← Daftar isi Filipi (1) · bab 6/20

KEBAJIKAN UNGGUL DARI KEHIDUPAN ORANG KRISTEN (2)

Pembacaan Alkitab: Flp. 4:5-9

Dalam berita terdahulu kita sudah mulai membahas beberapa kebajikan unggul dari kehidupan orang Kristen. Kita menunjukkan bahwa 4:5-9 merupakan ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Dari ayat 5 dan 6 kita nampak bahwa kehidupan yang sedemikian ini menampilkan kebaikan hati, namun tanpa kekhawatiran. Dalam berita ini, yakni kelanjutan dari berita terdahulu, kita akan meneruskan meninjau keenam aspek pengendali dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus.

III. AKHIRNYA

Paulus memberi kita aspek-aspek pengendali ini dalam ayat 8, “Jadi, akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

A. Semua yang Benar

Aspek pengendali pertama dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus ialah “semua yang benar”. Kata “benar” di sini berarti benar secara moral, bukan benar dalam perkara. Dalam ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus tidak bisa ada kepalsuan atau dusta. Apa pun yang kita lakukan dan katakan haruslah benar. Tidak seorang pun yang memperhidupkan Kristus boleh mempraktekkan kepalsuan atau kepura-puraan macam apa pun. Kehidupan mengekspresikan Kristus adalah kehidupan yang benar.

B. Semua yang Mulia

Aspek kedua ialah “semua yang mulia”. Istilah “mulia dalam bahasa aslinya berarti yang patut dihormati, layak dihormati, terhormat, disegani (1Tim. 3:8, 11; Tit. 2:2), menyiratkan konsep keagungan yang mengilhami dan mengundang rasa hormat. Kehidupan yang memperhidupkan Kristus seharusnya bermartabat, terhormat, disegani, mantap, berbobot, dan agung.

Jangan mengira hanya orang tua yang seharusnya berbobot. Semua orang muda, bahkan para remaja belasan tahun pun seharusnya ada keagungan, disegani. Seorang murid Sekolah Menengah Pertama sekalipun harus memiliki keagungan, karena dalam batinnya ada Allah. Ia adalah wadah yang berisi Allah sebagai nilai, bobot, dan keagungannya.

Memiliki keagungan bukan berarti berlagak serius, melainkan memperhidupkan Allah. Sebuah kotak permata yang berisi cincin berlian berharga bukan karena kotak itu sendiri, melainkan karena berlian itu. Berlian yang berada di dalam kotak itulah yang memberi “harga” kepada kotak itu. Demikian pula, kita adalah sebuah wadah yang berisi Kristus. Jika kita memperhidupkan Dia, kita akan memiliki keagungan yang sesungguhnya. Ketika orang lain melihat kita menyatakan keagungan yang demikian, mereka akan menghormati kita sedalam-dalamnya. Keagungan yang tersirat dalam istilah Yunani ini selalu menimbulkan rasa hormat yang mendalam. Keagungan ini merupakan aspek pengendali kedua dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus.

C. Semua yang Adil

Dalam ayat 8 Paulus juga mengatakan “semua yang adil”. Ini ditujukan kepada apa yang benar di hadapan Allah dan manusia. Jadi melakukan apa yang benar adalah aspek pengendali lainnya yang berkaitan dengan perihal memperhidupkan Kristus.

D. Semua yang Suci

Istilah suci dalam ungkapan “semua yang suci” berarti tulus dalam maksud dan tindakan, tanpa campuran apa pun. Suci yang sedemikian ini berarti tidak berpura-pura. Kesucian juga merupakan aspek pengendali dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus.

E. Semua yang Manis

Aspek pengendali lain dari kehidupan yang demikian adalah “semua yang manis”. Istilah “manis” berarti patut dikasihi, menyenangkan, layak disayang.

F. Semua yang Sedap Didengar

Selanjutnya Paulus mengatakan tentang “semua yang sedap didengar”. Ini berarti semua yang bereputasi baik, menarik, memikat, dan ramah. Dalam ayat 8 Paulus tidak menyebut kebaikan, kesabaran, atau kekudusan, sebaliknya ia menyebut keenam hal yang menjadi aspek pengendali kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Jika kita memperhidupkan Kristus, kehidupan kita pasti mengekspresikan semua aspek ini. Dalam kehidupan kita tidak akan ada kepalsuan, kekenduran, atau kesembronoan; sebaliknya, kehidupan kita akan terhormat, suci, adil, manis, dan sedap didengar. Di antara berbagai pekerti kristiani, Paulus memilih keenam hal ini sebagai aspek pengendali.

Di sini saya ingin menunjukkan bahwa semua kebajikan insani diciptakan oleh Allah. Menurut Kejadian 1:26, kita diciptakan menurut gambar Allah. Kebajikan insani kita merupakan sebuah wadah untuk menampung kebajikan ilahi. Ibarat sebuah sarung tangan dibuat menurut gambar tangan untuk menyarungi tangan. Alkitab mewahyukan bahwa gambar Allah ialah Kristus (Kol. 1:15; 2Kor. 4:4). Karena itu, mengatakan manusia diciptakan menurut gambar Allah berarti manusia diciptakan menurut bentuk Kristus. Manusia diciptakan menurut Kristus, supaya dapat menampung Kristus dan mengekspresikan Dia. Sebuah sarung tangan dirancang menurut pola sebuah tangan, supaya dapat menyarungi tangan itu. Demikian pula, manusia dirancang oleh Allah untuk mengemban pola Kristus. Ketika Kristus masuk ke dalam seseorang, orang itu menjadi satu wadah yang menampung Kristus.

Roma 9 menunjukkan bahwa kita adalah wadah atau bejana untuk menampung kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah ditujukan kepada ekspresi Allah, dan ekspresi ini adalah Kristus. Kebajikan-kebajikan insani seperti kebenaran, kehormatan, kesucian, dan kemanisan, semuanya adalah aspek-aspek manusia sebagai wadah untuk menampung Kristus sebagai realitas.

Berdasarkan perkataan Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (1:21), kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa kebajikan-kebajikan dalam 4:8 adalah aspek dari penampilan kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Karena Paulus sendiri memperhidupkan Kristus, maka ia tentu tidak mungkin menyuruh kaum saleh memperhidupkan sesuatu yang lain sebagai pengganti Kristus. Karena itu, kebajikan-kebajikan yang ia sebut dalam 4:8 pasti adalah ekspresi realitas yang diperhidupkan Paulus dan kaum saleh lainnya. Realitas ini ialah Kristus sendiri.

Tidak hanya demikian, dalam pasal 2 kita nampak Kristus sebagai teladan dan dalam pasal 3 penuntutan atas Kristus untuk mendapatkan Dia. Untuk mendapatkan Kristus, Paulus telah menganggap segala sesuatu sampah. Mana mungkin kemudian dalam pasal 4 ia menjunjung kebajikan-kebajikan insani? Ini petunjuk lain bahwa kebajikan-kebajikan dalam pasal ini bukan sesuatu yang di luar Kristus itu sendiri. Sebaliknya, kebajikan-kebajikan ini pasti adalah ekspresi Kristus yang diperhidupkan oleh kaum beriman.

Bila kita dengan seksama merenungkan kebajikan-kebajikan yang tercantum dalam 4:8, kita harus mengakui bahwa dalam diri kita sendiri, kita tidak mampu memperhidupkan kehidupan yang demikian. Ajaran-ajaran etis Konghucu memang sangat tinggi, tetapi semuanya itu tidak setinggi ajaran Paulus dalam Surat Filipi ini. Saya pernah mempelajari tulisan Konghucu yang berjudul The Highest Learning, tetapi itu tidak dapat dibandingkan dengan kebajikan-kebajikan yang dikatakan Paulus ini. Dalam diri kita sendiri pasti kita mustahil memiliki suatu kehidupan dan ekspresi demikian. Karena itu, kita harus maju ke 4:13 di mana Paulus berkata, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Semua kebajikan dalam 4:8 merupakan ekspresi Kristus yang di dalam-Nya Paulus dapat melakukan segala sesuatu. Berdasarkan seluruh konteks Surat Filipi, dapat kita katakan bahwa keenam kebajikan dalam 4:8 adalah ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Semuanya ini bukan semata-mata kebajikan insani, bahkan bukan kebajikan-kebajikan yang dikembangkan menurut ajaran-ajaran tertentu. Kebajikan-kebajikan ini tidak lain adalah ekspresi Kristus yang kita perhidupkan.

G. Kalau Ada yang Disebut Kebajikan,

Kalau Ada yang Patut Dipuji

Pada akhir 4:8 Paulus mengubah ungkapannya dan berkata, “Kalau ada yang disebut kebajikan, kalau ada yang patut dipuji” (Tl.). Istilah “kebajikan” di sini dalam bahasa aslinya berarti keunggulan, yaitu kekuatan etis yang ditampilkan dalam tindakan yang bersemangat. Pujian ditujukan kepada hal-hal yang layak dipuji, sebagai pendamping kebajikan. Keenam hal pertama digolongkan berdasarkan “semua yang”, sedangkan dua hal terakhir digolongkan berdasarkan “kalau ada”. Ini menunjukkan bahwa kedua hal yang disebut terakhir adalah kesimpulan dari keenam hal yang disebut terdahulu, yang mengandung sedikit kebajikan atau sifat-sifat yang unggul dan sesuatu yang patut dipuji.

Kebajikan dan pujian bukan dua aspek tambahan, melainkan sebagai nilai dari keenam aspek yang telah dikatakan di depan. Kebajikan adalah istilah umum, bukan satu aspek tertentu. Dalam kebenaran, kehormatan, kesucian, kemanisan, keadilan, dan yang sedap didengar terdapat kebajikan. Prinsipnya sama dengan pujian; dalam keenam aspek dari kehidupan kristiani ini ada sesuatu yang patut dipuji.

Alangkah unggulnya ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus! Keenam aspek dalam ayat 8 ini sesungguhnya adalah kebajikan unggul dari kehidupan orang Kristen. Betapa unggul kebajikan-kebajikan seperti: benar, terhormat, adil, suci, manis, dan hal-hal yang sedap didengar. Dalam setiap aspek yang unggul ini terdapat kebajikan dan sesuatu yang patut dipuji. Kita harus menaruh perhatian pada hal-hal ini, yakni kita harus memikirkan, merenungkan, dan mempertimbangkan semuanya ini.

IV. PERKARA-PERKARA YANG DIPELAJARI,

DITERIMA, DIDENGAR, DAN DILIHAT

DARI DIRI RASUL

Dalam ayat 9 Paulus menyimpulkan, “Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu.” Kaum beriman bukan hanya harus memikirkan hal-hal yang disebutkan dalam ayat 8, juga harus melaksanakan hal-hal yang telah mereka pelajari, terima, dengar, dan lihat dari diri rasul. Paulus benar-benar telah hidup sedemikian rupa sehingga ia dapat mengekspresikan semua aspek yang tercantum dalam ayat 8. Jadi, kaum beriman telah belajar darinya, telah menerima darinya, telah mendengar darinya, dan telah melihat hal-hal tertentu pada dirinya. Karena itulah Paulus menyuruh mereka mengikuti dia dalam melakukan hal-hal ini.

Ayat 9 diakhiri dengan, “Dengan demikian, Allah sum-ber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Ini adalah sebuah berkat juga janji. Allah sumber damai sejahtera adalah sumber segala hal yang disebutkan dalam ayat 8 dan 9. Melalui persekutuan kita dengan Dia dan karena Dia menyertai kita, semua kebajikan ini akan ternyata dalam hidup kita.

Dalam ayat 7 Paulus membicarakan damai sejahtera Allah, dan dalam ayat 9, Allah sumber damai sejahtera. Pertama-tama Paulus mengatakan bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita, kemudian mengatakan bahwa Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kita. Sesungguhnya damai sejahtera Allah dan Allah sumber damai sejahtera adalah satu. Bila Allah menyertai kita, damai sejahtera pun menyertai kita. Damai sejahtera sejati yang kita nikmati adalah Allah sendiri. Cara menikmati Allah damai sejahtera ialah melalui berdoa bersekutu dengan-Nya.

Kalau kita tidak memiliki ayat-ayat dalam Filipi 4 tentang ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus, kita tidak dapat mengetahui kehidupan macam apa ini. Teladan kehidupan semacam ini telah dirintis Tuhan Yesus selama tahun-tahun hidup-Nya di bumi. Jika Anda membaca keempat kitab Injil dengan saksama, Anda akan nampak bahwa kehidupan Tuhan Yesus mutlak berada di luar agama, budaya, dan filsafat. Selain Tuhan Yesus tidak pernah ada orang yang kehidupannya begitu murni, begitu tidak terpengaruh oleh agama, budaya, dan filsafat. Dalam kehidupan-Nya Tuhan sepenuhnya diduduki oleh Bapa. Dia sedikit pun tidak diduduki oleh unsur-unsur agama, budaya, filsafat, kebiasaan, adat istiadat, dan tradisi. Dalam jiwa-Nya — dalam pikiran, emosi, dan tekad-Nya — tidak ada tempat bagi agama, budaya, dan filsafat. Antero insan batiniah-Nya telah diduduki oleh Allah Bapa. Sebab itu, Tuhan dapat memperhidupkan satu kehidupan yang bebas dari pengaruh hal-hal yang agamis, budaya, dan filosofis. Kehidupan-Nya merupakan ekspresi penuh dari kehidupan ilahi. Itulah alasannya Dia dapat berkata, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9), dan “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yoh. 14:10). Da-lam kehidupan-Nya di bumi, Tuhan Yesus memperhidupkan Bapa dan mengekspresikan Bapa.

Saya anjurkan Anda membaca habis keempat kitab Injil sekali lagi di bawah terang ini. Kitab-kitab Injil membicarakan sejenis kehidupan, yaitu kehidupan Tuhan Yesus, yang diduduki dengan murni dan menyeluruh oleh Allah Bapa. Ketika Tuhan Yesus berbicara, Allah Bapalah yang diutarakan-Nya. Apa pun yang dilakukan Tuhan Yesus adalah ekspresi dari atribut Bapa. Tuhan tidak pernah mengekspresikan sesuatu yang berasal dari agama, budaya, atau filsafat. Dia tidak pernah memperhidupkan kebiasaan, adat istiadat, dan tradisi. Sebaliknya, Dia hanya diduduki oleh Bapa, memperhidupkan Bapa, dan menampilkan Bapa.

Kehidupan Tuhan Yesus telah mendirikan satu teladan pola bagi kita. Bila kita hidup menurut teladan ini, kita akan menganggap hal-hal agamis, budaya, dan filosofis itu rugi, bahkan sampah. Tambahan pula, kita akan menganggap rugi kebiasaan, adat istiadat, dan tradisi, supaya kita dapat diduduki sepenuhnya oleh Kristus. Kemudian, apa pun yang kita perhidupkan hari demi hari adalah Kristus, dan Kristus semata.

Beberapa tahun yang lalu, seperti halnya kebanyakan orang Kristen, saya mengira Filipi 4:5-9 hanya merupakan nasihat mengenai etika dan perilaku. Saya pernah mendengar beberapa khotbah yang membahas ayat-ayat ini secara etis. Bahkan orang-orang yang tidak percaya pun senang mengutip perkataan Paulus. Perkataan Paulus memang indah, jauh lebih baik daripada apa pun yang diajarkan oleh Konghucu atau Sokrates. Tetapi, bahkan sewaktu saya masih muda, bila saya mendengar orang mengutip ayat-ayat tersebut sebagai etika atau prinsip perilaku semata-mata, dalam lubuk batin saya terasa sangat resah. Tetapi bertahun-tahun kemudian baru saya beroleh pengertian yang tepat atas ayat-ayat ini.

Pada suatu hari Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa apa yang kita miliki dalam 4:5-9 adalah ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Menurut konteks keseluruhan Surat Filipi, ayat-ayat ini harus ditafsirkan demikian. Seperti telah kita tunjukkan, dalam 1:21 Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Dalam pasal 2 ia lalu menampilkan Kristus sebagai teladan kita. Kemudian, menurut pasal 3, kita nampak bahwa kita wajib menganggap segala sesuatu rugi dan sampah, agar kita dapat mencapai sasaran dan mendapatkan Kristus sepenuhnya. Terakhir, pada akhir Surat Kiriman ini, Paulus bersaksi bahwa ia dapat melakukan segala hal di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadanya. Namun, di antara perkataan Paulus tentang menuntut Kristus dengan perkataannya tentang dikuatkan oleh Kristus, ia menunjukkan bahwa kita harus menempuh kehidupan yang mengekspresikan Kristus. Tentu, ekspresi ini seharusnya tidak boleh hanya sebagai ekspresi etika insani atau moralitas. Sebaliknya, harus merupakan ekspresi Kristus yang kita perhidupkan.

Andaikata kita memiliki sejenis kebaikan hati, memiliki doa untuk menanggulangi kekhawatiran, dan memiliki keenam kebajikan insani yang indah yang disebut dalam ayat 9, tetapi tidak memiliki Kristus di dalam kita, kita akan tetap kosong dan sama sekali kekurangan realitas.

Sangat tidak logis bila setelah Paulus mengatakan pengalaman akan Kristus demikian banyaknya, kemudian dalam pasal 4 ia mengetengahkan kebajikan-kebajikan insani murni secara etis. Kebajikan-kebajikan unggul dari kehidupan kristiani yang diberikan dalam ayat-ayat ini pasti melebihi sifat-sifat insani yang alamiah, dan semua itu pasti adalah pengekspresian Kristus yang hidup dalam kita.

Seperti telah kita tunjukkan, ciri-ciri unggul ini boleh diibaratkan seperti sebuah sarung tangan yang mengekspresikan tangan, dan Kristus boleh diibaratkan seperti tangan yang sepadan dengan sarung tangan sebagai isinya. Kebajikan-kebajikan insani diciptakan oleh Allah bagaikan “sarung tangan” untuk menampung atribut ilahi sebagai realitas. Dengan kata lain, kebajikan-kebajikan insani adalah wadah untuk menampung Kristus sebagai isi ilahi. Kita memiliki kebajikan-kebajikan seperti: kebaikan hati, kebenaran, dan kehormatan. Namun semuanya itu adalah bayangan, bukan realitas; semua itu wadah atau bejana, bukan isi. Kesabaran, kebenaran, dan kehormatan ilahi barulah realitas dan hakikat kebaikan hati, kebenaran, dan kehormatan insani. Kebajikan-kebajikan kita adalah sebuah wadah kosong, sebuah sarung tangan kosong, agar Kristus masuk ke dalam kita dan menduduki setiap bagian diri kita. Tetapi, setelah Kristus menduduki batin kita, memenuhi tiap bagian batiniah kita, kemudian “sarung tangan” itu dipenuhi dengan “tangan” yang hidup. Sebuah sarung tangan yang tanpa tangan akan menjadi hampa dan tidak bernyawa; tidak saja tidak ada sesuatu yang hidup dalam sarung tangan itu, bahkan tidak ada ekspresi hidup. Namun, bila tangan telah dimasukkan ke dalam sarung tangan, sarung itu tetap sarung, tetapi sekarang ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Setelah tangan memasuki sarung tangan, maka sarung tangan mulai memiliki ekspresi yang hidup. Pada prinsipnya, kebajikan-kebajikan kita juga demikian. Jika kebajikan-kebajikan kita tidak diduduki oleh Kristus dan mengekspresikan Dia, semuanya itu hampa dan kekurangan hayat yang sejati. Tetapi bila semua itu diduduki oleh Kristus yang hidup, semuanya itu akan dipenuhi dengan realitas dan menjadi ekspresi Kristus.

Bagi kita, mengenal perbedaan antara satu kehidupan yang menurut ajaran-ajaran etika dengan kehidupan yang merupakan ekspresi Kristus sangatlah penting. Boleh jadi ajaran-ajaran etika yang terbaik itu berasal dari Konghucu; ia mengajar orang harus membina budi, mengembangkan kebajikan-kebajikan insani mereka, tetapi Konghucu tidak mungkin menambahkan sesuatu kepada manusia. Yang dapat ia lakukan hanyalah mengajar mereka untuk mengembangkan kebajikan-kebajikan yang sudah mereka miliki.

Tidak ada yang dapat meragukan bahwa sebagai umat manusia ciptaan Allah, kita memiliki kebajikan-kebajikan tertentu. Kebajikan-kebajikan yang terindah ini oleh Konghucu disebut “Kebajikan (Pekerti) Terang”. Ia mengetahui bahwa dalam batin manusia ada satu kebajikan yang terang dan bercahaya. Menurut ajarannya, pengetahuan yang tertinggi ialah membina dan mengembangkan kebajikan terang tersebut.

Ini sangat berbeda dengan ekonomi Allah! Ekonomi Allah sekali-kali bukan mengembangkan kebajikan-kebajikan kita, melainkan menambahkan Kristus ke dalamnya. Bila Kristus tertambah ke dalam kebajikan-kebajikan kita, maka kebajikan-kebajikan itu tidak lagi kosong, melainkan dipenuhi dengan Kristus sebagai isi dan realitas. Sekali lagi ingin kita tekankan kenyataan bahwa kebajikan-kebajikan manusia adalah satu wadah, satu bejana, untuk mengekspresikan Kristus sebagai isi yang sejati.

Dalam menyampaikan perkataan ini saya secara khusus berbeban terhadap kaum muda. Mungkin kaum muda tidak menyadari betapa banyaknya berkat yang mereka terima, karena mereka dapat mendengar dan menerima perkataan tentang kehidupan orang Kristen ini. Lebih dari lima puluh tahun yang lampau, banyak di antara kita me-nuntut Tuhan dengan ngotot, tetapi tidak ada kesempatan untuk mendengarkan perkataan yang kalian dengar hari ini. Jika kita mempunyai kesempatan itu, kita akan rela membayar harga apa pun untuk perkataan yang demikian. Tetapi tahun demi tahun berlalu, yang saya kumpulkan hanya kelongsongannya. Kaum muda, alangkah kayanya berkat yang kalian terima! Sampai-sampai mengetahui istilah “kesatuan organik” pun adalah satu berkat. Selagi saya muda, saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa yang organik dalam kehidupan kristiani.

Alangkah indah dan bahagianya kita dapat mengenal Filipi 4:5-9 yang menunjukkan tentang ekspresi yang jelas dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus! Dalam lukisan ini kita nampak bahwa kita harus memiliki kebaikan hati dan penawar kekhawatiran. Lagi pula, kita perlu keenam aspek pengendali dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Alangkah indahnya bila kita nampak hal-hal ini! Saya harap banyak di antara kita, terutama kaum muda, berdoa bagi hal-hal ini, mendoabacakan ayat-ayat yang membicarakan hal-hal ini, bersekutu tentang hal-hal ini, dan saling bersaksi tentang hal-hal ini. Dalam bagian Surat Filipi ini masih ada daerah yang luas untuk kita jelajahi, dan ada kekayaan yang tidak kunjung habis untuk kita cari dan alami.