← Daftar isi Kejadian (1) · bab 9/15

PENCIPTAAN PEMULIHAN DAN PENCIPTAAN LEBIH LANJUT ALLAH (5) – PERAMPUNGAN SEMPURNA

d. Perampungan Sempurna

Dalam berita ini sampailah kita pada perampungan sempurna dari Kejadian 1. Kita mengulang kembali langkah-langkah dalam proses penciptaan pemulihan dan penciptaan lebih lanjut Allah. Roh itu melayang-layang (mengerami) di atas kegelapan dan maut. Terang datang, terjadilah pe-misahan antara terang dengan gelap. Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan benda-benda yang di atas dengan benda-benda yang di bawah. Kemudian Allah menyu-ruh daratan yang kering muncul dari air kematian; dan dari daratan yang kering ini ditumbuhkan tanaman-tanaman. Setelah ada tumbuhan-tumbuhan, terang hari keempat da-tang dan menyinari bumi. Kemudian muncul hayat ikan, ha-yat burung, hayat ternak, hayat binatang-binatang, dan segala makhluk yang melata. Akhirnya Allah menciptakan manusia. Manusia merupakan puncak ciptaan Allah, sebab manusia merupakan gambar Allah. Ini bukanlah perkara kecil.

(1) Allah Diekspresikan dan Diwakili

Manusia adalah ekspresi Allah, sebab ia memiliki gambar Allah. Ia juga mempunyai kuasa Allah. Manusia di-beri amanat oleh Allah atas segala yang di laut, di angkasa, dan di bumi, terutama atas segala binatang yang melata. Manusia mempunyai kekuatan, kekuasaan, dan hak meme-rintah, sebab manusia serupa dengan Allah. Manusia mem-punyai gambar Allah, maka manusia mempunyai kekuasa-an. Puncak ciptaan Allah adalah manusia yang memiliki gambar Allah dan mewakili Allah dengan kekuasaan-Nya memerintah segala sesuatu.

Ketika manusia memandang Allah dan Allah meman-dang manusia, mereka tampak serupa. Jika saya memotret Anda, Anda akan kelihatan sama dengan foto Anda dan foto Anda kelihatan sama dengan Anda. Begitu juga Allah dapat berkata, “Duhai manusia, kau sangat serupa dengan-Ku.” Manusia akan menjawab, “Ya Allah, Engkau juga serupa de-nganku. Kita berdua sangat serupa satu sama lain.” Lagi pula, ketika manusia keluar dari hadirat Allah, dialah yang memerintah atas segala sesuatu yang telah dijadikan. Manusia mempunyai kuasa untuk memerintah. Inilah suatu pemerintahan, kerajaan.

Dua kata terpenting dalam Kejadian 1 adalah gambar dan kuasa. Anda boleh lupa segala makhluk yang melata dan ikan-ikan, tetapi janganlah lupa manusia dengan gambar dan kuasa ini. Manusia tidak diciptakan menurut gambar ular atau kalajengking, tetapi menurut gambar Allah sendiri. Inilah puncaknya : Manusia memiliki gambar Allah dan menggunakan kuasa Allah untuk memelihara pemerintahan.

Gambar dan kuasa ditabur sebagai dua benih dalam Kejadian 1. Namun, benih ini memerlukan keseluruhan Alkitab untuk tumbuh dan berkembang, sedang penuaian buah yang sudah masak berada di dalam Wahyu 21 dan 22. Seluruh Yerusalem Baru mengekspresikan Allah, memiliki rupa Allah. Yerusalem Baru juga memakai kuasa Allah un-tuk memelihara pemerintahan Allah sampai kekal. Hari ini, kedua benih ini tumbuh di dalam Anda dan saya. Gambar Allah dan kuasa Allah secara terus-menerus bertumbuh di dalam kita.

Sebagai contoh, kita ambil sepasang muda-mudi yang baru menikah. Suami mengasihi istrinya dan istri mengasihi suaminya. Walau istri mengasihi suaminya, namun di dalam batinnya mungkin ia berkata, “Sekalipun aku mengasihi engkau, tetapi engkau adalah seorang muda yang nakal.” Secara doktrin adalah benar memberi tahu istri bahwa suaminya adalah kepalanya. Akan tetapi bagaimanapun, dalam batinnya sang istri tetap berkata, “Aku tahu, suamiku adalah kepalaku; namun kenyataannya ia adalah pemuda yang nakal. Sukar bagiku untuk menghormatinya.” Pada suatu hari, suaminya beroleh selamat, dan hayat ilahi ma-suk ke dalamnya. Inilah suatu benih, dan hari demi hari, bulan demi bulan, benih ini terus bertumbuh di dalamnya. Lebih kurang 18 bulan kemudian, sang istri melihat keadaan suaminya dan berkata, “Sudah tentu aku harus menghor-mati dia. Dulu ia adalah seorang yang nakal. Tetapi lihat hari ini! Ia sudah sedikit berbobot! Ia tidak begitu kendor, tidak begitu ringan. Ia cukup berbobot.” Di sini tak perlu sang suami menggunakan kekuasaannya berkata, “Engkau harus tahu, sekarang aku adalah suami Kristen. Engkau harus tunduk kepadaku.” Suami tidak perlu mengatakan hal ini. Sebaliknya, begitu sang istri melihat suaminya, ia akan mengakui bahwa perkataan suaminya memang berbobot, ada hal yang mustika dan berharga atas dirinya. Dulu sang istri membantah, sekarang ia menghargai dan menghormati suaminya, menganggap serius segala sesuatu yang dikata-kannya. Karena sekarang ia memiliki gambar Allah, dan gambar ini mendatangkan kuasa Allah. Inilah pemerin-tahan.

Banyak orang telah membaca buku “Kekuasaan dan Ketaatan” tulisan Watchman Nee. Mereka memperalat buku itu dengan berkata, “Kami adalah penatua di dalam ge-reja. Kami adalah pemimpin suatu kelompok orang Kristen. Kami adalah kekuasaan Tuhan.” Jika Anda berkata demi-kian, maka kuasa Tuhan ada di luar Anda. Anda tidak memiliki gambar Allah. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia tidak pernah memiliki sikap yang menunjukkan kepada orang lain bahwa Ia berkuasa, dan orang-orang harus tunduk ke-pada-Nya. Ia tidak pernah berbuat demikian. Namun, ketika Ia di bumi, Ia memiliki gambar Allah, Ia juga mempunyai kuasa Allah. Kekuasaan selalu datang dari gambar.

Perampungan sempurna adalah Allah diekspresikan dan diwakili. Tidak ada hal lain yang lebih tinggi daripada ini. Saat Allah diekspresikan dan diwakili, inilah puncaknya.

Manusia diciptakan menurut gambar Allah agar manusia mengekspresikan-Nya. Ini adalah perkara hayat. Hayat beserta gambar Allah adalah untuk ekspresi Allah. Allah memberi manusia kuasa pemerintahan atas segala sesuatu agar manusia mewakili Dia. Ini adalah perkara kekuasaan. Jika Anda ingin mewakili Allah dengan kekuasaan-Nya, Anda perlu mengekspresikan Allah di dalam hayat. Seluruh Alkitab hanya merupakan satu cerita, menceritakan kaum saleh yang mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Kita kita perlu mengetengahkan delapan belas contoh yang ada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

(a) Contoh Abraham

Kita mulai dengan Abraham (Bukan berarti bahwa sebelum Abraham tidak ada orang lain yang mengeks-presikan Allah) Sedikitnya ada tiga tokoh seperti : Habel, Henokh, dan Nuh. Tetapi jika kita baca sejarah mereka, ti-dak ada catatan bahwa mereka pernah mengalahkan musuh atau menaklukkan sesuatu. Sebelum Abraham, tidak ada catatan tentang orang yang menaklukkan musuh. Abraham mendirikan mezbah supaya ia dapat berkontak dengan Allah (Kej. 12:7). Semakin Anda berkontak dengan Allah, sema-kin banyak gambar Allah yang Anda miliki. Mendirikan mezbah dengan tujuan berkontak dengan Allah berarti semakin diubah ke dalam gambar Allah. Abraham tidak membangun menara, sedangkan orang-orang Babel tidak mendirikan mezbah untuk berkontak dengan Tuhan. Orang-orang Babel membangun menara untuk meninggikan nama mereka (Kej. 11:4). Itulah suatu kecongkakan atas diri sendiri. Abraham dipanggil keluar dari keadaan yang demi-kian; ia mendirikan sebuah mezbah kecil dan di sana ia berkontak dengan Allah. Semakin berkontak dengan Allah, semakin mirip dengan Allah. Alkitab memberi tahu kita, akhirnya Allah menjadi sahabat Abraham dan Abraham di-sebut sahabat Allah (Yak. 2:23). Jika Anda membaca Kejadian 18, Anda bisa melihat bahwa Allah datang kepada Abraham bukan sebagai Pencipta atau sebagai Yang Maha-kuasa, melainkan sebagai sahabat. Hubungan antara Allah dengan Abraham seperti dua orang sahabat, saling bercakap-cakap. Melalui waktu-waktu itu Abraham semakin mirip Allah. Demikianlah kemudian kita nampak Abraham menak-lukkan dan mengalahkan musuh (Kej. 14:17).

(b) Contoh Yusuf

Yusuf merupakan orang terakhir yang sejarahnya di-catat dalam kitab Kejadian. Ia menempuh hidup kudus dan menang (Kej. 39:11-12). Hidupnya sangat mirip dengan Allah. Allah kudus; Yusuf pun kudus. Allah menang; Yusuf pun menang. Yusuf mewakili gambar Allah. Ia adalah orang yang menggenapkan kehendak Allah. Kisah tentang Yusuf adalah kisah tentang kekudusan dan kemenangan, suatu hidup yang akhirnya menjadi kuasa yang memerintah atas segala sesuatu. Yusuf memerintah atas seluruh tanah Mesir (Kej. 41:39-45). Dalam Kejadian 1, kita tahu bahwa manusia di-ciptakan Allah menurut gambar-Nya dan juga diamanatkan hak pemerintahan Allah.

Dalam beberapa pasal yang terakhir dari kitab Kejadian, kita melihat ada seorang yang sungguh-sungguh mengekspresikan Allah, mewakili Allah, dan memerintah seluruh bumi ini.

(c) Contoh Musa

Musa bukan seorang politisi besar. Ia adalah orang yang berkontak dengan Allah. Sesudah ia berkontak dengan Allah, wajahnya memancarkan cahaya mulia ilahi (Kel. 34:29-30). Ketika wajah Musa memancarkan cahaya kemuliaan Allah, ia memiliki gambar Allah. Dengan demikian Musa menjadi orang yang memiliki kuasa. Ia mempunyai kuasa untuk me-merintah atas segenap rumah Israel (Ibr. 3:2, 5). Ia juga mempunyai kuasa untuk mengalahkan musuh (Kel. 14:30-31). Ia bukan berperang dengan senjata api atau bom atom, melainkan dengan sebatang tongkat kecil. Tongkat kecil itu bukan saja menyatakan kekuatan, bahkan menyatakan ke-kuasaan. Dengan menggunakan tongkat itu Musa berkata kepada Laut Merah, “Terbukalah jalan.” Air itu segera ter-belah, terpisah, itulah kuasa. Musa adalah orang yang me-miliki gambar Allah dan mewakili Allah dengan kuasa Allah.

(d) Contoh Orang Israel dan Kemah Pertemuan

Setelah Musa, sampailah kita kepada orang-orang Israel. Orang-orang Israel dipanggil menjadi kerajaan imam (Kel. 19:6). Israel tidak disebut kerajaan para raja, tetapi kerajaan para imam. Keimaman berhubungan mutlak dengan gambar Allah. Jabatan raja berhubungan dengan kekuasaan Allah. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, kita mempunyai kedua jabatan ini, yaitu imam dan raja. Keimaman untuk berkontak dengan Allah dan memiliki gambar Allah, sedangkan jabatan raja untuk mewakili Allah dan menggunakan kuasa Allah. Nanti kita akan melihat bahwa orang Kristen telah terpanggil menjadi imam dan raja. Nasib orang-orang Israel telah ditentukan menjadi ima-mat yang rajani. Mereka berkontak terus sampai seperti Musa, wajah mereka bercahaya penuh kemuliaan Allah. Janganlah memandang segi negatif orang-orang Israel. Pan-danglah segi-segi positifnya. Dengan tabut perjanjian Taber-nakel, mereka, imam-imam itu, mengalahkan negeri Yerikho (Yos. 6:1-21). Jika Anda membuka kembali kitab Yosua 6, Anda akan melihat bahwa seluruh bangsa Israel bukan berperang dengan memakai pedang atau tombak. Hari demi hari, mereka memikul Tabut Perjanjian dan meniup tan-duk-tanduk domba jantan. Kemudian mereka bersorak, ber-arti mereka memuji Allah. Yerikho jatuh. Mereka berperang bu-kan seperti para serdadu atau pejuang. Mereka berperang dengan cara imam. Asalkan Anda seorang imam, Anda sudah bersyarat mengalahkan musuh.

Para istri, mengapa kalian kalah dalam peperangan di tengah-tengah kehidupan keluarga kalian? Karena kalian tidak mempunyai wajah imam. Mungkin kalian memiliki wajah kalajengking, kura-kura, atau ular. Jika kalian tidak mengekspresikan wajah imam, kalian akan selalu kalah dalam peperangan. Para suami, kita sebagai kepala, terma-suk kepala macam apakah kita ini? Kepala kalajengkingkah? Suami yang mempunyai kepala kalajengking tidak mungkin menjadi kepala yang sepatutnya. Anda harus memiliki ke-pala yang mewakili wajah seorang imam, agar memperoleh kemenangan dalam kehidupan keluarga Anda. Bahkan saya harus memeriksa saudara-saudara di perumahan saudara. Wajah jenis manakah yang kalian miliki? Kalian berwajah imam yang memantulkan kemuliaan Tuhan ataukah wajah tikus? Kita harus menjadi imam-imam, agar kita sanggup menaklukkan keadaan sekitar kita. Selama Anda berwajah seorang imam, Anda memiliki kuasa. Yerikho akan ditaklukkan.

(e) Contoh Harun dengan Tongkat yang Bertunas

Contoh Harun ini sangat menarik. Sekalipun maksud Allah adalah membuat seluruh bangsa Israel menjadi sebuah kerajaan imamat, namun bangsa itu telah gagal. Karena itu, dari antara bangsa itu Allah memanggil keluar satu suku, yakni suku Lewi, untuk dijadikan suku imam. Kepala dari suku itu adalah keluarga Harun. Pernah pada suatu kali orang-orang Israel bersungut-sungut dan memberontak ter-hadap Harun, katanya, “Adakah Allah hanya menyertai engkau saja dan tidak dengan kami?” Kemudian Allah menyuruh kedua belas suku itu, masing-masing suku mem-bawa sebuah tongkat dengan nama masing-masing suku bangsa tertera padanya. Tongkat berarti kekuasaan. Di antara semua tongkat, tongkat Harunlah yang bertunas (Bil. 17:2-10). Tongkat itu bertunas buah badam. Di Palestina, pa-da musim semi, yang pertama berbunga adalah pohon-pohon buah badam. Dalam perlambangan, bunga badam melam-bangkan hayat kebangkitan. Sesudah musim dingin, pohon yang pertama berbunga adalah pohon badam dan inilah hayat kebangkitan. Tongkat Harun merupakan sepotong kayu yang mati. Berselang semalam, kayu mati itu telah bertunas. Tongkat itu bukan bertunas bunga pohon apel atau anggur, tetapi buah badam. Ini berarti tongkat itu hi-dup dengan hayat kebangkitan. Di mana ada hayat, di sana ada kuasa. Di mana ada hayat, di sana ada gambar, dan gambar ini mendatangkan pemerintahan. Karena Harun memiliki hayat kebangkitan untuk mengekspresikan Allah, maka ia memiliki kuasa untuk mewakili Allah.

Para penatua di setiap gereja lokal, pemimpin-pemimpin dalam berbagai bidang pelayanan, pemimpin-pemimpin saudari, kalian wajib benar-benar jelas bahwa menjadi pemimpin di dalam gereja di antara umat Allah, berarti kalian harus bertunas. Kalian wajib bertunas dengan hayat kebangkitan. Kita semua hanya sepotong tongkat kayu yang mati. Apakah tongkat kayu yang telah mati dapat menjadi sebuah tongkat yang berkuasa atau tidak, tergantung apakah kayu mati ini bertunas dengan hayat kebangkitan atau tidak. Jika Anda mempunyai niat menjadi seorang pemimpin dalam pelayanan tertentu, perlu dilihat apakah kayu yang telah mati ini menjadi busuk ataukah bertunas. Jika tongkat ini bertunas oleh hayat kebangkitan, ini menyatakan bahwa kekuasaan ada di sana. Bukan lagi sebatang kayu yang mati, tetapi tongkat yang berkuasa.

(f) Contoh Yosua dan Kaleb

Contoh Yosua dan Kaleb mempunyai prinsip yang sama. Mereka sepenuhnya mengikuti Tuhan (Bil. 14:24). Tuhan sendiri yang bersaksi bahwa Kaleb mengikuti Dia dengan sepenuhnya. Karena itu mereka mengalahkan musuh (Bil. 14:6-9). Ketika mereka mengikuti Tuhan, mereka memiliki gambar Allah, selanjutnya mereka di dalam kekuasaan.

(g) Contoh Hakim-hakim

Saya menyukai Hakim-hakim 5:31. Ayat ini menya-takan bahwa selama zaman hakim-hakim ada beberapa orang yang mengasihi Tuhan. Mereka yang mengasihi Tuhan bersinar bagaikan matahari. Karena itu mereka mengalah-kan musuh. Kapan saja, bila ada orang yang bercahaya ba-gaikan matahari, di sana ada kemenangan atas musuh dan ada perhentian bagi seluruh bangsa. Seluruh kitab Hakim-hakim merupakan kitab Ulangan. Bila di sana ada orang yang mengasihi Tuhan dan bersinar laksana matahari, melalui dia niscaya ada kemenangan. Dan melalui dia seluruh bangsa mendapat perhentian.

(h) Contoh Daud

Daud merupakan orang yang diperkenan Allah. Jika Anda membaca 1 Samuel 13:14, Anda tentu melihat bahwa pada mulanya Saul-lah yang menjadi raja. Namun Saul tidak menurut perkenan Allah. Ia kehilangan takhtanya, dan Allah mendapatkan seorang yang berkenan di hati-Nya. Orang itu adalah Daud. Tak perlu disangsikan lagi bahwa dia memiliki gambar Allah. Dia telah mengalahkan musuh (1 Taw. 22:8a).

(i) Contoh Raja-raja

Kita telah melihat gambar para imam, sekarang sam-pailah pada jabatan para raja. Bila raja-raja itu bersatu dengan Tuhan, mereka mengalahkan musuh (2 Taw. 14:2-14). Bila raja-raja itu tidak bersatu dengan Tuhan, mereka kalah dan kehilangan kekuasaan. Dengan kata lain, bila raja-raja itu mempunyai gambar Allah dan mengekspresikan Allah, mereka mempunyai kuasa untuk mengalahkan musuh-mu-suh. Sekarang kita mempunyai keduanya, susunan imamat dan jabatan raja. Jangan lupa bahwa keimaman adalah perihal gambar Allah dan jabatan raja adalah untuk meme-rintah. Sekarang kita adalah imam-imam yang serupa de-ngan Allah dan pada waktu yang bersamaan kita adalah raja-raja yang mewakili Allah, menggunakan kekuasaan-Nya mengalahkan musuh-musuh.

(j) Contoh Daniel

Daniel adalah seorang tawanan di Babel, seorang pelayan istana. Tetapi ia menempuh hidup yang kudus, suatu hidup yang mengekspresikan Allah (Dan. 1:8). Itulah sebab nya dia beroleh kekuasaan. Pada saat itu ia berkuasa memerintah dunia (Dan. 6:29).

(k) Contoh Yesus

Ketika Yesus ada di bumi, Ia mengekspresikan Allah. Di mana Dia berada, di situlah Dia mengekspresikan Allah. Ia adalah manusia sejati dan teladan. Dia terus-menerus meng-ekspresikan Allah. Maka kepada-Nya diberikan kuasa atas segala sesuatu (Mat. 28:18). Zakharia 6:13 memberi tahu kita bahwa Yesus memiliki dua jabatan, yaitu imam dan raja. Ia adalah imam pun raja. Hari ini, Ia tetap sebagai Imam tertinggi dan Maha Raja. Ia adalah Yang mengeks-presikan Allah, Yang mewakili Allah. Ia memiliki gambar Allah dan memegang kuasa bagi Allah. Inilah Yesus.

(l) Contoh Kedua Anak Zebedeus

Pada suatu hari, datanglah ibu kedua putra Zebedeus bersama kedua putranya menemui Yesus serta mengajukan permintaan (Mat. 20:20-23). Dengan baik-baik, ia meminta agar kedua putranya boleh duduk di kedua sisi Tuhan di dalam kerajaan. Mungkin kita juga mempunyai doa yang demikian. Tuhan menjawab permohonannya, namun bukan menurut apa yang dimintanya. Tuhan menjawab bahwa ia harus tahu, hal menentukan kedua anaknya di sisi Tuhan atau tidak, itu bukanlah hak-Nya. Itu terserah kepada Bapa. Tetapi Tuhan berkata kepadanya satu hal, yaitu mereka harus menderita. Mereka harus minum cawan yang harus Tuhan minum dan menderita apa yang Tuhan derita. Ini berarti jika kita ingin mempunyai kekuasaan, kita perlu mempunyai hayat. Menderita berarti memperoleh hayat.

Tanpa ada penderitaan, takkan ada hayat. Hayat selalu muncul dari penderitaan. Jika kita ingin memiliki kekuasaan, perlulah kita memperoleh hayat melalui penderitaan.

(m) Contoh Rasul-rasul

Seluruh Kisah Para Rasul dan seluruh Surat Kiriman menunjukkan rasul-rasul adalah orang-orang yang memiliki gambar Allah. Karena itu, mereka secara konstan memiliki kekuasaan Allah. Mereka memiliki gambar Allah dan me-reka pun menerapkan kekuasaan Allah. Kita bukan meng-anggap mereka sebagai pengkhotbah-pengkhotbah yang hebat atau guru-guru besar saja, itu terlalu memandang rendah mereka, itu bukan puncaknya. Kita harus memandang me-reka sebagai orang-orang yang memiliki gambar Allah dan menerapkan kekuasaan Allah.

(n) Contoh Negatif dari Ketujuh Anak Skewa

Ketujuh anak Skewa melihat Paulus mengusir roh-roh jahat dengan nama Yesus (Kis. 19:13-16). Mereka kemudian ingin meniru perbuatan Paulus, dan berkata kepada roh-roh jahat, “Aku mengusir kamu dalam nama Yesus yang diberi-takan oleh Paulus” (Tl.).Tetapi roh-roh jahat itu menjawab, “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapa kamu?” Lalu roh jahat itu menerpa mereka. Mereka gagal mengusir roh-roh jahat, sebaliknya mereka dikalahkan oleh roh-roh jahat. Jika Anda tidak memiliki gambar, Anda takkan mempunyai kekuasaan. Roh jahat itu tahu dan Anda sendiri juga tahu. Jika Anda tidak memiliki hayat, Anda takkan bisa melaksanakan pemerintahan.

(o) Contoh Orang Kristen dalam Zaman Gereja

Wahyu 5:10 dan 1 Petrus 2:9 memberi tahu kita bahwa orang Kristen pada hari ini adalah imam-imam yang rajani; di satu pihak kita adalah imam-imam, di pihak lain kita ada-lah raja-raja. Namun, kita perlu berkontak dengan Allah, supaya kita mempunyai gambar yang riil untuk meng-ekspresikan kemuliaan Allah dalam hayat. Selanjutnya kita akan mempunyai kekuasaan untuk mewakili Allah. Akan tetapi kebanyakan orang Kristen kehilangan hal ini. Mereka tidak mirip imam dengan demikian mereka juga bukan raja. Jika Anda tidak memiliki gambar, Anda akan kehilangan kekuasaan. Puji Tuhan, dalam setiap abad tetap ada orang kudus yang selalu berkontak dengan Allah dan menjaga diri mereka dalam susunan imamat yang riil. Mereka mempu-nyai kekuasaan dan melaksanakan jabatan raja.

(p) Contoh Orang-orang Kudus Pemenang

dalam Kerajaan Seribu Tahun

Dalam Kerajaan Seribu Tahun, yaitu zaman Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, orang-orang kudus peme-nang adalah imam-imam dan raja-raja (Why. 20:4, 6). Mereka sebagai imam-imam mengekspresikan Allah dan raja-raja mewakili Allah.

(q) Contoh Semua Orang Kudus

di Langit yang Baru dan Bumi yang Baru

Dalam masa kekekalan, semua orang kudus akan melayani Allah sebagai imam (Why. 22:3b-4). Mereka akan mengekspresikan Allah dan memiliki gambar Allah. Orang-orang kudus itu akan memerintah sebagai raja, mewakili Allah dengan kekuasaan-Nya (Why. 22:5b).

(r) Contoh Yerusalem Baru

Akhirnya, Yerusalem Baru akan mempunyai penampilan Allah; Wahyu 4:3a memberi tahu kita bahwa penampilan Allah bagaikan permata yaspis. Seluruh kota Yerusalem Baru akhirnya akan dibangun dengan batu-batu yaspis (Why. 21:18a). Seluruh kota itu akan menampilkan Allah (Why. 21:11). Selanjutnya kota ini akan menerapkan kekuasaan Allah (Why. 21:24, 26). Dalam masa kekekalan, seluruh tubuh orang-orang kudus yang telah ditebus akan memiliki gambar Allah untuk mengekspresikan Allah dan menerapkan kekuasaan Allah untuk mewakili Allah. Itulah puncak dan perampungan sempurna.

Kita tak perlu menantikan hari itu. Kita semua dapat mengecapnya lebih dulu pada hari ini. Kita dapat menikmati gambar Allah dan pemerintahan Allah. Hari ini kita adalah imam juga raja. Kita harus memelihara hak yang kita mi-liki sejak lahir. Di sini kita mengekspresikan Allah dengan gambar-Nya dan di sini pula kita mewakili Allah dengan pemerintahan-Nya. Haleluya! Suatu kedudukan dan tang-gung jawab yang luar biasa! Alangkah menyenangkan! Puji Tuhan! Kita adalah imam-imam Allah, juga raja-raja Allah. Kita memiliki gambar Allah juga pemerintahan Allah. Seka-rang kita adalah orang-orang di dalam gereja yang meng-ekspresikan Allah dan mewakili Allah. Haleluya! Kita sung-guh-sungguh memiliki gambar dan pemerintahan.

Saya harap Anda semua dapat melihat bahwa seluruh Alkitab adalah catatan tentang perkembangan gambar dan pemerintahan. Ini bukan perkara kecil, kedua perkara ini merupakan puncak dari catatan Kejadian 1. Pasal ini di-mulai dengan kegelapan, kekosongan, kesia-siaan, dan air kematian. Kemudian Roh itu mengerami, terang memisah-kan, dan cakrawala membagi. Tanah yang kering muncul untuk menghasilkan hayat, kemudian diciptakan hayat te-rendah, hayat rendah, hayat lebih tinggi, dan hayat ciptaan yang tertinggi — manusia. Pandanglah semua jenis hayat. Bandingkan dengan rerumputan, sayur-sayuran, dan pepo-honan yang semuanya tanpa muka. Seekor ikan memiliki muka, tapi juga tidak terlalu nyata. Muka seekor burung lebih nyata. Kemudian kita mempunyai ternak dan hewan-hewan lain. Akhirnya kita memiliki muka manusia. Kita harus mengakui, muka manusia paling nyata. Muka ini ada-lah muka yang memiliki gambar Allah. Dengan muka ini, yaitu melalui ekspresi ini, ada kuasa Allah.

Segala sesuatu tergantung kepada Anda kelihatannya seperti apa. Kalau Anda seperti kalajengking, itu adalah sesuatu yang sangat berhubungan dengan setan. Kalau Anda kelihatannya seperti ular, itu juga adalah sesuatu yang berhubungan dengan Iblis. Tetapi kalau Anda kelihatannya seperti manusia yang sejati, hal ini berhubungan dengan gambar Allah. Manusia yang sejati barulah dapat berkuasa.

Apakah manusia yang sejati? Manusia yang sejati adalah imam Allah. Jikalau Anda seorang imam, Anda pun seorang raja. Kalau Anda berada dalam susunan imamat, Anda pasti mempunyai jabatan raja. Ini berarti kalau dalam hayat Anda memiliki gambar Allah, Anda pasti mempunyai kekuasaan Allah untuk memegang pemerintahan bagi Allah.

Seluruh Alkitab adalah catatan tentang perkembangan gambar dan pemerintahan. Dalam Kejadian 1 kita nampak Adam mempunyai gambar dan kekuasaan Allah, tetapi ini hanya merupakan benih yang kecil saja. Ketika kita sampai kepada Abraham, dia adalah orang pertama yang mematang-kan dan mengembangkan gambar dan kekuasaan Allah. Dia berkontak dengan Allah dan mengalahkan musuh. Lalu sampailah kita pada Yusuf, seorang yang amat matang. Ketika kita membaca kisah Yusuf, kita melihat dia sebagai orang yang mempunyai gambar kekudusan dan kemenangan Allah yang penuh. Kita lihat Yusuf menerapkan kekuasaan. Saat itu, kekuasaan bukan di tangan Firaun, raja Mesir; tetapi di tangan Yusuf. Yusuf memerintah seluruh permuka-an bumi. Kalau kita teruskan melihat Perjanjian Lama, kita nampak Allah memanggil sekelompok orang menjadi keraja-an imam. Seluruh bangsa itu berkontak dengan Allah, mem-punyai gambar Allah, menjadi imam-Nya. Sebab itu, dalam situasi apa pun mereka bisa menjadi raja. Mereka tidak perlu berperang bagi dirinya sendiri, segala situasi akan takluk di bawah kaki mereka. Lalu kita melihat raja-raja dan nabi-nabi. Terakhir kita melihat Yesus. Dia sepenuhnya imam juga raja. Pada diri-Nya ada jabatan imam meng-ekspresikan Allah dan jabatan raja mewakili Allah. Kristus sebagai Kepala; yang melekat pada-Nya adalah Tubuh, yang tersusun dari orang-orang kudus yang tertebus. Sebagai Tu-buh, kita sama seperti Kepala, menjadi imam mempunyai gambar dan menjadi raja menerapkan kekuasaan. Hari ini kita adalah imam Allah dan raja dalam segala situasi. Kita mengekspresikan Allah di dalam kehidupan gereja dan me-wakili Allah di dalam segala situasi. Lalu tibalah Kerajaan Seribu Tahun, yaitu waktunya sudah genap. Pada saat itu semua orang kudus pemenang sungguh-sungguh adalah imam-imam, mempunyai gambar Allah untuk mengeks-presikan Allah dan mempunyai kekuasaan Allah untuk men-jadi raja mewakili Allah, memerintah penuh atas seluruh bumi. Akhirnya, sampailah masa kekekalan. Di dalam ke-kekalan kita akan melihat perampungan yang mengagum-kan — Yerusalem Baru. Yerusalem Baru inilah puncak dari segalanya. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih sempurna daripada ini. Seluruh kota Yerusalem Baru akan memiliki gambar Allah dan seluruh kota akan menerapkan pemerintahan Allah. Haleluya! Inilah yang tercantum dalam Alkitab. Alkitab mencatat perkembangan gambar Allah dan pemerintahan Allah. Allah akan selama-lamanya diekspresi-kan dan diwakili oleh umat tebusan-Nya.

KATA-KATA LEBIH LANJUT

Baiklah kita kembali ke kitab Matius dan bacalah ayat terakhir pasal 16 dan pasal 17 :1-2. Tuhan Yesus ber-sabda, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan rnati sebelurn mereka rnelihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama de-ngan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” Di dalam ayat-ayat ini kita melihat kedatangan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Di mana ada Yesus yang bersinar, di situ ada Kerajaan. Penerangan ini memiliki gambar Allah. Ada gam-bar, niscaya kekuasaan muncul. Ketika kita memancarkan kemuliaan Allah, tak perlu kita dengan sengaja menerapkan kekuasaan Allah, dengan sendirinya kekuasaan Allah akan benar-benar ada di sana.

Bagaimana kita dapat memancarkan mulia Allah? Kita perlu membaca 2 Korintus 3:18. “Kita semua seperti cermin memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, karena kemuliaan itu datang-nya dari Tuhan Roh, rnaka kita sedang diubah menjadi se-rupa dengan gambar Tuhan, dari kemuliaan kepada kemu-liaan” (Tl.). Saya menyukai kata “muka” ini, muka yang ti-dak berselubung. Ketika Tuhan Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti sinar matahari. Namun wajah yang dimaksud dalam 2 Korintus 3:18 itu bukan wajah yang hanya ada di luaran saja, tetapi wajah yang di dalam. Kita semua memiliki wajah yang di dalam dan wajah yang di luar. Wajah yang di luar adalah ekspresi dari wajah yang di dalam. Wajah yang di luar adalah wujud lahiriah kita, se-dang wajah yang di dalam adalah wujud batiniah kita. Wajah merupakan petunjuk atas keseluruhan adanya kita ini, yang mengekspresikan keseluruhan diri kita. Tidak ada seorang pun dari antara kita di sini yang memiliki wajah lahiriah yang berselubung, tetapi saya khawatir justru banyak orang di antara kita yang wajah batiniahnya ber-selubung. Kita perlu memiliki wajah yang tak berselubung.

Perkara-perkara agama dan perkara-perkara kudus mungkin sama dengan perkara-perkara dosa dan perkara--perkara dunia, bisa menjadi selubung kita. Kalau Anda mempelajari 2 Korintus 3, Anda akan nampak selubung yang dimaksud di situ khususnya ditujukan kepada huruf-huruf Perjanjian Lama. Sampai-sampai Alkitab pun dapat menjadi selubung. Kata-kata dari Alkitab juga dapat menutupi kita, sehingga kita tidak dapat melihat Tuhan yang hidup. Kalau huruf-huruf Alkitab bisa menjadi selubung kita, yang lainnya lebih-lebih dapat menjadi selubung. Istri Anda, suami Anda, teman-teman Anda, anak-anak Anda, diri Anda sendiri, saudara saudari Anda, kebajikan Anda, aktivitas Anda, pekerjaan Anda untuk Allah, — segala perkara. Asalkan bukan diri Tuhan, semua perkara dapat menjadi selubung. Tak peduli betapa kudus perkara itu, betapa sur-gawi, betapa rohani, ataupun betapa agamawi, asal bukan diri Tuhan, hal itu bisa menjadi selubung. Mungkin sekali Anda tetap di bawah selubung-selubung serupa itu. Itulah sebabnya mengapa sekalipun Anda duduk di sini, Anda tidak dapat melihat Tuhan.

2 Korintus 3:18 mengatakan bahwa kita dengan muka yang tidak berselubung memandang seperti cermin. Kita adalah sebuah cermin, seperti cermin kita memandang. Apa yang dilihat oleh sebuah cermin, akan dipantulkannya. Kita memerlukan sebuah muka yang tidak berselubung memandang kemuliaan Tuhan. Sama seperti Musa selama empat puluh hari memandang kemuliaan Tuhan dan ke-mudian kemuliaan Allah terpancar dari kulit mukanya. Ketika ia turun dari gunung, ia bercahaya dan meman-tulkan kemuliaan Allah. Kita semua perlu melupakan segala perkara — yang baik, yang buruk, yang kudus, yang tidak kudus, yang agamawi, yang tidak agamawi, yang rohani, maupun yang tidak rohani. Tak peduli perkara itu bagai-mana, asal bukan diri Tuhan, haruslah kita kesampingkan. Kita perlu mengenal tipu muslihat musuh. Iblis dapat meng-gunakan segala perkara untuk memalingkan Anda dari memandang Allah. Hanya diri Tuhan sendiri satu-satunya hal yang tak dapat digunakan Iblis.

Dalam Perjanjian Baru sedikitnya ada empat kitab yang khusus menuliskan hal-hal yang menghalangi orang meman-dang Allah, dan perkara-perkara yang menyelubungi orang untuk berkontak dan menikmati Allah. Surat Galatia me-nyinggung tentang hukum Taurat, agama, dan tradisi. Ke-semuanya itu merupakan selubung pemisah. Hukum Taurat yang diberikan oleh Allah itu kudus. Perjanjian Baru pun mengatakan kalau hukum Taurat itu kudus (Rm. 7:12). Tetapi hal yang sekudus hukum Taurat itu masih dapat me-misahkan Anda dari Kristus, memutuskan Anda dari ke-nikmatan akan Kristus (Gal. 5:4). Bukan buku-buku amoral saja yang dapat memisahkan Anda dari Kristus, tetapi juga hukum yang diberikan oleh Allah. Mengapa demikian? Karena muka Anda mungkin berpaling kepada hukum Taurat sebagai pengganti Kristus. Dengan demikian, hukum Taurat segera menjadi selubung. Hukum Taurat selalu membentuk suatu agama, dan agama tentunya mempunyai tradisi yang panjang. Kita mempunyai Taurat, agama, dan tradisi yang kesemuanya itu membentuk lapisan isolasi yang mengisolasi Anda dari listrik surgawi yaitu Kristus sendiri.

Surat kepada jemaat di Kolose merupakan kitab yang lain lagi. Di dalam surat kepada jemaat di Kolose dipakai juga kata filsafat. Kata-kata filsafat yang tertera dalam surat Kolose benar-benar bermakna aliran Gnostikisme. Aliran Gnostikisme adalah filsafat yang lebih tinggi yang tersusun dari filsafat-filsafat Yunani, Mesir, dan Babilonia, ditambah dengan filsafat Kristen yang di dalamnya terkandung pula filsafat bangsa Yahudi. Ini sungguh-sungguh suatu percampurbauran. Filsafat tertinggi dari kebudayaan manu-sia, masuk ke dalam gereja-gereja sebermula, menyebabkan kegagalan-kegagalan (dalam gereja) yang besar. Sekalipun filsafat itu mungkin sangat bagus dan merupakan hasil yang terbaik dari kebudayaan manusia, namun karena se-muanya itu bukan Tuhan, maka itu menjadi selubung. Itu harus ditanggulangi.

Kitab yang lain lagi adalah Surat Ibrani. Jika Anda membaca Surat Ibrani, Anda akan nampak bahwa kitab ini menyebutkan satu per satu hal-hal yang baik pada Yuda-isme. Kitab Ibrani memberi tahu kita bahwa semua hal yang baik dalam Yudaisme hanya dapat dianggap sebagai lam-bang, gambaran, dan bayang-bayang.

Misalnya, sebelum Anda berkunjung ke tempat saya, Anda terlebih dulu mengirimi saya selembar foto Anda. Saya mengasihi Anda, karena itu saya menyenangi foto Anda; ini benar. Saya sangat menyenangi foto Anda. Kini, Anda sendiri datang kepada saya, namun saya tidak memandang Anda, saya terus memandangi foto Anda, mengasihi foto Anda, bahkan membuat foto Anda itu menjadi selubung mata saya. Anda pasti berkata, “Bodoh, buanglah foto itu, pandanglah diriku!”

Sebelum Tuhan Yesus berinkarnasi, dengan memakai Perjanjian Lama dan melalui berbagai segi, Allah memberi umat-Nya banyak foto diri Kristus. Namun orang-orang Yahudi hanya memegang erat fotonya. Foto ini bukan hanya ada 4 sisi, mungkin ada 32 sisi. Hal ini mungkin memagari mereka sehingga mereka tidak berdaya melihat Kristus. Kristus berada di luar kandang. Orang-orang Yahudi telah melihat banyak hal tentang Kristus, tetapi tidak dapat me-lihat Kristus sendiri. Karena itu, Surat Ibrani ditulis untuk memberi tahu kaum saleh Yahudi agar mereka membuang fotonya, yakni keseluruhan susunan Yudaisme, dengan demikian mereka bisa memandang Kristus. Harus mem-perhatikan Yesus Kristus, Rasul dan Imam Besar itu (Ibr. 3:1). Lupakanlah Musa, malaikat, Yosua, pikirkanlah dan pandanglah Rasul dan Imam Besar kita, Yesus Kristus. Tidak hanya memandang-Nya, bahkan mata kita hanya ter-tuju kepada-Nya (Ibr. 12:2). Harus berpaling dan meninggal-kan segala perkara dalam Yudaisme, bahkan berpaling dan meninggalkan huruf-huruf Alkitab; pandanglah diri Yesus sendiri.

Kita masih memiliki kitab yang lain, yaitu 1 Korintus. Dalam 1 Korintus, Paulus memperingatkan kita bahwa karunia rohani seperti berkata-kata dengan bahasa lidah, menafsirkan bahasa lidah, menyembuhkan orang sakit, kuasa untuk mengadakan mujizat, dapat menjadi selubung bagi orang Kristen. Apakah Anda melihat tipu muslihat musuh?

Hukum Taurat, filsafat, agama Yahudi dengan bagian-bagian perkara rohani dan pengajarannya, karunia rohani — kesemuanya itu memang baik, tetapi telah menjadi selubung kebanyakan orang Kristen yang sejati. Kita semua perlu berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan Yesus, aku cinta ke-pada-Mu. Aku mengasihi Alkitab karena aku cinta kepada-Mu. Aku mengasihi Alkitab karena Alkitab mewahyukan diri-Mu. Tetapi aku takkan membiarkan Alkitab menjadi selubungku. Tuhan Yesus aku cinta kepada-Mu. Aku mengasihi-Mu secara personal, langsung, dan intim. Aku mencin-tai-Mu dengan mengecup-Mu. Aku tak suka melihat-Mu begitu jauh, aku suka melihat-Mu berhadapan muka. Aku mau senan-tiasa mengecup-Mu.” Di antara kalian, saya per-caya ada beberapa yang telah masuk dalam pengalaman ini. Kita perlu berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku cinta ka-runia rohani, karena karunia rohani membantu aku menyen-tuh-Mu, tetapi kalau karunia-karunia itu menjadi selubung, aku akan membuangnya. Ya Tuhan, aku hanya cinta ke-pada-Mu. Aku cinta kepada-Mu secara personal, langsung dan intim. Aku mencintai-Mu, aku mau setiap saat mencium diri-Mu. Antara Engkau dengan aku tidak ada jarak, tidak terpisah, tidak ada sekatan. Aku dengan lang-sung dan intim datang ke hadirat-Mu.” Kalau Anda demi-kian, Anda akan berada di atas gunung perubahan. Anda akan diubah dan bersinar.

Banyak di antara kita dapat bersaksi tentang sanak keluarga kita. Ketika mereka keluar dari kamar setelah mereka meluangkan waktu di hadapan Tuhan, muka mereka bercahaya. Dengan demikian kita mengerti kalau mereka telah beserta dengan Tuhan. Sinar itu menaklukkan segala kemurtadan. Sinar itu menaklukkan suami, istri, anak-anak, dan keadaan sekeliling. Inilah Kerajaan, inilah ke-kuasaan. Kekuasaan timbul dari penyinaran. Yesus tampil dalam Kerajaan-Nya ketika Ia berubah rupa, ketika Ia ber-cahaya seperti matahari. Ia memiliki gambar dan ke-kuasaan.