PERSEKUTUAN KAUM BERIMAN DALAM KEPERLUAN RASUL
Pembacaan Alkitab: Flp. 4:10, 14-20
Dalam berita ini kita akan membahas persekutuan kaum beriman dalam keperluan rasul. Kebanyakan orang Kristen tidak mempunyai persekutuan dalam pemberian mereka. Persekutuan tidak sekadar berarti berkomunikasi atau saling mengambil bagian, persekutuan juga mencakup pela-yanan hayat. Ketika kita bersekutu satu sama lain, kita melayankan hayat kepada satu sama lain. Ketika saling memberikan sesuatu sebagai persembahan, kebanyakan orang Kristen tidak mempunyai perasaan yang dalam bahwa “transaksi” ini mengandung pelayanan hayat. Tetapi bila kita mendoabacakan ayat-ayat yang tertera di atas, kita akan menjamah pelayanan hayat baik dari pihak rasul maupun dari pihak kaum beriman yang mengirimkan pem-berian kepada Paulus. Sudah pasti kaum saleh di Filipi tidak hanya mengirimkan suplai materi kepada Paulus, tetapi juga memberikan pelayanan hayat kepadanya. Jadi, antara kedua pihak, rasul dan kaum beriman, terdapat persekutuan hayat dan pelayanan hayat timbal balik. Kita sangat perlu belajar memberikan suplai dalam persekutuan dan pelayanan hayat yang demikian.
I. RASUL BERSUKACITA DALAM TUHAN
KARENA PERHATIAN KAUM BERIMAN
BERTUMBUH KEMBALI
Dalam 4:10 Paulus berkata, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku.” Mungkin ada keadaan tertentu yang membuat kaum beriman Filipi tidak dapat meneruskan pengiriman suplai materi kepada Paulus. Ketika mereka mengirimkan suplai itu melalui Epafroditus, maka Paulus menganggap ini adalah bertumbuhnya kembali pikiran mereka terhadap Paulus. Menurut perasaan Paulus, pengiriman suplai melalui Epafroditus itu merupakan ber-tumbuhnya kembali perhatian mereka terhadap dirinya.
Kata “bertumbuh kembali” dalam bahasa aslinya berarti “bertunas”, “berbunga”; adalah sebuah ungkapan yang indah dan kaya akan makna. Bagaimana sesuatu dapat berbunga jika ia tidak berhayat? Penggunaan kata “berbunga” menyiratkan bahwa pikiran kaum beriman Filipi terhadap Paulus adalah perkara hayat, sesuatu yang mengekspresikan hayat. Tidak hanya demikian, “bertumbuh kembali” menyiratkan untuk sejangka waktu pikiran kaum beriman terhadap Paulus pernah mati, bagaikan melalui musim dingin. Bila sebuah tumbuhan ingin berbunga kembali, ia perlu mengalami masa-masa layu atau tidur selama musim dingin. Musim dingin ini bagi Paulus merupakan masa penderitaan, sebab selama itu kaum saleh tidak ada kesempatan memperhatikan Paulus. Tetapi penderitaan itu memberinya kesempatan untuk mengalami Kristus lebih kaya.
II. PERHATIAN KAUM BERIMAN KEPADA RASUL
Dalam 4:10 Paulus juga berkata kepada orang Filipi, “Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.” Kalimat ini memperlihatkan pengalaman dan kematangan Paulus. Adakalanya ia menegur atau me-marahi kaum saleh. Sebagai contoh, ketika menulis surat kepada orang-orang Korintus, ia memarahi mereka dan bertanya, apakah mereka menghendaki ia datang dengan cam-buk (1Kor. 4:21). Tetapi ketika ia menulis surat kepada orang Filipi, ia berbicara dengan nada yang sangat positif. Ia mengatakan bahwa akhirnya perhatian mereka bertumbuh kembali terhadap Paulus; memang selalu ada perhatian mereka, tetapi tidak ada kesempatan bagi mereka.
Seperti telah kita tunjukkan, kata “bertumbuh kembali” dalam bahasa aslinya menyiratkan bahwa pemberian benda-benda materi tersebut adalah suatu masalah hayat dan pelayanan hayat. Jika tidak, Paulus tidak mungkin menggunakan ungkapan demikian.
Kita harus menaruh perhatian seksama atas kata “bertumbuh”. Kata ini menyiratkan bahwa pemberian benda-benda materi yang kita lakukan kepada setiap gereja, kepada hamba-hamba Tuhan, atau kepada setiap orang kudus harus merupakan sesuatu yang hidup yang dapat berbunga. Persekutuan ini melebihi mengambil bagian, juga mencakup peredaran arus hayat. Menurut Alkitab, persekutuan selalu berasal dari hayat. Surat 1Yohanes 1:2-3 mewahyukan bahwa persekutuan berasal dari hayat; sumber persekutuan adalah hayat. Karena itu, dalam Filipi 4:10 Paulus memakai kata bertumbuh, dan dalam ayat 14 memakai kata “mengambil bagian” (akar kata dalam bahasa aslinya adalah persekutuan): “Namun baik juga perbuatanmu bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku”. Paulus seolah-olah berkata, “Kalian telah melayani aku dengan hayat dan telah menolongku serta menopangku pada saat aku dipenjara. Ketika aku menderita, kalian telah membantuku dengan menyuplaikan hayat kepadaku. Kalian pasti akan menerima suplai hayat sebagai gantinya.”
Persekutuan dalam hayat dapat diilustrasikan seperti peredaran darah dalam tubuh manusia. Di satu aspek, ketika darah beredar, darah itu mengalir keluar; di aspek lain, darah itu mengalir kembali lagi. Demikian pula, persekutuan hayat kita selalu ada keluar dan ada kembalinya. Setiap pengaliran keluar yang tanpa pengaliran masuk yang seimbang bukanlah persekutuan yang wajar. Persekutuan selalu mengandung peredaran. Hayat mengalir keluar, hayat juga mengalir kembali. Hayat mengalir keluar dengan suplai untuk pihak lain, kemudian ia mengalir kembali dengan suplai dari pihak lain. Setiap kali kita memberikan benda-benda materi di bawah pimpinan Tuhan, kita seharusnya mengalami persekutuan hayat yang demikian; seharusnya ada yang berbunga dan menyuplaikan hayat satu sama lain.
Persekutuan yang terdapat di antara kaum beriman Filipi dengan Paulus adalah persekutuan untuk kemajuan Injil (1:5). Pengiriman suplai benda-benda material adalah demi memajukan Injil. Seperti telah kita tunjukkan, Injil di sini sama dengan pergerakan Allah di bumi bagi ekonomi-Nya. Injil tidak saja mencakup kabar baik tentang keselamatan, penebusan, pengampunan, pembenaran, dan hayat kekal. Khususnya dalam Filipi ini, Injil berarti pergerakan Allah dalam ekonomi-Nya. Karena itu, persekutuan, bahkan dalam hal pengiriman suplai materi, adalah untuk perluasan pergerakan Allah dalam ekonomi-Nya.
III. KENANGAN RASUL AKAN SUPLAI
KAUM BERIMAN PADA MASA LAMPAU
Dalam 4:15-16 Paulus mengetengahkan betapa dahulu kaum beriman di Filipi beberapa kali memberikan suplai materi kepadanya. Kemudian, dalam ayat 17 Paulus menyambung, “Tetapi bukan pemberian itu yang kucari, melainkan buahnya, yang semakin memperbesar keuntunganmu.” Mengapa Paulus harus menyinggung pemberian mereka pada masa lampau? Sudah tentu kata-kata ini tidak ditulis secara kebetulan, sebab Paulus tidak mungkin menulis sesuatu tanpa tujuan. Apa pun yang ia tulis selalu bertujuan dan berdasarkan beban. Rahasia untuk memahami maksud Paulus dalam ayat-ayat ini terdapat dalam kata “rekening” (hal - ayat 15, keuntunganmu - ayat 17). Pemberian materi dari kaum beriman Filipi kepada rasul membukakan rekening antara mereka dengan rasul. Dalam ayat 17 Paulus menyinggung rekening yang dibuka pada ayat 15.
Alkitab mewahyukan adanya sistem perbankan surgawi. Dalam Matius 6 Tuhan Yesus mengatakan tentang mendeposito harta kita ke dalam rekening bank rohani kita. Menurut perkataan Tuhan, kita harus menyimpan uang ke dalam rekening kita di surga. Tentu saja, dalam Matius 6, istilah “rekening” tidak dipakai. Dalam hal ini, wahyu Alkitab terus maju. Karena itu, dalam suratnya kepada orang Filipi, Paulus menggunakan kata perhitungan atau rekening dengan hati-hati untuk menunjukkan sistem perbankan surgawi.
Dalam 4:15 Paulus berkata, “Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, selain kamu tidak ada satu jemaat pun yang memiliki persekutuan dengan aku dalam rekening pemberian dan penerimaan” (Tl.). Ayat ini menunjukkan bahwa gereja di Filipi adalah satu-satunya gereja yang membuka rekening dengan Paulus. Dalam rekening ini ada sisi memberi dan ada sisi menerima. Di sini kita ada rekening dua aspek, yaitu rekening menerima dan memberi. Tentu saja dalam rekening yang dibuka dengan Paulus, orang-orang Filipi telah memberi dalam jumlah besar. Gereja di Filipi telah membuka rekening untuk memperhatikan kebutuhan rasul. Rekening ini, yang terungkap dalam ayat 15, telah tersimpan dalam bank sur-gawi. Mereka mengirimkan pemberian kepada Paulus, sedangkan mereka juga menerima balasan dari Allah.
Paulus menyinggung hal ini dalam ayat 19, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Dalam pengalamannya, rasul memiliki keyakinan dan kepastian bahwa dia bersatu dengan Allah dan bahwa Allah adalah Allahnya. Karena dia menganggap pemberian materi orang Filipi kepadanya sebagai suatu kurban persembahan terhadap Allah, maka dia percaya dengan pasti bahwa Allah, yang bersatu dengan dia dan yang adalah Allahnya, akan membalas orang-orang Filipi dengan berlimpah. Atas nama Allah, kaum beriman mengirimkan sesuatu kepada hamba Allah. Karena inilah Allah pasti akan membalas mereka. Allah tidak mungkin berhutang apa pun kepada kaum beriman. Rekening surgawi akan mencatat baik kredit maupun debet untuk kaum beriman Filipi itu.
Menurut perkiraan Anda sisi mana yang lebih besar dalam neraca Anda, sisi debet atau kredit, sisi memberi atau menerima? Sisi yang lebih besar selalu adalah sisi menerima. Sebagai contoh, mungkin Anda atas nama Allah memberikan sepuluh dolar, tetapi mungkin Allah membalas Anda seribu dolar, yaitu seratus kali lipat. Jadi, dalam per-hitungan Anda, Anda mempunyai saldo kredit sembilan ratus sembilan puluh dolar. Ini menunjukkan bahwa Anda bukan pemberi yang sebenarnya, Allahlah Sang Pemberi itu. Apakah Anda tidak mau mempunyai rekening yang de-mikian? Tidak ada rekening bank duniawi yang dapat dibandingkan dengan ini. Namun, jika Anda membuka rekening semacam ini dengan tujuan memperkaya diri sendiri, balasan Allah mungkin tidak diberikan kepada Anda pada zaman ini. Sebaliknya, mungkin Allah menunggu sampai keserakahan Anda ditanggulangi barulah Dia membalas Anda.
Meskipun orang-orang Filipi telah membuka rekening dengan Paulus, dan ketika Paulus di Tesalonika, mereka telah “satu dua kali” mengirimkan kebutuhannya, tetapi pernah ada sejangka waktu tidak ada “komunikasi” di an-tara mereka. Karena itu, Paulus menyinggung pemberian kaum beriman pada masa lampau itu. Ia berharap “komu-nikasi” tersebut tidak terhenti, tetapi perihal memberi dan menerima ini berlangsung terus. Seperti yang Paulus katakan dalam ayat 17, ia bukan menuntut pemberian, melainkan buahnya yang bertambah-tambah pada rekening kaum beriman. Ini ditujukan kepada bertambahnya angka kredit mereka. Dalam ayat-ayat ini Paulus mendorong kaum beriman untuk mengaktifkan terus rekening mereka, supaya tidak ada kekosongan dalam hal memberi dan menerima; dan dengan demikian buah rekening kaum beriman akan bertambah-bertambah.
IV. ORANG-ORANG FILIPI MENYUPLAI
RASUL MELALUI EPAFRODITUS
Dalam ayat 18 Paulus melanjutkan, “Kini aku telah menerima semua yang perlu dari kamu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah.” Kata “kirimanmu” ditujukan kepada materi yang diberikan kepada rasul sebagai suplai. Setelah menerima pemberian itu, Paulus dapat berkata bahwa ia telah tersuplai penuh. Ia menganggap pemberian yang dikirim kepadanya sebagai “persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan berkenan kepada Allah”. Istilah “persembahan yang harum” di sini dalam bahasa aslinya sama dengan “kurban yang harum” dalam Efesus 5:2. Ini adalah suatu bau-bauan yang harum dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah (Kej. 8:21). Pemberian materi dari orang-orang Filipi untuk menyuplai kebutuhan rasul, oleh rasul dianggap sebagai suatu kurban persembahan kepada Allah yang disukai dan diperkenan Allah (Ibr. 13:16). Dalam apresiasinya, Paulus menunjukkan bahwa yang orang-orang Filipi lakukan terhadapnya berarti mereka lakukan terhadap diri Allah. Ini menyiratkan dia memiliki kepastian bahwa dirinya bersatu dengan Allah, dan bahwa pekerjaannya dilakukan oleh Allah dan untuk Allah.
Dalam ayat 19 Paulus berkata bahwa Allahnya akan membalas kaum beriman dengan berlimpah. Dalam pengalamannya Paulus memiliki keyakinan dan kepastian bahwa dia bersatu dengan Allah dan bahwa Allah adalah Allahnya. Ia dapat berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu.” Allah adalah Allah Paulus sebab Paulus bersatu dengan-Nya. Karena itu Paulus menganggap pemberian materi orang-orang Filipi kepadanya sebagai suatu kurban persembahan terhadap Allah. Lagi pula, dia percaya dengan pasti bahwa Allah, yang bersatu dengan dia dan yang adalah Allahnya, akan membalas mereka dengan berlimpah. Di sini kita nampak setiap kali kita menerima suatu pemberian, kita harus berkeyakinan bahwa pemberian itu tidak saja diberikan kepada kita, tetapi juga kepada Allah. Lalu kita harus percaya bahwa Allah akan membalas orang yang memberikan pemberian itu. Balasan Allah akan memenuhi setiap keperluan si pemberi; Allah akan menyuplainya dengan berlimpah-limpah dan memuaskannya.
Paulus mengatakan kepada orang-orang Filipi bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan-Nya dalam kemuliaan dalam Kristus Yesus (Tl.). Karena orang-orang Filipi memperhatikan utusan Allah, maka Allah pun memperhatikan setiap kebutuhan mereka. Tambahan pula, Paulus berkata bahwa Allah menyuplai kebutuhan kita menurut kekayaan-Nya; bukan menurut kebutuhan kita. Kekayaan-Nya jauh melampaui kebutuhan kita.
Frase “dalam kemuliaan” dalam ayat 19 perlu diperhatikan dengan seksama. Frase ini menerangkan kata “memenuhi”, bukan kata “kekayaan”. Kemuliaan adalah ekspresi Allah, yaitu Allah terekspresi dalam kesemarakan-Nya. Suplai limpah Allah kepada kaum beriman yang adalah anak-anak-Nya, menyatakan Allah dan mengemban kemuliaan Allah. Rasul menjamin orang-orang Filipi bahwa Allah akan menyuplai dengan berlimpah segala keperluan mereka dengan suatu cara yang akan membawa mereka ke dalam kemuliaan-Nya.
Dalam hal ini izinkan saya mempersekutukan pengalaman saya, bagaimana Allah memenuhi kebutuhan kita dalam kemuliaan menurut kekayaan-Nya. Pada bulan Januari 1937 saya menerima telegram dari Saudara Watchman Nee untuk segera datang ke Shanghai, mengikuti suatu sidang istimewa yang sangat penting bagi para sekerja. Sesudah sidang itu, sebelum pulang kembali ke China Utara, saya mengunjungi beberapa tempat. Tetapi, uang yang saya miliki sangat sedikit untuk menutupi ongkos perjalanan saya. Lagi pula, karena kabar yang menyuruh saya ke Shanghai itu begitu mendesak, saya harus meninggalkan anak dan istri saya di rumah. Di satu pihak, saya hanya membawa sedikit uang ketika saya naik kereta api. Di pihak lain, istri saya di rumah pun hanya memiliki sedikit uang untuk kebutuhan keluarga. Namun, kami berdua bersandar kepada Tuhan. Tidak lama setelah saya meninggalkan rumah, uang yang ada di tangan istri saya telah habis. Ia telah belajar untuk tidak memberi tahu orang lain tentang kebutuhannya, maka ia memanggil anak yang ter-tua dan berdoa bersama untuk kebutuhan keluarga. Pada malam hari itu juga, seorang saudari yang lanjut usia datang berkunjung ke rumah, mengatakan bahwa Tuhan menggerakkan hatinya untuk memberikan sejumlah uang kepada istri saya. Saudari tua tersebut tidak tahu kalau saya tidak ada di rumah dan keluarga saya tengah menghadapi kebutuhan. Setelah saudari itu pergi, istri saya ber-syukur sambil menangis di hadapan Tuhan. Ini adalah yang dialami istri saya.
Sekarang, baiklah saya mempersekutukan pengalaman di pihak saya sendiri. Sesudah sidang di Shanghai usai, saya pergi ke Nanking, menyampaikan firman dalam sidang. Tiba-tiba datang kabar bahwa istri seorang saudara rekan sekerja sakit keras dan dalam keadaan gawat, saudara itu harus segera pulang. Setelah saya mendengar kabar itu, dalam batin saya merasa harus memberinya sejumlah uang. Tetapi saya bimbang sesaat, sebab saya sadar bahwa uang itu saya butuhkan untuk membeli karcis kereta api. Kalau saya berikan uang itu kepada saudara itu, bagaimana saya bisa membeli karcis. Tetapi, saya tidak dapat berbantah-bantah dengan Tuhan. Saya tahu bahwa saya tidak bisa memiliki damai sejahtera kecuali mematuhi Dia dan memberikan uang itu kepadanya. Tuhan memberi saya perasaan untuk tidak mengandalkan jumlah uang yang saya miliki, melainkan bersandar kepada Dia semata. Saya berkata bahwa saya bersandar kepada Dia, dan kemudian saya berikan uang itu kepada saudara itu. Hasilnya, di satu aspek beban saya terlepas, tetapi di aspek lain, saya menjadi khawatir, bagaimana saya nanti bisa membeli karcis kereta api. Pada malam hari itu juga, setelah sidang, saya menerima sebuah amplop dari seseorang, di dalamnya berisi uang beberapa kali lipat lebih banyak daripada yang saya berikan kepada saudara itu. Pada saat itu saya sungguh terkejut melihat sejumlah uang itu. Sudah tentu, kekhawatiran saya lenyap, namun, sebaliknya saya merasa malu sekali, sehingga merasa sulit berterima kasih kepada Tuhan. Ketika Tuhan membalas saya beberapa kali lipat lebih ba-nyak daripada uang yang saya berikan kepada saudara itu, Tuhan bertindak dalam kemuliaan menurut kekayaan-Nya. Memang, pada mulanya saya merasa malu, tetapi akhirnya apa yang Tuhan lakukan itu membawa saya ke dalam kemuliaan-Nya dan menguatkan saya. Balasan Tuhan kepada mereka yang mendeposito uang ke dalam rekening surgawi selalu sesuai dengan kekayaan-Nya, dan di dalam kemuliaan.
Filipi 4:19 menunjukkan bahwa balasan Tuhan juga “dalam Kristus Yesus”. Frase “dalam Kristus Yesus” juga menerangkan kata “memenuhi”. Kristus, yang almuhit, adalah dasar, unsur, ruang lingkup, dan saluran yang di dalamnya dan dengannya Allah memperhatikan umat-Nya menurut kekayaan-Nya dan dalam kemuliaan.
Kita telah berulang-ulang menunjukkan bahwa Surat Filipi merupakan surat tentang pengalaman akan Kristus. Apa pun yang tercantum di sini pasti berkaitan dengan pengalaman akan Kristus. Jika prinsip ini tidak kita terapkan dalam masalah memberi dan menerima, kita akan tidak bisa mempunyai pengertian yang penuh terhadap apa yang dikatakan Paulus tentang memberi dan menerima dalam 4:10, 14-20. Dalam ayat-ayat ini Paulus mengatakan tentang bertumbuh, persekutuan, persembahan kepada Allah, suatu pertumbuhan yang harum, dan Allah menyuplai se-tiap kebutuhan menurut kekayaan-Nya dalam kemuliaan dalam Kristus Yesus. Semua istilah dan ungkapan ini menunjukkan bahwa masalah memberi dan menerima benda-benda materi pun erat sekali hubungannya dengan pengalaman akan Kristus. Di pihak kita, hal itu berkaitan dengan hayat; di pihak Allah, berkaitan dengan kemuliaan-Nya. Kita menerima atau memberi dalam prinsip hayat, dalam persekutuan hayat. Ketika kita berbuat demikian, hal itu akan berbunga dalam hayat; ini menandakan menyemaraknya bunga hayat, dan ada suatu peredaran yang normal dari hayat dalam Tubuh Kristus. Masalah memberi dan menerima dalam persekutuan hayat ini akan mengha-silkan buah yang pasti, yakni kemuliaan Allah.
Di antara kebanyakan orang Kristen hari ini, tidak ada bekas berbunga, persekutuan, persembahan, dan kemuliaan yang demikian. Tetapi, dalam tulisan Paulus mengenai masalah memberi dan menerima benda-benda materi, ia menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbunga, persekutuan, persembahan yang harum, kurban kepada Allah, menurut kekayaan-Nya, dan dalam kemuliaan. Kesemuanya ini tertuju kepada pengalaman akan Kristus. Sudah tentu, ketika kaum saleh di Filipi mengirimkan pemberian materi kepada Paulus, mereka melakukannya di dalam hayat dan bersama Kristus. Karena itu, ketika Paulus menerima kiriman mereka, ia menikmati ministri hayat dan penghiburan. Paulus menjawab mereka dengan menulis surat ini kepada mereka. Surat Kiriman Paulus kepada orang-orang Filipi ini tidak saja melayankan hayat kepada mereka, tetapi juga kepada laksaan orang beriman sepanjang masa. Andaikata ketika itu kita berada di Filipi dan menerima surat ini, kita mungkin akan membacanya lebih dari seratus kali.
Dalam hal memberi kepada rasul, kaum beriman telah berperan serta dalam ministri hayat. Jawaban Paulus ketika menerima kiriman mereka juga merupakan ministri hayat, baik kepada kaum beriman di Filipi, juga kepada kaum saleh yang membaca bagian firman ini. Dengan ini kita nampak, bahkan hal memberi dan menerima benda-benda materi, dapat pula menjadi satu pengalaman yang kaya akan Kristus, yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Allah datang mengunjungi orang-orang yang memberi maupun yang menerima sedemikian, agar kesemarakan-Nya dan kemuliaan-Nya terekspresikan. Jadi, persekutuan dalam hal memberi dan menerima tidak saja melayankan hayat kepada semua pihak yang bersangkutan, tetapi juga membawa semua pihak ke dalam kemuliaan Allah.
Filipi 4:19 dan 20 tersusun dengan cara yang indah sekali, yakni dengan cara yang subyektif, mesra, dan mulia. Dalam ayat 19 Paulus memberi tahu kaum saleh bahwa “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu.” Apa yang mereka berikan kepada Paulus sebenarnya diterima oleh Allah. Jadi, bukan Paulus yang berhutang kepada mereka, melainkan Allah. Karena itu, Allah berkewajiban membayar kembali kepada kaum beriman itu. Allah dan Paulus adalah partner. Paulus bersatu dengan Allah dalam perusahaan surgawi Allah. Ekonomi Allah ialah perusahaan surgawi-Nya. Dalam perusahaan ini Allah dan Paulus adalah partner. Karena itu, ketika kaum beriman Filipi memberikan sesuatu kepada Paulus, Allahlah yang berhutang kepada mereka. Paulus tahu bahwa Allah pasti akan membayar kembali kepada mereka.
Namun, kita harus menyadari, hanya ketika kita memberi di dalam Kristus barulah Allah berhutang kepada kita, ini sangatlah penting. Jika kita tidak memberikan pemberian itu di dalam Kristus, Allah tidak berkewajiban membayar kembali kepada kita. Tetapi bila kita di dalam Kristus memberikan sesuatu kepada gereja, kepada kaum saleh yang sedang kekurangan, atau kepada pekerjaan Tuhan dalam pemulihan-Nya, Allah akan berhutang kepada kita. Tuhan berhutang kepada kita karena pemberian kita dalam Kristus baik kepada gereja, kaum saleh, atau peker-jaan, sebenarnya kita berikan kepada Allah sendiri, kepada apa yang menjadi perhatian-Nya, dan kepada ekonomi-Nya.
Karena Paulus bersatu dengan Allah dan dapat menyebut Dia “Allahku”, maka ia dapat mengatakan kepada kaum beriman bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan mereka menurut kekayaan-Nya. Paulus tidak mempunyai apa-apa untuk membalas kaum saleh. Tetapi, Allah akan membalas mereka, bukan menurut apa yang mereka berikan kepada-Nya, melainkan menurut kekayaan-Nya. Lagi pula, Allah bahkan akan membalas mereka seratus kali lipat.
Seperti telah kita tunjukkan, Allah pun akan memenuhi keperluan kita dalam kemuliaan dan dalam Kristus Yesus. Kemuliaan adalah ekspresi Allah dalam kesemarakan-Nya untuk membawa kita ke dalam kenikmatan akan ekspresi-Nya. Bila Allah membalas kita dalam kemuliaan, Ia pun membawa kita ke dalam kesemarakan-Nya. Saya sangat mendorong kalian untuk mengalami Kristus secara demikian. Setiap orang yang memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus harus memiliki pengalaman memberikan sesuatu kepada Allah demi kepentingan-Nya, dan menerima balasan dari Dia menurut kekayaan-Nya dan dalam kemuliaan, serta dibawa ke dalam kenikmatan akan ekspresi kemuliaan-Nya dalam kesemarakan-Nya.
Dalam ayat 19 kata “memenuhi” dijelaskan dengan tiga frase: pertama, “menurut kekayaan-Nya”; kedua, “dalam kemuliaan”; dan ketiga, “dalam Kristus Yesus”. Sebagai Sang almuhit, Kristus adalah unsur, alam lingkungan, saluran, dan atmosfer balasan Allah.
Masalah memberi dan menerima dengan cara yang dilukiskan dalam Filipi 4 ini bukanlah masalah kemurahan yang alamiah, bukan pula menyumbangkan sesuatu karena kerelaan berkorban. Tidak, yang dilukiskan di sini ialah satu pengalaman yang sejati akan Kristus. Kalau kita memberi sesuai dengan perkataan Paulus, kita bukan memberi dalam diri kita sendiri, melainkan dalam Kristus. Bila pemberian kita dilakukan di dalam Kristus dan melalui Kristus, pemberian itu akan seperti bunga hidup yang mekar. Tambahan pula, pemberian itu akan menjadi suatu bau-bau yang harum, suatu persembahan yang diperkenan Allah. Itu akan membuat kemuliaan Allah tertampil pada kita. Itulah pengalaman akan Kristus dalam hal memberikan benda materi bagi kepentingan Tuhan.
V. DIMULIAKANLAH ALLAH
DAN BAPA KITA SELAMA-LAMANYA
Paulus menarik kesimpulan bagian Surat Filipi ini dengan perkataan: “Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin” (ayat 20). Perhatikan, dalam ayat ini Paulus menyinggung “Allah dan Bapa kita”. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Allah milik rasul, melainkan juga Allah milik kaum beriman. Kalau Paulus tidak menyisipkan kata ganti kepunyaan “kita” memang tidak ada salahnya. Tetapi disisipkannya kata ini sangat bermakna, sebab kata ini menunjukkan Allah adalah Allah kita.
Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya. Seperti telah kita tunjukkan, kemuliaan adalah Allah terekspresi dalam kesemarakan-Nya dan keunggulan-Nya untuk kita apresiasi. “Dimuliakanlah Allah” berarti Allah terekspresi sedemikian.
Ekspresi Allah dalam kemegahan-Nya dapat diibaratkan seperti mekarnya bunga anyelir. Bila sekuntum bunga anyelir mekar, bunga itu dimuliakan; mekarnya bunga itu menyatakan segala kemuliaan dari bunga anyelir itu. Jadi, mekar berarti dimuliakan. Demikian pula, pemberian kita dalam Kristus yang ditujukan kepada Allah bagi kepentingan Allah, mendatangkan kemuliaan Allah; bukan hanya untuk kenikmatan kita, tetapi juga untuk kemuliaan Allah. Karena itu, Allah dimuliakan, dan kita beroleh kenikmatan. Kita menikmati pemuliaan Allah. Jika kita tidak pernah menikmati Kristus dan mengalami Dia dalam hal memberikan benda materi bagi kepentingan Allah, tidak mungkin kita mengapresiasi kesemarakan atau keunggulan ekspresi Allah secara demikian.
Menurut ayat 20, Allah terekspresi dalam kesemarakan dan dipuji oleh kaum beriman. Ketika kita memberikan benda materi di dalam Kristus bagi kepentingan Allah, maka hayat akan tersuplai ke dalam Tubuh, dan kemuliaan Allah terbawa masuk. Ketika kemuliaan Allah terekspresi, kita akan mengapresiasi kesemarakan dan keunggulan-Nya. Apresiasi ini adalah suatu kenikmatan dan pengalaman. Tanpa pengalaman demikian tidak mungkin kita memiliki apresiasi semacam ini. Allah terekspresi dalam kesemarak-an dan keunggulan untuk apresiasi dan kepuasan kita. Di pihak kaum beriman di Filipi, hal itu membawakan suplai yang limpah; di pihak Paulus di Roma, hal itu membawakan kepuasan yang penuh pula. Karena itu, akibat dari persekutuan kaum beriman dalam kebutuhan rasul adalah hayat dan kemuliaan. Hayat tersuplai kepada manusia dan Allah dimuliakan.