← Daftar isi Efesus (2) · bab 22/24

MANUSIA LAMA DAN MANUSIA BARU

Pembacaan Alkitab:

Ef. 4:22-24, 30; 5:18-21, 26-27; 6:17-18

Sebelum kita membahas masalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru — gereja (4:22-24), kita harus nampak bahwa pembatalan peraturan bagi penciptaan manusia baru sebagai bagian dari Injil. Tidak banyak orang Kristen yang memahami bahwa masalah ini seharusnya dinyatakan sebagai bagian dari Injil. Berbicara mengenai Kristus, Efesus 2:17 mengatakan, “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera sebagai Injil” (Tl.). Ini menunjukkan bahwa apa yang dibahas oleh Paulus dalam Efesus 2:12-22 berkaitan dengan Injil.

INJIL YANG LENGKAP

Menurut ayat 12, kita dahulu terpisah dari Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Akan tetapi, di dalam Kristus Yesus kita telah menjadi dekat oleh darah Kristus (ayat 13). Konteks ini membuktikan bahwa kita telah didekatkan satu sama lain. Dulu orang kafir jauh dengan orang Yahudi, orang Yahudi juga jauh dengan orang kafir. Tetapi di atas salib, Kristus telah me-rubuhkan tembok pemisah di antara mereka. Karena itu, kini oleh darah Kristus, orang Yahudi dan orang kafir telah menjadi dekat satu sama lain. Memang benar darah telah membawa kita kepada Allah, tetapi dalam ayat 13 Paulus tidak mengatakan kita dibawa hingga dekat dengan Allah, melainkan kita didekatkan satu sama lain. Ini adalah bagian dari Injil.

Ayat 14 mengatakan bahwa Kristus adalah damai sejahtera kita. Damai sejahtera di sini bukan di antara kita dengan Allah, melainkan di antara kita dengan kaum beriman lainnya, khususnya di antara kaum beriman Yahudi dengan kaum beriman kafir. Kristus, damai sejahtera kita telah menyatukan orang Yahudi dengan orang kafir dengan merubuhkan tembok pemisah yang menceraikan mereka. Dalam daging-Nya, Ia telah membatalkan permusuhan, hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya (ayat 14-15). Dengan cara ini Ia mengadakan damai sejahtera di antara orang kafir dan orang Yahudi.

Dalam ayat 16 Paulus mengatakan lagi, “Dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.” Kristus memperdamaikan orang Yahudi dengan orang kafir dalam satu Tubuh dengan Allah. Ini menunjukkan bahwa perdamaian merupakan satu masalah yang korporat.

Ayat 17 meneruskan, “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera (sebagai Injil) kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat.’” Subyek ayat ini ialah Kristus. Pada hari kita mendengar Injil, Kristus datang sebagai Roh untuk memberitakan kepada kita kabar baik tentang damai sejahtera yang telah Ia rampungkan di atas salib.

Dalam ayat 18 hingga 22 kita nampak bahwa kita sekarang beroleh jalan masuk kepada Bapa, dan kita adalah kawan sewarga dan anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dan di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus di dalam Tuhan, dan juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh. Semua ayat ini menunjukkan bahwa pembatalan ketentuan untuk menghasilkan gereja merupakan bagian dari Injil.

Banyak di antara kita dapat bersaksi, tanpa hidup gereja, hidup kita sebagai manusia akan menjadi tanpa makna. Walaupun kita telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, tanpa gereja, kehidupan sehari-hari kita akan tidak berarti apa-apa. Dapatkah Anda merasa puas hanya dengan makan, tidur, bekerja, menggunakan sedikit waktu untuk berdoa dan membaca Alkitab, atau kemudian kadang-kadang memberi tahu orang tentang Kristus? Dari pengalaman saya sendiri, saya dapat bersaksi, jika saya tidak menempuh hidup gereja, saya akan enggan hidup. Ini menunjukkan bahwa sekalipun kita telah beroleh selamat, tanpa hidup gereja yang riil, kita akan kekurangan sesuatu yang vital. Karena itu, Injil yang menyeluruh, Injil yang lengkap dan penuh ini seharusnya mencakup hidup gereja. Tetapi kebanyakan orang Kristen tidak memiliki Injil yang lengkap, sebab mereka tidak nampak bahwa Injil mencakup pembatalan ketentuan bagi penciptaan manusia baru. Hari ini, dalam pemulihan Tuhan, kita tidak seharusnya memberitakan Injil yang sebagian saja, melainkan satu Injil yang lengkap dan menyeluruh.

Banyak orang Kristen hanya memberitakan Injil aspek pertama, yakni penebusan oleh darah Kristus. Ada juga yang memberitakan aspek kedua, yakni masalah di-selamatkan oleh hayat Kristus (Rm. 5:10). Aspek Injil lainnya ialah kenikmatan kekayaan Kristus. Dalam Efesus 3:8 Paulus mengatakan bahwa anugerah telah diberikan kepadanya “untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu”. Aspek Injil yang terakhir ialah apa yang telah kita lihat dalam Efesus 2 — pembatalan ketentuan bagi penciptaan satu manusia baru, yaitu gereja. Penebusan, hayat, dan kenikmatan kekayaan Kristus semuanya adalah untuk gereja. Karena itu, sasaran Injil yang terakhir adalah gereja, manusia baru. Kita memuji Tuhan karena Ia memperlihatkan kepada kita bahwa menurut Kitab Efesus, Injil mencakup penciptaan manusia baru.

MENANGGALKAN MANUSIA LAMA

Kita telah membahas dua perkara negatif yang merusak kehidupan gereja: ketentuan dan doktrin. Sekarang kita melihat perkara negatif yang ketiga: manusia lama. Ada sebagian orang Kristen menafsirkan manusia lama dalam Efesus 4:22 ini sebagai sifat lama. Memang benar manusia lama mencakup sifat lama, tetapi ia mencakup lebih banyak lagi. Efesus 4:22 menunjukkan bahwa manusia lama itu almuhit: “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Di sini Paulus mengatakan tentang menanggalkan manusia lama, berhubung kehidupan kita yang dulu. Kehidupan kita yang dulu mencakup setiap perkara yang berkaitan dengan kita: apa adanya kita, apa yang kita miliki, kehidupan keluarga kita, dan kehidupan kemasyarakatan kita. Maksud Paulus di sini ialah, kita harus menanggalkan apa saja adanya kita, apa saja yang kita kerjakan, apa saja yang kita miliki. Kita harus menanggalkan cara hidup kita itu.

Manusia lama dengan semua yang tercakup di dalamnya merupakan perusak hidup gereja. Di mana ada manusia lama, di situ tidak mungkin ada gereja. Ini berarti apa adanya kita, apa yang kita miliki, dan apa yang kita lakukan akan membuat hidup gereja menjadi tidak mungkin terlaksana.

Ketentuan, doktrin, dan manusia lama merupakan tiga perkara negatif utama yang merusak hidup gereja. Jika kita mempunyai ketentuan, hidup gereja akan tamat. Jika kita diduduki oleh doktrin, tidak mungkin ada hidup gereja yang tepat. Selain itu, jika kita terus-menerus hidup menurut manusia lama, hidup gereja akan dirusak dengan hebat, bahkan akan berakhir. Namun, jika kita bebas dari ketentuan atau doktrin, dan jika kita menanggalkan manusia lama berikut cara-cara hidupnya yang dulu, kita akan memiliki satu hidup gereja yang indah, satu hidup gereja yang menjadi satu miniatur Yerusalem Baru dalam langit dan bumi yang baru. Dalam hidup gereja yang demikian, perpecahan tidak mungkin terjadi.

Saya ingin mengatakan sekali lagi, dalam pemulihan Tuhan, kita bukan untuk ketentuan atau doktrin, tetapi kita sangat menghormati firman Allah. Demi belas kasihan Tuhan, kita tidak akan melanggar firman-Nya. Namun kita tidak menerima Alkitab sebagai doktrin belaka. Memelihara firman dengan cara yang hidup itu satu perkara, mengalihkan wahyu dalam firman ke dalam doktrin itu perkara lain. Kita harus menerima firman sebagai makanan untuk pertumbuhan hayat, tidak seharusnya menerimanya sebagai sejilid buku doktrin atau ketentuan. Walau saya lebih suka berlutut ketika saya berdoa, tetapi saya tidak membuat hal ini menjadi suatu formalitas, atau suatu ketentuan dan mengharap orang lain menurutinya. Sebaliknya, ketika saya berlutut berdoa, saya berbuat demikian di dalam roh.

KELUWESAN BAGI HIDUP GEREJA

Untuk hidup gereja, kita tidak seharusnya ada ketentuan, tidak seharusnya diduduki oleh doktrin, dan tidak seharusnya ada keusangan apa pun. Jika kita ingin bebas dari keusangan, kita harus mengesampingkan apa adanya kita, apa yang kita lakukan, dan cara hidup kita. Orang-orang yang terlepas dari keusangan sedemikian akan menjadi orang yang sangat luwes. Ketika Paulus dalam perjalanan menuju Damsyik, ia sepenuhnya berada dalam manusia lama. Ia dengan gigih menentang Stefanus dan setuju akan kematiannya. Karena begitu kuat dalam manusia lama, Paulus hidup untuk bait, imam, dan agama Yahudi. Dengan reaksi yang gigih ia melawan orang yang menentang semuanya itu. Akan tetapi, setelah ia datang kepada Tuhan dan ditanggulangi Tuhan, ia menjadi luwes, menjadi seorang yang kelihatannya tanpa opini apa pun. Dalam 1Korintus 9 ia berkata bahwa ia dapat menjadi apa saja bagi semua orang (ayat 22). Ia dapat menjadi luwes sebab ia telah mengesampingkan manusia lamanya.

Selama tahun-tahun pertama ministri saya, saya selalu memberikan banyak perkataan kepada orang yang datang kepada saya untuk mendapatkan nasihat. Misalkan, jika seorang saudara mempersekutukan masalah pernikahan dengan saya, saya dapat memberi banyak hal kepadanya tentang kehidupan pernikahan. Akan tetapi sekarang, bila kaum saleh datang minta nasihat kepada saya, saya tidak lagi banyak perkataan. Yang terutama, saya mendorongnya untuk berkontak dengan Tuhan mela-lui berdoa. Saya ingin seperti Paulus, yakni menjadi seorang yang meletakkan manusia lama dan menjadi luwes dalam memperlakukan orang lain.

Jika kita benar-benar telah menanggalkan manusia lama, orang lain akan sulit melukiskan kita. Namun, jika kita mudah dilukiskan orang, berarti kita mungkin belum menanggalkan manusia lama. Kita tidak boleh sombong, kita pun tak perlu merendahkan diri. Sesungguhnya kita tidak perlu menjadi apa-apa. Kalau begitu baru kita berguna dalam kehidupan gereja.

MENGENAKAN MANUSIA BARU

Untuk hidup gereja, kita tidak saja harus menanggalkan manusia lama, tetapi juga harus mengenakan manusia baru. Manusia baru adalah hidup gereja yang riil, yaitu Kristus sebagai Roh pemberi-hayat berbaur dengan roh kita secara korporat. Mengenakan hidup gereja sebagai manusia baru berarti mengenakan wujud yang dihasilkan oleh perbauran Roh ilahi dengan roh insani. Dalam wujud yang ajaib ini, yakni manusia baru, tidak ada per-aturan dan sesuatu yang berasal dari manusia lama, yang ada hanya Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit yang berbaur dengan roh kita.

JANGAN MENDUKAKAN ROH ITU

Dalam Efesus 4:30 Paulus menasihati kita untuk tidak mendukakan Roh Kudus Allah. Salah satu hal besar yang membuat kita mendukakan Roh itu ialah tidak memperhatikan hidup gereja. Sebagai contoh, jika Anda tidak mengikuti sidang-sidang gereja, Anda akan mendukakan Roh itu. Banyak orang mendukakan Roh itu melalui enggan berfungsi dalam sidang. Kerap kali mereka mempunyai perasaan dalam roh mereka untuk berbicara atau menyeru nama Tuhan, tetapi mereka tidak mau berbuat demikian. Pada saat-saat itulah mereka mendukakan Roh Kudus Allah. Selain itu, kita pun mungkin mendukakan Roh itu dalam kehidupan sehari-hari kita. Kehidupan sehari-hari kita seharusnya menjadi bagian dari manusia baru, bagian dari hidup gereja. Kita tidak boleh berpura-pura menjadi rendah hati atau berkelakuan baik, melainkan harus mengenakan hidup gereja secara riil. Alangkah indahnya jika dari hari ke hari kita semua mengalami Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit yang membaurkan diri-Nya sendiri dengan roh kita secara korporat.

LUAPAN DARI KEPENUHAN YANG DI DALAM

Dalam Efesus 5:18 Paulus mengatakan, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu dipenuhi di dalam roh” (Tl.). Di dalam roh kelahiran kembali kita, kita perlu dipenuhi Allah Tritunggal ke dalam segala kepenuhan Allah. Hal ini akan menyebabkan kita meluapkan perkataan, mazmur, puji-pujian, dan kepatuhan. Itu bukan hasil usaha kita, melainkan berasal dari luapan yang spontan dari kepenuhan yang di dalam. Bila kita dipe-nuhi dalam roh dengan segala apa adanya Allah, kita pasti mengalami luapan yang sedemikian.

PEMBASUHAN AIR DALAM FIRMAN

Dalam Efesus 5:26 Paulus selanjutnya membicarakan masalah pembasuhan, yaitu pencucian oleh air dalam firman. Hari ini Tuhan Yesus sedang membersihkan, membasuh, dan memurnikan gereja-Nya dengan air dalam firman. Air dalam firman ini adalah firman hidup yang mengandung hayat ilahi yang diperkuat oleh Roh itu. Air dalam firman ini sebenarnya adalah Roh pemberi-hayat itu sendiri. Dalam pengalaman kita, firman Allah tidak seharusnya menjadi huruf-huruf, melainkan roh dan hayat. Dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hayat” (Tl.). Firman yang sebagai roh dan hayat ini adalah air yang membersihkan kita.

Pembersihan ini bukan membersihkan kenajisan; sebaliknya, ia membersihkan segala cacat dan kerut. Kerut berasal dari ketuaan (keusangan), cacat berasal dari luka-luka. Gereja perlu dibersihkan dari keusangan maupun dari luka-luka. Untuk pembasuhan demikian yang diperlukan bukan darah Kristus, melainkan air dalam firman. Darah menanggulangi dosa dan kenajisan, sedangkan air dalam firman menanggulangi kerut dan cacat, yang mendatangkan keusangan dan luka-luka.

Jalan untuk menerima pembasuhan air dalam firman tersedia dalam Efesus 6:17 dan 18. Dalam ayat-ayat ini Paulus menyuruh kita menerima “pedang Roh yaitu firman Allah dalam segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh” (Tl.). Ini menunjukkan bahwa kita perlu mendoa-bacakan firman. Kita perlu menerima firman hidup itu ke dalam lubuk batin kita melalui berdoa dalam roh. Ini berarti menggunakan roh kita untuk mendoakan firman ke dalam kita. Jika kita berbuat demikian, maka firman itu tidak hanya menjadi makanan yang merawat kita, tetapi juga menjadi air yang membasuh kita dan membersihkan kita dari segala keusangan dan luka-luka.

Dalam hidup gereja perlu ada kontak yang terusmenerus antara satu dengan yang lain. Akan tetapi, semakin kita saling berkontak, semakin banyaklah kita saling melukai. Jika seorang saudara ingin tinggal bersama saya beberapa hari, pasti ia akan terluka oleh saya, dan saya akan terluka oleh dia. Cara satu-satunya untuk melenyapkan cacat yang disebabkan oleh saling melukai ini ialah mengalami pembasuhan air dalam firman. Jika Anda tidak dibersihkan dari luka-luka Anda melalui air dalam firman, Anda mungkin akan tersinggung dan akan putus asa, bahkan akan meninggalkan hidup gereja. Akan tetapi, jika Anda melatih roh Anda untuk mendoa-bacakan firman, dan karenanya menerima firman itu ke dalam lubuk batin Anda, Anda akan mengalami pembasuhan air dalam firman, hingga Anda dibersihkan dari segala cacat. Tidak hanya demikian, pembasuhan air dalam firman ini akan membuat Anda bertumbuh, dan melalui pertumbuhan ini Anda akan dibangun bersama orang lain.

Seluruh Kitab Efesus mewahyukan dengan konsisten bahwa gereja adalah perbauran Roh ilahi dengan roh insani. Hari ini Roh ilahi adalah Allah Tritunggal dalam firman kudus. Allah Tritunggal adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit, dan Roh ini ada di dalam firman. Maka, kita tidak seharusnya hanya menggunakan pikiran kita untuk mempelajari firman, tetapi juga harus menggunakan roh kita untuk mendoakan firman. Dengan doa-baca, kita bukan hanya menjamah firman, juga Roh. Kemudian, Roh itu akan merawat kita, mendiris kita, dan membasuh kita sehingga kita dapat dibersihkan dari segala cacat dan kerut. Akhirnya, melalui pembasuhan ini, kita akan dikuduskan sepenuhnya secara riil. Inilah yang sedang Tuhan kerjakan dalam gereja hari ini.

KRISTUS YANG HIDUP DENGAN

FIRMAN YANG HIDUP

Dalam pemulihan Tuhan, tidak ada tempat bagi ketentuan-ketentuan, doktrin, atau manusia lama. Bila kita masih tetap berpegang kepada perkara-perkara negatif itu, hidup gereja kita akan tamat. Kita di sini hanya untuk Kristus yang hidup dengan firman yang hidup. Cara kita menghampiri firman bukan hanya menggunakan pikiran kita untuk mempelajarinya dan meraih pengetahuan, tetapi juga menggunakan roh untuk mendoakan firman itu dan menerimanya sebagai Roh pemberi-hayat bagi perawatan dan pembasuhan. Dengan cara inilah kita akan bertumbuh secara korporat dan terbangun bersama. Dengan proses inilah Tuhan Yesus akan memenuhi nubuat yang Ia ucapkan dalam Matius 16:18, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Setelah itu kita akan memiliki realitas dan kenikmatan dari Injil yang penuh, yakni Injil Kristus dan gereja.