← Daftar isi Efesus (2) · bab 11/24

MENGALAMI KRISTUS DALAM EKONOMI ALLAH

Kristus menguduskan, membersihkan, merawat, dan memelihara kita agar kita dapat dipersembahkan kepada diri-Nya sendiri sebagai gereja yang mulia. Bertentangan dengan konsepsi agamis, persembahan ini tidak akan terjadi secara mendadak, yakni tanpa persiapan apa-apa pada waktu Tuhan Yesus menyatakan diri dalam kedatangan-Nya kelak. Sebaliknya, persembahan Kristus atas gereja yang mulia itu mencakup suatu proses yang dimulai dari zaman para rasul dan yang berlangsung dari abad ke abad. Hari ini kita pun sedang berbagian dalam proses yang melaluinya Kristus mempersembahkan gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri. Persembahan itu adalah sasaran pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeliharaan-Nya.

Sejak kali pertama kita menyeru Tuhan Yesus dan menerima Dia ke dalam kita, Ia telah mencari kesempatan untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita. Semakin unsur-Nya digarapkan ke dalam kita, kita semakin diresapi oleh diri-Nya, dan makin dikuduskan, dibersihkan, dirawat, dan dipelihara. Kesempurnaan terakhir dari proses ini adalah persembahan gereja kepada diri-Nya dalam kemuliaan.

DIRESAPI OLEH KRISTUS

Kristus menggarapkan diri-Nya ke dalam kita bukanlah suatu masalah tingkah laku atau perbaikan diri, melainkan masalah dijenuhinya diri kita secara batiniah dengan kemuliaan Allah itu. Misalkan sebatang besi yang keras, dingin, dan hitam dilempar ke dalam api dan dibiarkan di situ. Akhirnya, api akan menjenuhi besi itu dan membuatnya menyala. Dengan demikian, besi itu akan kehilangan warna asalnya dan menjadi bara panas. Dari satu aspek, warna besi itu telah tertelan oleh api. Kini besi itu bercahaya, menyala. Akan tetapi, tidaklah berguna bahkan menggelikan, jika ada orang yang mengajar besi itu untuk bercahaya. Yang dapat menyebabkan besi itu bercahaya bukanlah ajaran, melainkan pembakaran. Besi itu harus dibakar hingga api menjenuhi substansinya. Itulah yang dapat membuat batang besi itu menjadi pembawa cahaya. Tetapi, jika besi itu ingin menyala terus, ia harus tetap tinggal dalam api. Kalau ia berada di luar api sejangka waktu, warna asalnya dan kegelapannya akan muncul kembali. Sejalan dengan itu, kita hari ini bukan memerlukan doktrin yang harfiah, melainkan perlu dibakar oleh Kristus dan dijenuhi oleh-Nya sebagai kemuliaan Allah yang berhuni di batin.

DATANG KEPADA KRISTUS DALAM FIRMAN

Saya dapat bersaksi bahwa kebanyakan ajaran yang saya terima dalam kekristenan tidak memberi banyak bantuan kepada saya, malah ajaran-ajaran itu sesungguhnya merintangi saya, bahkan membuat saya kecewa dalam mengikuti Tuhan. Hari ini Alkitab bagi saya terutama bukan sejilid kitab pengajaran, melainkan kitab yang mewahyukan persona Kristus yang hidup. Ketika saya membaca Alkitab, saya membuka diri saya kepada Tuhan, dan saya segera mengalami pembakaran-Nya di dalam saya. Kalau saya telah memiliki pembakaran-Nya, apa perlunya ajaran-ajaran itu bagi saya?

Dalam Yohanes 5:39-40 Tuhan Yesus berkata kepada para agamawan, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa agama dapat membantu orang menghormati Alkitab, tetapi penghormatan terhadap Alkitab yang demikian pun dapat menjauhkan orang dari penyertaan Kristus yang hidup. Jika kita membaca firman dengan wajar, firman itu tentu selalu membawa kita kepada Tuhan. Setiap kali kita membaca Alkitab, kita juga harus datang kepada-Nya, agar kita beroleh hayat itu.

MUKA YANG TIDAK BERSELUBUNG

Kita sudah melihat bahwa kedambaan Allah ialah mendapatkan gereja yang mulia. Hanya Kristus yang menjadi ekspresi kemuliaan Allah yang dapat membuat gereja menjadi mulia, sebab hanya Dia sendirilah api kemuliaan yang membakar kemuliaan-Nya di dalam kita. Musa pernah mengalami hal ini. Setelah Musa berada di hadirat Tuhan di atas gunung selama 40 hari, kulit mukanya menjadi bercahaya karena kemuliaan Allah (Kel. 34:29-35). Kemuliaan Tuhan telah membakar di dalamnya. Itu bukan akibat ajaran agamis, melainkan karena ia memandang kemuliaan Allah secara langsung.

Dalam 2Korintus 3:18 Paulus mengatakan bahwa kita semua dengan muka yang tidak berselubung, perlu memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan. Perhatikan istilah “Muka yang tidak berselubung”. Istilah ini menunjukkan satu muka yang asalnya berselubung dan kemudian selubung itu telah disingkirkan darinya. Saya sangat prihatin karena banyak di antara kita yang masih terselubung oleh konsepsi dan ajaran agamis. Oh, betapa kita perlu muka yang tidak berselubung, untuk memandang Tuhan! Kita semua harus berdoa, “Tuhan singkirkanlah selubung itu dari diriku.”

Kasihan sekali orang yang terselubung. Banyak orang beriman telah tertutup oleh berlapis-lapis selubung, tetapi mereka tidak menyadarinya. Karena itu, Paulus berbeban agar kaum beriman tidak berselubung. Dengan muka yang tidak berselubung barulah kita dapat memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan. Dengan jalan inilah kita baru benar-benar ditransformasi dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan yang lain. Transformasi yang sedemikian terjadi melalui Tuhan. Karena itu, kita tidak memandang doktrin dan ajaran, melainkan memandang kemuliaan Tuhan. Lagi pula, kita bukan diajar atau dikoreksi, melainkan ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Kristus dari kemuliaan ke kemuliaan.

Dalam ministri Tuhan kita terus berperang untuk menyingkirkan selubung-selubung yang ada pada kaum saleh. Betapa liciknya pengaruh agama! Kelicikannya terlihat dalam hal ia menyelubungi umat Tuhan. Meskipun banyak orang yang mencari Tuhan dengan tulus, namun mereka sama sekali telah diselubungi oleh agama melalui ajaran-ajaran dan konsepsi-konsepsinya. Karena itu, sekali lagi saya katakan, kita di sini bukan untuk doktrin yang harfiah, melainkan untuk pemulihan yang sejati mengenai pengalaman atas Kristus. Kita semua perlu memiliki satu muka yang tidak berselubung untuk memandang Tuhan.

Hari ini berbagai macam perkara bisa menjadi selubung terhadap kita, seperti selubung bagi orang Yahudi. Orang Yahudi terselubung oleh Kitab Suci, hukum Taurat, peraturan, dan agama Yahudi sebagai sistem yang agamis. Hari ini orang-orang Kristen terselubung khususnya oleh ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan. Saya berbeban agar semua selubung disingkirkan, sehingga kaum beriman dapat memandang kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung.

TERSELUBUNG OLEH PERATURAN

Mari kita membahas lebih rinci masalah peraturan yang menjadi selubung. Adakalanya dalam sidang kita berteriak memuji Tuhan. Sebagian hadirin mungkin merasa terganggu oleh teriakan kita. Mereka bahkan mungkin mengira kegairahan kita dalam sidang serupa dengan keramaian penonton pertandingan olah raga. Kritikan yang demikian terhadap teriakan berasal dari suatu peraturan sidang. Yang lain mungkin mengkritik sidang karena mereka tidak nampak adanya pernyataan karunia-karunia seperti berbahasa lidah. Itu menunjukkan bahwa mereka mempunyai satu peraturan tentang karunia. Ada lagi yang mungkin bereaksi terhadap corak tertentu dari pakaian kaum saleh. Itu juga menunjukkan bahwa mereka mempunyai satu peraturan tentang cara atau corak berpakaian yang wajar dalam sidang gereja. Marilah kita buang semua peraturan itu, dan kembali kepada persona Kristus yang hidup.

Dalam berita demi berita, kita hanya berhasrat melakukan satu perkara: menunjukkan keperluan kaum saleh terhadap Kristus yang hidup. Kaum saleh perlu dikuduskan, dibersihkan, dirawat, dan dipelihara oleh-Nya. Tetapi, walaupun betapa seringnya kita menekankan perlunya mengalami Kristus sebagai hayat dan persona kita, tetap masih banyak yang terpesona dengan masalah sekunder yang bertalian dengan sidang atau praktek hidup gereja kita, sebab mereka masih terselubung oleh peraturan mereka. Karena itu, kita ingin menyatakan bahwa kita di sini bukan untuk praktek yang mana pun, kita di sini adalah untuk persona Tuhan Yesus Kristus yang ajaib.

Bertahun-tahun orang Kristen telah dipecah-belah oleh berbagai peraturan, sampai hari ini masih terus dipecah-belah olehnya. Sebagai contoh, tidak benarlah kita memaksakan cara doa-baca. Kita bukan gereja doa-baca. Tetapi, salah pula jika kita menolak doa-baca. Dalam kedua kasus itu, pro dan kontra mungkin menjadi satu peraturan mengenai doa-baca. Kita perlu berpaling dari semua peraturan kepada Kristus yang menguduskan, membersihkan, merawat, dan memelihara kita.

Anda akan keliru jika datang ke Los Angeles ingin mempelajari cara-cara hidup gereja di sana. Kita selalu berubah, bahkan kita sendiri tidak tahu cara hidup gereja kita. Sebelum 1966, kita tidak ada doa-baca, dan sebelum 1968 kita tidak ada cara menyeru nama Tuhan. Boleh jadi kelak pada periode lain, Tuhan akan menunjukkan kita sesuatu yang lebih maju untuk kita laksanakan. Mempertahankan dengan berkata bahwa kita tahu cara gereja hanya akan menimbulkan kesulitan atau persoalan belaka.

Orang Kristen mudah terpecah belah karena praktek-praktek. Ada yang suka berteriak memuji Tuhan, ada pula yang menentangnya. Demikian pula tentang sidang yang tenang atau berbahasa lidah. Jika kita telah benar-benar nampak gereja, kita akan menyadari bahwa semua peraturan tentang praktek-praktek harus dikesampingkan, karena segala peraturan semacam itu merupakan faktor pemecah-belah. Banyak orang saleh terkasih yang mencintai Tuhan dan mencari Dia, namun mereka tidak menyadari betapa peraturan mereka telah mengakibatkan perpecahan.

EKONOMI ALLAH

Ekonomi Allah sangat sederhana: menggarapkan Kristus ke dalam kita agar Ia hidup di dalam kita dan kita hidup oleh-Nya. Jika kita menerima ekonomi Allah ini, akhirnya gereja akan menjadi mulia, karena Kristus, kemuliaan Allah, akan menyalakan kemuliaan-Nya ke dalam kita terus-menerus. Kita di sini bukan untuk praktek hidup gereja yang khas, kita di sini hanya untuk Kristus. Gereja adalah hasil dari kenikmatan atas Kristus. Hidup gereja yang normal adalah masalah kita semua menikmati Kristus dan datang bersama-sama untuk mengekspresikan Dia, tanpa mempertahankan cara mengekspresikan Kristus yang tertentu. Apa yang kita butuhkan dalam pemulihan Tuhan hari ini bukan praktek-praktek yang khas, melainkan Kristus yang hidup.

Mengenai Kristus yang hidup ini telah kita tunjukkan bahwa pada kedatangan-Nya kelak Ia akan tertampil keluar dari batin kita. Ia akan meluas di batin kita, menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri, dan menelan setiap bagian insan batiniah kita. Kemudian Ia akan tertampil keluar melalui kita. Mendengar perkataan ini mungkin ada yang akan membantah, mengatakan bahwa Perjanjian Baru mengajarkan Kristus akan turun dari surga. Ya, memang ada banyak ayat yang mengatakan Tuhan berada di surga dan ketika Ia kembali kelak Ia akan turun dari surga. Akan tetapi, bagi kebanyakan orang, ajaran kedatangan Tuhan dari surga itu telah menjadi satu hal yang agamis. Karena itu, kita juga harus menaruh perhatian pada ayat-ayat yang menitikberatkan fakta berhuninya Kristus di dalam kita. Sebagai contoh, Kolose 3:4 mengatakan, apabila Kristus menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan; tetapi Kolose 1:27 mengatakan bahwa Kristus di dalam kita adalah pengharapan kemuliaan.

TANPA SISTEMATISASI

Ada guru-guru agama tertentu berusaha mensistematisasi wahyu dalam Perjanjian Baru. Di bawah pengaruh ajaran-ajaran sistematis yang demikian, ada yang mengira kalau Kristus berada di langit tingkat ketiga, Ia tidak dapat berada di tempat lainnya, khususnya tidak dapat berada di dalam batin kita. Akan tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Kristus di samping berada di langit tingkat ketiga, Ia juga berada di dalam kita (Rm. 8:34, 10). Selain itu, walau Kristus telah ada di dalam kita, Ia masih akan datang lagi. Ini berarti sekarang Ia ada di sini dan Ia juga akan datang kelak. Saya tidak dapat memadukan kedua hal ini. Saya hanya percaya akan kedua aspek ini, sebab Perjanjian Baru mewahyukan kedua aspek ini.

Baru-baru ini ada seorang pemuda bertanya kepada saya, apakah saya percaya Tuhan Yesus berada di sebelah kanan Allah di surga. Saya menjawab dengan pasti, saya percaya. Lalu ia bertanya, apakah saya percaya bahwa Tuhan Yesus telah dibangkitkan bersama tubuh-Nya. Saya juga mengatakan bahwa saya percaya hal itu dengan pasti. Lalu saya menganjurinya jangan mensistematisasi kebenaran wahyu Allah dalam Perjanjian Baru. Pada hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus masuk ke dalam kamar tempat para murid berhimpun. Walaupun pintu-pintu tertutup, tiba-tiba Ia menyatakan diri di tengah-tengah mereka. Menurut catatan Lukas 24:37: “Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.” Kata Tuhan kepada mereka, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (ayat 39). Dalam kebangkitan-Nya Tuhan pasti masih memiliki tubuh jasmani. Bagaimana Ia dapat masuk ke dalam kamar yang tertutup? Kita tidak perlu berusaha menjelaskannya atau mensistematisasikan hal ini, tetapi percayai saja perkataan Alkitab yang jelas itu. Perjanjian Baru mengatakan bahwa Kristus adalah Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam roh kita. Sebagai persona yang berhuni di batin yang demikian, Ia sedang meluas ke dalam kita dan meresapi kita dengan diri-Nya sendiri serta mencari ke-sempatan untuk tertampil keluar melalui kita. Akan tetapi Alkitab juga mewahyukan betapa Kristus sedang berada di takhta di langit tingkat ketiga, dan pada kedatangan-Nya kelak Ia akan turun ke bumi. Daripada kita berusaha memadukan aspek subyektif dan obyektif kedatangan Tuhan itu, lebih baik kita percayai saja keduanya itu, sebab keduanya diwahyukan dalam Perjanjian Baru.

MENGALAMI KRISTUS YANG BERHUNI

DI BATIN

Kesulitan dari kebanyakan orang beriman ialah mereka telah menerima indoktrinasi secara agamis tentang kedatangan Tuhan pada aspek obyektifnya, dan mengabaikan aspek subyektifnya. Mereka menaruh perhatian penuh pada Kristus yang di surga dan percaya dengan teguh pada kedatangan-Nya kelak. Namun, mereka mengabaikan fakta berhuninya Kristus di batin, bahkan mungkin tidak mengetahui bahwa Kristus sekarang berada di batin mereka. Ketika kita menantikan kedatangan Kristus dari surga, kita perlu menikmati Dia di batin. Tuhan Yesus berkata, “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why. 3:20). Perkataan Tuhan di sini menunjukkan bahwa Ia telah berada di sini. Betapa kita perlu mengalami Kristus yang hidup, subyektif, dan yang berhuni di batin ini!

Beban saya ialah menyuplaikan Kristus yang sedemi-kian kepada umat Tuhan. Bukan mengajar kaum saleh bagaimana menafsirkan Alkitab. Apa gunanya mengetahui cara menafsirkan Alkitab yang benar, kalau kita tidak memiliki kenikmatan atas Kristus yang hidup secara langsung, indah, dan intim? Betapa kita perlu bergumul agar anak-anak Allah dapat beroleh kenikmatan yang demikian terhadap Tuhan! Inilah keperluan kita dalam pemulihan Tuhan hari ini!

Lupakanlah segala peraturan dan praktek, marilah kita berkata, “O, Tuhan Yesus, kami dahulu tidak mengetahui betapa perlunya kami menerima Engkau sebagai hayat dan persona kami. Tuhan, kami membuka diri kami kepada-Mu dan kami menerima Engkau sebagai hayat dan persona kami. Kami tidak memperhatikan kon-sepsi kami tentang cara mempraktekkan hidup gereja. Kami hanya memperhatikan kenikmatan yang hidup, intim, dan pribadi atas diri-Mu.”

PERHATIAN ALLAH DALAM EKONOMI-NYA

Mengenai gereja, kita tidak seharusnya mempunyai maksud meniru atau menentang. Satu-satunya sasaran kita seharusnya menikmati persona Kristus yang hidup dan mengalami Dia di batin sebanyak-banyaknya. Jangan memperhatikan praktek, cara, atau metode. Ambillah ilustrasi dari perabot makan yang beraneka ragam. Orang Tionghoa memakai sumpit, orang Amerika memakai pisau dan garpu, dan mungkin orang-orang Indonesia memakai jari tangan mereka. Kita tidak boleh memperhatikan alat apa yang kita pakai untuk makan, tetapi perhatikan saja apa yang kita makan. Asalkan orang menerima makanan yang tepat, kita tidak perlu memperhatikan apakah mereka memakai sumpit, atau pisau dan garpu, atau jari tangan mereka. Namun, mungkin ada orang yang menganggap cara paling baik adalah memakai garpu dan pisau. Ditinjau dari aspek rohani, kita mung-kin berbuat hal serupa dalam mempraktekkan hidup gereja. Kita mungkin menyombongkan cara kita, tetapi mungkin tidak ada makanan apa pun dalam piring kita. Karena itu jangan memperhatikan tata krama makan rohani kita, perhatikanlah makanan rohani itu saja. Banyak di antara kita yang kelaparan bertahun-tahun karena hanya memperhatikan tata krama, tidak memperhatikan makanan. Di antara sekian banyak kelompok agamis, setiap perkara tersusun begitu rapi dan teratur dengan baik, tetapi tanpa makanan yang dihidangkan kepada umat Tuhan. Karena itu, dalam pemulihan-Nya hari ini, Tuhan sedang memulihkan makanan di atas meja, bukan tata krama untuk memakan makanan itu.

Dalam ekonomi-Nya, Allah tidak memperhatikan perabotan, melainkan memperhatikan bagaimana kita mengalami pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeli-haraan Kristus. Hanya bila kita mengalami Kristus sedemikian barulah Ia dapat mempersembahkan gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri. Terpujilah Dia, proses persembahan ini sedang berlangsung dari hari ke hari di batin kita. Semoga kita semua nampak bahwa dalam ekonomi-Nya Allah tidak menghiraukan tata cara atau praktek, melainkan hanya Putra-Nya yang terkasih, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Semoga kita semua menerima rahmat untuk mengalami dan menikmati Dia.