DIPANGGIL UNTUK DILEPASKAN DARI EGO MELALUI PERSATUAN DENGAN SALIB
Pembacaan Alkitab: Kid. 2:8 — 3:5
Di dalam Kidung Agung 2:8—3:5 pengasih Kristus dipanggil oleh Dia untuk dilepaskan dari ego melalui persatuan dengan salib. Ini adalah tahap kedua dalam pengalaman pengasih Kristus. Tiga kata penting membantu kita untuk menafsirkan bagian ini: salib, ego, dan introspeksi.
Salib dilambangkan oleh celah-celah batu karang dan persembunyian lereng-lereng gunung yang curam (2:14). Ini adalah tempat yang aman, tetapi tempat ini kasar, dan sedikit yang dapat datang ke sana. Celah-celah batu karang dan persembunyian lereng-lereng gunung pasti menandakan salib sebagai tempat yang aman bagi manusia yang jatuh. Tempat yang aman bagi kita adalah salib.
Walaupun ego tidak ada gambaran dalam Kidung Agung, menurut pengalaman orang Kristen yang dinyatakan dalam tahap kedua. Tahap pertama, pengasih Kristus dipuaskan oleh Dia, menerima bantuan dalam persekutuan di bilik dalam dan masuk ke dalam kehidupan gereja, di mana dia mengalami transformasi. Dia masuk ke dalam perhentian dan kenikmatan untuk kepuasannya yang penuh. Kemudian egonya dibangunkan, dan pengasih Kristus memulai memperhatikan hanya bagi kesempurnaannya. Ini adalah ego.
Ego itu sangat licik. Di dalam Matius 16, setelah Tuhan Yesus menyingkapkan jalan salib-Nya untuk merampungkan ekonomi Allah, Petrus memperlihatkan kasihnya kepada Tuhan dengan berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!” (ay. 22). Petrus mengira bahwa itu adalah perkataannya sendiri. Sebenarnya, Petrus berbicara dari dirinya sendiri, yang mana telah menjadi satu dengan Satan. Tuhan Yesus menghardik Petrus dengan berkata, “Enyahlah dari hadapan-Ku, Satan!” (ay. 23a). Kemudian Tuhan berbicara tentang menyangkal diri (ay. 24). Ini mewahyukan bahwa ego adalah keinsanian yang satanik; keinsanian yang satanik ini adalah manusia yang dimiliki, dan direbut oleh Satan. Sebagai satu akibat, manusia dalam keinsanian yang jatuh hanya memperhatikan dirinya sendiri, keegoisan dapat dilihat dalam segala jenis hubungan—antara suami dan istri, antara anak-anak dengan orang tua, antara majikan dan para karyawan.
Kita seharusnya tidak berpikir bahwa kita dapat menjadi demikian rohani bahwa kita tidak lagi memiliki masalah dengan ego. Bahkan seorang pengasih Kristus, seorang yang merindukan Dia, mencari Dia, dan mendapatkan Dia, masih memiliki kesulitan oleh egonya. Kita masih memiliki bagian kita yang jatuh dan satanik, dan bagian ini akan tinggal bersama kita sampai tubuh fisik kita ditebus, yaitu, sampai kita memiliki penebusan yang puncak dari ciptaan lama. Ini adalah situasi yang dialami rasul Paulus. Dia menerima begitu banyak visi dan wahyu, namun dia menyadari bahwa dia masih dalam keinsanian yang jatuh (2 Kor. 12:7). Walaupun kita berada di dalam keinsanian yang telah jatuh, kita tidak seharusnya hidup di dalam keinsanian yang telah jatuh ini dan kita tidak seharusnya hidup olehnya. Sebagai seorang kaum beriman yang memimpin dalam Kristus, saya dapat bersaksi bahwa semakin saya menjadi tua, semakin saya terganggu oleh ciptaan lama, oleh kejatuhan, keinsanian yang satanik.
Seperti yang akan kita lihat ketika kita mencapai akhir Kidung Agung, sang pengasih Kristus mengatakan bahwa dia masih berada di dalam ciptaan lama. Dia bisa secara penuh menjadi seperti Kristus, yang secara mutlak tidak melakukan segala sesuatu dari ciptaan lama. Dia telah dibuat ulang oleh Allah yang mengijinkan satu bagian dari ciptaan lama untuk tinggal bersamanya.
Kita mungkin memiliki kesuksesan dalam mengejar dan mungkin mencapai sejumlah kepuasan tertentu. Tetapi kemudian kita mungkin berkata, “Bagaimana saya dapat mempertahankan ini? Bagaimana saya dapat memelihara diri saya dalam kondisi ini?” Pada poin ini ego akan keluar.
Ego keluar di bawah jubah palsu introspeksi. Sesungguhnya, ego disusun dengan intropeksi. Introspeksi adalah memeriksa diri sendiri dengan memandang ke dalam diri Anda sendiri. Alkitab mengajar kita untuk selalu memandang kepada Yesus (Ibr. 12:2). Kita seharusnya tidak memandang diri kita sendiri. Ego kita tidak patut dilihat. Walaupun demikian, setiap orang yang rohani yang mencapai satu situasi kepuasan dari Kristus akhirnya jatuh ke dalam introspeksi, bukan hanya memeriksa ego tetapi juga menganalisanya. Ketika saya sebagai seorang beriman muda, saya memandang diri saya dengan sungguh-sungguh. Saya tidak suka melakukan sesuatu yang tidak akan memuliakan Tuhan. Tetapi akhirnya saya tidak melaksanakannya untuk Tuhan; saya melaksanakannya untuk saya sendiri dan bagi apa yang orang lain selesaikan bagi saya. Memandang ke dalam diri kita sendiri dalam cara ini adalah kelemahan yang terbesar dan musuh terbesar dalam kehidupan rohani.
Ketika membantu orang lain yang menuntut untuk menjadi rohani, kita mungkin sering mendorong dia berdoa dan mengaku dosa atas kekurangan mereka terhadap Tuhan. Doa dan pengakuan dosa semacam demikian adalah normal. Namun, dalam beberapa kasus kita harus menyuruh orang lain untuk menghentikan pengakuan dosa dan dengan sederhana percaya bahwa darah Yesus membersihkan mereka dan bahkan Allah yang setia dan benar akan mengampuni mereka (1 Yoh. 1:7, 9), mengingatkan mereka bahwa Allah adalah setia untuk menghormati penebusan Kristus.
Ketika kita introspektif, kita mungkin mengaku dosa beberapa perkara lagi dan lagi, berpikir bahwa lebih kita mengaku dosa, kita lebih menerima pengampunan. Pengakuan dosa semacam ini berasal dari ego satanik, ego satanik ini diakibatkan dari menganalisa ego kita dalam hal-hal rohani. Hanya salib Kristus yang dapat melepaskan kita dari suatu situasi demikian yang disebabkan oleh introspeksi. Karena itu, kita perlu dipanggil untuk dilepaskan dari ego melalui kesatuan kita dengan salib. Ketika kita menjadi satu dengan salib, menyembunyikan diri kita di dalam celah-celah batu karang dan dalam di persembunyian lereng-lereng gunung, kita akan dilepaskan dari ego.
I. OLEH KUAT KUASA KEBANGKITAN KRISTUS
MELALUI PERSEKUTUAN-NYA
Pengasih Kristus dipanggil untuk dibereskan dari ego melalui dia bersatu dengan salib oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus melalui persekutuan-Nya (Kid. 2:8-9).
A. Datang, Melompat-lompat di atas Gunung-gunung dan Meloncat-loncat di atas Bukit-bukit
“Dengarlah suara kekasihku! Sekarang ia datang, / Melompat-lompat di atas gunung-gunung, / Meloncat-loncat di atas bukit-bukit” (ay. 8). Melompat-lompat dan meloncat-loncat menggambarkan kuat kuasa Kristus untuk menang atas kesulitan dan rintangan. Sebagai Sang di dalam kebangkitan, Dia mendapat jalan untuk menang atas kesulitan dan rintangan. Semua masalah mengenai persekutuan kita dengan Kristus datang dari sisi kita. Banyak “bukit” dan “gunung” menghalangi kita datang kepada Dia, tetapi Dia tidak pernah menghalangi, Dia dapat “melompat” dan “meloncat.”
Bagaimana kita dapat pergi ke celah-celah batu karang, untuk tersembunyi di lereng-lereng gunung? Kita tidak memilki kekuatan untuk melakukan hal ini. Jalannya hanya kita pergi ke salib oleh kuat kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10). Karena itu, Kristus datang untuk kepuasan diri si pencari di dalam kuat kuasa kebangkitan.
B. Dia seperti kijang atau Rusa Muda
“Kekasihku serupa kijang atau rusa muda” (Kid. 2:9a). Kata rusadisebutkan di dalam Mazmur 22, yang berhubungan dengan kebangkitan, melambangkan Kristus di dalam kebangkitan. Kristus itu seperti kijang atau rusa muda melambangkan bahwa kuat kuasa-Nya adalah kuat kuasa kebangkitan.
C. Berdiri di balik “Dinding Kita”
“Sekarang ia berdiri di balik dinding kita” (ay. 9b). Dia berdiri di balik “dinding kita,” melambangkan bahwa introspeksi sang pengasih sebagai masalah dalam egonya adalah pemisah antara dia dengan-Nya.
D. Memandang melalui Jendela-jendela
dan Melirik melalui Kisi-kisi
“Ia melalui jendela-jendela, / Ia melirik melalui kisi-kisi” (ay. 9c). Jendela-jendela dan kisi-kisi melambangkan lubang yang dibuat oleh Allah bagi-Nya untuk bersekutu, untuk berkomunikasi, dengan dia. Tidak peduli sebagaimana tinggi dan sebagaimana rahasianya Anda menyembunyikan diri Anda, di sana selalu ada jendela sehingga Kristus dapat memandang melaluinya. Karena manusia telah jatuh, sepertinya tidak ada jalan bagi Allah untuk menjamah atau bersekutu dengan manusia. Tetapi hati nurani manusia adalah jendela dengan suatu kisi-kisi, yang terbuka bagi Allah untuk datang berkontak dengan manusia yang jatuh. Kita harus memelihara hal ini di dalam pikiran ketika kita pergi mengabarkan injil. Ketika kita memberitakan injil, kita harus belajar bagaimana kita dapat menjamah hati nurani orang.
II. DIMINTA UNTUK MEMBERI RESPON DAN DITEGUHKAN DENGAN BERLALUNYA MUSIM DINGIN DAN TIBANYA MUSIM SEMI KEBANGKITAN DALAM KEKAYAANNYA YANG BERTAMBAH LIMPAH
Di dalam ayat 10 sampai 13 sang pengasih diminta untuk memberi respon dan diteguhkan dengan berlalunya musim dingin dan tibanya musim semi kebangkitan dalam kekayaannya yang bertambah limpah. Sang Kekasih meminta sang pengasih untuk keluar dari belakang dinding.
A. Sang pengasih Kristus Gagal Memberi Jawaban kepada-Nya di dalam Persekutuan-Nya
“Kekasihku menjawab dan berkata kepadaku” dalam ayat 10a menandakan bahwa sang pengasih Kristus gagal memberi jawaban kepada-Nya di dalam persekutuan-Nya. Bila sang pengasih memberi suatu jawaban yang tepat, bila tidak, sang Kekasih tidak perlu berbicara lagi.
B. Dia Sedang Berada di dalam Situasi yang Jatuh
“Bangunlah, kasihku” (ay. 10b) menandakan bahwa dia sedang berada di dalam situasi yang jatuh, maka Kristus meminta dia dalam kasih untuk bangun. Kapan kala Anda mencapai sesuatu dalam pengejaran rohani, akibatnya adalah situasi yang jatuh. Situasi yang demikian kebanyakan disebabkan oleh ego dan introspeksi.
C. Kristus Menginginkan Dia Keluar dari Situasinya yang Jatuh agar Bisa Bersama dengan-Nya
Kalimat “Jelitaku, dan keluarlah” (ay. 10c) menandakan bahwa Kristus dalam apresiasi-Nya akan dia menginginkannya keluar dari situasinya yang jatuh agar bisa bersama dengan-Nya. Ini adalah suatu kata dorongan.
D. Saat Tidur dan Ujian Telah Berhenti
“Sekarang musim dingin telah lewat; / Hujan telah berhenti dan berlalu” (ay. 11) menandakan bahwa saat tidur (musim dingin) dan ujian (hujan) telah berakhir dan bahwa saat musim semi (kebangkitan) telah datang.
E. Bunga-bunga Muncul dari Kekayaan
Kebangkitan Kristus
“Bunga-bunga muncul di atas bumi; / Saat bernyanyi telah datang, / Dan bunyi tekukur terdengar di tanah kita. / Pohon ara telah meranumkan buah-buahnya, / Dan pohon-pohon anggur sedang mekar—mereka menyebarkan harumnya” (ay. 12-13a). Di sini “bunga-bunga,” “nyanyian,” “bunyi tekukur,” “berbunga,” dan “harum” menandakan segala kekayaan kebangkitan Kristus. Semua ini adalah tanda-tanda kebangkitan. Ketika kita bernyanyi, kita ada di dalam kebangkitan. Kapankala mulut kita tertutup, kita berada di dalam musim dingin.
F. Hasrat Kristus dalam Meminta Pengasih-Nya Keluar dari Introspeksi Egonya agar bisa
Bersama Dengan-Nya
“Bangunlah, kasihku, / Jelitaku, dan keluarlah” (ay. 13b). Adalah perkataan yang diulang yang menandakan hasrat Kristus dalam meminta pengasih-Nya keluar dari introspeksi egonya agar bisa bersama dengan-Nya. Namun, tidaklah mudah untuk dapat keluar dari introspeksi. Sangat sulit untuk membantu saudara atau saudari yang introspektif.
III. TERPANGGIL UNTUK BERSATU DENGAN SALIB
Di dalam ayat 14 dan 15 pengasih dipanggil untuk bersatu dengan salib. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru kita memiliki kata yang jelas mengenai salib, tetapi dalam Kidung Agung salib dilambangkan oleh gambaran.
A. Kristus Ingin Melihat Wajah Elok PengasihNya
dan Mendengarkan Suara Merdunya dalam Persatuannya dengan Salib
“Merpatiku, di celah-celah batu karang, / Dipersembunyian lereng-lereng gunung, / Perlihatkanlah suaramu; / Sebab suaramu merdu, dan wajahmu elok” (ay. 14). Di sini Kristus, yang menganggap dia sebagai pengasih tulus-Nya (merpati-Ku), ingin melihat wajah elok pengasih-Nya dan mendengarkan suara merdunya dalam keesaan, persatuannya, dengan salib (celah-celah batu karang dan persembunyian lereng-lereng gunung yang curam). Di sini kita nampak pemanggilan Kristus kepada pengasih-Nya untuk bersatu dengan salib. Butir tentang salib ini adalah inti penekanan dalam bagian pelepasan dari ego.
Bila saya adalah sang pengasih, saya akan berkata, “Kekasihku, aku tidak dapat pergi ke celah-celah batu karang. Celah-celah terlalu tinggi dan jalannya terlalu kasar. Saya tidak punya kekuatan yang sedemikian untuk pergi ke sana.” Tetapi di sini Kristus mengacukan kepada pengasih-Nya bahwa dia dapat masuk ke dalam pengalaman salib oleh kuat kuasa kebangkitan-Nya.
Salib yang objektif harus menjadi pengalaman subyektif. Kita perlu pergi ke dalam salib dan salib harus mencapai ke dalam kita. Dengan jalan ini kita dan salib menjadi satu. Kita bersatu dengan salib adalah keselamatan kita. Dilepaskan dari ego berarti diselamatkan dari ego melalui menjadi satu dengan salib. Setiap hari kita harus diserupakan kepada kematian Kristus (Flp. 3:10). Tanpa kesatuan dengan salib, kita tidak dapat dilepaskan dari ego. Saya mengapresiasi koor dari kidung yang mengatakan, “Melalui salib, Oh Tuhan, aku berdoa, / Buanglah hayat jiwaku; / Berapapun harganya akan kubayar, / Agar menerima pengurapan yang penuh” (Hymns #279). Kita perlu bertekad membayar harga untuk masuk ke dalam pengalaman salib yang subyektif.
B. Kristus Memperingati Pengasih-Nya
untuk Berhati-hati Terhadap Sifat Aneh, Kebiasaan,
dan Introspeksinya yang Merusak Kebangkitan untuk Pengasih-Nya
“Tangkaplah rubah-rubahku itu bagi kami, / Rubah-rubah kecil itu, / Yang merusak kebun-kebun anggur / Ketika kebun-kebun anggur kami sedang berbunga” (Kid. 2:15). Kristus memperingati pengasih-Nya untuk berhati-hati terhadap sifat aneh, kebiasaan, dan introspeksinya (rubah-rubah kecil) yang merusak kebangkitan untuk pengasih-Nya (kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga).
Rubah rubah kecil yang merusak kebun-kebun anggur melambangkan sifat aneh kita, kebiasaan kita, dan introspeksi kita, dan kebun-kebun anggur melambangkan kehidupan gereja. Menjadi rohani adalah baik, tetapi menjadi rohani itu dapat membawa ke dalam keanehan. Hampir setiap orang yang rohani itu aneh, mempunyai beberapa keanehan tersendiri. Ketika kita menjadi aneh, kita tidak lagi rohani. Hati-hati kita menjadi masalah di dalam kehidupan gereja. yang dapat melepaskan dari keanehan adalah salib.
IV. PENOLAKAN DAN KEGAGALAN SANG PENGASIH
Di dalam 2:16—kita nampak penolakan dan kegagalan sang pengasih.
A. Menyadari bahwa Kristus adalah Miliknya
dan Dia adalah Milik Kristus menurut Perasaannya,
namun Kristus tidak Bersama dengan Dia
“Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia / yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung” (ay. 16). Dia menyadari bahwa Kristus adalah miliknya dan dia adalah milik Kristus menurut perasaannya, namun Kristus tidak bersama dengan dia melainkan sedang memberi makan pengikut-pengikut-Nya yang murni dan yang bersandar kepada-Nya (rumput-rumput di antara bunga-bunga bakung). Pada poin ini pengasih dan Kristus tidak bersatu.
B. Menolak Kristus dengan Memohon Kristus
agar Menunggu Hingga Situasinya yang Jatuh Berakhir
“Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, / Kembalilah, kekasihku, berlakulah seperti kijang, / Atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah” (ay. 17). Di sini dia menolak Kristus dengan memohon Kristus agar menunggu hingga situasinya yang jatuh berakhir dan kemudian untuk berpaling kepadanya dalam kebangkitan-Nya, seperti kijang atau rusa muda, pada waktu pemisahan mereka, yang hanya dapat disingkirkan oleh Kristus dan bukan oleh dia (di atas gunung Bether).
Kata Bether berarti “pemisahan.” Pengasih kelihatannya berkata kepada Dia, “Tuhan, aku belum siap. Jangan datang sekarang tetapi tunggulah sampai situasiku berakhir. Seperti seekor kijang di atas gunung pemisahan.” Pemisahan ini, gunung ini, adalah suatu masalah, dan hal ini dapat dibereskan hanya oleh Dia.
C. Di dalam Introspeksinya Dia Mencari Kekasihnya tetapi Dia Gagal Menemukan Dia
“Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. / Kucari, tetapi tidak kutemui dia” (3:1) Di dalam introspeksinya, di dalam situasinya yang jatuh, dia mencari Kekasihnya, tetapi dia gagal menemukan Dia.
V. BANGUN DAN PULIHNYA SANG PENGASIH
Kidung Agung 3:2-4 membicarakan bangun dan pulihnya sang pengasih.
A. Dia akan Bangun dari Introspeksinya
untuk Mencari Kekasihnya Di jalan-jalan
dan Cara-cara Yerusalem Surgawi
“Aku hendak bangun dengan berkeliling di kota; / Kucari dia, jantung hatiku. / Kucari, tetapi tak kutemui dia” (ay.2) Sang pengasih akan bangun dari introspeksinya untuk mencari Kekasihnya di jalan-jalan dan cara-cara Yerusalem surgawi (dilambangkan oleh Yerusalem di atas bumi).
B. Mereka yang Menjaga Umat Allah Di jalan-jalan Yerusalem Surgawi Menemukan Dia
“Aku ditemui peronda-peronda kota, / Apakah kamu melihat jantung hatiku?” (ay. 3) Mereka yang menjaga umat Allah (Ibr. 13:17) di jalan-jalan Yerusalem surgawi menemukan dia, dan dia bertanya kepada mereka, “Apakah kalian melihat Dia yang kukasihi.”
C. Dia Menemukan Kekasihnya
dan Dia Memegang-Nya
“Baru saja aku meninggalkan mereka, / Kupegang dan tak kulepaskan dia, / Sampai kubawa dia ke rumah ibuku, / Kekamar orang yang melahirkan aku” (Kid. 3:4). Tidak lama setelah dia meninggalkan dia yang menanti atas umat Allah, dia menemukan Kekasihnya, dan dia memegang-Nya dan tidak dilepaskan sampai dia membawa-Nya ke dalam Roh kasih karunia yang telah melahirulangkan dia (rumah ibu—kamar—Ibr. 10:29; Gal. 4:26; Ef. 2:4-5; Gal. 5:4) untuk persekutuan rahasia.
Rumah ibu mengacu kepada tempat di mana dia dilahirkan, dan kamar ibu adalah tempat di mana dia dikandung. Ibu adalah kasih karunia. Menurut Galatia 4:25-26 Yerusalem di atas, yang adalah ibu kita, mewakili prinsip kasih karunia, yang menghasilkan keturunan yang merdeka, dan Yerusalem di bumi menghasilkan anak-anak dalam perhambaan. Kamar ibu melambangkan kasih, yang adalah Bapa. Kasih Bapa menghasilkan kasih karunia. Efesus 2:4-5 berkata bahwa Allah mengasihi kita dan bahkan menyelamatkan kita oleh kasih karunia. Kita dikandung dalam kasih Allah dan dilahirkan oleh kasih karunia Allah.
Walaupun pengasih Kristus jatuh ke dalam introspeksi, satu hari dia bangun dan menyadari bahwa dia adalah seorang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia. Bahkan dia dapat berkata, “Allah mengasihiku dan Kristus menyelamatkanku melalui kasih karunia.” Dua Korintus 13:13 mengatakan kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Roh itu membawa kasih Allah dan membawa kasih karunia Allah kepada kita. Karena itu, Roh itu disebut Roh kasih karunia (Ibr. 10:29). Sejak pengasih menyadari bahwa dia adalah seorang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia, dia dibangunkan. Kemudian menemukan Kekasihnya, dia memegang dia dan tidak dibiarkan pergi. Dia membawa Kristus ke rumah ibunya, di mana dia dilahirkan oleh kasih karunia, dan ke kamar, di mana dia dikandung dalam kasih. Seperti kamar adalah bagian dalam rumah, maka kasih Allah adalah bagian dalam dari kasih karunia Kristus, Sebagai orang-orang yang diselamatkan, kita memiliki kasih Allah dan kasih karunia Kristus.
VI. KRISTUS DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH MEMPERINGATI KAUM BERIMAN YANG SUKA TURUT CAMPUR UNTUK TIDAK MEMBANGUNKAN DIA
“Kusumpahi kamu, putri-putri Yerusalem, / Demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: / Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!” (Kid. 3:5) Di sini Kristus dengan sungguh-sungguh memperingati kaum beriman yang suka turut campur (putri-putri Yerusalem) untuk tidak membangunkan dia dari pengalaman dia akan Kristus dalam pelepasannya dari ego, pemisahannya dari introspeksinya, ke dalam persekutuan rahasianya dengan Dia hingga dia merasa senang dalam pengalaman yang berikutnya akan Kristus (dia puas).