PROSEDUR ALLAH UNTUK MENCAPAI TUJUAN-NYA (1)
Dalam berita-berita yang lalu, kita telah melihat butir penting pertama dalam kitab Kejadian — hasrat dan tujuan Allah. Ini diwahyukan di dalam Kejadian 1:1—2:3. Hasrat dan tujuan Allah adalah memiliki seorang manusia korporat yang mengekspresikan gambar-Nya dan mewakili kekuasa-an-Nya. Sekarang kita harus mengajukan satu pertanyaan : Bagaimana manusia dapat mengekspresikan gambar-Nya dan mewakili kekuasaan-Nya? Hal ini akan membawa kita kepada butir penting kedua dalam kitab ini.
B. PROSEDUR ALLAH
UNTUK MENCAPAI TUJUAN-NYA (2:4-7)
Kejadian 2 mewahyukan cara yang Allah tempuh untuk mencapai tujuan-Nya. Inilah sebabnya kita memiliki catatan kedua tentang penciptaan dalam Kejadian 2. Sewaktu saya masih sebagai seorang Kristen muda, saya bingung akan kedua catatan tentang penciptaan manusia ini. Kejadian 1 memberikan gambaran tentang penciptaan. Mengapa masih memerlukan catatan lain seperti Kejadian 2? Setelah se-jangka waktu saya menunaikan ministri, Allah menunjukkan jawabannya kepada saya, Walaupun Kejadian 1 mewahyu-kan tujuan Allah di dalam menciptakan manusia, namun tidak memberitahukan cara untuk mencapai tujuan ter-sebut. Karena itu kita memerlukan catatan kedua untuk mewahyukan cara dan prosedur yang dipakai oleh Allah untuk mencapai tujuan-Nya. Setelah kita melihat tujuan-Nya di dalam Kejadian 1, kita harus pula melihat pro-sedurnya di dalam Kejadian 2. Prosedur ini sepenuhnya diwahyukan dalam Kejadian 2, dimulai dari ayat 5 sampai ayat terakhir dari pasal ini. Jika kita membaca bagian firman ini di dalam terang keseluruhan Alkitab, kita akan melihat prosedur ini terbagi menjadi 3 langkah. Dalam berita ini kita hanya dapat membahas satu langkah saja, dua langkah yang lain akan kita bahas dalam berita-berita se-lanjutnya. Namun sebelum kita melihat langkah pertama ini, kita ingin menunjukkan bahwa sarana Allah untuk mencapai tujuan-Nya adalah hayat.
1. Melalui Hayat
Allah akan mencapai tujuan-Nya melalui hayat-Nya sendiri. Bagaimana seseorang dapat mengekspresikan orang lain jika ia tidak mempunyai hayat orang tersebut? Anjing tidak dapat mengekspresikan kucing, sebab anjing tidak mempunyai hayat kucing. Anjing memiliki hayat anjing, dan hayat ini hanya cocok untuk mengekspresikan anjing. Dengan prinsip yang sama, kucing tidak pernah dapat meng-ekspresikan anjing. Jika kita memikirkan sebaiknya, berarti kita sedang bermimpi. Bagaimana mungkin kita sebagai manusia dapat mengekspresikan Allah? Tak ada jalan lain kecuali memiliki hayat Allah. Jika anjing hendak mengekspresikan kucing, haruslah ada satu jalan yaitu menyun-tikkan hayat kucing ke dalam anjing itu. Begitu seekor anjing menerima hayat kucing, anjing itu akan dengan mudah dan dengan sendirinya mengekspresikan kucing. Manusia telah ditentukan untuk mengekspresikan Allah. Dapatkah kita melakukan hal ini? Memang tidak mungkin kita melakukan hal ini dengan hayat kita sendiri, sebab hayat kita merupakan hayat manusia belaka. Allah adalah yang melampaui segala-galanya. Hayat kita terlalu rendah untuk mengekspresikan Dia. Jika kita ingin mengeks-presikan Allah, kita memerlukan hayat Allah. Jika kita memiliki hayat Allah, dengan sendirinya bahkan tanpa di-sadari kita akan mengekspresikan Dia. Begitu kita memiliki hayat-Nya, kita akan mengekspresikan gambar-Nya. Hayat adalah cara untuk mencapai tujuan Allah. Hayat ini bukannya hayat alamiah kita, melainkan hayat ilahi dan kekal.
Kekuasaan juga berhubungan dengan hayat. Sebuah meja atau kursi tidak pernah memiliki kekuasaan, karena kekuasaan selalu berhubungan dengan hayat. Pandanglah diri Anda sendiri. Semakin banyak hayat yang Anda miliki, semakin besar pula kekuasaan yang Anda miliki. Manusia mempunyai kekuasaan atas segala binatang, sebab manusia memiliki hayat yang lebih tinggi daripada segala bintang. Bahkan di antara manusia sendiri, kita bisa melihat bahwa orang yang semakin banyak memiliki hayat, kekuasaan yang Ia miliki semakin besar pula. Jika saya lebih dewasa daripada Anda, maka saya memiliki kekuasaan atas Anda. Jika seorang remaja datang kepada saya, saya tidak perlu menggertaknya. Dengan sendirinya ia akan tunduk di bawah kekuasaan saya. Kekuasaan ini bukan diberikan oleh Presiden. Kekuasaan ini datangnya dari usia saya. Jika Anda berusia 110 tahun dan saya 70 tahun, saya akan berada di bawah kekuasaan Anda. Usia Anda memberikan kekuasaan kepada Anda. Untuk mewakili Allah dan kekuasaan-Nya, kita perlu hayat-Nya.
Jika Anda mewakili seseorang di dalam masyarakat, Anda perlu memiliki hayat yang mirip dengannya. Misalnya Anda diundang untuk mewakili Presiden, Anda perlu memiliki tingkat hayat yang sama seperti dia. Jika hayat Anda agak rendah, Anda tidak akan sanggup mewakili dia. Standar hayat Anda harus sebanding dengan hayat Presiden.
Inilah dasar dan prinsip logis yang harus kita per-hatikan; kita tidak mungkin dapat mengekspresikan Allah atau mewakili Allah dengan hayat kita sendiri. Perhatikan hayat Anda. Hayat Anda tidak mampu mengekspresikan Allah; hayat Anda hanya layak untuk mengekspresikan Anda sendiri. Dalam situasi tertentu seorang istri pun tak dapat mewakili suaminya, sebab hayatnya tidak setinggi suaminya. Saya ingin tahu apakah saudari-saudari menye-tujui hal ini. Bagaimanapun, kita semua harus mengakui bahwa hayat alamiah kita tidak memenuhi syarat untuk mengekspresikan Allah dan mewakili Dia. Bukan hanya hayat kita yang telah jatuh tidak layak untuk ini, bahkan hayat yang kita miliki di saat penciptaan pun tidak layak. Inilah sebabnya setelah menciptakan manusia, Allah me-nempatkan dia di depan pohon hayat. Ini menyatakan ma-nusia perlu memiliki hayat yang lebih tinggi daripada hayat yang sudah ia miliki. Hal ini akan kita lihat dalam berita selanjutnya.
Beberapa orang mungkin akan bertanya, “Bukankah Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya?” Ya, me-mang Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Kemudian orang-orang ini akan bertanya pula, “Kalau kita memiliki gambar Allah, mengapa kita tidak dapat meng-ekspresikan Dia?” Kita boleh menjawab, manusia diciptakan menurut gambar Allah, sama seperti foto seseorang. Misal-nya Anda membawa foto saudara Anda dan menunjukkan-nya kepada orang-orang lain sambil berkata inilah saudara Anda. Ditinjau dari satu sudut Anda benar, karena itu adalah saudara Anda. Namun foto itu bukan saudara Anda yang sesungguhnya, itu adalah gambar saudara Anda. Walaupun gambar itu menyatakan ciri-ciri, bentuk, dan penampilan saudara Anda, namun tidak memiliki hayat saudara Anda. Foto itu dapat menunjukkan sesuatu tentang saudara Anda, tetapi tidak dapat mengekspresikan dia. Satu-satunya jalan agar foto itu dapat mengekspresikan saudara Anda yaitu bila foto itu memiliki hayatnya. Ma-nusia diciptakan di dalam gambar Allah, tetapi ia hanyalah seperti sebuah foto yang menunjukkan sesuatu tentang Allah tanpa memiliki hayat Allah. Meskipun manusia mempunyai gambar Allah, tetapi tidak memiliki hayat Allah. Allah bermaksud agar manusia mengambil bagian atas hayat yang dinyatakan oleh pohon hayat itu. Manusia gagal me-lakukannya. Hari ini, melalui percaya kepada Yesus Kristus, kita dibawa kembali untuk memperoleh bagian di dalam hayat itu. Kita semua telah menerima hayat kekal itu. Tidak ada jalan bagi kita untuk dapat mengekspresikan Allah di dalam gambar-Nya dan mewakili Dia dengan kekuasaan-Nya selain dengan berbagian dalam hayat-Nya.
Ini dapat dibuktikan oleh ayat-ayat dalam Alkitab.
a. Hayat Mengubah Kaum Beriman
Serupa dengan Gambar Allah
dan Membawa Mereka Masuk ke dalam Kemuliaan
Alkitab mengatakan bahwa hayatlah yang mengubah kaum beriman menjadi serupa dengan gambar Putra Allah (Rm. 8:2, 6, 29). Hanya dengan jalan hayat inilah kita dapat menjadi serupa dengan gambar Putra Allah. Roma 8:2 mengatakan tentang Roh hayat (Tl.), dan ayat 6 menyinggung tentang menaruh pikiran di atas roh adalah hayat. Melalui Roh hayat inilah kita dapat menjadi serupa dengan Putra Allah. Ini sangat jelas. Bahkan Kristus sebagai hayat membawa kita masuk ke dalam kemuliaan Allah untuk mengekspresikan Allah. Kolose 3:4 mengatakan bahwa Kristus sebagai hayat kita akan membawa kita ke dalam kemuliaan Allah, sehingga kita bisa mengekspresikan Allah. Ini membuktikan bahwa kita mengekspresikan Allah ber-dasarkan hayat Allah.
b. Hayat Kebangkitan Memberi Kekuasaan
Alkitab juga menunjukkan bahwa hayat kebangkitan yang bertunas memberi kuasa kepada tongkat Harun (Bil. 17:8). Dua belas tongkat yang mewakili dua belas suku bangsa Israel diletakkan di hadapan Allah semalaman. Se-tiap tongkat itu adalah batang kayu kering dan mati. Na-mun dalam waktu semalaman, tongkat Harun bertunas, menyatakan bahwa hayat kebangkitan telah memberi kuasa kepada tongkatnya untuk memerintah atas umat Israel. Demikianlah hayat memberi kekuasaan. Jika Anda mau menjadi seorang pemimpin di dalam gereja, Anda perlu memiliki hayat yang limpah. Penatua bukannya sekadar pengangkatan di luaran saja, lebih-lebih pemberian kuasa batiniah di dalam hayat. Semua penatua haruslah matang hayatnya dan bersyarat untuk memerintah melalui hayat rajani. Hal ini juga berlaku bagi diaken-diaken, diakendiaken perempuan, dan pemimpin-pemimpin dalam kelompok-kelompok pelayanan. Hanya hayat yang dapat mendatangkan kekuasaan.
Dalam Wahyu 20:4 dikatakan bahwa hayat kebangkitan yang menang membawa kaum beriman meraja bersama Kristus di dalam Kerajaan Seribu Tahun. Hayat kebang-kitan membawa kita meraja bersama Kristus, sebab hayat ini mengalir ke luar dari takhta Allah; dan takhta Allah menandakan kekuasaan. Kita lihat sebuah lukisan mengenai hal ini dalam kitab Wahyu 22:1, di mana air hayat mengalir keluar dari takhta Allah. Jadi kekuasaan dan hayat saling berhubungan. Aliran air hayat berhubungan dengan takhta Allah. Jika kita memiliki takhta Allah sebagai sumber kita, kita akan berada di dalam air hayat ini. Jika kita berada di dalam air hayat, maka kita akan dibawa ke takhta Allah, memberikan kita kekuasaan yang terpancar dari takhta-Nya. Hayat mendatangkan kekuasaan. Rita semua harus nampak bahwa untuk mewakili Allah memerlukan hayat Allah.
2. Langkah Pertama — Menciptakan Manusia sebagai Wadah untuk Diisi Allah sebagai Hayat
Langkah pertama Allah mencapai tujuan-Nya adalah menciptakan manusia sebagai wadah untuk diisi diri-Nya sebagai hayat. Saya menyukai perkataan “wadah” ini. Tahukah Anda, sebagai manusia, Anda merupakan suatu wadah? Sebuah wadah seperti sebuah botol atau sebuah cangkir. Hari ini, ketika saya bersama Tuhan, saya sangat girang sebab saya adalah sebuah wadah. Saya berkata ke-pada diri sendiri, “Kamu benar-benar seperti sebuah botol. Mulutmu seperti mulut botol. Sudah tentu tujuan dari botol adalah untuk diisi sesuatu, bukan diisi dirimu sendiri. Kamu adalah sebuah wadah yang dirancang untuk diisi Allah.”
Ini bukan konsepsi saya sendiri, melainkan dicantum-kan kali pertama dalam kitab Kejadian dan kemudian pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Paulus dalam Roma 9, katanya: Siapakah engkau, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Tidakkah engkau tahu bahwa engkau adalah tanah liat? Tukang penjunan berhak dan berkuasa membentuk tanah iiat menjadi wadah. Roma 9:21, 23 me-wahyukan kepada kita bahwa Allah menciptakan manusia sebagai wadah. Kita adalah wadah-wadah untuk diisi Allah sebagai hayat.
Karena itu, sesudah Allah menciptakan manusia, Ia lalu menaruh manusia di depan pohon hayat. Pohon hayat baik untuk dimakan. Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus berkata bahwa Dia dapat dimakan, Dialah Roti Hidup (Yoh. 6:35). Karena itu kita semua dapat memakan Dia. Selanjutnya kita akan terisi dengan apa saja yang kita makan, sebab yang kita makan itu masuk ke dalam tubuh kita. Tubuh kita hanyalah wadah untuk diisi dengan segala sesuatu yang kita makan. Apa saja yang kita makan bukan hanya masuk ke dalam kita, tetapi juga berasimilasi dengan segala unsur di dalam tubuh kita, bahkan makanan itu menjadi kita. Itulah sebabnya para ahli gizi mengatakan, “Anda adalah apa yang Anda makan.” Kita bukan hanya wadah untuk diisi, kita pun wadah yang makan, wadah yang mengasimilasikan apa yang kita makan. Tuhan ingin kita memakan-Nya. Jika kita mengatakan kepada Allah bahwa kita ingin makan Dia, Dia akan sangat gembira. Kita adalah wadah yang makan dan mengasimilasikan Allah. Akhirnya Allah akan menjadi kita. Puji Tuhan! Kita diciptakan sebagai wadah untuk diisi Tuhan sebagai hayat.
Roma 9:21, 23 mengatakan bahwa kita adalah wadah yang mendapat rahmat yang disiapkan untuk kemuliaan-Nya. Inilah bagian kita. Janganlah memandang rendah saya. Saya adalah wadah mulia, bukan yang hina. Suatu hari saya akan diisi hingga penuh oleh kemuliaan dan akan ada di dalam kemuliaan untuk mengekspresikan kemuliaan Allah. Kita semua mendapatkan belas kasihan-Nya dan disiapkan bagi kemuliaan-Nya.
a. Latar Belakang
Pertama-tama kita perlu menengok latar belakang langkah pertama yang Allah tempuh dalam pencapaian tujuan-Nya.
(1) Allah Belum Menurunkan Hujan ke Bumi
Saya menyukai Alkitab. Saya telah bergaul dengan Alkitab selama 50 tahun penuh dan hari ini saya lebih menyukainya daripada hari-hari yang lalu. Sampai pada Kejadian 2:4-7, saya ingin menyampaikan beberapa patah kata kepada kaum muda. Ketika saya masih muda, saya dibuat bingung oleh Kejadian 2, menganggapnya kalau dibaca tidak seperti Alkitab. Saya merasa bahwa Alkitab haruslah bersifat klasik, tetapi Kejadian 2 sedikit pun tidak kelihatan klasik bagi saya. Sebagai contoh, Kejadian 2:5 mengatakan, “Sebab Tuhan Allah belum menurunkan hujan ke bumi.” Saya heran mengapa hal ini tercantum di dalam Alkitab. Saya pikir hal ini tidak penting. Selanjutnya bagian bawah ayat 5 mengatakan, “belum ada orang mengusahakan tanah itu.” Apakah maknanya ini? Sepertinya ini bukan benar-benar perkataan Alkitab. Permulaan ayat 5 disebutkan, “Belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang.” Apakah ini? Saya mengira kata-kata ini hanya-lah perbendaharaan kata-kata dari sekolah dasar saja. Selan-jutnya dikatakan pada ayat 6, “Ada kabut naik ke atas bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu.” Ini pun se-olah-olah bukan perkataan Alkitab. Banyak di antara kalian mungkin mengatakan, “Roma 8 baik sekali. Benar-benar di dalam bentuk kalimat Alkitab. Tetapi tidak demikian dengan Kejadian 2. Di sana tidak menyinggung roh, tidak me-nyinggung pikiran, tidak menyinggung hayat. Pasal itu hanya mengatakan tentang rerumputan, tumbuh-tumbuhan, dan kabut.” Namun, Kejadian 2:5-6 adalah bagian dari Alki-tab dan tanpa ayat-ayat ini Alkitab menjadi kurang sem-purna. Alkitab memerlukan ayat dari kitab Kejadian 2 ini agar menjadi sempurna. Penting sekali kita melihat apakah yang diwahyukan dalam alinea ini.
Jangan mengabaikan sebaris pun kata-kata dalam Alkitab, karena kata-kata tersebut keluar dari mulut Allah. Setiap kata, klausa, kalimat, berasal dari mulut Allah. Kita membaca sebuah klausa di dalam kalimat, itu sudah merupakan perkara yang serius. Anda boleh membuktikannya melalui membaca Kejadian 2:5-6 sekali dan sekali lagi dengan roh yang berdoa. Jika Anda mendoa-bacakan ayat-ayat ini dengan cara demikian, Anda akan dikenyangkan. Tetapi, jika Anda melakukan hal yang sama dengan koran atau majalah umum, Anda akan mati. Inilah perbedaan besar antara tulisan-tulisan duniawi dengan Kitab Suci. Setiap kata di dalam Alkitab adalah kudus, adalah milik Allah.
Allah belum menurunkan hujan ke bumi. Ini menan-dakan Allah belum menurunkan Roh-Nya untuk berbaur dengan manusia yang dibuat dari debu tanah itu. Dalam Yoel 2:23, 28-29, kita melihat bahwa Roh Allah dikiaskan sebagai hujan.
Beberapa orang Kristen mengkritik kita karena terlalu banyak mengiaskan isi Alkitab. Tetapi kita harus mengerti bahwa pengiasan isi Alkitab adalah sudah selayaknya, sebab banyak ayat-ayat kiasan, terutama Kejadian 1 dan 2 ditulis dalam bahasa kiasan. Paulus sendiri juga mengiaskan Per-janjian Lama. Dalam 2 Korintus 4:6, ia menyebut ten-tang Allah yang memerintahkan terang terbit dari gelap. Sudah tentu kata-kata ini mengacu kepada Kejadian 1. Allah yang memerintahkan terang keluar dari dalam gelap kini bersinar di dalam kita, berarti pekerjaan Allah di dalam Kejadian 1 merupakan sebuah kiasan yang menggambarkan pekerjaan-Nya hari ini di dalam kita. Dalam Galatia 4, Paulus mengiaskan Sara, istri Abraham, Hagar, gundik Abraham. Paulus mengiaskan kedua perempuan ini sebagai dua per-janjian. Jadi, jalan yang terbaik untuk mengerti Perjanjian Lama adalah mengiaskannya.
Di dalam keempat Injil, Tuhan Yesus mengiaskan hampir segala sesuatu. Ia mengiaskan semua lambanglam-bang, bayang-bayang, dan gambar-gambar yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa Dialah Salomo, Daud, hari Sabat, terang, makanan, udara, pintu, gembala, dan padang rumput. Dialah segala sesuatu. Karena itu kita perlu mengiaskan Alkitab. Saya menganjurkan Anda untuk melakukan hal ini.
Sekarang baiklah kita melihat kiasan Kejadian 2:5-6, di mana kita telah diberi tahu bahwa Allah belum menurunkan hujan ke bumi. Artinya Allah belum menurunkan hujan surgawi-Nya, yakni Roh-Nya ke atas bumi. Bila hujan turun ke bumi, akan diserap masuk ke dalam tanah dan bercampur menjadi satu dengan tanah untuk menghasilkan hayat. Sekarang kita dapat melihat butir ini: yaitu sebelum Allah menciptakan manusia tidak ada hujan, artinya Roh Allah dari surga belum berbaur dengan makhluk milik debu untuk menghasilkan hayat.
(2) Belum Ada Orang Mengusahakan Tanah
“Dan belum ada orang mengusahakan tanah itu.” Arti-nya tidak ada orang yang bekerja sama dengan Tuhan di da-lam koordinasi antara pekerjaan insani dengan ilahi (lih. 1 Kor. 3:9). Banyak orang Kristen yang terlalu “super”, akhirnya kerohanian mereka malah sangat dangkal. Mereka yang rohaninya dangkal mengatakan, “Kita tidak perlu me-lakukan sesuatu pun. Rohlah yang mengerjakan segala sesuatu.” Ini salah. Jika Anda tidak melakukan apa-apa, Allah juga tidak dapat berbuat apa-apa, karena Ia memerlu-kan pekerjaan manusia untuk bekerja sama dengan pekerjaan ilahi-Nya. Apa gunanya hujan diturunkan bila tak ada orang yang mengerjakan tanah itu? Jika sebagai seorang manusia Anda telah mengerjakan tanah, Anda mempunyai hak ber-doa, “Tuhan, aku ada di sini. Turunkanlah hujan.” Kemu-dian Allah akan menurunkan hujan. Namun, seandainya ti-dak ada orang di bumi yang menuntut agar hujan diturun-kan, tapi beberapa malaikat berkata, “Ya Allah Yehova, mengapa Engkau tidak menurunkan hujan?” Allah akan menjawab, “Jika Aku menurunkan hujan, itu merupakan suatu pemborosan belaka. Aku menunggu sampai ada orang yang akan mengusahakan tanah. Begitu orang di bumi telah mengusahakan tanah, Aku akan menurunkan hujan.”
Dalam hari-hari ini gereja memperhatikan pemberitaan Injil. Seandainya tidak ada seorang Kristen pun di Anaheim yang bekerja sama dengan Allah kecuali beberapa malaikat saja di langit berdoa, “Ya Allah yang Mahakuasa, selamat-kanlah orang-orang di Anaheim, berbicaralah, maka setiap orang akan bertobat.” Allah akan menjawab, “Ini hal yang bodoh. Bila tidak ada seorang pun di Anaheim yang bekerja sama dengan Aku, bagaimana Aku bisa menyelamatkan orang-orang itu?” Ingatkah Anda akan kisah Kornelius? Sekalipun malaikat telah datang kepadanya dengan sebuah berita, te-tapi malaikat itu tidak memberitakan Injil. (Kis. 10:1-8). Malaikat seolah berkata kepada Kornelius, “Engkau perlu memanggil Petrus dan meminta supaya ia datang. Aku tidak dapat mengusahakan tanah, sebab aku adalah malai-kat. Aku tidak memenuhi syarat. Manusialah yang telah diangkat un-tuk memberitakan Injil. Mereka memenuhi syarat. Mintalah supaya Petrus datang.”
Bila tidak ada seorang pun di bumi yang mengusahakan tanah ini, Allah tidak akan menurunkan hujan. Karena tidak ada orang yang berkoordinasi dengan Allah, dan tidak ada kerja sama antara pekerjaan insani dengan pekerjaan ilahi. Kita harus berjerih lelah, berkoordinasi dengan peker-jaan ilahi, kita harus siang malam berdoa bagi sanak keluarga dan teman-teman kita. Kita harus bekerja pada diri mereka. Kemudian hujan akan turun. Jika kita tidak ber-koordinasi dengan Allah untuk mengusahakan tanah itu, hujan takkan pernah turun. Allah tak mau memboroskan hujan-Nya dengan sia-sia. Jika hujan itu turun, hayat akan muncul.
(3) Belum Ada Hayat yang Tumbuh di Bumi
“Belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang.” Artinya, belum ada hayat, karena hayat belum timbul dari bumi. Karena tidak ada orang yang mengusahakan tanah dan tidak ada hujan yang diturunkan, maka tidak mungkin ada hayat.
(4) Kabut Naik ke Atas dari Bumi
“Tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu” (ayat 6). Artinya, di saat itu baru ada sesuatu yang keluar dari bumi dan bekerja di bumi; belum ada sesuatu yang turun dari langit ke bumi yang menyebabkan timbulnya hayat.
Keempat butir di atas membentuk latar belakang Allah menciptakan manusia. Jika kita menelitinya menurut kiasan, kita akan berpendapat bahwa ayat ini sudah sepatutnya ada dalam Alkitab. Saya menyukai Kejadian 2:5-6 ini. Sekarang kita jelas bahwa kita memerlukan hujan dan Allah memerlukan kita. Allah memerlukan kita untuk bekerja sama. Kemudian hujan dari langit akan dicurahkan sehingga bercampur dengan debu di bumi ini untuk menghasilkan hayat.
b. Cara Penciptaan — Kejadian 2:7
Sekarang kita akan maju meninjau cara Allah menciptakan manusia. Allah menciptakan manusia persis seperti sebuah botol dengan sebuah leher dan mulut. Puji Tuhan. saya mempunyai mulut! Bagaimana saya dapat hidup tanpa mulut? Demikianlah Allah menciptakan saya ini.
(1) Membentuk Tubuh Manusia dari Debu Tanah
Allah membentuk tubuh manusia dari debu tanah se-hingga manusia mempunyai tubuh sebagai pernyataan lahir dan sebagai organ untuk berhubungan dengan benda-benda material. Allah membuat manusia dari debu tanah, bukan dari emas. Emas tidak dapat menumbuhkan hayat. Jika Anda menaburkan benih ke dalam emas, Anda akan menyia-nyiakan benih itu. Tetapi debu tanah sanggup menum-buhkan hayat. Jika Anda menaburkan benih ke dalam tanah, niscaya benih itu akan tumbuh. Kita bukan manusia dari emas, kita adalah manusia dari debu tanah. Saya gem-bira bahwa saya adalah manusia dari debu tanah. Haleluya!
Tubuh kita dibentuk dari debu tanah sebagai per-nyataan lahir kita. Ketika saya memiliki waktu luang, saya suka memandangi diri saya melalui kaca, terutama meneliti wajah saya. Makin lama saya memandangi diri sendiri, saya makin yakin bahwa saya diciptakan oleh Allah. Tak seorang pun dalam alam semesta ini yang dapat membuat ciptaan yang demikian mengagumkan. Model mobil Amerika mung-kin berkembang dan terus-menerus berubah setiap tahun, tetapi tak seorang pun dapat mengubah corak rupa manusia. Telinga kita telah dirancangkan sedemikian sempurnanya untuk mendengar. Betapa janggal jadinya jika anggota-ang-gota tubuh kita dipindah-pindah tempatnya! Apa yang terjadi jika hidung kita tergantung di dahi kita dan meng-hadap ke atas? Hujan dan debu akan masuk ke dalamnya. Allah de-ngan sengaja telah merancang hidung kita meng-hadap ke bawah, agar hanya udara saja yang bisa masuk ke dalam-nya. Walaupun hidung saya tak terlalu indah, saya sangat menyukainya. Allah telah merancangnya untuk saya.
Banyak hal yang menyangkut tubuh manusia yang bisa kita ketengahkan. Dalam Pengkhotbah 12:3, Salomo menye-but tentang penggiling-penggiling, dikatakan bahwa bila seseorang sudah tua, penggiling-penggilingnya akan berhenti sebab berkurang jumlahnya. Yang dimaksud dengan peng-giling-penggiling di sini adalah aktivitas gigi-gigi geraham kita. Gigi yang terdepan adalah gigi seri, merupakan gigi pemotong, sedangkan geraham merupakan gigi penggiling. Ketika makan sepotong daging, gigi depan kita yang memo-tongnya, kemudian lidah akan menempatkannya di antara gigi geraham, di mana daging itu akan dilumatkan menjadi bagian-bagian yang dapat dicernakan. Menurut Pengkhotbah, penggiling-penggiling itu akan berhenti sebab umumnya gigi orang tua berkurang dan menjadi lebih sedikit. Siapa yang merancang semua ini bagi kita? Siapa yang merancang geraham dan ludah yang dikeluarkan untuk membasahi ma-kanan? Sudah tentu Allah.
Manusia diciptakan oleh Allah. Ia dirancang oleh seniman terbaik. Janganlah menaruh perhatian pada teori evolusi. Malahan ilmu kedokteran pun mengakui bahwa tubuh manusia mengandung semua unsur yang ada di dalam tanah seperti garam, tembaga, besi dan lain-lain. Dari tanah ini Allah membentuk tubuh manusia yang mengagumkan. Saya tidak sanggup melukiskannya dengan kata-kata. Pandanglah diri Anda sendiri. Pandanglah bahu Anda, lengan, dan kelima jari pada masing-masing tangan Anda. Dengan empat jari ditambah satu ibu jari, manusia dapat melakukan banyak hal. Apakah yang dapat kita lakukan bila pada tiap tangan kita hanya ada lima buah ibu jari? Bahkan meng-ambil alat-alat makan pun kita tak dapat. Kalau Anda me-neliti tubuh Anda, Anda akan menemukan bahwa tubuh ini adalah botol hidup. Kita benar-benar dibuat oleh Allah.
(2) Menghembuskan Nafas Hidup
ke dalam Hidung Manusia
Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia, sehingga manusia mempunyai roh sebagai organ penerima guna menerima Allah, sebagai organ untuk ber-kontak dengan Allah dan hal-hal rohani (Yoh. 4:24; Rm. 1:9). Di dalam sebuah radio transistor ada sebuah alat penerima. Bila alat penerima rusak, gelombang-gelombang radio tak dapat ditangkapnya. Demikian juga tubuh kita adalah alat untuk berhubungan dengan dunia luar dan di dalam kita ada roh yang dibuat Allah sebagai alat penerima Allah yang seolah gelombang-gelombang radio surgawi. Fungsi organ ini adalah agar kita dapat berkontak dengan hal-hal rohani. Saya menyentuh papan tulis dengan tangan saya; mencium bau dengan hidung, melihat warna dengan mata, menerima Huara dengan telinga. Semua perkara-perkara kebendaan ini dapat kita realisasikan dengan indra jasmani kita. Di dalam alam semesta ini juga ada perkara-perkara rohani. Ada Allah di dalam alam semesta ini dan Allah itu Roh. Kita tak dapat menjamah-Nya melalui panca indera kita. Adalah hal yang bodoh bila menyangkal adanya Allah, dikarenakan tidak dapat menjamah-Nya dengan indra jasmani. Mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada oleh karena kita tidak dapat menjamah-Nya, adalah perkara yang tolol. Sekalipun di da-lam atmosfer ada banyak gelombang radio, kita tak dapat merealisasikannya tanpa sebuah alat penerima. Demikian juga kita tidak dapat menjamah Tuhan tanpa sebuah alat penerima khusus, yaitu roh manusia kita. Jika roh kita tidak berfungsi dengan baik, kita takkan dapat merasakan Allah. Kita melatih roh kita untuk berkontak dengan Allah. Di dalam kita ada suatu organ yang oleh Alkitab disebut roh manusia.
(a) Nafas Hayat dan Roh Manusia
Dalam bahasa Ibrani kata “nafas” dalam Kejadian 2:7 adalah neshamah, yang diterjemahkan “roh” dalam Amsal 20:27. Artinya : Nafas yang di dalam Kejadian 2:7 ini adalah roh manusia dan roh itu adalah pelita Tuhan. Pada zaman kuno orang-orang menggunakan lampu minyak. Lampu itu diisi dengan minyak, kemudian dinyalakan sehingga mem-berikan terang. Di batin kita juga ada sebuah lampu untuk diisi dengan Roh Allah sebagai minyak. Sekalipun kita mem-punyai lampu di batin kita, kita perlu minyak ilahi untuk diisikan ke dalam batin kita, sehingga lampu itu bisa di-nyalakan dan bersinar. Amsal 20:27 mengatakan, roh ma-nusia menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Ketika Allah se-bagai minyak datang mengalahkan lampu kita, kita akan diterangi dan diselidiki Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa nafas Allah menjadi roh manusia dan roh ini adalah pelita Allah untuk diisi Allah sebagai minyak sehingga me-nerangi manusia.
(b) Roh Manusia Khusus Diciptakan oleh Allah
Roh manusia khusus diciptakan oleh Allah (Za. 12:1; Ayb. 32:8). Zakharia 12:1 mengatakan bahwa Allah mem-bentangkan langit dan meletakkan dasar bumi dan menciptakan roh dalam diri manusia. Di dalam alam semesta ini ada tiga hal yang sama pentingnya : langit, bumi, dan roh manusia. Langit untuk bumi, bumi untuk manusia, manusia mempunyai roh, dan manusia ini untuk Allah. Allah men-ciptakan langit untuk bumi. Tanpa langit, bumi tak dapat menumbuhkan sesuatu. Bumi untuk manusia dan manusia mempunyai roh di dalamnya supaya diisi Allah. Jadi ma-nusia menjadi pusat alam semesta dan pusat manusia adalah rohnya. Ini sangat penting. Bagi Allah, jika tidak ada roh di dalam diri manusia, manusia hanyalah sebuah selongsong yang kosong melompong. Tanpa manusia di bumi, bumi menjadi hampa dan langit tak ada gunanya. Kita memuji Tuhan, sebab langit melayani bumi, bumi melayani ma-nusia, dan manusia mempunyai sebuah roh untuk menerima Allah. Puji Tuhan, di dalam manusia ada roh!
(c) Roh Manusia Adalah Tempat Allah Bekerja dan Bersemayam
Roh manusia adalah tempat Allah bekerja. Roma 8:16 menyatakan bahwa Roh Allah bersaksi bersama-sama dengan roh kita. Karena itu Roh Kudus bekerja bersama-sama dengan roh manusia. 2 Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu”. Tuhan Yesus sekarang ada di dalam roh kita. Di sinilah Ia bersemayam.
(3) Membuat Manusia Menjadi Jiwa yang Hidup
Allah membuat manusia menjadi jiwa yang hidup, mem-buat manusia mempunyai jiwa sebagai pribadinya, memiliki personanya dan sebagai organ untuk berhubungan dengan dunia kejiwaan. Di antara tubuh dan roh kita ada jiwa, per-sona kita. Fungsi jiwa ialah agar kita dapat berkontak de-ngan hal-hal kejiwaan. Di depan telah saya singgung hal-hal material dan hal-hal rohani, sekarang saya akan mem-bicarakaan hal-hal kejiwaan, misalnya, gembira atau senang. Perkara senang bukanlah kebendaan juga bukan rohani, melainkan kejiwaan. Jika Anda datang kepada saya dan menemukan bahwa saya tidak menyukai Anda, bagaimana-kah Anda bisa tahu bahwa saya tidak senang? Tentu saja Anda mengetahuinya dari jiwa Anda, yaitu bagian kejiwaan Anda. Sungguh sangat tegas bahwa Allah menyusun kita dengan tiga bagian : roh, jiwa, dan tubuh.
(4) Membuat Manusia Mempunyai Tiga Bagian — Roh, Jiwa, Tubuh
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki tiga bagian. 1 Tesalonika 5:23 dengan jelas mengatakan bahwa kita mempunyai roh, jiwa dan tubuh. Ibrani 4:12 mengatakan roh kita dapat dipisahkan dari jiwa kita. Mengapa Allah menciptakan kita dengan keadaan se-perti ini? Tidak lain agar kita menjadi manusia yang ajaib. Keajaiban kita ini dikarenakan kita terdiri dari tiga bagian. Manusia tidaklah sederhana, karena itu jangan sekali-kali menganggap remeh diri Anda. Jiwa kita memiliki pikiran, emosi, dan tekad. Tubuh kita memiliki banyak anggota tu-buh. Ilmu kedokteran telah memakai waktu bertahun-tahun lamanya untuk mempelajari tubuh manusia dan tetap tidak bisa memahami dengan sempurna. Di dalam roh kita ada hati nurani, intuisi, dan persekutuan. Allah menciptakan kita dengan keadaan yang ajaib sekali, sebab Ia ingin kita menjadi wadah untuk diisi Allah. Kita diciptakan bukan dengan tujuan lain. Adanya tubuh kita, memungkinkan kita menjadi bejana hidup untuk diisi oleh Allah. Jika kita men-jadi bejana semacam ini, kita tidak hanya memerlukan roh di batin, tetapi juga tubuh yang di lahir yang memungkinkan kita hidup di bumi ini, kemudian melatih roh kita untuk berkontak dengan Allah, menerima Dia masuk, diisi oleh-Nya, dan bahkan menyerap Dia. Puji Tuhan, kita diciptakan dalam keadaan yang mengagumkan, yaitu memiliki tiga bagian!
Bagi kepentingan kaum muda, saya ingin menggunakan sebuah ilustrasi. Misalnya Anda adalah orang miskin. Anda berusaha mencari uang, pertama-tama untuk memuaskan keinginan jasmani Anda. Akhirnya Anda memperoleh sebuah rumah yang memadai, makanan yang enak, baju yang indah, kendaraan yang baik. Begitu keinginan jasmani Anda ter-penuhi, Anda mulai menginginkan musik, olahraga, dan hiburan-hiburan. Semua itu adalah untuk memuaskan ke-perluan jiwa Anda. Walaupun Anda bisa memperoleh ber-bagai macam hiburan, namun ketika Anda duduk sendirian di rumah pada malam hari, batin Anda masih merasakan kehampaan. Anda masih merasa kekurangan sesuatu. Anda berkata kepada diri sendiri, “Kamu telah memiliki segala sesuatu. Apa lagi yang kamu ingini? Kamu memiliki mobil, rumah indah, istri, dan anak-anak yang baik, juga memiliki hal-hal yang menyenangkan dan berbagai hiburan.” Namun di dalam batin Anda ada suara, “Aku masih kekurangan se-suatu.” Batin Anda yang terdalam ada keperluan, terus me-minta, bahkan mendesak. Apakah itu? Itulah roh Anda. Bagian diri Anda yang ini, yaitu roh Anda, memerlukan Allah.
Kita terdiri dari tiga bagian, karena itu kita mempunyai tiga jenis keperluan — keperluan jasmani, keperluan psiko-logi, dan keperluan rohani. Di dalam masyarakat, ke-banyakan orang hanya memenuhi keperluan yang pertama dan yang kedua, tetapi mengabaikan yang ketiga. Inilah sebabnya gereja ada di sini, karena hanya gereja yang bisa menolong orang-orang untuk memuaskan kebutuhan yang ketiga. Sekalipun mungkin Anda mempunyai kenikmatan material yang terbaik dan benda-benda pemuas kejiwaan yang terbaik pula, Anda masih tetap merasa kekurangan. Anda memerlukan kenikmatan rohani, Anda memerlukan Allah. Anda perlu dipuaskan sampai di lubuk batin Anda. Sejak saya mempunyai kepuasan yang batiniah, saya tak lagi begitu peduli akan mobil atau rumah. Roh saya di-puaskan oleh Allah, karena roh saya dibuat untuk diisi Dia.
Untuk mencapai tujuan-Nya, pertama-tama Allah mem-buat manusia sebagai sebuah wadah untuk diisi diri-Nya sebagai hayat. Manusia diciptakan dengan cara yang isti-mewa, bukan hanya sebagai makhluk yang memiliki tubuh untuk dapat hidup secara jasmani, dan jiwa untuk menyata-kan dirinya, tetapi juga dengan sengaja diberikan sebuah roh sebagai organ untuk berkontak dengan Allah, dan sebagai alat penerima guna menerima dan diisi Allah. Jiwa manusia meliputi semua persona dan kepribadiannya. Ketiga bagian ini membentuk kepribadian yang lengkap. Tetapi tujuan Allah menciptakan manusia bukan supaya manusia meng-ekspresikan dirinya demi dirinya sendiri, melainkan meng-hendaki manusia menjadi ciptaan lengkap, yang bisa mene-rima Allah menjadi hayat, bahkan dengan keseluruhan diri manusia mengekspresikan Allah. Karena itu, selain jiwa manusia memerlukan organ yang istimewa untuk berkontak dengan Allah — roh manusia. Seperti yang telah kita sebut-kan pada berita yang lalu, semua hal di dalam Kejadian merupakan benih yang akan berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya di dalam Alkitab. Perkara-perkara yang kita bicarakan dalam berita ini, yaitu manusia sebagai wadah untuk diisi Allah, roh manusia sebagai alat untuk berkontak dengan Allah, juga demikian. Semua butir ini ditabur dalam kitab Kejadian sebagai benih-benih dan akan bertumbuh dengan sempurna di dalam Perjanjian Baru sehingga men-capai kematangan. Kita memerlukan banyak ayat dalam Alkitab Perjanjian Baru untuk memberikan suatu definisi yang lengkap terhadap hal-hal ini, tetapi dalam berita ini, sementara kita akhiri di sini.