← Daftar isi Efesus (2) · bab 7/24

PENGUDUSAN, PEMBERSIHAN, PERAWATAN, DAN PEMELIHARAAN

Ekonomi Allah bukanlah suatu agama, melainkan satu persona yang ajaib, tak terbatas, tak terukur, tak terduga, dan almuhit, yaitu Kristus Yesus sendiri. Kristus adalah perwujudan Allah dan isi gereja. Kristus ini seharusnya menjadi hayat dan persona kita.

BUKAN AGAMA MELAINKAN SATU

PERSONA YANG AJAIB

Namun, dalam kekristenan hari ini ekonomi Allah telah menjadi satu agama belaka. Di bawah pengaruh agama, orang-orang Kristen percaya bahwa Allah mengasihi dunia dan mengaruniakan Anak tunggal-Nya untuk mati bagi dosa manusia di atas salib. Setelah bangkit, Kristus, naik ke surga. Hingga kembali-Nya, kita terus membaca Alkitab dan menuruti ajaran-ajarannya. Akan tetapi ajaran bukanlah persona hidup Kristus. Ekonomi Allah bukanlah masalah agama yang berisikan ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin, melainkan persona hidup yang ajaib. Sekarang persona ini harus menjadi persona kita. Keperluan kita hari ini bukanlah memperhatikan doktrin, melainkan memperhatikan dan berkontak dengan Kristus yang hidup di batin kita ini.

DIPULIHKAN KEPADA KRISTUS

YANG SUBYEKTIF

Banyak orang Kristen menaruh lebih banyak perhatian terhadap Alkitab daripada Kristus. Ini menunjukkan bahkan Alkitab pun dapat dipakai untuk menyelewengkan orang dari Kristus. Tentu saja kita mempercayai, menghargai, dan menghormati Alkitab setinggi-tingginya. Tetapi kita pun harus mengakui bahwa Alkitab adalah wahyu dari persona hidup Kristus. Bila kita tidak menaruh perhatian kepada Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab, kita akan mengabaikan fungsi utama Alkitab, yaitu mewahyukan Kristus kepada kita. Betapa kita perlu dipulihkan sepenuhnya kepada Kristus sendiri!

Kita tidak saja perlu dipulihkan kepada Kristus yang obyektif di surga, tetapi juga kepada Kristus yang subyektif di dalam roh kita. Persona subyektif ini selalu berusaha memperluas diri-Nya ke dalam hati kita. Kristus bukan hanya Juruselamat kita secara obyektif, tetapi juga hayat dan pribadi kita secara subyektif. Kita harus menaruh perhatian sepenuhnya pada Kristus yang subyektif ini. Dalam Galatia 2:20 Paulus dapat berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Di sini Paulus tidak membicarakan hayat Kristus, pekerjaan Kristus, atau kuat kuasa Kristus, melainkan Kristus yang hidup di dalamnya. Haleluya, persona Kristus kini hidup di dalam kita!

Dalam berita yang lalu telah kita tunjukkan, ketika Kristus berada dalam daging, Ia menyerahkan diri-Nya bagi kita. Kemudian dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi hayat. Roh pemberi hayat ini adalah persona yang kita terima sebagai persona kita dari hari ke hari. Sebagai Roh pemberi hayat, Kristus sedang membasuh kita, menguduskan kita, membersihkan kita, merawat kita, dan memelihara kita. Hal ini akan kita bahas dalam berita ini.

MENJADI KUDUS DALAM SIFAT

Boleh jadi Anda telah mendengar banyak berita atau membaca banyak buku tentang pengudusan. Untuk mengetahui makna sebenarnya dari pengudusan ini, kita perlu berkontak dengan Roh pemberi hayat yang berhuni dalam roh kita. Salah satu aspek dari pengudusan itu mencakup pemisahan. Dikuduskan berarti dipisahkan pada posisinya, yaitu mengalami perubahan posisi. Namun ini bukan aspek pengudusan yang satu-satunya. Dalam pengudusan ada sesuatu yang dahulunya alamiah berangsur-angsur menjadi kudus pada sifatnya. Maka ketika kita dikuduskan secara subyektif, kita menjadi kudus dalam sifat.

Aspek pengudusan ini dapat diumpamakan dalam proses pembuatan minuman teh. Ketika kita menaruh daun teh ke dalam secangkir air, maka air itu mengalami proses “pentehan” menjadi air teh. Kita dapat membandingkan diri kita seperti secangkir air dan Kristus seperti daun teh. Bagaimana air mengalami proses “pentehan” melalui unsur teh, begitu pula kita dikuduskan oleh unsur Kristus. Jadi, dikuduskan berarti Kristus sendiri ditambahkan ke dalam diri kita. Semakin banyak Kristus ditambahkan ke dalam kita, kita akan semakin memiliki rupa, rasa, dan aroma Kristus. Maka yang kita perlukan dari hari ke hari ialah menerima lebih banyak Kristus sebagai teh surgawi ke dalam kita, agar lebih banyak unsur-Nya ditambahkan ke dalam diri kita. Dengan cara inilah kita akan mengalami proses “peng-Kristusan”.

Misalkan Kristus hanya sebagai Kristus yang obyektif di sebelah kanan Allah di surga, dapatkah kita dikuduskan dalam sifat kita dengan hanya berusaha menuruti ajaran-ajaran Alkitab secara luaran saja? Tentu mustahil. Unsur Kristus sedikit pun tidak mungkin ditambahkan ke dalam diri kita. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia menunjukkan kepada kita bahwa pengudusan yang subyektif adalah masalah bertambahnya Kristus ke dalam kita. Cara satu-satunya agar hal ini bisa terjadi adalah melalui menerima Dia sebagai hayat dan persona kita.

TUJUAN KRISTUS DALAM BERBICARA

Kita telah menunjukkan bahwa ketika kita menerima Kristus sebagai persona kita, kita mengalami Dia sebagai Roh pemberi hayat yang berbicara di dalam kita. Tujuan Tuhan dalam berbicara di batin kita bukan hanya menyuruh kita berbuat atau tidak berbuat sesuatu, tetapi juga menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Semakin Tuhan berbicara di batin kita, semakin Ia menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Bila kita memberi tahu Tuhan bahwa kita menginginkan Dia menjadi persona kita, maka mulailah Ia berbicara di dalam kita.

Bahkan jika kita tidak mendengarkan pembicaraan-Nya, Ia tetap menyalurkan diri-Nya kepada kita melalui pembicaraan-Nya. Acapkali mungkin kita tidak menaati perkataan Tuhan dalam batin, tetapi Ia sedikit banyak tetap memperluas diri-Nya di dalam kita. Yang dipentingkan Tuhan terutama bukan berapa banyak kita menaati Dia, melainkan berapa banyak kesempatan yang Dia miliki untuk menyalurkan diri-Nya kepada kita, dan memperluas diri-Nya di dalam kita. Begitu Anda berkata, “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau menjadi persona-ku”, maka Tuhan mulai menyalurkan diri-Nya ke dalam Anda. Akan tetapi, jika Anda berubah pikiran dan mengatakan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menarik kembali janji Anda, Ia akan berkata, “Sekalipun kamu menarik kembali janjimu, Aku telah menyalurkan diri-Ku ke dalammu.” Bila kita memberi tahu Tuhan bahwa kita tidak dapat menaati-Nya, Ia akan menjawab, “Aku tidak peduli apakah kamu merasa dirimu dapat menaati-Ku atau tidak. Aku hanya memperhatikan adakah kesempatan bagi-Ku untuk masuk ke dalammu.” Sekalipun kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita tidak mau memenuhi janji yang kita buat dan tidak mampu menaati Dia, Ia tetap menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Semakin kita berbicara kepada-Nya, kita akan semakin “di-Kristuskan”.

Jadi pengudusan berasal dari kontak kita dengan persona Kristus yang hidup. Saya dapat menjamin, siapa yang pernah berkata kepada Tuhan bahwa mereka mau menerima-Nya sebagai personanya, pasti tidak dapat menghindari pembicaraan Tuhan. Ketika Tuhan berbicara, Ia juga menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Penyaluran ini adalah pengudusan.

DIBERSIHKAN OLEH KRISTUS

YANG SUBYEKTIF

Sekarang kita tiba pada perkara pembersihan. Dalam pengudusan ada satu unsur baru ditambahkan ke dalam kita, sedang dalam pembersihan ada unsur tertentu yang disingkirkan dari diri kita. Kita semua perlu dibersihkan dari sifat atau watak kita yang alamiah. Tidak peduli berapa baiknya bawaan Anda, watak alamiah Anda adalah satu masalah. Lagi pula, kebiasaan, adat-istiadat, dan peraturan buatan kita sendiri juga merupakan suatu masalah. Kesemuanya ini perlu dihapus bersih.

Berlawanan dengan ajaran-ajaran agama, kita tidak dibersihkan melalui koreksi diri. Ini berarti kita tidak dibersihkan melalui menanggulangi diri sendiri secara lahiriah. Sebagai contoh, kita tidak mungkin menghilangkan kerut-kerut, tanda-tanda ketuaan melalui membasuh kulit dari luar. Dalam periode pertama kita menempuh hidup gereja, kita mungkin mengalami bulan madu gereja. Akan tetapi, tidak dapat dihindari, keusangan dan kerut itu muncul. Untuk menghilangkan kekerutan, perlulah kita memulihkan keremajaan hidup kita. Sebagai Roh pemberi hayat, Kristus hari ini justru sedang melakukan pekerjaan pemulihan yang sedemikian di antara kita. Kristus tidak akan kembali untuk menikahi seorang mempelai perempuan yang berkerut. Jika kita ingin menjadi mempelai perempuan-Nya, kita harus terpelihara sehingga dapat menyesuaikan Dia. Kekerutan tidak dapat dihilangkan oleh ajaran atau usaha menaati doktrin-doktrin dalam Alkitab. Kekerutan hanya dapat dilenyapkan bila kita menerima Kristus sebagai persona kita, dan membiarkan-Nya hidup dalam kita. Maka bukan Kristus yang obyektif di surga itu yang membersihkan kita, sebaliknya, Kristus yang subyektif, yang intim dan yang praktis itulah yang membersihkan kita. Setiap kali kita berkontak dengan Dia, kita akan disegarkan, diperbarui, dan dibuat lebih muda dalam hayat.

Efesus 5:25 dan 26 mengatakan bahwa Kristus me-nyerahkan diri-Nya bagi gereja, agar Ia dapat menguduskannya, membersihkannya melalui air pembasuhan dalam firman. Dalam berita yang lalu kita menunjukkan bahwa air dalam firman adalah Kristus sebagai Roh yang berbicara. Semakin Kristus berbicara di batin kita, Ia semakin mengalir di batin kita. Air yang mengalir ini bukan dalam logos, firman konstan, melainkan dalam rhema, firman yang saat ini, yaitu firman seketika. Ketika air ini membasuh kita, keusangan kita akan disingkirkan. Pembasuhan ini adalah pembasuhan yang metabolis, yang menyuplaikan unsur baru untuk menggantikan yang usang dan yang mendatangkan transformasi. Karena itu, pembersihan bukanlah perkara pengajaran, melainkan perkara menerima Kristus sebagai persona kita yang hidup. Ketika kita menerima Dia sebagai persona kita, Ia akan menambahkan diri-Nya ke dalam kita dan membasuh kita secara metabolis.

DIRAWAT MELALUI MENERIMA KRISTUS SEBAGAI PERSONA KITA

Dalam ayat 29 terdapat dua istilah penting: merawat dan memelihara. Merawat berarti memberi makan. Dulu banyak di antara kita yang mengikuti apa yang disebut kebaktian Kristen atau membaca Alkitab, tanpa menerima perawatan apa pun. Namun bila kita menerima Kristus sebagai persona kita, kita akan mengalami perawatan-Nya. Kita akan senantiasa merasakan adanya perawatan-Nya yang batiniah. Beroleh perawatan Kristus berarti menerima suplai kekayaan-Nya. Saya percaya kita semua pernah mengalami perawatan yang berasal dari menerima Kristus sebagai persona kita.

Perawatan mendatangkan transformasi. Kita semua menjadi apa yang kita makan. Itu berarti jika kita makan Kristus, akhirnya kita akan tersusun dengan Kristus. Kita akan ditransformasi oleh unsur Kristus yang telah disalurkan ke dalam kita. Semakin kita menerima Kristus sebagai persona kita, Ia makin merawat kita. Melalui perawatan Kristus, kita ditransformasi. Ini berarti kita menjadi satu manusia baru dengan unsur dan substansi baru. Haleluya, Kristus merawat kita dengan diri-Nya sendiri, dengan kekayaan segala apa ada-Nya! Apa yang kita perlukan hari ini bukanlah doktrin atau agama, melainkan kenikmatan atas Kristus yang almuhit.

BEBAN KITA

Beban kita dalam berita ini bukan memberikan ajaran yang lebih banyak kepada kaum saleh, melainkan menyuplaikan Kristus yang hidup. Keperluan umat Tuhan dewasa ini ialah menerima Kristus sebagai persona mereka untuk perawatan. Berhubung kita menyadari keperluan ini, maka kita tidak tertarik kepada ajaran-ajaran yang obyektif. Kedambaan kita ialah membantu orang lain untuk datang menyentuh Kristus yang hidup, membuka diri kepada-Nya, dan menerima Dia sebagai hayat dan persona mereka. Saya harap banyak orang akan berkata, “Tuhan, aku telah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi aku belum lagi menerima-Mu sebagai personaku. Tuhan, demi belas kasih-Mu, mulai sekarang aku mau menerima-Mu sebagai personaku.” Bila suami atau istri Anda merusuhi Anda dan Anda tergoda untuk perang mulut, itulah waktunya menerima Kristus sebagai persona Anda. Tidak saja tidak berbantah-bantah dengan orang lain atau membela diri sendiri, kita malah harus membiarkan Kristus berumah di dalam hati kita.

“DIRUNTUHKAN” OLEH KRISTUS

Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita telah “diruntuhkan” oleh Kristus. Pada satu pihak, Kristus menyelamatkan kita, tetapi di pihak lain, Ia “meruntuhkan” kita dan membuat kita tidak berguna bagi apa pun, kecuali bagi Dia sendiri dan hidup gereja. Semakin kita menerima Kristus sebagai persona kita, semakinlah Ia “meruntuhkan” kita. Ministri ini sesungguhnya adalah ministri yang “meruntuhkan”. Melaluinya, ribuan orang telah “diruntuhkan” bagi Kristus dan gereja. Sekarang tidak ada apa pun yang dapat memuaskan kita selain Kristus yang hidup dan hidup gereja yang tepat.

DIHANGATKAN DAN DILEMBUTKAN

Seiring dengan perawatan kita memiliki pula pemeliharaan. Dipelihara berarti dilembutkan melalui dihangatkan. Ketika kita keras dan dingin, kita perlu Kristus memelihara kita. Hati kita perlu Ia hangatkan. Setelah beberapa kali mengalami penghangatan-Nya, kita akan menjadi lembut. Banyak yang dapat bersaksi bahwa melalui berkontak dengan gereja dalam pemulihan Tuhan, mereka telah dihangatkan dan dilembutkan. Sebelum datang ke dalam hidup gereja, mereka agak dingin dan keras. Tetapi Kristus, persona yang merawat dan memelihara, telah membuat mereka hangat dan lembut. Banyak di antara kita dapat memberi kesaksian tentang pemeliharaan Kristus yang lembut dan intim sedemikian.

Seperti halnya seorang ibu memelihara anak dengan merangkul anak itu dalam dadanya, demikian pula Tuhan memelihara kita dengan merangkul kita, agar kita melekat dengan-Nya. Walaupun saya sudah berusia lanjut, saya tetap memerlukan pemeliharaan Kristus. Adakalanya saya berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu betapa kecilnya aku.” Ia menjawab saya, “Ya, Aku tahu. Itulah sebabnya Aku tidak hanya menguduskan, membersihkan, dan merawat kamu, Aku juga memelihara kamu.” Alangkah lembut, manis, dan hangatnya Tuhan Yesus! Melalui beristirahat di dalam-Nya, kita yang dahulu begitu keras dan dingin, berubah menjadi hangat dan lembut. Perubahan yang demikian terjadi melalui perhatian Tuhan terhadap kita dari dalam batin. Dari batin Tuhan menghangatkan dan melembutkan kita tatkala kita menikmati kelembutan, kemanisan, dan kemenarikan-Nya. Terpujilah Dia, persona yang memelihara! Semoga kita semua menerima Kristus sebagai persona kita dan lebih banyak mengalami pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeliharaan-Nya. Dengan cara inilah kita menikmati Dia, dan mengalami-Nya secara hidup dan lincah.