DIPANGGIL UNTUK HIDUP DI DALAM KENAIKAN SEBAGAI CIPTAAN BARU DALAM KEBANGKITAN
Pembacaan Alkitab: Kid. 3:6 — 5:1
Dalam tahap yang kedua (Kid. 2:8—5:1) pengasih Kristus telah mempelajari tiga pelajaran dasar: kuat kuasa kebangkitan, segala kekayaan kebangkitan, dan kehidupan salib. Kuat kuasa kebangkitan Kristus dilambangkan oleh kijang atau rusa muda, yang melompat-lompat di atas gunung-gunung dan meloncat-loncat di atas bukit-bukit (2:8-9). Segala kekayaan kebangkitan Kristus dilambangkan oleh bunga-bunga, bunyi tekukur, dan berbagai macam wangi-wangian pada musim semi (ay. 12-13a). kehidupan salib dilambangkan oleh calah-celah batu karang dan persembunyian lereng-lereng gunung (ay. 14). Kehidupan salib adalah hidup dalam kuat kuasa kebangkitan dan segala kekayaan kebangkitan.
Dalam tahap berikutnya—dipanggil untuk hidup di dalam kenaikan sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan (3:6—5:1) —kita perlu belajar pelajaran membedakan roh dari jiwa (Ibr. 4:12). Sekelompok orang Kristen hari ini dapat membedakan roh dari jiwa. Banyak benar-benar percaya bahwa di dalam Alkitab kata roh dan jiwa adalah sama, bahkan sekalipun 1 Tesalonika 5:23 membicarakan “roh dan jiwa dan tubuh.” Bila kita tidak menyadari bahwa roh berbeda dari jiwa, kita tidak dapat mencapai tahap dipanggil untuk hidup dalam kenaikan sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan.
Kenaikan itu memang berada di surga. Namun kita ada di bumi, sebagai orang yang percaya dalam Kristus roh kita dilahirkan kembali dan disatukan dengan Roh Allah di surga. Dua roh ini menjadi satu roh. Ini seperti listrik: Listrik ini ada di dalam pembangkit juga ada di ruangan kita, namun ada satu arus. Ketika kita berada di dalam roh, kita bersatu dengan Kristus yang naik di surga
Untuk hidup di dalam kenaikan berarti memiliki satu kehidupan orang Kristen yang setiap waktu di dalam roh. Ini memerlukan kita membedakan roh kita dari jiwa kita. bila kita mengasihi orang lain dengan jiwa kita, kita berada di bumi, bukan di dalam kenaikan. Bila kita mengasihi dengan roh kita, kita berada di dalam kenaikan. Kita telah didudukan dengan Kristus di surga (Ef. 2:6). Secara posisi, kita didudukkan di sana, tetapi kita perlu hidup di dalam kenaikan. Setelah memanggil kita ke salib, Kristus memanggil kita lebih jauh untuk hidup di dalam kenaikan sebagai ciptaan baru dalam kebangkitan.
I. CIPTAAN BARU
Kidung Agung 3:6—4:6 adalah berhubungan dengan ciptaan baru.
A. Oleh Persatuan yang Lengkap antara Sang Pengasih dengan Kristus
Pengasih Kristus menjadi ciptaan baru oleh persatuannya yang lengkap dengan Kristus (3:6-11). Kita disatukan dengan Adam, yang membuat kita sebagai ciptaan lama. Sekarang kita dipersatukan dengan Kristus, maka kita adalah ciptaan baru. Dua Korintus 5:17 mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.”
1. Dia datang dari Mesir seperti Orang yang Di dalam Kuat Kuasa Roh itu yang Tak Tergoyahkan
“Apakah itu yang membumbung dari padang gurun / Seperti gumpalan-gumpalan asap / Tersaput dengan harum mur dan kemenyan” (Kid. 3:6). Dia (sebagai wakil yang menang dari umat pilihan Allah) datang dari Mesir (padang belantara) seperti orang yang di dalam kuat kuasa Roh itu yang tak tergoyahkan (Kel. 14:19-20), diharumkan dengan kematian Kristus yang manis dan kebangkitan Kristus yang harum dan dengan segala kekayaan Kristus yang harum sebagai pedagang. Tuhan perlu seorang pemenang, yang diharumkan, dijenuhi dengan keharuman segala kekayaan Kristus.
2. Dia adalah Kemenangan dari Kristus yang Menang
“Lihatlah, itulah Salomo, / Dikelilingi oleh enam puluh pahlawan / Dari antara pahlawan-pahlawan Israel. / Semua membawa pedang, terlatih dalam perang, / Masing-masing dengan pedang pada pinggang / Karena kedasyatan malam” (Kid. 3:7-8). Dia adalah kemenangan (ranjang/joli untuk perhentian dan kemenangan di waktu malam) dari Kristus yang menang, penuh dengan kuat kuasa para pemenang di antara umat pilihan Allah, yang membawa Kristus bahkan di saat-saat sulit, dan para pemenang ini adalah ahli-ahli perang yang bertempur dengan senjata-senjata mereka pada saat-saat bahaya.
3. Dia adalah Tandu sebagai Pembawa Kristus
“Raja Salomo membuat bagi dirinya suatu tandu / Dari kayu Libanon. / Tiang-tiangnya dibuat dari perak, / Sandarannya dari emas, / Tempat duduknya berwarna ungu, / Bagian dalamnya dihiasi dengan kayu arang. / Hai putri-putri Yerusalem” (ay. 9:10). Dia adalah tandu (untuk di siang hari) sebagai pembawa Kristus, yang dibuat oleh diri-Nya dari keinsanian yang telah dibangkitkan, ditinggikan, dan mulia (kayu Libanon), dengan sifat Allah (emas) sebagai dasarnya, penebusan Kristus (perak) sebagai penunjangnya, takhta kerajaan (warna ungu) sebagai tempat duduknya, dan kasih kaum beriman melapisi bagian dalamnya.
4. Roh itu Menyuruh Kaum Beriman Pemenang untuk Berpaling dari Diri Mereka kepada Kristus dalam Keinsanian-Nya
“Putri-putri Sion, / keluarlah dan tengoklah raja Salomo / Dengan mahkota yang dikenakan kepadanya oleh ibunya / Pada hari pernikahannya, pada hari kesukaan hatinya” (ay. 11). Roh itu menyuruh kaum beriman pemenang untuk berpaling dari diri mereka kepada Kristus dalam keinsanian inkarnasi-Nya sebagai mahkota kebanggaan-Nya, pada saat kaum beriman bertunangan dengan Kristus, hari kebahagiaan hati-Nya.
Bila Kristus tidak memiliki keinsanian, Dia tidak dapat menikahi kita. Karena kita adalah insani, kita tidak dapat bertunangan dengan Kristus bergantung pada keinsanian-nya, yang adalah mahkota-Nya. Keinsanian yang dikenakan Kristus dalam inkarnasi-Nya dan peninggian dalam kebangkitan-Nya adalah mahkota-Nya. Kita perlu memandang selalu kepada Kristus dalam keinsanian-Nya.
Pada waktu ini kita seharusnya melihat bahwa persatuan antara ranjang dengan penidurnya, persatuan antara tandu dengan penumpangnya, dan persatuan antara mempelai perempuan dengan mempelai laki-lakinya, menandakan bahwa di dalam ketiga butir di atas, semuanya melambangkan persatuan yang lengkap antara sang pengasih dengan Kristus. Karena kita telah dipersatukan dengan Kristus, kita telah menjadi ciptaan baru.
B. Kecantikan Sang Pengasih, Sang Mempelai Perempuan, Sebagai Ciptaan Baru
Di dalam 4:1-5 kita melihat kecantikan sang pengasih, sang mempelai perempuan, sebagai ciptaan baru.
1. Kecantikan dalam Ketulusannya
dan Wawasannya oleh Roh itu
“Lihatlah, cantik engkau, manisku, / Sungguh cantik engkau! / Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. / Rambutmu bagaikan kawanan kambing / Yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead” (ay. 1). Dalam ayat ini kita melihat kecantikan dalam ketulusannya dan wawasannya oleh Roh itu, yang tak terlihat oleh orang lain, dan dalam takluk dan taatnya dia melalui pemberian makan Allah yang menaklukkan ketidaktaatannya di antara umat yang tidak taat.
2. Kecantikan dalam Penerimaan Makanan Ilahi
“Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, / Yang keluar dari tempat pembasuhan, / Yang beranak kembar semuanya, / Yang tak beranak tak ada” (ay. 2). Ini membicarakan kecantikan dalam penerimaan makanan ilahi oleh kuat kuasanya yang telah dibereskan oleh salib, yang telah dibersihkan oleh pembasuhan Roh itu, dan yang telah dikuatkan dua kali dan diseimbangkan, tanpa kehilangan kekuatan.
3. Kecantikan dalam Pembicaraannya yang adalah Dengan Penebusan Kristus dan Otoritas-Nya
“Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, / Dan elok mulutmu. / Bagaikan belahan buah delima pelipismu / Di balik telekungmu” (ay. 3). Inilah kecantikan dalam pembicaraannya yang adalah dengan penebusan Kristus dan otoritas-Nya oleh mulutnya yang elok, dan dalam ekspresinya yang penuh hayat yang tersembunyi.
4. Kecantikan dalam Kehendaknya
yang Takluk kepada Kristus
“Lehermu seperti menara Daud, / Dibangun untuk menyimpan senjata. / Seribu perisai tergantung padanya / Dan gada para pahlawan semuanya” (ay. 4). Di sini kita memiliki kecantikan dalam kehendaknya yang takluk kepada Kristus yang kaya dalam kuat kuasa pertahanan.
5. Kecantikan dalam Iman dan Kasih yang Lembut
“Sepeti dua anak rusa buah dadamu, / Seperti anak kembar kijang / Yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung” (ay. 5). Ini membicarakan kecantikan dalam iman dan kasih yang lembut yang telah diperkuat dua kali dan yang telah dirawat di lingkungan kehidupan yang murni dan bersandar.
C. Pengejarannya yang Lebih Dalam
Ayat 6 mengenai pengejarannya yang lebih dalam: “Sebelum angin senja berembus / Dan bayang-bayang menghilang, / Aku ingin pergi ke gunung mur / dan ke bukit kemeyan” dalam pengejarannya yang dalam dia akan maju dan bertahan di dalam kematian dan kebangkitan Kristus di puncak tingginya sampai Kristus datang, saat hari senja dan bayang-bayang menghilang. Mulanya, dia takut di celah-celah batu karang dan persembunyian lereng-lereng gunung yang curam, tetapi sekarang dia bertekad tinggal di sana, tetap tinggal dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
II. DIPANGGIL UNTUK HIDUP DI DALAM KENAIKAN
Dalam ayat 7 sampai 15 pengasih dipanggil untuk hidup di dalam kenaikan.
A. Panggilan-Nya
Dalam ayat 7 dan 8 kita memiliki panggilan Sang kekasih.
1. Dia Memuji Kecantikan dan Kesempurnaannya
“Engkau cantik sekali, manisku, / Tak ada cacat cela padamu.” (ay. 7). Di sini Dia memuji kecantikan dan kesempurnaannya.
2. Kristus mengajak Dia sebagai Mempelai Perempuan-Nya untuk Menengok Bersama-Nya
dari Kenaikan-Nya
“Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, pengantinku, / Lihatlah dari puncak Amana, / Dari Senir dan Hermon, / Dari liang-liang singa, / Dari pegunungan macan tutul!” (ay. 8). Amana berarti “kebenaran,” Senir berarti “senjata yang lunak” dan Hermon berarti “pengrusakan.” Dalam ayat ini Sang Kekasih mengajak dia sebagai mempelai perempuan-Nya untuk menengok bersama-Nya dari kenaikan-Nya, memandang para musuh-Nya dari tempat kebenaran yang tertinggi dan kemenangan Kristus di dalam peperangan-Nya, dan dari tempat-tempat surgawi. Di sini kita memiliki satu kehidupan di dalam kenaikan.
B. Jawabannya yang Sunyi
Pengasih Kristus tidak menjawab panggilan Sang Kekasih secara terdengar. Ayat 9 menandakan bahwa dia memberikan jawaban yang sunyi: “Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, / Engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, / Dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu.” Di sini Kristus menganggap dia sesifat dengan-Nya dan menganggap dia sebagai mempelai perempuan-Nya, yang menjawabnya tanpa bersuara, yaitu hanya dengan kejapan mata dan dengan tunduk kepada perintah Allah, yang telah mendebarkan hati-Nya.
C. Kenikmatan Pribadi-Nya akan Dia
Ayat 10 sampai 15 melukiskan kenikmatan pribadi-Nya akan dia.
1. Menikmati Kasihnya yang Elok
“Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku! / Jauh lebih nikmat cintamu dari pada segala macam rempah.” (Ay. 10). Menganggap dia sesifat dengan-Nya dan sebagai mempelai perempuan-Nya, menikmati kasihnya yang elok, yang jauh lebih baik daripada anggur, dan minyaknya, yang adalah milik Sang Raja (1:3) dan yang lebih harum daripada segala macam rempah.
2. Menikmati Perkataannya Bagaikan Madu Segar dan Menikmati Keharuman Tingkah Lakunya
“Bibirmu meneteskan madu murni, pengantinku, / Madu dan susu ada di bawah lidahmu, / Dan bau pakaianmu seperti bau gunung Libanon.” (4:11). Dia menikmati perkataannya bagaikan madu segar (untuk memulihkan orang yang lemah), yang keluar dari bibirnya, dan perkataannya bagaikan madu dan susu (untuk memulihkan orang yang lemah dan memberi makan orang-orang yang belum matang), yang berada di bawah lidahnya, dan menikmati keharuman tingkah lakunya sebagai keharuman kenaikan.
3. Menganggap Dia sebagai Kebun
yang Tertutup, Mata Air yang Terkurung, dan SumberAir yang Termeterai
“Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, / Mata air yang terkurung dan sumber air yang termeterai.” (Ay. 12). Kristus menganggap dia sebagai kebun yang tertutup, mata air yang terkurung, dan sumber air yang termeterai.
a. Kebun yang Tertutup yang Menumbuhkan
Segala Macam Tanaman dengan Warna-warna yang Berlainan
“Tunas-tunasmu merupakan kebun pohon-pohon delima / Dengan buah-buahnya yang lezat, / Bunga pacar dan narwastu, / Narwastu dan kunyit, tebu dan kayu manis / Dengan segala macam pohon kemenyan, / mur dan gaharu, / Beserta pelbagai rempah yang terpilih.” (Ay. 13-14). Dalam Dia menikmatinya dia adalah Kebun yang tertutup yang menumbuhkan segala macam tanaman dengan warna-warna yang berlainan sebagai ekspresi-ekspresi yang berlainan dari hayat batiniah dan dengan berbagai keharuman sebagai ekspresi yang kaya dari hayat yang matang.
b. Sumber Air yang Termeterai dengan Mata Air yang Terkurung
di dalam Taman-taman yang Mengalir sebagai Sebuah Sumur Air Hidup
“O, mata air di kebun, / Sumber air hidup, / Yang mengalir dari gunung Libanon!” (ay. 15). Dia menganggapnya sebagai sumber air yang termeterai dengan mata air yang terkurung di dalam taman-taman yang mengalir sebagai sebuah sumur air hidup dari Roh pemberi hayat dan sebagai aliran-aliran hayat kebangkitan.
III. MENEMPUH SUATU KEHIDUPAN CINTA
Kidung Agung 4:16—5:1 membicarakan menempuh satu kehidupan cinta.
A. Jawaban Mempelai Perempuan
Ayat 16 adalah jawaban mempelai perempuan: “Bangunlah, hai angin utara, / Dan marilah, hai angin selatan, / Bertiuplah dalam kebunku, supaya semerbaklah bau rempah-rempahnya! / Semoga kekasihku datang ke kebunnya / Dan makan buah-buahnya yang lezat.” Dia menginginkan lingkungan yang sulit (angin utara) dan lingkungan yang menyenangkan (angin selatan) tergarap atas dirinya yang sebagai kebun agar keharumannya dapat tersebar. Dia memohon Sang Kekasihnya untuk masuk ke dalam dirinya yang sebagai kebun dan menikmati buah-buah terpilihnya. Kita harus menganggap diri kita sebagai kebun bagi Kristus, yang menghasilkan buah-buah bagi kenikmatan-Nya.
B. Jawaban Sang Kekasih
“Aku telah masuk ke kebunku, adikku, mempelaiku, / Aku telah mengumpulkan murku dan rempah-rempahku, / Aku telah makan sambangku dan maduku, / Aku telah minum anggurku dan susuku. / Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta!” (5:1). Di sini Sang Kekasih menjawab, mengundang “teman-teman-Nya” yang kekasih, Allah Tritunggal, untuk makan, minum, dan minum dengan puas, untuk kenikmatan dia dengan-Nya.