← Daftar isi Efesus (2) · bab 2/24

HIDUP BERDASARKAN DIPENUHI DI DALAM ROH

Dalam berita ini kita akan membahas masalah hidup dengan dipenuhi di dalam roh. Hal ini disinggung oleh Paulus dalam 5:15-21.

I. BUTIR KELIMA DARI HIDUP YANG SEPADAN DENGAN PANGGILAN ALLAH

Hidup dengan dipenuhi di dalam roh adalah butir kelima dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah. Keempat butir pertama dari hidup yang sepadan itu ialah: memelihara kesatuan, bertumbuh ke dalam Kepala, mempelajari Kristus, dan hidup dalam kasih dan terang. Dalam pasal 4 Paulus membicarakan masalah memelihara kesatuan, bertumbuh ke dalam Kepala, dan mempelajari Kristus. Dalam pasal 5, ia membicarakan masalah hidup di dalam kasih dan terang, dan masalah hidup dengan dipenuhi di dalam roh. Karena itu, dalam pasal 5 terdapat tiga istilah yang penting dan menentukan: kasih, terang, dan roh. Kasih dan terang dibahas dalam 14 ayat yang pertama, sedang bagian berikutnya dari pasal ini membahas tentang roh perbauran.

Dipenuhi di dalam roh (ayat 18) berarti dipenuhi dalam roh kelahiran kembali, yaitu dalam roh insani yang dihuni oleh Roh Allah. Roh kita tidak boleh kosong, melainkan harus dipenuhi dengan kekayaan Kristus hingga menjadi segala kepenuhan Allah (3:19). Semua butir dalam 5:18—6:9 berkaitan dengan masalah dipenuhi di dalam roh. Banyak pembaca pasal ini hanya memperhatikan rincian seperti istri harus tunduk kepada suami atau suami harus mengasihi istri, tetapi tidak nampak sumber dari semua pekerti tersebut, yakni dipenuhi di dalam roh. Ketika kita dipenuhi oleh Kristus dalam roh kita, hingga menjadi segala kepenuhan Allah, tentulah istri akan mematuhi suami, suami juga akan mengasihi istri, orang tua akan memperhatikan anak-anak, hamba akan menaati tuannya, dan tuan akan memperlakukan hamba-nya dengan wajar. Kesemuanya itu adalah hasil dari dipenuhinya kita dalam roh.

Mereka yang berlatar belakang aliran Pentakosta atau kharismatik mungkin menganggap roh dalam ayat 18 ini sebagai Roh Kudus. Mereka mungkin menafsirkan kata-kata Paulus ini berarti kita harus dipenuhi Roh Kudus dan berbahasa lidah. Namun menurut bahasa aslinya, Paulus di sini bukan mengatakan kita harus dipenuhi Roh Kudus, melainkan harus dipenuhi di dalam roh kita, yakni di dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali. Roh kita mungkin menjadi kosong dan kempis, ibarat ban yang kempis. Bila roh kita kempis, ia perlu diisi dengan pneuma. Kita perlu pergi ke “stasiun pompa”, agar roh kita diisi dengan pneuma (udara). Dengan demikian kita akan terisi penuh di dalam roh. Menurut pasal 3, kita harus dipenuhi dengan kekayaan Kristus, hingga menjadi segala kepenuhan Allah. Bila roh kita dipenuhi dengan kekayaan Kristus, kehidupan kristiani kita akan bebas dari segala masalah.

Kita pernah menunjukkan bahwa hidup berdasarkan dipenuhi di dalam roh adalah butir kelima dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah. Butir pertama ialah memelihara kesatuan, ini adalah untuk kehidupan Tubuh, hidup gereja. Butir kedua ialah dalam segala hal bertumbuh ke dalam Kristus, Sang Kepala, ini adalah untuk pembangunan. Berikutnya ialah mempelajari Kristus melalui ditempatkan ke dalam cetakan, yakni standar kehidupan menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Sebagai orang Kristen, kita memiliki satu standar tinggi dengan satu prinsip yang tinggi pula untuk mengatur kehidupan sehari-hari kita. Mempelajari Kristus berarti mengambil Dia sebagai standar dan mengambil hayat-Nya sebagai prinsip. Keempat, hidup yang sepadan dengan panggilan Allah ialah hidup dalam kasih dan terang. Kita tidak saja harus hidup menurut realitas dan oleh anugerah, tetapi juga di dalam terang dan kasih. Kita harus menjadi orang yang hidup dalam kemesraan dengan Allah dan berjalan dalam hadirat-Nya. Kehidupan sehari-hari kita harus seluruhnya sesuai dengan hati Allah dan dalam hadirat-Nya. Jika kita memiliki keempat butir ini dalam hidup yang sepadan, kita akan dengan spontan dipenuhi di dalam roh kita.

Kelima butir ini telah diatur dalam urutan yang ajaib. Pertama kita memelihara kesatuan, dan kemudian kita bertumbuh ke dalam Kristus. Setelah itu, kita mempelajari Kristus dan hidup dalam kasih dan terang. Lalu kita dengan spontan dipenuhi di dalam roh kita dengan kekayaan Kristus, hingga menjadi segala kepenuhan Allah. Dari pemenuhan yang di dalam ini akan timbul ketundukan, kasih, ketaatan, perhatian, dan semua kebajikan lain dari hidup kristiani, hidup gereja, hidup keluarga, dan hidup masyarakat yang wajar. Karena itu, butir kelima dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah merupakan hasil dari keempat butir yang pertama itu, yaitu hasil dari memelihara kesatuan, bertumbuh ke dalam Kristus, mempelajari Kristus, dan hidup dalam kasih dan terang. Betapa indahnya kehidupan yang kita miliki ketika kita menampilkan kelima butir hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah! Kalau kita dipenuhi di dalam batin hingga menjadi kepenuhan Allah, maka tidak akan terjadi masalah baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat. Inilah butir yang penting dan menentukan dalam berita ini.

II. JANGAN HIDUP SEPERTI ORANG BEBAL,

TETAPI SEPERTI ORANG ARIF

Ayat 15 mengatakan, “Karena itu, perhatikanlah de-ngan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seper-ti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Kata “karena itu” pada awal ayat ini menandakan bahwa ayat 15 adalah sebuah kesimpulan yang ditarik dari ayat 1 hingga 14. Bila kita hidup dalam kasih dan terang, kita tidak akan hidup seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. Orang bebal adalah orang-orang kafir dalam pasal 4, sedang orang arif adalah anak-anak Allah yang terkasih.

III. MENEBUS WAKTU

Ayat 16 berkaitan dengan kehidupan yang ditampil-kan dalam ayat 15. Dalam ayat 16 Paulus berkata, “Tebuslah waktu, karena hari-hari ini adalah jahat” (Tl.). Menebus waktu berarti merebut setiap kesempatan yang baik. Ini berarti arif dalam hidup kita.

Kita harus menebus waktu, sebab hari-hari ini adalah jahat. Dalam zaman yang jahat ini (Gal. 1:4 Tl.) setiap hari adalah hari yang jahat, penuh dengan perkara-perkara yang merusak, yang membuat waktu kita digunakan dengan tidak efektif, berkurang, dan diambil. Karena itu, kita harus hidup secara bijaksana, supaya kita dapat menebus waktu, merebut setiap kesempatan yang ada. Bila kita tidak merebut setiap kesempatan, waktu kita akan sia-sia. Banyak perkara yang jahat akan masuk menyelewengkan dan menggagalkan kita. Kita mungkin sedang asyik menikmati kehadiran Tuhan dan mendadak diganggu oleh telepon yang negatif. Karena hari-hari ini jahat, maka kita harus waspada untuk memanfaatkan setiap kesempatan.

IV. JANGAN BODOH, MELAINKAN

MENGERTI KEHENDAK TUHAN

Ayat 17 menyambung, “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Mengerti kehendak Tuhan adalah jalan terbaik untuk menebus waktu kita. Kebanyakan waktu kita terbuang karena kita tidak mengetahui kehendak Tuhan.

V. JANGAN MABUK OLEH ANGGUR, MELAINKAN DIPENUHI DI DALAM ROH

Dalam ayat 18 Paulus berkata, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu dipenuhi di dalam roh” (Tl.). Mabuk oleh anggur adalah dipenuhi di dalam tubuh, sedangkan dipenuhi di dalam roh (roh kita yang telah dilahirkan kembali, bukan Roh Allah) adalah dipenuhi dengan Kristus (1:23), sampai mencapai kepenuhan Allah (3:19). Mabuk oleh anggur dalam tubuh jasmani membuat kita tidak bermoral, tetapi dipenuhi di dalam roh dengan Kristus, dengan kepenuhan Allah, membuat kita meluap-luap dengan Kristus dalam berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan mengucap syukur kepada Allah (5:19-20) dan juga membuat kita mau tunduk seorang kepada yang lain. Dari hari ke hari kita harus dipenuhi dalam roh kita dengan kekayaan Kristus.

A. Berkata-kata, Berkidung, dan Bermazmur

Ayat 19 hingga 21 menerangkan dipenuhi dalam roh dalam ayat 18. Mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani bukan hanya untuk bernyanyi dan bermazmur, tetapi juga untuk berkata seorang kepada yang lain. Perkataan, nyanyian, mazmur, ucapan syukur yang demikian kepada Allah (5:19-20) dan menundukkan diri kita seorang kepada yang lain (5:21) bukan hanya merupakan luapan dipenuhi di dalam roh, tetapi juga jalan untuk dipenuhi dalam roh. Mazmur adalah puisi panjang, kidung puji-pujian adalah puisi yang lebih pendek, dan nyanyian rohani adalah puisi yang lebih pendek lagi. Semua diperlukan supaya kita dipenuhi oleh Tuhan dan meluap-luap dengan Dia dalam hidup kristiani kita.

Berdasarkan Perjanjian Baru, mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani tidak saja baik untuk dinyanyikan, tetapi juga baik untuk dikatakan. Adakalanya kita tergerak atau dibangkitkan oleh nyanyian, namun dalam kesempatan lain, berkata-kata yang dipenuhi dengan pneuma mungkin lebih membangkitkan daripada bernyanyi. Kalau kita sedang kempis, kekurangan pneuma, perkataan kita tidak akan menghasilkan inspirasi. Tetapi, bila kita penuh dengan pneuma, perkataan kita akan memiliki dampak dan dapat membangkitkan orang lain. Ini bukan kefasihan lidah, melainkan ucapan yang mengandung dampak.

Pada tahun 1967 saya mengunjungi gereja di Jakarta, Indonesia. Dalam sekali sidang, saya menyarankan kaum saleh agar tidak hanya menyanyikan kidung saja, tetapi juga mengatakan kidung, sesuai dengan Efesus 5:19; lalu kita segera mempraktekkannya dalam sidang. Berkata-kata yang demikian memang ajaib sekali, penuh dengan Roh Kudus.

Adakalanya kita perlu melatih hal ini dalam sidang-sidang kita, tanpa membuatnya menjadi satu hukum atau peraturan. Sebelum kita menyanyikan sebuah kidung, kita bolah mengatakannya bersahut-sahutan. Saudara-saudara boleh mengatakan baris pertama dan saudari-saudari menyambut dengan baris kedua dan seterusnya. Akan tetapi, dalam melakukan hal ini kita tidak seharusnya terjerumus ke dalam suatu bentuk yang tidak tertulis. Saya harus mengakui bahwa beberapa sidang kita me-mang kurang hidup sebagaimana mestinya. Maka kita perlu mengalami Roh yang berhuni di batin dengan cara yang hidup dalam bernyanyi dan berkata-kata.

Ayat 19 juga membicarakan mazmur. Bernyanyi mungkin pendek, tetapi mazmur selalu panjang. Adakalanya hanya melalui bernyanyi saja tidak dapat mengekspresikan pujian kita kepada Tuhan dalam batin, maka kita perlu bermazmur untuk menuangkan puji-pujian kita kepada Tuhan sepuas-puasnya.

B. Bersyukur

Ayat 20 meneruskan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Kita seharusnya mengucapkan syukur kepada Allah Bapa bukan hanya pada saat-saat yang baik, tetapi juga senantiasa, dan bukan hanya untuk hal-hal yang baik, tetapi juga untuk segala hal. Bahkan pada saat yang buruk kita seharusnya mengucap syukur kepada Allah Bapa kita untuk hal-hal yang buruk.

Ayat ini menyuruh kita bersyukur dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Realitas dari nama Tuhan adalah persona-Nya. Berada dalam nama Tuhan berarti di dalam persona-Nya, dalam diri-Nya sendiri. Ini menyiratkan bahwa kita seharusnya menjadi satu dengan Tuhan dalam mengucap syukur kepada Allah.

C. Merendahkan Diri Seorang kepada yang Lain di dalam Takut akan Kristus

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan, “Dan rendahkanlah (tundukkanlah) dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Saling tunduk seorang kepada yang lain juga merupakan jalan untuk dipenuhi dalam roh dengan Tuhan, dan adalah luapan karena dipenuhi. Ketundukan kita seharusnya seorang kepada yang lain, yang lebih muda kepada yang lebih tua, juga yang lebih tua kepada yang lebih muda (1Ptr. 5:5).

Menurut konteks ayat-ayat berikutnya, berada dalam takut akan Kristus adalah takut menyalahi Dia sebagai Sang Kepala. Ini berhubungan dengan jabatan-Nya sebagai Kepala (ayat 23) dan melibatkan ketundukan kita seorang kepada yang lain. Kristus adalah Kepala Tubuh. Jika kita memperlakukan anggota Tubuh dengan tidak benar, berarti kita bersalah terhadap Kepala Tubuh. Kita perlu memelihara hubungan dengan anggota Tubuh dalam rasa takut terhadap Kepala.

Kehidupan berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur adalah kehidupan yang tunduk. Bila kita berkata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kita akan rela menundukkan diri kita seorang kepada yang lain. Kita semua tunduk kepada Kristus Sang Kepala, juga kepada Tubuh. Namun kepatuhan kita berasal dari berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur, yang berasal dari dipenuhinya kita dalam batin. Ketika kita dipenuhi dalam roh kita, kita akan bernyanyi, bermazmur, berkata-kata, dan bersyukur. Dengan spontan, kita pun akan tunduk. Tetapi, bila kita tidak dipenuhi, tidak akan ada berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, atau bersyukur kepada Allah, dan tidak ada pula kepatuhan itu. Umat gereja yang wajar adalah mereka yang tunduk atau patuh oleh berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur kepada Allah dari dalam insan batiniah. Mereka hidup demi dipenuhi dalam roh dengan segala kekayaan Kristus, hingga men-jadi kepenuhan Allah.