Hal ini memberi kita peredaran kerohanian hayat ilahi.

(b) Mengalir keluar dari Eden

Sungai itu mengalir keluar dari Eden, berarti mengalir keluar dari Allah. Dalam Wahyu 22, sungai air hayat keluar dari takhta Allah. Itu juga suatu pengaliran yang keluar dari diri Allah sendiri. Allah sebagai hayat yang sejati adalah sum-ber air hayat, mengalir ke dalam kita bagi kenikmatan kita.

(c) Sungai Itu Terbagi Menjadi Empat Cabang

Sungai ini hanya satu. Apakah Anda mempunyai dua sungai? Meskipun jumlah saudara saudari yang hadir di sini ada seribu, kita tetap mempunyai satu sungai, sebab kita semua berasal dari sumber yang sama — Allah Pencipta. Karena sumber itu satu, alirannya pun harus satu.

Satu sungai ini telah terbagi menjadi empat cabang (Kej. 2:10-14). Apakah artinya ini? Ini berarti sungai meng-alir dari Allah sebagai sumber dan pusat untuk mencapai manusia dalam segala arah. Dalam Alkitab, bilangan satu adalah bilangan Allah, Pencipta, sebab Dialah yang unik. Bilangan empat melambangkan manusia, yang diciptakan. Sebab manusia tinggal di keempat penjuru angin, sebuah sungai mengalir dari Allah ke setiap arah untuk mencapai manusia.

1) Cabang Pertama

Nama dari cabang pertama ialah Pison yang berarti “mengalir dengan cuma-cuma” (lih. Yes. 55:1; Why. 22:17). Sungai ini mengalir dengan cuma-cuma, gratis. Ia mengalir ke tanah Hawila yang artinya “menyebabkan bertumbuh.” Cabang sungai ini mengalir dengan cuma-cuma, dapat menumbuhkan segala sesuatu yang berhayat (lih. Yeh. 47:9, 12).

Pengaliran ini juga membawakan emas yang melam-bangkan sifat ilahi (lih. 2 Ptr. 1:4). Jika Anda tidak berpeng-alaman, Anda takkan mengerti apakah artinya ini; jika Anda sedikit berpengalaman, Anda akan mengatakan “Amin”. Kapan saja hayat Allah mengalir di dalam kita, ia mem-bawakan sifat emas, sifat ilahi. Dalam berita sebelumnya saya mengatakan bahwa saya tidak suka menjadi orang yang terbuat dari emas, melainkan orang dari debu tanah, sebab emas tidak akan menghasilkan hayat. Dikatakan dari sudut menghasilkan hayat, sangatlah baik menjadi orang dari debu tanah. Bagaimanapun, kita perlu unsur emas untuk ditambahkan kepada kita. Akhirnya kita akan menjadi manusia emas. Dalam 1 Korintus 3 Paulus mem-peringatkan bahwa kita harus hati-hati atas garapan pembangunan kita, kita disarankan menggunakan material yang tepat, per-tama-tama di antaranya adalah emas. Dan juga dalam Wahyu 1 kita diberi tahu bahwa gereja-gereja adalah kaki dian emas. Kaki dian tidak dibangun dengan tanah liat, tetapi dengan emas. Dalam Roma 9 kita adalah debu tanah; dalam Wahyu 1 kita adalah emas. Bagaimana debu tanah dapat diganti dengan emas? Hayat ilahi harus mengalir di dalam kita untuk membawakan emas ke dalam kita. Emas alami juga demikian, sering didapatkan di pinggir atau di dalam sungai. Sebelum kita mengalami Kristus sebagai pengaliran hayat, kita tidak mempunyai sifat ilahi, tidak mempunyai emas. Sekarang melalui pengaliran hayat ilahi kita mempunyai emas di dalam kita. Sesuatu yang mustika dan berharga, sifat ilahi, telah dibawakan ke dalam kita.

Pengaliran sungai itu juga menghasilkan mutiara (LAI – damar bedolah). Sekarang ini, kita tidak mempunyai waktu untuk mengungkapkan definisi mutiara, kecuali mengatakan itu adalah benda yang melewati pengubahan. Mutiara melambangkan manusia baru yang dilahirkan kembali (cf. Mat. 13:45) sebab mutiara bukan benda ciptaan, melainkan suatu benda yang mengalami pengubahan.

Selanjutnya, aliran sungai ini menghasilkan batu krisopras yang melambangkan orang yang telah mengalami pengubahan sehingga mengekspresikan rupa kemuliaan Allah (lih. Why. 4:3; 2 Kor. 3:18). Kita akan melihat lebih jelas tentang hal ini dalam berita selanjutnya.

Cabang pertama, Pison berarti sungai hayat yang mengalir dengan cuma-cuma, membuat segala sesuatu ber-tumbuh dan menghasilkan tiga macam bahan berharga — emas, mutiara, dan batu permata. Jika kita membaca se-luruh Alkitab, kita akan melihat bahwa bahan-bahan ini semuanya ditemukan pada bangunan Yerusalem Baru. Bahan-bahan yang dihasilkan dari pengaliran sungai hayat adalah bagi pembangunan tempat kediaman Allah. Mereka hanya dapat dihasilkan oleh pengaliran hayat ilahi. Dengan perkataan lain, hayat ilahi mengalir di dalam kita men-jadikan kita bahan-bahan untuk bangunan Allah. Inilah arti dan lambang cabang sungai pertama.

2) Cabang Kedua

Nama sungai cabang kedua ialah Gihon, berarti “pergolakan air”. Pergolakan air mengandung arti kepenuhan (cf. Yoh. 4:14; 7:38). Sungai ini menerjang maju bagaikan arus air yang deras dan kuat. Kalau kita mempunyai hanya beberapa tetes air, itu mustahil menghasilkan pergolakan. Agar terjadi pergolakan seperti air terjun Niagara, kita perlu sejumlah besar air. Pergolakan sungai menunjukkan kepenuhan-Nya.

Sungai ini mengalir ke Kusy. Kusy ialah nama Ibrani kuno untuk Ethiopia, yang artinya “muka hitam”, melambangkan sifat jahat orang berdosa yang tidak dapat berubah (lih. Yer. 13:23; Rm. 7:18). Sebelum diselamatkan, aku adalah seorang Kusy: hitam, berdosa, dan jahat. Sesungguhnya kita semua adalah orang Kusy; kita lebih daripada hitam, sifat kita jahat. Dikatakan secara manusiawi, sifat yang begitu tidak akan berubah. Puji Tuhan, bahwa pergolakan air kudus akan melahirkan kita kembali dan mengubah kita menjadi orang yang lain. Pengaliran dari sungai kudus begitu kaya dan kuat sehingga dapat mengubah sifat jahat kita, bahkan menjadikan kita mulia. Sekalipun orang Kusy tak berdaya mengubah kulitnya, namun kita mempunyai jalan untuk mengubah seluruh kulit hitam kita dan tabiat jahat kita, yaitu melalui pergolakan dahsyat arus hayat ilahi.

3) Cabang Ketiga

Cabang ketiga ialah Tigris yang berarti “cepat deras”, dan mengandung arti “kekuatan” (cf. Flp. 3:10; Ef. 1:19-20). Air yang mengalir dengan deras mempunyai kekuatan. Tigris mengalir menuju Asyur, yang berarti “datar, tempat yang boleh dijadikan tempat kediaman”. Ini memberi tahu kita bahwa pengaliran air hayat mencapai tempat yang di-huni oleh manusia (cf. Yoh. 10:10b; 7:37).

4) Cabang Keempat

Cabang keempat ialah Efrat yang berarti “harum”, “subur”, “berbuah lebat” (cf. 2 Kor. 2:14; 2 Ptr. 1:3-8, 11; Gal. 5:22-23). Puji Tuhan! Cabang terakhir dari aliran air hayat membuat kita harum, subur, dan berbuah lebat. Baru-baru kita telah membicarakan hal berbuah. Bagaimanakah kita dapat berbuah? Kita hanya dapat berbuah dengan ada-nya aliran sungai hayat di dalam kita. Selama hayat mengalir di dalam, kita akan harum, subur, dan berbuah lebat. Hal ini sangat baik!

Jika kita menyatukan keempat cabang dari satu sungai itu, kita akan memperoleh gambaran yang lengkap mengenai Perjanjian Baru. Kita perlu seluruh Perjanjian Baru untuk menjelaskan keempat cabang sungai hayat ilahi itu.

Sekali lagi saya tandaskan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam kitab Kejadian adalah benih, pertumbuhan benih ini ada dalam Perjanjian Baru dan basil tuaiannya ada di dalam kitab Wahyu. Benih pengaliran sungai ditaburkan dalam Kejadian 2, pertumbuhannya terjadi di dalam kitab-kitab berikutnya dalam Alkitab, dan basil tuaiannya di dalam kitab Wahyu. Kita memerlukan seluruh Alkitab untuk mendapatkan arti sesungguhnya tentang gambaran dalam Kejadian 2. Allah dalam Putra-Nya, Yesus Kristus, adalah hayat bagi kita dalam bentuk makanan. Jika kita makan Dia, kita tidak saja mempunyai kepuasan, bahkan hayat ini akan menjadi sungai yang mendiris di dalam kita. Air ini akan menjadi aliran yang deras di dalam kita untuk melahirkan kita kembali, mengubah kita, dan membuat kita harum serta berbuah lebat. Demi aliran ini kita akan men-jadi emas, mutiara, dan batu permata, bagi pembangunan tempat kediaman Allah — Yerusalem Baru. Puji Tuhan! Inilah jalan Allah mencapai tujuan kekal-Nya. Tetapi ini baru langkah kedua. Kita akan mengungkapkan langkah ketiga dalam berita selanjutnya.