← Daftar isi Efesus (2) · bab 16/24

SELURUH PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH (2)

Dalam berita yang lalu kita telah membahas ketiga butir pertama dari perlengkapan senjata Allah: ikat pinggang, baju zirah, dan kasut. Ikat pinggang berkaitan dengan realitas, baju zirah berkaitan dengan kebenaran, dan kasut berkaitan dengan damai sejahtera. Kita telah melihat bahwa realitas adalah Allah terekspresi dalam kehidupan kita sebagai standar, model, dan prinsip kita. Kebenaran adalah Kristus dalam kenikmatan dan pengalaman kita sebagai penudung nurani kita. Bila dalam kehidupan kita ada realitas, tentu kita akan memiliki kebenaran sebagai penudung kita. Alkitab mewahyukan bahwa kebenaran menghasilkan damai sejahtera. Inilah damai sejahtera dengan Allah maupun manusia. Damai sejahtera inilah yang digenapkan Kristus di atas salib bagi kita. Karena itu, memiliki ikat pinggang, baju zirah, dan kasut berarti memiliki realitas, kebenaran, dan damai sejahtera. Bila kita memperhidupkan Allah dalam kehidupan sehari-hari kita, kita akan ditudungi dengan Kristus sebagai kebenaran, dan kita akan memiliki damai sejahtera sebagai dasar kita yang teguh. Kemudian kita dipersiapkan untuk berperang melawan musuh.

I. PERISAI IMAN

Ayat 16 mengatakan, “Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.” Kita perlu berikatpinggangkan kebenaran, hati nu-rani kita ditudungi dengan kebenaran, kaki kita berkasutkan damai sejahtera dan seluruh diri kita dilindungi dengan perisai iman. Jika kita hidup dengan Allah seba-gai realitas, kita akan memiliki kebenaran (4:24), dan kebenaran menghasilkan damai sejahtera (Ibr. 12:11; Yes. 32:17). Setelah memiliki semua ini, kita dengan mudah dapat memiliki iman sebagai perisai melawan panah api si jahat. Kristus ialah Pemulai dan Penyempurna iman yang demikian (Ibr. 12:2). Untuk berdiri dengan teguh dalam peperangan, kita perlu diperlengkapi dengan ke-empat butir persenjataan Allah itu.

Perisai iman ini bukan barang yang kita kenakan, melainkan yang kita pegang untuk menjaga diri guna me-lawan serangan musuh. Iman datang setelah realitas, kebenaran, dan damai sejahtera. Kalau dalam kehidupan kita ada realitas, kebenaran sebagai penudung kita, dan damai sejahtera sebagai tumpuan kita, kita akan dengan spontan memiliki iman. Iman ini merupakan suatu pelindung yang aman untuk melawan panah api yang ganas, yaitu serangan-serangan musuh.

Kini kita perlu membahas secara terperinci perihal perisai iman. Kita memang tidak memiliki iman dalam kemampuan, kekuatan, jasa, atau pekerti kita sendiri. Iman kita seharusnya berada dalam Allah (Mrk. 11:22). Allah itu riil, hidup, hadir, dan tersedia. Kita perlu memiliki iman di dalam-Nya.

Kita pun harus memiliki iman terhadap hati Allah. Setiap orang Kristen harus mengenal Allah dan hati Allah. Hati Allah terhadap kita selalu baik. Tidak peduli apa yang terjadi pada kita, atau penderitaan macam apa yang kita alami, kita harus selalu percaya akan kebaikan hati Allah. Allah tidak berniat menghukum, melukai, atau merugikan kita.

Seiring dengan beriman terhadap hati Allah, kita juga perlu beriman terhadap kesetiaan Allah. Kita bisa berubah, tetapi Allah tidak akan berubah. Seperti dikata-kan dalam Yakobus 1:17, “pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran”. Selain itu, Ia tidak dapat berdusta (Tit. 1:2); Ia selalu setia terhadap firman-Nya sendiri.

Allah tidak saja setia, tetapi juga mampu dan sanggup. Karena itu, kita perlu pula beriman terhadap kemampuan Allah. Dalam Efesus 3:20 Paulus mengatakan bahwa Allah “dapat melakukan jauh lebih banyak dari-pada yang kita doakan atau pikirkan.”

Iman kita masih ada aspek lainnya, yaitu terhadap firman Allah. Allah terikat untuk memenuhi segala yang telah Ia katakan. Semakin Ia berfirman, Ia semakin bertanggung jawab untuk menepati firman-Nya sendiri. Kita dapat berkata kepada-Nya, “Ya Allah, Engkau telah berkata, dan firman-Mu yang tertulis ini ada dalam tangan kami. Tuhan, Engkau terikat untuk memenuhi firman-Mu.” Haleluya bagi firman Allah yang setia!

Kita juga perlu beriman terhadap kehendak Allah. Karena Allah adalah Allah yang memiliki rencana, maka Ia memiliki satu kehendak. Kehendak-Nya terhadap kita selalu positif. Karena itu, tidak peduli apa yang menimpa diri kita, tidak seharusnya kita memperhatikan kesenangan atau lingkungan kita, melainkan perhatikan saja kehendak Allah. Lingkungan kita mungkin berubah, tetapi kehendak Allah tidak pernah berubah.

Tidak hanya demikian, kita pun harus beriman kepada kedaulatan Allah. Karena Allah berdaulat, Allah ti-dak pernah salah. Di bawah kedaulatan-Nya, kesalahan kita pun mendatangkan faedah. Jika Allah tidak dalam kedaulatan-Nya mengizinkan kita salah, mustahillah kita salah. (Tetapi, ini tidak berarti kita boleh sengaja melakukan kesalahan). Bila kita bersalah, kita harus bertobat. Tetapi kita tidak perlu menyesal, sebab itu berarti kita kekurangan iman. Setelah kita bertobat atas satu pelanggaran atau kekurangan, kita harus tetap menggunakan iman dalam kedaulatan Allah. Tanpa kedaulatan-Nya yang mengizinkan, tidak mungkin kita melakukan kesalahan. Karena itu, kita tidak perlu menyesal.

Kita semua harus beriman penuh terhadap Allah, hati Allah, kesetiaan Allah, kemampuan Allah, firman Allah, kehendak Allah, dan kedaulatan Allah. Jika kita memiliki iman yang sedemikian, panah api Iblis tidak akan mampu melukai kita.

Panah api si jahat adalah cobaan-cobaan, usulan-usulan, keragu-raguan, pertanyaan-pertanyaan, dusta-dusta, dan serangan-serangan Iblis. Panah api digunakan oleh pejuang-pejuang dalam zaman rasul. Rasul menggunakan istilah ini untuk mengilustrasikan serangan Iblis terhadap kita. Setiap pencobaan adalah suatu penipuan, satu janji palsu. Panah api itu termasuk usulan-usulan Iblis yang menggoda kita. Ketika kita bangun di pagi hari, Iblis sering mengajukan usulan-usulannya. Sebab itu, perkara yang pertama harus kita lakukan se-tiap pagi, ialah masuk ke dalam firman. Bila kita tidak berada dalam firman, kita tidak akan memiliki penudung untuk melawan usulan-usulan Iblis itu. Keragu-raguan dan pertanyaan juga merupakan panah api dari Iblis. Pernahkah Anda memperhatikan bahwa tanda tanya (?) mirip sekali dengan seekor ular? Itulah Iblis yang dahulu bertanya kepada Hawa, “Tentu Allah berfirman?” (Kej. 3:1). Ketika Iblis mengajukan pertanyaan demikian kepada kita, jawaban atau reaksi kita seharusnya ialah melarikan diri, tanpa berbicara dengannya sedikit pun. Sering kali Iblis menyerang kita dengan dusta, tetapi pe-risai iman itu melindungi kita dari serangan panah-panah api itu.

Panah api Iblis adakalanya datang sebagai angan-angan yang disuntikkan ke dalam pikiran kita. Angan-angan itu nampaknya adalah angan-angan kita sendiri, tetapi sebenarnya itu adalah angan-angan Iblis. Saya biasanya percaya bahwa angan-angan demikian adalah angan-angan saya sendiri. Kemudian baru saya mengerti bahwa angan-angan itu berasal dari Iblis. Saya menyadari hal ini setelah angan-angan semacam itu mendatangi saya terus, walaupun saya sudah menolaknya. Demikian-lah saya tahu bahwa angan-angan itu bukan angan-angan saya, melainkan angan-angan Iblis. Sebelum itu, yang saya lakukan ialah saya mengaku dosa kepada Tuhan atas adanya angan-angan itu. Sekarang saya menolak untuk mengaku dosa semacam itu. Tetapi, mungkin ada orang mengira sekalipun angan-angan itu berasal dari Iblis, namun itu dapat diinjeksikan ke dalam kita, karena kita jahat. Janganlah percaya akan hal demikian. Sebaliknya, Anda harus berkata, “Tuhan, aku orang yang telah jatuh, tetapi aku berada di bawah pembersihan-Mu. Iblis, ini adalah pikiranmu, dan kamulah yang harus bertanggung jawab. Aku tidak bertanggung jawab atasnya.” Namun de-mikian, karena hati nurani beberapa orang terlalu peka, maka mereka terus-menerus mengakui perkara yang di-timbulkan oleh Iblis. Jangan mau mengakui angan-angan yang disuntikkan Iblis ke dalam Anda dengan kelicikan-nya.

Untuk mempertahankan iman terhadap panah api Iblis, kita perlu memiliki satu roh yang tepat, serta satu hati nurani yang tidak bercela. Tetapi, iman terutama tidak berada dalam roh atau hati nurani kita, melainkan dalam tekad kita, yaitu bagian yang terkuat dari hati kita. Perjanjian Baru mengatakan bahwa kita percaya dengan hati kita (Rm. 10:10). Menurut pengalaman kita, iman dalam hati kita ini terutama berkaitan dengan penggunaan tekad kita. Tidak seorang pun yang tekadnya seperti ubur-ubur dapat memiliki iman yang perkasa. Dalam Yakobus 1:6 dikatakan, “orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin.” Orang yang demikian, tekadnya tidak menentu. Karena itu, jika kita ingin memiliki iman, kita perlu menggunakan tekad kita.

II. KETOPONG KESELAMATAN

Pada bagian pertama ayat 17, Paulus selanjutnya berkata, “Dan terimalah ketopong keselamatan . . .” Ini adalah untuk menudungi pikiran, mentalitas kita, terhadap pikiran-pikiran negatif yang ditambahkan ke dalam kita oleh si jahat. Ketopong, penudungan yang demikian, adalah keselamatan Allah. Iblis menyuntikkan ancaman-ancaman, kecemasan-kecemasan, kekhawatiran-kekhawatiran, dan pikiran-pikiran lain yang melemahkan ke dalam pikiran kita. Keselamatan Allah adalah penudung yang kita ambil untuk melawan semua hal ini. Keselamatan yang sedemikian adalah Kristus penyelamat, yang kita alami dalam hidup kita sehari-hari (Yoh. 16:33).

Panah api Iblis menyerang kita melalui pikiran kita. Karena itu, sebagaimana hati nurani kita perlu baju zirah kebenaran dan tekad kita perlu perisai iman, maka pikiran kita juga perlu ketopong keselamatan. Kita perlu realitas kebenaran, damai sejahtera, iman, dan keselamatan. Kebenaran menghasilkan damai sejahtera, dan damai sejahtera memberi kita tumpuan untuk beriman. Lalu iman mendatangkan keselamatan. Janganlah memisahkan ketopong keselamatan dari perisai iman. Perisai melin-dungi sisi muka kita, sedangkan ketopong melindungi ke-pala kita. Perisai dengan ketopong bekerja sama.

III. PEDANG ROH ITU

Dalam ayat 17 Paulus juga mengatakan tentang “pedang Roh, yaitu firman Allah”. Di antara keenam butir perlengkapan senjata Allah, hanya inilah yang kita gunakan untuk menyerang musuh. Dengan pedang ini kita dapat mencincang musuh hingga hancur lebur. Namun, kita tidak memegang pedang dulu; kita terlebih dulu mengenakan ikat pinggang, baju zirah, kasut, memegang perisai iman, dan ketopong keselamatan. Kemudian, setelah kita terlindungi seluruhnya dan memiliki keselamatan sebagai bagian kita, barulah kita bisa menerima pedang Roh itu.

Dalam ayat 17 jelas menunjukkan bahwa Roh itu adalah firman Allah. Baik Roh maupun firman adalah Kristus (2Kor. 3:17; Why. 19:13). Kristus sebagai Roh itu dan firman memperlengkapi kita dengan pedang sebagai senjata penyerang untuk mengalahkan dan membunuh si musuh. Kalau saya yang menulis ayat ini, saya akan mengatakan, “pedang firman Allah”. Tetapi Paulus mengatakan “pedang Roh (itu), yaitu firman Allah”. Pedang di sini adalah pedang Roh atau pedang firman? Kebanyakan pembaca mengira bahwa Paulus mengatakan pedang itu firman dan Roh itu yang menghunusnya. Bertahun-tahun lamanya pengertian saya atas ayat ini seperti itu. Saya pikir, yang menggunakan pedang adalah Roh itu, bukan saya. Dengan kata lain, menurut pengertian ini, pedang adalah firman, dan yang memakai pedang untuk membunuh musuh adalah Roh itu. Sejak muda saya diajarkan bahwa Roh itu membantu kita menggunakan firman Allah sebagai pedang. Akan tetapi, yang dimaksud di sini bukanlah demikian. Makna yang benar ialah Roh adalah pedang, bukan pemakai pedang. Firman Allah juga satu pedang. Pedang adalah Roh itu, dan Roh itu adalah firman. Di sini kita memiliki tiga benda yang menjadi satu: pedang, Roh itu, dan firman.

Masalah inilah yang menjadi beban saya yang utama dalam berita ini. Firman ialah Alkitab. Tetapi jika firman ini hanya sebagai huruf-huruf yang tercetak, firman itu bukan Roh dan pedang. Istilah firman dalam ayat 17 bahasa Yunaninya ialah rhema, yakni firman seketika yang diucapkan pada saat itu oleh Roh dalam situasi apa pun. Ketika logos, firman konstan dalam Alkitab menjadi rhema yang seketika, maka rhema ini adalah Roh itu. Rhema yang menjadi Roh itu, ialah pedang yang meremukkan musuh. Sebagai contoh, mungkin kita berulang-ulang membaca suatu ayat, tetapi hanya memilikinya sebagai logos saja, yaitu firman yang harfiah. Firman yang demikian tidak berdaya membunuh apa-apa. Akan tetapi, pada suatu hari, ayat ini menjadi rhema terhadap kita, yaitu pembicaraan yang sekarang, seketika, dan yang hidup. Pada waktu ini, rhema menjadi Roh itu. Karena itu, dalam Yohanes 6:63, Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan (firman-firman) yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Kata “perkataan” di sini bahasa Yunaninya juga rhema. Firman yang seketika dan sekarang ini ialah Roh itu; dan firman semacam ini merupakan pedang. Jadi, pedang, Roh itu, dan firman merupa-kan tiga hal yang menjadi satu. Tidak hanya demikian, kitalah yang memakai pedang itu untuk membunuh mu-suh, bukan Roh itu.

Dalam pengalaman kristiani kita, firman dan Roh itu harus selalu satu. Maka salah besar kalau kita mengatakan kita telah menerima Roh itu tanpa menerima firman. Tanpa menerima firman, kita tidak bisa memiliki Roh itu. Dalam kebanyakan pengalaman saya, saya menerima Roh melalui firman. Ketika saya berkontak dengan firman secara hidup, bagi saya firman itu menjadi Roh itu. Tetapi ada orang yang menerima Alkitab tanpa menerima Roh itu. Itu keliru. Orang yang ingin menanam bunga perlu benih dan hayat yang terkandung di dalamnya. Mustahillah kita memisahkan hayat dalam benih dari benih itu sendiri. Untuk memiliki hayat, kita harus menerima benih. Hubungan firman dengan Roh ibarat hubungan benih dengan hayat. Keduanya harus kita miliki. Tuhan Yesus adalah Roh dan firman. Ia bukan Roh yang tanpa firman, Ia pun bukan firman yang tanpa Roh.

Karena Ia adalah firman dan Roh itu, maka Ia menciptakan kita dengan satu pikiran untuk mengerti dan dengan satu roh untuk menerima. Bila kita datang kepada Alkitab, kita harus sekaligus melatih pikiran dan roh kita. Kita melatih pikiran melalui membaca dan melatih roh melalui berdoa. Karena kita perlu membaca dan berdoa, maka kita harus mendoa-bacakan firman. Saya dapat bersaksi, melalui doa-baca, roh saya menjadi perkasa dan siap untuk menelan musuh. Saya tidak hanya mela-tih roh saya, juga melatih pikiran untuk merenungkan firman. Sebagai contoh, saya mungkin bertanya, mengapa anugerah dan realitas disebut dalam pasal 4 sedangkan kasih dan terang disebutkan dalam pasal 5. Saya juga berdoa untuk itu. Semakin roh saya diperkuat dengan mendoa-bacakan firman, saya makin damba memakai pedang Roh itu untuk membunuh musuh. Dalam percakapan saya, saya mempunyai sebilah pedang untuk mencincang musuh hingga hancur lebur.

Dalam seluruh perlengkapan senjata Allah, ada realitas, kebenaran, damai sejahtera, iman, dan keselamatan. Terakhir, kita memiliki rhema, Roh itu, firman. Inilah senjata penyerang kita untuk menyerang musuh. Ketika kita mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, termasuk pedang itu, kita tidak saja terlindung, tetapi juga siap untuk berperang dengan musuh. Dengan memiliki realitas, kebenaran, damai sejahtera, iman, dan keselamatan, maka kita diperlengkapi, dilayakkan, diperkuat, dan diteguhkan untuk memakai pedang dalam peperangan rohani. Selanjutnya, musuh akan tunduk di bawah pedang kita yang menusuknya, dan ia akan kita bunuh.

Ketika kita melakukan peperangan rohani melawan musuh, kita tidak perlu menggunakan tipu daya, kepandaian, atau politik. Senjata kita satu-satunya ialah Roh-firman, yaitu pedang. Kita tidak dapat menggunakan kepandaian, melainkan menghunus pedang Roh itu. Pinggang kita mengenakan ikat pinggang realitas, hati nurani kita ditutup oleh Kristus sebagai kebenaran kita, dan kita memiliki damai sejahtera sebagai dasar tumpuan yang kokoh. Kita dapat memegahkan diri kepada alam semesta bahwa kita tidak ada masalah dengan Allah atau manusia, sebab kita sekarang berdiri di atas damai sejahtera yang digenapkan Kristus di atas salib. Tidak hanya demikian, kita juga dilindungi oleh perisai iman dan dijaga oleh ketopong keselamatan. Karena itu, ketika mendoa-bacakan firman, setiap kata akan menjadi rhema, yakni pedang yang menyembelih musuh. Demikianlah kemenangan kita miliki. Kita tidak saja menundukkan musuh dan mengalahkannya, juga menyembelihnya, bahkan mencincangnya menjadi serpihan. Itulah yang dimaksud melakukan peperangan rohani dengan seluruh perlengkapan senjata Allah. Gereja harus menjadi gereja yang diperlengkapi, yang berperang, dan yang menang sedemikian, agar musuh Allah terbunuh.