← Daftar isi Efesus (2) · bab 6/24

KRISTUS DALAM TIGA TAHAP

Efesus 5:25-27 menyajikan kepada kita Kristus da-lam tiga tahap. Ayat 25 mengatakan bahwa Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya bagi gereja. Di sini kita melihat tahap jasmaniah Kristus. Ayat 26 membicarakan Kristus menguduskan gereja, membasuhnya dengan air dalam firman. Dalam ayat ini kita memiliki Kristus dalam tahap sebagai Roh pemberi hayat. Terakhir, tahap Kristus yang ketiga diwahyukan dalam ayat 27, yang membicarakan Kristus mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri pada waktu kedatangan-Nya kelak. Maka dalam tahap ini Kristus akan menjadi Mempelai Laki-laki yang menyambut mempelai perempuan-Nya. Tahap pertama dari ketiga tahap ini telah lampau, sedang tahap yang kedua ialah pada masa sekarang ini, dan tahap yang ketiga ialah pada waktu yang akan datang. Dalam tahap pertama Kristus adalah Penebus, dalam tahap kedua Ia adalah Roh pemberi hayat, dan dalam tahap ketiga Ia akan menjadi Mempelai Laki-laki.

Dalam berita ini kita perlu merenungkan beberapa butir yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut. Tetapi, saya ingin menunjukkan bahwa yang kita perhatikan bukanlah yang doktrinal. Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak perlu menaruh perhatian terlalu banyak atas masalah doktrin. Masalah yang penting ialah kita harus melihat betapa kita memiliki Kristus yang ajaib, dan mengalami-Nya serta menikmati-Nya semakin banyak.

MANUSIA-ALLAH

Walau Kristus itu Allah, tetapi Ia bukan hanya Allah saja. Kalau Ia hanya Allah saja, Ia tidak dapat menjadi Kristus. Untuk menjadi Kristus, Ia harus berinkarnasi. Melalui inkarnasi, Kristus menjadi seorang manusia yang memiliki daging, darah, dan tulang. Alangkah ajaibnya! Allah telah mengenakan sifat insani! Allah kita bukan Allah saja, dalam Kristus Ia telah menjadi seorang manusia Allah.

Dalam daging itulah Tuhan memberikan diri-Nya kepada kita. Jika Ia tidak menyerahkan diri-Nya sebagai manusia dalam daging, tiadalah jalan bagi kita untuk memperoleh Dia. Kita bukan roh, kita adalah daging. Malaikat itu roh. Allah tidak menghendaki kita menjadi roh seperti malaikat. Allah tidak memperhatikan malaikat, melainkan manusia yang berdaging. Tidak ada suatu pun yang lebih menyenangkan Allah selain manusia yang berdaging. Adakalanya kita menyesal karena kita berdaging. Akan tetapi, kalau kita melihat diri kita dari pandangan Allah, kita akan memahami bahwa pada daging terdapat aspek yang positif. Menurut Ibrani 2, Kristus tidak mengenakan sifat malaikat, melainkan mengenakan darah dan daging. Lagi pula, Yohanes 1 mengatakan bahwa Firman yang adalah Allah dan bersama-sama dengan Allah itu telah menjadi daging (ayat 14 Tl.). Besarlah rahasia ibadah ini, Allah telah dinyatakan dalam daging (1Taw. 3:16). Allah tidak dapat dinyatakan dalam malaikat, Ia hanya dapat dinyatakan dalam daging. Bagian malaikat ialah melihat penyataan Allah di dalam daging.

Firman telah menjadi daging dan Allah dinyatakan dalam daging. Ya, kita memang harus menghukum daging yang berdosa, tetapi daging pun memiliki aspek positif. Kita bukan roh seperti malaikat, kita adalah daging! Kristus kita tidak menjadi roh malaikat, melainkan menjadi daging. Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi kita adalah Allah yang berinkarnasi.

Kalau Allah tidak mengenakan sifat insani, mustahillah kita menerima Dia ke dalam kita. Kristus yang kita terima sebagai persona kita ialah manusia Allah. Kita tidak mungkin langsung menerima Allah. Tetapi setelah Allah menjadi manusia Allah, barulah kita dapat menerima Dia ke dalam diri kita menjadi hayat dan persona kita.

SATU KEHIDUPAN INSANI YANG TEPAT

Ada orang Kristen yang menyangka bahwa mereka harus bertingkah laku seperti malaikat. Mereka berusaha hidup seperti makhluk surga. Dalam pandangan Allah, kehidupan semacam itu tidak normal. Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya meniru malaikat. Sebaliknya, Ia menghendaki mereka menjadi manusia yang sejati. Semua anggota gereja seyogianya mempunyai sifat insani yang sejati. Karena itu, Kitab Efesus, kitab yang membahas berbagai hubungan antar manusia: hubungan istri dengan suami, hubungan anak dengan orang tua, hubungan hamba dengan tuan. Untuk memiliki hidup gereja yang tepat, kita perlu memiliki kehidupan manusia yang tepat pula.

Kristus yang kita terima dan yang kita peroleh bukanlah seorang malaikat atau sejenis makhluk surga, melainkan seorang manusia Allah. Ia adalah seorang manusia yang memiliki daging, sehingga Ia dapat menyerahkan diri-Nya bagi kita. Tidak hanya demikian, sebagai seorang manusia barulah Ia dapat masuk ke dalam situasi kita dan memenuhi kebutuhan kita. Ia telah mengenakan sifat insani agar menjadi serupa dengan kita. Sekarang Ia hidup di dalam kita sebagai hayat kita dan persona kita, untuk menyatakan diri-Nya dari dalam kita. Ketika seorang saudari menerima Kristus sebagai personanya untuk mematuhi suaminya, maka kepatuhannya itu menjadi begitu mulia, penuh dengan realitas Kristus yang diperhidupkan dari dalamnya. Demikian pula, ketika seorang saudara menerima Kristus sebagai personanya untuk mengasihi istrinya, Kristus akan terekspresi dalam kasihnya itu. Manifestasi Kristus yang demikian adalah mungkin, karena sebagai manusia Allah, Ia telah menyerahkan diri-Nya bagi kita.

ROH YANG BERBICARA

Menurut ayat 26 Kristus menyerahkan diri-Nya bagi gereja untuk “Menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dalam firman” (Tl.). Setelah Tuhan Yesus menyerahkan diri-Nya bagi kita dalam daging. Ia lalu dibangkitkan, dan dalam kebangkitan menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Sebagai Roh pemberi hayat, Ia adalah Roh yang berbicara. Apa yang Ia katakan adalah firman yang membasuh kita. Istilah “firman” dalam ayat 26 bukan logos, firman yang konstan, melainkan rhema, firman seketika, yaitu yang Tuhan katakan kepada kita sekarang ini. Sebagai Roh pemberi hayat, Tuhan tidak berdiam diri, melainkan berbicara secara konstan. Kalau Anda menerima Dia sebagai persona Anda, Anda akan mengetahui betapa Ia damba berbicara di batin Anda. Berhala-berhala itu bisu, tetapi Kristus yang menghuni di batin senantiasa berbicara. Tidak seorang pun yang menerima Kristus sebagai hayat dan personanya dapat berdiam diri. Sebaliknya, dia akan digerakkan oleh Kristus untuk berbicara. Ketika saya melayani anak-anak Allah, saya mengalami Kristus berbicara di batin saya.

Dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Istilah “perkataan” di sini juga rhema, yakni perkataan seketika dan sekarang. Ini berbeda dengan logos, firman konstan yang tercantum dalam Yohanes 1:1. Sebagai Roh yang berbicara, Tuhan membicarakan rhema kepada kita. Apa yang Ia bicarakan adalah roh.

Bila dari hari ke hari Tuhan dalam batin kita tidak berbicara, itu suatu petunjuk bahwa dalam batin kita ada masalah. Jika tidak ada pembicaraan, tidak ada rhema, maka dalam pengalaman kita yang riil Roh itu tidak ada, karena pembicaraan Tuhan itu sebenarnya adalah Roh. Selama kita memiliki firman Tuhan yang seketika, kita memiliki Roh itu, yakni Roh pemberi hayat. Kita tidak dapat memisahkan Kristus sebagai Roh pemberi hayat dari pembicaraan-Nya. Kehadiran-Nya tercakup dalam pembicaraan-Nya. Bagaimana kita dapat mengetahui Kristus sebagai persona kita menyertai kita? Kita mengetahuinya melalui pembicaraan-Nya. Bila kita tidak memiliki pembicaraan-Nya dalam batin kita, kita pun tidak memiliki kehadiran-Nya. Akan tetapi, bila kita berpaling kepada-Nya dan dengan sungguh-sungguh menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita, maka pembicaraan-Nya akan terdengar lagi. Pembicaraan-Nya adalah firman yang hidup, firman yang hidup ialah Roh itu, dan Roh itu adalah Kristus kita yang ajaib. Betapa riil, subyektif, intim, dan sejatinya Dia sebagai Roh yang berbicara!

PENGUBAHAN DAN PEMBASUHAN YANG METABOLIS DAN TRANSFORMASI

Roh ini adalah air yang membasuh kita. Semakin Roh itu berbicara, semakinlah kita dibasuh bersih. Setiap kali Ia berbicara dalam batin kita, kita akan mengalami pembasuhan.

Pembasuhan ini adalah pembasuhan yang metabolis yang menyingkirkan hal-hal yang usang dan menggantikannya dengan hal-hal yang baru. Betapa berbedanya hal ini dengan beberapa cara pembasuhan yang lahiriah! Transformasi kita terjadi melalui pembasuhan batiniah yang metabolis. Melalui pembasuhan metabolis yang berasal dari pembicaraan Kristus sebagai Roh pemberi hayat, barulah kita benar-benar berubah, mengalami transformasi.

Berhubung transformasi batiniah yang demikian terjadi di dalam kita, maka kita tidak memerlukan koreksi lahiriah dalam hidup gereja. Jalan Allah dalam ekonomi-Nya bukan mengubah kita dari luar, melainkan menyuruh Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita, dan kemudian masuk ke dalam kita sebagai Roh pemberi hayat. Pada prakteknya, kehadiran Tuhan dengan pembicaraan-Nya adalah satu perkara. Setiap kali Ia berbicara, kita tahu Ia ada di dalam kita, menyertai kita. Roh pemberi hayat yang berbicara di dalam kita ini adalah air yang membersihkan manusia batiniah kita. Air pembasuhan ini memasukkan satu unsur baru ke dalam kita untuk menggantikan unsur usang dalam sifat dan tabiat kita. Pembasuhan yang metabolis ini menyebabkan suatu perubahan yang sejati dalam hayat. Perubahan ini ialah apa yang kita namakan transformasi. Koreksi yang luaran tidak berharga. Yang diperlukan gereja ialah pembasuhan metabolis yang batiniah yang berasal dari membiarkan Kristus sebagai Roh pemberi hayat menjadi hayat dan persona kita.

Dalam ayat 26 kita tidak memiliki Kristus dalam tahap daging, melainkan dalam tahap Roh pemberi hayat. Seperti telah kita tunjukkan, Roh pemberi hayat adalah Roh yang berbicara. Pembicaraan Kristus ialah Roh itu, ialah penyertaan Roh pemberi hayat. Jika kita menghormati pembicaraan Roh yang berada di batin kita, maka pembicaraan Roh itu akan menjadi air yang membasuh, memurnikan, menguduskan, dan menyuplai kita dengan unsur Kristus. Unsur ini akan menggantikan dan menyingkirkan unsur usang kita, dan membawakan transformasi yang sejati. Dengan cara inilah kita dimurnikan dan dikuduskan, sehingga kita dapat mengalami realitas hidup gereja.

BUKAN KOREKSI LUARAN, MELAINKAN

KRISTUS MENJADI HAYAT

DAN PERSONA KITA

Misalkan ada dua orang saudara saling berselisih di perumahan saudara. Mungkin yang seorang mencari bantuan kepada penatua, dan yang lainnya bersekutu dengan seorang saudari tua. Sang penatua mungkin memberi tahu kepada saudara itu bahwa dalam hidup gereja kita semua harus belajar sabar, sedang saudari tua itu mungkin berkata kepada saudara yang lain bahwa Tuhan sengaja menaruhnya dalam situasi itu, agar ia dapat mempelajari pelajaran tertentu. Nasihat-nasihat itu mungkin hanya merupakan nasihat agamis yang lazim. Jika saudara-saudara itu menurutinya, mereka malah akan mengalami kesulitan yang lebih besar. Pada akhirnya, mereka mungkin akan memilih pindah dari perumahan saudara, bahkan akan meninggalkan hidup gereja.

Dalam hidup gereja kita tidak perlu koreksi luaran. Sebaliknya, hidup gereja adalah satu kehidupan yang di dalamnya kita semua menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita. Para penatua dan saudari tua perlu membantu orang-orang kudus untuk mengenal bahwa mereka perlu menerima Tuhan Yesus sebagai persona mereka. Semakin orang kudus berbuat demikian, mereka akan semakin mengalami pembicaraan Kristus sebagai Roh pemberi hayat. Pembicaraan itu akan menjadi air pembasuhan dan pemurnian bagi mereka. Air ini akan menyebarkan unsur Kristus ke seluruh diri mereka, dan mengikis segala keusangan. Pada akhirnya, saudara-saudara yang kita sebut dalam ilustrasi di atas tidak lagi diganggu oleh masalah satu sama lain, melainkan akan bertumbuh dan terbangun bersama. Inilah hidup gereja yang wajar. Oh, betapa kita semua memerlukan pembasuhan batiniah, pemurnian metabolis, yang mentransformasi kita!

Apa yang saya beritakan kepada kalian dalam berita ini ialah yang pernah saya pelajari melalui pengalaman bertahun-tahun dalam kehidupan orang Kristen dan hidup gereja. Saya mengenal berbagai macam ajaran tentang hayat batiniah, kekudusan, dan kerohanian. Walaupun saya mempraktekkan ajaran-ajaran itu, tetapi kebanyakan tidak begitu efektif. Banyak di antara kita dapat bersaksi, walaupun dengan gairah kita mempraktekkan teori-teori tentang kekudusan dan kerohanian, semua itu tidak berguna dalam pengalaman kita. Karena kegagalan dan kekecewaan itu, maka banyak orang menyangka tidak mungkin mereka memiliki hidup gereja yang tepat pada hari ini. Mereka mengganggap hal tersebut baru bisa terlaksana kelak pada zaman yang akan datang. Oleh belas kasih Tuhan, saya dapat bersaksi bahwa kita bisa memiliki kehidupan gereja yang sejati. Kita memilikinya bukan melalui melakukan ajaran-ajaran secara lahiriah, melainkan melalui mengambil Kristus sebagai hayat dan persona kita. Kemudian kita menikmati dan mengalami Kristus sebagai Roh pemberi hayat, Roh yang berbicara. Kita menikmati pembicaraan yang membersihkan, mengubah, dan yang mempertumbuhkan kita.

Ketika kita bertumbuh dalam hayat, kita akan dengan spontan dibangun dengan orang lain. Dalam pembangunan yang demikian tidak ada tempat bagi perpecahan atau perselisihan tentang opini dan doktrin. Dalam gereja di Los Angeles kami dapat bersaksi bahwa kami tidak memperhatikan opini-opini, saran-saran, atau usul-usul, melainkan hanya memperhatikan perihal menerima Kristus sebagai hayat dan sebagai persona kami yang berbicara. Kami memustikakan pembicaraan-Nya, sebab kehadiran-Nya sebagai Roh pemberi hayat berada dalam pembicaraan-Nya. Melalui pembicaraan-Nyalah Ia membersihkan, memurnikan, dan menguduskan kami. Akhirnya, segala cacat dan kerut akan tertelan oleh hayat.

GEREJA YANG MULIA

Melalui perkataan Tuhan dalam batin sebagai Roh pemberi hayat, kita akan menjadi satu gereja yang mulia, satu gereja yang kudus dan tidak bercela. Hari ini kita menantikan kedatangan Tuhan, dan kita tahu bila Ia datang, Ia akan mempersembahkan kita kepada diri-Nya sebagai satu gereja yang mulia, kudus, dan tidak bercela. Pada saat itu, kita akan mengalami Kristus dalam tahap ketiga, yaitu sebagai mempelai laki-laki yang datang bagi mempelai perempuan-Nya. Keperluan kita sekarang ialah mengambil Kristus sebagai persona kita, dibersihkan, dimurnikan, dan dikuduskan melalui perkataan Roh pemberi hayat, hingga hari itu tiba. Dengan jalan inilah kita akan mengalami pengubahan secara metabolis yang memimpin kita kepada transformasi dalam hayat yang dibutuhkan bagi hidup gereja.