← Daftar isi Efesus (2) · bab 13/24

HUBUNGAN ANTARA ANAK-ANAK DENGAN ORANG TUA DAN ANTARA HAMBA DENGAN TUAN DALAM KEHIDUPAN KAUM BERIMAN

Melalui pengudusan, pembasuhan, perawatan, dan pengasuhan, Kristus akan memperoleh satu gereja yang mulia sebagai mempelai perempuan-Nya. Seperti halnya Hawa berasal dari Adam dan kembali kepada Adam menjadi satu daging, begitu pula gereja berasal dari Kristus dan akan kembali kepada Kristus menjadi satu roh dengan-Nya. Allah ingin agar gereja yang berasal dari Kristus dan kembali kepada Kristus akan menjadi satu gereja yang mulia, satu gereja yang mengekspresikan Allah dan menyatakan Dia. Melalui pengudusan, pembasuhan, perawatan, dan pengasuhan, gereja sedang dijenuhi dengan esens Allah. Dengan jalan ini gereja akan menjadi mempelai perempuan untuk mengekspresikan Kristus. Setiap gereja lokal hari ini harus menjadi satu ekspresi Allah yang sedemikian.

Gereja yang mulia, gereja yang mengekspresikan Allah, harus pula menjadi kudus tanpa cacat. Sebagai gereja yang kudus, ia harus lebih dulu terpisah dari setiap perkara yang umum dan kemudian dijenuhi dan diresapi oleh unsur Allah.

Untuk menjadi tanpa cacat, gereja harus tanpa campuran. Menjadi kotor itu satu perkara, mengandung campuran di dalam diri kita itu perkara yang lain. Kita perlu murni dan tanpa campuran. Tanpa campuran berarti dalam batin kita tidak ada sesuatu yang lain kecuali Allah. Misalkan kita menyukai batu permata yang di dalamnya tidak terdapat unsur atau zat asing. Pada suatu hari gereja tidak saja akan menjadi bersih dan murni, juga menjadi tanpa cacat dan campuran; gereja akan sepenuhnya menjadi perbauran Allah Tritunggal dengan keinsanian yang dibangkitkan, ditinggikan, dan ditransformasi. Supaya Kristus dapat memperoleh satu gereja yang sedemikian, sekarang kita sedang mengalami pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pengasuhan-Nya.

Empat pasal pertama Kitab Efesus membahas penggenapan kehendak kekal Allah. Untuk ini Allah memerlukan manusia baru yang universal, gereja sebagai manusia yang dewasa penuh dalam pasal 4. Dalam hubungan ini, manusia baru adalah aspek gereja yang tertinggi. Dari gereja sebagai perhimpunan (kumpulan orang) kita maju kepada gereja sebagai keluarga Allah, kemudian kepada gereja sebagai Tubuh, dan terakhir kepada gereja sebagai manusia yang dewasa penuh.

Seiring dengan kebutuhan tergenapnya kehendak Allah, perlu pula Kristus beroleh kepuasan. Dalam Kristus ada keinginan, hasrat yang dalam untuk beroleh kepuasan. Hanya gereja yang menjadi mempelai perempuan yang dapat memuaskan hasrat dalam hati Kristus itu.

Bahkan dalam hubungan antara suami dan istri, istri harus memperhatikan kepuasan suaminya, tidak hanya melakukan perkara-perkara tertentu bagi suaminya. Sebelum penciptaan Hawa, Alkitab menerangkan, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej. 2:18). Karena itu, perempuan diciptakan untuk memenuhi kepuasan laki-laki. Berdasarkan Alkitab, kepuasan seorang pria tergantung pada wanita. Dalam Efesus 5 Paulus mempersembahkan gereja sebagai mempelai perempuan bagi kepuasan Kristus. Seperti telah kita lihat, apa yang diperlukan gereja untuk menjadi mempelai perempuan bukan hanya realitas dan anugerah, tetapi juga kasih dan terang.

Gereja yang menjadi manusia baru bagi penggenapan kehendak Allah dan mempelai perempuan bagi kepuasan hasrat hati Kristus, juga pejuang untuk menaklukkan musuh Allah. Melalui peperangan rohani gereja sebagai pejuang, maka problem Allah tentang musuh telah selesai. Jika gereja ingin menjadi pejuang yang menaklukkan musuh, ia harus perkasa dan memiliki perlengkapan senjata dari Allah. Jadi, gereja adalah manusia baru untuk penggenapan kehendak Allah, mempelai perempuan untuk kepuasan Kristus, dan pejuang untuk mengalahkan musuh Allah.

Antara bagian gereja sebagai mempelai perempuan (5:22-33) dengan gereja sebagai pejuang (6:10-20) kita dapati 6:1-9, yang membicarakan hubungan antara anak-anak dengan orang tua dan antara para hamba dengan para tuan. Jika kita mengabaikan bagian firman ini, kita tidak dapat menjadi mempelai perempuan dan pejuang yang tepat.

I. HUBUNGAN ANTARA ANAK-ANAK

DAN ORANG TUA

A. Anak-anak

Ayat 1 mengatakan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar.” Dalam menasihati anak-anak dan para orang tua, rasul terlebih dulu menanggulangi anak-anak, karena pada umumnya kesulitan datang dari anak-anak.

Menurut bahasa aslinya, dalam ayat ini Paulus tidak hanya mengatakan “anak-anak”, tetapi “anak-anak ini” (Tl.). Dengan memakai kata sandang tentu, Paulus menunjukkan bahwa anak-anak kaum beriman tidak sama dengan anak-anak umum; mereka berbeda dengan anak-anak orang dunia. Jadi, anak-anak dalam keluarga kaum beriman dinasihati untuk taat kepada orang tua mereka di dalam Tuhan.

Frase “di dalam Tuhan” ini menunjukkan bahwa anak-anak perlu menaati orang tua mereka (1) dengan bersatu dengan Tuhan, (2) bukan dengan diri mereka sendiri tetapi dengan Tuhan, dan (3) bukan menurut konsepsi alamiah mereka tetapi menurut firman Tuhan. Anak-anak kaum beriman harus menyadari bahwa mereka harus menaati orang tua melalui bersatu dengan Tuhan. Lagi pula, mereka harus menaati orang tua bukan bersandar pada kekuatan mereka sendiri, melainkan ber-sandar pada Tuhan. Ketaatan mereka adalah menurut perkataan Tuhan, yaitu menurut Alkitab.

Dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa anak-anak menaati orang tua mereka di dalam Tuhan itu benar. Kata “benar” dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan “adil”, “sepatutnya”. Jadi, menaati orang bukan hanya benar, tetapi juga adil bagi anak-anak.

Dalam ayat 2 dan 3 Paulus melanjutkan: “Hormati-lah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” Ini bu-kan hanya perintah yang penting dengan suatu janji, tetapi juga perintah pertama mengenai hubungan manusia dengan manusia (Kel. 20:12). Janji yang tercantum dalam ayat 3, ialah agar anak-anak berbahagia dan panjang umur di bumi. Berbahagia adalah menjadi makmur dalam berkat-berkat materi; juga ditujukan kepada hidup dalam situasi yang damai sentosa. Hidup lama adalah memiliki umur yang panjang. Berdasarkan perintah ini, kemakmuran dan umur yang panjang adalah berkat-berkat Allah dalam hidup ini bagi mereka yang menghormati orang tua mereka.

Menghormati berbeda dengan menaati. Menaati adalah suatu tindakan, menghormati adalah suatu sikap. Ada kemungkinan anak-anak menaati orang tua mereka tanpa menghormati mereka. Untuk menghormati orang tua mereka, anak-anak perlu sikap menghormati, roh yang menghormati. Semua anak perlu belajar menaati orang tua mereka, juga menghormati mereka.

Jika kita mau panjang umur di bumi ini, kita perlu menghormati orang tua kita. Orang yang tidak dapat menghormati orang tua berarti bunuh diri secara perlahan-lahan. Mereka sebenarnya memperpendek hidup mereka di bumi ini. Jika Anda mengharap hari-hari Anda lebih panjang, belajarlah menaati orang tua Anda dengan sikap hormat. Dalam Alkitab inilah syarat unik untuk bisa panjang umur. Siapa yang ingin panjang umur, hendaklah memenuhi syarat ini.

B. Bapa-bapa

Dalam ayat 4 Paulus beralih kepada bapa-bapa, “Dan kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Membangkitkan kemarahan atau memancing amarah di dalam hati anak-anak akan merusak mereka dengan membangkitkan daging mereka. Orang tua yang memarahi anak-anak akan selalu merugikan. Karena itu, saya mengusulkan agar para orang tua tidak marah-marah ketika menanggulangi anak-anak mereka. Agar tidak memancing amarah anak-anaknya, seorang ayah perlu menanggulangi amarahnya dengan meninggalkannya di atas salib. Satu-satunya cara untuk menghindari diri dari marah-marah adalah tinggal di atas salib. Dalam menanggulangi kesalahan atau kenakalan anak-anak Anda, Anda harus terlebih dulu pergi ke atas salib dan tinggal di sana. Jika tidak, Anda akan marah-marah, dan karenanya akan membangkitkan amarah anak-anak Anda.

Para bapa tidak boleh membangkitkan amarah anak-anak, sebaliknya harus mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Mengasuh (mendidik) anak-anak berarti membesarkan mereka melalui merawat. Membesarkan anak-anak menuntut orang tua memberi mereka instruksi yang diperlukan yang berkaitan dengan kehidupan insani, kehidupan kekeluargaan, dan kehidupan kemasyarakatan. Kata nasihat di sini mencakup instruksi. Paulus mungkin merujuk kepada ketetapan Perjanjian Lama, yaitu para orang tua harus mengajar anak-anak mereka dengan firman Allah (Ul. 6:6-7), mengajar mereka mengenal Alkitab. Seiring dengan instruksi ini, kadang-kadang kita perlu menghajar (mendisiplin) mereka, mengganjar mereka. Penting sekali para orang tua belajar mengasuh anak-anak dengan ajaran dan nasihat Tuhan.

Sebagai orang tua, kita harus melaksanakan kewajiban kita terhadap anak-anak kita. Ini berarti kita tidak hanya harus mengajar mereka, tetapi juga harus memberi teladan bagi mereka untuk dicontoh. Sama seperti Tuhan Yesus menguduskan diri-Nya demi murid-murid-Nya (Yoh. 17:19), begitu pula para orang tua harus menguduskan diri mereka sendiri demi anak-anak mereka. Mereka yang tidak mempunyai anak mungkin bebas melakukan perkara-perkara tertentu, misalkan tidur larut malam atau bangun siang. Akan tetapi mereka yang mempunyai anak tidak bebas untuk melakukan hal tersebut. Demi anak-anak mereka, mereka harus mengekang diri. Anak-anak selalu meniru orang tuanya. Karena itu, orang tua bertanggung jawab untuk mendirikan satu standar yang tinggi dan teladan yang tepat untuk dicontoh anak-anak.

Akan tetapi, bagaimanapun baiknya teladan yang diberikan oleh orang tua, bagaimana anak-anak itu akan berkembang tergantung pada belas kasihan Allah. Di satu pihak, para orang tua harus mempertahankan standar yang tinggi, tetapi di pihak lain, mereka perlu bersandar pada Tuhan. Dari hari ke hari kita harus berkata kepada-Nya, “Tuhan, anak-anak ini bukan kepunyaanku; mereka adalah kepunyaan-Mu dalam pemeliharaan atau penjagaanku untuk sejangka waktu. Tuhan, yang aku lakukan atas mereka hanyalah memenuhi kewajibanku. Bagaimana jadinya mereka kelak, mutlak tergantung pada belas kasihan-Mu semata.”

Mungkin saja para orang tua menjadi egoistis dalam hal kebahagiaan rohani anak-anak mereka. Jika anak-anak mereka beroleh selamat dan menjadi rohani, mereka akan sangat gembira. Tetapi mereka mungkin tidak senang melihat anak-anak orang lain lebih rohani dari pada anak-anak mereka. Kebanyakan orang tua dalam gereja mengharapkan anak-anak mereka kelak menjadi rasul, penatua, dan diaken. Karena itu, dalam hal ini pun kita mungkin masih egoistis.

Dulu saya pernah membaca cerita tentang seorang wanita yang berdoa dengan sungguh-sungguh untuk keselamatan anaknya. Walaupun setiap hari ia berdoa selama bertahun-tahun, namun anaknya tetap tidak beroleh selamat. Pada suatu hari ia bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia tidak mengabulkan doanya dan menepati janji-Nya. Tuhan lalu memberi tahu dia bahwa Ia pasti menepati janji dan pasti mengabulkan doanya. Akan tetapi, ia terlalu egoistis. Jika ia mau berhenti berdoa begitu banyak untuk anaknya, dan mulai mendoakan anak-anak orang lain, ia akan nampak kesetiaan-Nya. Sejak waktu itu, ia mulai mendoakan anak-anak orang lain agar mereka beroleh selamat. Tidak lama kemudian, anaknya pun beroleh selamat.

Kisah ini menerangkan fakta bahwa kemungkinan kita egoistis dalam mendoakan keselamatan anak-anak kita. Tidak mendoakan anak-anak kita itu salah, tetapi hanya berdoa bagi mereka secara egoistis itu pun salah. Karena itu, masalah keselamatan anak-anak kita dan kebahagiaan rohani mereka adalah satu ujian pula bagi kita.

II. ANTARA HAMBA DAN TUAN

A. Hamba-hamba

Dalam Efesus 6:5-9 Paulus membahas hubungan antara hamba dengan tuan. Mengenai hubungan ini, ia terlebih dulu menasihati para hamba, karena pada umumnya merekalah yang menyebabkan kesulitan. Ayat 5 mengatakan, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus.” Pada zaman rasul, hamba dibeli oleh tuannya, dan tuannya memiliki hak atas hidupnya. Beberapa hamba dan tuan menjadi saudara dalam gereja. Sebagai saudara dalam gereja, mereka setara dan tanpa perbedaan (lihat Kol. 3:11), tetapi di rumah, mereka yang adalah hamba masih wajib menaati saudara-saudara yang adalah tuan mereka menurut daging.

Paulus menasihati para hamba agar menaati tuannya dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti taat kepada Kristus. Takut adalah motivasi yang di dalam untuk pelayanan, dan gentar adalah sikap yang di luar. Tulus berarti murni dalam motivasi, tanpa tujuan yang campur aduk. Para hamba harus tulus, mereka tidak seharusnya bercabang hati. Mereka tidak boleh melayani tuan mereka dengan maksud hendak menerima sesuatu bagi diri sendiri.

Hamba-hamba harus taat kepada tuan mereka seperti kepada Kristus. Ini berarti para hamba harus menganggap tuan mereka seperti Tuhan. Hubungan antara hamba dengan tuan juga merupakan lambang hubungan kita dengan Kristus, Tuan kita. Kita harus seperti hamba, menaati Dia dalam ketulusan hati.

Dalam ayat 6 Paulus meneruskan, “Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati manusia, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati (jiwa) melakukan kehendak Allah.” Jika seorang saudara yang adalah hamba berdiri pada kedudukannya dan menaati tuannya, dalam pandangan Tuhan dia adalah hamba Kristus, melakukan kehendak Allah, dan dia melayani seperti melayani Tuhan dan bukan melayani manusia (ayat 7). Hamba yang demikian melakukan kehendak Allah dari jiwa mereka. Frase “hati” dalam bahasa aslinya adalah “jiwa”, yaitu apa yang ada di dalam. Ini berarti tidak saja melayani dengan tubuh jasmani, tetapi juga dengan hati. Para hamba harus melayani “seperti orang-orang yang melayani Tuhan, dan bukan manusia”. Ini menunjukkan bahwa yang dikehendaki Paulus ialah membawa para hamba itu kepada Tuhan. Keinginannya ialah agar mereka dapat belajar melayani tuan mereka seperti melayani Tuhan.

Mengenai hamba, Paulus menarik kesimpulan pada ayat 8, “Kamu tahu bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” Semua perbuatan baik yang kita lakukan, akan kita terima kembali dari Tuhan dan ini menjadi pahala bagi kita. Jika para hamba melakukan perkara yang baik, Tuhan akan membalasnya dengan yang baik pula. Ini berarti perkara baik yang mereka lakukan akan menjadi suatu pahala bagi mereka.

B. Tuan-tuan

Dalam ayat 9 Paulus berkata, “Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka.” Para tuan, yang memiliki hak atas hidup hamba-hamba yang telah mereka beli, perlu membuang ancaman mereka, karena Tuhan di surga adalah Tuan yang sesungguhnya baik atas mereka maupun atas para hamba. Secara daging, ada orang yang menjadi hamba, dan ada pula yang menjadi tuan. Tetapi dalam pandangan Tuhan, tidak ada perbedaan antara hamba dengan majikan. Menurut Kolose 3:11, dalam manusia baru tidak ada hamba maupun orang merdeka. Dalam gereja, kita semua adalah saudara. Akan tetapi, dalam daging masih terdapat perbedaan antara para hamba dan para majikan.

Dalam semua nasihat ini, Paulus membuat satu titik penting demi hidup gereja, kita perlu memiliki satu kehidupan insani yang wajar dalam zaman ini. Hal ini adalah pelajaran yang sangat penting untuk kita pelajari.