← Daftar isi Efesus (2) · bab 3/24

HIDUP DALAM HUBUNGAN ANTARA SUAMI DENGAN ISTRI

Dalam berita ini kita akan melihat Efesus 5:22-33, di mana kita nampak hidup yang tepat dalam hubungan antara suami dengan istri.

I. SATU ASPEK DARI KEHIDUPAN YANG

DIPENUHI DI DALAM ROH HINGGA MENJADI SEGALA KEPENUHAN ALLAH

Dalam Efesus 4:1-24 Paulus memberi kita prinsip bagi suatu kehidupan yang sepadan dengan panggilan Allah. Prinsip ini adalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Dari Efesus 4:25 hingga 6:9 Paulus menampilkan rincian suatu kehidupan yang tepat. Bila kita ingin memenuhi semua permintaan yang rinci ini, kita harus hidup menurut realitas dan oleh anugerah. Lagi pula, kita harus hidup dalam kasih dan terang, serta dipenuhi di dalam roh kita. Seperti telah kita tunjukkan, dipenuhi di dalam roh merupakan satu butir dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah.

Hubungan antara suami dengan istri berkaitan dengan masalah dipenuhi di dalam roh. Ini adalah satu aspek kehidupan sehari-hari dari mereka yang dipenuhi di dalam roh sehingga menjadi segala kepenuhan Allah. Karena itu, tatkala kita membicarakan hubungan antara suami dengan istri, kita tidak dapat mengabaikan masalah dipenuhi dalam batin. Hanya melalui dipenuhi dalam roh kita, barulah kita mempunyai kehidupan pernikahan yang tepat.

II. ISTRI

Ayat 22 mengatakan, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.” Inilah semacam ketaatan yang tersirat dalam ayat 21. Dalam nasihatnya mengenai hidup pernikahan, rasul menanggulangi istri dulu, karena istri seperti Hawa dalam Kejadian 3, lebih mudah menyimpang dari jalan yang benar daripada suami.

Seprinsip dengan itu, Paulus menanggulangi anak-anak sebelum menanggulangi orang tua, dan hamba dulu kemudian baru tuan. Tentang hubungan antara anak-anak dengan orang tua, masalahnya kebanyakan disebabkan oleh anak-anak, bukan oleh orang tua. Anak-anak tidak patuh kepada orang tua mereka, tetapi pada hakekatnya orang tualah yang patuh kepada anak-anak mereka. Hubungan antara suami dengan istri pun serupa. Para suami, dalam hidup pernikahan kalian, kalian yang lebih banyak patuh kepada istri atau mereka yang lebih banyak patuh kepada kalian? Kebanyakan suami dapat menjawab bahwa merekalah yang lebih banyak patuh kepada istri mereka. Mungkin Anda mengira tidaklah benar kalau suami patuh kepada istri atau orang tua patuh kepada anak-anak mereka. Walau kelihatannya bertentangan dengan doktrin, tetapi dalam prakteknya memang demikian. Kalau suami tidak tahu bagaimana patuh atau tunduk kepada istri mereka, mereka akan kehilangan kehidupan pernikahan yang damai atau rukun. Setiap suami yang tidak bisa tunduk kepada istrinya, tidak tahu bagaimana bersimpati kepada istrinya dan mengasihi istrinya. Untuk mengasihi istri, sang suami harus bersimpati kepada istrinya, bahkan patuh kepadanya. Hanya kepatuhan yang dapat menghasilkan kepatuhan. Hanya kepatuhan yang dapat membayar harga untuk menghasilkan kepatuhan dalam diri orang lain. Bila seorang suami tidak pernah patuh kepada istrinya, maka sangat sulitlah bagi istrinya untuk tunduk kepadanya.

Satu Petrus 3:7 mengatakan bahwa istri adalah bejana yang lebih lemah. Itulah alasan Paulus terlebih dulu membicarakan istri dalam Efesus 5. Dalam nasihatnya mengenai istri dan suami, anak-anak dan orang tua, para hamba dan tuan, Paulus terlebih dulu memperhatikan pihak yang lebih lemah, kemudian baru pihak yang lebih kuat. Mereka yang berada pada pihak yang kuat tidak boleh menaruh permintaan ke atas pihak yang lebih lemah. Kalau seorang suami menyadari bahwa istrinya adalah bejana yang lebih lemah, ia tidak akan ada permintaan terhadapnya.

Apa yang telah kita katakan sampai sejauh ini tidaklah menyangkal fakta yang nyata dalam 5:22, yaitu bahwa istri harus tunduk kepada suami mereka. Berhubung kita semua sangat hafal nasihat ini, kita tidak perlu mengatakan apa-apa untuk memperkuat atau menekankannya.

A. Tunduk kepada Suaminya Sendiri

Dalam ayat 22 Paulus menasihati para istri untuk tunduk kepada suami mereka sendiri. Kebanyakan istri menghargai dan menghormati suami orang lain. Karena itu, rasul menasihati para istri untuk tunduk kepada suami mereka sendiri, tak peduli bagaimana suaminya, mereka harus tunduk.

Perkataan Paulus tentang istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri menunjukkan adanya kecenderungan bagi istri untuk membanding-bandingkan suami mereka dengan suami orang lain. Para suami pun mungkin berbuat hal yang sama terhadap istri mereka. Jika kita kekurangan anugerah dan tidak hidup dalam terang Allah, kita mungkin akan membuat perbandingan yang sedemikian. Ini adalah kelicikan Iblis untuk merusak kehidupan pernikahan. Selama Anda bertunangan, Anda mungkin mengira orang yang hendak menikah dengan Anda adalah orang yang paling baik. Namun sesudah Anda menikahinya, Anda mungkin mulai membandingkannya dengan orang lain. Karena itu, Paulus menasihati para istri untuk tunduk kepada suami sendiri dan jangan membuat perbandingan.

Dalam prinsip yang sama, ketika Paulus berbicara kepada para suami, dia menasihati mereka untuk mengasihi istri mereka sendiri (ayat 28, 33). Ini menunjukkan bahwa mereka tidak seharusnya membandingkan istri mereka dengan istri orang lain. Kita harus membenci perbandingan yang seperti itu. Itu berasal dari musuh, Iblis, dan yang dapat mengakibatkan perpisahan, bahkan perceraian. Jika kita ingin menempuh hidup yang sepadan dengan panggilan Allah, hidup yang menurut realitas, dengan anugerah, di dalam kasih dan terang, kita tidak boleh membandingkan istri atau suami kita dengan istri atau suami orang lain. Sebaliknya, para istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri, dan para suami harus mengasihi istri mereka sendiri.

B. Seperti kepada Tuhan

Menurut perkataan Paulus dalam ayat 22, para istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri “seperti ke-pada Tuhan”. Para istri harus menyadari bahwa dalam pandangan Tuhan suami mewakili Tuhan. Alasan istri harus tunduk kepada suami mereka ialah sebab dalam kehidupan pernikahan, sang suami seperti Tuhan. Saya sangsi bahwa banyak saudari yang telah menikah mau menganggap suami mereka seperti Tuhan. Situasi kehidupan pernikahan hari ini sangat menyedihkan, penuh dengan ketidakpatuhan dan pemberontakan. Namun demikian, sebagaimana Kristus adalah Kepala gereja dan Juruselamat Tubuh, maka istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri seperti kepada Tuhan. Sara, istri Abraham, adalah satu contoh yang baik untuk hal ini. Menurut 1Petrus 3:6 “Sara taat kepada Abraham dan menyebut dia tuannya.”

C. Menerima Suami sebagai Kepala

Para istri juga harus menerima suami mereka sebagai kepala. Ayat 23 menerangkan, “Karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Selaku kepala istri, seorang suami melambangkan Kristus sebagai Kepala gereja. Kristus bukan hanya Kepala gereja, tetapi juga Juruselamat Tubuh. Kepala adalah perkara kekuasaan, sedangkan Juruselamat adalah perkara kasih. Kita harus tunduk kepada-Nya sebagai Kepala kita, dan mengasihi-Nya sebagai Juruselamat kita. Dalam hubungan antara suami dengan istri pun harus demikian.

D. Dalam Segala Sesuatu

Dalam ayat 24 Paulus selanjutnya mengatakan, “Karena itu, sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu.” Maksud ayat ini adalah: Walaupun para suami bukanlah Juruselamat istri-istri mereka sebagaimana Kristus adalah Juruselamat gereja, para istri tetap perlu tunduk kepada suami mereka sebagaimana gereja tunduk kepada Kristus. Menurut penetapan ilahi, sikap tunduk para istri kepada suami-suami mereka harus mutlak, tanpa pilihan apa pun. Ini bukan berarti mereka harus taat kepada suami mereka dalam segala hal. Taat berbeda dengan tunduk. Pada ketaatan, penekanannya adalah pada sikap memenuhi permintaan; sedangkan pada sikap tunduk, penekanannya adalah pada mengambil sikap atau kedudukan sebagai bawahan. Dalam perkara dosa, perkara-perkara yang berlawanan dengan Allah dan Tuhan, para istri tidak seharusnya menaati suami mereka. Namun, mereka harus tetap tunduk kepada suami mereka. Dalam situasi yang sama, ketiga teman Daniel tidak taat kepada perintah Raja Babel untuk menyembah berhala, tetapi tetap tunduk kepada kekuasaan raja (Dan. 3:13-23).

E. Menghormati Suami

Dalam ayat 33 Paulus mengatakan bahwa istri hendaklah “menghormati suaminya”. Karena seorang istri harus menghormati suaminya sebagai kepala, orang yang melambangkan Kristus sebagai Kepala gereja, dia harus takut kepada suaminya di dalam takut akan Kristus (ayat 21). Selaku kepala istri, suami adalah wakil Tuhan. Karena itu istri harus takut kepada suaminya.

III. SUAMI

A. Mengasihi Istri Mereka

Paulus menasihati para suami agar mengasihi istri mereka. Lawan tunduk adalah memerintah. Namun rasul tidak menasihati para suami untuk memerintah istri-istri mereka, melainkan mengasihi mereka. Dalam kehidupan pernikahan, kewajiban istri adalah tunduk, dan kewajiban suami adalah mengasihi. Sikap tunduk istri ditambah kasih suami menyusun satu hidup pernikahan yang wajar dan melambangkan kehidupan gereja yang normal, yang di dalamnya gereja tunduk kepada Kristus, dan Kristus mengasihi gereja.

B. Sebagaimana Kristus Mengasihi Gereja dan Menyerahkan Diri-Nya baginya

Ayat 25 mengatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Kasih suami bagi istrinya haruslah seperti kasih Kristus bagi gereja, dia harus rela membayar harga, bahkan mati bagi istrinya.

Permintaan terhadap suami jauh lebih berat daripada istri. Tunduk kepada seseorang tidak sesukar menyerahkan diri kepada seseorang. Menyerahkan diri berarti menjadi sahid, yakni mengorbankan hayat Anda. Suami harus mengasihi istrinya dengan harga sebesar diri mereka sendiri. Mereka harus sudi membayar harga yang tinggi, bahkan mati bagi istri mereka.

C. Sama seperti Tubuhnya Sendiri

Ayat 28 mengatakan, “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.” Dalam ayat ini Paulus dua kali mengatakan suami harus mengasihi istri mereka. Seperti telah kita tunjukkan, ini menunjukkan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya tanpa membandingkannya dengan orang lain.

Dalam ayat ini Paulus menasihati suami untuk mengasihi istri mereka sama seperti tubuhnya sendiri. Setiap orang mengasihi tubuhnya sendiri. Seorang suami harus menganggap istrinya sebagai bagian dari tubuhnya dan memperhatikannya seperti tubuhnya sendiri.

1. Merawat

Ayat 29 meneruskan, “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Kita menyatakan kasih kepada tubuh kita melalui memelihara dan merawatnya. Merawat berarti memberi makan. Mengenai perawatan jasmani, istrilah yang merawat suami. Kalau seorang suami memasak bagi istrinya, keadaan itu agaknya kurang normal. Tetapi ditinjau dari segi rohani, seorang suamilah yang harus merawat istrinya. Sama seperti kita makan adalah untuk tubuh kita, demikianlah suami pun harus menerima sesuatu dari Tuhan untuk istri mereka. Dengan berbuat demikian berarti suami menganggap istrinya sebagai bagian dari tubuhnya. Seorang suami harus merawat istrinya, memperhatikan keperluannya, sama seperti ia memperhatikan keperluan tubuhnya. Inilah makna merawat dalam ayat 29.

Menerima sesuatu untuk memuaskan keperluan istri menyatakan satu kasih yang dalam. Saya tahu ada beberapa suami yang pandai memasak. Mereka bahkan mema-sak untuk istri mereka. Akhirnya saya mengerti bahwa mereka memasak hanya untuk kenikmatan mereka sendiri, tetapi mereka mengabaikan keperluan istri mereka yang sebenarnya. Memberi makan atau merawat istri tidak berarti melayani mereka dalam hal makanan, melainkan berarti menerima sesuatu dari Tuhan untuk mem-perhatikan keperluan mereka. Dengan cara inilah Anda merawatnya, sama seperti Anda merawat tubuh Anda sendiri. Itulah kasih yang sejati.

2. Memelihara

Para suami juga harus mengasihi istri mereka seperti tubuh mereka sendiri melalui memelihara istri mereka. Memelihara berarti membina dengan kasih yang lembut dan mengasuh dengan perhatian yang lembut. Inilah cara Kristus memperhatikan gereja sebagai Tubuh-Nya. Memelihara sesuatu berarti memperhatikannya dengan mendalam dan lembut, yaitu melunakkannya melalui kehangatan yang lembut. Sebagai contoh, seekor induk burung melunakkan anak burung dengan kehangatan tubuhnya ketika ia menaunginya di bawah sayapnya. Di bawah rangkulannya, anak burung berangsur-angsur merasa hangat. Panas dari pelukan kasih sang induk burung itu melunakkan dan menghangatkan burung kecil yang kedinginan itu.

Adakalanya para istri seolah burung yang dingin. Mereka mungkin tidak bertengkar dengan suami mereka, bahkan marah pun tidak, tetapi mereka menjadi dingin. Mereka mungkin memakai sikap dingin itu sebagai sen-jata untuk menundukkan suami mereka. Pada saat-saat demikian, seorang suami harus menghangatkan dan melunakkan istrinya dengan lembut, ibarat seekor induk burung menghangatkan anak burung dengan menaungi mereka. Itulah artinya memelihara. Seorang saudara yang memelihara istrinya dengan anugerah dan dalam kasih sedemikian, tentu akan menjadi seorang suami yang baik.

Kehangatan yang disampaikan melalui pemeliharaan yang sedemikian takkan membakar atau melukai orang lain, melainkan akan menyejukkan dengan lembut, bahkan meluluhkan hati mereka. Inilah yang sebenarnya Tuhan lakukan kepada kita dalam gereja. Meskipun kita mengasihi Tuhan, adakalanya dalam pengalaman kita, kita menjadi “burung yang dingin” itu. Kita mungkin tidak memberontak melawan Tuhan, tetapi kita menjadi dingin. Pada saat-saat demikian, Tuhan merangkul kita, Ia membentangkan sayap-Nya di atas kita, untuk menghangatkan kita. Melalui kehangatan rangkulan-Nya, Ia melunakkan “burung dingin” itu dan meluluhkan hati kita. Itulah kasih Tuhan yang lembut bagi Tubuh-Nya.

D. Meninggalkan Ayah dan Ibu dan Bersatu dengan Istri, Menjadi Satu Daging

Ayat 31 mengatakan, “Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Kristus dan gereja menjadi satu roh (1Kor. 6:17), seperti yang dilambangkan oleh suami dan istri yang menjadi satu daging, inilah rahasia yang besar.

Untuk menempuh kehidupan pernikahan yang wajar, seorang laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya menjadi satu daging. Seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah untuk kehidupan pernikahan mereka sendiri, bukan untuk kehidupan keluarga orang tua mereka. Maka orang tua istri atau suami tidak boleh mencampuri pernikahan mereka. Sepasang suami istri hidup bersama orang tua pihak mana pun mutlak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Pengaturan yang demikian akan merusak kehidupan pernikahan. Menurut prinsip Alkitab, seorang laki-laki harus meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Prinsip ini tentunya juga berlaku bagi pihak istri. Saya tahu ada beberapa gadis yang bertunangan dengan syarat setelah menikah, keduanya tinggal bersama orang tua sang istri. Itu keliru. Bila suami dan istri meninggalkan orang tua mereka masing-masing, barulah mereka memiliki kehidupan pernikahan yang wajar. Ini adalah ajaran dalam firman Allah.

E. Mengasihi Istrinya seperti Mengasihi

Diri Sendiri

Terakhir, dalam ayat 28 Paulus mengatakan bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti mengasihi dirinya sendiri. Ia pun berkata, “Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.” Butir yang sama ini ditekankan lagi dalam ayat 33. Ini menunjukkan kedalaman kasih yang harus dimiliki seorang suami terhadap istrinya.