← Daftar isi Efesus (2) · bab 18/24

PENUTUP

Dalam berita ini kita tiba pada penutup Kitab Efesus, 6:21-24.

I. MEREKOMENDASIKAN TIKHIKUS

Dalam ayat 19 dan 20 Paulus minta agar kaum saleh berdoa baginya. Dalam ayat 21 ia selanjutnya mengatakan, “Supaya kamu juga mengetahui kabar tentang aku, maka Tikhikus, saudara seiman kita yang terkasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu.” Ini menunjukkan bahwa pada satu pihak, Paulus memerlukan doa kaum saleh, sedang di pihak lainnya, ia mempunyai suatu perhatian yang benar-benar terhadap kaum saleh. Karena itu, ia mengutus Tikhikus untuk menyampaikan informasi tentang dirinya, dan menghibur hati mereka (ayat 22).

Hal ini menunjukkan bahwa di antara Paulus dengan kaum saleh di Efesus terjalin suatu hubungan dan persekutuan yang sangat indah. Inipun menunjukkan perlu adanya seorang pengantara seperti Tikhikus. Rasul, kaum beriman, dan Tikhikus adalah satu. Pertama-tama, Paulus memberi satu contoh melalui meminta kaum beriman berdoa baginya, lalu ia mengutus Tikhikus kepada mereka, untuk membawakan informasi tentang dirinya, dan menghibur mereka. Betapa manis dan indah hal ini! Walau kita hari ini jarang mempraktekkan hal ini, namun kita harus berusaha mempraktekkannya; kita perlu persekutuan yang sedemikian.

Tikhikus diutus bukan untuk melakukan pekerjaan yang besar. Sebaliknya, tugasnya hanyalah memberi tahu kaum saleh tentang situasi Paulus dan menghibur hati mereka. Meskipun pada zaman Paulus tidak ada alat transportasi modern seperti: kapal motor atau pesawat udara, tetapi ia mengutus Tikhikus menempuh perjalanan yang jauh dari Roma ke Asia Kecil hanya untuk mengunjungi kaum saleh demi dirinya. Tujuan perjalanan yang jauh ini merupakan persekutuan antara rasul dan kaum saleh. Demikian pentingnya hal ini, hingga tercatat dalam firman Allah. Rasul memperhatikan gereja, gereja juga memperhatikan rasul. Jadi, Tikhikus diutus dari Roma ke Asia Kecil untuk tujuan persekutuan. Dalam pemulihan Tuhan hari ini, perhatian kasih antara para rasul dan gereja perlu dipulihkan. Kita perlu perhatian yang sedemikian; bukan untuk melaksanakan suatu amanat atau suatu pekerjaan, melainkan untuk mengadakan suatu persekutuan yang diperlukan dan tepat. Hari ini pun perlu ada utusan yang mengunjungi gereja-gereja guna menyampaikan informasi dan mendorong kaum saleh.

Dalam Tubuh Kristus, kita perlu lebih banyak lalu lintas. pengutusan Paulus atas Tikhikus kepada gereja lokal menciptakan semacam lalu lintas. Lalu lintas menguatkan suatu negara. Lihatlah dampak pembangunan jalan-jalan raya oleh pemerintah federal. Semua itu merupakan urat nadi kemakmuran Amerika Serikat. Lalu lintas, bahkan yang melintasi tanah terbuka yang luas, menghasilkan suplai dan kemajuan bagi tempat yang dihubungkan. Ketika saya beranjak dewasa, perjalanan dengan berjalan kaki dari kampung kami yang kecil ke Chefoo saja harus memakan waktu sehari suntuk. Sehari sebelumnya sudah harus mempersiapkan diri, berangkat pagi-pagi sekali dan tiba pada malam hari. Untuk menempuh jarak yang sedikit itu saja harus memakan waktu begitu banyak, karena itu tidak heran banyak orang yang tinggal di kampung seumur hidup, mereka tak pernah melihat kota Chefoo. Lalu lintas membuat Amerika Serikat menjadi jaya dan makmur. Selain jalan-jalan raya, jalur-jalur udara berikut jalur penerbangan dalam negeri yang begitu banyak, semakin menambah kemakmuran negara ini.

Lalu lintas antara gereja lebih banyak lebih baik. Setiap kali kita bersidang bersama, di situ akan terjadi lalu lintas. Tanpa lalu lintas, gereja-gereja akan terisolir. Jika kita menjauhkan diri dari sidang, dan hanya bersi-dang bersama beberapa orang di rumah-rumah kita, lalu lintas itu akan terputus. Itu adalah tipu muslihat musuh untuk memutuskan urat nadi gereja. Bila pembuluh-pembuluh darah ini diputuskan, akibatnya ialah maut. Akan tetapi, melalui lalu lintas antara kaum saleh dengan gereja-gereja, hayat akan berlipat ganda. Karena itu, kita perlu menaruh perhatian atas perkataan Paulus tentang masalah tersebut dalam pasal terakhir dari Kitab Efesus.

Berbicara tentang Tikhikus, Paulus merekomendasikan dia sebagai “saudara seiman kita yang terkasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan”. Selaku pelayan yang setia di dalam Tuhan, Tikhikus adalah hamba yang melayani. Kita telah menunjukkan bahwa ia diutus untuk memberitahukan segala hal kepada orang kudus dan menghibur hati mereka. Sekali lagi saya katakan bahwa hal ini mewahyukan suatu persekutuan yang manis dan perhatian yang intim yang perlu terpulih sepenuhnya da-lam pemulihan Tuhan dewasa ini.

II. BERKAT

A. Damai Sejahtera dan Kasih

Ayat 23 dan 24 merupakan berkat Paulus: “Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Anugerah menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.” Pada permulaan kitab ini, salam rasul pertama-tama disertai anugerah sebagai kenikmatan, kemudian disertai damai sejahtera sebagai hasil kenikmatan (1:2). Tetapi dalam penutup kitab ini unsur-unsur itu disajikan terbalik, maju dari hasil damai sejahtera kepada kenikmatan anugerah. Setelah kita sampai kepada damai sejahtera, kita masih perlu anugerah, yang menunjukkan bahwa pengalaman kita adalah dari anugerah kepada anugerah.

Dalam pembukaannya Paulus hanya mengatakan tentang anugerah dan damai sejahtera. Dalam penutupnya ia tidak saja mengubah urutan anugerah dan damai sejahtera, ia juga mengatakan “kasih dengan iman”. Kita perlu meninjau mengapa anugerah dan damai sejahtera disajikan terbalik, dan mengapa kasih dengan iman tercakup di dalamnya. Kita telah melihat bahwa anugerah ialah kenikmatan terhadap Tuhan dan damai sejahtera ialah hasil dari kenikmatan itu. Kitab ini berawal dengan anugerah, dengan kenikmatan atas Tuhan itu sendiri sebagai hayat kita, suplai hayat, dan segala sesuatu bagi kita. Tetapi pada akhirnya, Surat Kiriman ini membawa kita ke dalam damai sejahtera. Setelah kita masuk ke dalam damai sejahtera, kita tetap memerlukan anugerah. Kita masuk ke dalam damai sejahtera melalui anugerah. Kini ketika kita menikmati damai sejahtera, kita memerlukan lebih banyak anugerah. Inilah yang disebut dari anugerah kepada anugerah. Ini juga menunjukkan bahwa pengalaman kita adalah dari anugerah kepada anugerah.

Akan tetapi, mengapa kasih disisipkan diantara damai sejahtera dan anugerah? Tiada surat lain yang ditulis Paulus yang memberi sisipan sedemikian. Alasan penyisipan ini adalah bahwa jalan satu-satunya agar kita dapat terjaga dalam situasi damai sejahtera adalah dengan terus-menerus menikmati Tuhan di dalam kasih. Frase “dalam kasih” dipakai enam kali dalam kitab ini (1:4; 3:17; 4:2, 15, 16; 5:2). Inilah yang menghubungkan Surat Kiriman ini dengan perkataan Tuhan kepada gereja di Efesus dalam Wahyu 2:1-7. Di sana Tuhan menegur ge-reja di Efesus, sebab ia telah meninggalkan kasih yang semula (ayat 4). Problem gereja di Efesus bukanlah kekurangan pekerjaan atau pengetahuan, melainkan kehilangan kasih yang semula. Paulus menyadari bahwa kasih sangat penting, maka ia membicarakan masalah kasih dalam kaitannya dengan damai sejahtera dan anugerah, dan menunjukkan betapa kasih diperlukan guna memelihara kita dalam kondisi damai sejahtera.

Kasih ini berasal dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa kasih bukan berasal dari kita, melainkan dari Allah. Akan tetapi, pada akhirnya, kasih Allah akan menjadi kasih kita. Inilah alasan Paulus membicarakan orang yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dalam Efesus 6:24. Jadi, kasih Allah yang ditujukan kepada kita akan menjadi kasih kita kepada-Nya. Damai sejahtera dipertahankan melalui kasih yang sedemikian. Melalui hidup dalam penyertaan Allah yang intim itu, maka kasih datang kepada kita, lalu kasih ini kembali lagi kepada Tuhan, dan menjadi kasih kita kepada-Nya. Melalui lalu lintas kasih ini, damai sejahtera akan terpelihara, dan kita terlindung dalam kenikmatan atas anugerah. Inilah alasan Paulus membicarakan damai sejahtera, kasih, dan anugerah.

Perhatikanlah, dalam ayat 23 Paulus memakai frasa “kasih dengan iman”. Kasih dan iman adalah sarana kita mengambil bagian dan mengalami Kristus (1Tim. 1:14). Iman adalah untuk menerima Dia (Yoh. 1:12), dan kasih adalah untuk menikmati Dia (Yoh. 14:23). Dalam Injil Yohanes pertama-tama kita disuruh percaya kepada Putra, agar beroleh hidup yang kekal (3:15). Percaya kepada Tuhan Yesus berarti menerima-Nya. Injil Yohanes juga menekankan kasih. Dalam pasal 21 Tuhan bertanya kepada Petrus tentang kasihnya terhadap-Nya (ayat 15-17). Lagi pula, dalam Yohanes 14:23 Tuhan mengatakan tentang Bapa dan Putra yang berhuni bersama orang yang mengasihi Tuhan Yesus. Sebab itu, melalui iman, kita menerima Tuhan Yesus dan melalui kasih kita menikmati-Nya. Karena alasan ini, maka dalam 1Timotius 1:14 Paulus menjajarkan iman dan kasih.

Dalam 1Tesalonika 5:8 Paulus juga membicarakan tentang iman dan kasih. Dalam ayat ini ia menganjurkan kaum saleh untuk mengenakan “baju zirah iman dan kasih”. Kalau kita membandingkan ayat ini dengan Efesus 6:14, kita melihat adanya dua macam baju zirah, yang satu untuk kehidupan sehari-hari dan yang lainnya untuk peperangan. Untuk kehidupan sehari-hari, kita perlu baju zirah iman dan kasih. Iman dan kasih itu lembut, keduanya dilambangkan oleh buah dada dalam Alkitab. Bagian-bagian yang begitu lembut dari diri kita ini, yaitu buah dada rohani kita, perlu ditutupi dengan baju zirah. Melalui baju zirah, iman dan kasih kita, yang dibutuhkan bagi kehidupan Kristen yang tepat, beroleh perlindungan. Sebaliknya, baju zirah kebenaran dalam 6:14 adalah untuk peperangan. Setiap kali kita mengambil bagian dalam peperangan rohani, hati nurani kita harus terlindung oleh baju zirah kebenaran, dari tuduhan Iblis.

Ayat-ayat tentang iman dan kasih dalam Injil Yohanes, Kitab 1Tesalonika, dan Kitab 1Timotius menunjukkan bahwa iman dan kasih seiring sejalan. Namun dalam Efesus 6:23 Paulus tidak mengatakan iman dan kasih, tidak pula mengatakan kasih dan iman, melainkan kasih dengan iman. Ini menunjukkan bahwa kita perlu iman untuk mendampingi, mendukung, dan melayani kasih. Berdasarkan Galatia 5:6, iman beroperasi melalui kasih. Operasi ini sangat halus. Dalam Kitab Galatia, sebuah kitab yang menekankan pembenaran oleh iman, dikatakan: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” (5:6). Pahamkah Anda bahwa percaya kepada Tuhan Yesus merupakan masalah kasih? Tahukah Anda bahwa iman Anda beroperasi melalui kasih? Seorang yang mendengar Injil, bertobat, lalu mengapresiasi Tuhan Yesus, dan merasa bahwa Dia patut dikasihi sepenuhnya, akan memiliki satu iman yang perkasa. Iman ini bekerja melalui kasihnya terhadap Tuhan. Semakin kita mengasihi Tuhan, sema-kin kuat pula iman kita terhadap-Nya. Demikianlah pemikiran Paulus dalam Kitab Galatia.

Namun, Kitab Efesus menekankan kasih, bukan iman. Menurut Kitab Galatia, semakin kita mengapresiasi Tuhan Yesus dan mengasihi-Nya, kita akan semakin percaya kepada-Nya. Ini untuk keselamatan. Tetapi dalam Kitab Efesus perhatian Paulus bukan pada keselamatan, melainkan kesinambungan dan persekutuan. Hal ini memerlukan kasih dengan iman. Jika iman kita menjadi lemah karena menerima kebimbangan dan pertanyaan-pertanyaan, kita akan merasa sukar untuk mengasihi Tuhan. Bila iman kita rusak, kasih pun akan rusak. Untuk melanjutkan persekutuan kita dengan Tuhan melalui mengasihi-Nya, kita perlu iman yang kuat. Maka, kita sekaligus perlu iman yang bekerja melalui kasih serta kasih yang bersama iman.

Kita telah menunjukkan bahwa kasih berasal dari Allah. Hal ini berarti kasih berada di pihak Allah. Sebaliknya, iman berada di pihak kita. Jadi, frasa “kasih dengan iman” menyiratkan lalu lintas antara Allah dengan kita dan kita dengan Allah. Kasih itu berasal dari Allah kepada kita, dan iman berasal dari kita kepada Allah. Allah mengaruniakan kasih kepada kita, dan kita menjawabnya dengan iman. Ini merupakan lalu lintas antara kasih dan iman. Melalui lalu lintas ini damai sejahtera tertinggal sebagai bagian kita. Oleh kasih Allah yang datang kepada kita; dan oleh iman kita yang pergi kepada-Nya, kita terpelihara dalam damai sejahtera.

B. Anugerah Menyertai Semua Orang yang Mengasihi Tuhan Kita Yesus Kristus dengan Kasih yang Tidak Binasa

Lalu lintas ini juga akan memelihara kita dalam anugerah, yakni dalam kenikmatan terhadap Tuhan. Dalam ayat 24 Paulus berkata, “Anugerah menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.” Anugerah kita perlukan untuk menempuh kehidupan gereja yang menggenapkan tujuan kekal Allah, dan menyelesaikan masalah Allah dengan musuh-Nya. Kenikmatan terhadap Tuhan sebagai anugerah, itu akan menyertai orang yang mengasihi Dia. Untuk hidup gereja yang tepat, kita perlu mengasihi Tuhan dengan hal-hal yang tidak binasa, yaitu di dalam dan berdasarkan semua hal penting yang dinyatakan dan diajarkan dalam keenam pasal kitab ini, seperti gereja sebagai Tubuh Kristus, manusia baru, ekonomi rahasia Allah, kesatuan Roh, realitas dan anugerah, terang dan kasih, dan butir-butir perlengkapan senjata Allah, yang semuanya tidak binasa. Demi gereja, kasih kita terhadap Tuhan haruslah berada dalam hal-hal yang tidak binasa ini. Kasih kita terhadap Tuhan haruslah tidak dapat binasa, tidak dapat rusak, tidak dapat lenyap. Kasih yang sedemikian adalah kasih yang sejati dan tulus.

Cara Paulus menyusun tulisannya tentang pemberkatan dalam ayat-ayat ini sangat bermakna. Dalam kesimpulan Surat Kiriman ini, kita telah dibawa ke dalam damai sejahtera, dan kita tinggal dalam kondisi damai sejahtera ini melalui kasih yang berasal dari Allah berikut iman yang berasal dari kita. Melalui lalu lintas kasih dengan iman inilah maka kita mempunyai suatu suplai anugerah yang terus-menerus. Haleluya, bagi damai sejahtera, bagi kasih dengan iman, dan bagi anugerah!