INKARNASI, INKLUSI, DAN INTENSIFIKASI (1)
Pembacaan Alkitab :
Yoh. 1:14; 1 Kor. 15:45b; Kel. 30:23-25; Why. 5:6
Dalam berita ini, kita akan mulai membahas ketiga tahap dari Kristus, yaitu ketiga tahap sejarah dari apa adanya Kristus : inkarnasi (menjadi daging), inklusi (pencakupan, pemasukan), dan intensifikasi (penguatan, peningkatan). Kebanyakan orang beriman dalam Kristus tahu sesuatu mengenai tahap pertama dari sejarah Kristus, tahap inkarnasi; tetapi kalaupun ada, mereka hanya tahu sedikit mengenai tahap kedua dan tahap ketiga, tahap inklusi dan intensifikasi.
INKARNASI
Orang-orang Kristen sangat memperhatikan perihal inkarnasi. Setiap tahun, pada hari Natal, begitu banyak kaum beriman merayakan inkarnasi Tuhan; tetapi, tidak banyak yang memahami makna yang terkandung di dalam inkarnasi tersebut. Melalui inkarnasi, Kristus sebagai Allah menjadi daging. Yohanes 1:14 memberi tahu kita bahwa Firman, yang adalah Allah sendiri, menjadi daging.
INKLUSI
Dalam kebangkitan-Nya, Kristus yang telah menjadi daging melalui inkarnasi menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Karena itu, Kristus telah melewati dua kali "menjadi". Menjadi yang pertama terlihat dalam Yohanes 1:14 — Firman menjadi daging. Menjadi yang kedua terlihat dalam 1 Korintus 15:45b — Adam yang akhir (Kristus dalam daging) menjadi Roh pemberi-hayat. Dari pengkajian kita terhadap Alkitab, kita menemukan bahwa "menjadi" yang kedua ini tidak kalah pentingnya dengan "menjadi" yang pertama dalam inkarnasi. Sebagaimana akan kita lihat, Kristus menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan memiliki banyak seluk-beluk yang boleh kita nyatakan dengan istilah "inklusi".
Diurapi dengan Roh Pemberi-Hayat
Kristus menjadi daging melalui inkarnasi itu agak sederhana, karena hanya melibatkan dua pihak, Roh Kudus dan anak dara (Luk. 1:26-27, 30-32, 35). Sebaliknya, Kristus menjadi Roh pemberi-hayat itu tidak sederhana, karena melibatkan dan mencakup keilahian, keinsanian, kematian Kristus beserta khasiatnya, dan kebangkitan Kristus beserta kuat kuasanya. Di dalam dan melalui kebangkitan Kristus, ada enam perkara yang dibaurkan untuk menjadi Roh pemberi-hayat, yang adalah minyak urapan Allah (1 Yoh. 2:20, 27).
Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah telah mengurapi kita dengan Roh-Nya (2 Kor. 1:21; Luk. 4:18). Tetapi, Allah mengurapi kita bukan hanya dengan Roh Allah (Kej. 1:21), juga bukan hanya dengan Roh Yehova (Bak. 3:10; 6:34), ataupun hanya dengan Roh Kudus (Mat. 1:18, 20); Allah telah mengurapi kita dengan Roh pemberi-hayat, Roh yang memberikan hayat ilahi kepada keinsanian yang jatuh. Syukur kepada Tuhan, karena kita semua telah diurapi oleh dan dengan Roh pemberi-hayat yang majemuk ini!
Roh Majemuk
Dilambangkan oleh Minyak Urapan
Roh pemberi-hayat yang majemuk dilambangkan oleh minyak urapan dalam Keluaran 30:23-25. Tanpa ayat-ayat dalam Keluaran 30 ini, akan sulit bagi kita untuk mengerti bagaimana Roh pemberi-hayat itu merupakan ramuan dari Allah, manusia, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, khasiat kematian Kristus, dan kuat kuasa kebangkitan Kristus. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Ia telah menyingkapkan rincian dari Keluaran 30:23-25 ini kepada kita dalam pemulihan-Nya. Ketika masih bersama dengan Kaum Saudara (The Brethren), saya hanya diajar bahwa minyak urapan kudus dalam Keluaran 30 itu mengacu kepada Roh itu. Ini adalah bantuan satu-satunya yang saya terima dari mereka berkenaan dengan ayat-ayat ini. Selama bertahun-tahun saya meluangkan banyak waktu pada ayat-ayat ini, mempertimbangkan setiap butirnya, bahkan setiap kata. Setiap rinci seperti potongan gambar susun. Pada akhirnya, saya berhasil menyusun semua potongan gambar susun ini, dan saya melihat gambaran yang menakjubkan dari Roh yang majemuk ini.
Minyak urapan dalam Kitab Keluaran adalah campuran dari satu bahan utama — satu hin minyak zaitun, dicampur dengan empat macam rempah-rempah: mur, kayu manis, tebu, dan kayu teja. Sudah pasti, satu hin minyak zaitun ini melambangkan Allah. Angka satu melambangkan Allah, dan angka empat (empat macam rempah-rempah) melambangkan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Secara khusus, angka empat di sini melambangkan Kristus yang berinkarnasi sebagai seorang manusia. Mur melambangkan kematian Kristus, dan kayu manis melambangkan khasiat kematian Kristus. Tebu adalah buluh yang tumbuh di rawa-rawa atau di tempat berlumpur, menjulang ke langit; karena itu tebu melambangkan kebangkitan Kristus. Kayu teja adalah sejenis kulit kayu yang digunakan sebagai penangkal ular dan serangga. Karena itu, kayu teja melambangkan kuat kuasa, khususnya kuat kuasa menangkal dari kebangkitan Kristus.
Pada minyak urapan dalam Kitab Keluaran 30 kita juga melihat angka tiga (melambangkan Allah Tritunggal), terlihat pada fakta bahwa kuantitas rempah-rempah terdiri atas tiga unit satuan, masing-masing lima ratus syikal: mur lima ratus syikal, kayu mans dua ratus lima puluh syikal, tebu dua ratus lima puluh syikal, dan kayu teja lima ratus syikal. Satuan lima ratus syikal yang kedua dibagi menjadi dua bagian, masing-masing dua ratus lima puluh syikal. Kedua bagian ini melambangkan Kristus (yang tengah dari trinitas ilahi) yang "terbelah", terluka di atassalib. Di sini kita tidak hanya melihat trinitas (dilambangkan oleh tiga satuan, masing-masing lima ratus syikal), tetapi juga Kristus yang terluka di atas salib (dilambangkan oleh terpisahnya satuan lima ratus syikal yang kedua menjadi dua bagian, masing-masing dua ratus lima puluh syikal). Betapa menakjubkan lambang ini!
Selanjutnya, pada minyak urapan ini kita juga melihat angka lima, terbentuk dengan dua cara: melalui menambahkan satu hin minyak zaitun dengan empat macam rempah-rempah dan angka lima pada lima ratus syikal. Dalam Alkitab, angka lima melambangkan tanggung jawab. Sebagai contoh, sepuluh perintah Allah ditulis pada dua loh batu, masing-masing loh terdiri atas lima perintah, dan sepuluh anak dara dalam Matius 25 dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing lima orang. Lima terdiri atas empat ditambah satu, angka empat melambangkan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dan angka satu melambangkan Allah. Dari sini kita melihat bahwa angka lima melambangkan Allah ditambahkan kepada manusia untuk memberi kita kemampuan memikul tanggung jawab. Dalam Roh majemuk, kita memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab.
Kemajemukan Roh Itu Adalah Perkara Inklusi
Apa yang kita miliki dalam Keluaran 30 adalah minyak urapan sebagai lambang dari Roh pemberi-hayat yang majemuk. Realitas kemajemukan Roh itu terjadi dalam kebangkitan Kristus. Dalam kebangkitan itulah Allah yang terwujud dalam Kristus dan berbaur dengan keinsanian-Nya dicampurkan dengan kematian Kristus, khasiat kematian Kristus, kebangkitan Kristus, dan kuat kuasa kebangkitan Kristus untuk menghasilkan Roh majemuk. Campuran ini adalah perkara inklusi, karena dalam Roh pemberi-hayat majemuk ini tercakup enam butir. Karena itu, Roh pemberi-hayat dapat disebut Roh almuhit (meliputi segala sesuatu), Roh yang mencakup keilahian, keinsanian, kematian Kristus serta khasiatnya, dan kebangkitan Kristus serta kuat kuasanya.
Roh Itu Dihembuskan ke Dalam Murid-murid
Inkarnasi adalah perkara yang obyektif, sedangkan inklusi bersifat subyektif bagi kita dan dapat diterapkan dalam pengalaman kita. Menurut Yohanes 20:22, pada ma-lam hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus datang sebagai Roh majemuk dan menghembusi murid-murid-Nya sambil berkata, "Terimalah Roh Kudus." Karena murid-murid adalah wakil dari Tubuh, maka kita semua ada di sana ketika Roh itu dihembuskan ke dalam mereka. Pada saat itu, Roh itu dihembuskan ke dalam seluruh Tubuh. Sama seperti lengan yang menerima suntikan demi faedah tubuh fisik kita, demikian juga dengan murid-murid dalam Yohanes 20, mereka menerima Roh itu bagi seluruh Tubuh Kristus. Sebagai bagian dari Tubuh, murid-murid itu mewakili Tubuh untuk menerima inklusi tersebut, yaitu menerima Roh majemuk. Karena kita dapat mengalami Kristus dalam tahap inklusi sedemikian subyektif, maka dalam tahap ini, Ia lebih dapat diterapkan pada diri kita daripada dalam tahap inkarnasi.
INTENSIFIKASI
Tidak lama setelah terbentuk, gereja menjadi merosot. Gereja seharusnya menghasilkan Tubuh Kristus, tetapi sayang sekali, seperti yang diwahyukan dalam Surat-surat Kiriman, bahkan pada masa Paulus, gereja sudah perlahanlahan menjadi merosot. Karena kemerosotan ini, Roh pemberi-hayat yang majemuk diintensifkan tujuh kali menjadi Roh yang diintensifkan tujuh kali (Why. 1:4; 5:6). Roh yang diintensifkan tujuh kali ini adalah untuk menga]ihkan kemerosotan gereja dan menghasilkan para pemenang sehingga Tubuh Kristus dapat dibangun secara rill untuk merampungkan Yerusalem Baru, yang merupakan sasaran unik dan kekal dari hasrat hati Allah.
Dari hal-hal tersebut di atas, kita dapat melihat sejarah Kristus dalam tiga tahap: inkarnasi, inklusi, dan intensifikasi. Dalam tahap pertama — inkarnasi, Kristus adalah Kristus dalam daging. Dalam tahap kedua — inklusi, Kristus adalah Kristus yang pneumatik, Roh pemberi-hayat. Sekarang, dalam tahap ketiga — intensifikasi, Kristus adalah Roh yang diperkuat tujuh kali. Kita perlu mengenal Kristus dalam ketiga tahap ini. Jika kita tahu ketiga tahap dari inkarnasi, inklusi, dan intensifikasi, kita akan benar-benar mengenal Alkitab.