← Daftar isi Efesus (2) · bab 19/24

GEREJA ADALAH HAYAT PERBAURAN

Kehendak kekal Allah ialah memperoleh gereja. Kehendak-Nya tidak hanya menciptakan manusia, menyelamatkannya dari kondisi kejatuhan, dan membawanya ke surga. Kehendak Allah juga tidak hanya menyuruh kita menjadi orang yang suci, rohani, dan menang. Penciptaan, keselamatan, pengudusan, kerohanian, dan kemenangan, semua merupakan bagian dari prosedur Allah untuk mencapai sasaran-Nya, namun semua ini bukanlah sasaran itu sendiri.

KEHENDAK ALLAH SEBERMULA

Untuk mengambil bagian dalam pemulihan hidup gereja yang tepat, kita perlu meninjau apakah kehendak Allah pada sebermula. Kita perlu tahu bahwa ada tiga macam permulaan. Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman.” Pada mulanya di sini merupakan permulaan dalam kekekalan. Kejadian 1:1 mengatakan, “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Dalam ayat ini pada mulanya menunjukkan waktu penciptaan. Terakhir, pada mulanya juga mengacu kepada dimulainya hidup gereja. Jadi, kembali ke sebermula berarti kembali kepada permulaan kekekalan, kepada permulaan dalam penciptaan Allah, atau kepada permulaan gereja.

Kitab Efesus mewahyukan bahwa gereja dihasilkan menurut kehendak kekal Allah yang Ia rencanakan dalam Kristus. Efesus 3:11 menerangkan, “Sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Maksud abadi berarti maksud kekal, rencana kekal yang Allah buat dalam kekekalan lampau. Ini merupakan kehendak yang Allah laksanakan dalam kekekalan lampau untuk kekekalan yang akan datang. Allah adalah Allah yang berencana. Sebelum ada penciptaan, sebelum dunia dijadikan, Ia sudah membuat satu rencana. Rencana ini adalah kehendak abadi atau kehendak kekal.

Dalam 1:9 Paulus berkata, “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam diri-Nya...” (Tl.). Ayat ini juga membicarakan kehendak Allah, tetapi di sini Paulus memakai kata kehendak sebagai kata kerja, bukan kata benda. Satu kerelaan yang sesuai dengan kehendak Allah telah direncanakan oleh Allah di dalam diri-Nya sendiri. Kehendak yang telah direncanakan-Nya ini merupakan satu rahasia. Itu tersembunyi dalam Allah, dan tidak diwahyukan kepada kaum saleh zaman Perjanjian Lama. Dalam Efesus 1:11 Paulus juga membicarakan tentang kehendak Allah, “Karena di dalam Dialah kami diberi (telah dijadikan) warisan — kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan mak-sud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.” Kehendak Allah dalam ayat-ayat ini mengacu kepada apa yang direncanakan Allah dari semula, dalam kekekalan yang lampau.

Pada mulanya Allah telah merencanakan untuk mendapatkan gereja. Alkitab mewahyukan dengan tegas bahwa hal ini adalah hasrat Allah. Allah menciptakan langit, bumi, dan laksaan benda lain, sebab Ia ingin mendapatkan gereja. Kedua pasal pertama dari Kitab Kejadian kelihatannya merupakan catatan penciptaan Allah, tetapi sebenarnya pasal-pasal itu mewahyukan maksud hati Allah. Benda-benda mineral untuk tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan untuk binatang-binatang, dan binatang-binatang untuk manusia, dan manusia untuk Allah. Dengan kata lain, segala benda untuk kita, dan kita untuk Allah, agar Ia dapat menggenapkan maksud hati-Nya, yaitu mendapatkan gereja. Jadi, Allah menciptakan segala benda agar Ia dapat mendapatkan gereja.

Tidak hanya demikian, penebusan, kelahiran kembali, dan panggilan Allah semua juga untuk gereja. Allah telah merampungkan penebusan agar Ia bisa mendapatkan gereja. Ia juga mendatangi Anda, memanggil Anda, dan melahirkan Anda kembali demi gereja. Juga demi gereja, hari ini Ia tinggal di batin Anda.

DEFINISI GEREJA

Sekarang kita tiba pada masalah penting, menentukan, dan sulit, yaitu mendefinisikan gereja. Gereja boleh disebut suatu “perbauran dua benda”, sebab ia adalah wujud yang dihasilkan oleh pembauran dua jenis hayat. Kedua hayat yang berbaur untuk menghasilkan gereja adalah hayat ilahi dan hayat insani. Oleh sebab itu, gereja merupakan satu wujud yang tidak saja tersusun dari hayat ilahi atau dari hayat insani, melainkan dari hayat ilahi-insani. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia me-nempuh satu kehidupan ilahi-insani. Gereja juga memiliki suatu hayat ilahi-insani. Kita bersyukur kepada Tuhan, walau hal ini telah tersembunyi bagi kaum saleh ber-abad-abad lamanya, kini, dalam pemulihan-Nya, Ia telah mewahyukannya kepada kita.

Mengetahui gereja adalah “perbauran dua benda” yang dihasilkan oleh pembauran hayat ilahi dengan hayat insani adalah satu perkara yang sangat penting. Allah damba menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia dan menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia. Dalam bukunya yang berjudul “The Spirit of Christ” — Roh Kristus — Andrew Murray mengatakan bahwa hayat ilahi saling teranyam dengan hayat insani. Walau frase “saling teranyam” merupakan frase yang sangat baik, namun masih tidak memadai. Hayat ilahi ini tidak saja saling teranyam dengan hayat insani, keduanya bahkan berbaur menjadi satu wujud. Hal ini diilustrasikan oleh Paulus dalam Galatia 2:20. Di sini ia berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Paulus mengatakan bahwa ia hidup, tetapi bukan ia, melainkan Kristus. Hal ini menunjukkan pembauran Kristus dengan Paulus. Gereja merupakan hasil perbauran yang sedemikian.

ORANG KRISTEN ADALAH UNTUK GEREJA

Seperti halnya anggota-anggota tubuh kita adalah untuk tubuh, bukan untuk anggota itu sendiri, demikian pula kita yang menjadi orang Kristen, adalah untuk gereja. Tanpa tubuh, anggota akan tidak bermakna. Sama prinsipnya, tanpa gereja, kita, orang-orang Kristen juga akan tak bertujuan. Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen, kita harus untuk gereja.

SATU DALAM ALLAH TRITUNGGAL

Dalam Galatia 3:27 dan 28 Paulus berkata, “karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah menge-nakan Kristus, . . . semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Kesatuan ini adalah gereja. Gereja adalah kesatuan dalam Allah Tritunggal dari semua orang yang berbaur dengan Allah.

Kesatuan dalam Allah Tritunggal ini diwahyukan sepenuhnya dalam Yohanes 17. Dalam Yohanes 17:21 Tuhan Yesus berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita.” Dalam kesatuan ini, tidak ada tempat untuk daging, dosa, alamiah, atau dunia. Dalam kesatuan ini hanya terdapat keinsanian yang tepat yang berbaur dengan Allah Tritunggal.

Mungkin ada orang akan mengatakan bahwa kita tidak memiliki keinsanian yang tepat, karena kita telah jatuh. Saya setuju. Akan tetapi, melalui penebusan Kristus, Allah telah memulihkan kita dan meninggikan keinsanian kita yang jatuh itu. Dalam kebangkitan Kristus, keinsanian kita telah ditinggikan, dan kini keinsanian yang telah dibangkitkan dan ditinggikan ini telah berbaur dengan Allah Tritunggal. Perbauran ini justru merupakan unsur gereja. Dalam hidup gereja yang tepat, tidak terdapat kebudayaan, agama, atau keduniawian. Sebaliknya, gereja tersusun dari keinsanian yang tepat, yaitu keinsanian yang diciptakan oleh Allah dan ditinggikan oleh Kristus, serta berbaur dengan Allah Tritunggal. Itulah sesuatu yang Allah rencanakan untuk memilikinya dalam kekekalan yang lampau dan bagi kekekalan yang akan datang.

MINIATUR ALKITAB

Penciptaan Allah

Kitab Efesus yang khusus membicarakan gereja merupakan miniatur seluruh Alkitab. Ini terbukti dari apa yang tercakup dalam kitab ini. Pertama-tama, seperti telah kita nampak, kitab ini membicarakan kehendak kekal, yaitu rencana kekal Allah. Kedua, kitab ini membicarakan penciptaan Allah. Efesus 3:9 mengatakan tentang “dan untuk membuat semua orang melihat rencana rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu.” Antara penciptaan dengan gereja terdapat suatu pertalian, sebab Allah menciptakan segala sesuatu untuk gereja.

Maksud Allah dalam menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia, adalah agar manusia dapat berbaur dengan Allah untuk menghasilkan gereja. Zakharia 12:1 mengatakan bahwa Tuhan membentangkan langit, dan meletakkan dasar bumi, dan menciptakan roh dalam diri manusia. Hal ini menunjukkan langit untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia dengan rohnya, adalah untuk Allah. Jadi, penciptaan Allah yang ajaib dan berfokus pada manusia itu adalah untuk menghasilkan gereja. Oleh sebab itu, Kitab Efesus membicarakan penciptaan segala sesuatu.

Roh Manusia

Kitab ini juga berulang-ulang menyebut roh manusia. Dalam Efesus 1:17 Paulus berdoa agar Bapa yang mulia mengaruniakan kepada kita roh hikmat dan wahyu, agar kita memiliki pengenalan penuh terhadap-Nya. Yang diperlukan bagi hidup gereja bukanlah pikiran yang tajam secara alamiah, melainkan roh hikmat dan wahyu.

Dalam Efesus 2:22 Paulus sekali lagi membicarakan roh manusia, “Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam roh.” Ayat ini menunjukkan bahwa tempat kediaman Allah adalah dalam roh kita. Tempat kediaman ini merupakan bangunan Allah, Tubuh Kristus. Karena itu, roh adalah tempat untuk menempuh hidup gereja. Bila kita ingin berada dalam gereja sebagai bangunan Allah, kita harus berada dalam roh kita.

Dalam Efesus 3:5 Paulus menegaskan bahwa rahasia Kristus “sekarang dinyatakan di dalam roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus”. Rahasia yang tersembunyi ini telah diwahyukan kepada rasul-rasul dan nabi-nabi, bukan di dalam pikiran, melainkan di dalam roh yang telah dilahirkan kembali dan dihuni oleh Roh Kudus Allah. Manusia batiniah dalam ayat 16 mengacu kepada roh ini. Jadi manusia batiniah kita, yakni roh kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah dan yang dihuni oleh-Nya perlu diperkuat dengan kuasa melalui Roh itu, agar Kristus dapat berumah di dalam hati kita.

Dalam Efesus 4:23 Paulus mengatakan lebih lanjut tentang roh manusia: “Supaya kamu dibarui di dalam roh pikiranmu” (Tl.). Roh di sini adalah roh manusia yang berbaur dengan Roh Kudus. Ketika roh yang berbaur ini meluas memasuki pikiran kita, ia akan menjadi roh pikiran kita. Kemudian pikiran kita berada di bawah kendali roh kita. Pembaruan roh ini sangat perlu bagi kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, yaitu hidup gereja.

Dalam Efesus 5:18 Paulus memberi nasihat, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu dipenuhi di dalam roh” (Tl.). Di dalam roh kita yang dilahirkan kembali perlu dipenuhi dengan Kristus, hingga ke dalam seluruh kepenuhan Allah (3:19).

Terakhir, dalam Efesus 6:18 Paulus mengatakan tentang “Berdoalah setiap waktu di dalam roh.” Setiap kali kita berdoa, kita perlu berdoa di dalam roh kita.

Setiap pasal dari Kitab Efesus menyinggung tentang roh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa roh manusia sangat diperlukan bagi hidup gereja. Dalam kekristenan hari ini sama sekali tidak ada hidup gereja, karena kebanyakan orang Kristen tidak mengenal roh manusia. Sebaliknya kebanyakan ajaran orang Kristen hari ini memperhatikan pikiran. Tetapi Kitab Efesus tidak berfokus pada pikiran, melainkan pada roh. Roh kita seharusnya menjadi satu roh hikmat dan wahyu, tempat bangunan Allah, organ tempat Allah mewahyukan rahasia-Nya kepada kita, dan manusia batiniah kita diperkuat oleh Roh Allah. Selain itu, kita perlu diperbarui di dalam roh pikiran kita dan berdoa di dalam roh. Melalui latihan yang tepat, maka pada akhirnya roh kita akan dipenuhi ke dalam seluruh kepenuhan Allah. Inilah perbauran Allah dengan manusia yang menghasilkan hidup gereja.

Mewahyukan Allah Tritunggal

Selain itu, Kitab Efesus mewahyukan Allah Tritunggal lebih lengkap daripada kitab mana pun dalam Alkitab. Efesus 1:3 mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.” Ayat ini mengatakan tentang Allah Bapa dan Kristus, Putra. Roh tidak disebut secara jelas, tetapi tersirat dalam berkat rohani. Jadi berkat-berkat ini merupakan berkat-berkat Roh dan di dalam Roh. Jadi, dalam satu ayat ini kita memiliki Bapa, Putra, dan Roh. Dalam Efesus 2:18 dikatakan bahwa melalui Dia, Putra, dalam satu Roh, kita beroleh jalan masuk kepada Bapa. Di sini sekali lagi, kita memiliki Allah Tritunggal: Putra, Roh, dan Bapa dalam satu ayat. Melalui Putra dan di dalam Roh kita beroleh jalan masuk kepada Bapa. Ini adalah pengalaman atas Allah Tritunggal bagi hidup gereja.

Dalam pasal 3 kita juga nampak Allah Tritunggal. Paulus berdoa kepada Bapa, agar melalui Roh-Nya kita diperkuat ke dalam manusia batiniah, supaya Kristus dapat berumah dalam hati kita. Di sini kita memiliki Bapa, Roh, dan Kristus yaitu Putra. Terakhir, menurut ayat 19, kita dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Oleh sebab itu, kita memiliki Roh yang memperkuat kita, dan Kristus yang berumah di dalam kita, lalu kita akan dipenuhi ke dalam kepenuhan Allah. Wahyu tentang Allah Tritunggal yang sedemikian tidak terdapat di mana pun dalam Alkitab.

Dalam Efesus 4:4-6 kita pun menemukan Allah Tritunggal: Roh (ayat 4), Tuhan (ayat 5), dan Allah Bapa (ayat 6). Urutan di sini sangat berarti. Pertama kita memiliki Roh, lalu Putra, dan kemudian Bapa. Dalam kehidupan Tubuh, persona pertama ke-Allahan yang kita jamah ialah Roh. Bila kita menjamah Roh, kita akan menjamah Putra. Setelah memiliki Putra, kita akan memiliki Bapa yang menjadi pemula dan sumber segala sesuatu. Bapa adalah sumber, Putra adalah sungai, dan Roh adalah aliran dalam sungai. Bila kita menjamah aliran, kita berada dalam sungai, dan bila kita berada dalam sungai, kita dibawa kepada sumber. Di sini kita memiliki realitas dari satu Tubuh dengan satu Roh, satu Tuhan, dan satu Allah dan Bapa.

Alasan Kitab Efesus mengungkapkan Allah Tritunggal sampai ke tingkat sedemikian adalah karena kitab ini membicarakan gereja, yaitu suatu wujud yang tersusun melalui penyaluran Allah Tritunggal ke dalam keinsanian. Gereja dihasilkan hanya ketika Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam kita dan membaurkan diri-Nya dengan kita. Dalam Kitab Efesus kita tidak hanya memiliki doktrin Trinitas, juga penerapan Trinitas bagi penyaluran Allah ke dalam manusia. Allah Tritunggal bukan untuk ajaran, melainkan untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita.

KRISTUS BERUMAH DI HATI KITA

Kita telah menunjukkan, sebagai Allah yang telah melalui proses, Allah Tritunggal hari ini adalah Roh pemberi-hayat. Sebagai Roh, Ia dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam diri kita. Hal ini memungkinkan kita dipenuhi di dalam roh kita dan ke dalam segala kepenuhan Allah, serta memungkinkan Kristus berumah di hati kita. Kristus tidak saja tinggal di dalam kita, Ia juga mencari kesempatan untuk membuat rumah-Nya di hati kita. Ini berarti Ia membaurkan diri-Nya dengan setiap bagian diri kita. Kristus, Putra Allah, jelmaan Allah, ialah Roh pemberi-hayat yang tinggal di roh kita dan meluas ke dalam semua bagian batiniah kita. Akibat dari hal ini, bukan hanya kekudusan, kerohanian, dan kemenangan, tetapi perbauran yang ajaib antara keilahian dengan keinsanian untuk menghasilkan gereja.

TUBUH DAN MANUSIA BARU

Gereja yang dihasilkan oleh perbauran keilahian dan keinsanian ialah Tubuh Kristus. Beberapa guru Kristen mengira Tubuh Kristus hanya suatu ilutrasi. Tetapi ini bukan hanya suatu ilustrasi, melainkan ekspresi Kristus sendiri. Seperti halnya tubuh jasmani saya adalah ekspresi saya sendiri, begitu pula Tubuh rohani Kristus ialah ekspresi-Nya sendiri. Karena itu, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah satu realitas.

Tidak hanya demikian, gereja adalah manusia baru dengan Kristus sebagai hayat dan personanya. Satu tubuh harus mempunyai hayat, tetapi seorang manusia harus mempunyai hayat dan persona. Pohon mempunyai hayat, tetapi tidak mempunyai persona dengan pikiran, tekad, dan emosi. Karena gereja adalah Tubuh dan manusia baru, maka gereja memiliki Kristus sebagai hayat dan persona. Pengertian tentang gereja semacam ini adalah hal yang mendasar.