TERTARIK UNTUK MENGEJAR KRISTUS BAGI KEPUASAN (2)
Pembacaan Alkitab: Kid. 1:9¾2:7
Di dalam 1:2-4a kita melihat bahwa pengasih Kristus merindukan Kristus, memandang Dia, dan terpikat oleh kasih-Nya dan tertarik oleh-Nya dalam kemanisan-Nya untuk mengejar Dia. Kristus sangat menyenangkan, manis, penuh dengan keharuman seperti minyak urapan. Lebih jauh lagi, cinta-Nya sangat membahagiakan, lebih baik dari anggur. Semua pengasih Kristus terpikat dan dikuasai oleh kasih-Nya (2 Kor. 5:14).
Di dalam Kidung Agung 1:4b-8 Sang Kekasih menjawab pengasih yang merindukan dan mencari Dia dan membawa dia ke bilik yang di dalam (rohnya), untuk memiliki persekutu yang intim. Dan persekutuan ini memimpin pengasih Kristus untuk masuk ke dalam kehidupan gereja, yang dilambangkan kawanan domba (ay. 8; Yoh. 10:16). Setelah para pengasih Kritus masuk ke dalam kehidupan gereja, mereka mulai ditransformasi oleh Roh Kudus. Terpisah dari kehidupan gereja kita tidak dapat ditransformasi. Sarana kehidupan gereja yang dipakai oleh Roh Kudus itu sangat penting untuk mentransformasi kita. Roh Kudus adalah mentransformasi kita dengan orang-orang kudus dalam gereja.
III. DITRANSFORMASI OLEH
PEMBUATAN-ULANG ROH ITU
Pengasih Kristus ditransformasi oleh pembuatan ulang Roh itu (Kid. 1:9-16a; 2:1-3a). Roh itu adalah majemuk, almuhit, tujuh ganda, pemberi hayat, dan Roh yang menghuni, yang adalah perampungan Allah Tritunggal yang telah rampung. Roh ini sebenarnya adalah Allah sendiri yang melakukan pekerjaan transformasi dengan membuat-ulang kita. Transformasi melibatkan suatu proses metabolik oleh Roh membuat-ulang kita. Transformasi secara metabolik ini sekarang bekerja di dalam kita dalam kehidupan gereja.
A. Pengasih Kristus Ditransformasi
dari Satu Persona yang Alamiah ke dalam
Satu Persona yang Bersandar di dalam Dia
dan Memandang Dia dengan Mata yang Tulus
Pengasih Kristus ditransformasi dari satu persona yang alamiah (seekor kuda betina di antara kereta-kereta Firaun—1:9) ke dalam satu persona yang menempuh suatu kehidupan yang tidak berdasarkan diri sendiri melainkan bersandar di dalam Dia (bunga bakung—2:1-2; Mat. 6:28) dan memandang Dia dengan mata yang tulus (mata seperti merpati—1:15b; Mat. 10:16). Pada mulanya pengasih Kristus alamiahnya sangat kuat, seperti seekor kuda betina di antara kereta-kereta Firaun, tetapi dia secara bertahap ditansformasi ke dalam satu bunga bakung, seorang yang tidak lagi penuh dengan alamiah yang kuat tetapi penuh dengan hayat. Orang yang transformasi demikian sekarang memandang Tuhan dengan mata tunggal. Pada satu sasaran, satu obyek, yaitu Yang dia kasihi.
B. Kristus Mengapresiasi Keindahannya dalam Takluk Kepada Dia
“Moleklah pipimu dengan jalinan-jalinan perhiasan, / Lehermu dengan kalung-kalung permata” (Kid. 1:10). Di sini Sang Kekasih mengapresiasi keindahannya dalam takluk kepada Dia (pipi yang indah dengan jalinan perhiasan) dan kecantikannya dalam taat kepada Roh yang mentransformasi (leher dengan kalung permata). Ekspresi pengasih Kristus ini penuh ketaklukkan diikuti dengan ketaatan. Ketika kita takluk kepada Tuhan, tentunya kita akan taat kepada Dia.
C. Roh yang Mentransformasi dan Teman-temannya akan Menghiasi Dia
dengan Susunan Hayat Allah dengan Pekerjaan Penebusan Kristus
“Kami akan menjadikanmu jalinan-jalinan emas dengan ikatan perak” (Kid. 1:11) Roh yang mentransformasi dan teman-temannya (kami) akan menghiasi dia dengan susunan hayat Allah (jalinan emas) dengan pekerjaan penebusan Kristus (manik-manik perak). Sifat Allah dan penebusan Kristus diletakkan bersama oleh Roh itu dan teman-temannya menghiasi sang pengasih. Roh itu mentrasformasi kita, tetapi Roh itu perlu teman-teman kita untuk membantu Dia. Bila kita menyadari ini, kita akan memuji Tuhan Roh bahwa Dia memberi kita banyak teman untuk membantu kita dalam mentransformasi kita.
D. Di meja Tempat Kristus
Berpesta dengan Pengasih-Nya, Cintanya
Terhadap Dia Menyebarkan Harumnya
“Sementara sang raja duduk pada mejanya, / Semerbak bau narwastuku” (ay. 12). Di meja tempat Kristus berpesta dengan pengasih-Nya (raja di mejanya), cintanya (narwastu) terhadap Dia menyebarkan harumnya. (cf. Yoh. 12:1-3). Di dalam kehidupan kelompok kecil gereja (sidang kelompok) sering kali mengadakan pesta dengan Tuhan sebagai tamu. Di dalam pembangunan kelompok vital, pengasih Kristus secara spontan menyebarkan keharuman mereka terhadap Kristus.
E. Dia Menikmati Kristus Secara Pribadi
dalam Kematian-Nya dengan Dirangkul Cinta dan Iman
“Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, / Tersisip di antara buah dadaku. / Bagiku kekasihku sekumpulan bunga pacar / Di kebun-kebun anggur En-Gedi” (Kid. 1:13-14). Di dalam ayat-ayat ini kita melihat bahwa dia menikmati Kristus secara pribadi (di waktu malam) dalam kematian-Nya (sebungkus mur) dengan dirangkul cinta dan iman (buah dada—1 Tim. 1:14; 1 Tes. 5:8), setiap pengasih Kristus penuh iman dan kasih dan memeluk Dia dengan iman dan kasih. Lebih jauh lagi, dia menikmati Kristus secara umum dalam kebangkitan-Nya (sekumpulan bunga pacar) di dalam gereja-gereja (kebun-kebun anggur) Kristus sebagai sumber air penebusan (En-gedi—sumber anak-domba). Di dalam gereja-gereja Kristus bertumbuh sebagai sekumpulan bunga pacar. Dalam gereja-gereja juga ada sumber penebusan. Gereja senantiasa diairi oleh sumber penebusan Kristus. Dari sini kita melihat bahwa bagian utama dari hayat rohani berhubungan dengan kehidupan gereja.
F. Kristus Mengapresiasi Kecantikannya
dalam Memandang Dia dengan Mata yang Tulus oleh Roh itu
“Oh, engkau memang cantik, kekasihku! / Oh, engkau memang cantik! Matamu bagaikan merpati” (Kid. 1:15). Kristus mengapresiasi kecantikannya dalam memandang Dia dengan mata yang tulus oleh Roh itu (mata seperti merpati—ay. 15). Aspek pertama yang menyolok dari kecantikan kita dalam memandang Tuhan Yesus adalah mata kita yang tulus terhadap Dia. Oleh Roh itu kita memandang Dia dengan mata yang tulus.
G. Dia Mengapresiasi Ketampanan-Nya dalam Kemenarikan-Nya
Sang Kekasih dan pengasih mengapresiasi satu sama lain. “Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik” (ay. 16a). Dalam ayat ini sang pengasih mengapresiasi ketampanan-Nya dalam kemenarikan-Nya.
H. Dia dengan Rendah Hati menyadari Dirinya Sendiri sebagai Orang Kecil
“Aku adalah bunga mawar dari Sharon, / Bunga bakung dari lembah-lembah” (2:1). Kata mawar untuk ayat ini mengacu kepada sekuntum mawar liar, di lembah tanah Yudea. Di sini pengasih dengan rendah hati menyadari dirinya sendiri sebagai orang kecil, di satu pihak menempuh kehidupan yang elok namun merendah (mawar) di dalam dunia biasa (Sharon, berarti “datar”), dan di pihak lain menempuh kehidupan yang murni dan bersandar (bakung) di tempat yang rendah (lembah-lembah). Ini adalah kerendahan hati pengasih mengakui dan menyadari dirinya sendiri.
I. Kristus Mengapresiasi Dia sebagai Cinta-Nya
yang Menempuh Kehidupan yang Murni dan Bersandar
“Bagaikan bunga bakung di antara duri-duri, / Demikianlah kasihku di antara putri-putri” (ay. 2). Di sini Kristus mengapresiasi dia sebagai cinta-Nya (Sulamit) di antara perzinahan yang mengasihi dunia (gadis-gadis—Yak. 4:4) yang menempuh kehidupan yang murni dan bersandar (bakung) di antara orang-orang yang kotor dan tak percaya (duri-duri).
J. Dia Mengapresiasi Kristus sebagai
Sumber Persediaan yang Kaya yang Menyuplai
Dia pada Saatnya
“Bagaikan pohon apel di antara pohon-pohon di hutan, / Demikianlah kekasihku di antara putra-putra” (Kid. 2:3a). Di sini pengasih mengapresiasi Kristus sebagai sumber persediaan yang kaya (pohon apel) yang mensuplai dia pada waktunya. Pengasih dan Sang Kekasih memiliki kecantikan, dan mereka mengapresiasi kecantikan satu dengan yang lain. Ini menunjukkan kepada kita bahwa transformasi menghasilkan suatu saling mengapresiasi antara Kristus dan kekasih-Nya.
IV. DIPUASKAN DENGAN PERHENTIAN
DAN KENIKMATAN DI DALAM KRISTUS
Pengasih dipuaskan dengan perhentian dan kenikmatan di dalam Kristus (1:16b-17; 2:3b-7). Kepuasan memerlukan dua hal—perhentian dan kenikmatan. Pertama, kita perlu perhentian dan kemudian, ketika kita sedang berada dalam perhentian, kita memiliki beberapa kenikmatan. Hasil dari perhentian dan kenikmatan ini adalah kepuasan.
A. Sang Pengasih Dipuaskan
1. Dengan Perhentiannya dalam Hayat-Nya yang Memberi Makan sebagai Tempat Perhentian di Waktu Malam di dalam Pelukan-Nya dan dalam Kematian-Nya dan Kebangkitan-Nya sebagai Tempat Perlindungan
Pengasih dipuaskan dengan perhentian kekasihnya dalam hayat-Nya yang memberi makan (hijau/sejuk) sebagai tempat perhentian di waktu malam (dipan/petiduran) di dalam pelukan-Nya (2:6) dan dalam kematian-Nya (eru) dan kebangkitan-Nya (kayu aras) sebagai tempat perlindungan (balok-balok rumah {beams} dan papan dinding-dinding {rafters}—1:16a-17). Di dalam perlambangan, di dalam gambar, pohon eru melambangan kematian Kristus, dan pohon aras melambangkan kebangkitan Kristus, yang di dalamnya keinsanian Kristus yang agung dan ditinggikan. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah tempat perlindungan dengan balok-balok rumah dan papan dinding-dinding.
2. Dengan Kesenangannya dalam Mengalami Perhentian di bawah Dia sebagai Tenda yang Menaungi Di siang Hari dan Pencicipannya akan Kristus sebagai Suplai yang Manis pada Waktunya
“Di bawah naungannya aku ingin duduk, / Dan buahnya manis bagi langit-langitku” (2:3b). Ini menyatakan bahwa pengasih dipuaskan juga dengan kesenangannya dalam mengalami perhentian di bawah Dia sebagai tenda yang menaungi di siang hari (tudung—Yes. 4:5; 2 Kor. 12:9) dan pencicipannya akan Kristus sebagai suplai yang manis pada waktunya (buah manis).
3. Dengan Cinta Kemenangan yang Menyebar atasnya di dalam Kehidupan Gereja yang Nikmat
“Dia membawa aku ke dalam rumah pesta, / Dan panjinya di atasku adalah cinta. / Kuatkanlah aku dengan kue-kue kismis, / Segarkanlah aku dengan buah-buah apel, / Sebab aku sakit asmara” (Kid. 2:4-5). Di sini pengasih dipuaskan dengan cinta kemenangan (panji cinta) yang menyebar atasnya di dalam kehidupan gereja yang nikmat (rumah pesta), di mana dia ditopang oleh Kristus sebagai roti hayat (Yoh. 6:35—kue-kue kismis) dan disegarkan oleh Kristus sebagai buah hayat (Why. 2:7; 22:2—apel-apel) untuk menyembuhkan sakit asmaranya. Kristus memelihara kita dengan diri-Nya sebagai roti dan menyegarkan kita dengan diri-Nya sebagai buah.
B. Kristus Memperhatikan Perhentian
Dia di dalam-Nya
“Kusumpahi kamu, putri-putri Yerusalem, / Demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: / Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta / Sebelum diingininya!” (Kid. 2:7). Di sini kita nampak bahwa Kristus memperhatikan perhentian dia di dalam-Nya.
1. Kristus Menganggapnya sebagai Orang
yang Mudah Dikejutkan
Kristus menganggapnya sebagai orang yang mudah dikejutkan (kijang-kijang dan rusa-rusa betina di padang-padang). Setiap pengasih Kristus adalah seorang persona yang mudah dikejutkan.
2. Dengan Sungguh-sungguh Memperingati Kaum Beriman yang Suka Turut Campur
Kristus dengan sungguh-sungguh memperingati (mendesak/menyumpahi) kaum beriman yang suka turut campur (putri-putri Yerusalem). Di antara kaum beriman di dalam kehidupan gereja, ada beberapa saudara dan saudari yang suka turut campur. Mereka tidak memperhatikan perkara-perkara mereka sendiri, mereka juga tidak memperhatikan bagaimana mereka harus bertumbuh dan mengasihi Tuhan dan untuk bertumbuh di dalam hayat ilahi. Orang-orang yang suka turut campur demikian dilambangkan dengan putri-putri Yerusalem.
3. Untuk tidak Membangunkan Dia dari Pengalaman Perhentian di dalam Kristus.
Dia memerintahkan untuk tidak membangunkan dia dari pengalaman perhentian di dalam Kristus di dalam Dia. Di dalam kehidupan Kristennya pengasih telah mencapai sasaran perhentian di dalam dan mengalami Kristus, dan dia dipuaskan dalam kehidupan gereja. Sementara, Kristus menyetujui dengan situasinya dan tidak ingin seorangpun membangunkannya. Inilah akhir dari tahap pertama kehidupan Kristen dari seorang pengasih Kristus.
Banyak dari kita dapat bersaksi dari pengalaman bahwa benar-benar dalan situasi demikian. Pada poin ini kita dapat berkata, “Saya berada dalam perhentian dalam Kristus dan saya menikmati Kristus. Saya ditudungi oleh Dia dan saya berada di dalam Dia. Hayat-Nya adalah petiduranku, dan kematian serta kebangkitan-Nya adalah papan dinding-dindingku yang menudungiku. Di sini dalam kehidupan gereja kasih Kristus adalah panji yang menyebar atasku. Saya dipuaskan.”
4. Hingga Dia Merasa Senang dalam Pengejarannya yang Kedua akan Kristus (Dia Puas)
Dia mengijinkan dia untuk tinggal pada perhentian hingga dia merasa senang dalam pengejarannya yang kedua akan Kristus (dia puas). Seperti kita lihat ketika kita sampai pada bagian berikutnya, Kristus tidak bermaksud bahwa pengasihnya tetap tinggal dalam tahap pertama. Dia perlu untuk masuk ke dalam tahap kedua dari kehidupan orang Kristen sebagai seorang pengasih Kristus—tahap mengalami salib Kristus untuk peremukan ego Anda. Pengasih Kristus seharusnya tidak tetap tinggal dalam ego, membiarkan ego menjadi inti, tetapi seharusnya mengalami peremukan ego oleh salib.