← Daftar isi Filipi (1) · bab 7/20

RAHASIA KECUKUPAN RASUL DI DALAM KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Flp. 4:10-13; 3:9

Dalam berita ini kita akan membahas rahasia kecukupan Paulus di dalam Kristus. Paulus telah mempelajari rahasia kecukupan, kepuasan, dan kesenangan. Rahasia ini sebetulnya adalah Kristus itu sendiri. Dalam pasal 1, Kristus adalah kehidupan yang kita perhidupkan; dalam pasal 2, Kristus adalah teladan yang kita ikuti; dan dalam pasal 3, Kristus adalah sasaran dan pahala yang kita tuntut. Sekarang, dalam pasal 4, Kristus adalah rahasia dan kekuatan yang kita nikmati. Dalam melakukan banyak perkara, pertama-tama kita harus mengetahui rahasianya, dan juga harus ada kekuatan, tenaga, energi untuk melaksanakannya.

BELAJAR RAHASIA

Dalam mengajar orang melakukan suatu perkara, sekalipun perkara yang sepele, pertama-tama kita harus mengajarkan rahasianya. Misalnya, kita mengajarkan cara memanggang daging kepada seseorang. Kalau orang itu tidak belajar dulu rahasia memanggang daging, ia akan merusak daging itu; satu sisi terbakar hangus, dan sisi lainnya masih mentah. Demikian pula, kita boleh jadi belum mengetahui rahasia kecukupan dalam Kristus yang tercantum dalam Filipi 4. Mungkin kita sering memperbincangkan Surat Filipi, tetapi tidak mengetahui rahasia untuk mengalami Kristus. Ibaratnya, karena kita tidak mempunyai kunci, maka kita tidak dapat membuka pintu pengalaman akan Kristus. Saya ulangi, dalam pasal 4 kita mempunyai rahasia dan kekuatan. Di satu aspek, Paulus berkata, “Aku telah belajar rahasianya” (ayat 12 Tl.); di aspek lain, ia berkata, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ayat 13).

Dalam ayat 11 Paulus berkata, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Ungkapan “mencukupkan diri” seharusnya tidak dihubungkan dengan “aku”, sebab kata “aku” berhubungan dengan ungkapan “dalam segala keadaan”. Sebaliknya, “mencukupkan diri” seharusnya dihubungkan dengan “aku telah belajar”. Paulus telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Dia dapat berkata, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Dalam ayat 12 Paulus melanjutkan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal, aku telah belajar rahasianya; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan” (Tl.). Frase “aku telah belajar rahasianya” dapat juga diterjemahkan sebagai “aku telah dibawa masuk”. Ini adalah satu kiasan, mengiaskan seseorang dibawa masuk ke dalam suatu masyarakat yang rahasia dengan menerima ajaran tentang prinsip-prinsip dasarnya.

Dalam kalangan orang Yunani terdapat sejumlah perkumpulan rahasia. Siapa saja yang menjadi anggota sebuah perkumpulan yang demikian harus belajar prinsip-prinsip dasar dari perkumpulan tersebut. Orang lain harus membawanya ke dalam perkumpulan melalui mengajarkan prinsip-prinsipnya terlebih dulu. Dengan memakai kiasan ini Paulus membicarakan gereja adalah lembaga yang sangat rahasia, juga memiliki beberapa prinsip dasar. Setelah Paulus bertobat kepada Kristus, di suatu aspek, ia dibawa masuk ke dalam hidup gereja. Ini berarti ia telah belajar rahasia untuk menikmati Kristus, bagaimana mengambil Kristus sebagai hayat, bagaimana memperhidupkan Kristus, bagaimana memperbesar Kristus, bagaimana mendapatkan Kristus, dan bagaimana menempuh hidup gereja. Hal-hal itu adalah prinsip-prinsip dasar hidup gereja.

Meskipun gereja, Tubuh Kristus, ada aspek yang rahasia, tetapi gereja sama sekali bukan sebuah perkumpulan rahasia. Sebaliknya, gereja adalah sebuah kota terang di atas gunung. Tidak hanya demikian, gereja terbuka bagi semua orang yang ingin datang. Tetapi karena gereja memiliki aspek yang rahasia, maka perlu adanya inisiasi (perkenalan) rohani, agar orang dapat belajar prinsip-prinsip hidup gereja.

Prinsip dasar kehidupan gereja sama sekali berbeda dengan prinsip dasar dunia. Mungkin kita mengetahui semua prinsip dasar dunia, tetapi tidak mengetahui sedikit pun tentang prinsip dasar hidup gereja. Karena itu, ketika kita beroleh selamat dan memasuki gereja, Tubuh Kristus, kita perlu memasukinya melalui belajar prinsip dasar tertentu. Rahasia Tubuh ialah menerima Kristus sebagai hayat kita, memperhidupkan Kristus, menuntut Kristus, mendapatkan Kristus, memperbesar Kristus, dan mengekspresikan Kristus. Ini semua adalah prinsip dasar gereja, Tubuh Kristus. Sebagai seorang yang telah masuk ke dalam Tubuh, Paulus telah belajar rahasia ini.

Hari ini banyak orang Kristen yang belum memasuki hidup gereja sedemikian. Walaupun mereka telah berpaling kepada Kristus, telah dibaptis, dan telah mengikuti sebuah denominasi, tetapi mereka belum memasuki Tubuh Kristus. Mereka belum belajar bagaimana menerima Kristus sebagai hayat, bagaimana memperhidupkan Kristus, bagaimana menerima Kristus sebagai teladan mereka, dan bagaimana menganggap semua perkara yang agamis, budaya, dan filosofis sebagai sampah, supaya mendapatkan Kristus. Keadaan mereka berbeda dengan Paulus, mereka tidak belajar rahasia untuk mengalami Kristus. Paulus telah memasuki baik hidup kristiani yang tepat maupun hidup gereja yang tepat.

MENERAPKAN RAHASIA

Berdasarkan 4:10-13 Paulus menerapkan rahasia yang telah ia pelajari ke dalam lingkungannya di dalam penjara. Sebagai tawanan di Roma, ia berjauhan dengan kaum beriman dan gereja yang telah ia dirikan lewat ministrinya. Tidak dapat disangsikan lagi, selama pemenjaraannya, ia menderita baik secara jasmani maupun jiwani. Ia sangat membutuhkan suplai materi. Sungguh tidak mudah baginya berada di penjara dalam keadaan sedemikian.

Menurut catatan Perjanjian Baru, ketika Paulus berpergian ke Eropa demi penunaian ministrinya, gereja di Filipilah yang satu-satunya memperhatikan kebutuhan materi Paulus. Dalam 4:15 ia berkata, “Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, selain kamu tidak ada satu jemaat pun yang mendukung aku dalam pemberian dan penerimaan.” Kata “hal” di sini dalam bahasa aslinya mengacu kepada “rekening”; ini menunjukkan bahwa pemberian materi dari kaum beriman Filipi kepada rasul membukakan suatu rekening antara mereka dengan rasul. Dalam berita yang akan datang kita akan nampak lebih jelas, betapa kaum beriman di Filipi telah membuka sebuah rekening dengan Paulus yang mirip dengan membuka rekening pada bank hari ini. Kaum beriman Filipi berkali-kali mengirimkan “deposito” ke dalam rekening ini. Dalam ayat 16 Paulus mengingatkan mereka, “Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.” Dalam ayat 17 Paulus sekali lagi menunjukkan rekening yang dibuka kaum beriman dengannya. “Tetapi bukan pemberian itu yang kucari, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.”

Kita telah menunjukkan bahwa kaum beriman Filipi telah membuka rekening koran surgawi dengan Paulus, dan kita juga tahu betapa mereka menyuplai kebutuhan materinya. Namun, ketika Paulus berada dalam penjara, ia mempunyai kebutuhan jasmani tertentu. Karena Paulus masih sebagai manusia, ia mengharapkan orang-orang Filipi mengingatnya. Tetapi suplai mereka terhenti untuk sejangka waktu. Ini tersirat dalam perkataan Paulus dalam ayat 10: “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.” Perhatikanlah kata “akhirnya” dan “bertumbuh kembali”. Istilah “bertumbuh kembali” dalam bahasa aslinya berarti “bertunas dan berbunga”. Untuk sejangka waktu pikiran atau perhatian orang Filipi terhadap Paulus memang telah terhenti, bahkan mungkin menjadi layu. Perhatian mereka terhadap Paulus jelas tidak bertumbuh. Tetapi ketika Paulus menulis ayat ini, musim dingin telah lewat, dan musim semi telah tiba. Dia kini dapat berkata bahwa pikiran mereka terhadapnya berbunga kembali. Paulus sangat baik dalam mengatakan, “Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.” Namun, dalam perkataan Paulus tersirat bahwa sebelum perhatian mereka kepadanya berbunga kembali, ia berharap menerima suplai materi dari mereka. Dia berharap beroleh suplai dari gereja yang satu-satunya telah membuka rekening koran surgawi dengannya. Namun, untuk sejangka waktu, tidak ada deposito yang masuk. “Bunga-bunga” itu telah layu selama musim dingin. Tetapi kini musim semi telah tiba, bunga muncul lagi.

Terhentinya untuk sementara suplai materi dari orang-orang Filipi adalah kuasa pengaturan Allah. Ya, mereka memang telah membuka rekening koran dengan Paulus, tetapi apakah gunanya rekening yang tanpa deposito? Tidak adanya suplai ketika itu bagi Paulus merupakan saat-saat ujian, yaitu saat-saat ia mengalami kekurangan. Ketika Epafroditus datang dengan suplai, sudah pasti sejumlah deposito yang besar telah masuk ke dalam rekening surgawi, dan itulah saat-saat Paulus menikmati kelimpahan. Karena itu, dalam ayat 12 ia dapat berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan.” Ia tahu bagaimana mengalami kemiskinan dan berada dalam keadaan rendah, dan ia pun tahu bagaimana hidup dengan berkelimpahan.

Dalam ayat 12 Paulus menggunakan beberapa ungkapan yang sulit dimengerti, ia berkata, “Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal”. Mungkin kita akan bertanya, apakah perbedaan antara setiap keadaan dengan segala hal? Bukankah keduanya itu merupakan ungkapan yang sama? Lagi pula, pada awal ayat ini Paulus berkata bahwa ia tahu “bagaimana mengalami kekurangan” dan “bagaimana mengalami kelimpahan”. Namun di akhir ayat ini ia mengganti urutannya dan berkata bahwa ia telah belajar rahasia “baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan kelaparan, baik dalam keadaan kelimpahan maupun dalam keadaan kekurangan”. Dalam mengkaji firman Tuhan kita harus menaruh perhatian atas hal-hal seperti ini.

Dalam ayat-ayat ini Paulus menunjukkan bahwa ia sedang dalam kekurangan; ia perlu suplai materi. Ketika ia dalam kekurangan, ia dipandang rendah. Di hadapan para sipir, para pengawal, bahkan di hadapan seluruh warga istana, ia memang kekurangan dan dipandang rendah. Boleh jadi orang lain berkata tentang ia demikian, “Kasihan benar tawanan ini! Tak seorang pun yang memperhatikan dia, dan tidak ada bantuan apa pun baginya.” Tetapi tiba-tiba datang Epafroditus dengan kiriman orang-orang Filipi. Dalam ayat 18 Paulus berkata, “Kini aku telah menerima semua yang perlu dari kamu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah.” Sekarang, karena Paulus telah menerima suplai mereka yang kaya, ia tidak kekurangan apa pun. Karena itu ia berkata, “Aku telah menerima semua yang perlu dari kamu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan.”

Sebelum Epafroditus datang, Paulus dalam keadaan rendah; setelah Epafroditus datang dengan suplai, Paulus menjadi berkelimpahan. Tetapi ia tidak tahu kelimpahan itu bisa bertahan berapa lama. Dia tahu mungkin waktunya akan tiba dan ia akan kembali mengalami kekurangan. Ia pernah berada dalam situasi yang rendah, kini ia berada di puncak yang tinggi. Namun, mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia akan kembali ke tempat yang rendah. Itulah alasannya pertama-tama ia berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan.” Tetapi karena Epafroditus telah datang dengan suplai, maka Paulus mengubah urutannya dan berkata, “Aku telah belajar rahasianya; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan kelaparan, baik dalam keadaan berkelimpahan, maupun dalam keadaan berkekurangan” (Tl.). Paulus tahu bahwa keadaannya dapat segera berubah lagi, maka ia berkata bahwa ia tidak saja tahu apa itu berkekurangan dan apa itu berkelimpahan, tetapi juga tahu apa itu berkelimpahan dan kembali berkekurangan lagi.

PENGATURAN KEDAULATAN ALLAH

TERHADAP KEADAAN SEKITAR KITA

Alasan saya dengan detail membahas masalah ini ialah menunjukkan bahwa keadaan sekitar kita selalu diatur oleh kedaulatan Allah. Adakalanya pengaturan kedaulatan-Nya menaruh kita dalam situasi rendah, dan adakalanya Ia menaruh kita dalam keadaan yang cukup baik. Paulus paham, sekalipun suplai telah datang dari gereja di Filipi, keadaan sekitarnya tetap berada dalam tangan Allah. Dalam pengaturan kedaulatan Allah, gereja di Filipi sampai kini belum juga mengirimkan suplai. Boleh jadi mereka berniat mengirimkan hadiah kepadanya, tetapi ketika Epafroditus ingin datang baru mereka beroleh kesempatan. Ketika kesempatan itu tiba, maka kaum beriman Filipi mengutus orang membawakan kiriman itu kepada Paulus. Suplai itu membawanya keluar dari keadaan rendah, kekurangan, dan kehinaan, serta meletakkannya di puncak. Namun, ia tidak mengetahui hal tersebut dapat bertahan berapa lama. Tetapi ia yakin bahwa ia tahu apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan, bagaimana dalam keadaan berkelimpahan dan bagaimana dalam keadaan berkekurangan. Ia telah belajar rahasianya; ia telah menyelami prinsip-prinsip dasar Kristus dan gereja.

Dalam ayat 13 kita temukan satu prinsip dasar yang berkaitan dengan rahasia kecukupan rasul di dalam Kristus: “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Paulus adalah seorang yang di dalam Kristus (2Kor. 12:2), dan ia damba ditemukan orang lain di dalam Kristus. Kini ia menyatakan bahwa ia dapat melakukan segala hal di dalam Dia, Kristus yang memberi kekuatan kepadanya. Ini merupakan kata penutup yang almuhit mengenai pengalamannya akan Kristus. Ketika Tuhan menyinggung kesatuan kita yang organik dengan-Nya dalam Yohanes 15:5, Ia berkata, “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Di sini Paulus mengatakannya dari segi positifnya.

DAPAT MELAKUKAN SEGALA HAL DALAM DIA

YANG MEMBERI KEKUATAN KEPADA KITA

Dalam 4:13 Paulus menyebut Kristus sebagai Dia yang “memberi kekuatan kepadaku”. Diperkuat sedemikian ini berarti dibuat dinamis dalam batin. Kristus diam di dalam kita (Kol. 1:27). Dia menguatkan kita, membuat kita dinamis dari dalam, bukan dari luar. Dengan penguatan dari dalam semacam ini, Paulus mampu melakukan segala hal dalam Kristus.

Dalam ayat 13 kita nampak rahasia yang disebut Paulus dalam ayat 12. Di sini Paulus berkata bahwa ia berada di dalam Kristus, di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya. Dalam pasal 3 Paulus mempersaksikan bahwa ia mengejar Kristus untuk mendapatkan Dia dan ditemukan di dalam Dia. Sekarang dalam 4:13 Paulus berkata bahwa ia berada di dalam Dia. Di dalam Kristus yang memberi kekuatan kepadanya, Paulus dapat melakukan segala hal. Dia dapat berkata, “Kristus adalah rahasia kecukupanku. Asal aku memiliki Dia, asal aku berada di dalam Dia, segala hal dapat kulakukan.”

Untuk mengapresiasi perkataan Paulus kita perlu menghubungkan frase “di dalam Dia” dalam ayat 13 dengan frase yang sama dalam 3:9. Dalam 3:9 Paulus damba untuk ditemukan di dalam Dia; dalam 4:13 Paulus menyatakan bahwa dia mampu melakukan segala hal di dalam Dia, Kristus yang memberi kekuatan kepadanya. Inilah rahasianya.

Sudahkah Anda nampak rahasia ini? Sudahkah Anda memiliki rahasia ini? Keadaan sekitar kita mungkin berubah. Dalam keadaan tertentu mungkin kita berkelimpahan, dan dalam keadaan lain mungkin kita berkekurangan. Tetapi entah kita berkelimpahan atau berkekurangan, kenikmatan akan Tuhan adalah sama. Boleh jadi Paulus menikmati Kristus lebih banyak pada saat ia dalam berkekurangan daripada saat ia berkelimpahan. Mungkin ia menikmati Kristus lebih banyak ketika ia miskin daripada ketika ia kaya. Namun ini adalah pemahaman saya pribadi. Boleh jadi Paulus dapat berkata, “Tidak, aku menikmati Kristus ketika aku dalam kekurangan sama dengan ketika aku dalam kelimpahan. Bagiku miskin atau kaya, rendah atau tinggi, tiada bedanya. Kenikmatan akan Kristus itu sama.” Sekalipun kenikmatannya mungkin sama, tetapi cita rasanya berbeda. Entah apa perbedaannya dalam kenikmatan atau cita rasa itu, yang pasti ialah Paulus telah belajar rahasianya.

MENGATASI KEKHAWATIRAN

Jika kita telah belajar rahasia itu, kita akan mengetahui bagaimana mengatasi kekhawatiran. Bila Anda dalam keadaan miskin, tidak perlu Anda merasa khawatir atau cemas. Tuhan tetap dekat, Dia akan memperhatikan Anda. Pada dasarnya, kita memang suka khawatir dan resah; baik orang kaya maupun orang miskin, sama saja. Orang-orang yang miskin memiliki kekhawatirannya sendiri, orang-orang yang kaya juga memiliki kekhawatirannya sendiri. Hanya orang-orang yang dalam pengalaman benar-benar di dalam Kristus dan yang secara batiniah diperkuat oleh-Nya barulah tidak perlu khawatir atau resah.

Kita telah menunjukkan, ketika gereja di Filipi tidak berkesempatan menyuplai Paulus, ia mengalami kekurangan. Dia dipandang rendah dan berkekurangan. Menurut Anda, dalam masa yang rendah itu, Paulus resah atau tidak? Kita mempunyai dasar untuk menjawab ya atau tidak. Di satu pihak, kita dapat mengatakan Paulus tidak resah, sebab ia mengatakan kepada kita bahwa ia telah belajar rahasia itu baik dalam berkekurangan maupun dalam berkelimpahan. Di pihak lain, ada satu tanda, yaitu ketika ia menyinggung situasinya itu, ia pasti merasa agak khawatir dan resah; tetapi itu adalah perasaan yang wajar bagi seorang manusia. Jika Paulus sama sekali tidak merasa resah, mengapa ia mengutarakan situasinya? Ketika ia berada dalam kekurangan, ia pasti merasakan hal itu. Jika tidak, ia tidak mungkin memberi tahu orang-orang Filipi bahwa ia sangat bersukacita di dalam Tuhan sebab “pada akhirnya” perhatian mereka atas dirinya telah bertumbuh kembali. Kata-kata yang positif ini menyiratkan bahwa sebelum ia menerima suplai melalui Epafroditus, ia agak khawatir. Paulus seolah-olah berkata, “Perhatian kalian atas diriku telah bertumbuh kembali. Kalian telah melupakan aku sejangka waktu, dan tidak memikirkan kebutuhanku; perhatian kalian terhadap diriku seperti melalui musim dingin. Tetapi sekarang aku bersukacita karena perhatian kalian atas diriku telah bertumbuh kembali.”

Jika Paulus sama sekali tidak merasa khawatir atau resah, mengapa ia merasa perlu menulis hal ini dalam suratnya kepada orang Filipi? Sebagai manusia, Paulus benar-benar mengalami penderitaan karena kekurangan materi. Paulus bukan malaikat, ia juga bukan seperti patung yang tak bernyawa dan tanpa perasaan. Tidak perlu diragukan, ia telah belajar rahasia untuk mencukupkan diri di dalam Kristus. Ketika ia dalam keadaan kekurangan dan tergoda untuk khawatir dan resah, ia segera menerapkan rahasianya itu. Kemudian, dalam pengalamannya, rahasia itu melenyapkan keresahannya. Karena itu, ia dapat bersaksi dengan berani bahwa ia tahu apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan. Fakta bahwa Paulus mengetahui apa itu kekurangan menunjukkan ia pernah mengalami perasaan kekurangan (kerendahan) itu. Dia tahu bagaimana rasanya resah dan khawatir pada saat menderita. Tetapi pada saat-saat itu ia menerapkan rahasia Kristus yang berhuni di batin. Dia menerapkan Kristus yang di dalam-Nya ia ditemukan. Kristus ini sejati, hidup, dekat, mudah, dan kuat. Inilah Kristus yang menjadi rahasia Paulus.

Dengan menggunakan istilah Stoa, Paulus dapat berkata bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam keadaan apa pun. Walaupun Paulus memakai istilah Stoa, tetapi ia sendiri sama sekali bukan golongan Stoa. Sebaliknya, ia adalah orang yang di dalam Kristus, dan ia mengalami Kristus dan menerapkan-Nya dalam segala keadaan. Paulus dapat mencukupkan diri bukan karena telah menerima ajaran Stoa, melainkan karena ia menerapkan Kristus yang di dalam-Nya ia hidup dan tinggal. Saya ulangi: Kristus inilah yang menjadi rahasia Paulus.

SIANG DAN MALAM

DALAM KEHIDUPAN KRISTIANI

Dalam kehidupan kristiani kita mengalami siang dan malam. Menurut Kejadian 1, malam tiba sebelum siang. Ketika Paulus berkekurangan, ia berada pada malam hari, dan ketika ia berkelimpahan ia berada pada siang hari. Seperti siang menyusul malam, begitu pula setelah malam datanglah siang. Ini berarti setelah malam kekurangan berlalu, tibalah siang kelimpahan. Namun, Paulus menyadari bahwa siang ini akhirnya akan diikuti oleh malam yang lain. Kita tidak dapat mengubah prinsip dalam alam semesta Allah. Dalam alam semesta ada malam dan siang, ada siang dan malam.

Kehidupan kristiani tidak berhenti pada satu tingkatan, melainkan banyak pasang surutnya. Naik dan turun, turun dan naik memang suatu hal yang wajar. Berhenti pada satu tingkatan, tidak mengalami naik dan turun, itu tidak normal. Demikian pula, tidaklah normal bila kita hanya mengalami siang tanpa malam. Siapa yang siang rohaninya dapat berlangsung dua ratus jam? Saya tidak pernah mengalami siang sepanjang itu. Saya mengalami malam seperti halnya siang, turun seperti halnya naik. Namun neraca kita harus berimbang; naik harus sama dengan turun, debet harus seimbang dengan kredit. Bila kita memiliki keseimbangan demikian dalam pengalaman kita, itu berarti kita normal.

Menurut pengaturan kedaulatan Tuhan, kita perlu naik atau turun, agar kita dapat mengalami Kristus. Saya berterima kasih kepada Tuhan karena lembah yang melaluinya Ia memimpin saya. Tetapi bersama lembah-lembah itu ada pula bukit-bukit. Kehidupan kristiani bukanlah dataran yang luas, melainkan tanah yang berbukit-bukit dan berlembah-lembah. Melalui bukit-bukit dan lembah-lembah inilah kita mengalami Kristus.

Orang muda, jangan bermimpi kehidupan kalian selalu mendatar dan rata. Sebaliknya, kalian akan menghadapi banyak lembah dan bukit. Kalian akan mengalami segala macam keadaan. Tetapi dalam keadaan-keadaan itu kalian boleh menerapkan Kristus sebagai rahasia kalian dan mengalami Dia. Belajar menerapkan Kristus adalah hal yang sangat penting bagi kita.

DALAM SETIAP PERKARA

DAN DALAM SEGALA PERKARA

Di depan telah kita tunjukkan bahwa dalam ayat 12 Paulus menggunakan ungkapan-ungkapan yang menyulitkan kita: “dalam setiap keadaan (perkara) dan dalam segala hal (perkara)”. Apakah perbedaan antara “setiap perkara” dengan “segala perkara”? Kita mengalami satu perkara pada satu saat, kita tidak dapat sekaligus mengalami segala perkara. Jadi, menurut pengalaman kita dalam waktu, itulah setiap perkara. Tetapi setelah pengalaman-pengalaman itu berlalu dalam kurun waktu yang panjang, maka setiap perkara itu menjadi segala perkara.

Kita perlu ingat bahwa Surat Filipi ditulis menurut pengalaman. Dalam waktu, kita mengalami satu perkara demi satu perkara. Kenyataan ini terbukti melalui kata “setiap perkara”. Tetapi, setelah mengalami dalam waktu yang panjang, setiap perkara itu menjadi segala perkara. Ungkapan “dalam setiap perkara” ditujukan kepada satu kali itu ketika kita mengalami satu perkara tertentu dari Tuhan. Ungkapan “segala perkara” ditujukan kepada sejumlah pengalaman yang tercakup dalam satu kurun waktu yang panjang. Paulus dapat berkata, baik pada kesempatan khusus maupun dalam segala kesempatan, baik pada waktu tertentu maupun sepanjang perjalanan hidupnya, ia telah belajar rahasia ini. Paulus mengalami Kristus dari saat ke saat. Di satu pihak, ia mengalami Kristus dalam perkara khusus pada saat-saat khusus; di pihak lain, ia mengalami Kristus dalam segala perkara dan pada segala waktu.

Betapa bahagianya kita bisa menerima perkataan mengenai pengalaman akan Kristus yang sedemikian ini! Saya harap kaum muda khususnya akan menyadari betapa bahagianya mereka, dan mau berdoa: “Tuhan, sekalipun aku masih muda, aku mau mencari Engkau, mengejar Engkau, dan mengalami Engkau menurut cara yang ditunjukkan dalam Surat Filipi ini. Sejauh yang menyangkut pengalaman dan kenikmatan yang normal akan Kristus, aku mau menjadi Paulus hari ini. Aku tidak menuntut menjadi rasul, penginjil yang besar, atau menjadi seorang pekerja Kristus. Tetapi aku benar-benar damba menjadi seorang Kristen yang normal yang mengalami Engkau dan menikmati Engkau dalam setiap perkara hari demi hari, bahkan dalam segala hal seumur hidupku.” Semoga kita semua berminat menikmati Kristus sampai tahap yang sedemikian.