← Daftar isi Efesus (2) · bab 12/24

RINGKASAN NASIHAT DALAM PASAL 5

Dalam berita ini kita akan meninjau ringkasan nasihat Paulus dalam pasal 5, yang berfokus pada kasih dan terang. Kita telah melihat bahwa pertama-tama kita menerima Allah dalam Kristus sebagai anugerah dan mengenal Allah dalam Kristus sebagai realitas. Lalu kita datang untuk menikmati Allah sebagai kasih dan terang. Kasih dan terang merupakan unsur batiniah, sedang anugerah dan realitas adalah unsur lahiriah. Karena itu, nasihat dalam Efesus 5:1-33 lebih dalam daripada Efesus 4:17-32. Kasih adalah substansi batiniah Allah yang dapat dirasakan, dan terang ialah unsur Allah yang terekspresi yang dapat terlihat. Menurut wahyu Efesus 5, kasih dan terang kedua-duanya adalah sumber hidup kita yang batiniah.

UNSUR DASAR DAN FAKTOR DASAR

Tulisan Paulus dalam Kitab Efesus itu dalam dan tidak mudah dipahami. Ketika ia menulis kitab ini, ia menggunakan konsepsi-konsepsi yang dalam yang ada di lubuk batinnya. Konsepsi-konsepsi yang lebih dalam ini merupakan unsur dasar dan faktor dasar dalam setiap pasal. Ketika membaca Kitab Efesus, haruslah kita berusaha menentukan apakah unsur dasar dan faktor dasarnya, sebab keduanya merupakan komponen kitab ini. Kita sudah menunjukkan bahwa unsur dasar dalam pasal 4 ialah anugerah dan realitas dan unsur dasar dalam pasal 5 ialah kasih dan terang. Seiring dengan unsur-unsur dasar ini terdapat pula faktor-faktor dasar. Dalam pasal 4 dan 5 keinginan Paulus tidak hanya sekadar memberikan beberapa nasihat tentang mencuri, membuang kedustaan, patuh, dan kasih. Namun demikian, banyak orang yang menaruh perhatian atas rincian yang demikian, tidak memperhatikan unsur dasar dan faktor dasar.

Kita telah melihat, pada segi positifnya, faktor dasar dalam pasal 4 ialah hayat Allah dan Roh Allah, dan pada segi negatifnya ialah Iblis. Kini kita akan maju terus melihat bahwa faktor dasar yang terpenting dalam pasal ini adalah gereja sebagai manusia baru. Ini berarti nasihat di sini berkaitan dengan gereja di aspek ini. Faktor yang paling penting dalam pasal 5 ialah gereja sebagai mempelai perempuan. Karena itu, sebagaimana nasihat Paulus dalam pasal 4 berkaitan dengan manusia baru, maka nasihatnya dalam pasal 5 berkaitan dengan mempelai perempuan.

KUNCI PASAL 4

Ingatlah, subyek Kitab Efesus bukanlah perilaku atau budi pekerti, melainkan gereja. Dalam memberikan nasihat panjang yang tercantum dalam pasal 4, Paulus tidak pernah kehilangan titik utama pandangannya — gereja. Ketika ia menuturkan prinsip maupun rinciannya, ia menyadari sepenuhnya bahwa gereja adalah manusia baru. Jadi kehidupan yang dilukiskan dalam pasal 4 tentu ditujukan kepada gereja sebagai manusia baru, yaitu gereja sebagai manusia baru harus sesuai dengan realitas dan oleh anugerah. Sebagai manusia baru, gereja harus hidup sesuai dengan standar Allah, menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Satu-satunya jalan agar gereja, manusia baru ini dapat memiliki kehidupan yang demikian ialah berdasarkan anugerah Allah yang serba cukup. Anugerah ini menyuplai kita agar kita dapat hidup menurut cetakan, model, dan teladan hidup Yesus. Inilah kunci pasal 4.

Jika kita memakai kunci ini ketika kita membaca pasal 4, seluruh pasal akan terbuka bagi kita. Ingatlah baik-baik, bahwa Efesus 4 membicarakan gereja sebagai manusia baru. Kalau kita ingin menjadi gereja dalam aspek ini, kita harus menempuh hidup sesuai dengan standar realitas seperti yang nyata dalam Yesus dan oleh anugerah Allah yang serba cukup.

KASIH DAN TERANG DALAM PASAL 5

Seprinsip dengan itu, butir utama dalam pasal 5 ialah gereja sebagai mempelai perempuan. Butir utamanya bukanlah nasihat Paulus tentang para istri patuh kepada suami mereka atau para suami mengasihi istri mereka. Sebagai mempelai perempuan, gereja memerlukan sesuatu yang lebih halus, lembut, dan dalam dari pada realitas dan anugerah, yaitu memerlukan kasih dan terang. Realitas tidak sehalus terang, dan anugerah tidak sedalam dan seintim kasih. Mengenai aspek gereja sebagai mempelai perempuan, dalam pasal 5, Paulus membicarakan kasih dan terang.

Fakta bahwa gereja sebagai mempelai perempuan menuntut kehidupan dalam kasih dan terang dapat dibuktikan melalui pengalaman kehidupan pernikahan kita sendiri. Kalau sepasang suami dan istri hidup bersama hanya oleh anugerah dan menurut realitas, kehidupan pernikahan mereka akan menjadi sangat kasihan. Jika istri saya memperlakukan saya hanya menurut anugerah, tanpa memberi saya kasih, saya akan sangat tidak puas. Ia pun akan merasa serupa kalau saya memperlakukannya menurut anugerah tanpa kasih. Kehidupan pernikahan bukan berdasar pada anugerah, melainkan pada kasih. Demikian pula, kehidupan pernikahan bukan berdasarkan realitas, tetapi juga di atas terang. Alangkah kasihan jika seorang suami dan istri selalu memikirkan cara yang tepat untuk berperilaku terhadap satu sama lain. Untuk hubungan yang intim tidak cukup hanya dengan realitas, tetapi harus pula ada terang. Oleh sebab itu, pernikahan yang wajar tidak hanya menurut realitas dan oleh anugerah, tetapi juga dalam kasih dan terang.

Kehidupan pernikahan Anda menurut realitas dan oleh anugerah, atau dalam kasih dan terang? Misalkan seorang istri berkata kepada suaminya, “Setiap perkara yang aku lakukan bagimu selalu menurut realitas dan oleh anugerah. Aku tidak melakukan sesuatu yang keliru atau palsu. Selain itu setiap perkara aku lakukan menurut anugerah Tuhan yang serba cukup.” Ini kedengarannya tidak mirip dengan kemesraan pernikahan, melainkan seperti suasana dingin dalam pengadilan. Dalam kehidupan pernikahan hubungan antara istri dan suami harus halus, terang, dan intim.

HIDUP DALAM ALAM TERANG

Memahami perbedaan antara kasih dan anugerah itu mudah, tetapi memahami perbedaan antara terang dan realitas itu lebih sulit. Mungkin bisa membantu kalau saya menerangkan melalui pengalaman kehidupan pernikahan saya sendiri. Istri saya dan saya telah menempuh kehidupan pernikahan bertahun-tahun lamanya. Selama ini saya tidak ingat saya pernah memperlakukannya dengan cara yang saya anggap benar. Sebaliknya, oleh kuasa Tuhan, saya selalu memperlakukan dia dalam terang. Ketika kami berada dalam terang, kami berada di luar alam benar atau salah. Tidak perlu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus dilakukan dan mana yang pantang dilakukan. Bila kita berada dalam terang, kita akan spontan bertindak dan berkelakuan dalam cara tertentu. Namun, bilamana kita dalam kegelapan, kita perlu membedakan, mereka-reka, atau meraba-raba cara untuk melakukan sesuatu. Bila kita berada dalam terang, kita tidak perlu membedakan, mereka-reka, atau meraba-raba.

Misalkan saya hampir marah terhadap istri saya. Saat itu, saya tidak perlu bertanya apakah itu sesuai dengan realitas (kebenaran). Saya tidak perlu bingung bagaimana pikiran anak-anak saya dan para penatua gereja tentang hal ini. Mengajukan pertanyaan tentang suami istri itu berarti merosot dari alam terang ke alam realitas, yaitu memikirkan bagaimana standar model kehidupan Yesus. Kalau kita tinggal di atas puncak gunung dalam alam terang, tidak perlu kita berpikir demikian. Sebagai orang-orang yang berada dalam terang, pada waktu itu kita tidak perlu berusaha menyelidiki apakah marah itu benar atau salah.

DUA PERISTIWA

Dalam berita yang terdahulu saya mengambil peristiwa wanita amoral dalam Yohanes 4 dan 8. Dalam kedua peristiwa itu dipakai istilah realitas (kebenaran). Dalam Yohanes 4:24 Tuhan Yesus mengatakan tentang menyem-bah Allah dalam roh dan realitas (kebenaran), sedang dalam Yohanes 8:32 Ia berkata bahwa kita akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran akan memerdekakan kita. Perempuan-perempuan dalam kedua pasal itu masih belum beroleh selamat. Ketika Tuhan menanggulangi mereka, mereka baru akan beroleh selamat. Dulu mereka berada dalam kegelapan dan kepalsuan. Akan tetapi, mereka akan diselamatkan dari kegelapan dan kepalsuan untuk masuk ke dalam alam realitas dan keadilan. Saya percaya kedua perempuan tadi akhirnya beroleh selamat dan dimasukkan ke dalam alam realitas. Namun, setelah masuk ke dalam alam ini mereka harus maju terus untuk berkontak dengan Bapa dan masuk ke dalam hadirat Allah, di mana semuanya terang. Di sini di dalam alam terang, kita tidak lagi memikirkan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang palsu dan apa yang riil. Di sini tidak ada pertimbangan demikian, melainkan hanya ada pancaran terang.

SUATU KEHIDUPAN YANG WAJAR

Bila kehidupan pernikahan kita normal, kita tidak memikirkan apakah tingkah laku kita terhadap pasangan kita sesuai dengan realitas atau mencapai standarnya atau tidak. Kalau kita berpikir demikian dalam hubungan suami istri, kita akan terpaut jauh dari alam terang. Sesungguhnya kita bahkan belum sepenuhnya sesuai dengan realitas. Jika kehidupan pernikahan kita dalam alam terang, kita tidak akan memikirkan bagaimana tingkah laku kita. Sebaliknya, kita hanya akan hidup dalam terang dengan sederhana dan wajar. Kita akan melakukan perkara-perkara tertentu dan berperilaku secara tertentu hanya karena kita berada dalam terang, bukan karena kita menganggap perkara dan perilaku kita itu menurut realitas yang nyata dalam Yesus.

Dalam awal kehidupan kekristenan saya, saya hidup dalam alam realitas. Saya berusaha untuk benar dalam setiap perkara yang saya lakukan. Saya takut melakukan perkara-perkara tertentu karena saya khawatir akan dicela orang lain. Karena itu, saya berperilaku dengan cara yang terpuji. Ini berarti perilaku saya menurut realitas. Kemudian, oleh belas kasihan Tuhan, saya dibawa lebih banyak ke dalam hadirat-Nya. Saya belajar bagaimana tinggal dalam penyertaan-Nya dan hidup dalam keintiman dengan-Nya dalam suatu hubungan yang penuh kasih dan terang. Akibatnya, saya tidak lagi melakukan perkara-perkara tertentu bukan karena saya mengira perkara itu salah, tetapi karena saya berada di dalam terang. Selaku orang yang berada dalam terang, saya berperilaku dan bertutur kata tanpa memikirkan apa yang menurut realitas atau apa yang benar. Saya tidak lagi memikirkan apakah yang akan dikatakan orang lain, tentang perilaku saya. Saya berada dalam terang, maka saya tidak lagi mempertimbangkan perbuatan mana yang menurut realitas.

Jika gereja ingin menjadi manusia baru, gereja perlu dan sewajarnya hidup menurut realitas dan oleh anugerah. Tetapi untuk aspek mempelai perempuan, hal itu tidaklah cukup. Sebagai mempelai perempuan, gereja harus memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus dalam kasih dan terang. Dalam setiap perkara dan setiap cara, gereja sebagai mempelai perempuan harus benar. Karena itu, dalam pasal 5, kasih dan terang merupakan unsur dasar.

PEJUANG

Dalam tiap pasal Kitab Efesus gereja diwahyukan dalam aspek yang berbeda-beda. Setiap aspeknya berkaitan dengan unsur dasar yang berbeda pula. Sebagai contoh, dalam pasal 6 kita nampak gereja sebagai pejuang. Apa yang diperlukan seorang pejuang bukan anugerah dan realitas atau kasih dan terang, melainkan kekuatan dan perlengkapan senjata untuk berperang. Sebagai pejuang, gereja harus berdiri dengan perkasa, dan harus mengenakan perlengkapan senjata untuk berperang.

TUBUH KRISTUS

Sekarang kita kembali melihat faktor-faktor dasar dan unsur-unsur dasar dalam pasal 1, 2, dan 3. Faktor dasar dalam pasal 1 ialah gereja sebagai Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi segala sesuatu di dalam segala sesuatu. Kuasa yang tidak terbatas dan kekal yang membangkitkan Kristus dari kematian, yang mengangkat-Nya ke langit tingkat ketiga, dan yang menjadikan-Nya Kepala atas segala perkara itu semua ditujukan kepada gereja yang adalah Tubuh-Nya. Untuk menjadi Tubuh, gereja harus memiliki perkataan indah dari Allah Tritunggal. Karena itu, faktor dasar dalam pasal 1 ialah gereja sebagai Tubuh Kristus sedang unsur dasarnya ialah perkataan indah dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

TEMPAT KEDIAMAN ALLAH

Dalam pasal 2 kita melihat berbagai aspek gereja: karya agung, manusia baru yang diciptakan oleh Kristus di atas salib, umat Allah, kerajaan di mana warga-warganya memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara, keluarga Allah, dan terakhir tempat kediaman Allah, yaitu rumah Allah. Walaupun semua aspek tersebut diba-has di sini, tetapi faktor dasar dalam pasal 2 ialah gereja sebagai tempat kediaman Allah. Sebagai rumah Allah, gereja harus memiliki kebangkitan dan Roh itu. Inilah unsur dasar dalam pasal 2 ini. Pada bagian pertama dalam pasal ini konsepsi utamanya ialah hayat kebangkitan, dan pada bagian kedua pemikiran utamanya ialah Roh itu. Kedua hal ini diperlukan gereja untuk menjadi tempat tinggal Allah.

KEPENUHAN ALLAH

Dalam pasal 3, pasal terdalam dari Kitab Efesus, faktor utamanya ialah gereja sebagai kepenuhan Allah. Untuk menjadi kepenuhan Allah, kita perlu kekayaan Kristus yang tidak terduga. Karena itu, kekayaan Kristus yang tidak terduga merupakan unsur dasar pasal ini.

HIDUP GEREJA YANG SESUAI

DENGAN HASRAT ALLAH

Marilah kita mengingat-ingat faktor-faktor utama dan unsur-unsur dasar dalam keenam pasal Kitab Efesus. Dalam pasal 1 faktor utamanya ialah gereja sebagai Tubuh Kristus, unsur dasarnya ialah perkataan indah Allah Tritunggal. Dalam pasal 2 faktor utamanya ialah gereja sebagai tempat tinggal Allah, unsur dasarnya ialah kebangkitan dan Roh itu. Dalam pasal 3 faktor utamanya ialah gereja sebagai kepenuhan Allah, unsur dasarnya ialah kekayaan Kristus yang tidak terduga. Dalam pasal 4 faktor utamanya ialah gereja sebagai manusia baru, unsur dasarnya ialah anugerah dan realitas. Dalam pasal 5 faktor utamanya ialah gereja sebagai mempelai perempuan, unsur dasarnya ialah kasih dan terang. Terakhir, dalam pasal 6 faktor utamanya adalah gereja sebagai pejuang, dan unsur dasarnya adalah kekuatan dan perlengkapan persenjataan.

Karena hidup gereja sebagai mempelai perempuan berada dalam kasih dan terang, menuntut sesuatu yang lembut dan intim, maka Paulus memakai pernikahan sebagai ilustrasinya. Dalam kehidupan pernikahan tidak ada tempat bagi kekuatan atau perlengkapan persenjataan. Benda-benda itu bukan merupakan ciri-ciri gereja sebagai mempelai perempuan. Sebagai mempelai perempuan gereja tidak menekankan masalah anugerah, realitas, atau kekayaan Kristus, juga bukan membicarakan kebangkitan, Roh, atau perkataan indah Allah Tritunggal. Yang dibutuhkan di sini khususnya adalah Allah sendiri sebagai kasih dan terang. Seperti telah kita tunjukkan, kasih itu merupakan esens batiniah Allah, dan terang adalah unsur Allah yang terekspresi dan yang kelihatan. Ketika kita masuk ke dalam Allah untuk menjamah substansi batiniah-Nya, kita akan mengalami-Nya sebagai kasih dan terang. Hidup gereja yang wajar seharusnya berada dalam alam yang sedemikian.

Lalu mengapa Paulus menulis pasal 6? Pasal 6 ini perlu, sebab Allah masih harus menanggulangi musuh-Nya. Kalau tidak ada musuh, kita boleh berhenti sampai ke tahap gereja sebagai mempelai perempuan pada pasal 5 saja.

Menurut Wahyu 19, pejuang yang menyertai Kristus untuk memerangi musuh ini adalah mempelai perempuan Kristus. Ini berarti kita harus menjadi mempelai perempuan dalam kasih dan terang, kemudian baru kita dapat maju sebagai pejuang beserta Kristus untuk melawan musuh. Dengan demikian, pasangan ini, Kristus dan mempelai perempuan-Nya akan menaklukkan musuh.

Semoga kita semua terkesan bahwa hidup gereja yang sesuai dengan hasrat Allah harus berada dalam kasih dan terang, dan kedua unsur ini adalah unsur Allah sendiri. Dalam substansi batiniah Allah kita memiliki kasih dan terang. Di sini kita memiliki hidup gereja yang top, yaitu gereja sebagai mempelai perempuan. Sasaran Kitab Efesus ialah memasukkan kita ke dalam substansi batiniah Allah untuk mengenal Dia sebagai kasih dan te-rang. Di sini kita harus hidup dalam persekutuan yang intim ketika kita menikmati pancaran terang dan kasih dalam kemanisannya.