PENCIPTAAN PEMULIHAN DAN PENCIPTAAN LEBIH LANJUT ALLAH (6) — PERAMPUNGAN SEMPURNA
Kita tetap melanjutkan pokok pembicaraan mengenai perampungan sempurna. Seperti yang telah kita lihat dalam berita yang lalu, hal pertama dari perampungan ini adalah Allah mendapatkan ekspresi dan wakil-Nya. Inilah puncaknya. Berdasarkan butir-butir ini, kita akan meninjau beberapa butir lainnya.
(2) Allah Memberkati Manusia Agar Beranak Cucu
Allah memberkati manusia agar beranak cucu dan berkembang biak, memenuhi bumi, dan menaklukkannya (Kej. 1:28). Ini bukan perkara kecil. Sebelum Allah men-jadikan manusia untuk mengekspresikan-Nya dan mewakili Dia, tidak ada jalan bagi Allah untuk mencurahkan berkat-Nya dengan sempurna. Allah itu kaya, berkat Allah juga kaya. Namun sebelum manusia diciptakan, tidak ada sasaran yang dapat menerima berkat-Nya dengan sempurna. Menurut catatan Kejadian 1, Allah baru mulai memberkati pada saat makhluk-makhluk hidup diciptakan (Kej. 1:22). Jadi hanya hayat manusia yang memenuhi syarat untuk menerima berkat Allah dengan sempurna. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia dapat melihat bahwa di bumi ada makhluk hidup yang memiliki gambar-Nya dan kekuasaan-Nya. Allah dengan segera mengaruniakan berkat-Nya dengan sempurna ke atas manusia.
Berkat adalah satu kata yang baik. Banyak orang men-ceritakan berkat Tuhan. Seringkali kita berdoa, “Tuhan, berkatilah kami.” Jika kita ingin menerima berkat Allah, kita perlu memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat-nya, sekali lagi, adalah gambar dan pemerintahan. Jika gambar Allah beserta pemerintahan-Nya ada di dalam ru-mah Anda, niscaya berkat Tuhan ada di sana. Berkat Allah selalu menyertai gambar-Nya dan pemerintahan-Nya. De-ngan kata lain, berkat Allah selalu mengikuti ekspresi-Nya dan per-wakilan-Nya.
Berkat Allah selalu menyertai jabatan imam dan ja-batan raja. Kita dapat melihat hal ini dari Melkisedek. Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Maha-tinggi yang memberkati Abraham (Kej. 14:17-19). Berkat selalu datang melalui keimaman dan jabatan raja. Jika ge-reja menuntut berkat Tuhan, gereja harus mempunyai ja-batan imam dan jabatan raja. Apakah makna jabatan imam dan jabatan raja? Singkatnya adalah gambar dan pemerin-tahan Allah. Keimaman adalah bagi gambar Allah, sedang jabatan raja bagi pemerintahan Allah. Selama kita meng-gunakan jabatan imam untuk berhubungan dengan Allah, memandang Allah, dan memantulkan gambar kemuliaan-Nya, kita pun memiliki jabatan raja, dan berkat Allah segera dan senantiasa mengikutinya.
Allah memberkati manusia agar manusia dapat beranak cucu, berlipat ganda, dan memenuhi bumi ini. Berkat ini adalah beranak cucu, pertambahan, pelipatgandaan, dan pe-menuhan bumi. Jika Adam, manusia korporat ini, diciptakan menurut gambar kalajengking atau ular dan Allah mem-berkati kalajengking atau ular ini supaya bertambah banyak dan memenuhi bumi, bumi akan dipenuhi kalajengking dan ular, sungguh mengerikan! Jika hal itu yang terjadi, saya lebih suka tidak dilahirkan saja. Bayangkan, di kamar Anda ada 200 ekor kalajengking dan di ruang tamu ada 200 ekor ular, niscaya itu bukan berkat, melainkan kutuk. Namun Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, dan memberinya kuasa untuk memegang pemerintahan di bumi bagi yang Mahakuasa. Manusia ini siap untuk mene-rima berkat Allah. Allah memberkati agar manusia sanggup beranak cucu. Dan satu menjadi 10, 10 menjadi 100, 100 menjadi 1000, 1000 menjadi 100.000, 100.000 menjadi 1 juta, 1 juta menjadi 1 miliar, hingga seluruh bumi ini dipenuhi dengan wajah-wajah elok yang mengekspresikan Allah dan mewakili Allah.
Walaupun manusia telah jatuh, suatu hal yang menakjubkan masih terus berlangsung. Hal yang menakjubkan ini adalah gambar Allah. Banyak orang menyayangi anjing, tetapi rasa sayang kepada anjing sangat berbeda dengan rasa sayang kepada manusia. Tidak peduli betapa bagusnya seekor anjing, ia tetap tak seindah manusia. Setiap manusia indah karena setiap manusia mempunyai gambar Allah. Tidak peduli betapa dalamnya manusia jatuh, bumi ini tetap dipenuhi oleh orang-orang yang mempunyai gambar Allah.
Dalam hidup gereja hari ini kita adalah manusia sejati yang mempunyai gambar Allah dan menerapkan pemerintahan Allah. Dalam hidup gereja, kita sudah siap menerima Allah dan menerima berkat-Nya. Berapa banyak berkat yang Allah karuniakan kepada kita tergantung pada berapa banyak kita mengekspresikan Dia dan mewakili Dia. Bila kita mengeks-presikan Dia dan mewakili Dia dengan sepatutnya, pastilah kita memperoleh berkat yang sempurna dalam hal berlipat ganda dan beranak cucu.
Pada butir ini saya ingin mengatakan sesuatu tentang penginjilan. Segala sesuatu di dalam lingkungan kekris-tenan, termasuk pemberitaan Injil, telah menjadi rusak karena pelaksanaan yang kasihan pada abad-abad lampau. Realitas pemberitaan Injil bukan hanya pekerjaan di luar. Realitas dari penginjilan adalah buah yang dihasilkan dari luapan hayat batiniah. Di dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas, Tuhan Yesus menyuruh kita pergi memberitakan Injil, menjadikan semua bangsa murid-murid Tuhan; tetapi di dalam Injil Yohanes Ia mengatakan bahwa kita harus menghasilkan buah. Menginjil adalah satu hal; berbuah ada-lah hal yang lain lagi. Penginjilan yang sejati bukan untuk meyakinkan orang-orang dengan doktrin-doktrin, menundukkan pikiran mereka dan mengubah konsepsi mereka. Penginjilan yang sejati adalah menyuplaikan hayat kepada orang lain. Berbuah, adalah luapan dari kekayaan hayat batiniah. Amatilah carang-carang dari sebuah pohon yang penuh dengan sari hayat. Dari kelimpahan hayat ini carang-carang menghasilkan buah. Buah-buahan merupakan hasil kekayaan hayat yang di dalam. Kita harus menyadari bahwa pemberitaan Injil seharusnya merupakan perihal berbuah dan buah ini datangnya dari berkat Allah. Sekalipun kita perlu berdoa bagi pemberitaan Injil, namun ini tidak semata-mata karena ketekunan kita. Kita harus memperoleh berkat Tuhan. Jika gereja ingin berkembang, sudah tentu Injil harus diberitakan. Namun jika pemberitaan Injil ini tidak di bawah berkat Tuhan, tidak ada satu jiwa pun yang bisa kita peroleh, tak peduli bagaimana giatnya kita. Buah yang diperoleh tidak akan memiliki wajah manusia, tetapi wajah kalajengking. Anda boleh membawa banyak orang, tetapi ketika Allah nampak mereka, Allah akan berkata, “Ini se-ekor kalajengking, ini seekor ular, dan itu seekor kodok. Memang kalian telah membawa banyak orang, tetapi tidak banyak yang memiliki wajah yang dengan tepat mengeks-presikan Allah.” Orang macam apakah yang Anda bawa? Orang-orang berwajah kalajengking atau orang-orang ber-wajah indah yang mengekspresikan Allah sendiri? Buah yang Anda hasilkan itu adalah ekspresi dari hakiki Anda. Jika Anda pohon apel, tidak mungkin Anda berbuahkan jeruk. Jika Anda pohon persik, Anda tidak mungkin berbuahkan pisang. Jika Anda ingin berbuahkan pisang, Anda haruslah pohon pisang. Jika Anda adalah pohon pengetahuan, jangan berharap menghasilkan buah hayat. Hanya pohon hayat yang bisa berbuahkan hayat. Kita semua harus giat menga-barkan Injil, tetapi tengoklah hakiki diri kita. Jika kita di dalam gambar Allah dan memiliki pemerintahan Allah, kita pasti membawa orang lain ke dalam gambar Allah dan pemerintahan Allah. Semua gereja lokal perlu meluas, tetapi jangan memakai variasi, yang mungkin akan menghasilkan “orang Moab” sebagai pengganti buah yang sepatutnya.
Allah menjanjikan keturunan bagi Abraham. Namun Allah terus-menerus menguji Abraham hingga hayat alamiah Abraham diakhiri. Kemudian Allah memberinya seorang keturunan. Ketika Abraham berada di bawah pengujian Allah, istrinya datang dengan sebuah usul yang bagus (Kej. 16:1-2), dan ia melakukannya. Usul itu berhasil, tetapi tidak menghasilkan Ishak yang dikehendaki Allah, melainkan menghasilkan Ismael yang ditolak oleh Allah. Nama Ishak dan Ismael sama-sama dimulai dengan huruf “Is”. Mereka terlihat serupa. Semua gereja perlu berkembang, tetapi bu-kan dengan meniru Sara. Jangan menghasilkan kaum Ismael.
Contoh lain adalah kedua putri Lot (Kej. 19:30-38). Ingatkah Anda bagaimana mereka memperbincangkan tentang keturunan? Mereka berkata, “Ayah mungkin tak mem-peroleh keturunan. Baiklah kita berbuat sesuatu, menolong dia memperoleh ahli waris.” Mereka melakukan sesuatu dan ada hasilnya. Mereka melahirkan suku Moab dan suku Amon. Banyak orang Kristen hari ini melahirkan bangsa Ismael, bangsa Moab, atau bangsa Amon. Lebih baik tidak memiliki keturunan seperti itu.
Kita harus menjadi orang yang memiliki gambar Allah dan menggunakan kekuasaan Allah. Kemudian kita akan berada di bawah berkat Allah untuk berkembang dan ber-lipat ganda. Wajah-wajah manusia dengan gambar Allah akan memenuhi permukaan bumi. Inilah butir perampung-an sempurna. Jangan mengira pemberitaan Injil adalah se-suatu yang rendah. Pemberitaan Injil harus tinggi. Peng-injilan kita harus merupakan puncak, namun jangan meng-hasilkan Ismael, Moab, dan Amon, melainkan menghasilkan Ishak.
Kita, orang-orang Kristen, sering mempunyai impian yang sia-sia. Dalam Kisah Para Rasul, kita mengutip catatan tentang 3000 orang diselamatkan pada hari Penta-kosta dan 5000 orang pada hari berikutnya. Walaupun ada tercatat demikian, namun pertambahan jumlah manusia tidak dapat secepat itu. Mungkin memerlukan jangka waktu 20 tahun untuk memperoleh satu generasi. Anda takkan da-pat mempunyai satu generasi dalam waktu 5 tahun. Ber-selang 5 tahun saja, dia masih sebagai bocah kecil. Bahkan sesudah 15 tahun, ia masih seorang remaja. Umumnya me-merlukan 20 tahun untuk menghasilkan satu generasi ma-nusia. Membuat bunga-bunga palsu itu mudah. Dalam wak-tu satu malam saja kita sudah dapat mengisi ruangan si-dang ini dengan bunga-bunga palsu, tetapi semuanya adalah buatan manusia belaka. Untuk mengusahakan sebuah ke-bun bunga memerlukan waktu. Jika kita ke kebun pada dini hari, kita akan nampak keadaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Keadaan yang sama ini juga akan terlihat pada keesokan harinya, dan setiap hari keadaannya akan nampak seperti hari-hari sebelumnya. Kita memerlukan beberapa ta-hun supaya pohon bertumbuh dan menghasilkan buah. Te-tapi haleluya! Asal mereka bertumbuh, mereka akan ber-tambah banyak. Demikian juga dengan hidup gereja. Setiap gereja perlu berkembang biak; tetapi kita tidak mau pening-katan jumlah yang tumbuh seperti jamur, dalam semalam sudah berkembang biak. Kita perlu pertambahan yang datangnya dari gambar dan pemerintahan yang ada di bawah berkat Allah. Ini memerlukan waktu.
(3) Manusia dan Semua Makhluk Hidup Dipuaskan
Bukanlah suatu hal yang kecil mengatakan manusia dipuaskan (Kej. 1:29). Seandainya Adam telah dijadikan dan tidak ada sesuatu pun yang bisa ia makan, lalu Allah berkata kepada Adam, “Aku telah menciptakan kamu. Tetapi Aku tidak menyediakan apa pun untuk makananmu. Tunggulah sehari atau dua hari lagi.” Bagaimana ini? Namun keadaan-nya tidaklah begitu. Segalanya telah disiapkan sebelum Adam diciptakan. Allah telah menumbuhkan pohon-pohonan yang buahnya baik untuk dimakan. Ketika Adam tercipta melalui penciptaan tangan Allah, ia segera mempunyai segala sesuatu untuk dimakan. Ia dipuaskan. Bukan hanya Adam yang dipuaskan, semua makhluk hidup juga dipuas-kan (Kej. 1:30). Selanjutnya kita melihat bahwa perhentian yang sejati datang dari kepuasan ini. Dapatkah kita ten-teram bila kita lapar? Selama kita lapar, kita takkan pernah tenteram. Perhentian tergantung pada kepuasan. Haleluya! Manusia makan dan dipuaskan.
(4) Segalanya Sungguh Amat Baik
Kejadian 1:31 mengatakan bahwa Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. Sebelum hari keenam, Allah tak pernah berkata “amat baik”, Dia hanya mengatakan “baik”. Mengapa Allah mengatakan ‘amat baik” pada hari keenam? Sebab Adam memiliki gambar Allah dan kepadanya diserahkan pemerintahan Allah. Tidak ada yang bersungut-sungut dan tidak ada yang merasa lapar. Allah dapat mengatakan “amat baik!” Itulah puncaknya. Setelah Allah berkata demikian, tibalah hari yang ketujuh, hari perhentian.
(5) Allah Mendapatkan Perhentian —Allah Dipuaskan
Allah mendapatkan perhentian (beristirahat) karena Ia telah puas (Kej. 2:1-3). Inilah butir terakhir dari perampungan sempurna — Allah mendapatkan perhentian dan puas.
(a) Alasan Perhentian
Alasan perhentian Allah ialah kemuliaan-Nya telah dimanifestasikan, karena manusia memiliki gambar-Nya dan akan menerapkan kekuasaan-Nya. Iblis, seteru Allah, akan ditanggulangi oleh Allah. Selama manusia mengeks-presikan gambar Allah dan menanggulangi musuh Allah, Allah mendapatkan perhentian. Jadi bukan saja Allah telah menyelesaikan pekerjaan-Nya, bahkan di dalam pekerjaan-Nya ada manusia yang memiliki gambar Allah dan me-naklukkan musuh Allah. Berdasarkan dua kenyataan ini, Allah mendapatkan perhentian.
(b) Miniatur Perhentian — Perhentian Penciptaan
Perhentian penciptaan adalah perhentian kecil, merupakan miniatur perhentian. Dalam perhentian ini, manusia memiliki gambar Allah dan dapat menerapkan pemerintahan Allah. Kedua faktor ini menyebabkan perhentian, tetapi hanya perhentian dalam skala yang kecil.
(c) Lambang Perhentian
Semua yang disebut dalam Kejadian 1 dan 2 adalah benih. Kita telah melihat dalam berita-berita yang lalu bahwa terang, gambar, dan pemerintahan merupakan benih. Perhentian juga merupakan suatu benih, memerlukan ke-seluruhan Alkitab untuk bertumbuh dan berkembang. Benih perhentian ditabur dalam kitab Kejadian dan dituai dalam kitab Wahyu. Dalam kitab Wahyu kita memperoleh perampungan perhentian.
Dalam Alkitab ada beberapa lambang perhentian. Hari Sabat dalam Perjanjian Lama merupakan salah satu lambang perhentian (Kel. 20:8-11). Manusia adalah ke-saksian, ekspresi Allah. Manusia juga adalah subyek ke-kuasaan Allah. Kekuasaan Allah dilaksanakan atas orang-orang yang me-melihara hari Sabat. Dengan demikian hari Sabat meru-pakan satu lambang perhentian.
Hari Tuhan dalam Perjanjian Baru juga merupakan lambang perhentian (Why. 1:10; Kis. 20:7; 1 Kor. 16:2). Hari Tuhan adalah lambang dari perhentian yang akan datang. Gereja dengan kaum saleh membebaskan hayat Tuhan, mengekspresikan Allah sendiri. Inilah perhentian yang kita miliki hari ini. Asalkan Allah diekspresikan, di sana ada per-hentian. Gereja dengan kaum saleh menerapkan kekuasaan Tuhan untuk menanggulangi musuh-Nya. Jika kita mem-bebaskan hayat Tuhan dan menerapkan kekuasaan-Nya, niscaya sekarang juga kita memiliki perhentian. Sebaliknya, bila kita bertengkar, kita tak akan mempunyai perhentian, sebab kita tidak membebaskan hayat Tuhan. Jika kita gagal melaksanakan kekuasaan Tuhan atas musuh, tidak akan ada perhentian.
(d) Pencicipan Perhentian
Perhentian yang kita alami sekarang ini adalah pencicipan akan perhentian, sebab perhentian yang sempurna belum datang.
1) Atas Diri Para Saleh
Atas diri para saleh hayat Allah mengalir dan Allah sendiri diekspresikan. Asal hayat Allah teralir, diri-Nya ter-ekspresikan, maka di sana ada perhentian. Inilah pencicipan terhadap perhentian yang akan datang. Anda dapat meng-alami perhentian ini, sekalipun Anda di dalam pekerjaan Anda. Bila Anda membiarkan hayat Tuhan mengalir dan Anda membiarkan Allah terekspresi, Anda akan mengalami perhentian. Namun jika Anda terputus dari aliran hayat Tuhan, maka segera keadaan di dalam Anda menjadi kacau balau, tidak ada perhentian. Semakin Anda berban-tahan dengan istri Anda, Anda akan makin sakit lambung. Bahkan akan timbul luka lambung, yang menyatakan tidak ada hayat dan tidak ada perhentian. Sebaliknya, jika Anda mem-bebaskan hayat Tuhan setiap kali istri Anda menyulitkan Anda, Anda akan mengecap perhentian.
Atas diri para saleh, kekuasaan Allah terterapkan dan seteru Allah tertanggulangi. Ketika istri Anda menyulitkan Anda, janganlah menggunakan jabatan Anda sebagai kepala. Jangan berkata kepadanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah kepala?” Jika Anda berbuat demikian, Anda akan kehilangan wajah manusia dan sebagai gantinya Anda meng-ekspresikan wajah ular. Anda akan menjadi kalajengking. Ketika istri Anda menyulitkan Anda pergilah kepada Tuhan sebagai seorang imam. Biarkan hayat mengalir dan terbe-baskan. Kekuasaan dan pemerintahan ada di sana, musuh akan takiuk dan Anda dengan istri Anda akan memiliki perhentian. Kita semua mempunyai pengalaman seperti ini.
2) Dalam Gereja, yakni Tubuh Kristus
Dalam gereja, yakni Tubuh Kristus, Allah diekspresikan dan Iblis ditanggulangi (Ef. 1:23; 3:19b; 6:11-13). Kapan dan di mana saja Allah diekspresikan serta musuh ditanggu-langi, di sana ada pencicipan akan perhentian. Hal ini juga akan benar-benar dialami dalam kehidupan rumah tangga, kehidupan pernikahan, dan kehidupan pribadi. Jika Anda membeli sesuatu yang tidak dapat membantu Anda meng-ekspresikan Allah dan menanggulangi Iblis, Anda akan ke-hilangan pencicipan perhentian ini. Jika Anda mengeks-presikan Allah dan menanggulangi seteru-Nya, apa pun yang Anda lakukan dan ke mana pun Anda pergi, Anda akan mencicipi perhentian yang manis dari perhentian yang akan datang.
Dalam hidup gereja, jangan berbantahan dan jangan bersungut-sungut. Pada suatu malam, saya menerima te-lepon yang memberi tahu saya bahwa kondisi gereja tertentu sangat kasihan. Ada dua orang yang menelepon saya, yang satu membenarkan apa yang dikatakan yang lain tentang gereja yang kasihan dan sakit. Setelah mengutarakannya, mereka mengharapkan untuk mendengar komentar saya. Segera saya mejawab, “Jangan bicara seperti ini. Mulai sekarang, lupakanlah apa yang telah kalian katakan. Jika kalian mengatakan keadaan gereja kurang baik, tentu akan kurang baik keadaannya, karena kalian sendiri yang kurang baik. Jika kalian katakan gereja sangat indah, tentu keadaan gereja sangat indah, karena kalian sendiri juga indah. Apa-kah gereja itu? Gereja tidak lain adalah kalian sendiri. Bila kalian mengatakan keadaan gereja lemah, itu berarti kalian menghakimi diri kalian sendiri.” Selanjutnya saya katakan kepada kedua saudara itu bahwa mereka harus waspada terhadap tipu muslihat musuh. Kemudian mereka bertanya, “Apa yang harus kami perbuat? Kami harus mencari siapa?”
Saya menjawab, “Jangan mencari siapa pun. Jangan sing-gung itu lagi. Datang saja bersidang dan memuji Tuhan.” Tanya mereka, “Haruskah kami berdoa?” Saya menjawab, “Ya, kalian harus berdoa, tetapi janganlah berdoa tentang hal-hal yang negatif. Berdoalah dengan positif. Gereja tidak ada problema. Gereja adalah mulia. Gereja tidak perlu kau doakan : “Ya Tuhan, di sini ada problema.” Justru Andalah problemanya. Semakin Anda mendoakan problema, semakin Anda menjadi problema itu. Janganlah menimbulkan pro-blema, niscaya tidak akan ada problema. Pergilah bersidang, memuji Tuhan, dan berdoa dengan positif.”
Kita harus melihat jelas tipu muslihat musuh. Mulai sekarang jangan membicarakan keadaan gereja. Lebih baik bersama-sama bersidang dan memuji Tuhan. Gereja adalah gereja, maka kita mempunyai perhentian. Bila Anda mem-bicarakan keadaan gereja, Anda akan kehilangan perhentian; Anda takkan pernah mencicipi perhentian. Jika Anda pergi dan bersama-sama berhimpun serta memuji Tuhan, Anda se-gera mencicipi perhentian.
(e) Penggenapan Perhentian —
Perhentian Kerajaan Seribu Tahun
Penggenapan perhentian adalah perhentian di dalam Kerajaan Seribu Tahun. Menurut kitab Ibrani, ada satu per-hentian yang dijanjikan kepada umat Allah dan kita semua harus berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu (Ibr. 4:1, 3, 9, 11). Jika kita tidak berusaha hingga masuk ke dalam perhentian itu, kita akan gagal memperolehnya. Jalan untuk mencapai perhentian itu adalah mengalami pencicipan perhentian pada hari ini. Jika kita mempunyai pencicipan atas perhentian hari ini, kita akan masuk ke dalam kenikmatan yang penuh. Jika hari ini kita tidak memiliki pencicipan akan perhentian, kita akan kehilangan penik-matan penuh yang akan datang. Selama perhentian dalam Kerajaan Seribu Tahun, para saleh akan menjadi sama seperti Kristus, mengekspresikan kemuliaan Allah (1 Yoh. 3:2; Kol. 3:4; 1 Tes. 2:12). Para saleh akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus (Why. 20:6).
(f) Perampungan Perhentian
Perampungan perhentian adalah perhentian di dalam langit baru dan bumi baru. Semua orang yang tertebus men-jadi satu Tubuh yang mengekspresikan kemuliaan Allah sampai selamanya (Why. 21:11, 23). Seluruh umat tebusan sebagai satu Tubuh juga memerintah bagi Allah untuk se-lama-lamanya (Why. 22:5b). Inilah perampungan perhen-tian. Perhentian dalam Kejadian 2 hanya sebagai lambang; perampungannya adalah dalam Yerusalem Baru. Setiap orang akan dipuaskan. Setiap orang akan memiliki perhentian ini, sebab Allah sendiri akan dipuaskan dan Allah sendiri akan mendapatkan perhentian-Nya di sana. Kehidupan gereja hari ini merupakan miniatur Yerusalem Baru. Kehidupan gereja adalah pencicipan akan perhentian yang sempurna. Perhentian yang sempurna ini terutama mengandung dua bagian : mengekspresikan gambar Allah dan melaksanakan kekuasaan Allah.
(g) Manusia Juga Memiliki Perhentian Bersama Allah
Jika Anda membaca Kejadian 1 dengan cermat, Anda akan melihat bahwa setelah Allah menciptakan manusia, Ia tidak mengatakan bahwa manusia harus bekerja. Allah hanya mengatakan tentang makannya manusia (Kej. 1:29).
1) Hari Ketujuh bagi Allah Adalah Hari Pertama bagi Manusia
Menurut kalender Alkitab, satu hari bukan dimulai dari pagi hari, melainkan dari sore hari. Saya percaya manusia dijadikan pada waktu senja pada hari keenam. Ketika ma-nusia dihasilkan dari penciptaan tangan Allah, dengan segera ia memasuki hari ketujuh. Hari ketujuh adalah hari per-hentian bagi Allah (Kej. 2:2-3). Hari ketujuh Allah adalah hari pertama manusia. Ini berarti Allah telah menyediakan segala sesuatu bagi kenikmatan manusia. Setelah manusia diciptakan, ia tidak menggabungkan diri ke dalam pekerjaan Allah; ia justru masuk ke dalam perhentian Allah. Haleluya! Jangan berpikir bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu. Allah tidak membutuhkan Anda mengerjakan sesuatu. Al-lah mempunyai banyak kekayaan dan Ia menginginkan Anda datang untuk menikmati kekayaan-Nya. Jangan bekerja! Jika Anda mencoba bekerja, Allah akan berkata, “Anak bodoh, Aku tidak menyuruhmu bekerja. Aku memiliki kekayaan yang berlimpah untuk kau nikmati. Datanglah, dan bersatulah dengan-Ku dalam perhentian-Ku. Hari perhentian-Ku adalah hari pertamamu. Aku telah bekerja selama 6 hari. Sekarang datanglah, bersama-sama dengan-Ku dalam perhentian sebagai hari pertamamu. Marilah kita bersama-sama menikmati perhentian.” Demikianlah manusia melakukan hal ini.
Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk menemukan apa yang diperbuat oleh manusia setelah ia diciptakan. Saya menemukan bahwa manusia tidak berbuat apa pun kecuali makan dan beristirahat. Bukankah ini sungguh ajaib! Sesudah beroleh selamat, orang selalu berpikir tentang apa yang harus ia lakukan. Lupakanlah segala pekerjaan. Datanglah makan Yesus. Datanglah untuk dipuaskan. Da-tanglah, untuk beserta dengan Allah di dalam perhentian-Nya. Allah akan berkata, “Anak kecil, lupakan perbuatan-mu. Lupakan pekerjaanmu. Aku telah melakukan semua-nya. Sekarang adalah waktu-Ku beristirahat. Masuklah ke dalam perhentian-Ku.”
Pada tahun 1936, saya bekerja di China Utara; saya merasakan beban yang amat berat atas pekerjaan Tuhan. Pekerjaan yang sangat berat, penuh ujian, dan keadaan yang tidak lancar. Saya sering mengayuh sepeda ke daerah pinggir kota, melemparkan sepeda saya ke tanah dan berbaring di atas tanah, lantas berteriak, “Tuhan, tolong aku!” Saya me-rasa sulit menghadapi ujian. Pada suatu hari, sebelum saya menyampaikan suatu berita, sebuah perkataan datang dan berbicara kepada saya, “Tahukah kamu bahwa hari pertama manusia adalah hari ketujuh Tuhan? Hari ketujuh Tuhan adalah hari pertama manusia. Mengapa engkau demikian yusah payah? Anak bodoh, hentikan semuanya. Lemparkan pekerjaanmu. Datanglah kepada-Ku dan masuklah ke dalam perhentian-Ku.” Minggu pagi itu saya memberitakan bahwa hari ketujuh Allah adalah hari pertama manusia. Saya kata-kan kepada orang banyak, “Haleluya! Hari ini adalah hari pertama saya. Berbulan-bulan saya telah bekerja keras tetapi sekarang saya melemparkan semua pekerjaan saya. Saya tidak mau bekerja keras lebih lama lagi. Hari ini saya mau mulai beristirahat bersama Allah. Hari ketujuh-Nya adalah hari pertama saya.” Anda mungkin bertanya, “Bagaimanakah mengenai hari sesudah hari ketujuh ini?” Itulah hari pertama dalam seminggu, Hari Tuhan, sebuah hari perhentian yang baru dan Sabat yang baru. Puji Tuhan!
2) Hari Sabat (Perhentian) Diadakan untuk Manusia
Orang-orang Farisi memaksa setiap orang harus untuk hari Sabat. Tuhan menghakimi mereka, mengatakan bahwa mereka mutlak salah. Ia berkata bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (Mrk. 2:27). Haleluya! Takdir manusia bukan untuk bekerja, melainkan perhentian.
3) Manusia Memiliki Perhentian
karena Allah Memiliki Perhentian
Kapan Allah puas, Anda pun puas. Ketika Anda puas, itu membuktikan bahwa Allah ada di dalam perhentian. Ia sudah dipuaskan.
4) Manusia Memiliki Perhentian Bila Pekerjaan Allah atas Diri Manusia Telah Mencapai Sasaran
Jangan bekerja. Peliharalah baik-baik satu hal : biarkan sasaran Allah tercapai. Apakah sasaran Allah? Sasaran Allah ialah agar gambar-Nya terekspresi dan pemerintahan-Nya terlaksana. Selama Anda mengekspresikan-Nya dan ke-kuasaan Allah terlaksana untuk menanggulangi musuh-Nya, niscaya Allah telah mencapai sasaran-Nya. Allah akan ber-kata, “Aku puas.” Kemudian Anda akan berkata, “Allah, aku pun puas.” Dengan demikian Anda memiliki perhentian ber-sama Tuhan.
Semua perhentian yang disebut di depan adalah berdasarkan kenyataan bahwa Allah telah mencapai sasaran-Nya dan manusia menikmati perhentian itu bersama Allah. Puji Tuhan! Ini sungguh baik.
Saya sungguh girang Tuhan telah memberi kesempatan kepada kita untuk melepaskan kesembilan berita dari kitab Kejadian ini. Dari berita-berita ini kita dapat melihat, segala sesuatu yang ditulis di dalam catatan ilahi ini semuanya berfokus pada hayat. Kejadian 1 dan 2 merupakan sebuah garis besar. Biografi dari kedelapan orang — Adam, Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf — menampilkan gambaran yang menyeluruh. Akhirnya kita akan melihat, Yakub dan Yusuf merupakan pasangan. Mereka berdua sebenarnya satu orang : Yakub menjadi Israel, pange-ran Allah, mewakili gambar Allah; Yusuf menjadi penguasa atas segala sesuatu, melaksanakan pemerintahan Allah. Pada akhir kitab Kejadian kita dapat melihat juga seorang yang merangkap dua aspek : aspek pertama — Yakub — mengekspresikan gambar Allah dan aspek kedua — Yusuf — melaksanakan pemerintahan Allah. Gambar Allah dieks-presikan, kekuasaan Allah diterapkan; di sana ada per-hentian. Haleluya!
Seluruh Alkitab dengan seluruh cerita, sejarah, biografi, dan pengajaran, semuanya berfokus pada hayat. Hayat itu akan menghasilkan ekspresi Allah dan wakil Allah. Allah akan dimanifestasikan dan musuh-Nya akan ditanggulangi. Haleluya! Kemudian akan ada perhentian yang terakhir di dalam jagat raya ini. Kita berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tanpa Perjanjian Baru, sukar bagi kita untuk mengerti perumpamaan-perumpamaan, contoh-contoh, lambanglambang, dan bayang-bayang dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi tanpa Perjanjian Lama, kita hanya akan memiliki perkataan-perkataan langsung dari Perjanjian Baru, namun kekurangan gambar-gambar. Puji Tuhan, kita memiliki dua Perjanjian. Kita mempunyai gambar-gambar, kita pun me-miliki perkataan yang jelas, sehingga kita bisa mengetahui di manakah kita berada — di dalam gambar Allah dan pe-merintahan Allah. Kita perlu mengingat kelima kata yang penting yang pernah kita bahas sejauh ini : gambar, pemerintahan, berkat, kepuasan, dan perhentian. Saat kita mem-punyai gambar Allah dan mengekspresikan Allah, kita akan mempunyai pemerintahan Allah untuk mewakili Allah. Kemudian berkat-Nya yang sempurna akan dilimpahkan ke atas kita dan kita akan dipuaskan. Selanjutnya Allah dan kita akan memililti perhentian di dalam kepuasan, di bawah berkat-Nya, dengan gambar-Nya dan pemerintahan-Nya.