PEPERANGAN UNTUK MENANGGULANGI MUSUH ROHANI
Dalam berita ini kita akan melihat Efesus 6:10-20; satu bagian yang strategis dari kitab ini tentang pepe-rangan rohani. Seperti pernah kita lihat, dalam Kitab Efesus Paulus membahas berbagai aspek gereja. Istilah gereja dalam bahasa Yunani — ekklesia menyatakan suatu perhimpunan, suatu jemaah dari orang-orang yang terpanggil. Sebagai contoh, zaman dulu, ketika pembesar kota memanggil rakyat kota itu berhimpun untuk suatu pertemuan, pertemuan itu dikenal sebagai ekklesia. Gereja adalah satu perhimpunan yang demikian dari umat panggilan Allah. Dalam Efesus 1 Paulus mewahyukan bahwa gereja adalah Tubuh Kristus. Sebagaimana tubuh seseorang adalah perawakan dan ekspresinya, demikian pula gereja sebagai Tubuh Kristus adalah perawakan dan ekspresi Kristus. Sebagai Tubuh Kristus, gereja adalah kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu.
Dalam Efesus 2:10 Paulus menunjukkan bahwa gereja adalah “puisi” Allah, karya agung-Nya, tulisan puitis yang mengekspresikan keinginan hati pengarangnya. Dalam pasal ini Paulus selanjutnya menunjukkan bahwa gereja adalah manusia baru yang korporat yang diciptakan dalam Kristus Yesus, kawan sewarga Allah, dan keluarga Allah. Tambahan pula, dalam pasal ini, gereja adalah tempat kediaman Allah (ayat 22).
Dalam Efesus 3:4 Paulus membicarakan rahasia Kristus. Rahasia Allah ialah Kristus, dan rahasia Kristus ialah gereja. Sebagai rahasia Allah, Kristus ialah definisi Allah. Seprinsip dengan itu, sebagai rahasia Kristus, gereja adalah definisi Kristus.
Dalam Efesus 3:19 Paulus memakai istilah “kepenuhan Allah”. Istilah ini mirip dengan ungkapan “kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (1:23). Kepenuhan Allah terutama ditujukan kepada sumbernya, sedang kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu terutama ditujukan kepada hasilnya. Sebagai contoh, kepenuhan Allah ibarat sebuah mata air, sedang kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu ibarat anak sungai yang mengalir dari mata air. Gereja sekaligus menjadi kepenuhan Allah dan kepenuhan Kristus yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu.
Dalam pasal 4 Paulus sekali lagi membicarakan tentang manusia baru (ayat 24). Pasal 2 membahas penciptaan manusia baru, namun tidak membahas kehidupan manusia baru. Manusia baru tersusun dari dua macam orang: orang beriman Yahudi dan orang beriman kafir. Tentang kehidupan manusia baru, pasal 4 membahas prinsipnya dan perinciannya. Prinsipnya berkaitan dengan realitas yang nyata dalam Yesus, cetakan yang dibangun oleh kehidupan Yesus di bumi, sedang perinciannya berkaitan dengan anugerah Allah. Oleh anugerah, manusia baru ini melaksanakan kehendak kekal Allah.
Dalam pasal 5 dan 6 kita melihat dua aspek lebih lanjut tentang gereja: mempelai perempuan yang memuaskan kedambaan Kristus dan pejuang yang mengalahkan musuh Allah. Selaku mempelai perempuan, gereja perlu kasih dan terang; selaku pejuang, gereja perlu kekuatan dan seluruh perlengkapan senjata Allah.
I. SISI NEGATIF DARI KEWAJIBAN GEREJA
Dari kedua belas aspek gereja yang dibahas dalam Kitab Efesus, aspek-aspek utamanya ialah: manusia baru, mempelai perempuan, dan pejuang. Manusia baru mencakup aspek Tubuh, dan Tubuh mencakup kepenuhan dan tempat kediaman. Karena itu, kesepuluh aspek pertama gereja itu tercakup dalam manusia baru yang menggenapkan kehendak kekal Allah dan yang melaksanakan ekonomi-Nya. Manusia baru ini dipakai Allah Tritunggal untuk merampungkan apa yang Ia rencanakan dalam kekekalan lampau (azali) untuk kekekalan yang akan datang (abadi). Namun, walaupun rencana Allah telah digenapkan oleh manusia baru, kedambaan Kristus tetap perlu dipuaskan, dan musuh Allah tetap perlu dikalahkan. Karena itu, gereja perlu menjadi mempelai perempuan juga pejuang.
Bagian dari Efesus 1:1 hingga 6:9 menggenapkan wahyu pada sisi positif tentang gereja menggenapkan tujuan kekal Allah. Tetapi pada sisi negatif, tentang gereja menanggulangi musuh Allah, lebih banyak lagi yang perlu dibahas. Dalam kelima pasal pertama, pada sisi positifnya, gereja dilukiskan dalam berbagai cara untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Pada sisi negatif, gereja dalam pasal 6 diperlihatkan sebagai pejuang, untuk mengalahkan musuh Allah, Iblis. Untuk itu, gereja harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah.
Pada tahun 1928 Saudara Watchman Nee mengadakan sidang istimewa pemenang yang pertama mengenai “Peperangan Rohani”. Dalam sidang istimewa kali itu, Iblis, si jahat, telah ditelanjangi habis-habisan. Saudara Watchman Nee menegaskan bahwa dalam alam semesta ada tiga kemauan: kemauan Allah, kemauan Iblis, dan kemauan manusia. Jika kita ingin mengetahui bagaimana gereja dapat menjadi pejuang Allah untuk terjun ke dalam peperangan rohani, kita harus mengetahui ketiga kemauan ini. Kemauan Allah yang swa-ada bersifat kekal, dan bukan ciptaan. Sebagai makhluk ciptaan, para malaikat juga mempunyai satu kemauan. Satu di antara malaikat-malaikat ini, penghulu malaikat, ditunjuk Allah untuk menguasai alam semesta yang sudah ada sebelum Adam tercipta. Karena posisinya yang tinggi dan keelokannya, penghulu malaikat ini menjadi sombong. Kesombongan ini membangkitkan keinginan jahat, yang menjadi kemauan Iblis. Karena itu, di samping ada kemauan Allah, kehendak Allah, ada pula kemauan yang kedua, kehendak yang kedua karena sekarang kemauan Iblis itu berlawanan dengan kemauan Allah.
Semua peperangan bersumber pada konflik dari kemauan-kemauan itu. Sebelum kemauan Iblis bangkit melawan kemauan Allah, tidak ada peperangan di alam semesta ini. Persengketaan dalam alam semesta ini dimulai dari pemberontakan penghulu malaikat melawan Allah. Pemberontakan itu merupakan permulaan seluruh peperangan yang sekarang terjadi di antara bangsa-bangsa, masyarakat, keluarga, dan perorangan. Sepanjang sejarah telah terjadi peperangan antar bangsa, kelompok, dan perorangan, bahkan di dalam batin pribadi. Sebagai contoh, Anda mungkin mengalami suatu peperangan batin antara akal Anda dengan hawa nafsu Anda. Berbagai peperangan itu semua bersumber pada pertikaian antara kemauan Allah dengan kemauan Iblis.
Kita tidak tahu berapa lamanya waktu di antara pemberontakan Iblis dengan penciptaan Adam. Kita hanya tahu pada suatu waktu, Allah menciptakan manusia dan memberinya satu kemauan insani yang bebas. Karena Allah itu agung, Ia memberi manusia satu kemauan yang bebas. Seorang yang agung tidak pernah memaksa siapa pun untuk mengikutinya. Dengan memberi manusia satu kemauan yang bebas, Allah menunjukkan bahwa Ia tidak akan memaksa manusia mematuhi-Nya. Ketika saya masih muda, saya mengira tidaklah bijaksana bila Allah menciptakan manusia dengan memberinya kemauan bebas. Jika saya adalah Allah, saya akan membuat manusia tidak mungkin mempunyai pilihan. Saya akan menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga ia hanya dapat mengikuti Allah semata. Akan tetapi, dalam keagungan-Nya, Allah telah mengaruniakan kebebasan memilih kepada manusia.
Dalam Kejadian 2 kita nampak betapa manusia bebas menggunakan kemauannya untuk memakan pohon hayat atau pohon pengetahuan baik dan jahat. Kedua pohon itu masing-masing mewakili kemauan Allah dan kemauan Iblis. Jadi, di dalam taman itu terdapat situasi segi tiga: pohon hayat mewakili kemauan Allah, pohon pengetahuan mewakili kemauan Iblis, dan Adam mewakili kemauan manusia. Sebenarnya, pohon hayat menunjukkan Allah itu sendiri, dan pohon pengetahuan mengacu kepada Iblis. Karena itu, ada tiga persona — Allah, Iblis, dan manusia — dengan kemauannya masing-masing.
Meskipun ada tiga kemauan, tetapi peperangannya hanya melibatkan dua pihak — Allah dan Iblis. Pokok persoalannya yang penting dan menentukan ialah apakah manusia memilih kemauan Allah atau kemauan Iblis. Kalau kemauan manusia memihak kemauan Allah, maka kemauan Allah tentu akan tercapai. Tetapi, jika kemauan manusia memihak kemauan Iblis, kemauan Iblislah yang akan terlaksana; setidaknya untuk sementara. Seperti kita semua ketahui, kemauan manusia memihak kemauan Iblis. Ini berarti manusia memilih mengikuti Iblis dan memihak kemauan Iblis. Karena itu, Iblis menang untuk sementara waktu.
Namun, melalui pertobatan, manusia dapat beralih dari kemauan Iblis kepada kemauan Allah, dari pihak Iblis ke pihak Allah. Perintah pertama dalam Injil ialah bertobat. Dua perintah berikutnya ialah percaya dan dibaptis. Orang dosa yang mana pun yang damba beroleh selamat harus mematuhi ketiga perintah ini. Ia harus bertobat kepada Allah, percaya kepada Tuhan Yesus, dan dibaptis dalam air. Bertobat berarti beralih dari kemauan Iblis kepada kemauan Allah. Sejak lahir, kemauan kita telah memihak kemauan Iblis. Ini dikarenakan kita berada di dalam Adam ketika ia memilih kemauan Iblis, dan bukan memilih kemauan Allah.
Banyak orang Kristen tidak mengetahui makna pemberitaan Injil yang sebenarnya. Alkitab mengatakan bahwa kita harus bertobat demi kerajaan (Mat. 4:17). Kerajaan Allah sebenarnya merupakan pelaksanaan kemauan Allah. Ketika orang dosa bertobat demi Kerajaan Allah, mereka beralih dari pihak Iblis ke pihak Allah, yaitu Kerajaan Allah, kemauan Allah. Setelah seseorang beralih dari kemauan Iblis ke kemauan Allah, ia harus percaya kepada Tuhan Yesus dan dibaptis. Melalui pembaptisan, ia dibawa keluar dari kuasa kegelapan, kemauan Iblis, dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Putra Allah yang terkasih (Kol. 1:13).
Sejak hari keselamatan kita, kehidupan kristiani kita merupakan kehidupan peperangan. Hal itu sama seperti pengalaman orang Israel setelah mereka keluar dari Me-sir. Setelah makan Paskah, mereka berbaris laksana pasukan tentara keluar dari tanah Mesir. Ini menunjukkan bahwa makan Paskah adalah suatu persiapan untuk pe-perangan. Mereka diselamatkan dalam suasana peperang-an. Begitu mereka keluar dari Mesir, peperangan dimulai. Firaun dan kereta perangnya mengejar orang Israel, tetapi Allah datang berperang bagi mereka. Setelah bani Israel menyeberangi Laut Merah dan setelah tentara Firaun tenggelam, umat Allah memuji-Nya dengan pujian kemenangan karena kemenangan-Nya atas musuh. Orang-orang Israel ini terus berperang sepanjang perjalanan mereka di padang gurun, dan mereka terus berperang di tanah permai. Jadi, sejarah mereka mewahyukan bahwa kehidupan orang yang beroleh selamat adalah satu kehidupan yang berperang.
Kita telah nampak bahwa sebagai manusia baru, gereja harus hidup menurut realitas dan oleh anugerah, dan sebagai mempelai perempuan, gereja harus hidup dalam kasih dan terang. Tetapi, tidak saja kehendak ke-kal Allah harus rampung, kedambaan hati Kristus harus dipuaskan, musuh Allah pun harus dikalahkan. Untuk inilah maka gereja harus menjadi satu pejuang. Bahkan, dalam Kidung Agung kita nampak ketika pencari Tuhan itu menikmati penyertaan Tuhan, peperangan juga sedang berlangsung. Karena itu, kita hidup menurut realitas dan oleh anugerah, kita hidup dalam kasih dan terang, dan kita pun berperang untuk menundukkan kemauan Iblis. Perilaku kita adalah untuk kegenapan kehendak Allah, kehidupan kita adalah untuk kepuasan Kristus, dan peperangan kita adalah untuk menaklukkan musuh Allah. Untuk ketiga perkara inilah gereja harus menjadi manusia baru, mempelai perempuan, dan pejuang.
II. BEROLEH KEKUATAN
Efesus 6:10 mengatakan, “Akhirnya, hendaklah ka-mu kuat (dikuatkan Tl.) di dalam Tuhan, di dalam ke-kuatan kuasa-Nya.” Istilah Yunani yang diterjemahkan “dikuatkan” di sini memiliki akar yang sama seperti kata kuasa dalam 1:19. Untuk menanggulangi musuh Allah, berperang melawan kuasa-kuasa gelap yang jahat, kita perlu dikuatkan dengan kekuatan kuasa yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di surga, jauh melampaui semua roh jahat di udara. Fakta kita beroleh kekuatan di dalam Tuhan menunjukkan bahwa dalam peperangan rohani melawan Iblis dan kerajaannya yang jahat, kita hanya dapat berperang di dalam Tuhan, bukan di dalam diri kita sendiri. Bila kita berada di dalam diri kita sendiri, kita kalah.
Perintah agar kita dikuatkan menyiratkan perlunya kita menggunakan tekad kita. Jika kita ingin beroleh kekuatan untuk peperangan rohani, tekad kita harus perkasa dan terlatih. Kita tidak boleh seperti ubur-ubur yang lemah tekadnya dan yang bimbang terombang-ambing. Pada hakekatnya, orang yang bertekad kuat yang paling mudah bertobat. Lihatlah Saulus dari Tarsus. Tatkala ia hendak pergi ke Damsyik dengan maksud menangkapi semua orang yang menyeru nama Tuhan Yesus, ia malah ditangkap oleh Tuhan. Karena memiliki tekad yang kuat, maka Saulus dapat memiliki pertobatan yang kuat.
Kecuali memelihara hati nurani kita, Allah pun berdaulat memelihara tekad kita. Jika tidak, pemberitaan Injil tidak akan memiliki dampak. Mungkin kita akan salah paham, mengira memberitakan Injil kepada orang yang kuat kemauannya itu tidak mudah. Tetapi menurut pengalaman saya, kebanyakan orang yang beroleh selamat melalui penginjilan saya justru adalah mereka yang bertekad atau berkemauan kuat dan berkeinginan teguh. Kemauan yang demikianlah yang dapat berfungsi secara positif dalam hal pertobatan. Pertobatan memerlukan penggunaan tekad. Demikian pula, masalah dikuatkan juga berkaitan dengan kemauan kita.
Pada hari Pentakosta, Petrus menyuruh orang-orang diselamatkan dari angkatan yang bengkok (Kis. 2:40). Perintah ini nampaknya bersifat aktif juga pasif. Kata “menyuruh” menyiratkan suatu perkara yang aktif, sedang kata “diselamatkan” mengandung arti pasif. Demikian pula perintah Paulus dalam Efesus 6:10 tentang keharusan dikuatkan. Unsur aktif “hendaklah” bergabung dengan unsur pasif “dikuatkan”. Kita perlu menggunakan kemau-an kita untuk dikuatkan di dalam Tuhan.
Dalam pasal 4 kita nampak bahwa kita harus diperbarui (ayat 23) dan dalam pasal 5, kita harus merendahkan diri atau mematuhi (5:21). Untuk manusia baru, kita perlu diperbarui; untuk mempelai perempuan, kita perlu patuh; sedang untuk pejuang, kita perlu dikuatkan. Sebagai pejuang, kita harus terjun ke medan perang laksana singa, bukan seperti seorang pria tampan atau mempelai perempuan yang terkasih. Karena itu, untuk manusia baru, mempelai perempuan, dan pejuang, kiranya kita diperbarui, patuh, dan dikuatkan.
Fakta bahwa kita perlu dikuatkan di dalam Tuhan, menunjukkan kita tidak dapat melakukan peperangan rohani di dalam diri sendiri, kita hanya dapat berperang di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan kuasa-Nya. Dalam Efesus 6:10 Paulus menunjukkan kekuatan dan kuasa. Pertama-tama, kita dikuatkan oleh kuasa yang membang-kitkan Kristus dari antara orang mati dan mengangkat-Nya menjadi Kepala atas segala sesuatu, kemudian barulah kita mengenal kekuatan dan kuasa Allah.
III. MENGENAKAN SELURUH PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH
Ayat 11 diawali dengan kata-kata: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah.” Untuk melakukan peperangan rohani, kita tidak hanya perlu kuasa Tuhan, tetapi juga perlengkapan senjata Allah. Senjata-senjata kita tidaklah berarti, tetapi senjata Allah, bahkan seluruh perlengkapan senjata Allah baru berkuasa.
Seluruh perlengkapan senjata Allah adalah untuk seluruh Tubuh Kristus, bukan untuk anggota Tubuh Kristus individu mana pun. Gereja adalah pejuang yang korporat, dan kaum beriman adalah bagian dari pejuang unik ini. Hanya pejuang yang korporat, bukan orang beriman yang individu, dapat mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Kita harus melakukan peperangan rohani dalam Tubuh, bukan sebagai individu-individu.
Nasihat untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah merupakan kata yang berbentuk perintah, yaitu satu komando. Allah telah menyediakan perlengkapan senjata itu bagi kita, tetapi Ia tidak mengenakannya bagi kita. Kita sendirilah yang harus mengenakannya. Untuk ini, kita perlu dikuatkan. Walau Allah dapat menguatkan kita, kita tetap harus melatih tekad kita untuk bekerja sama dengan-Nya. Seprinsip dengan itu, kita harus bekerja sama dengan perintah Allah untuk mengenakan perlengkapan senjata itu.
IV. DAPAT BERTAHAN MELAWAN TIPU MUSLIHAT IBLIS
Kita perlu mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya “kita dapat bertahan” (ayat 11). Kata “bertahan” dalam pasal 6 sangat penting dan menentukan. Dalam pasal 2 kita duduk dengan Kristus di surga (ayat 6), dan dalam pasal 4 dan 5, kita hidup dalam Tubuh-Nya di bumi (4:1, 17; 5:2, 8, 15). Kemudian dalam pasal 6 kita bertahan (berdiri) dalam kuasa-Nya di surga. Duduk bersama dengan Kristus adalah mengambil bagian dalam semua pencapaian-Nya, hidup dalam Tubuh-Nya adalah menggenapkan tujuan kekal Allah; dan berdiri dalam kuasa-Nya adalah berperang melawan musuh Allah.
Dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Tipu muslihat ini adalah rencana jahat Iblis. Iblis tidak saja mempunyai satu kemauan yang jahat, ia pun mempunyai tipu muslihat licik untuk melaksanakan kemauannya. Bahkan sekarang Iblis sedang sibuk bekerja dan merencanakan untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang jahat dan licik itu.
V. PERJUANGAN KITA
A. Bukan Melawan Darah dan Daging
Dalam ayat 12 Paulus melanjutkan, “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Darah dan daging mengacu kepada manusia. Di belakang manusia yang berdarah dan berdaging ada kuasa jahat Iblis, yang berlawanan dengan tujuan Allah. Karena itu, perjuangan kita, peperangan kita bukanlah melawan manusia, tetapi melawan kuasa jahat rohani di udara.
Dalam pemulihan Tuhan kita harus mengenal bahwa peperangan rohani bukanlah suatu peperangan melawan manusia. Sekalipun manusia menyebabkan kerusakan terhadap pemulihan, namun kita tidak boleh berperang melawan mereka. Di belakang dan di atas mereka ada kuasa jahat. Sebagai contoh: ketika Saulus dari Tarsus menganiaya gereja, ia berada di bawah pengaruh kuasa kegelapan. Alasan beberapa orang dan organisasi agama menentang pemulihan Tuhan adalah karena mereka diperalat oleh kuasa jahat yang ada di atas dan di belakang mereka.
B. Melawan Pemerintah-pemerintah, Penguasa
penguasa, Kuasa-kuasa Dunia,
dan Roh-roh Jahat
Pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, dan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini adalah malaikat-malaikat yang memberontak, yang mengikuti Iblis dalam pemberontakannya melawan Allah, dan yang sekarang berkuasa di udara atas bangsa-bangsa di dunia, seperti pemimpin orang Persia dan pemimpin orang Yunani dalam Daniel 10:20. Ini menunjukkan bahwa si Iblis, Satan, memiliki kerajaannya yang gelap (Mat. 12:26; Kol. 1:13), yang di dalamnya dia menduduki posisi tertinggi, dan malaikat-malaikat yang memberontak berada di bawahnya.
“Yang gelap ini” mengacu kepada dunia hari ini, yang sepenuhnya berada di bawah penguasaan Iblis yang gelap, yang berkuasa melalui malaikat-malaikat jahatnya. Kuasa-kuasa dunia yang gelap ini ialah pemimpin-pemimpin yang telah dilantik Iblis untuk menguasai berbagai bangsa. Berdasarkan Kitab Daniel, bangsa Yahudi adalah satu-satunya bangsa yang tidak berada di bawah kuasa Iblis. Bangsa atau negara ini dikuasai oleh Mikhael, penghulu malaikat yang berperang demi bangsa Israel. Namun segenap bangsa kafir telah dikuasai oleh malaikat-malaikat jahanam dan pemberontak di bawah pemerintahan Iblis. Karena itu, dalam pandangan Allah, kegelapan menutupi bumi dan memenuhi atmosfir sekitar bumi. Hanya Allah sendirilah yang tinggal dalam terang. Karena pekerjaan Iblis, penguasa kegelapan, bumi dan atmosfirnya telah menjadi “yang gelap ini”.
Dalam ayat 12, Paulus juga membicarakan, “roh-roh jahat di udara”. Udara di sini ditujukan kepada angkasa (2:2). Iblis dan kuasa-kuasa jahat rohaninya berada di angkasa. Tetapi kita didudukkan di langit tingkat ketiga, di atas mereka (2:6). Dalam peperangan, kedudukan di atas musuh secara strategis sangatlah penting. Iblis dan kuasa jahatnya berada di bawah kita, dan mereka ditak-dirkan untuk kita kalahkan.
Kita perlu berkali-kali diingatkan bahwa peperangan kita bukanlah melawan manusia, melainkan roh-roh jahat, kuasa-kuasa rohani yang di angkasa. Malaikat-malaikat pemberontak ialah roh-roh jahat dalam Kerajaan Iblis. Jadi, peperangan antara gereja dengan Iblis merupakan peperangan antara kita yang mengasihi Tuhan dan yang berada di dalam gereja-Nya dengan kekuatan-kekuatan jahat yang di angkasa. Kelihatannya, manusia yang berdaging dan darahlah yang merusak gereja, padahal Iblis dan malaikat-malaikatnya yang jahat itulah yang bekerja di balik orang-orang yang menyebabkan kerusakan. Karena itu, kita harus berperang melawan kekuatan-kekuatan rohani itu.
VI. DAPAT MENGADAKAN PERLAWANAN
PADA HARI YANG JAHAT
Ayat 13 mengatakan, “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat menga-dakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” Dalam ayat 11 kita telah disuruh mengenakan perleng-kapan senjata Allah, dan dalam ayat 13 kita disuruh mengambilnya. Kita telah melihat bahwa perlengkapan senjata Allah dipersiapkan dan disediakan oleh Allah bagi kita. Namun, kita perlu mengambilnya dan mengenakannya; kita perlu memakai dan menggunakan persediaan Allah. Beberapa barang dari perlengkapan senjata, seperti pedang dan perisai, perlu kita ambil. Tetapi barang lainnya, seperti baju zirah, ketopong, dan kasut, perlu kita kenakan. Entah kita mengenakan atau mengambil atau memegang seluruh perlengkapan senjata Allah itu, kita harus melatih tekad kita secara perkasa.
Paulus khusus menyebut, “Seluruh perlengkapan senjata Allah”, tidak hanya sebagian atau beberapa bagiannya saja. Untuk peperangan rohani, kita perlu seluruh perlengkapan senjata. Hal ini memerlukan Tubuh Kristus, tidak cukup orang-orang beriman secara individu.
Dengan mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah, barulah kita dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat. Mengadakan perlawanan adalah berdiri menentang. Berdiri itu penting dalam peperangan. Dalam Efesus 5:16 dikatakan bahwa hari-hari ini adalah jahat. Dalam zaman yang jahat ini (Gal. 1:14), setiap hari adalah hari yang jahat, karena Iblis, si jahat, sedang bekerja setiap hari.
VII. TETAP BERDIRI SESUDAH
MENYELESAIKAN SEGALA SESUATU
Paulus menyimpulkan ayat 13 dengan kata-kata, “Tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” Dalam peperangan kita perlu berdiri sampai akhir. Setelah menyelesaikan segala sesuatu, kita masih harus berdiri. Seperti akan kita lihat dalam dua berita berikutnya, ayat 14-16 merupakan suatu penjelasan yang menggambarkan bagaimana kita harus berdiri.