← Daftar isi Efesus (2) · bab 17/24

PENERAPAN MELALUI DOA

Dalam berita ini kita tiba pada Efesus 6:18-20, yang khusus membahas masalah doa.

I. DOA SEBAGAI PENERAPAN BUTIR-BUTIR

DARI PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH

Kita telah melihat bahwa perlengkapan senjata Allah terdiri atas enam butir: ikat pinggang realitas, baju zirah kebenaran, dasar yang teguh dari Injil damai sejahtera, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh itu. Bila kita telah diperlengkapi dengan seluruh perlengkapan senjata ini, kita dapat berdiri melawan serangan musuh, bahkan menyerangnya. Setelah menampilkan butirbutir dari perlengkapan senjata Allah, Paulus beralih kepada masalah doa.

Ayat 18 mengatakan, “Dengan segala doa dan per-mohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus.” Frase: “dengan segala doa dan permohonan” menerangkan kata kerja “terimalah” dalam ayat 17. Dengan doalah kita menerima ketopong keselamatan dan firman Allah. Ini menunjukkan bahwa kita perlu menerima firman Allah melalui segala doa dan permohonan. Ketika kita menerima firman Allah kita perlu berdoa. Kita telah melihat bahwa seluruh perlengkapan senjata Allah terdiri atas enam butir. Doa boleh terhitung sebagai butir ketujuh. Doa adalah sarana yang kita gunakan untuk menerapkan butir-butir lainnya.

Kata keterangan “dengan segala doa dan permohonan” dalam ayat 18 berkaitan dengan keenam butir dari perlengkapan senjata yang dibahas dalam ayat 14 hingga 17. Melalui segala doa dan permohonanlah kita berikat-pinggangkan realitas, berbajuzirahkan kebenaran, dan berkasutkan dasar yang teguh dari Injil damai sejahtera. Lagi pula, melalui doalah kita memegang perisai iman dan menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh itu, yaitu firman Allah. Kapan saja kita ingin mengenakan perlengkapan senjata atau memakai setiap butir dari perlengkapan senjata itu, kita perlu berdoa. Kita tidak dapat dan tidak seharusnya mencoba memakai bagian perlengkapan senjata Allah yang mana pun tanpa doa. Doa adalah cara yang unik untuk menerapkan perleng-kapan senjata Allah; dan doalah yang membuat perlengkapan senjata itu menjadi tersedia dan riil untuk kita pakai. Sebagai contoh, mungkin kita memiliki ketopong keselamatan, tetapi doalah yang membuat ketopong ini tersedia dan riil untuk dipergunakan. Karena itu, doa adalah perkara yang penting, menentukan, dan vital bagi kita.

II. BERDOA

Dalam ayat 18 Paulus tidak saja membicarakan satu macam doa, tetapi segala doa dan permohonan. Doa bersifat umum, permohonan bersifat khusus. Kita harus berdoa secara umum, dan bila perlu harus berdoa secara khusus, mungkin sampai tidak tidur atau tidak makan untuk memohon kepada Tuhan demi situasi tertentu.

A. Setiap Waktu

Dalam ayat 18 Paulus mengatakan tentang “berdoalah setiap waktu”. Ada orang menyangka ungkapan “setiap waktu” berarti setiap kali kita berdoa. Ada pula yang menganggap itu berarti seluruh waktu. Berdoa setiap waktu di sini berhubungan dengan perkataan Paulus dalam 1Tesalonika 5:17 yaitu “Berdoalah dengan tidak putus-putusnya” (Tl.).

B. Dalam Roh

Dalam ayat 18 Paulus khusus mengatakan bahwa kita harus berdoa “di dalam roh”. Ini adalah roh kita yang dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh Allah. Roh ini boleh dianggap sebagai roh perbauran, yaitu roh kita berbaur dengan Roh Allah. Setiap kali kita berada dalam roh kita, kita pun berada dalam Roh Kudus, sebab roh kita telah bersatu dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Karena itu, Paulus menyuruh kita berdoa dalam roh menyiratkan kita harus berdoa dalam Roh Allah, karena kedua roh ini telah berbaur di dalam kita.

Dalam doa, organ utama yang harus kita pakai ialah roh kita: Jika pikiran kita terlalu aktif, atau jika emosi kita tidak terkendali, kita akan merasa sulit berdoa. Ketika kita berdoa, pikiran kita seharusnya tenang, dan emosi kita seharusnya terkendali, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Menurut pengalaman saya, saya mudah terganggu dalam doa ketika pikiran saya diduduki oleh perkara-perkara yang lain. Demikian pula, ketika emosi saya tidak teratur secara wajar, saya sukar untuk mengutarakan sesuatu dari roh saya ketika berdoa. Karena itu, untuk dapat berdoa dalam roh, kita perlu mengatur baik-baik pikiran kita dan perlu memiliki emosi yang seimbang. Hal ini memerlukan banyak latihan ba-tiniah.

Tidak hanya demikian, jika kita ingin berdoa setiap waktu di dalam roh, tekad kita harus perkasa. Orang yang tekadnya seperti ubur-ubur tidak dapat berdoa. Doa kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya sukar. Berbicara atau membaca sangat mudah, namun berdoa tidaklah mudah. Itulah sebabnya doa memerlukan latihan tekad kita.

Seorang Kristen seharusnya adalah seorang pendoa. Tidak berdoa adalah suatu dosa. Jika Anda tidak berdoa bagi orang lain, bagi kaum saleh, atau bagi sanak keluarga Anda, berarti Anda berbuat dosa. Namun, tidak banyak orang Kristen yang menganggap kurang berdoa itu sebagai dosa. Kita perlu melatih tekad kita untuk menjadi pendoa. Demi suatu kehidupan doa yang wajar, pikiran kita harus jernih, emosi kita harus teratur, dan tekad kita harus perkasa. Setelah itu, barulah kita dapat berdoa setiap waktu di dalam roh.

III. BERJAGA-JAGA

A. Berjaga-jaga untuk Doa

Dalam ayat 18 Paulus selanjutnya mengatakan tentang, “Dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya untuk semua orang kudus.” Ini menunjukkan bahwa kita perlu berjaga-jaga, waspada, demi kehidupan doa ini. Kita perlu berjaga-jaga agar waktu kita yang seharusnya kita gunakan untuk berdoa tidak dirampas. Untuk berjaga-jaga secara riil, banyak orang dalam gereja menetapkan waktu-waktu khusus untuk berdoa.

Perihal berjaga-jaga dalam berdoa menyiratkan bahwa kita wajib melatih roh, menenangkan pikiran, dan mengatur emosi kita, agar dapat berdoa dengan baik. Kita perlu banyak berlatih, barulah kita dapat membuat pikiran, emosi, dan tekad kita tunduk dan taat. Karena banyak yang tidak mempraktekkan hal ini, maka pikiran mereka menjadi pikiran yang memberontak. Bila mereka menyuruh pikiran mereka tenang, pikiran mereka akan semakin aktif. Ada lagi yang selalu diganggu emosinya. Maka, kita perlu melatih diri kita sedemikian rupa, sehingga sekalipun kita telah berbicara lama, kita tetap dapat berdoa. Kita benar-benar perlu latihan yang demikian, yaitu yang tersirat dalam perkataan Paulus mengenai berjaga-jaga dalam doa.

Jika kita tidak menempuh kehidupan doa kita dengan berjaga-jaga, kita akan kehilangan waktu. Di sanasini waktu kita sehari suntuk akan terbuang dengan sia-sia. Kita akan kehilangan waktu kita dengan sia-sia sebab waktu kita tidak diatur dan dikendalikan dengan baik. Dalam pekerjaan, mungkin waktu kita diatur dengan ketat, tetapi dalam hal berdoa, banyak orang yang tidak mengatur waktu mereka. Akibatnya, lenyaplah banyak waktu yang dapat dipakai untuk berdoa. Kalau kita tidak menebus waktu kita dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, banyak waktu akan terbuang dengan sia-sia. Walaupun mungkin Anda sangat sibuk, janganlah hal itu menjadi dalih Anda untuk tidak berdoa. Jika Anda menghargai kehidupan doa Anda, Anda pasti akan berjaga-jaga dalam doa dan mengatur waktu untuk berdoa. Tidak peduli bagaimana repotnya Anda, Anda tetap memiliki waktu untuk berdoa.

Berdasarkan teladan dalam Alkitab, lebih baik mengatur waktu untuk berdoa lebih dari sekali setiap hari. Sebagai contoh, Daniel berdoa tiga kali sehari (Dan. 6:10); pemazmur juga mengatakan tentang doa pagi, petang, dan tengah hari (Mzm. 55:17). Jika kita membina kebiasaan berdoa pada waktu-waktu yang teratur setiap hari, kita akan beroleh berkat besar. Berkat ini tidak saja akan mempengaruhi hidup pribadi kita, tetapi juga mempengaruhi gereja, tetangga, bahkan bangsa kita.

B. Yang Tak Putus-putusnya

Paulus menyuruh kita berjaga-jaga di dalam doa yang tak putus-putusnya. “Tak putus-putusnya” di sini dalam bahasa aslinya berarti “dengan segala ketekunan”. Untuk memelihara suatu penghidupan doa, kita perlu segala ketekunan, perhatian yang tekun dan terus-menerus. Jika Anda telah menentukan satu waktu berdoa pada pagi hari, Anda perlu berjaga-jaga dengan tekun pada waktu itu. Jangan sekali-kali mengizinkan perkara apa pun mengganggu Anda. Mungkin Anda harus memutuskan telepon Anda selama waktu itu. Jika kita tidak dengan tekun berjaga-jaga dalam doa, musuh akan mengi-rimkan banyak gangguan kepada kita.

C. Dalam Permohonan

1. Untuk Semua Orang Kudus

Dalam ayat 18 Paulus juga mengatakan tentang “permohonan untuk semua orang kudus” Ini menunjukkan bahwa kita perlu berdoa secara khusus untuk semua orang kudus. Untuk berjaga-jaga dalam kehidupan doa kita, kita perlu berdoa secara khusus. Ini berarti kita harus berdoa khususnya untuk berjaga-jaganya kita dalam doa, yakni berdoa demi kehidupan doa kita, dan demi waktu doa kita. Kita pun perlu memohon untuk semua orang kudus. Renungkan, berapa banyak waktu yang diperlukan untuk berdoa bagi orang kudus di tempat Anda dan bagi orang kudus di kota dan negara lain!

2. Untuk Rasul

a. Supaya kepadanya Dikaruniakan Perkataan

Dalam ayat 19 Paulus melanjutkan, “supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.” Kata “perkataan” dalam bahasa aslinya juga berarti “penuturan”, “pembicaraan”, atau “ekspresi”. Paulus minta kaum beriman berdoa baginya, agar kepadanya dikaruniakan perkataan. Ia damba membuka mulutnya dengan keberanian untuk memberitakan rahasia Injil. Paulus perlu perkataan dan keberanian untuk mengumumkannya. Rahasia Injil ini adalah Kristus dan gereja bagi penggenapan tujuan kekal Allah. Ada orang Kristen memberitakan Injil yang di dalamnya tidak ada rahasia, tetapi Paulus memberitakan rahasia Injil ini. Rahasia Injil ini menyiratkan seluruh ekonomi Perjanjian Baru. Kristus adalah rahasia Allah, dan gereja adalah rahasia Kristus. Kristus dan gereja adalah untuk ekonomi Allah, yang juga merupakan satu rahasia. Semua rahasia ini berkaitan dengan Injil.

Saya percaya bahwa Tuhan menghendaki agar suasana penginjilan berkembang di semua gereja lokal. Berdoalah agar suasana yang demikian semakin kuat. Dalam sidang penginjilan kita, kita tidak hanya menyanyi dan memberi tahu orang bahwa Kristus dapat memenuhi kebutuhan mereka, memuaskan mereka, tetapi juga harus menyampaikan berita yang lengkap tentang perkara yang tinggi, yakni tentang ekonomi Allah. Marilah kita memberi tahu orang-orang yang belum beriman tentang kehendak kekal Allah. Janganlah kita meremehkan kemampuan mereka untuk mengerti. Mereka mungkin mengerti jauh lebih banyak daripada yang Anda harapkan. Penginjilan semacam ini sungguh akan menarik orang yang belum beriman berpaling kepada Tuhan.

Dalam sidang penginjilan kita perlu ada pemberitaan dan pengajaran. Kita harus mengajar dalam suasana pemberitaan. Kaum saleh tentu mau mengajak kerabat dan sahabat mereka menghadiri sidang semacam ini. Beban kita ialah menjelaskan rahasia Injil ini. Doakanlah hal ini. Semoga Tuhan mengaruniakan perkataan kepada kita, dan membuka mulut kita, agar kita dengan keberanian mengajar dan memberitakan rahasia Injil ini. Kita semua perlu memberitakan Injil dengan cara yang diting-gikan ini.

b. Supaya dengan Keberanian Memberitakan

Dalam ayat 20 Paulus selanjutnya mengatakan, “Yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.” Paulus adalah seorang utusan Injil. Seorang utusan atau duta besar adalah seorang yang diutus oleh otoritas tertentu untuk menghubungi orang tertentu. Paulus menganggap dirinya seorang duta besar yang diutus Allah, ia adalah seorang yang diutus oleh otoritas tertinggi dalam alam semesta ini. Tetapi, ia adalah duta besar yang dipenjarakan. Kata “dipenjarakan” di sini ialah “rantai ganda”, yaitu rantai yang mengikatkan tawanan pada pengawalnya. Paulus damba agar dalam keadaan terikat rantai yang demikian, ia dapat berbicara dengan keberanian. Walaupun Paulus dirantai bersama orang yang mengawalnya, ia tetap ingin berbicara dengan keberanian, sebagaimana seharusnya ia berbicara.