← Daftar isi Efesus (2) · bab 15/24

SELURUH PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH (1)

Dalam berita ini dan dalam berita berikutnya kita akan membahas butir-butir yang menyusun seluruh perlengkapan senjata Allah. Ketiga butir pertama — ikat pinggang, baju zirah, dan kasut — merupakan satu kelompok. Dengan ketiga butir ini kita dapat berdiri. Seiring dengan ketiga butir ini kita perlu mengambil perisai iman dan menerima ketopong keselamatan serta pedang Roh (Ef. 6:16-17).

Laskar-laskar zaman dulu berperang dengan sebuah perisai di satu tangan dan sebilah pedang di tangan yang lain. Perisai merupakan senjata pertahanan, sedang pedang adalah senjata penyerangan. Pada faktanya, dari ketujuh item, perlengkapan senjata Allah, hanya pedanglah senjata penyerangan, yang lain merupakan senjata pertahanan. Marilah kita membahas makna ikat pinggang, baju zirah, dan kasut lebih dulu.

I. IKAT PINGGANG KEBENARAN (TRUTH)

Bagian pertama dari 6:14 mengatakan, “Jadi berdiri-lah tegap, berikatpinggangkan kebenaran.” Mengikat pinggang berarti memperkuat seluruh diri kita. Seluruh diri kita perlu diperkuat dengan kebenaran. Penguatan ini bukan untuk duduk, melainkan untuk berdiri.

Menurut cara penggunaan kata “kebenaran” dalam pasal 4 (ayat 15, 21, 24, 25), di sini mengacu kepada Allah dalam Kristus sebagai realitas dalam hidup kita, yaitu Allah menjadi realitas dan pengalaman kita dalam hidup kita. Ini sebenarnya Kristus sendiri diperhidupkan oleh kita (Yoh. 14:6). Kebenaran atau realitas demikian adalah ikat pinggang yang menguatkan seluruh diri kita untuk peperangan rohani. Kehidupan kita harus mempunyai prinsip dan standar. Ini tidak lain berarti Allah sendiri diekspresikan secara riil dalam kehidupan kita. Ketika ada realitas yang mengikat pinggang kita, kita akan perkasa untuk berdiri.

Akan tetapi, misalnya kehidupan Anda sehari-hari jauh di bawah standar realitas seperti yang nyata dalam Yesus. Anda tidak saja akan tidak dapat berdiri dan bertahan pada hari yang jahat, malah akan melarikan diri. Jika dalam hidup sehari-hari Anda tidak ada kesaksian dan ekspresi Allah, Anda tidak akan memiliki kekuatan untuk berdiri melawan tipu muslihat Iblis. Kalau kehidupan sehari-hari kita kendur, mustahillah kita berdiri melawan kuasa kegelapan. Kalau kita ingin berdiri, kehidupan sehari-hari kita haruslah sesuai dengan prin-sip realitas dan mencapai standar realitas. Seperti telah kita tunjukkan, realitas adalah Allah sendiri terekspresi sebagai prinsip hidup sehari-hari kita, sebagai standar kehidupan sehari-hari kita, serta sebagai model kehidupan kita.

Orang-orang yang memiliki kehidupan demikian pasti mengenakan ikat pinggang realitas. Orang-orang ini dapat menghadapi serangan dan tentangan. Karena mereka berikatpinggangkan realitas, mereka dapat berdiri di hadapan penentang-penentang itu. Tetapi jika Allah tidak terekspresi dalam kehidupan dan perilaku kita sehari-hari, kita akan kehilangan ikat pinggang, dan kita tidak akan memiliki kekuatan untuk berdiri melawan musuh. Kita akan tidak berdaya menghadapi penentangan atau perselisihan.

Realitas yang kita pakai sebagai ikat pinggang untuk peperangan rohani sebenarnya ialah Kristus yang kita alami itu. Dalam Filipi 1:21 Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus”. Kristus yang diperhidupkan Paulus adalah ikat pinggang realitasnya. Kristus ini adalah Allah yang diekspresikan dan diwahyukan dalam hidup sehari-hari Paulus. Karena kehidupan sehari-hari Paulus telah diserupakan dengan model Kristus, maka ia memiliki kekuatan untuk menghadapi segala penentangan dan keadaan-keadaan yang bermusuhan. Karena Paulus telah berikatpinggangkan realitas, ia memiliki kekuatan untuk berdiri.

II. BAJU ZIRAH KEBENARAN (RIGHTEOUSNESS)

Dalam ayat 14 Paulus meneruskan, “Berbajuzirahkan kebenaran” (Tl.). Baju zirah kebenaran adalah untuk menutupi hati nurani kita, yang dilambangkan dengan dada. Iblis adalah pendakwa kita. Dalam berperang melawan dia kita perlu hati nurani yang tidak bercela. Tidak peduli betapa jernihnya hati nurani kita, menurut perasaan kita, hati nurani kita perlu ditudungi dengan baju zirah kebenaran. Menjadi benar berarti benar terhadap Allah dan manusia. Jika kita bersalah sedikit saja terhadap Allah atau manusia, Iblis akan mendakwa kita, dan hati nurani kita akan berlubang yang melaluinya segala iman dan keberanian kita akan bocor. Karena itu, kita perlu penudungan kebenaran untuk melindungi kita dari tuduhan si musuh. Kebenaran ini adalah Kristus (1Kor. 1:30).

Dalam hal apa saja jika kita tidak benar, hati nurani kita akan menjadi satu hati nurani yang bercela. Tetapi, jika kita ingin terjun dalam peperangan rohani, kita harus memiliki hati nurani yang tidak bercela, yakni satu hati nurani yang tanpa lubang. Bila hati nurani kita berlubang, iman kita akan bocor melalui lubang-lubang itu. Jika dalam hati nurani kita masih ada tuduhan dan cela, iman kita akan lenyap. Karena itu, kita wajib menanggulangi hati nurani kita, agar kita memiliki satu hati nu-rani yang baik, yang tidak bercela. Selain itu, kita harus mengenakan baju zirah kebenaran untuk menutupi hati nurani kita.

Setiap kali kita ingin melakukan peperangan rohani, Iblis, pendakwa itu, menyerang hati nurani kita. Pada waktu yang lain, ia tidak begitu mempersulit kita. Iblis tahu, bila hati nurani kita bercela. Ketika ia menuduh kita berkaitan dengan cela ini, kita segera menjadi lemah.

Wahyu 12:11 mengatakan, “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba”. Ditudungi oleh darah Anak Domba terutama berarti mengenakan baju zirah kebenaran. Kebenaran berada di dalam darah, dan penudungan darah adalah baju zirah. Walau hal ini agak sulit dijelaskan secara doktrinal, tetapi kita dapat memahaminya melalui pengalaman. Kapan saja kita ingin berperang melawan kuasa kegelapan, maka Iblis, melalui tuduhan-tuduhannya, membuat hati nurani kita menjadi sangat peka. Perasaan-perasaan demikian sebenarnya bukan kepekaan hati nurani itu sendiri, melainkan akibat dakwaan Iblis. Saat itu juga kita harus berkata, “Aku mengalahkan Iblis, si pendakwa, bukan oleh kesempurnaanku, juga bukan oleh suatu hati nurani yang tidak bercela, melainkan oleh darah Anak Domba. Aku melawan tuduhannya dengan baju zirah kebenaran.”

Kebenaran yang menudungi hati nurani kita dan yang melindungi kita dari dakwaan Iblis ialah Kristus sendiri. Dialah kebenaran kita. Jadi, Kristus ialah realitas yang menjadi ikat pinggang kita, Ia pun baju zirah kebenaran yang menudungi hati nurani kita. Kita tidak ditudungi oleh kebenaran diri sendiri, melainkan oleh Kristus sebagai kebenaran kita. Ada orang yang mungkin merasa heran, bagaimana baju zirah kebenaran dapat sekaligus berkaitan dengan Kristus dan darah. Kita tidak dapat memisahkan darah dari Kristus dalam pengalaman. Terpisah dari darah-Nya, Kristus tidak dapat menudungi kita; di bawah pembersihan darah-Nya, Ia menjadi kebenaran kita. Kapan saja kita ingin mengambil bagian dalam peperangan rohani ini, kita perlu berdoa, “Tuhan, tudungilah aku dengan diri-Mu sendiri sebagai kebenaran-ku. Tuhan, aku bersembunyi di bawah darah-Mu.” Tambahan pula, kita harus memberi tahu si pendakwa itu, “Iblis, aku mengalahkanmu bukan oleh jasaku, melainkan oleh darah Anak Domba yang menang.”

III. DASAR YANG TEGUH DARI

INJIL DAMAI SEJAHTERA

Ayat 15 mengatakan, “Kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera.” Kita memakai kasut, agar kita kuat berdiri dalam peperangan. Ini bukan untuk berjalan atau berlomba lari, tetapi untuk berperang.

Frase “kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera” dalam bahasa aslinya adalah “Dasar yang teguh dari Injil damai sejahtera”, ini berarti penetapan Injil damai sejahtera. Di atas salib, Kristus menjadi pendamaian bagi kita, baik dengan Allah maupun dengan manusia; dan damai sejahtera ini telah menjadi Injil kita (2:13-17). Injil damai sejahtera ini telah ditetapkan sebagai dasar yang teguh, sebagai kerelaan yang dengannya kaki kita boleh dikasutkan. Dengan dikasutkan demikian, kita akan memiliki pendirian yang teguh sehingga kita dapat berdiri menghadapi peperangan rohani. Damai sejahtera untuk dasar yang teguh ini juga adalah Kristus (2:14).

Kebanyakan terjemahan menerjemahkan kata Yunani ini sebagai “kerelaan” atau “persiapan”, bukan “dasar yang teguh”. Kerelaan atau persiapan itu menunjukkan kesiapan untuk mengenakan kasut. Banyak pembaca Kitab Efesus mengira dalam ayat 15 Paulus menyuruh kita selalu rela dan siap memakai kasut Injil. Tetapi pengertian ini tidak tepat, akibat penerjemahan yang tidak tepat.

Untuk memahami pikiran Paulus dalam ayat ini, perlulah kita melihat bahwa Injil di sini bukan Injil anugerah, bukan Injil pengampunan dosa, juga bukan Injil kekayaan Kristus yang tidak terduga, melainkan Injil damai sejahtera. Menurut Efesus 2:15-16, di atas salib Kristus telah menggenapkan damai sejahtera sehingga orang kafir dapat berkontak dengan kaum beriman Yahudi, dan kita semua dapat berkontak dengan Allah. Damai sejahtera ini adalah kabar kesukaan, berita yang baik. Dengan kata lain, ialah Injil. Sebab itu, Efesus 2:17 mengatakan bahwa Kristus memberitakan Injil damai sejahtera.

Kita juga harus memberitakan damai sejahtera ini sebagai Injil. Injil damai sejahtera yang tercantum dalam Efesus 6:15 ialah damai sejahtera yang digenapkan oleh Kristus di atas salib bagi kita, agar kita menjadi satu dengan Allah. dan agar kaum beriman kafir bersatu dengan kaum beriman Yahudi. Damai sejahtera ini adalah Injil kita. Pada damai sejahtera ini terdapat satu persiapan, kerelaan. Dalam istilah Yunaninya sebenarnya berarti dasar yang teguh. Dasar yang teguh ini ialah satu tumpuan kaki yang aman untuk kita berdiri. Karena itu, damai sejahtera yang dirampungkan Kristus di atas salib merupakan satu tumpuan kaki yang teguh, satu dasar yang kokoh. Ketika kita berperang melawan kekuatan-kekuatan jahat, damai sejahtera Kristus yang telah dirampungkan itu adalah satu dasar teguh untuk kaki kita. Untuk mengambil bagian dalam peperangan rohani, kaki kita haruslah berkasutkan dasar yang teguh ini.

Dulu kebanyakan di antara kita mengira bahwa kasut Injil ini untuk berjalan atau berlari dalam memberitakan Injil. Padahal, dasar teguh dari Injil damai sejahtera ini bukan untuk berlari, melainkan untuk berdiri. Untuk berlari, kita mungkin harus memakai sepasang kasut yang ringan, tetapi untuk berdiri, kita perlu sepasang sepatu yang kokoh.

Dalam peperangan, berdiri adalah perkara yang pen-ting dan menentukan. Kita harus dapat berdiri dan me-nahan serangan-serangan musuh. Orang yang kalah akan berlari, tetapi orang yang menang akan berdiri. Ketika kita berperang dengan musuh, kita akan mengetahui bahwa Iblis tidak melarikan diri. Bahkan walau kita telah mengalahkannya, ia tetap berperang melawan kita. Kare-na itu, kita harus dapat berdiri. Peperangan rohani bukan seperti pertandingan tinju, melainkan seperti pertandingan gulat. Kalau kita ingin bergumul melawan musuh, kita memerlukan tumpuan yang teguh. Haleluya, dalam pemulihan Tuhan kita mempunyai dasar yang demikian! Karena ada orang-orang yang kakinya berkasutkan dasar Injil damai sejahtera yang teguh ini, maka mereka dapat bertahan melawan setiap serangan musuh. Kalau mereka memiliki tumpuan yang demikian teguh, tidak ada apa pun yang dapat menggoncangkan mereka. Tidak peduli apa pun yang terjadi, mereka dapat tetap berdiri dan bertahan pada hari yang jahat ini.

Lazimnya, damai sejahtera berlawanan dengan peperangan. Bila kita ada damai sejahtera, tentu kita tidak berperang, dan bila kita berperang, tentu tidak ada damai sejahtera. Akan tetapi di sini kita berperang dengan damai sejahtera dan di dalam damai sejahtera. Kita berperang melalui berdiri dalam damai sejahtera. Jika di antara kita dengan Allah atau di antara kita dengan kaum beriman lainnya tidak ada damai sejahtera, kita akan kehilangan tumpuan itu. Kristus adalah damai sejahtera bagi kita, karena-Nya kita bersatu dengan Allah dan bersatu dengan kaum saleh. Damai sejahtera ini adalah da-sar yang teguh yang memungkinkan kita berdiri teguh melawan musuh.

Ketiga aspek dari perlengkapan senjata Allah yang dibahas dalam berita ini — ikat pinggang realitas, baju zirah kebenaran, dan dasar yang teguh Injil damai sejahtera — semuanya adalah Kristus sendiri. Ialah realitas kita, kebenaran kita, dan damai sejahtera kita. Kristus adalah Allah yang diekspresikan dan diwahyukan, Kristus adalah unsur kebenaran yang menutupi kita, dan Kristus adalah damai sejahtera yang memungkinkan kita berdiri. Karena itu, kita dapat berdiri dalam damai sejahtera untuk peperangan rohani. Bila kita ingin menang dalam peperangan rohani, perlulah Kristus menjadi ikat pinggang realitas kita, baju zirah kebenaran kita, dan damai sejahtera kita. Melalui Kristus yang demikianlah, kita akan memiliki kekuatan, naungan, dan tumpuan yang teguh. Kemudian barulah kita dapat berperang melawan musuh.