← Daftar isi Efesus (2) · bab 8/24

BAGAIMANA KRISTUS MEMULIAKAN GEREJA

Kita sudah melihat bahwa Efesus 5:25-27 menyajikan Kristus dalam tiga tahap. Dalam tahap pertama, tahap daging; Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri bagi gereja. Dalam tahap kedua, Ia sebagai Roh pemberi hayat sedang menguduskan, membersihkan, merawat, dan mengasuh gereja. Terakhir dalam tahap ketiga, Ia akan mempersembahkan satu gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri sebagai mempelai perempuan-Nya.

BAGAIMANA KRISTUS MEMPERSEMBAHKAN GEREJA KEPADA DIRI-NYA SENDIRI

Kita perlu merenungkan bagaimana Kristus mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sebagai satu gereja yang mulia. Ketika saya masih muda, saya kira Kristus hanya berada di surga dan gereja berada di bumi. Saya pikir, pada waktu Ia kembali dari surga ke bumi, Ia akan mengambil gereja dan mempersembahkannya kepada diri-Nya sendiri secara tiba-tiba. Menurut konsepsi demikian, Kristus berada jauh di surga sedang kita berada di bumi sambil mempersiapkan diri untuk dipersembahkan kepada-Nya. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa ini adalah konsepsi yang alamiah dan yang membuat Kristus terlampau obyektif.

Ekonomi Allah sama sekali berbeda dengan konsepsi alamiah dan agama. Dalam ekonomi-Nya, Allah sedang menggarapkan Kristus ke dalam kita. Pada akhirnya, Kristus akan mempersembahkan gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri, tidak saja datang secara obyektif, tetapi melalui meluasnya di batin kita dan kemudian keluar dari dalam kita.

Roma 8 menunjukkan bahwa Allah tidak saja memanggil kita dan membenarkan kita, tetapi juga akan memuliakan kita. Dulu saya mendapat pengajaran bahwa pada suatu hari Tuhan akan turun secara tiba-tiba dari surga dan membawa kita ke dalam kemuliaan. Namun konsepsi pemuliaan itu tidak sesuai dengan ekonomi Allah. Kristus akan memuliakan kita tidak dengan turun dari surga, melainkan melalui keluar dari batin kita. Pengharapan kemuliaan ini bukan Kristus yang di surga, melainkan Kristus yang di dalam kita (Kol.1:27). Jika kita tidak menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita, kita tidak akan bisa menikmati kemuliaan yang di batin kita itu. Kita perlu berkata, “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau sebagai hayat dan personaku. Tuhan, aku memberikan hatiku kepada-Mu. Dapatkanlah hatiku, Tuhan, dudukilah hatiku, milikilah hatiku, dan berumahlah dalam hatiku.” Bila Anda mempraktekkan hal ini, dengan spontan Anda akan mengetahui kemuliaan yang ada dalam batin Anda itu.

CAHAYA KEMULIAAN BATINIAH

Banyak di antara kita yang menerima ajaran bahwa terang Allah berpancar ke atas diri kita dari luar kita. Namun pengalaman kita atas cahaya Tuhan berbeda dengan ajaran itu. Menurut pengalaman kita, terang itu tidak berpancar dari luar, melainkan dari batin kita. Ketika Anda menerima Kristus sebagai hayat dan persona Anda, jangan berharap langit terbuka dan dari luar ada terang besar yang berpancar ke atas Anda secara luaran. Jika pengalaman Anda mirip dengan yang dialami orang banyak, maka pancaran Tuhan itu semestinya dari dalam, yaitu satu pancaran yang batiniah. Jadi pancaran yang sedemikian merupakan ekspresi dari kemuliaan yang batiniah. Pengharapan mulia kita ialah Kristus di dalam kita. Karena itu, ketika Allah memuliakan kita, Ia tidak akan mengirimkan kemuliaan dari atas, sebaliknya, Ia akan membuat Kristus berpancar dari batin kita. Hal ini menunjukkan bahwa pemuliaan adalah pengalaman subyektif atas Kristus yang berhuni di batin kita.

TERTELAN OLEH KRISTUS SEBAGAI KEMULIAAN

Berlawanan dengan konsepsi yang agamis, pemuliaan kita bukanlah peristiwa yang terjadi dengan tiba-tiba, melainkan terjadi secara berangsur-angsur ketika Kristus meluas di batin kita dan meresapi kita dengan diri-Nya sendiri. Kristus memuliakan kita ketika Ia “memakan” kita sedikit demi sedikit. Kita semua harus dimakan, dilahap, dan ditelan oleh Kristus sebagai kemuliaan di batin kita. Dalam batin kita, kita tidak saja memiliki Kristus sebagai hayat dan persona kita, tetapi juga sebagai kemuliaan Allah.

Kita dapat memakai metamorfose (perubahan bentuk) seekor ulat bulu yang jelek menjadi seekor kupu-kupu yang indah untuk menggambarkan pemuliaan. Seekor ulat bulu tidak dengan sekejap mata berubah menjadi seekor kupu-kupu melalui suatu keindahan yang turun ke atasnya dan membungkusnya secara tiba-tiba. Tidak, keindahan kupu-kupu itu terkandung dalam hayat ulat bulu. Ketika hukum hayat ini berfungsi dalam ulat bulu itu, maka ulat bulu itu berangsur-angsur berubah menjadi seekor kupu-kupu. Ketika proses ini berlangsung, keindahan kupu-kupu menelan kejelekan ulat bulu.

Seprinsip dengan itu, Kristus di dalam kita menjadi pengharapan kemuliaan kita. Sebagai kemuliaan yang berhuni di batin, Ia mengambil setiap kesempatan untuk meluas dan berkembang di batin kita. Kemuliaan batiniah ini meresapi bahkan menelan kita. Pada suatu hari seluruh diri kita akan diresapi oleh kemuliaan ilahi. Pada hari itu kita akan dibawa ke dalam kemuliaan dengan sempurna.

Hal ini sama sekali berbeda dengan ajaran-ajaran yang agamis yang mengatakan bahwa kita harus bertingkah laku baik sampai pada suatu hari kita mengharap dapat dipindah ke alam kemuliaan secara tiba-tiba. Menurut konsepsi agamis itu, kita harus berusaha keras mencari perkenan Tuhan. Jika kita telah diperkenan oleh-Nya, pada suatu hari, Ia akan tiba-tiba turun dari surga dan membawa kita ke dalam kemuliaan. Alangkah kontrasnya konsepsi itu dengan ekonomi Allah! Ekonomi Allah ialah menyalurkan Kristus ke dalam kita. Selaku kaum beriman, kita memiliki Kristus sebagai kemuliaan di batin kita. Keperluan kita bukanlah berperilaku baik atau berusaha menyenangkan hati Allah, melainkan memperhatikan Kristus sebagai pengharapan kemuliaan dan membiarkan kemuliaan ini menjadi hayat dan persona kita.

KRISTUS TERTAMPIL KELUAR

DARI BATIN KITA

Yang kita miliki dalam batin kita tidak hanya hayat atau Roh itu saja, tetapi juga Kristus sendiri sebagai ke-muliaan Allah. Kristus akan mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri sebagai gereja yang mulia. Namun, Ia tidak melakukannya dengan cara yang agamis, melainkan dengan cara yang sesuai dengan ekonomi Allah. Hal ini berarti Ia akan meluas di batin kita dan meresapi kita dengan diri-Nya sendiri, hingga kita seluruhnya tertelan oleh kemuliaan yang batiniah. Setelah itu Ia akan tertampil keluar dari batin kita.

Kebanyakan orang Kristen mengharapkan Kristus datang dari surga. Saya sangat hafal akan ayat-ayat yang mengatakan hal ini. Pada satu pihak, memang Kristus akan datang dari surga, tetapi di pihak lain, yang banyak membuat orang terkejut, Ia akan tertampil keluar dari batin kita. Pada aspek obyektif Kristus ada di surga, tetapi pada aspek subyektif dan dalam pengalaman kita, Ia berada di batin kita. Sebagai penghuni batin kita, Ia akan tertampil keluar dari batin kita.

Sejak Kristus masuk ke dalam kita, Ia sudah mencari jalan untuk tertampil keluar melalui kita. Mudah sekali Ia masuk ke dalam kita, tetapi Ia sulit untuk tertampil keluar dari dalam kita. Sebagai contoh, kita dapat mudah menabur sebutir benih ke dalam tanah, tetapi jika benih itu ingin bertumbuh dari dalam tanah, itu perlu banyak waktu dan perlu suatu proses. Namun demikian, pada akhirnya benih itu akan bertumbuh dan tertampil keluar dari dalam tanah. Demikian pula, Kristus akhirnya akan meresapi kita, menelan kita, dan kemudian tertampil keluar dari dalam batin kita.

PERBANDINGAN KONTRAS ANTARA

AGAMA DENGAN EKONOMI ALLAH

Kebanyakan orang Kristen hari ini telah meleset dari sasaran ekonomi Allah karena mereka terselubung oleh konsepsi yang agamis. Mereka sama sekali tidak tahu apa itu ekonomi Allah. Perbandingan kontras antara agama dengan ekonomi Allah dapat diilustrasikan melalui kehidupan insani Tuhan. Sewaktu Tuhan Yesus berada di bumi, Bait Suci berikut semua upacara, praktek, dan peraturan-peraturannya tetap berada di Yerusalem. Dalam Bait ada para imam yang mempersembahkan kurban-kurban, membakar ukupan, dan menyalakan kaki pelita. Akan tetapi, Allah tidak berada dalam Bait itu Ia berada dalam Tuhan Yesus. Adakalanya Tuhan tinggal di rumah Lazarus, Marta, dan Maria di Betania. Ia mengunjungi mereka dan bercakap-cakap dengan mereka secara normal dan insani. Namun, ketika Ia berada di rumah Lazarus di Betania, para imam tetap melakukan upacara di Bait Suci. Pada diri para imam dalam Bait itu kita melihat praktek agama, tetapi pada diri Tuhan di Betania kita melihat ekonomi Allah. Ekonomi Allah ialah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Ekonomi-Nya tidak terlaksana di dalam Bait, melainkan di rumah Lazarus di Betania itu, sebab Kristus jelmaan kekayaan Allah hadir di sana. Mereka yang bersembahyang di Bait Suci melakukan praktek agama mereka, tetapi Lazarus, Marta, dan Maria menikmati penyertaan Tuhan Yesus sendiri. Gereja-gereja lokal hari ini tidak seharusnya seperti Bait Allah di Yerusalem, melainkan harus seperti rumah Lazarus di Betania. Hal ini berarti gereja-gereja lokal tidak boleh menjadi tempat kegiatan agama, melainkan harus menjadi tempat-tempat di mana ekonomi Allah terlaksana.

Agama mengajarkan bahwa Allah akan membawa kita ke dalam satu lingkungan atau satu alam kemuliaan. Menurut konsepsi yang agamis itu, Tuhan akan memindahkan kita secara tiba-tiba ke dalam kemuliaan yang obyektif. Kita harus mendisiplin tingkah laku kita dan harus menyesuaikan kehidupan kita dengan Alkitab, hingga pada saat itu. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk sesuai dengan Alkitab dalam setiap perkara dan cara. Setelah itu, menurut ajaran tersebut, pada satu hari kita baru bersyarat untuk diangkat ke dalam alam lingkungan kemuliaan Allah.

Bandingkanlah konsepsi itu dengan ekonomi Allah. Menurut ekonomi Allah, kemuliaan telah masuk ke dalam kita dan kini tinggal di batin kita. Kemuliaan ini ialah Kristus sendiri yang menjadi hayat dan persona kita. Kristus akan mempersembahkan suatu gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri, bukan turun secara mendadak ke atas gereja, melainkan meluas di batin gereja, sampai gereja sepenuhnya dijenuhi, diresapi, dan ditelan oleh Dia sendiri. Betapa bedanya hal ini dengan berusaha mencari perkenan Allah secara lahiriah! Pemuliaan sepenuhnya merupakan masalah meluasnya Kristus di batin kita dan tertelannya kita oleh Dia sendiri. Inilah ekonomi Allah.

Tinggalkanlah ajaran-ajaran yang agamis dan serahkanlah diri kita semutlaknya kepada ekonomi Allah. Alkitab mewahyukan bahwa dalam ekonomi-Nya Allah sedang menggarapkan Kristus ke dalam kita. Pada saat kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, Kristus masuk ke dalam kita sebagai unsur kemuliaan. Kini Ia sedang dalam proses mempersembahkan satu gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri melalui meluaskan diri-Nya ke dalam batin kita. Berdasarkan Efesus 3:17, meluasnya Kristus di batin kita sebenarnya berarti Ia berumah di dalam hati kita. Kristus sedang meresapi kita, bahkan “memakan” kita. Hal ini akan terus berlangsung sampai Dia tertampil keluar dari diri kita. Melalui proses yang demikianlah Kristus mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri sebagai satu gereja yang mulia.

TIDAK SAJA MENANG, TETAPI JUGA MULIA

Efesus 5:27 tidak mengatakan Kristus akan mempersembahkan kepada diri-Nya gereja yang baik atau yang menang, tetapi gereja yang mulia. Gereja mungkin menjadi menang tanpa menjadi mulia. Banyak buku mengajarkan bagaimana menjadi pemenang, tetapi saya tidak menjumpai buku yang mengajarkan bagaimana menjadi mulia. Demikian pula, banyak berita tentang cara meraih kemenangan, tetapi apakah Anda pernah mendengar sebuah berita tentang cara meraih kemuliaan? Kristus menghendaki gereja yang mulia, bukan hanya gereja yang menang.

KEMBALI KEPADA KRISTUS YANG

BERHUNI DI BATIN

Tidak banyak di antara kita yang berkeyakinan untuk mengatakan dirinya mulia. Ini disebabkan karena kita tahu kita tidak memberi kesempatan penuh kepada Tuhan untuk meresapi kita dan tertampil keluar dari kita. Setelah menerima Tuhan Yesus ke dalam kita, banyak di antara kita yang diselewengkan atau terperangkap oleh ajaran-ajaran yang agamis. Kita tidak memusatkan perhatian pada Kristus yang berhuni di batin, melainkan menaruh perhatian pada perkara-perkara lainnya. Sebab itu, dalam pemulihan Tuhan, kita semua harus dibawa kembali kepada Kristus yang berhuni di batin. Dari lubuk batin kita, kita perlu memberi tahu Tuhan bahwa kita ingin menerima-Nya sebagai hayat dan persona kita, dan memberi kedudukan penuh kepada-Nya di dalam diri kita.

Bila Tuhan hanya berada di surga, Ia tidak dapat menjadi hayat dan persona kita. Kristus berada di surga juga di dalam batin kita. Penghuni batiniah inilah yang harus kita terima sebagai hayat dan persona kita. Ketika kita berbuat demikian, Ia akan berumah di dalam hati kita, Ia akan meluas di dalam kita, meresapi kita, dan menelan kita setahap demi setahap. Pada akhirnya, yaitu pada waktu Ia datang kembali, Ia akan terekspresikan sepenuhnya dari batin kita. Inilah ekonomi Allah dalam hayat.

PROSES PEMULIAAN

Dalam ekonomi Allah, Kristus sekarang bahkan sedang dalam proses mempersembahkan gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri. Ketika proses ini berlangsung, Ia berumah di hati kita melalui menjadi hayat dan persona kita. Dengan jalan inilah Ia menjenuhi insan batiniah kita dengan diri-Nya sendiri. Ia tidak bermaksud mengoreksi, mengatur, atau memperbaiki kita. Tujuan-Nya ialah memuliakan kita. Untuk mencapai sasaran ini, sekarang Ia sedang melaksanakan proses pemuliaan di batin kita.

Tidak peduli Anda bagaimana baik, indah, benar, atau menang, Anda tetap belum mulia. Tujuan Kristus bukanlah memperoleh gereja yang baik, benar, atau indah, melainkan gereja yang benar-benar mulia. Maka Kristus hanya memperhatikan bagaimana memuliakan kita melalui menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri dan melalui menelan kita. Hari demi hari, Ia menelan dan mengganti kita dengan unsur apa adanya Dia. Proses ini terjadi di kedalaman batin kita. Oh, betapa perlunya kita mengalami Kristus yang demikian intim dan pribadi! Kristus kita tidak seharusnya menjadi Kristus dalam ajaran, melainkan harus menjadi Kristus yang berumah di hati kita, dan yang menjenuhi diri kita dengan unsur-Nya.

SALING MEMAKAN

Sebuah kidung yang terkenal menyuruh kita percaya dan taat. Tetapi ekonomi Allah lebih daripada sekadar percaya dan taat, ia menuntut agar kita “dimakan” oleh Kristus. Kristus ingin kita memakan Dia, dan Ia pun ingin memakan kita. Maka, dalam ekonomi Allah terdapat masalah saling memakan. Beban saya dalam berita ini justru ingin menunjukkan betapa Kristus ingin “memakan” kita. Bila kita telah seluruhnya dihabiskan oleh Kristus, barulah Ia dapat mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri sebagai gereja yang mulia.

Tahukah Anda mengapa gereja hari ini tidak begitu mulia? Dikarenakan tidak banyak orang yang membiarkan dirinya dimakan oleh Kristus. Bila gereja ingin menjadi mulia, perlulah kita membiarkan Kristus yang berhuni di batin itu memakan habis setiap bagian batin insan kita. Menurut ayat 25, Kristus menyerahkan diri-Nya bagi gereja. Sekarang Ia sedang bekerja di batin kita untuk menjenuhi kita dan tertampil keluar dari dalam kita. Namun, Ia tidak ingin tertampil keluar dari kita lalu meninggalkan kita. Sebaliknya, Ia ingin tertampil keluar dari kita melalui menjenuhi kita dan memakan habis kita. Kita harus berdoa, “Tuhan Yesus, makanlah aku!” Setelah Kristus menghabiskan kita secara batiniah, barulah Ia dapat bermegah kepada Iblis, “Iblis, tengoklah gereja-Ku yang mulia!”

Sasaran ekonomi Allah ialah memperoleh gereja yang mulia. Allah telah menentukan kita masuk ke dalam kemuliaan (1Kor. 2:7). Ini bukan satu kemuliaan yang obyektif, melainkan yang subyektif dan yang dapat kita alami. Kemuliaan yang demikian sebenarnya adalah Kristus sendiri yang kita makan, dan yang oleh-Nya kita dimakan habis. Maka keperluan kita yang mendesak hari ini ialah memakan Tuhan dan membiarkan Dia menghabiskan kita. Hanya dengan jalan ini barulah gereja dapat menjadi gereja yang mulia yang didambakan oleh Kristus.