← Daftar isi Inkarnasi, Inklusi, dan Intensifikasi · bab 2/4

INKARNASI, INKLUSI, DAN INTENSIFIKASI (2)

Pembacaan Alkitab :

Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:45b; Yoh. 20:22; Why. 1:4; 5:6

Dalam berita sebelumnya, kita mulai membahas ketiga tahap dari Kristus. Dalam berita ini, saya berbeban untuk menyampaikan secara khusus dan terbaru mengenai ketiga tahap inkarnasi, inklusi, dan intensifikasi dari Kristus ini.

PERSONA YANG MENAKJUBKAN

DALAM TIGA TAHAP

Jika kita ingin mengenal Kristus dalam ketiga tahap ini, kita perlu membahas seluruh Alkitab. Perjanjian Lama memuat banyak lambang dan nubuat mengenai Kristus, Mesias, Dia yang akan datang. Dalam Perjanjian Baru, kita memiliki penggenapan dari lambang-lambang dan nubuatnubuat mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama. (Kita telah membahas perkara ini secara terperinci dalam The Conclusion of the New Testament, berita 34 sampai 45). Seluruh Perjanjian Baru membahas satu persona — Kristus. Perjanjian Baru secara jelas mewahyukan bahwa sebagai penggenapan dari lambang-lambang dan nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama, Kristus adalah persona yang menakjubkan dalam tiga tahap. Sebagai orang yang menakjubkan, Dia itu dalam, rahasia, dan sangat kompleks.

Tahap Pertama, Inkarnasi,

Tahap Kristus di Dalam Daging

Perjanjian Baru telah dibaca, dipelajari, dan diselidiki oleh berjuta-juta orang dari abad ke abad. Saya sendiri telah membaca dan mempelajari Perjanjian Baru selama tujuh puluh tahun. Pengkajian saya juga telah melewati tiga tahap : tahap pertama di daratan China, tahap kedua di Taiwan, dan tahap ketiga di Amerika Serikat. Ketika berada di China, saya dibantu bahkan diajar secara luar biasa oleh Saudara Watchman Nee. Saya mempelajari setiap kitab dalam Perjanjian Baru dan juga berbagai penafsiran Alkitab. Meskipun sewaktu di China saya dibantu secara luar biasa oleh Saudara Watchman Nee, pengkajian saya terutama terbatas pada tahap pertama dari Kristus, yaitu tahap Kristus di dalam daging, Kristus dalam inkarnasi-Nya.

Seperti yang ditunjukkan oleh catatan dalam keempat kitab Injil, tahap ini hanya berlangsung selama tiga puluh tiga setengah tahun. Saat itu adalah saat Tuhan Yesus merampungkan penebusan Allah secara yuridis. Keempat kitab Injil mewahyukan Kristus dalam daging sebagai Dia yang menempuh kehidupan insani di bumi dan yang kemudian disalibkan, mati bagi dosa-dosa kita untuk menebus kita kembali kepada Allah. Tegasnya, ini bukan perkara keselamatan, tetapi penebusan yuridis.

Penebusan yuridis Allah meliputi pengampunan dosadosa (Luk. 24:47), penyucian dosa-dosa (Ibr. 1:3), pembenaran (Rm. 3:24-25), pendamaian dengan Allah (Rm. 5:10a), dan pengudusan secara kedudukan (1 Kor. 1:2; Ibr. 13:12). Secara yuridis, orang yang telah diampuni, dibasuh, dibenarkan oleh Allah, didamaikan dengan Allah, dan dikuduskan kepada Allah adalah orang yang telah diselamatkan.

Penebusan yuridis ini bukan keselamatan lengkap Allah. Sebaliknya, penebusan yuridis ini hanyalah bagian awal, bagian dasar, dari keselamatan Allah yang lengkap; keselamatan organik Allah didirikan di atas dasar ini.

Tahap Kedua, Inklusi,

Tahap Kristus Menjadi Roh Pemberi-Hayat

Sampai di sini, kita perlu membahas penutupan keempat kitab Injil. Keempat kitab Injil berakhir dengan catatan mengenai Kristus yang bangkit yang telah menjadi Roh yang almuhit, majemuk, dan pemberi-hayat. Pada malam hari kebangkitan-Nya, Ia datang kembali kepada muridmurid-Nya dengan cara yang sama sekali mistikal (Yoh. 20:19-22). Kita tidak dapat mengatakan bahwa Ia menampakkan diri kepada mereka hanya secara rohani, karena Ia masih memiliki tulang dan daging. Ia mengatakan kepada mereka, "Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian la memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka (Luk. 24:39-40). Murid-murid dapat melihat bekas paku di tangan-Nya dan menjamah tubuh-Nya. Meskipun Kristus yang bangkit memiliki tulang dan daging yang dapat dilihat dan dijamah, Ia dengan tibatiba memperlihatkan diri kepada murid-murid tanpa masuk melalui pintu (Yoh. 20:19). la tidak mengetuk pintu, dan tidak seorang pun membuka pintu, namun Ia datang dan berdiri di tengah-tengah mereka. Kedatangan-Nya secara demikian sesungguhnya adalah penampakan-Nya, pernyataan-Nya (21:1, 14). Ia tiba-tiba memperlihatkan diri kepada murid-murid dan kemudian tiba-tiba menghilang. Meskipun Tuhan Yesus memiliki tubuh fisik, Ia tiba-tiba memperlihatkan diri dalam ruangan yang pintu-pintunya terkunci. Penampakan diri-Nya dan menghilangnya Dia pada akhir keempat kitab Injil tidak hanya bersifat rohani, tetapi mistikal, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun.

Kristus yang Pneumatik

Yohanes 20:22 mengatakan, "Ia menghembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’" Perkataan ini menunjukkan bahwa Kristus berada di sana bersama muridmurid bukan hanya secara fisik tetapi juga sebagai Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b), sebagai Kristus yang pneumatik. Jika Ia hanya hadir secara fisik dan bukan sebagai Roh itu, murid-murid-Nya tidak akan dapat menerima-Nya sebagai pneuma kudus, nafas kudus. Jika Tuhan datang kepada mereka bukan sebagai Roh itu, mereka hanya dapat menjamah tubuh fisik-Nya yang terdiri atas tulang dan daging dan mereka hanya dapat memeluk-Nya, tetapi mereka tidak dapat menerima-Nya melalui menghirup-Nya. Dalam Yohanes 20, Kristus yang bangkit menghembuskan diri-Nya sendiri, dan murid-murid menghirup-Nya. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa dalam kebangkitan, Ia telah menjadi Kristus yang pneumatik, Kristus yang adalah Roh pemberi-hayat.

Dalam kebangkitan, Kristus sebagai Adam yang akhir dalam daging, menjadi Roh pemberi-hayat. Roh pemberi-hayat ini tidaklah sederhana, karena Roh ini meliputi keilahian, keinsanian, kematian, dan kebangkitan. Kristus yang memperlihatkan diri kepada murid-murid dalam Yohanes 20 memiliki empat unsur sebagai empat faktor dan empat kualifikasi. Ia adalah Allah yang memiliki unsur keilahian dan la adalah manusia yang memiliki unsur keinsanian, kematian, dan kebangkitan. Sebagai seorang yang telah menjadi Roh pemberihayat dalam kebangkitan, Ia memiliki keempat faktor ini.

Roh Majemuk

Roh pemberi-hayat ini adalah Roh yang almuhit, majemuk, yang dilambangkan oleh minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30:23-25. Sekarang, Roh itu tidak lagi hanya Roh Allah yang dilambangkan oleh minyak zaitun, tetapi adalah Roh majemuk yang dilambangkan oleh minyak urapan yang dibuat dengan mencampurkan satu hin minyak zaitun dengan empat macam rempah-rempah — mur dan kayu manis (melambangkan kematian Kristus dengan khasiatnya) serta tabu dan kayu teja (melambangkan kebangkitan Kristus dengan kuat kuasanya). Sebagai Roh yang majemuk, almuhit, pemberi-hayat, Ia sekarang adalah minyak urapan, yang diramu dengan empat faktor, yaitu Allah, manusia, kematian Kristus, dan kebangkitan Kristus.

Dua "Menjadi" dari Kristus

Kemajemukan Roh itu terjadi ketika Kristus sebagai Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat. Hal ini bukanlah perkara yang sederhana. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, Kristus telah melalui dua kali "menjadi". Menjadi yang pertama adalah inkarnasi-Nya : "Firman menjadi daging" (Yoh. 1:14). Menjadi yang pertama ini agak sederhana, karena meliputi masuknya keilahian ke dalam keinsanian dan perbauran antara keilahian dengan keinsanian, tetapi tidak meliputi kematian maupun kebangkitan. Menjadi yang kedua adalah dalam kebangkitan-Nya: "Adam yang akhir menjadi Roh pemberihayat" (1 Kor. 15:45b). Menjadi ini cukup kompleks karena meliputi keilahian, keinsanian, kematian Kristus, dan kebangkitan Kristus.

Kompleksitas yang Terdapat

dalam Kematian Kristus

Kematian Kristus itu sendiri sangat kompleks. Kematian-Nya adalah kematian yang almuhit. Dalam kematian-Nya yang almuhit, Ia menyalibkan daging dosa (Gal. 5:24; Rm. 8:3b); menghukum dosa serta menghapus dosa dan dosa-dosa melalui menumpahkan darah-Nya (Rm. 8:3b; Yoh. 1:29; Ibr. 9:26b, 28a; Yoh. 19:34b); memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (Ibr. 2:14; Yoh. 12:31b); menghakimi dunia dan mencampakkan penguasanya (Yoh. 12:31; Gal. 6:14b); menyalibkan manusia lama (Rm. 6:6; Gal. 2:20a; 6:14b); mengakhiri ciptaan lama melalui penyaliban manusia lama (Rm. 6:6); membatalkan hukum Taurat dan ketentuannya (Ef. 2:15a); dan membebaskan hayat ilahi (Yoh. 12:24; 19:34b). Di satu pihak, kematian Kristus membereskan semua perkara negatif; di lain pihak, kematian-Nya membebaskan hayat ilahi. Semakin kita membahas hal ini, kita akan semakin menyadari kompleksitas yang terdapat dalam kematian Tuhan yang almuhit.

Kompleksitas yang Terdapat

dalam Kebangkitan Tuhan

Kebangkitan Tuhan juga sangat kompleks. Kebangkitan-Nya menghasilkan Putra sulung Allah melalui meninggikan keinsanian Kristus ke dalam keilahian-Nya dan melalui Allah melahirkan (memperanakkan) Kristus (Kis. 13:33; Mzm. 2:7), yaitu menurut Roh kekudusan (keilahian Kristus) dinyatakan oleh kuat kuasa kebangkitan-Nya bahwa keturunan Daud (sifat insani Kristus) ini adalah Putra sulung Allah (Rm. 1:3-4). Dalam kebangkitan Kristus, semua umat pilihan Allah dilahirkan kembali untuk menjadi banyak putra Allah dan banyak saudara dari Putra sulung Allah (1 Ptr. 1:3; Ibr. 2:10; Rm. 8:29). Dalam kebangkitan Kristus, Roh Allah terampung sempurna menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b): Roh Kristus — Kristus yang pneumatik, Kristus yang dipneumatikkan (Rm. 8:9); perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sempurna yang terwujud dalam Kristus yang dipneumatikkan sebagai Roh pemberi-hayat; juga realitas kebangkitan, yaitu Kristus itu sendiri dan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sempurna (Yoh. 11:25; 1 Yoh. 5:6). Dari sini kita dapat melihat bahwa kebangkitan Kristus penuh dengan kompleksitas.

Karena begitu banyak kompleksitas yang terdapat dalam menjadi yang kedua (Ia menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit dalam kebangkitan), kita dapat menggunakan istilah "inklusi" untuk mengutarakan tahap kedua dari Kristus ini. Hasil dari menjadi ini bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan merupakan suatu kemajemukan; bukan hanya minyak (melambangkan Roh Allah), lebih-lebih minyak urapan (melambangkan Roh pemberi-hayat). Roh ini adalah Kristus yang pneumatik, Kristus dalam tahap kedua — tahap inklusi.

Bagi orang-orang Kristen mengajar mengenai inkarnasi itu sangat umum, tetapi jika ada, maka sangat se likit yang mengajar mengenai inklusi. Inkarnasi menghasilkan Kristus yang berada dalam daging, tetapi inklusi menghasilkan Kristus yang telah menjadi Roh yang majemuk, almuhit, pemberi-hayat. Kita melihat Roh yang majemuk ini dalam Kitab Kisah Para Rasul dan kedua puluh satu Surat Kiriman, mulai Roma sampai Yudas.

Kristus dalam Tahap Pertama Menghasilkan

Sekelompok Orang yang Ditebus, Kristus dalam

Tahap Kedua Menghasilkan Gereja

Dalam tahap pertama, tahap Kristus dalam daging, Kristus menghasilkan sekelompok orang yang ditebus, seperti Petrus dan semua murid yang lain. Meskipun orangorang yang ditebus telah ada, gereja belum dihasilkan. Gereja dihasilkan oleh Kristus dalam tahap kedua. Dalam tahap ini, Kristus adalah Kristus yang pneumatik, Roh majemuk, dan pemberi-hayat yang menghasilkan gereja pada hari Pentakosta. Orang-orang kudus yang ditebus, yang dihasilkan oleh Kristus dalam daging, menjadi gereja yang dihasilkan oleh Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.

Tahap Ketiga, Intensifikasi,

Tahap Kristus Menjadi Roh yang Diintensifkan Tujuh Kali

Menanggulangi Kemerosotan Gereja

Tidak lama setelah gereja dihasilkan, gereja mulai merosot. Ini jelas terlihat dalam Kitab Kisah Para Rasul. Da-lam pasal 5, Ananias dan Safira menipu Roh Kudus; dalam pasal 6, ada sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani karena pembagian makanan sehari-hari; dalam pasal 15 ada masalah mengenai sunat. Barnabas memisahkan diri dari Paulus (15:35-39) juga harus diperhitungkan sebagai bagian dari kemerosotan. Pada akhirnya, gereja merosot sampai tingkat yang sedemikian sehingga Tuhan tidak lagi dapat mentoleransinya, dan Ia bereaksi dengan mengintensifkan diri-Nya sendiri tujuh kali untuk menjadi Roh yang diintensifkan tujuh kali (Why. 1:4; 5:6). Ia diintensifkan tujuh kali untuk menanggulangi kemerosotan gereja.

Menghasilkan Tubuh Kristus

untuk Merampungkan Yerusalem Baru

Dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus membicarakan Tubuh (Rm. 12:5; 1 Kor. 12:12, 27; Ef. 1:23; 4:4, 16; Kol. 2:19), tetapi saya tidak yakin bahwa Paulus telah melihat realitas pembangunan Tubuh Kristus. Paulus dapat melihat gereja terekspresi dalam berbagai lokal, tetapi tidak dapatmelihat realitas gereja sebagai Tubuh Kristus secara sempuma dan lengkap. Untuk menghasilkan Tubuh secara sempurna dan lengkap, diperlukan tahap ketiga dari Kristus, tahap intensifikasi yang membuat Kristus menjadi Roh yang diintensifkan tujuh kali.

Setelah Paulus meninggal, Tuhan menunggu lebih dari dua puluh tahun sampai Yohanes menulis Kitab Wahyu. Wahyu adalah Surat Kiriman, tetapi karakternya sangat berbeda dengan Surat Kiriman yang lain dalam Perjanjian Baru. Dalam buku ini, Kristus yang telah menjadi Roh yang majemuk, almuhit, pemberi-hayat, telah menjadi Roh yang diintensifkan tujuh kali. Dalam Wahyu 1:4, yang ketiga dari trinitas ilahi, Roh itu, telah menjadi tujuh Roh dan urutannya menjadi yang kedua dari trinitas ilahi.

Kita telah menunjnkkan bahwa dalam tahap-Nya yang kedua, tahap Ia menjadi Roh majemuk, almuhit, pemberihayat, Kristus telah menghasilkan gereja-gereja, tetapi Tubuh belum banyak dihasilkan dan dibangun dengan sebenarnya dan secara riil. Itulah sebabnya, Kristus telah menjadi Roh yang diintensifkan tujuh kali untuk menang dari kemerosotan gereja sehingga dapat memproduksi para pemenang guna menghasilkan Tubuh.

Hasil dari Kristus di dalam daging adalah sekelompok orang yang ditebus, dan basil dari Kristus sebagai Roh yang majemuk, almuhit, dan pemberi-hayat adalah gereja-gereja. Agar Tubuh dihasilkan, maka Roh yang majemuk, almuhit, dan pemberi-hayat itu perlu diintensifkan tujuh kali. Pengintensifan tujuh kali ini menanggulangi tujuh keadaan dari tujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3.

Kaum Saudara dan orang-orang yang menganut ajaran mereka melihat sesuatu mengenai makna nubuat terhadap ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3. Dari pengkajian mereka terhadap pasal-pasal ini, mereka menemukan bahwa gereja berada dalam tujuh keadaan, dalam tujuh tahap, dan dalam tujuh periode. Tetapi mereka tidak melihat perihal pemenang. Jessie Penn-Lewis melihat perkara ini dan menerbitkan tulisan berjudul "Pemenang". Meskipun Nyonya Penn-Lewis menulis sesuatu mengenai ketujuh gereja yang menghasilkan para pemenang, namun terang yang diterimanya tidak lengkap, karena itu ia tidak melihat bahwa para pemenang adalah untuk pembangunan Tubuh demi merampungkan Yerusalem Baru. Tahap inkarnasi menghasilkan sekelompok orang tebusan, dan tahap inklusi menghasilkan gereja, tahap intensifikasi akan membangun Tubuh untuk merampungkan Yerusalem Baru.

MELAKUKAN PEKERJAAN DARI TIGA BAGIAN

Beban saya ialah agar semua sekerja dalam pemulihan Tuhan nampak bahwa kita perlu melakukan pekerjaan dari tiga bagian. Kita tidak seharusnya hanya dapat melakukan pekerjaan pada bagian pertama, bagian inkarnasi, yaitu menghasilkan orang-orang tebusan, tetapi kita juga harus dapat melakukan pekerjaan yang dapat menggenapkan tujuan bagian kedua, bagian inklusi, yaitu menghasilkan gereja-gereja. Selain itu, kita harus dapat melakukan pekerjaan untuk membangun Tubuh Kristus yang merampungkan Yerusalem Baru. Inilah pekerjaan pada tahap intensifikasi.

Tahap pertama, inkarnasi, ada dalam ruang lingkupfisik untuk merampungkan penebusan yuridis yang merupakan perkara fisik. Tahap kedua, inklusi, adalah ilahi dan mistikal. Dalam tahap ketiga, intensifikasi, akan ada pendewasaan dan pematangan dalam ruang lingkup ilahi dan mistikal, dan Tubuh akan dibangun untuk merampungkan Yerusalem Baru.

Saat menyampaikan berita ini, saya khawatir kalau para sekerja tidak melaksanakan pekerjaan tiga tahap: pekerjaan pada tahap inkarnasi, pekerjaan pada tahap inklusi, dan pekerjaan pada tahap intensifikasi. Jika kita melaksanakan pekerjaan tiga tahap ini, kita akan bekerja bukan hanya untuk menghasilkan orang-orang tebusan atau bekerja untuk mendirikan gereja-gereja, tetapi juga akan bekerja untuk membangun Tubuh guna merampungkan Yerusalem Baru.

Saya mempersilakan para sekerja untuk mempertimbangkan pekerjaan macam apakah yang telah mereka lakukan di masa lampau, dan bertanya pada diri sendiri apakah mereka telah melakukan pekerjaan dari ketiga bagian tersebut. Mengenai pekerjaan saya sendiri, saya dapat mengatakan bahwa pekerjaan yang saya lakukan di daratan China terutama adalah untuk menghasilkan orang-orang tebusan. Hanya sebagian kecil dari pekerjaan saya di sana adalah untuk menghasilkan gereja-gereja. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan saya di China terutama adalah pekerjaan dalam tahap pertama. Tetapi, ketika saya tiba di Taiwan, saya mulai melakukan pekerjaan dalam tahap inklusi, dan banyak gereja-gereja didirikan. Sekarang, saya berbeban untuk melakukan pekerjaan dalam tahap intensifikasi. Karena itu, saya berdoa kepada Tuhan dan mengatakan, "Tuhan, saya berusaha keras untuk melakukan yang terbaik agar menjadi seorang pemenang untuk pembangunan Tubuh-Mu guna merampungkan Yerusalem Baru."

Saya harap semua sekerja akan melihat ketiga tahap ini, ketiga bagian dari Kristus : inkarnasi, tahap Kristus dalam daging; inklusi, tahap Kristus menjadi Roh pemberihayat; intensifikasi, tahap Kristus menjadi Roh pemberihayat yang diintensifkan tujuh kali. Ketiga tahap ini adalah ketiga bagian dari sejarah Kristus. Ini berarti bahwa sejarah Kristus dibagi menjadi bagian inkarnasi-Nya, bagian inklusi-Nya, dan bagian intensifikasi-Nya. Karena itu, kami menekankan ketiga kata ini: inkarnasi, inklusi, intensifikasi, dan menitikberatkan fakta bahwa inkarnasi menghasilkan orang-orang tebusan, inklusi menghasilkan gerejagereja, dan intensifikasi menghasilkan para pemenang untuk membangun Tubuh yang rampung dalam Yerusalem Baru sebagai sasaran unik ekonomi Allah. Inilah wahyu dalam Perjanjian Baru.

Pekerjaan macam apakah yang harus kita lakukan hari ini? Kita harus melakukan pekerjaan dari ketiga bagian ini. Saya khawatir jangan-jangan banyak sekerja yang masih hanya bekerja dalam bagian pertama, bagian inkarnasi. Jika memang demikian, Anda perlu berkembang dan maju. Apa yang telah Anda pelajari dan apa yang telah Anda lakukan di masa lampau belumlah memadai. Memang Anda tidak boleh melepaskan perkara-perkara pada tahap pertama, karena perkara-perkara itu adalah fondasi. Sekarang, Anda perlu mulai membangun di atas fondasi ini dan akhirnya memiliki perampungan bangunan. Fondasi adalah pekerjaan dalam tahap inkarnasi; pembangunan adalah pekerjaan dalam tahap inklusi; dan perampungan bangunan adalah pekerjaan dalam tahap intensifikasi.

MAJU DARI INKLUSI MENUJU INTENSIFIKASI

Saya menggunakan istilah inklusi (inclusion) adalah berdasarkan penggunaan kita terhadap istilah inklusif (inclusive). Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat berarti Kristus menjadi Roh yang almuhit. la menjadi almuhit bukan hanya perkara inkarnasi, tetapi jugs inklusi. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam inklusi ada banyak kompleksitas. Dalam tahap inklusi, banyak perkara tercakup dalam Kristus yang pneumatik, dalam Kristus yang adalah Roh pemberi-hayat. Sekarang, kita perlu melihat bahwa Roh yang almuhit dan pemberi-hayat itu telah menjadi Roh yang diintensifkan tujuh kali.

Saya akan mendorong kalian untuk mempertimbangkan perkara intensifikasi ini dan berdoa dengan sungguhsungguh, mengatakan, "Tuhan, aku harus maju. Aku perlu anugerah-Mu untuk membawaku maju terus. Aku tidak ingin tetap tinggal dalam pekerjaan inkarnasi atau bahkan dalam pekerjaan inklusi. Aku ingin maju, dari inklusi menuju intensifikasi. Tuhan, Engkau telah diintensifkan tujuh kali, dan aku berdoa agar saya juga akan diintensifkan tujuh kali untuk menang dari kemerosotan gereja sehingga Tubuh Kristus dapat dibangun guna merampungkan Yerusalem Baru."