ALLAH DAMBA MENDAPATKAN GEREJA YANG MULIA
Kita telah melihat bahwa kehendak Allah dalam ekonomi-Nya ialah mendapatkan satu gereja yang mulia. Tegasnya, Allah tidak menginginkan satu gereja yang rohani, surgawi, bahkan yang menang, melainkan menginginkan satu gereja yang mulia. Kemuliaan ialah ekspresi Allah dan itu berbeda sama sekali dengan moralitas dan perilaku manusia. Ketika Allah memenuhi Kemah Pertemuan dan Bait Suci, kedua tempat itu penuh dengan kemuliaan, yaitu penuh dengan manifestasi diri Allah sendiri. Gereja seharusnya menyatakan ciri-ciri kemuliaan, bukan berciri-ciri lain, bahkan bukan berciri-ciri kerohanian. Saya tidak senang mendengar pembicaraan tentang apa yang disebut gereja rohani. Satu-satunya cara Allah untuk dapat mendapatkan satu gereja yang mulia adalah melalui pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeliharaan Kristus. Bila kita mengalami hal-hal ini secara pribadi dan riil, gereja pasti akan menjadi mulia.
Alkitab tidak mengatakan tentang gereja yang rohani. Namun dalam Efesus 5 Paulus menyinggung tentang gereja yang mulia. Salah sebuah buku Saudara Watchman Nee berjudul “Kudus dan Tidak Bercela” (Kemudian dicetak ulang dengan judul “Gereja yang Mulia”). Banyak orang Kristen ingin mendapatkan gereja yang rohani. Kita bukan menuntut kerohanian, tetapi kita harus menuntut dipenuhi dengan kemuliaan, agar Kristus bisa mendapatkan gereja-Nya yang mulia.
SASARAN ALLAH
Banyak orang telah dibutakan oleh ajaran-ajaran yang agamis sehingga tidak nampak kedambaan Allah akan satu gereja yang mulia. Di satu pihak, ada beberapa orang mungkin beroleh bantuan dari ajaran-ajaran itu, tetapi di pihak lain, mereka telah dikecewakan olehnya. Ajaran-ajaran yang agamis dapat menghalangi kaum saleh sehingga mereka tidak dapat melihat wahyu gereja yang mulia, dan menyebabkan mereka menuntut perkara-perkara seperti kerohanian, karunia-karunia, atau kemenangan. Kehendak Allah yang terakhir bukanlah menginginkan gereja yang hanya rohani, menang, dan surgawi saja, melainkan gereja yang mulia. Janganlah berharap menjadi malaikat. Malaikat mungkin rohani, surgawi, dan menang, tetapi malaikat tidak mulia, sebab mereka tidak memiliki kemuliaan Allah. Puji Tuhan, kita yang percaya kepada Kristus memiliki kemuliaan Allah! Agama sebenarnya menurunkan orang ke tingkat malaikat. Di bawah pengaruh konsepsi agamis, banyak orang Kristen yang damba menjadi malaikat. Jika kita melihat ekonomi Allah, kita akan menolak pengaruh yang demikian dan damba dipenuhi oleh kemuliaan, agar Allah dapat mencapai sasaran-Nya.
BUKAN MENANG, MELAINKAN MULIA
Kita mungkin menang tanpa mulia. Sebagai contoh, seorang saudara boleh jadi merasa senang karena ia telah sukses mengalahkan amarahnya. Mungkin bertahun-tahun lamanya ia selalu dikalahkan oleh sifatnya dan sekarang ia telah beroleh kemenangan. Tetapi kemenangan itu boleh jadi sama sekali tanpa kemuliaan. Ekonomi Allah bukan masalah kemenangan atas sifat, melainkan masalah menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita dan membiarkan Dia hidup di dalam kita. Hasil dari hal ini ialah ekspresi Allah sebagai kemuliaan. Kita mungkin menang dalam diri kita sendiri, tetapi untuk menjadi mulia kita memerlukan Kristus menjadi hayat dan persona kita.
PENIPUAN AGAMA
Di satu pihak, bisa dikatakan bahwa agama menipu manusia. Sambil membantu kita, agama juga menipu kita. Alasannya adalah karena agama sebagian benar, sebagian palsu. Campuran kebenaran dan kepalsuan itu merupakan satu corak penipuan yang licik. Sebagai contoh, agak mudah kita memberitakan Injil kepada orang kafir dan membawa orang kafir kepada Tuhan. Tetapi, sangat sulit membawa orang yang berlatar belakang agama tertentu kepada Tuhan, karena ia telah tertipu oleh sistem agamis yang setengah benar itu. Di satu pihak, kita telah menerima bantuan dari ajaran agama yang lampau. Tetapi, di pihak lain, ajaran-ajaran itu telah menyelubungi kita dari ekonomi Allah. Karena itu, kita harus membuang konsepsi-konsepsi dan ajaran-ajaran agamis, dan kembali kepada seluruh kebenaran dari firman Allah yang murni.
ALLAH DIEKSPRESIKAN MELALUI MANUSIA
Menurut kebenaran dalam firman, Allah tidak bermaksud memperoleh sekelompok orang yang rohani. Ia telah memiliki laksaan malaikat. Sasaran Allah ialah memiliki umat yang mulia sebagai ekspresi-Nya. Dalam zaman yang gelap dan jahat ini Allah ingin memperoleh umat yang penuh dengan kemuliaan-Nya di bumi ini. Jika balai sidang ini dipenuhi malaikat, mungkin kita mengira situasi gereja akan sangat mulia. Kita pun mungkin akan mengagumi makhluk-makhluk yang rohani, surgawi, dan menang itu. Akan tetapi, situasi semacam itu bukanlah manifestasi kemuliaan Allah yang sebenarnya. Allah tidak mengekspresikan diri-Nya melalui malaikat, melainkan melalui manusia. Walaupun kita sebagai manusia dalam daging, kita dapat menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita. Ketika kita melakukan hal ini, para malaikat akan merasa takjub atas ekspresi kemuliaan yang terdapat di dalam kita. Malaikat akan berkata, “Tengoklah orang-orang ini, mereka penuh dengan kemuliaan Allah!”
Apakah Anda masih mendambakan gereja yang rohani, surgawi, dan menang? Kalau Anda mengenal ekonomi Allah, Anda hanya akan mendambakan gereja yang mulia. Kita harus dapat berkata kepada malaikat, “Malaikat, kami tidak mendambakan kerohanian, kemenangan, dan kesurgawian kalian. Kami memiliki Kristus dalam batin kami sebagai hayat dan persona kami, dan kami dipenuhi oleh kemuliaan. Malaikat, apakah kalian memiliki Kristus sebagai hayat dan persona? Gabriel dapat mengumumkan kelahiran Kristus, tetapi ia tidak berhak menerima Kristus sebagai hayat dan personanya. Malaikat, kami ingin memberi tahu kalian bahwa Kristus berhuni di batin kami. Kalian mungkin rohani, surgawi, dan menang, tetapi kami mulia!”
Efesus 5:27 telah tercantum dalam kitab Perjanjian Baru berabad-abad lamanya, tetapi bagi pengalaman kaum beriman, itu telah hilang. Maka hari ini Tuhan sedang dalam proses memulihkan gereja yang mulia. Marilah kita membaca ayat itu sekali lagi — “Supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Kristus sedang menguduskan, membersihkan, merawat, dan memelihara kita, agar kita menjadi gereja yang mulia. Ia melakukan perkara-perkara itu bukan semata-mata untuk membuat kita rohani, surgawi, atau menang.
SEORANG MANUSIA KORPORAT
Gereja yang mulia adalah satu manusia korporat. Ini berarti tiap bagian dari manusia korporat ini mulia. Apakah Anda bagian dari manusia mulia ini secara riil? Dengan kata lain, apakah Anda telah dipenuhi kemuliaan? Mungkin bahkan setelah membaca berita-berita ini, kita masih dikuasai oleh pikiran kemenangan dan menuntut agar beroleh kemenangan atas sifat atau situasi kita yang sulit. Kita boleh jadi sangat mengapresiasi ajaran-ajaran yang membawa kita ke dalam jalan kemenangan. Oh, semoga Tuhan mengesankan kita dengan kedambaan-Nya untuk memperoleh sekelompok umat yang mulia dan cemerlang! Sasaran ekonomi-Nya ialah mendapatkan gereja yang memancarkan kemuliaan-Nya.
KRISTUS TERTAMPIL KELUAR
DARI DALAM KITA
Konsepsi pemuliaan yang umum di antara kaum ber-iman pada hari ini ialah: Kristus akan turun dari surga secara tiba-tiba dan mengangkat kita ke dalam lingkungan yang mulia. Sebelum saat itu tiba, kita hanya menantikan saja kedatangan Tuhan Yesus untuk memuliakan kita. Akan tetapi, seperti telah kita tunjukkan dalam berita ke-57, Kristus akan tertampil keluar dari dalam kita. Saya memahami sepenuhnya, memang ada ayat-ayat tertentu dalam Perjanjian Baru yang menerangkan Kristus akan datang secara obyektif dari surga, namun ada ayat-ayat lain menerangkan bahwa Ia akan tertampil keluar dari dalam kita, dan akan memuliakan kita dengan cara yang sangat subyektif.
INJIL KEMULIAAN KRISTUS
Dalam Perjanjian Baru ada sejumlah ayat yang memperlihatkan bahwa pengalaman atas kemuliaan bersifat subyektif. Dua Korintus 4:4 mengatakan, “Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.” Dalam ayat ini Paulus tidak membicarakan Injil tentang pengampunan atau Injil tentang pembenaran oleh iman, melainkan Injil tentang kemuliaan Kristus. Injil kita bukan sekadar Injil penebusan, pengampunan, dan kelahiran kembali, tetapi juga Injil kemuliaan Kristus.
Hanya Injil inilah yang mampu memancar ke dalam kita. Pertama ia bercahaya ke dalam kita dan kemudian memancar keluar melalui batin kita. Semakin kemuliaan ini memancar dalam kita, semakin pula ia menembus dan menjenuhi batin kita. Pada akhirnya, kemuliaan yang batiniah ini akan memakan dan menelan segenap insan batiniah kita. Setelah itu terang Injil kemuliaan Kristus ini akan memancar keluar melalui kita. Pemancaran yang demikian tidak dapat melalui ajaran, melainkan hanya melalui pengalaman atas Kristus sendiri yang adalah kemuliaan dan manifestasi Allah. Haleluya, Kristus telah memancar ke dalam lubuk batin kita, Ia kini sedang me-mancar di dalam kita! Waktunya segera tiba, Ia akan merampungkan pemancaran-Nya ke segenap insan ba-tiniah kita. Jadi, terang kemuliaan Allah tidak akan memancar secara luaran, melainkan memancar dari dalam batin kita. Semakin Kristus memancar, semakinlah kita dipenuhi oleh kemuliaan.
BERKONSENTRASI PADA PANCARAN
TUHAN YANG BATINIAH
Ketika kita berada dalam situasi yang sulit, kita tidak perlu ngotot untuk meraih kemenangan. Lupakanlah keinginan untuk menang dan perhatikan saja pancaran batiniah Kristus sebagai kemuliaan yang di dalam batin. Belajarlah berkata, “Haleluya, Kristus memancar di dalamku dan melaluiku! Dialah hayat dan personaku. Alangkah manis dan menyenangkan pancaran-Nya yang batiniah!” Ketika kita memusatkan seluruh perhatian kita pada pancaran Tuhan yang batiniah ini, kita akan menang dengan wajar, tanpa terasa adanya usaha dari pihak kita.
Sasaran ekonomi Allah ialah agar kita semua memancarkan kemuliaan-Nya. Ketika kita berada di bawah pancaran yang demikian, kita pun menikmati kemanisan Kristus yang hidup di dalam kita sebagai hayat dan persona kita. Hal ini bukan melalui ajaran, melainkan melalui Kristus menjenuhi diri kita dengan diri-Nya sendiri sesuai dengan ekonomi Allah. Kaum saleh yang menerima jalan ekonomi Allah adalah mereka yang dibangun dengan kemuliaan Allah.
WAJAH YESUS KRISTUS
Dalam 2Korintus 4:6 Paulus juga membicarakan perihal kemuliaan: “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah (Yesus) Kristus.” Kata wajah di sini ditujukan kepada raut muka Tuhan, yaitu penyertaan-Nya. Betapa perlunya kita memiliki penyertaan Tuhan Yesus di batin kita! Penyertaan-Nya adalah kemuliaan Allah sendiri, sebab kemuliaan Allah berada pada wajah Kristus. Kalau Kristus hanya Kristus yang obyektif di surga, tidak mungkin kita memiliki pancaran wajah-Nya di batin kita, kita pun tidak dapat memiliki pengalaman atas kemuliaan-Nya yang berhuni di batin. Kita sudah menunjukkan bahwa kemuliaan adalah manifestasi Allah. Sekarang, menurut ayat ini, kita melihat lebih lanjut bahwa kemuliaan adalah wajah Yesus Kristus. Ketika kita memiliki wajah-Nya, kita pun memiliki kemuliaan. Ketika kita berada dalam penyertaan Kristus dan berada di hadapan wajah-Nya, kita berada dalam kemuliaan.
DIUBAH DARI KEMULIAAN
KE KEMULIAAN
Dalam 2Korintus 3:18 Paulus berkata, “Kita semua memancarkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Keperluan kita hari ini ialah memandang dan mencerminkan kemuliaan Tuhan. Ketika kita nampak kemuliaan-Nya, kita akan diubah (ditransformasi). Perhatikan, Paulus tidak berkata bahwa kita akan dibetulkan, diperbaiki, atau bahkan dikoreksi, melainkan ia menunjukkan bahwa kita akan ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Kristus. Kita bukan ditransformasi dari satu perbuatan ke perbuatan lain, atau dari satu kerohanian ke kerohanian lain, juga bukan ditransformasi dari satu kemenangan ke kemenangan lain. Haleluya, kita ditransformasi dari kemuliaan ke kemuliaan! Sumber dari transformasi ini bukanlah suatu doktrin yang harfiah, melainkan Tuhan Roh itu. Semakin kita memandang kemuliaan Tuhan dan ditransformasi oleh Tuhan Roh itu dari kemuliaan ke kemuliaan, semakinlah Tuhan memperoleh gereja yang mulia yang menjadi kedambaan-Nya.