← Daftar isi Efesus (2) · bab 1/24

HIDUP DALAM KASIH DAN TERANG

Dalam berita ini kita akan melihat Efesus 5:1-14. Bagian Kitab Efesus ini membahas masalah hidup dalam kasih dan terang, yaitu butir keempat dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah.

I. SEBAGAI ANAK-ANAK YANG TERKASIH, MENELADANI ALLAH

Ayat 1 mengatakan, “Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Allah.” Perkataan Paulus di sini merupakan suatu perintah, suatu komando. Ia memerintahkan agar kita meneladani Allah. Fakta yang sungguh mulia bahwa karena kita adalah anak-anak Allah yang terkasih, kita dapat meneladani Allah! Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat-Nya. Kita meneladani Dia bukan dengan hayat alamiah kita, tetapi de-ngan hayat ilahi-Nya. Dengan hayat ilahi Bapa kita ini, kita, anak-anak-Nya, dapat sempurna sama seperti Dia (Mat. 5:48).

Berdasarkan Perjanjian Baru, kaum beriman dalam Kristus adalah anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat Allah. Yohanes 1:13 mengatakan bahwa kita dilahirkan dari Allah. Dilahirkan dari Allah berarti memiliki hayat Allah. Tidak hanya demikian, 2Petrus 1:4 mengatakan bahwa kita mengambil bagian dalam sifat ilahi. Berhubung kita memiliki hayat dan sifat ilahi, maka kita dapat meneladani Allah. Meneladani Allah secara demikian ini jauh berbeda dengan melatih seekor kera untuk meniru manusia. Seekor kera tidak memiliki hayat atau sifat manusia. Akan tetapi kita memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi. Karenanya kita dapat meneladani Allah.

II. HIDUP DALAM KASIH

Dalam ayat 2 Paulus mengeluarkan perintah yang lain: “Hiduplah di dalam kasih.” Sebagaimana anugerah dan realitas adalah unsur-unsur dasar dalam 4:17-32, maka kasih (5:2, 25) dan terang (5:8, 9, 13) adalah unsur-unsur dasar nasihat rasul dalam 5:1-33. Anugerah adalah ekspresi kasih, dan kasih adalah sumber anugerah, realitas adalah wahyu dari terang, dan terang adalah asal mula realitas. Allah adalah kasih dan terang (1Yoh. 4:8, 1:5). Ketika Allah diekspresikan dan dinyatakan dalam Tuhan Yesus, kasih-Nya menjadi anugerah dan terang-Nya menjadi realitas. Di dalam Tuhan Yesus, setelah kita menerima Allah sebagai anugerah dan mengenal Dia sebagai realitas, kita datang kepada-Nya dan menikmati kasih dan terang-Nya. Kasih dan terang lebih dalam daripada anugerah dan realitas. Karena itu, rasul pertama-tama mengambil anugerah dan realitas sebagai unsur-unsur dasar nasihatnya, dan kemudian kasih dan terang. Ini menyiratkan bahwa ia ingin hidup kita sehari-hari bertumbuh lebih dalam, maju dari unsur yang luaran kepada yang di dalam.

Kasih adalah substansi Allah yang di dalam, sedangkan terang adalah unsur Allah yang diekspresikan. Kasih batiniah Allah dapat dirasakan, dan terang lahiriah Allah dapat dilihat. Hidup kita dalam kasih seharusnya disusun dengan substansi Allah yang mengasihi dan unsur Allah yang menyinari. Ini harus menjadi sumber batini dari hidup kita. Kasih dan terang lebih dalam daripada anugerah dan realitas.

Paulus memerintahkan kita untuk hidup dalam kasih seperti halnya Kristus mengasihi kita dan “menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah” (5:2). Dalam 4:32 rasul mengemukakan Allah sebagai model hidup kita sehari-hari. Di sini dia menunjukkan Kristus sebagai teladan hidup kita. Dalam 4:32, Allah dalam Kristus adalah model kita, karena dalam bagian itu anugerah Allah dan realitas yang diekspresikan dalam hidup Yesus diambil sebagai unsur-unsur dasar. Menurut 4:32, kita harus mengampuni orang sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Ini berarti Allah adalah model dari pengampunan. Tetapi dalam pasal 5 Kristus sendiri adalah teladan kita, karena dalam bagian ini kasih yang diekspresikan Kristus kepada kita (ayat 2, 25) dan terang yang dipancarkan Kristus ke atas kita (ayat 14) diambil sebagai unsur-unsur dasar. Di sini Kristus yang mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita adalah teladan untuk kita hidup di dalam kasih.

Paulus mengatakan bahwa Kristus “telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.” Dalam Alkitab terdapat satu perbedaan antara persembahan dengan kurban. Suatu persembahan adalah untuk persekutuan dengan Allah, sedangkan kurban adalah untuk penebusan terlepas dari dosa. Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita sebagai persembahan supaya kita bisa memiliki persekutuan dengan Allah, dan sebagai kurban supaya Dia dapat menebus kita terlepas dari dosa.

Dalam mengasihi kita, Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri bagi kita. Ini ditujukan kepada kita, tetapi merupakan bau-bau yang harum bagi Allah. Dalam meng-ikuti teladan-Nya, tindakan kita dalam kasih seharusnya bukan hanya merupakan sesuatu bagi orang lain, tetapi juga merupakan bau-bauan yang harum bagi Allah.

III. PERKARA-PERKARA YANG TIDAK PANTAS BAGI ORANG KUDUS

Dalam ayat 3 dan 4 Paulus menuliskan beberapa perkara yang tidak patut atau tidak pantas bagi orang kudus, “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Tidak ada yang lebih merusak manusia daripada percabulan, terutama merusak tujuan Allah dan maksud-Nya dalam penciptaan manusia dan terhadap hidup gereja kaum beriman dalam Tubuh Kristus; ini berdasarkan 1Korintus 5. Hawa nafsu keserakahan yang tidak terkekang adalah hawa nafsu yang tamak dan tidak terkendali. Perkara jahat ini disebut saja pun jangan di antara kita, sebagaimana sepatutnya bagi orang kudus, yaitu orang-orang yang dipisahkan bagi Allah dan dijenuhi Allah, serta yang menempuh hidup yang sesuai dengan sifat kudus Allah.

Tidak saja tidak seharusnya mengucapkan perkataan yang kosong atau bergurau dengan perkataan kotor, tetapi sebaliknya kita harus mengucap syukur. Mengucap syukur kepada Allah adalah membicarakan Allah sebagai kebenaran, sedangkan mengucapkan perkataan yang kosong atau bergurau dengan perkataan kotor adalah membicarakan Iblis sebagai kepalsuan.

IV. TIDAK MENDAPAT BAGIAN DALAM

KERAJAAN KRISTUS DAN ALLAH

Ayat 5 mengatakan, “Karena ingatlah ini baik-baik: Tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” Awal ayat ini lebih tepat diterjemahkan “Karena kalian sadar, tahu bahwa tidak ada . . . “ Kata “sadar” di sini dalam bahasa aslinya “oida” yang berarti pengetahuan yang subyektif; sedang kata “tahu” dalam bahasa aslinya ialah “Ginosko”, ini ditujukan kepada pengetahuan obyektif. Apa yang Paulus katakan dalam ayat 5, harus kita ketahui baik secara subyektif maupun obyektif. Kita harus tahu bahwa tidak ada orang sundal, orang cemar, atau orang serakah yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Dalam pandangan Allah, orang yang serakah sebenarnya sama dengan menyembah berhala.

Dalam ayat ini Paulus mengatakan Kerajaan Kristus dan Allah. Kerajaan Kristus adalah Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4, 6; Mat. 16:28), dan juga Kerajaan Allah (Mat. 13:41, 43). Kaum beriman telah dilahirkan kembali ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5), dan dalam mereka berada dalam hidup gereja, hidup dalam Kerajaan Allah hari ini (Rm. 14:17). Yang akan mengambil bagian dalam Kerajaan Seribu Tahun bukanlah semua orang beriman, melainkan mereka yang menang saja. Dalam zaman yang akan datang, mereka yang kalah dan cemar tidak akan memiliki warisan dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Berdasarkan Yohanes 3, semua orang yang telah dilahirkan kembali sudah berada dalam Kerajaan Allah. Roma 14:17 juga menunjukkan bahwa dalam hidup gereja, kita sedang berada dalam Kerajaan Allah hari ini. Namun, Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi kerajaan yang lebih riil daripada yang kita alami dalam gereja dewasa ini. Hanya dalam Kerajaan Seribu Tahun barulah Kerajaan Kristus menjadi Kerajaan Allah. Karena itu istilah Kerajaan Kristus dan Allah tidak ditujukan kepada kerajaan hari ini dalam hidup gereja, melainkan ditujukan kepada manifestasi kerajaan dalam Kerajaan Seribu Tahun kelak. Hari ini semua orang kudus berada dalam Kerajaan Allah, tetapi tidak semuanya dapat mengambil bagian dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Baik mereka yang gagal maupun yang menang mungkin berada dalam gereja sebagai Kerajaan Allah hari ini, tetapi hanya mereka yang menanglah yang akan mengambil bagian dalam kerajaan yang ada selama Kerajaan Seribu Tahun nanti. Orang-orang sundal, orang-orang yang cemar, dan orang-orang yang serakah tidak akan mengambil bagian dalam pemerintahan Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun.

V. MURKA ALLAH ATAS ORANG-ORANG DURHAKA

Ayat 6 melanjutkan, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” Murka Allah akan menimpa anak-anak durhaka terutama disebabkan ketiga perkara jahat yang dikatakan dalam ayat 3 itu. Anak-anak durhaka ialah orang-orang yang tidak percaya. Kita, kaum beriman, adalah anak-anak Allah yang terkasih. Walau demikian, ada beberapa anak-anak Allah yang bertingkah laku seperti anak-anak durhaka. Karena itu, murka Allah akan menimpa mereka. Maka dalam ayat 7 Paulus mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Kita harus meneladani Allah dengan baik, jangan mengambil bagian dalam perkara cemar yang mana pun.

VI. HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG

Dalam ayat 8 Paulus mengatakan, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah te-rang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” Dahulu, kita bukan hanya gelap, tetapi juga kegelapan itu sendiri. Sekarang kita bukan hanya anak-anak terang, tetapi juga terang itu sendiri (Mat. 5:14). Karena terang adalah Allah, maka kegelapan adalah Iblis. Dahulu kita adalah kegelapan karena kita bersatu dengan Iblis. Sekarang kita adalah terang karena kita bersatu dengan Allah dalam Tuhan.

Dalam ayat ini Paulus menasihati kita untuk “hidup sebagai anak-anak terang”. Karena Allah itu terang, ma-ka kita, anak-anak Allah, juga anak-anak terang. Karena kita sekarang sebagai terang dalam Tuhan, maka kita ha-rus hidup sebagai anak-anak terang.

Dalam ayat 2 Paulus menyuruh kita hidup dalam kasih dan dalam ayat 8 ia menyuruh kita hidup sebagai anak-anak terang. Ketujuh ayat pertama dalam pasal ini membahas masalah kasih. Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menghindarkan diri dari kecemaran. Hidup dalam kasih berarti hidup dalam kemesraan dengan Allah. Suatu hubungan yang intim antara seorang anak perempuan dengan ibunya dapat menerangkan arti hidup dalam kasih ini. Ada beberapa remaja putri menikmati kasih yang mesra dengan ibu mereka. Mereka mengasihi apa yang dikasihi ibu mereka. Karena kasih mereka terhadap ibu mereka, maka mereka tidak mau melakukan perkara apa pun yang bertentangan dengan perasaan ibu mereka. Sebaliknya, mereka hidup dalam kasih yang mesra terhadap ibu mereka. Seprinsip dengan itu, kita pun memiliki satu hubungan yang intim dengan Bapa. Sebagai orang yang telah menerima anugerah, kita dapat di dalam Putra berkontak dengan Bapa. Di hadirat Bapa, kita tidak saja menikmati anugerah, ekspresi kasih, juga menikmati kasih itu sendiri. Kita mengalami kasih dengan cara yang paling mesra. Karena itulah kita tidak mau melakukan segala perkara yang tidak menyenangkan Bapa. Bapa membenci persundalan, kecemaran, dan hawa nafsu. Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menjauhi perkara-perkara itu. Karena kita mengasihi Bapa, kita tidak akan melakukan apa saja yang mendukakan hati-Nya. Alangkah lembut dan halusnya hidup yang sedemikian! Ini bukan sekadar hidup oleh anugerah; ini adalah hidup dalam kasih. Kita wajib selalu ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang menikmati kasih-Nya. Kita adalah orang-orang kudus yang telah dipisahkan bagi-Nya, dan diresapi oleh-Nya. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita, kita harus selalu memperhatikan perasaan Ba-pa, karena kita dengan mesra hidup di dalam kasih-Nya yang lembut.

Perbedaan antara kasih dan anugerah dapat diterangkan melalui hubungan seorang ibu dengan anaknya. Adakalanya seorang anak menginginkan sesuatu dari ibunya. Tetapi, pada kesempatan lain sang anak hanya ingin menikmati pelukan kasih ibunya. Menerima sesuatu dari ibu, yang mengekspresikan kasih ibu, adalah anugerah, tetapi mengaso dalam pelukan kasih ibu adalah ilustrasi kasih. Seprinsip dengan itu, kita telah menerima anugerah, yaitu ekspresi kasih Bapa. Tetapi ketika kita menghampiri Bapa dalam persekutuan, kita memasuki kasih-Nya, yaitu sumber anugerah.

Untuk menunjukkan perbedaan antara kebenaran dengan terang agak sulit. Dalam pengalaman kita mungkin kita sering menyadari Allah sebagai kebenaran bagi kita, yaitu realitas kita. Namun adakalanya, ketika kita masuk ke hadirat Allah, kita merasa bahwa kita berada di dalam terang. Pada saat demikian, kita tidak saja mengalami realitas, juga berada di dalam terang itu sendiri. Maka, pengalaman atas terang lebih dalam daripada pengalaman atas realitas.

Kita tidak boleh hanya menuruti realitas dan oleh anugerah, tetapi harus pula di dalam kasih dan di bawah terang. Hidup dalam kasih dan terang ini lebih dalam dan lebih lembut daripada hidup menurut realitas dan anugerah.

Setelah memerintahkan kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, dalam ayat 9 Paulus menyisipkan kata-kata pernyataan tentang buah terang: “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” Ayat ini menurut bahasa aslinya adalah “karena terang hanya berbuahkan kebaikan, kebenaran, dan realitas.” Kebaikan adalah sifat dari buah terang, kebenaran adalah jalan atau prosedur untuk menghasilkan buah terang; dan realitas adalah ekspresi riil (Allah sendiri) dari buah terang. Buah terang pasti baik sifatnya, benar prosedurnya, dan riil ekspresinya, sehingga Allah dapat diekspresikan sebagai realitas hidup kita sehari-hari.

Dalam membicarakan buah terang, Paulus hanya mengutarakan tiga perkara: kebaikan, kebenaran, dan realitas, hal ini sangat bermakna. Ia tidak mengatakan kekudusan, keramahan, atau kerendahan. Alasan hanya menyebut ketiga perkara itu saja ialah karena buah terang dalam kebaikan, kebenaran, dan realitas berhubungan dengan Allah Tritunggal. Kebaikan mengacu kepada sifat buah terang. Tuhan Yesus pernah menunjukkan bahwa hanya satu yang baik, yaitu Allah itu sendiri (Mat. 19:17). Jadi kebaikan di sini mengacu kepada Allah Bapa. Allah Bapa sebagai kebaikan adalah sifat buah terang.

Perhatikan di sini Paulus tidak mengatakan pekerjaan atau perbuatan terang, melainkan buah terang. Buah adalah masalah hayat dengan sifatnya. Hakiki buah terang itulah Allah Bapa.

Kita telah menunjukkan bahwa kebenaran mengacu kepada cara atau prosedur buah terang. Kebenaran adalah prosedur yang olehnya buah terang itu dihasilkan. Dalam ke-Allahan, Putra, Kristus ialah kebenaran kita. Ia datang ke dunia untuk menghasilkan perkara-perkara tertentu yang sesuai dengan prosedur Allah, yaitu yang selalu benar. Kebenaran ialah cara Allah dan prosedur Allah. Kristus datang untuk menggenapkan kehendak Allah sesuai dengan prosedur-Nya yang benar. Karena itu, aspek kedua dari buah terang dutujukan kepada Allah Putra.

Realitas ialah ekspresi buah terang. Buah ini seharusnya riil, yaitu harus sebagai ekspresi Allah, pancaran terang yang tersembunyi. Tidak dapat diragukan bahwa realitas ditujukan kepada Roh realitas, Persona ketiga dari Allah Tritunggal. Karena itu, Bapa sebagai kebaikan, Putra sebagai kebenaran, dan Roh sebagai realitas; kesemuanya ini berkaitan dengan buah terang.

Ayat 9 adalah definisi hidup sebagai anak-anak terang. Bila kita hidup sebagai anak-anak terang, kita akan menghasilkan buah yang dilukiskan dalam ayat 9. Buah yang kita hasilkan dengan hidup sebagai anak-anak terang ini seharusnya berada dalam kebaikan, kebenaran, dan realitas. Bukti kita hidup sebagai anak-anak terang terlihat dalam menghasilkan buah yang demikian.

VII. MENGUJI APA YANG DIPERKENAN TUHAN

Ayat 10 mengatakan, “Dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” Frase ini bertalian dengan ayat 8. Kita tidak boleh hidup dalam kebodohan, kebutaan, atau kebe-balan (ketidaktahuan). Sebaliknya, kita harus hidup seba-gai anak-anak terang, dan menguji apa yang diperkenan Tuhan.

VIII. TIDAK MENGAMBIL BAGIAN DALAM

PERBUATAN KEGELAPAN YANG TIDAK BERBUAHKAN APA-APA

Dalam ayat 11 Paulus mengatakan, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelap-an yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya te-lanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa adalah sia-sia, sedangkan buah terang adalah realitas. Sebagai-mana Paulus memerintahkan kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, ia juga memerintahkan kita untuk tidak mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa.

IX. MENELANJANGI PERBUATAN-PERBUATAN

KEGELAPAN

Dalam ayat 11 Paulus pun memerintahkan kita untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa. Dalam ayat 13 ia berkata, “Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh te-rang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” Kata “menelanjangi” dapat juga diterjemahkan “menyingkapkan”, “menegur”, “mencela”.

Menelanjangi atau menegur orang adalah perkara yang sangat sulit. Kebanyakan orang tidak mau menerima teguran dan memusuhi orang yang menegur mereka. Dalam sifat manusia yang telah jatuh terdapat unsur yang menolak teguran, celaan, atau penyingkapan. Karena itu, jika mungkin, janganlah kita menyingkapkan atau menegur siapa pun. Tetapi, kadang-kadang hal itu diperlukan. Pada saat demikian, orang yang menegur harus yakin betul bahwa dirinya sangat bersih. Ia ibarat seorang ahli bedah yang harus membersihkan dirinya dari segala kuman sebelum ia melakukan pembedahan. Bila Anda belum dibersihkan, Anda tidak memenuhi syarat untuk mengoperasi seseorang melalui menegur atau me-nyingkapkannya, sebab kuman-kuman dalam Anda akan menyebabkan kontaminasi kepada orang lain. Kegagalan kebanyakan teguran disebabkan orang yang menegur itu tidak murni. Akibatnya, begitu “pembedahan” selesai terjadilah infeksi. Sebelum kita dapat menegur atau menyingkapkan seseorang, kita harus dibersihkan, bahkan steril. Kita harus bersih baik dalam pikiran, motivasi, perasaan, atau maksud; kita pun harus murni dalam hati dan roh kita. Inilah satu aspek dari masalah pencelaan.

Aspek lain adalah mengenai orang yang menerima celaan atau teguran. Bila Anda ditegur oleh seseorang, janganlah Anda mencoba untuk memeriksa apakah orang yang menegur Anda itu bersih atau tidak. Terima saja teguran atau penyingkapannya. Jika Anda berbuat demi-kian, Anda akan beroleh berkat. Anda akan bangun dari tidur, dan Kristus akan menyinari Anda. Setiap teguran, entah itu murni atau tidak, bersih atau tidak, adalah penyinaran Kristus. Bila kita ditegur, kita harus berkata, “Tuhan, aku menyembah-Mu atas penyinaran-Mu. Teguran ini adalah penyinaran-Mu, dan aku mau menerimanya.” Menerima teguran berarti hidup dalam terang. Ini berarti bila kita tidak mau menerima teguran, kita hidup dalam kegelapan. Kalau kita benar-benar hidup dalam terang, kita akan dapat menarik faedah dari segala macam teguran.

X. BANGUN DAN BANGKIT

Dalam ayat 14 Paulus berkata, “Itulah sebabnya dikatakan, ‘Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.’” Orang tidur yang perlu teguran dalam ayat 11 dan 13 juga adalah orang yang mati. Dia perlu bangun dari tidurnya dan bangkit dari antara orang mati. Ketika kita mencela atau menyingkapkan siapa pun yang sedang tidur dan mati di dalam kegelapan, Kristus akan bercahaya atas dirinya. Celaan dan penyingkapan kita dalam terang adalah penyinaran Kristus.