← Daftar isi Efesus (2) · bab 5/24

KRISTUS MENGUDUSKAN GEREJA MELALUI MEMBASUH GEREJA

Dalam berita-berita yang lalu telah kita tunjukkan bahwa gereja memiliki hayat dan sifat yang sama dengan Kristus. Ini terwahyu dalam lambang Adam dan Hawa. Jika gereja tidak memiliki hayat dan sifat Kristus, gereja tidak dapat menjadi jodoh Kristus, dan tidak dapat menjadi pasangan Kristus. Jika kedua belahan dari satu satuan tidak memiliki hayat dan sifat yang sama, tidak mungkin mereka membentuk satu keseluruhan yang lengkap. Kristus dan gereja sebagai satu kesatuan berbagian dalam hayat dan sifat yang sama.

Kita juga telah menunjukkan bahwa Kristus merawat dan memelihara gereja. Ia menyuplai gereja dan memperhatikan gereja agar gereja dapat bertumbuh. Meskipun gereja telah mendapatkan hayat dan sifat Kristus sendiri, tetapi ia masih memerlukan suplai dan perhatian agar dapat bertumbuh. Pertumbuhan tersirat dalam pembentukan Hawa, yang adalah lambang gereja. Allah menciptakan Adam sebagai seorang manusia yang bertumbuh dewasa. Jadi, Adam tidak memerlukan pertumbuhan. Hawa dibangun dari sebatang rusuk yang diambil dari diri Adam. Pembangunan ini menyiratkan pertumbuhan. Pertama-tama, Hawa menerima hayat dan sifat Adam. Kemudian ia bertumbuh menjadi seorang perempuan dengan dibangun menjadi seorang perempuan. Keterangan tentang perawatan dan pemeliharaan dalam Efesus 5 menunjukkan perlunya pertumbuhan. Perawatan dan pemeliharaan tidak bertalian dengan penyaluran hayat tahap awal, melainkan bertalian dengan suplai dan perhatian hayat yang telah ada, agar hayat itu dapat bertumbuh hingga mencapai ukuran yang sepenuhnya.

Lihatlah ilustrasi sebuah pohon anggur. Pertama ia menerima perawatan dari tanah dan air. Unsur perawatan itu terserap ke dalam pohon anggur untuk menyuplaikan hayat guna memenuhi kebutuhan dalam pohon anggur itu. Sewaktu pohon anggur beroleh perawatan, ia sekaligus beroleh pemeliharaan melalui lingkungannya, terutama melalui udara segar dan sinar matahari. Angin dan matahari mengatur atmosfir untuk mendorong pertumbuhan pohon anggur itu. Kalau cuaca terlalu dingin, matahari menghangatkannya. Kalau suhu terlalu tinggi, angin menyejukkan pohon anggur. Pengaturan luar dari lingkungan inilah yang kita sebut pemeliharaan, yang berbeda dengan suplai hayat yang di dalam, yakni perawatan. Hari ini Kristus merawat gereja dari dalam dan memelihara gereja dari luar. Ia menyuplai kita dengan hayat, Ia pun mengatur atmosfir agar kita dapat bertumbuh dengan wajar.

Dalam berita ini kita akan meninjau aspek ketiga tentang Kristus dan gereja, yaitu aspek pengudusan melalui pembasuhan. Kristus menguduskan gereja melalui membasuhnya (5:25-27). Maksud Kristus dalam menyerahkan diri-Nya kepada gereja ialah untuk menguduskannya; tidak saja memisahkannya bagi diri-Nya dari perkara-perkara yang lazim, tetapi juga meresapinya dengan diri-Nya sendiri agar ia dapat menjadi jodoh-Nya. Hal ini digenapkan melalui membasuhnya dengan pembasuhan air dalam firman (ayat 26 Tl.).

I. KRISTUS MENGASIHI GEREJA DAN

MENYERAHKAN DIRINYA BAGINYA

Ayat 25 hingga 27 sebenarnya merupakan satu kalimat yang panjang. Dalam ketiga ayat ini Paulus mengatakan suami harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya baginya. Ia berbuat demikian agar Ia dapat menguduskannya dan membasuhnya melalui pencucian air dalam firman, agar Ia dapat mempersembahkan kepada diri-Nya sendiri gereja yang mulia tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu. Maksud Kristus dalam mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya bagi gereja, ialah menguduskannya melalui pembasuhan air dalam firman. Pengudusan ialah melalui pembasuhan, pembasuhan melalui pencucian, pencucian melalui air, dan air berada dalam firman.

Kristus menguduskan gereja, agar Ia dapat mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri. Dulu, Kristus menyerahkan diri-Nya bagi gereja, sekarang, Ia menguduskan gereja, dan kelak Ia akan mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri sebagai jodoh-Nya demi kepuasan-Nya. Karena itu, kasih adalah untuk pengudusan, dan pengudusan untuk persembahan.

Butir pertama dalam ketiga ayat ini ialah Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya baginya. Butir kedua ialah pengudusan dalam ayat 26, dan butir ketiga ialah mempersembahkan dalam ayat 27. Butir pertama untuk butir kedua, dan butir kedua untuk butir ketiga.

Kasih Kristus bagi gereja dan penyerahan diri-Nya baginya adalah untuk penebusan dan penyaluran hayat. Menurut Yohanes 19:34, darah dan air keluar dari rusuk Tuhan yang tertikam. Darah untuk penebusan, air untuk penyaluran hayat agar gereja dapat dihasilkan. Dalam Efesus 5:25 kita nampak gereja dihasilkan melalui kasih Kristus dan penyerahan diri-Nya baginya.

Setelah gereja dihasilkan, gereja perlu pengudusan. Proses pengudusan meliputi penjenuhan, pengubahan, pertumbuhan, dan pembangunan. Walaupun pengudusan meliputi pemisahan, tetapi aspek utama pengudusan ialah penjenuhan. Gereja perlu dijenuhi dengan segala apa adanya Kristus. Penjenuhan diikuti oleh pengubahan, pertumbuhan, dan pembangunan. Melalui proses pengudusan, berikut segala aspeknya yang sedemikian, gereja menjadi lengkap dan sempurna, yaitu menjadi realitas dari apa yang dilambangkan oleh Hawa dalam Kejadian 2.

Sesudah Hawa selesai dipersiapkan bagi Adam melalui dibangun dari rusuk Adam, ia dipersembahkan kepada Adam, sumber asal usulnya. Demikian pula, gereja akan dipersembahkan kepada Kristus yang adalah sumbernya. Persembahan ini bukan dilakukan oleh Allah, melainkan oleh Kristus sendiri. Ayat 27 mengatakan bahwa Kristus akan mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri sebagai gereja yang mulia. Maka Ia sekaligus menjadi yang mempersembahkan dan yang menerima.

Tanpa pemisahan, penjenuhan, pengubahan, pertumbuhan, dan pembangunan, tidak mungkin gereja menjadi sempurna dan bertumbuh mencapai ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Hanya melalui suatu proses pengudusan yang almuhit barulah gereja menjadi lengkap dan mencapai ukuran perawakan kepenuhan Kristus, sehingga Kristus dapat mempersembahkan satu gereja yang sempurna bagi diri-Nya sendiri.

Dalam ayat-ayat ini kita nampak ada tiga tahap dalam hal dihasilkannya gereja. Pertama, gereja lahir; kedua gereja dikuduskan dan karenanya menjadi disempurnakan dan dilengkapi; dan terakhir, gereja dipersembahkan kepada Kristus sebagai satu gereja yang mulia, tanpa cacat dan kerut, atau yang semacam itu. Gereja dipersembahkan kepada-Nya sebagai yang kudus, tanpa cacat cela. Kini kita sedang dalam tahap kedua dari dihasilkannya gereja, yakni tahap pengudusan. Ketika tahap ini usai, kita akan dipersembahkan kepada Kristus sebagai gereja yang mulia.

II. KRISTUS MENGUDUSKAN GEREJA

A. Dipisahkan dan Dijenuhi

Dalam berita ini kita perlu memikirkan pengudusan yang almuhit atas gereja. Dalam sidang-sidang gereja kita telah dirawat dari dalam dan dipelihara dari luar. Kita pun telah dikuduskan. Tidak banyak di antara kita yang telah dipisahkan kepada Tuhan hanya melalui waktu-waktu pribadi kita dengan Tuhan. Sebaliknya, kebanyakan dari kita telah dipisahkan dari dunia kepada Allah melalui bantuan yang kita terima dalam sidang-sidang gereja. Kita perlu dirawat dan dipelihara agar dapat dipisahkan dari dunia. Ketika kita dipisahkan, kita pun dijenuhi. Perawatanlah yang mendatangkan penjenuhan. Lagi pula, semakin kita dipelihara oleh suasana dalam sidang, kita akan semakin rela meninggalkan hal-hal dunia. Melalui pemeliharaan kita justru akan kehilangan selera terhadap hal-hal itu; sebab kita menyadari bahwa hal-hal itu menyebabkan kita dingin terhadap Tuhan. Pemeliharaan juga membantu kita untuk dijenuhi Kristus. Penjenuhan ini dengan spontan akan menghasilkan pengubahan. Anda mungkin tidak merasa telah diubah berapa banyak, tetapi orang lain tahu. Mereka dapat melihat perubahan itu dalam hayat dan kehidupan Anda.

Pengubahan (transformasi) bukan berasal dari ajaran atau koreksi atau hukuman, melainkan berasal dari perawatan dan pemeliharaan. Bila Anda setia datang bersidang untuk beroleh perawatan dan pemeliharaan, dengan sendirinya Anda akan dipisahkan dari dunia dan dijenuhi dengan kekayaan Kristus. Setelah itu Anda akan mengalami pertumbuhan, pengubahan, dan pembangunan. Inilah cara mempelai perempuan dipersiapkan bagi Kristus. Terakhir, mempelai perempuan ini akan lengkap, sempurna, dan bertumbuh hingga mencapai ukuran perawakan kepenuhan Kristus. Kemudian Tuhan Yesus akan datang dan mempersembahkan mempelai perempuan yang telah dipersiapkan ini kepada diri-Nya sendiri.

B. Pembasuhan Air dalam Firman

Sekarang kita harus melihat cara Tuhan menguduskan kita. Dalam ayat 26 Paulus mengatakan bahwa Kristus menguduskan gereja melalui membasuhnya dengan air dalam firman (Tl.). Menurut konsepsi ilahi, air di sini ditujukan kepada pengaliran hayat Allah, yang dilambangkan oleh air yang mengalir (Kel. 17:6; 1Kor. 10:4; Yoh. 7:38-39; Why. 21:6; 22:1, 17). Pembasuhan air di sini berbeda dengan pembasuhan darah penebusan Kristus. Darah penebusan membasuh dosa-dosa kita (1Yoh. 1:7; Why. 7:14), sedangkan air hayat membasuh cacat hayat alamiah dari manusia kita yang usang, itulah cacat cela hayat alamiah dari manusia lama kita, seperti “cacat atau kerut atau yang serupa itu” (ayat 27). Dalam menyisihkan dan menguduskan gereja, Tuhan terlebih dulu membasuh dosa-dosa kita dengan darah-Nya (Ibr. 13:12), dan kemudian membasuh cacat alamiah kita dengan hayat-Nya. Kita sekarang berada dalam proses pembasuhan ini, supaya gereja boleh menjadi kudus dan tanpa cacat (ayat 27).

Hawa dalam Kejadian 2 tidak memerlukan pembasuhan, sebab pada pasal itu ia belum jatuh. Sebaliknya, ia masih murni tanpa campuran. Tetapi, karena kita telah jatuh, telah tercemar dan menjadi kotor, maka hari ini kita perlu dibasuh. Banyak perkara dalam kita yang harus dihapuskan; antara lain seperti daging, diri, manusia lama, hayat alamiah. Lagi pula, kita mempunyai banyak cacat dan kerut yang perlu dibasuh bersih.

Jika kita memiliki perawatan dan pemeliharaan tanpa pembasuhan, masalah kita akan tetap ada pada kita. Perawatan dan pemeliharaan Tuhan selalu mendatangkan pembasuhan-Nya. Dalam proses metabolis rohani yang dibawakan oleh pembasuhan ini, “kuman-kuman” dalam diri kita dibunuh, dan hal-hal negatif pun terenyah. Melalui perawatan dan pemeliharaan serta pembasuhan, kita akan menjadi sehat dan perkasa. Dalam sidang gereja, pembasuhan ini terjadi dalam kita tanpa kita sadari. Semakin kita dirawat dan dipelihara dalam sidang-sidang gereja, kita akan semakin dibasuh bersih secara metabolis.

Perawatan yang kita terima memungkinkan terjadinya pembasuhan. Bila perawatan itu berhenti, pembasuhan pun berhenti. Tetapi jika kita senantiasa menerima suplai rohani, unsur yang kita serap ke dalam diri kita akan membersihkan batin kita dan menyingkirkan hal-hal yang usang, mati, dan kotor. Proses metabolis ini terjadi hari demi hari dalam hidup gereja.

Pembasuhan berarti pengudusan. Pengudusan oleh pembasuhan air hayat ialah di dalam firman. Ini menunjukkan bahwa dalam firman ada air hayat, yang dilambangkan oleh bejana pembasuhan di antara mezbah dan Kemah Pertemuan (Kel. 38:8; 40:7). Dalam bahasa Yunani, kata “pembasuhan” dalam ayat 26 berarti bejana pembasuhan. Istilah Yunani ini dipakai dalam Septuagin untuk menerjemahkan kata Ibrani yang berarti bejana pembasuhan. Dalam Perjanjian Lama, para imam membasuh diri mereka dari kekotoran bumiah melalui bejana pembasuhan itu (Kel. 30:18-21). Kini air pembasuhan ini mencuci kita dari kenajisan. Maka kita dibersihkan oleh bejana pembasuhan dari air dalam firman.

Sesungguhnya, firman Allah merupakan sebuah bejana pembasuhan. Menurut Perjanjian Lama, para imam yang melayani Allah dalam Kemah Pertemuan harus membereskan dosa mereka melalui darah di atas mezbah, dan harus membereskan kekotoran mereka melalui pembasuhan dalam bejana pembasuhan itu. Saya percaya bahwa konsepsi Paulus di sini ialah agar gereja dibasuh bersih oleh air bejana pembasuhan dalam firman. Haleluya, kita memiliki bejana pembasuhan yang sejati! Para imam hanya memiliki suatu lambang, yaitu sebuah bejana pembasuhan yang materi yang terbuat dari tembaga. Tetapi kita memiliki bejana pembasuhan yang sejati, bejana pembasuhan dalam firman Allah.

Sebagaimana para imam Perjanjian Lama pertama-tama datang ke mezbah lalu ke bejana pembasuhan, begitu juga kita pertama-tama datang ke salib untuk beroleh selamat, ditebus, dan dibenarkan, lalu datang kepada firman untuk dibasuh bersih. Hari demi hari, dari pagi hingga petang, kita perlu datang kepada Alkitab dan dibasuh bersih oleh bejana pembasuhan air dalam firman. Melalui datang kepada firman ini, kita akan dibasuh bersih dari kenajisan yang telah menumpuk dalam pergaulan kita dengan dunia ini. Bila Anda berkontak dengan dunia dalam kehidupan insani Anda, Anda perlu datang kepada firman untuk dibasuh.

Dalam bejana pembasuhan firman terdapat air. Air itu bukan untuk meleraikan dahaga kita, melainkan untuk membasuh kita. Di sini Paulus tidak memperhatikan tentang dahaga, melainkan tentang menyingkirkan hal-hal yang negatif. Hal-hal itu dibasuh oleh air dalam firman.

Pada suatu hari Saudara Watchman Nee membicarakan soal pembacaan Alkitab. Ada seorang saudari mengatakan bahwa ingatannya buruk sekali, firman yang baru ia baca cepat terlupakan. Ia bertanya kepada Saudara Watchman Nee, apa gunanya ia terus membaca Alkitab. Dalam jawabannya, Saudara Watchman Nee memberi contoh tentang cara perempuan di desa mencuci beras dengan bakul bambu. Mereka merendam bakul itu ke dalam air beberapa kali. Tiap kali mereka mengangkatnya dari air, seluruh airnya mengalir keluar dari dalam bakul. Walaupun bakul itu tidak menampung air, tetapi baik bakul maupun beras telah dibersihkan. Ia lalu menerapkan perumpamaan ini dalam hal membaca firman. Walaupun kita tidak menampung apa-apa dari pembacaan kita, tetapi kita telah terbasuh bersih olehnya. Hendaklah kita terdorong untuk sekali demi sekali datang kepada firman sehingga beroleh pembasuhan. Marilah kita merendam bakul kita ke dalam air firman dan mengangkatnya ke atas. Air itu mungkin mengalir keluar dari bakul, tetapi kita akan dibasuh menjadi bersih.

C. Menanggulangi Cacat dan Kerut

Pembasuhan dalam ayat 26 terutama bukan untuk menanggulangi dosa, melainkan cacat dan kerut. Cacat merupakan sesuatu yang berasal dari hayat alamiah dan kerut berhubungan dengan ketuaan. Hanya air hayat yang dapat membasuh kekurangan-kekurangan ini secara metabolis dengan pengubahan hayat. Setiap cacat dan kerut dalam gereja akan terbasuh bersih melalui pembasuhan batiniah dari air dalam firman. Semakin kita datang kepada firman, kita makin beroleh perawatan. Perawatan yang kita terima membawakan suatu pembasuhan batiniah dari segala kekurangan yang diakibatkan oleh hayat alamiah dan segala kekerutan akibat ketuaan. Kita semua memerlukan suatu pembasuhan organik dan metabolis untuk menyingkirkan segala kekurangan dan tanda-tanda ketuaan kita. Tatkala gereja terbasuh secara organik dan metabolis sedemikian rupa, maka gereja akan diperbarui hingga tidak bercela.

Pembasuhan demikian sepenuhnya terjadi oleh hayat dan oleh perawatan hayat. Maka hendaklah kita terdorong untuk tinggal dalam Kristus, sebagai sumber perawatan dan berkontak dengan firman untuk menerima unsur perawatan, agar kita dapat terbasuh bersih secara organik dan metabolis dari semua kekurangan dan ketuaan. Melalui pembasuhan yang sedemikianlah gereja akan disempurnakan dan menjadi mulia.

III. KRISTUS MEMPERSEMBAHKAN GEREJA

KEPADA DIRI-NYA SENDIRI

A. Gereja yang Mulia

Gereja yang sedemikian mulia inilah yang akan dipersembahkan Kristus kepada-Nya sendiri pada saat kedatangan-Nya kembali. Mulia adalah Allah diekspresikan. Karena itu, menjadi mulia berarti menjadi ekspresi Allah. Akhirnya, gereja yang dipersembahkan kepada Kristus akan menjadi gereja yang mengekspresikan Allah. Gereja yang demikian akan menjadi kudus dan tidak bercela. Menjadi kudus berarti dijenuhi dan diubah oleh Kristus, dan tidak bercela berarti menjadi tidak bernoda dan tanpa kerut, yakni tanpa sesuatu yang berasal dari hayat alamiah dalam manusia lama kita.

Gereja yang berasal dari Kristus ini akan kembali kepada Kristus, sama seperti Hawa yang berasal dari Adam kembali kepada Adam. Sebagaimana Hawa menjadi satu daging dengan Adam, begitu juga gereja yang kembali kepada Kristus akan menjadi satu roh dengan Kristus.

Gereja yang dipersembahkan kepada Kristus akan menjadi gereja yang mulia, dan akan menjadi ekspresi, manifestasi Allah sendiri. Bagi gereja, menjadi mulia berarti menjadi ekspresi Allah. Karena perawatan, pemeliharaan, dan pengudusan akan menyebabkan gereja dijenuhi dengan esens Allah, maka akhirnya gereja akan menjadi mempelai perempuan untuk mengekspresikan Allah. Setiap gereja lokal hari ini harus menjadi ekpresi Allah. Satu-satunya jalan bagi kita untuk menjadi ekspresi-Nya ialah dijenuhi dengan esens ilahi terus-menerus. Bila kita ingin mengalami penjenuhan ini, kita perlu mengalami perawatan, pemeliharaan, dan pengudusan Kristus.

B. Kudus dan Tidak Bercela

Kita telah menunjukkan bahwa gereja yang mulia, gereja yang mengekspresikan Allah, akan menjadi kudus dan tidak bercela. Menjadi kudus berarti dipisahkan bagi Tuhan dari perkara-perkara yang lazim, dan kemudian dijenuhi dan diluapi dengan sifat ilahi, yakni dengan apa adanya Allah. Gereja yang telah menjadi kudus sedemikian rupa juga akan menjadi tidak bercela. Cela di sini ibarat suatu noda dalam sebutir permata. Noda atau cela ini berasal dari campuran dalam permata itu. Jika kita ingin menjadi murni, kita harus bebas dari setiap campuran, yakni tanpa mengandung sesuatu yang di luar Tuhan dalam diri kita. Pada suatu hari, gereja akan menjadi demikian, yaitu tidak saja bersih dan murni, juga tidak bercela, tanpa campuran. Gereja akan menjadi ekspresi Allah sendiri yang berbaur dengan satu sifat insani yang dibangkitkan, ditinggikan, dan diubah. Inilah gereja yang mulia, gereja yang kudus dan tidak bercela. Kelak, gereja mulia yang sedemikian inilah yang akan dipersembahkan oleh Kristus kepada diri-Nya sendiri. Namun demikian, pada hari ini, gereja sedang mengalami proses perawatan, pemeliharaan, dan pengudusan Kristus.